Anda di halaman 1dari 12

14

BAB III
DASAR TEORI


Hidrogeologi terdiri dari dua kata yang terkait dengan bidang ilmu yang
luas, yaitu hidrologi dan geologi. Hidrologi merupakan ilmu yang mempelajari
tentang air, meliputi distribusi, pergerakan, proses, dan kandungan kimia air di
bumi. Geologi adalah ilmu pengetahuan yang mempelajari tentang bumi, dari
permukaan hingga ke bagian intinya. Hal-hal yang dipelajari dalam geologi antara
lain struktur, komposisi (batuanbatuan pembentuk kerak bumi), proses
(dinamika, tektonik), sisasisa kehidupan masa lampau (paleontologi), serta
sejarah pembentukan. Dengan demikian hidrogeologi merupakan ilmu yang
mempelajari tentang hubungan antara material material penyusun bumi dengan
prosesproses air atau ilmu yang mempelajari keterdapatan, penyebaran, dan
pergerakan air yang ada di bawah permukaan bumi dengan penekanan kaitannya
terhadap kondisi geologi. Kajian hidrogeologi terletak pada prinsip prinsip dasar
keilmuan meliputi hukum kekekalan masa dan proses proses serta gejala
gejala yang berhubungan dengan bagaimana dan mengapa aliran airtanah terjadi,
distribusi airtanah di bumi, unsur-unsur kimia yang terdapat dalam airtanah, serta
dampak lingkungan dari adanya aliran airtanah.

3.1 Curah Hujan
Curah hujan merupakan endapan dalam bentuk cair atau padat (es) yang
jatuh ke permukaan bumi termasuk juga kabut, embun dan embun beku (frost)
ikut berperan dalam alih kebasahan dari atmosfer ke permukaan bumi. Besarnya
curah hujan tegantung pada latitude (posisi garis lintang), posisi dan luas daerah,
jarak dari pantai atau sumber lembab lainnya, efek geografis dan ketinggian.
Curah hujan adalah jumlah air hujan yang jatuh di permukaan tanah pada
luasan wilayah tertentu per satuan waktu, dinyatakan dalam (mm). Satuan curah
hujan dalam mm berarti jumlah air hujan yang jatuh pada satu satuan luas tertentu.
Jadi 1 mm berarti pada luas 1 m
2
jumlah air hujan yang jatuh sebanyak 1 liter.


15

Analisis curah hujan dapat dilakukan dengan beberapa metode, diantaranya
metode analisis frekuensi langsung (direct frecquency analysis). Analisis ini
dilakukan untuk menentukan curah hujan rencana berdasarkan data curah hujan
yang tersedia. Jika waktu pengukuran curah hujan lebih lama (jumlah data
banyak), hasil analisis semakin baik.
Analisis frekuensi langsung dapat dilakukan dengan dua sajian data curah
hujan, yaitu:
a. Seri Tahunan (annual series)
Pengolahan data curah hujan dilakukan dengan mengambil satu curah
hujan tertinggi dalam rentang waktu satu tahun. Kekurangan dalam analisis ini
adalah data curah hujan dibawah curah hujan maksimum pada tahun tertentu
tetapi lebih tinggi dari curah hujan maksimum pada tahun yang lain, tidak
diperhitungkan (digunakan).
b. Seri Sebagian (partial series)
Cara ini dapat menutupi kekurangan cara pertama (seri tahunan), karena
pengolahan data dilakukan dengan mengambil data curah hujan yang melebihi
suatu nilai tertentu dengan mengabaikan waktu kejadian hujan yang bersangkutan.
Seri tahunan biasa dilakukan jika tersedia data curah hujan dalam jumlah
banyak, sedangkan seri sebagian dilakukan jika jumlah data curah hujan terbatas
(tidak banyak).
Data yang ada diolah dengan menggunakan Distribusi Gumbell, yaitu :
Xt = X + k.S .......................................................................................... (3.1.)
k = (Yt Yn) / Sn ............................................................................... (3.2.)
Keterangan:
Xt = Curah hujan rencana (mm/hari)
X = Curah hujan rata-rata (mm/hari)
Yn = Reduced mean (nilai rata-rata dari reduksi variat, tergantung dari jumlah
data)
Sn = Reduced Standard deviation (standar deviasi dari reduksi variat,
tergantung dari jumlah data (n))
k = Reduced variate factor
Yt = Reduced variate (nilai reduksi variat dari variabel yang diharapkan
terjadi)
S = Standard Deviation (standar deviasi nilai curah hujan dari data)


16

Nilai reduced mean (Yn) dan reduced variate (Yt) dapat diterapkan dengan
menggunakan rumus sebagai berikut :
Yn =
(

|
|
.
|

\
|
|
.
|

\
|
+
+

1 n
m - 1 n
Log Log ........................................................ (3.3.)
Keterangan :
n = jumlah sampel
m = urutan sampel (m = 1,2,3,.)
Yt = - log ( - log (T 1) / T ) ................................................................ (3.4.)
Keterangan :
T = periode ulang (tahun)

Sedangkan nilai dari reduced standard deviation (Sn) dan standard
deviation (Sx) ditentukan dengan rumus sebagai berikut :
1
) (
2

=

n
Y Y
S
n
n
n
............................................................................. (3.5.)
1
) (
2

=

n
x x
S
x
................................................................................... (3.6.)
3.1.1 Periode Ulang Hujan dan Resiko Hidrologi
Periode ulang hujan adalah periode (tahun) dimana suatu hujan dengan
tinggi intensitas yang sama kemungkinan bisa terjadi lagi. Kemungkinan
terjadinya adalah satu kali dalam batas periode (tahun) ulang yang ditetapkan.
Penentuan periode ulang dan resiko hidrologi dihitung dengan
menggunakan rumus :
Pr = 1 (1 1/Tr)
Tl
............................................................................. (3.7.)
Keterangan :
Pr = Resiko hidrologi (kemungkinan suatu kejadian akan terjadi minimal satu
kali pada periode ulang tertentu)
Tr = Periode ulang
Tl = Umur tambang (tahun)




17

3.1.2 Intensitas Curah Hujan
Intensitas curah hujan adalah jumlah hujan per satuan waktu yang relatif
singkat, biasanya satuan yang digunakan adalah mm/jam. Intensitas curah hujan
biasanya dinotasikan dengan huruf I. Keadaan curah hujan dan intensitas
menurut Takeda dapat diklasifikasikan sebagai berikut :
Tabel 3.1

Keadaan Curah Hujan dan Intensitas Curah Hujan

Intensitas Curah Hujan ( mm ) Kondisi
Keadaan Curah Hujan 1 jam 24 jam
Hujan sangat ringan < 1 < 5 Tanah agak basah atau dibasahi sedikit
Hujan ringan 1 - 5 5 20 Tanah menjadi basah semuanya
Hujan normal 5 -10 20 50 Bunyi curah hujan terdengar
Hujan lebat 10 -20 50 100
Air tergenang diseluruh permukaan tanah
dan bunyi keras kedengaran dari genangan
Hujan sangat lebat > 20 > 100 Hujan seperti ditumpahkan
Sumber : Ir. Suyono Sosrodarsono dan Kensaku Takeda, Hidrologi Untuk Pengairan (1987)

Intensitas curah hujan ditentukan berdasarkan rumus mononobe, karena
data yang tersedia di daerah penelitian hanya terdapat data curah hujan harian.
Rumus mononobe :
3 / 2
24
24
24
|
.
|

\
|
=
t
R
I
..................................................................................... (3.8.)

Keterangan :
I = Intensitas curah hujan, mm/jam
t = Lama waktu hujan atau waktu konstan (jam)
R
24
= Curah hujan maksimum (mm).

3.1.3 Daerah Aliran Sungai
Daerah Aliran Sungai (DAS) adalah daerah yang dibatasi oleh punggung-
punggung gunung/pegunungan dimana air hujan yang jatuh di daerah tersebut
akan mengalir menuju sungai utama pada suatu titik yang ditinjau. DAS
ditentukan dengan menggunakan peta topografi yang dilengkapi dengan garis-
garis kontur. Garis-garis kontur dipelajari untuk menentukan arah dari limpasan
permukaan. Limpasan berasal dari titik-titik tertinggi dan bergerak menuju titik-
titik yang lebih rendah dalam arah tegak lurus dengan garis-garis kontur.




18

3.1.4 Air Limpasan
a. Pengertian
Air limpasan adalah bagian dari curah hujan yang mengalir diatas
permukaan tanah menuju sungai, danau atau laut. Aliran itu terjadi karena curah
hujan yang mencapai permukaan bumi tidak dapat terinfiltrasi, baik yang
disebabkan karena intensitas curah hujan atau faktor lain misalnya kelerengan,
bentuk dan kekompakan permukaan tanah serta vegetasi.
b. Aspek-aspek yang berpengaruh
- Curah hujan = curah hujan, intensitas curah hujan dan frekuensi hujan
- Tanah = jenis dan bentuk toprografi
- Tutupan = kepadatan, jenis dan macam vegetasi.
- Luas daerah aliran
c. Perkiraan debit Air Limpasan
Untuk memperkirakan debit air limpasan maksimal digunakan rumus
rasional, yaitu :
Q= 0,278. C . I . A .........................................................................................(3.9)
Keterangan :
Q = debit air limpasan maksimum (m
3
/detik)
C = koefisien limpasan
I = Intensitas curah hujan (mm/jam)
A = Luas daerah tangkapan hujan(km
2
)
Pengaruh rumus ini, mengasumsikan bahwa hujan merata diseluruh daerah
tangkapan hujan, dengan lama waktu (durasi) sama dengan waktu konsentrasi (tc).
d. Koefisien limpasan (C)
Koefisien limpasan merupakan bilangan yang menunjukkan perbandingan
besarnya limpasan permukaan, dengan intensitas curah hujan yang terjadi pada
tiap-tiap daerah tangkapan hujan.







19

Tabel 3.2.
Beberapa Harga Koefisien Limpasan
MACAM PERMUKAAN
KOEFISIEN
LIMPASAN
Lapisan batubara (coal seam) 1,00
Jalan pengangkutan (haul road) 0,90
Dasar pit dan jenjang (pit floor & bench) 0,75
Lapisan tanah penutup (fresh overburden) 0,65
Lapisan tanah penutup yang telah ditanami (revegetated
overburden)
0,55
Hutan (natural rain forest) 0,50
Pemukiman penduduk 0,40
Sumber : Bambang Triatmodjo, Hidrologi Terapan ( 2009)

Tabel di atas digunakan pada suatu daerah yang seragam, tapi sangat
jarang ada daerah yang sangat homogen. Jika terdapat perbedaan macam
penggunaan lahan maka harga C dapat ditentukan dengan rumus :


........................................................................................(3.10)

Penentuan harga koefisien limpasan dilakukan dengan memperkirakan
prosentase luas area dengan kondisi yang berbeda. Sehingga dari berbagai kondisi
daerah tangkapan hujan, diperoleh harga koefisien limpasan yang sesuai dengan
kondisi vegetasi, kondisi topografi dan kondisi tanah.
a. Kerapatan vegetasi
Daerah dengan vegetasi yang rapat, akan memberikan nilai C yang kecil,
karena air hujan yang masuk tidak dapat langsung mengenai tanah, melainkan
akan tertahan oleh tumbuh-tumbuhan, sedangkan tanah yang gundul akan
memberi nilai C yang besar.

=
=
=
n
i
i
n
i
i i
A
A C
C
1
1


20

b. Tata guna lahan
Lahan persawahan atau rawa-rawa akan memberikan nilai C yang kecil
daripada daerah hutan atau perkebunan, karena pada daerah persawahan misalnya
padi, air hujan yang jatuh akan tertahan pada petak-petak sawah, sebelum
akhirnya menjadi limpasan permukaan.
c. Kemiringan tanah
Daerah dengan kemiringan yang kecil (<3%), akan memberikan nilai C
yang kecil, daripada daerah dengan kemiringan tanah yang sedang sampai curam
untuk keadaan yang sama.
3.2. Akuifer
Akuifer adalah suatu formasi atau lapisan batuan yang mempunyai
kemampuan untuk menyimpan dan mengalirakn airtanah dalam jumlah yang
berarti. Airtanah berada dan bergerak di dalam ruang butirnya. Di alam distribusi
akuifer di kendalikan litologi, stratigrafi, formasi. dan struktur dari materi
simpanan. Litologi merupakan susunan fisik dari simpanan litologi. Susunan ini
termasuk komponen mineral, ukuran butir, dan kumpulan butir (grain packing)
yang terbentuk dari sedimentasi atau batuan yang menampilkan system geologi.
Stratigrafi menjelaskan hubungan geometris dan umur antara macam-macam
lensa, dasar dan formasi dalam geologi system dari asal terjadinya sedimentasi.
Bentuk struktur seperti pecahan, retakan, lipatan, dan patahan merupakan sifat-
sifat geometrik dari sistem geologi yang dihasilkan oleh perubahan bentuk
(deformasi) akibat proses penyimpanan (deposisi) dan proses kristalisasi dari
batuan. Pada simpanan yang belum terkonsolidasi (unconsolidated deposits),
litoogi dan stratigrafi merupakan pengendali yang paling penting.

3.2.1. Jenis Jenis Akuifer
Berdasarkan posisi stratigrafinya, variasi posisi dari akuifer dibagi
beberapa jenis yaitu :
a. Akuifer bebas (Unconfined aquifer / Phretic aquifer / Water table aquifer),
akuifer ini hanya sebagian yang terisi oleh air dan terletak pada suatu dasar
yang kedap dan pada bagian atasnya adalah lapisan permeabel, maka akuifer
tersebut dikatakan bebas.


21

b. Akuifer setengah bebas (Semi-unconfined aquifer), jika lapisan semi-
permiabel yang berada di atas akuifer memiliki permeabilitas yang cukup
besar sehingga aliran horisontal pada lapisan tersebut tidak dapat diabaikan,
maka akuifer tersebut dikatakan setengah bebas.
c. Akuifer setengah tertekan (Semi confined aquifer / leakage aquifer), akuifer
ini biasanya setengah terkurung yaitu akuifer yang sepenuhnya jenuh air
yang pada bagian atasnya dibatasi oleh lapisan setengah kedap air (semi
permiabel) dan terletak pada dasar yang kedap air.
d. Akuifer tertekan (Confined aquifer / non leaky aquifer), akuifer yang
sepenuhnya jenuh dengan air, bagian atas dan bawahnya dibatasi oleh
lapisan yang kedap air (harga k=0) (lihat gambar 3.1)

, Sumber : Studi Hidrogeologi Pada Tambang Timah Nudur III PT. Timah (PERSERO) tbk. Kecamatan Air Gegas
Kabupaten Bangka Selatan, Bangka Belitung, Haris Aji Nugroho (2011)

Gambar 3.1
Jenis-Jenis Akuifer

3.2.2. Parameter Akuifer
a. Permeabilitas (k)
Permeabilitas dapat diartikan sebagai kemampuan akuifer untuk meloloskan
cairan. Untuk pekerjaan praktis di bidang hidrologi airtanah, di mana cairan dalam
hal ini air, maka kelulusan batuan dalam meluluskan airtanah, disebut sebagai
Permeabilitas (k). Suatu media (batuan) disebut mempunyai k = 1 jika media
tersebut dalam satu satuan waktu akan dapat meluluskan satu satuan volume


22

airtanah melalui satu penampang dari satuan luas tegak lurus arah aliran, di bawah
landaian hidrolika. Maka rumus yang diterapkan adalah :
b
T
k = (m/detik) .................................................................................... (3.11)
Keterangan :
k : Harga permeabilitas, m/detik
T : Harga transmisivitas, m
2
/detik
b : Tebal atau panjang akuifer, m
Harga konduktivitas hidrolik (K) dapat diperoleh melalui uji slug test pada
sumur uji. Hasil dari pengujian slug test dibuat grafik head vs waktu, sehingga
diperoleh nilai s (kemiringan pada grafik head vs waktu). Uji slug test dilakukan
dengan interval waktu tertentu, sehingga waktu bersifat aritmatik. Maka rumus
yang diterapkan adalah :
b
r
S K
c
2
133 , 0 A = (m/detik)...................................................(3.12)
Keterangan :
k : Konduktivitas hidrolik (m/detik)
AS : Kemiringan pada log head time graph
r
c
: Radius pipa saring (m)
b : Tebal akuifer (m); diketahui dari data litologi lubang bor

Untuk harga permeabilitas (k) untuk pengujian pumping test pada sumur uji
dapat diperoleh dengan memplot salah satu pizometrik nilai s (kemiringan pada
grafik head vs waktu). Pada uji pumping test dilakukan dengan interval tertantu
sama halnya dengan slug test. Rumus yang diterapkan pada pumping test seperti
pada (3.11).
Nilai permeabilitas (k) atau konduktivitas hidrolik (K) dari suatu akuifer
penting untuk diketahui, karena berkaitan dengan ketersedian airtanah pada suatu
akuifer. Tinggi-rendahnya nilai permeabilitas atau konduktivitas hidrolik suatu


23

akuifer akan sangat berpengaruh terhadap tinggi-rendahnya potensi airtanah di
dalam akuifer tersebut.
Pada Tabel 3.2 dapat digunakan sebagai acuan untuk menentukan potensi
air airtanah pada suatu akuifer berdasarkan nilai permeabilitas atau konduktivitas
hidrolik. Namun demikian untuk lebih telitinya hasil yang diperoleh, sebaiknya
potensi airtanah dihitung menggunakan rumus Darcy dengan melibatkan beberapa
parameter, satu diantaranya nilai k atau K.


Sumber : Groundwater Hydrology, David Keith Todd, Ph. D (2005)
24

Gambar 3.2
Nilai Konduktivitas Hidrolik Untuk Beberapa Material


Hydraulic conductivity, meters/day
10
4
10
3
10
2
10
1
1 10
-1
10
-2
10
-3
10
-4
10
-5


Hydraulic conductivity, meter/second

1,157 10
-1
1,157 10
-2
1,157 10
-3
1,157 10
-4
1,157 10
-5
1,157 10
-6
1,157 10
-7
1,157 10
-8
1,157 10
-9
1,157 10
-10


Relative hydraulic conductivity
Very high High Moderate Low Very low

REPRESENTATIVE MATERIALS

Unconsolidated deposits
Clean gravel Clean sand and Fine sand Silt, clay, and mixtures massive clay
Sand and gravel of sand, silt, and clay

Consolidated Rocks
Vesicular and scoriaceous Clean sandstone Laminated sandstone, - massive igneous
Basalt and cavernous and fractured shale, mudstone and metamorphic
Limestone and dolomite igneous and rocks
metamorphic
rock


Sumber : Groundwater Hydrology, David Keith Todd, Ph. D (2005)
24