Anda di halaman 1dari 7

MODEL PENELITIAN PEMIKIRAN MODERN DALAM ISLAM

Posted: 08:39 | Author: Adib Susilo | Filed under: edukasi MODEL PENELITIAN PEMIKIRAN MODERN DALAM ISLAM (Resume dari buku metodologi studi islam karya abudinnata) Oleh: Adib Susilo/ muamalat 6 Telah banyak hasil penelitian yang dilakukan para ahli yang mengambil tema disekitar pemikiran

modern dalam islam. Di antaranya hasil penelitian yang dilakukan Deliar Noer, dan H.A.R. Gibb. Sebagai bahan perbandingan bagi mereka yang berminat melakukan pemikiran dibidang pemikiran modern dalam islam ini ada baiknya kita kemukakan model penelitan kedua penelitian tersebut. Model penelitian Deliar Noer Salah satu buku yang memuat hasil penelitian tentang pemikiran modern dalam islam yang dilakukan Deliar Noer berjudul Gerakan Islam Modern Di Indonesia 1900-1942, diterbitkan oleh LP3ES sekitar tahun 1980-an. Dari judulnya dapat kita lihat bahwa penelitian tersebut bersifat deskriptif analitis, yaitu penelitian yang mencoba mendeskripsikan gerakan modern islam di Indonesia sekitar tahun 1900-1942. Penelitian tersebut antara lain memuat latar belakang penelitian, pernasalahan yang ingin dipecahkan, metode dan pendekatan serta analisis yang digunakan. Diantara pemikiran yang melatarbelakangi penelitian tersebut adalah adanya asumsi bahwa perkembangan yang terjadi pada akhir periode 1900-1942 merupakan tahun pergantian kekuasaan di Indonesia dari tangan Belanda ke tangan Jepang. Tetapi pemikiran, gerakan dan perkembangan umum yang bersangkutan dengan pergerakan Islam modern di negeri kita ini tidak berhenti pad apergantian tersebut. Malah pada masa permulaan inilah dia tumbuh, gerakan islam tersebut terus berlanjut, bukan saja pada masa jepang bahkan setelah merdeka sampai saat ini. Lebih lanjut Deliar Noer mengatakan, agaknya gerakan tersebut sudah ketara pada masa kemerdekaan. Ini disebabkan pertama, kebebasan yang sama-sama dicapai oleh golongan lain yang sebangsa. Kedua, tantangan yang dihadapi oleh pergerakan tersebut lebih bersifat terbuka. Oleh karena itu analogi yang dihadapi mudah terlihat pada masa kemerdekaan

dengan masa penjajahan belanda. Dalam rangka ini berkembanglah pemikiran, cara pendeketan, serta pemecahan masalah yang bersamaan atau berlainan antara masa merdeka dengan masa jajahan belanda. Dengan latar belakang yang berisi asumsi demikian itulah Deliar Noer terlihat ingin mengetahui tentang pemikiran, pendekatan, dan pemecahan masalahyang dilakukan umat islam pada periode tersebut. Hal yang demikian memang perlu dilakukan mengingat pemikiran pembaruan mungkin masih relevan digunakan pada masa setelah kemerdekaan. Lebih lanjut Deliar Noer mengatakan perkembangan masa merdeka banyak relevansi dengan perkembangan periode sebelum 1990. Yaitu pertama, soal khilafiyah. Gerakan islam modern di negeri kita, juga gerakan islam di negeri lain bermula dari soal-soal ubudiyah. Paham gerakan ini berusaha merubah paham tradisional. Termasuk didalamnya takhayul, khurafat dan lain sebagainya. Kedua, sifat fragmentasi kepartaian. Sifat ini pada masa 1920-1942 sangat menonjol, baik kalangan islam maupun kebangsaan. Pada kalangan islam ada serikat islam Indonesia (SII) muncul pula permi, perti, parii, penyadar, PII, PSII kartosuwiryo; pada kalangan kebangsaan mengaku netral terhadap agama. Muncul PNI, pertindo, gerindo, PBI. Dan lain sebagainya. Ketiga, kepemimpinan yang bersifat pribadi. Pada masa kemerdekaan kecendrungan tersebut terjadi. Pemimpin dengan alasan tersendiri membawa pengikutnya keluar organisasi semula, membangun partai baru atau mengubah oraganisasinya menjadi bersifat partai politik. Keempat, perbedaan dan pertentangan paham. Contoh adanya pertentangan paham antara lain terlihat pada perbedaan kecendrungan dan sikap pada masa demokrasi terpimpin, ketika kalangan islam dengan keras menolak konsep sukarno ini. Sedangkan sebagian menerima dan sisanya menerima paham ini. Kelima, hubungan dengan pemerintah. Sudah jelas bahwa dipandang dari segi pergerakan nasional, pemerintahan jajahan adalah musuh yang harus dihancurkan. Oleh sebab itu suasananya adalah suasana pernusuhan dan perang. Berdasarkan latar belakang pemikiran di atas, maka permasalahan yang ingin di jawab adalah bagaimana corak dan objek pembaharuan pemikiran yang dilakukan gerakan modern islam pada tahun1900-1942 dan bagaimana relevansi gerakan tersebut dengan gerakan yang pembaruan pemikiran islam yang dilakukan gerakan modern di Indonesia setelah kemerdekaan. Untuk mendapatkan bahan-bahan yang diperlukan Deliar Noer menggunakan literatur baik tulisan-tulisan berbahasa Indonesia maupun bahasa asing lainnya seperti Inggris dna

belanda; dan menggunakan hasil wawancara dengan tokoh-tokoh yang berkompeten pada bidangnya. Bahan-bahan tersebut kemudian dideskripsikan secara sistematik dan kronologis serta dianalisa dengan menggunakan pendekatan historis sosiologis. Dengan pendekatan ini dihasilkan pembahasan menurut urutan peristiwa secara kronologis dan dapat dibuktikan keberadaanya dalam sejarah; dan dengan pendekatan sosiologis dihasilkan deskripsi yang menjelaskan segala peristiwa. Melalui metode dan pendekatan tersebut dihasilkan informasi yang komperhensif mengenai asal-usul dan pertumbuhan pergerakan islam di Indonesia dalam bidang pendidikan, sosial, politik. Dalam bidang politik seperti sarekat islam dan lain sebagainya. Selanjutnya penelitian tersebut menghasilkan kesimpulan yang menjelaskan tentang timur tengah serta pengaruhnya terhadap pembaharuan perkembangan dan sifat gerakan modern islam di Indonesia, golongan modern islam dan sistem pendidikan di sekolah, kepemimpinan dalam gerakan pembaharuan, kalangan modern islam dan reaksi Belanda, hubungan antara golongan modern dan tradisi, hubungan antara kalangan modern islam dan kalangan kebangsaan yang netral. Dalam kesimpulan itu, Deliar Noer mengungkapkan bahwa gerakan pembaharuan islam di Indonesia mulai berakar pada pergantian abad yang lalu. Berkembang dari masa ke masa dalam kurun waktu 40 tahun, pada tahun 1940 gerakan ini telah menghujam dalam di tanah air; tempat islam telah pasti. Perkembangan dan penyebaran pembaharuan itu berasal dari kelompok-kelompok kecil yang pada awalnya terpisah satu sama lainnya, namun berubah menjadi suatu kesatuan yang ituh yang patut diperhitungakn oleh Belanda. Meskipun gerakan itu tidak sunyi dari kesulitan, pertikaian antar golongan, antara pribadi di dalam kelompok serata dalam soal ajaran dan ideologi, namun akhirnya ia dapat tegak berdiri menghadapi berbagai rintangan dan tantangan, dan mampu turut memimpin pergerakan nasional baik didepan golongan lain ataupun berdampingan dengan golongan lain. Selanjutnya berkaitan dengan timur tengah dan pengaruhnya dalam pembaharuan, Deliar Noer menyimpulkan, bahwa pembaharu di Indonesia terutama mereka yang menggunakan bahasa arab sebagai bahasa perantara unutk menambah pengetahuan mereka. Memperoleh inspirasi dan pemikiran yang tumbuh di mesir, treutama Abduh. Pemikiran Abduh tentang pembaharuan pada dasarnya bersifat agama, dan memang segi ini yang ditekankan oleh para pembaharu di Indonesai pada umumnya. Abduh menegakkan ijtihad, menolak taqlid dan melihat kepada rasulullah serta para sahabat sebagai contoh dalam menegakkan ibadah, dan

masalah ini pula yang ditegakkan oleh para pembaharu di Indonesia. Tetapi para pembaharu di Indonesia tidak berhenti pada abduh saja. Banyak dari mereka menggali sumber-sumber selain abduh yang digunakan oleh abduh itu sendiri seperti ibn taimiyah dan ibn qayyim. Mereka juga berusaha menafsirkan sumber-sumber dari Al-quran sendiri. Mengenai perkembangan dan sifat gerakan modern islam di Indonesia, Deliar Noer menyimpulkan bahwa sifat dan kecendrungan gerakan dibentuk oleh pimpinan organisasi serta lingkungan tempat organisasi itu bergerak. Selanjutnya Ia berkata, seakan terdapat bukan satu pergerakan di Indonesia, melainkan ada banyak dan memiliki sifat masing-masing. Dalam kaitan ini misalnya dapat dijumpai partai yang bernonkoperasi dan partai yang berkoperasi, ada pula yang pergolongan ada pula yang anti golongan. Ada pula golongan yang bersifat toleran ada pula yang bergaris keras, kesemuanya itu memperlihatkan gerakan. Selanjuntnya dalam kesimpulan itu Deliar Noer adanya golongan tradisional dan golongan pembaharu. Golongan tradisi lebih memperhatikan soal-soal agama, atau ibadah belaka. Bagi mereka islam seakan-akan fiqh, dalam hubungan ini mereka mengakui taqlid dan menolak ijtihad dan banyak pula yang memberi perhatian terhadap tasawuf. Sementara itu golongan pembaharu lebih memberi perhatian pada sifat islam pada umumnya. Bagi mereka islam sesuai dengan tuntunan zaman dan keadaan. Islam juga berarti kemajuan, agama itu tidak akan menghabat usaha untuk mencari ilmu pengetahuan, perkembangan sains dan kedudukan wanita. Islam ialah agama universal, yang dasar-dasar ajrannya telah diungkapkan oleh para nabi, baik yang dikenal maupun tidak dikenal, yang diutus kepada semua bangsa, tugas mereka diselesaikan oleh Muhammad, rasul terakhir unutk seluruh umat. Kesimpulan berikutnya Deliar Noer mengungkapkan tentang kepemimpinan dalam gerakan pembaharuan. Menurutnya berdasarkan pada perkembangan dan sifat gerakan modern islam, terdapat dualisme dalam kepemimpinan gerakan ini. Menurutnya hal ini menimbulkan kesulitan dalam memilih pemimpin masyarakat islam di Indonesia apalagi pada saat persatuan dan kesatuan masyrakat tersebut telah tercapai. Sehingga timbul masalah pilihan, kepada siapa kepemimpinan tersebut diserahkan? Para pemimpin islam berasal dari berbagai profesi; ada dari kalangan ulama, kalangan niaga, kalangan bangsawan, dan pamong praja. Secara geografi pemimpin tersebut berasal dari jawa dan minangkabau. Pada bagian lain Deliar Noer menyimpulkan tentang sikap Belanda terhadap islam di Indonesia yang diniali tidak tetap. Di satu pihak islam di nilai sebagai agama, dan katanya pemerintah netral terhadap agama. Tetapi sebaliknya, pemerintah belanda bersikap

diskriminatif dengan memberi kelonggaran kepada para missionaris. Pemerintah juga melarang dai muslim untuk masuk daerah animisme sedangkan missionaris dengan leluasa masuk. Selanjutnya hubungan antara golongan modern dan tradsi, Deliar Noer menyimpulkan bahwa golongan tradisi tidak senantiasa berdiam diri dan bersikap statis. Merekapun mengadakan perubahan-perubahan dalam kalangan mereka pertama dengan mengorganisasi diri dalam nahdhatul ulama (1926), dan persatuan tarbiyah islamiyah (1929) dan juga dengan mengadakan perubahan lain. Mereka mengadakan perubahan dlaam sekolah yang mereka dirikan dengan memperkenalkan sistem kelas disertai kurikulum. Mereka mencontoh kalangan modern dalam berpropaganda, serta mengadakan tabligh, bukan saja di masjid tetapi juga di tempat-tempat lain. Dari uraian di atas terlihat jelas bahwa Deliar Noer telah memberi model penelitian yang memenuhi persayaratan sebagai penelitian sejarah gerakan modern islam di Indonesia tahun 1900-1942, dengan kesimpulan yang secara akademis dapat dipertanggungjawabkan validitasnya. Penelitian tersebut walaupun tidak secara eksplisit mengemukakan latar belakang pemikiran, permasalah, tujuan, metode dan pendekatan serta kerangaka analisis yang digunakan dalam penelitian, namun secara keseluruhan berbagai aspek yang seharusnya ada dalam sebuah penelitian telah teratampung dalam penelitian yang dilakukannya. Model Penelitian H.A.R. Gibb Penelitian mengenai pemikiran islam di Indonesia pernah pola dilakukan oleh H.A.R. Gibb, mahaguru di universitas Oxford. Hasil penelitannya berjudulk modern ternds in islam yang diterjemahkan menjadi aliran-aliran mdern di dalam islam oleh I.E. Hakim pada tahun 1954 yang diterbitkan oleh tintamas jakarta. Penelitian Gibb tentang gerakan modern dalam islam kelihatannya bertentangan dengan tesisnya yang mengatakan bahwa islam adalah agama yang hidup dan vital yang menyampaikan dakwah kepada hati, pikiran dan perasaan, dari berpuluh-puluh malah beratusratus manusia, memberikan kepadanya suatu pedoman hidup agar jujur, sungguh-sungguh dan takwa. Pada bagian lain Gibb mengatakan bahwa agama islam dan para penganutnya merupakan suatu susunan yang sama, masing-masing membentuk dan memberikan reaksi di antara satu sama lainnya selama islam itu tetaptinggal sebagai suatu organisme yang hidup dan ajaran-ajarannya memberikan kepuasan bagi perasaan pengikutnya. Untuk membuktikan tesisnya itu Gibb melakukan penelaahan terhadap doktrin-doktrin ajaran islam sebagaimana yang terdapat di dalam Al-quran dan As-sunnah, dan bukan dari

sumber-sumber yang sudah tidak sejalan dengan doktrin tersebut. Dengan demikian penelitian yang ia lakukan bersifat eksploratif deskriptif, yaitu penelitian yang mencoba mendeskripsikan secara mendalam suatu objek dengan menggunakan data-data yang terdapat pada kajian pustaka. Sedangkan pendekatan yang digunakan bersifat filosofis historis. Yaitu suatu pendekatan yang penekanannya ditujukan untuk mengemukakan nilai-nilai Universal dan mendasar dari suatu ajaran atau objek yang diteliti, serta didukung oleh data-data historis yang dapat dipercaya. Dalam hubungan ini Gibb mengatakan, lain daripada bahan-bahan keterangan yang dikemukakan disini, beberapa penyilidik sedaerah yang berarti telah diterbitkan oleh ahliahli pengetahuan bangsa Perancis di Afrika timur dan barat dan oleh ahli-ahli pengetahuan bansa Belanda di Indonesia dan satu dua risalah umum di Perancis dan Jerman. Di dalam bahasa inggris terdapat dua jilid hasil penyelidikan misi, yaitu the Vital forces of christianity and islam (1915) dan yang lain adalah whitther islam? Yang ditulis pada tahun 1932. Namun buku-buku tersebut hanya membahas pergerakan-pergerakan dalam islam. Salah satunya ialah buah tangan Dr. Charles C. Adams dari universitas amerika di Kairo, yang diterbitkan pada tahun 1933 denga judul Islam And Modernism In Egypt yang mengutarakan suatu penyelidikan tentang pergerakan islam dan hubungannya dengan Muhammad Abduh. Dari penelitian itu Gibb mengemukakan tentang dasar-dasar alam pikiran islam, dasardasar modernisme, agama kaum modern dan masyarakat serta islam di dunia. Ketika berbicara tentang dasar-dasar alam pikiran islam, Gibb mengatakan bahwa Alquran adalah suatu kitab yang berisikan perintah-perintah yang didakwahakan oleh Muhammad selama lebih kuran 20 tahun dari akhir hidupnya, yang terdiri dari terutama kalimat kalimat pendek tentang pelajaran. Agama dan dasar-dasar susila atau bukti-bukti keterangan terhadap mereka yang ingkar, tafsir dari kejadian-kejadian yang sedang berlaku, dan beberapa peraturan mengenai soal-soal sosial dan hukum. Lebih lanjut lagi Gibb mengatakan tentang tidak adanya pemisahan antara agama dengan alam fikiran rasional; akan tetapi bilamana keyakinan itu dikendalikan oleh agama atau hanya sebagai suatu khayalan yang subjektif, maka alam rasional memandang agama itu hanya sebagai salah satu dari obejk-objeknya. Selanjutnya Gibb mengemukakan tentang ketegangan di dalam islam, menurutnya di dalam kehidupan semua agama didapati ketegangan. Sebabnya adalah terletak dalam keyakinan agama itu sendiri, dengan garis-garis batas antara yang disembah dengan yang menyembah, pengertiannya tentang kesucian dan dosa. Semua agama mengakui tentang keberlainan Tuhan.

Akan tetapi, menyembah yakin akan dekatnya Tuhan, akan kemustahilan pemencilan kemauan Tuhan dari pengalaman batinnya sendiri. Selanjutnya ketika berbicara tentang dasar-dasar modernisme, Gibb mengatakan bahwa modernisme menimbulkan suatu pergolakan pikiran yang amat hebat penagruhnya di kalangan mereka yang dangkal ilmu pengetahuan, kecuali orang-orang manar yang modern dan bercorak Noe Hambali. Berkenaan dengan agama kaum modern, Gibb mengatakan disadari atau tidak, menurut pandangan saya, sebagian besar kaum modern bukanlah satu-satunya anak sungai yang serba sama atau homogen, yang tiap-tiap kaum muslimin harus memandang busuk dari hulunya. Ia adalah paduan atau muara dari beberapa anak sungai, yang sering kali bertumbukan. Sebagian dari arus-arus itu adalah rasionalis sejati yang berasal dari dasar-dasar abstrak, yang manfaatnya tidak diketahui. Yang kaum lainnya adalah bersifat keagamaan, khusus dalam artian kristen, yang berasal dari ajaran-ajaran yang sebagiannya merupakan hasil dari buah pikiran yang murni yang bekerja diluar lingkungannya hal-hal tersebut di atas, yang telah di uji kebenarannya dengan percobaan-percobaan yang tidak sesuatupun bertentangan dengan ajaran-ajaran Alquran, walaupun ada perbedaan pendapat dari ahli-ahli agama abad pertengahan. Dari uraian tersebut, terlihat model penelitian yang dilakukan Gibb bersifat kepustakaan, yaitu penelitian yang sepenuhnya menggunakan data-data dari sumber tertulis. Khususnya buku-buku yang dihasilkan penulis sebelumnya. Pendekatan yang digunakan Gibb pendekatan filosofos historis, yaitu penelitian yang menekankan pada upaya untuk menarik nilai-niali unuversal yang didasarkan pada informasi yang terdapat dalam kitab suci dan didukung kebenaran sejarah.