Anda di halaman 1dari 9

MODUL 1 1. Jelaskanlah perbedaan pengertian antara pemeriksaan, pengawasan dan pengendalian serta berikan contoh masing-masing!

Pemeriksaan adalah tindakan membandingkan keadaan yang sebenarnya/ kenyataan yang terjadi pada saat dilakukan penelitian/pengujian di lapangan dengan keadaan yang seharusnya menurut ketentuan peraturan perundang-undangan atau kebijaksanaan umum. Pengawasan merupakan seluruh proses penilaian terhadap kegiatan/program berupa langkah-langkah kerja untuk meyakinkan apakah hasil pelaksanaan sudah sesuai dengan tujuan atau rencana yang sudah ditetapkan. Pengendalian adalah tindakan pengawasan oleh manajemen yang akan langsung diikuti dengan tindak lanjut berupa usaha perbaikan jika ditemukan penyimpangan atau kesalahan

keyakinan apakah laporan keuangan entitas yang diaudit telah menyajikan secara wajar tentang posisi keuangan, hasil operasi, arus kas sesuai dengan prinsip akuntasi yang berlaku umum Audit Kinerja pemeriksaan secara objektif dan sistematik terhadap berbagai macam bukti untuk dapat melakukan penilaian secara independen atas kinerja entitas atau program/kegiatan Pemerintah yang diaudit Audit dengan tujuan tertentu audit untuk menentukan apakah informasi keuangan telah disajikan sesuai dengan kriteria yang telah ditetapkan, apakah entitas telah mematuhi persyaratan kepatuhan terhadap peraturan keuangan tertentu, apakah sistem pengendalian intern telah dirancang secara memadai untuk mencapai tujuan pengendalian.

8. Sebutkan dan jelaskan kegiatan utama pengawasan 2. Sebutkan definisi auditing menurut Arens dan
Loebbecke dan jelaskan pengertian-pengertian pokok yang terdapat dalam definisi tersebut! Menurut Arens dan Loebecke (2002) definisi auditing adalah (Auditing is) the process by which a competent, independent person accumulates and evaluates evidence about quantifiable information related to a specific economic entity for the purpose of determining and reporting on the degree of correspondence between the quantifiable information and establishing criteria. Informasi yang dapat diukur dan kriteria yang ditetapkan Entitas ekonomi Pengumpulan dan pengevaluasian bahan bukti Orang yang kompeten dan independen Pelaporan pada tahun 2006 menurut Peraturan Menpan Nomor Per/03/M.Pan/02/2006! Terdiri dari tiga kegiatan yaitu pemeriksaan, monitoring dan evaluasi. Kegiatan pemeriksaan terdiri dari pemeriksaan kinerja penggunaan APBN/APBD, pemeriksaan kinerja kegiatan pelayanan publik, pemeriksaan kinerja optimalisasi penerimaan negara dan daerah, pemeriksaan keuangan atas pinjaman dan hibah luar negeri (PHLN), pemeriksaan investigatif, pemeriksaan masalah yang menjadi fokus pimpinan serta pemeriksaan yang bersifat khas. Kegiatan monitoring dilakukan secara terus-menerus terhadap seluruh tahap pelaksanaan tugas pokok instansi pemerintah sejak tahap perencanaan. Kegiatan evaluasi dilakukan terhadap sistem pengendalian intern pemerintah, penggunaan dana dekonsentrasi dan pembantuan, serta terhadap aspek tertentu penyelenggaraan program instansi pemerintah.

3. Sebutkan dan jelaskan aspek-aspek perbedaan antara


auditing dengan akuntansi! Ikhtisar berikut menyajikan beberapa pebedaan antara Pengauditan dengan Akuntansi. Pengauditan mempunyai sifat analitis, sedangkan Akuntansi bersifat konstruktif Siapa yang melakukan? Tujuan kegiatan Standar yang digunakan

9. Sebutkan dan jelaskan jenis-jenis pekerjaan audit


menurt Jones dan Bates (1990)! Audit Reliabilitas Sistem, Audit Atestasi, Audit Investigasi dan Pencegahan Kecurangan, Audit Value for Money (Audit Kinerja), Audit Komputer, Audit Ketaatan

10. Jelaskan dan ilustrasikan yang dimaksud dengan fungsi


manajemen! fungsi manajemen pada dasarnya terdiri dari perencanaan, pelaksanaan, dan pengendalian/ (POAC)

4. Jelaskan perbedaan antara audit sektor komersial


dengan audit sektor publik! Audit sektor publik dilakukan pada organisasi pemerintahan, baik yang bersifat nonlaba atau mencari laba, sedangkan audit sektor komersial dilakukan pada perusahaan-perusahaan swasta yang murni bersifat mencari laba

11. Jelaskan dan ilustrasikan yang dimaksud dengan


pengendalian intern! Pengendalian intern merupakan sistem yang terjalin dalam organisasi dengan menerapkan berbagai metode dan cara atau tolok ukur lainnya dengan tujuan agar kegiatan berjalan menurut apa yang digariskan.

5. Apa yang dimaksud dengan jasa atestasi yang dikenal


pada audit sektor komersial? Apa alasan teoretis di balik munculnya jasa tersebut ? Jasa atestasi maksudnya adalah jasa pemberian tingkat keyakinan tertentu tentang kewajaran suatu laporan. Jasa ini diberikan oleh profesional independen yang ahli bagi kepentingan pengguna laporan. Jasa ini diberikan karena secara teoritis antara pemilik (pemegang saham) suatu perusahaan dengan manajemen perusahaan terdapat hubungan keagenan (agency relationship). Agar pemilik perusahaan (principal) memiliki keyakinan memadai atas laporan manajemen (agent), maka manajemen harus menyewa profesional independen dan ahli untuk memberikan jaminan keyakinan atas laporan mereka (laporan manajemen) kepada pemilik perusahaan.

12. Jelaskan dan ilustrasikan hubungan audit dengan


fungsi manajemen dan pengendalian intern! Sistem pengendalian intern yang efektif banyak dititik-beratkan pada mekanisme saling uji, yakni bahwa suatu bagian organisasi dengan melaksanakan suatu prosedur tertentu akan dapat mengawasi kegiatan bagian lainnya secara otomatis (via audit)

6. Sebutkan dan jelaskan jenis-jenis audit pada sektor


komersial baik menurut SPAP maupun menurut KMK Nomor 423/KMK.06/2002! Standar Profesional Akuntan Publik membagi pekerjaan auditor ke dalam tiga kelompok: audit atestasi atas laporan keuangan, jasa atestasi lainnya serta jasa akuntansi dan review. KMK 423/KMK.06/2002: jasa audit umum dan review, audit kinerja, dan audit khusus

7. Sebutkan dan jelaskan jenis-jenis audit pada sektor


publik menurut UU Nomor 15 Tahun 2004! Audit atas Laporan Keuangan proses audit yang dilakukan dalam rangka memberikan

MODUL2 1. Profesi auditor pada umumnya dijalankan oleh para pemegang gelar akuntan. Dalam melaksanakan audit untuk sampai pada suatu pernyataan pendapat, auditor harus senantiasa bertindak sebagai seorang ahli dalam bidang akuntansi dan bidang auditing. Pencapaian keahlian tersebut dimulai dengan pendidikan formalnya yang diperluas dalam pengalaman-pengalaman selanjutnya dalam praktik audit. Untuk memenuhi persyaratan sebagai seorang profesional auditor harus menjalani pelatihan teknis yang cukup.Dengan demikian untuk menjadi auditor seseorang sebaiknya memiliki latar belakang akuntansi atau memiliki gelar akuntan terlebih dahulu. Memang benar seseorang yang bukan akuntan dapat saja menjadi auditor, tetapi perannya dalam tim audit akan sangat terbatas. Pada umumnya kantor auditor, baik swasta (KAP) maupun pemerintah (BPK-BPKP), mempersyaratkan ketua tim dari suatu tim audit dipimpin oleh seorang akuntan.

Penandatangan suatu laporan audit dari suatu hasil audit oleh BPK misalnya hanya boleh dilakukan oleh akuntan berregister negara. 2. Dahulu, mengikuti ketentuan pada Undang-undang No 34 Tahun 1954 tentang Pemakaian Gelar Akuntan. Pasal 2 Undang-undang tersebut menyebutkan bahwa gelar akuntan dapat diperoleh seseorang dengan syarat sebagai berikut: a) Memiliki ijazah dari Universitas Negeri atau Badan Perguruan Tinggi Lain yang dibentuk menurut Undang-undang atau diakui Pemerintah; atau b) Lulus dalam suatu ujian yang ijazahnya dapat disamakan dengan ijazah butir 1 di atas. Saat ini sejak berlakunya Keputusan Menteri Pendidikan Nasional Republik Indonesia Nomor 179/U/2001 tentang Penyelenggaraan Pendidikan Profesi Akuntansi, gelar akuntan hanya berhak diperoleh bagi yang telah dan lulus mengikuti pendidikan profesi akuntansi (PPA). PPA adalah pendidikan tambahan pada pendidikan tinggi setelah program sarjana Ilmu Ekonomi pada program studi akuntansi. Sesudah lulus dari PPA gelar akuntan dapat diperoleh dengan terlebih dahulu mendaftarkan diri ke Direktorat Pembinaan Akuntan dan Jasa Penilai Departemen Keuangan RI untuk memperoleh register akuntan. Perbedaan auditor internal dan auditor eksternal Auditor Eksternal Merupakan orang yang independen di luar perusahaan. Melayani pihak ketiga yang memerlukan informasi keuangan yang dapat diandalkan. Fokus pada ketepatan dan kemudahan pemahaman dari kejadian-kejadian masa lalu yang dinyatakan dalam laporan keuangan. Sekali-sekali memerhatikan pencegahan dan pendeteksian kecurangan secara umum, namun akan memberikan perhatian lebih bila kecurangan tersebut akan memengaruhi laporan keuangan secara material. Independen terhadap manajemen dan dewan direksi baik dalam kenyataan maupun secara mental. Menelaah catatan-catatan yang mendukung laporan keuangan secara periodik, biasanya sekali setahun.

eksternal ini dijelaskan melalui suatu teori hubungan keagenan (agency relationship). Agar pemilik organisasi (principal) memiliki keyakinan memadai atas laporan manajemen (agent), maka pemilik mewajibkan manajemen menyewa profesional independen dan ahli untuk memberikan jaminan keyakinan atas laporan mereka (laporan manajemen) kepada pemilik. Auditor

Penugasan

Fungsi Audit

Stakeholder

Fungsi Pertanggungjawaban

Auditee

3.

Hubungan keagenan di atas juga dianggap berlaku pada sektor publik. Yang berposisi sebagai principal adalah rakyat atau masyarakat yang berkepentingan melalui badan legislatif. Yang berposisi sebagai agen adalah birokrasi pemerintah. Untuk berposisi sebagai auditor eksternal dibentuk suatu institusi pemeriksa yang independen dari pemerintah yang biasa dinamakan sebagai supreme audit body. Di Indonesia posisi auditor eksternal pemerintah dijalankan oleh Badan Pemeriksa Keuangan (BPK). 6. Syarat yang diperlukan untuk menjadi akuntan publik menurut KMK no 359/KMK.06/2003 Berdasarkan KMK di atas, untuk memperoleh izin dari Menteri Keuangan, Akuntan mengajukan permohonan tertulis kepada Direktur Jenderal u.p. Direktur dengan memenuhi persyaratan sebagai berikut: a) tidak pernah dikenakan sanksi pencabutan izin Akuntan Publik; b) berdomisili di wilayah Republik Indonesia yang dibuktikan dengan Kartu Tanda Penduduk (KTP) atau bukti lainnya sesuai dengan peraturan perundangan-undangan yang berlaku; c) memiliki nomor Register Negara untuk Akuntan; d) anggota IAI dan IAI- Kompartemen Akuntan Publik yang dibuktikan dengan kartu anggota atau surat keterangan dari organisasi yang bersangkutan; e) lulus Ujian Sertifikasi Akuntan Publik (USAP) yang diselenggarakan oleh IAI; f) memiliki pengalaman kerja dibidang audit umum atas laporan keuangan sekurang-kurangnya 1.000 (seribu) jam dalam 5 (lima) tahun terakhir dan sekurang - kurangnya 500 (lima ratus) jam diantaranya memimpin dan mensupervisi perikatan audit umum, yang disahkan oleh Pemimpin KAP tempat bekerja atau pejabat setingkat eselon I Instansi Pemerintah yang berwenang dibidang audit umum; g) melengkapi formulir AP-1 7. Selanjutnya untuk mulai membuka jasa akuntan publik bagi perusahaan-perusahaan swasta, akuntan publik wajib mendirikan Kantor Akuntan Publik (KAP). Untuk mendapatkan izin usaha KAP yang berbentuk usaha perseorangan, pemimpin KAP mengajukan permohonan tertulis kepada Direktur Jenderal u.p. Direktur dengan melampirkan : copy surat izin Akuntan Publik; daftar nama sekurang-kurangnya 3 (tiga) orang tenaga pemeriksa tetap dengan tingkat pendidikan formal bidang akuntansi yang serendahrendahnya berijazah setara Diploma III; copy Nomor Pokok Wajib Pajak (NPWP) KAP; rancangan Sistem Pengendalian Mutu (SPM) KAP yang memenuhi Standar Profesional Akuntan Publik (SPAP) sekurang-kurangnya mencakup aspek kebijakan atas seluruh unsur pengendalian mutu; tanda bukti domisili Pemimpin KAP; tanda bukti kepemilikan atau sewa kantor, dan denah kantor yang menunjukan kantor terisolasi dari kegiatan lain;

Auditor Internal Merupakan pegawai perusahaan, atau bisa saja merupakan entitas independen. Melayani kebutuhan organisasi, meskipun fungsinya harus dikelola oleh perusahaan. Fokus pada kejadian-kejadian di masa depan dengan mengevaluasi kontrol yang dirancang untuk meya-kinkan pencapaian tujuan organisasi. Langsung berkaitan dengan pencegahan kecurangan dalam segala bentuknya atau perluasan dalam setiap aktivitas yang ditelaah.

Independen terhadap aktivitas yang diaudit, tetapi siap sedia untuk menanggapi kebutuhan dan keingin-an dari semua tingkatan manajemen. Menelaah aktivitas secara terusmenerus.

4. Contoh-contoh penyebab risiko informasi adalah: tidak dekatnya pemilik organisasi dengan informasi sekaligus dengan organisasi yang dijalankan manajemen, 2. kemungkinan adanya motif dan bias dari manajemen penyedia informasi untuk kepentingan manajemen yang tidak sejalan dengan kepentingan pemilik, 3. data yang berlebihan, 4. informasi manajemen merupakan ringkasan dari transaksi pertukaran yang kompleks. Untuk mengurangi risiko informasi di atas, pemilik organisasi dapat melakukan tiga alternatif: 1. memverifikasi sendiri informasi, 2. membagi risiko dengan manajemen, 3. meminta dilakukan audit. 1.

a. b.

c. d.

5.

Fungsi dan tanggung jawab auditor eksternal sangat berkaitan dengan kepentingan pihak eksternal dari organisasi. Hubungan auditor eksternal dengan pihak

e. f.

g. formulir KAP-1 Untuk mendapatkan izin usaha KAP yang berbentuk usaha persekutuan, Pemimpin Rekan KAP mengajukan permohonan tertulis kepada Direktur Jenderal u.p. Direktur dengan melampirkan: a. persyaratan sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) huruf b,c,d,f dan g; b. perjanjian kerja sama yang disahkan oleh notaris bagi KAP yang berbentuk persekutuan yang sekurang-kurangnya memuat : 1) pihak-pihak yang melakukan persekutuan; 2) alamat para sekutu; 3) bentuk persekutuan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 7 ayat (2); 4) nama dan domisili KAP; 5) hak dan kewajiban para pihak/sekutu; 6) sekutu yang berhak mengadakan perikatan, untuk dan atas nama KAP, dengan pihak ketiga berkaitan dengan jasa yang diberikan; 7) penyelesaian sengketa dalam hal terjadi perselisihan; c. copy surat izin Akuntan Publik bagi Pemimpin Rekan dan Rekan yang Akuntan Publik; d. surat persetujuan dari seluruh Rekan KAP mengenai penunjukan salah satu Rekan menjadi Pemimpin Rekan; e. tanda bukti domisili Pemimpin Rekan dan Rekan KAP. Salah satu ketentuan baru yang ditetapkan dalam Keputusan Menteri Keuangan di atas adalah kewajiban mengikuti dan lulus Ujian Sertifikasi Akuntan Publik (USAP) bagi akuntan yang mengajukan izin untuk menjadi akuntan publik 8. Ujian Sertifikasi Akuntan Publik (USAP) adalah Salah satu ketentuan baru yang ditetapkan dalam Keputusan Menteri Keuangan bagi akuntan yang mengajukan izin untuk menjadi akuntan publik (mengikuti dan lulus). USAP diselenggarakan oleh organisasi profesi akuntan, yaitu Ikatan Akuntan Indonesia. Akuntan yang telah mengikuti dan lulus USAP mendapat gelar Bersertifikat Akuntan Publik (BAP). Dalam melaksanakan tugasnya, BPK menyelenggarakan 3 fungsi yaitu: fungsi pemeriksaan, fungsi rekomendasi dan fungsi kuasi yudisial.

3.

penjualan dan pemecahan dan/atau penjualan saham kepada masyarakat.

perusahaan negara/daerah perusahaan negara/daerah

c. Fungsi Quasi Yudisial


Apabila dalam pelaksanaan pemeriksaan tanggung jawab keuangan negara/daerah ditemukan terjadi kekurangan yang mengakibatkan kerugian negara/daerah, dikarenakan ada unsur kelalaian, salah atau alpa, maka instansi yang bersangkutan harus segera mengambil tindakan untuk menutup kerugian negara/daerah tersebut dan meminta pertanggungjawaban pihak yang bersangkutan untuk segera menyetor kembali jumlah kekurangan tersebut. Apabila tindakan tersebut tidak berhasil, maka harus dilakukan proses penyelesaian kerugian negara/daerah. Proses tersebut dikenal dengan proses tuntutan perbendaharaan (TP) yang dikenakan terhadap bendaharawan yang lalai atau bersalah dalam melaksanakan tugasnya. Terhadap pegawai negeri yang bukan bendaharawan diberlakukan proses tuntutan ganti rugi (TGR). Berdasarkan Pasal 23 UUD 1945 dan Pasal 2 ayat (1) dan (2) Undang-Undang Nomor 5 tahun 1973 berikut penjelasannya, BPK bertugas untuk memeriksa tanggung jawab Pemerintah tentang keuangan negara seutuhnya, bukan hanya terbatas pada tanggung jawab bendaharawan. Sehubungan dengan hal tersebut, apabila terjadi kerugian negara/daerah yang menjadi tanggung jawab pemerintah, maka proses penyelesaiannya dilakukan BPK. Berdasarkan Keppres Nomor 9 tahun 2004 tentang Perubahan atas Keppres Nomor 103 tahun 2001, dalam Pasal 52 disebutkan, BPKP mempunyai tugas melaksanakan tugas pemerintahan di bidang pengawasan keuangan dan pembangunan sesuai dengan ketentuan peraturan perundangundangan yang berlaku. Kewenangan BPKP tidak hanya sampai disitu saja, BPKP juga dapat melakukan pemeriksaan khusus atau audit investigasi untuk membongkar kasus-kasus yang terkait dengan penyalahgunaan wewenang yang mengakibatkan kerugian negara atau menguntungkan sebagian orang. Bila ada indikasi terjadinya tindak pidana korupsi maka acuan yang digunakan BPKP dalam melakukan audit investigasinya adalah UU No. 31 tahun 1999 mengenai Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi. Saat ini cenderung terjadi pelemahan peran dan ruang lingkup kerja BPKP. Lembaga pemerintahan non departemen ini, sejak desentralisasi, tidak lagi memiliki mandat untuk mengaudit pemerintah daerah. Melemahnya tugas dan peran BPKP ini dapat dipahami dengan melihat pada aspek hukumnya. Landasan pembentukan BPKP hanya dengan Keppres, menyebabkan fungsi pengawasan BPKP tidak sekuat BPK ataupun Bawasda yang berlandaskan undang-undang. Tidak adanya aturan main yang jelas antara tiga lembaga pengawas ini telah menempatkan posisi pengawasan BPKP menjadi sekunder atau bukan yang utama. Dibanding BPK dan Bawasda, legitimasi eksistensi BPKP dengan Keppres ini tidak kokoh.

9.

a. Fungsi Pemeriksaan
BPK memiliki fungsi melakukan pemeriksaan pengelolaan dan tanggung jawab keuangan negara/daerah. Pemeriksaan tersebut dilakukan secara rutin dan berkala sepanjang tahun berjalan, di kantor BPK dan/atau di pusat-pusat tata usaha penyimpanan dokumen keuangan Negara. Tujuan pemeriksaan yang dilakukan, yakni menilai tentang: 1. ketepatan operasi keuangan; 2. kelayakan laporan keuangan; 3. ketertiban administrasi dan ketaatan pada peraturan perundang-undangan yang berlaku; 4. penggunaan uang belanja dilakukan dengan cara-cara yang dapat dipertanggung- jawabkan sesuai dengan tujuan yang telah ditetapkan. Pemeriksaan tersebut dapat dilanjutkan dengan pemeriksaan yang dilakukan di tempat kedudukan obyek yang diperiksa untuk menilai kebenaran secara material. Selama pelaksanaan pemeriksaan tersebut dapat dilakukan juga pemriksaan atas tindak lanjut temuan hasil pemeriksaan sebelumnya untuk mengetahui sejauhmana saran BPK telah ditindaklanjuti oleh instansi yang diperiksa.

b. Fungsi Rekomendasi
Fungsi rekomendasi adalah penyampaian pertimbangan dan saran kepada Pemerintah mengenai hal-hal yang bersifat penyempurnaan mendasar, strategis dan berskala nasional di bidang pengelolaan dan tanggung jawab keuangan negara, mengenai: 1. penghapusan dan penyewaan barang milik negara; 2. penggabungan, peleburan, pengambilalihan, kerjasama operasi dan usaha patungan antar sesama perusahaan negara/daerah dan atau yayasan di lingkungan instansi pemerintah dan perusahaan negara/daerah, antara perusahaan negara/daerah dan yayasan di lingkungan instansi pemerintah, dan perusahaan negara/daerah dengan pihak swasta.

MODUL 3 1. Tujuan audit umum atas laporan keuangan oleh auditor independen adalah untuk menyatakan pendapat atas kewajaran dalam semua hal yang material, posisi keuangan, hasil usaha, dan arus kas, sesuai dengan prinsip-prinsip akuntansi yang berlaku umum. 2. Manajemen pada satu pihak bertanggung jawab atas penerapan kebijakan akuntansi yang sehat, penerapan sistem pengendalian intern yang baik serta penyajian laporan keuangan secara wajar. Auditor di lain pihak bertanggung jawab pada pelaksanaan audit sesuai dengan standar audit yang berlaku umum. Sekalipun manajemen bertanggungjawab atas penyiapan laporan keuangan dengan catatannya, auditor direkomendasikan juga untuk menyiapkan suatu rancangan saran-saran yang diperlukan kepada manajemen klien audit. 3. Asersi manajemen adalah pernyataan yang tersirat atau yang dinyatakan dengan jelas oleh manajemen mengenai jenis transaksi dan akun terkait dalam laporan keuangan. Asersi manajemen diklasifikasikan berdasarkan penggolongan besar sebagai berikut:

4.

5.

6.

7.

8.

9.

10.

Keberadaan atau keterjadian (existence or occurrence). Kelengkapan (completeness). Hak dan kewajiban (right and obligation). Penilaian (valuation) atau alokasi. Penyajian da n pengungkapan (presentation and disclosure) Terdapat dua perbedaan antara tujuan audit berkaitsaldo dan tujuan audit berkait-transaksi. Pertama, seperti tercermin dari namanya, tujuan audit berkaitsaldo diterapkan kepada saldo suatu pos akun, sedangkan tujuan audit berkait-transaksi diterapkan kepada jenis atau golongan transaksi seperti transaksi penerimaan atau pengeluaran kas. Karena itu, tujuan audit berkait-saldo hampir selalu diterapkan kepada saldo akhir di akun-akun neraca, seperti piutang, persediaan, dan hutang. Kedua, tujuan audit berkaitsaldo memiliki sasaran yang lebih banyak dibandingkan dengan tujuan audit berkait-transaksi. Tujuan audit berkait-saldo terdiri dari sembilan tujuan, sementara tujuan audit berkait-transaksi, sebagaimana telah diuraikan di muka, hanya terdiri dari enam tujuan. Tujuan panduan audit berkait-transaksi dapat diterapkan pada setiap jenis transaksi, yaitu dinyatakan secara umum. Tujuan spesifik audit berkait-transaksi juga diterapkan pada setiap jenis transaksi, tetapi dinyatakan sesuai jenis transaksi yang dimaksudkan. Sekali tujuan panduan audit berkait-transaksi dipahami, tujuan tersebut dapat digunakan untuk mengembangkan tujuan spesifik audit berkait-transaksi untuk setiap jenis transaksi yang diaudit. Auditor perlu membekali diri dengan pemahaman atas empat aspek penting audit sebagai berikut: Pemahaman atas Kriteria yang Ditetapkan Pemahaman atas Standar Audit Pemahaman atas Teknik, Bukti dan Kertas Kerja Audit Pemahaman atas Materialitas dan Risiko Audit Setelah auditor memahami struktur pengendalian intern klien, dia akan mampu mengevaluasi seberapa efektif pengendalian tersebut dalam mencegah dan menemukan kekeliruan dan ketidakberesan. Evaluasi ini meliputi identifikasi pengendalian-pengendalian spesifik yang mengurangi kemungkinan kekeliruan dan ketidakberesan akan terjadi dan tidak terdeteksi serta tidak diperbaiki dalam waktu yang tepat. Proses ini dikenal sebagai penetapan risiko pengendalian. Apabila dokumentasi transaksi diperiksa untuk salah satu atau kedua tujuan ini, pengujian tersebut disebut pula sebagai pengujian substantif atas transaksi. Pengujian terinci atas saldo adalah prosedur khusus untuk menguji kekeliruan moneter dalam saldo-saldo laporan keuangan. Contohnya, komunikasi tertulis langsung dengan penerima dana bantuan, pengamatan persediaan yang sebenarnya, dan pemeriksaan rekening koran rekanan pemasok atas hutang. Setelah auditor menyelesaikan semua prosedur, auditor kemudian perlu menggabungkan seluruh informasi yang didapat untuk memperoleh kesimpulan menyeluruh mengenai kewajaran penyajian laporan keuangan. Proses ini bersifat sangat subyektif dan sangat tergantung pada pertimbangan profesional auditor. Dalam prakteknya, auditor secara berkesinambungan menggabungkan informasi yang didapat selama melaksanakan audit. Penggabungan akhir hanyalah penyatuan dari penggabunganpenggabungan tadi saat penyelesaian penugasan. Jika audit telah diselesaikan, auditor atau kantor auditor harus menerbitkan laporan audit yang menyertai laporan keuangan klien yang diterbitkan. Laporan itu harus memenuhi persyaratan teknis yang jelas, yang dipengaruhi oleh ruang lingkup audit dan sifat temuan auditor.

1.

Standar umum bersifat pribadi dan berkaitan dengan persyaratan auditor dan mutu pekerjaannya, dan berbeda dengan standar yang berkaitan dengan pelaksanaan pekerjaan lapangan dan pelaporan auditor. Standar pekerjaan lapangan berkaitan dengan pelaksanaan pemeriksaan akuntan di lapangan (audit field work), mulai dari perencanaan audit dan supervisi, pemahaman dan evaluasi pengendalian intern, pengumpulan buktibukti audit melalui compliance test, substantive test, analytical review, sampai selesainya audit field work. Standar pelaporan yang terdiri dari empat standar merupakan pedoman bagi auditor independen dalam menyusun laporan auditnya.

2. Standar Umum a) Keahlian dan pelatihan teknis cukup b) Independensi dalam sikap mental c) Kemahiran profesionalnya dengan cermat dan seksama. Standar Pekerjaan Lapangan a) Pekerjaan direncanakan sebaik-baiknya dan jika digunakan asisten harus disupervisi dengan semestinya. b) Pemahaman yang memadai atas struktur pengendalian intern c) Bukti audit kompeten yang cukup Standar Pelaporan a) Laporan audit harus menyatakan apakah laporan keuangan telah disusun sesuai dengan prinsip akuntansi yang berlaku umum. b) Laporan audit harus menunjukkan keadaan yang di dalamnya prinsip akuntansi tidak secara konsisten diterapkan c) Pengungkapan informatif dalam laporan keuangan harus dipandang memadai d) Laporan audit harus memuat suatu pernyataan pendapat 3. Independen, artinya tidak mudah dipengaruhi, karena ia melaksanakan pekerjaannya untuk kepentingan umum (dibedakan dalam hal ia berpraktik sebagai auditor intern). Dengan demikian, ia tidak dibenarkan memihak kepada kepentingan siapapun, sebab bila tidak demikian, bagaimanapun sempurnanya keahlian teknis yang ia miliki, ia akan kehilangan sikap tidak memihak yang justru sangat penting untuk mempertahankan kebebasan pendapatnya. Kepercayaan masyarakat umum atas independensi sikap auditor independen sangat penting bagi perkembangan profesi akuntan publik. Kepercayaan masyarakat akan menurun jika terdapat bukti bahwa independensi sikap auditor ternyata berkurang, bahkan kepercayaan masyarakat dapat juga menurun disebabkan oleh keadaan yang oleh mereka yang berpikiran sehat (reasonable) dianggap dapat mempengaruhi sikap independen tersebut. Untuk menjadi independen, auditor harus jujur secara intelektual. Untuk diakui pihak lain sebagai orang yang independen, ia harus bebas dari setiap kewajiban terhadap kliennya dan tidak mempunyai suatu kepentingan dengan kliennya, apakah itu manajemen perusahaan atau pemilik perusahaan. Auditor independen tidak hanya berkewajiban mempertahankan fakta bahwa ia independen, tetapi ia harus pula menghindari keadaan yang dapat menyebabkan pihak luar meragukan sikap independensinya. 4. Perencanaan audit meliputi pengembangan strategi menyeluruh pelaksanaan dan lingkup audit yang diharapkan. Sifat, luas, dan saat perencanaan bervariasi dengan ukuran dan kompleksitas satuan usaha, pengalaman mengenai satuan usaha, dan pengetahuan tentang bisnis satuan usaha. Dalam perencanaan audit, auditor sektor komersial harus mempertimbangkan, antara lain: a) Masalah yang berkaitan dengan bisnis satuan usaha tersebut dan industri yang satuan usaha tersebut beroperasi di dalamnya. b) Kebijakan dan prosedur akuntansi satuan usaha tersebut. c) Metode yang digunakan oleh satuan usaha tersebut dalam mengolah informasi akuntansi

MODUL 5

yang signifikan, termasuk penggunaan organisasi jasa dari luar untuk mengolah informasi akuntansi pokok perusahaan. d) Penetapan tingkat risiko pengendalian yang direncanakan. e) Pertimbangan awal tentang tingkat materialitas untuk tujuan audit. f) Pos laporan keuangan yang mungkin memerlukan penyesuaian. g) Kondisi yang mungkin memerlukan perluasan atau pengubahan pengujian audit, seperti risiko kekeliruan dan ketidakberesan yang material atau adanya transaksi antar pihak-pihak yang mempunyai hubungan istimewa. h) Sifat laporan audit yang diharapkan akan diserahkan kepada pemberi tugas (sebagai contoh, laporan audit tentang laporan keuangan konsolidasian, laporan khusus untuk menggambarkan kepatuhan klien terhadap kontrak perjanjian). Prosedur yang dapat dipertimbangkan oleh auditor dalam perencanaan dan supervisi biasanya mencakup review terhadap catatan auditor yang berkaitan dengan satuan usaha dan diskusi dengan staf lain dalam kantor akuntan dan pegawai satuan usaha tersebut. Contoh prosedur tersebut meliputi: a) Mereview arsip korespondensi, kertas kerja, arsip permanen, laporan keuangan, dan laporan audit tahun lalu. b) Membahas masalah-masalah yang berdampak terhadap audit dengan staf kantor akuntan yang bertanggung jawab atas jasa nonaudit bagi satuan usaha. c) Mengajukan pertanyaan tentang perkembangan bisnis saat ini yang berdampak terhadap satuan usaha. d) Membaca laporan keuangan interim tahun berjalan. e) Membicarakan tipe, luas, dan waktu audit dengan manajemen, dewan komisaris, atau komite audit. f) Mempertimbangkan dampak diterapkannya pernyataan standar akuntansi dan standar auditing yang ditetapkan Ikatan Akuntan Indonesia, terutama yang baru. g) Mengkoordinasi bantuan dari pegawai satuan usaha dalam penyiapan data. h) Menentukan luasnya keterlibatan, jika ada, konsultan, spesialis, dan auditor intern. i) Membuat jadwal pekerjaan audit. j) Menentukan dan mengkoordinasi kebutuhan staf audit. k) Melaksanakan diskusi dengan pihak pemberi tugas untuk memperoleh tambahan informasi tentang tujuan audit yang akan dilaksanakan sehingga auditor dapat mengantisipasi dan memberikan perhatian terhadap halhal yang berkaitan yang dipandang perlu. 5. Standar pelaporan kedua (disebut sebagai standar konsistensi) Menurut PSA No. 09 (SA Seksi 420) tujuan standar konsistensi ini adalah untuk memberikan jaminan bahwa jika daya banding laporan keuangan di antara dua periode dipengaruhi secara material oleh perubahan prinsip akuntansi, auditor akan mengungkapkan perubahan tersebut dalam laporannya. Juga dinyatakan secara tersirat dalam tujuan standar tersebut bahwa prinsip akuntansi tersebut telah diamati konsistensi penerapannya dalam setiap periode akuntansi yang bersangkutan. Standar pelaporan tersebut secara tersirat mengandung arti bahwa auditor puas bahwa daya banding laporan keuangan di antara dua periode akuntansi tidak dipengaruhi secara material oleh perubahan prinsip akuntansi dan bahwa prinsip akuntansi tersebut telah diterapkan secara konsisten di antara dua atau lebih periode akuntansi baik karena (1) tidak terjadi perubahan prinsip akuntansi, atau (2) terdapat perubahan prinsip atau metode penerapannya, namun dampak perubahan prinsip akuntansi terhadap daya banding laporan keuangan tidak material. Dalam keadaan-keadaan tersebut auditor tidak perlu membuat pengungkapan mengenai konsistensi dalam laporan auditnya. 6. Tujuan standar pelaporan keempat adalah untuk mencegah salah tafsir tentang tingkat tanggung jawab yang dipikul oleh akuntan bila namanya

dikaitkan dengan laporan keuangan. Seorang akuntan dikaitkan dengan laporan keuangan jika ia mengizinkan namanya dicantumkan dalam suatu laporan, dokumen, atau komunikasi tertulis yang berisi laporan tersebut. Bila seorang akuntan menyerahkan kepada kliennya atau pihak lain suatu laporan keuangan yang disusunnya atau dibantu penyusunannya, ia juga dianggap berkaitan dengan laporan keuangan tersebut. Meskipun akuntan dapat berpartisipasi dalam penyusunan laporan keuangan, laporan keuangan merupakan representasi manajemen, dan kewajaran penyajiannya sesuai dengan prinsip akuntansi yang berlaku umum merupakan tanggung jawab manajemen. SPKN Tujuan SPKN adalah untuk membantu Pemerintah, termasuk instansi dan para pejabatnya dalam menyelenggarakan pengelolaan dan membuat pertanggungjawaban keuangan negara, yang semakin baik. Landasan peraturan perundangan yang digunakan dalam penyusunan SPKN adalah: 1) Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945. 2) TAP MPR No. X/MPR/2001 tentang Laporan Pelaksanaan Putusan Majelis Permusyawaratan Rakyat Republik Indonesia Oleh Lembaga Tinggi Negara Pada Sidang Tahunan Majelis Permusyawaratan Rakyat Republik Indonesia Tahun 2001. 3) TAP MPR No. Vl/MPR/2002 tentang Rekomendasi Atas Laporan Pelaksanaan Putusan Majelis Permusyawaratan Rakyat Republik Indonesia Oleh Presiden, DPA, DPR, MA Pada Sidang Tahunan Majelis Pennusyawaratan Rakyat Republik Indonesia Tahun 2002. 4) Undang-undang No. 5 Tahun 1973 tentang Badan Pemeriksa Keuangan. 5) Undang-Undang No. 17 Tahun 2003 tentang Keuangan Negara. 6) Undang-undang No. 1 Tahun 2004 tentang Perbendaharaan Negara. 7) Undang-undang No. 15 Tahun 2004 tentang Pemeriksaan Pengelolaan dan Tanggung Jawab Keuangan Negara. 8. SPKN berlaku untuk semua pemeriksaan yang dilaksanakan terhadap entitas, program, kegiatan serta fungsi yang berkaitan dengan pelaksanaan pengelolaan dan tanggung jawab Keuangan Negara sesuai dengan peraturan perundang-undangan. Jika dirinci, maka pihak-pihak yang harus tunduk kepada SPKN meliputi pihak-pihak sebagai berikut: 1) Badan Pemeriksa Keuangan Rl. 2) Akuntan Publik atau pihak lainnya yang melakukan pemeriksaan atas pengelolaan dan tanggung jawab Keuangan Negara, untuk dan atas nama BPK-RI 3) Aparat Pengawas Internal Pemerintah (APIP) termasuk Satuan Pengawasan Intern (SPI) BUMN/BUMD sebagai acuan dalam menyusun Standar pemeriksaan sesuai dengan kedudukan, tugas pokok, dan fungsinya. 4) Pihak-pihak lain yang ingin menggunakan Standar Pemeriksaan Keuangan Negara SPKN juga menggariskan tanggung jawab dari manajemen entitas yang diperiksa, tanggung jawab pemeriksa serta tanggung jawab organisasi pemeriksa. Manajemen entitas yang diperiksa bertanggung jawab untuk: 1. Mengelola keuangan negara secara tcrtib, efisien, ekonomis, efektif, transparan, dan bertanggung jawab dengan memperhatikan rasa keadilan dan kepatutan, sesuai dengan ketentuan pemndang-undangan yang berlaku. 2. Menyusun dan menyelenggarakan pengendalian intern yang efektif guna menjamin: a) pencapaian tujuan sebagaimana mestinya; b) keselamatan/keamanan kekayaan yang dikelola; c) ketaatan pada ketentuan dan peraturan perundangundangan; d) perolehan dan pemeliharaan data/informasi yang handal, dan pengungkapan data tersebut secara wajar. 3. Membuat laporan pengelolaan dan pertanggungjawaban keuangan negara. 4. Menindaklanjuti rekomendasi pemeriksa, serta menciptakan dan memelihara suatu proses untuk memantau 7.

status tindak lanjut atas rekomendasi pemeriksa dimaksud. 9. Dalam melaksanakan tanggung jawab profesionalnya, pemeriksa harus memahami prinsip-prinsip pelayanan kepentingan publik dan menjunjung tinggi integritas, obyektivitas, dan independensi. Pemeriksa harus memiliki sikap untuk melayani kepentingan publik, menghargai dan memelihara kepercayaan publik dan mempertahankan profesionalisme. Tanggung jawab ini sangat penting dalam pelaksanaan pemeriksaan di lingkungan pemerintahan. Tanggung jawab pemeriksa lainnya adalah mempertahankan dan memperluas kepercayaan publik. Pemeriksa harus profesional, obyektif, berdasarkan fakta, dan tidak berpihak. Pemeriksa harus bersikap jujur dan terbuka kepada entitas yang diperiksa dan para pengguna laporan hasil pemeriksaan dalam melaksanakan pekerjaannya dengan tetap memperhatikan batasan kerahasiaan yang dimuat dalam peraturan perundangundangan. Pemeriksa harus berhati-hati dalam menggunakan informasi yang diperoleh selama melaksanakan tugasnya. Pemeriksa tidak boleh menggunakan informasi tersebut untuk kepentingan pribadi atau hal-hal lainnya yang dapat mengganggu legitimasi dan nilai-nilai etika entitas yang diperiksa. Organisasi pemeriksa mempunyai tanggung jawab untuk meyakinkan bahwa : (1) independensi dan obyektivitas dipertahankan dalam seluruh tahap penugasan, (2) pertimbangan profesional (professional judgment) digunakan dalam perencanaan dan pelaksanaan pekerjaan dan pelaporan hasil pekerjaan, (3) pekerjaan dilakukan oleh personil yang mempunyai kompetensi profesional dan secara kolektif mempunyai keahlian dan pengetahuan yang memadai, dan (4) peer-review yang independen dilaksanakan secara periodik dan menghasilkan suatu pernyataan, apakah sistem pengendalian mutu organisasi pemeriksa tersebut dirancang dan memberikan keyakinan yang memadai sesuai dengan Standar ini. Tanggung jawab manajemen entitas yang diperiksa adalah untuk menindaklanjuti rekomendasi pemeriksa serta menciptakan dan memelihara suatu proses untuk memantau status tindak lanjut atas rekomendasi terhadap temuan, sementara organisasi pemeriksa bertanggung jawab untuk menetapkan kebijakan dan prosedur pemantauan apakah rekomendasi telah ditindaklanjuti guna dipertimbangkan dalam perencanaan penugasan pemeriksaan selanjutnya. 10. SPKN memberikan kualifikasi tambahan bagi auditor yang akan melaksanakan Pemeriksaan Keuangan serta Pemeriksaan dengan Tujuan Tertentu. Kualifikasi tambahan bagi pemeriksa yang akan melaksanakan Pemeriksaan Keuangan adalah pemeriksa harus memahami standar akuntansi keuangan yang berlaku di bidang yang diperiksa dan Standar Profesional Akuntan Publik (SPAP) dan mereka harus kompeten dalam menerapkan standar ini untuk tugas yang diberikan. Selain itu ditetapkan bahwa pemeriksa yang ditugaskan untuk melaksanakan Pemeriksaan Keuangan atau Pemeriksaan dengan Tujuan Tertentu harus memiliki keahlian dan sertifikasi yang sesuai. 11. Selain tiga standar pekerjaan lapangan berdasarkan SPAP, SPKN menetapkan standar tambahan berikut ini: 1) Standar pekerjaan lapangan tambahan pertama. Pemeriksa harus mengkomunikasikan informasi yang berkaitan dengan sifat, saat, lingkup pengujian dan pelaporan yang direncanakan, dan tingkat keyakinan yang diharapkan, kepada pejabat entitas yang diperiksa serta pejabat yang meminta pemeriksaan. 2) Standar pekerjaan lapangan tambahan kedua Pemeriksa harus mempertimbangkan hasil pemeriksaan sebelumnya dan tindak lanjut temuan dan rekomendasi yang signifikan yang berkaitan dengan tujuan pemeriksaan yang sedang dilaksanakan. 3) Standar pekerjaan lapangan tambahan ketiga a. Pemeriksa harus merancang pemeriksaan untuk memberikan keyakinan yang memadai guna mendeteksi salah saji material yang disebabkan oleh ketidakpatuhan terhadap ketentuan kontrak/perjanjian yang berpengaruh langsung dan material terhadap kewajaran penyajian laporan keuangan. Jika informasi tertentu menjadi perhatian pemeriksa, di antaranya jika adanya informasi tersebut memberikan bukti yang berkaitan dengan penyimpangan dari

ketentuan dan peraturan perundang-undangan serta ketidakpatuhan terhadap kontrak/perjanjian yang berpengaruh material tetapi tidak langsung terhadap kewajaran penyajian laporan keuangan, pemeriksa harus menerapkan prosedur audit khusus untuk memastikan bahwa penyimpangan dari ketentuan dan peraturan perundang-undangan serta ketidakpatuhan terhadap kontrak/perjanjian telah terjadi atau akan terjadi. b. Pemeriksa harus waspada pada situasi atau kondisi yang mungkin merupakan indikasi kecurangan dan/atau ketidakpatutan, dan jika timbul indikasi hal tersebut serta berpengaruh signifikan terhadap kewajaran penyajian laporan keuangan, pemeriksa harus menerapkan prosedur audit khusus untuk memastikan bahwa kecurangan dan/atau ketidakpatutan telah terjadi dan menentukan dampaknya terhadap kewajaran penyajian laporan keuangan. 4) Standar pekerjaan lapangan tambahan keempat Pemeriksa harus mempersiapkan dan memelihara dokumentasi pemeriksaan. Dokumentasi pemeriksaan yang terkait dengan perencanaan, pelaksanaan, dan pelaporan pemeriksaan harus berisi informasi yang cukup untuk memungkinkan pemeriksa yang berpengalaman, tetapi yang tidak mempunyai hubungan dengan pemeriksaan tersebut, dapat memastikan bahwa dokumentasi pemeriksaan tersebut dapat menjadi bukti yang mendukung pertimbangan dan simpulan pemeriksa. Dokumentasi pemeriksaan harus mendukung temuan, simpulan, dan rekomendasi pemeriksaan.

Modul 6 1. Teknik audit adalah cara-cara yang ditempuh auditor untuk memperoleh pembuktian dalam membandingkan keadaan yang sebenarnya (asersi Laporan Keuangan) dengan keadaan yang seharusnya (kriteria). Yang dimaksud dengan prosedur audit adalah langkah-langkah yang ditempuh untuk mencapai tujuan audit. Di dalam suatu prosedur audit dapat digunakan lebih dari satu teknik audit. 2. Auditor dapat mempergunakan teknik-teknik audit yang di antaranya terdiri dari: inspeksi, observasi, wawancara, konfirmasi, analisis, perbandingan, audit bukti-bukti tertulis (vouching dan verifikasi), rekonsiliasi, trasir, rekomputasi dan scanning. 3. Inspeksi atau pemeriksaan fisik merupakan cara memeriksa dengan mempergunakan panca indera terutama mata, untuk memperoleh pembuktian atas sesuatu keadaan atau sesuatu masalah pada suatu saat tertentu. auditor sendiri harus berada di tempat dimana keadaan atau masalah tersebut ingin dibuktikan. Auditor tidak boleh mendasarkan pendapat dan kesimpulan auditnya semata-mata atas dasar pengetahuannya mengenai bukti-bukti yang diperolehnya secara tidak langsung. Sesuai keperluannya, auditor dapat meminta wakil instansi atau pihak ketiga agar turut menandatangani berita acara mengenai inspeksi tersebut. Hal ini dimaksudkan untuk menghindarkan timbulnya bantahan mengenai kecermatan inspeksi yang dilakukan oleh auditor. Di bawah ini dikemukakan contoh mengenai inspeksi yang dilakukan oleh auditor. Observasi atau pengamatan adalah cara memeriksa dengan menggunakan panca indera terutama mata, yang dilakukan secara kontinyu selama kurun waktu tertentu untuk membuktikan sesuatu keadaan atau masalah. Observasi dalam arti luas bisa juga dikatakan sebagai peninjauan suatu obyek yang diperiksa secara hati-hati dan ilmiah. Kadangkadang observasi dikaitkan dengan melihat dari jarak jauh atau tanpa disadari oleh pihak yang diamati. Scanning berarti melakukan penelaahan secara umum dan cepat untuk menemukan hal-hal yang memerlukan audit lebih lanjut 4. Wawancara ialah teknik audit dengan cara melakukan tanya jawab secara lisan, untuk memperoleh pembuktian. 5. Konfirmasi merupakan upaya untuk memperoleh informasi/penegasan dari sumber lain yang independen, baik secara lisan maupun tertulis dalam rangka pembuktian audit. Analisis artinya memecah atau menguraikan suatu keadaan atau masalah ke dalam beberapa bagian atau

elemen dan memisahkan bagian tersebut untuk digabungkan dengan keseluruhan atau dibandingkan dengan yang lain. Perbandingan adalah usaha untuk mencari kesamaan dan perbedaan antara dua atau lebih gejala atau keadaan. 6. Vouching adalah memeriksa otentik tidaknya serta lengkap tidaknya bukti pendukung suatu transaksi. Sedangkan verifikasi adalah istilah yang digunakan dalam arti umum untuk memeriksa ketelitian perkalian, penjumlahan, pembukuan, pemilikan, dan eksistensinya. Rekonsiliasi adalah penyesuaian antara dua kelompok data yang berhubungan tetapi dibuat oleh pihak-pihak yang terpisah untuk mendapatkan data yang benar. Trasir adalah cara memeriksa dengan jalan menelusuri proses suatu keadaan, kegiatan ataupun masalah sampai pada sumber atau bahan pembuktiannya. Rekomputasi adalah menghitung kembali kalkulasi yang telah ada untuk menetapkan kecermatannya. 7. Bukti audit adalah setiap informasi yang dipakai auditor untuk menentukan apakah informasi dari suatu obyek yang diaudit telah sesuai dengan kriteria yang ditetapkan atau tidak. Bukti Bukti Ilmiah Bukti Audit Hukum Aspek Yang Membedakan Pengujian Pengadilan Audit Lap. Obat Pencuri Keuangan Tujuan Menentukan Memutuskan Menentukan Pengumpulan dampak bersalah atau apakah Bukti penggunaan tidak laporan obat keuangan di sajikan wajar atau tdk Sifat Bukti Hasil dari Kesaksian Berbagai pengujian saksi-saksi jenis bukti berulang atau pihak yg audit terlibat Pihak yang Ilmuwan Hakim Auditor mengevaluasi bukti Kepastian Bervariasi, Kebenaran Keyakinan Kesimpulan tidak sampai Vonis yg yang tinggi Bukti hampir pasti diputuskan melebihi keraguan yang layak Sifat Merekmendasi Bersalah atau Opini dalam kesimpulan atau tidak tidak Laporan merkomendasi bersalah Audit penggunaan obat Konsekuensi Masyarakat Yg bersalah Pengguna jika memakai obat tidak laporan kesimpulan yang tidak dihukum keuangan salah manjur atau atau salah dalam berbahaya sebaliknya mengambil keputusan. 8. Ukuran kekuatan bukti dalam hubungannya dengan audit merupakan kualitas dari bukti audit tersebut. Sebagai landasan yang layak untuk menyusun kesimpulan, pendapat, pertimbangan serta rekomendasi, auditor harus memperoleh bukti yang cukup, kompeten dan relevan. 9. Secara umum jenis-jenis bukti audit terdiri dari bukti fisik, bukti kesaksian, bukti dokumen, dan bukti analitis. Untuk memperoleh jenis-jenis bukti tersebut, bisa jadi diperlukan penerapan beberapa bentuk teknik audit. Kumpulan dari beberapa teknik audit yang disatukan dalam langkahlangkah audit yang berurutan dinamakan prosedur audit. 10. Beberapa petunjuk untuk mempertimbangkan kompetensi bukti. Bukti yang berasal dari sumber yang independen, lebih dapat dipercaya dari pada bukti yang dibuat oleh objek pemeriksaan atau bukti ekstem yang diperoleh melalui objek pemeriksaan. Bukti yang diperoleh dari objek pemeriksaan lebih dapat dipercaya apabila sistem pengendalian manajemennya baik. Bukti yang diperoleh secara langsung melalui inspeksi, observasi, tanya jawab dan konfirmasi, lebih dapat dipercaya dari pada bukti yang diperoleh secara tidak langsung.

Bukti asli lebih dapat dipercaya dari pada salinannya. Bukti yang dibuat dan diedarkan kepada pihak ketiga,
lebih kuat dari pada bukti intern yang dipakai sendiri.

Bukti yang memenuhi persyaratan sah menurut


peraturan perundang-undangan lebih kuat dari pada bukti yang tidak memenuhi syarat sah tersebut. Pernyataan lisan yang menguatkan lebih kuat dibanding pernyataan biasa. Bukti langsung lebih kuat daripada bukti kabar angin. 11. Bersama-sama dengan prosedur memperoleh pemahaman atas pengendalian intern, prosedur pengujian pengendalian dan prosedur analitis, maka terdapat lima jenis pengujian yang dikenal dalam proses audit. Hubungan jenis pengujian dengan jenis bahan bukti yang dibahas pada modul ini adalah bahwa hanya jenis bahan bukti tertentu yang dapat diperoleh melalui kelima jenis pengujian tersebut. Lebih banyak jenis bahan bukti yang diperoleh dengan menggunakan pengujian substantif terinci atas saldo daripada dengan menggunakan pengujian jenis yang lain. Hanya pengujian substantif terinci atas saldo yang dapat memberikan bukti berupa hasil konfirmasi dan berita acara pemeriksaan fisik. 12. Hubungan antara jenis pengujian dengan bahan bukti juga dapat dilihat dari sisi biaya relatif. Berdasarkan urutan tersebut terlihat bahwa prosedur analitis menjadi jenis pengujian yang paling murah untuk dilaksanakan. Alasan prosedur analitis merupakan prosedur paling murah adalah karena prosedur analitis relatif mudah dilakukan. 13. Hubungan berkarakter khusus antara pengujian atas pengendalian dengan kedua jenis pengujian substantif dapat dilihat dari sisi adanya trade off di antara keduanya. Trade off bermula dari keputusan yang dibuat auditor selama proses perencanaan, apakah akan menetapkan risiko pengendalian dibawah maksimum atau tidak. 14. Dari sisi bauran bahan bukti audit, terdapat berbagai variasi keluasan penggunaan kelima jenis pengujian dalam situasi audit yang berbeda pada berbagai tingkat efektifitas pengendalian intern. Terdapat juga variasi dari satu siklus ke siklus lain dalam suatu audit tertentu. Tabel berikut menunjukkan penekanan berbagai macam pengujian untuk empat jenis situasi audit. Dalam tiap kasus, diasumsikan bahan bukti kompeten yang cukup telah dikumpulkan. 15. Kertas kerja audit adalah dokumentasi dari hasil pekerjaan audit yang memuat segala aspek dalam pelaksanaan audit seperti dokumentasi hasil pengenalan obyek audit, perencanaan yang dibuat, pelaksanaan dari perencanaan tersebut (pekerjaan lapangan), serta bukti-bukti audit yang dikumpulkan. Menurut standar audit kertas kerja audit didefinisikan sebagai catatan-catatan yang dibuat atau dikumpulkan dan disimpan oleh auditor rnengenai prosedur audit yang ditempuh, pengujian yang dilakukan, keterangan yang diperoleh dan kesimpulan yang ditarik sehubungan dengan audit yang dilakukan. Kertas kerja seharusnya mencakup seluruh informasi yang dipandang perlu oleh auditor dalam melaksanakan pemeriksaan yang memadai dan mendukung laporan audit. 16. Fungsi dari suatu kertas kerja secara lebih spesifik adalah untuk menyediakan dasar untuk perencanaan audit, pencatatan bahan bukti yang dikumpulkan dan hasil pengujian, data pendukung untuk menentukan jenis laporan audit yang pantas, dan dasar untuk penelaahan oleh penyelia. Di samping tujuan yang langsung berkaitan dengan laporan audit, kertas kerja juga berfungsi sebagai (1) sumber informasi bagi komunikasi dengan legislatif dan eksekutif berkenaan dengan berbagai masalah, baik karena diminta oleh auditor untuk membantu klien memperbaiki operasinya, (2) kerangka acuan untuk pelatihan staf, dan (3) sebagai alat bantu dalam perencanaan dan koordinasi audit selanjutnya. 17. Isi kertas Kerja Pemeriksaan pada umumnya terdiri dari berkas permanen (permanent file) dan berkas tahun berjalan (current file). Berkas permanen (permanent file) dimaksudkan untuk berisi data historis atau yang bersifat berkelanjutan berkenaan dengan pemeriksaan tahun berjalan. Berkas tahun berjalan (current file) mencakup seluruh kertas kerja yang berkaitan untuk tahun yang diaudit. Jadi dalam suatu dokumen kertas kerja audit untuk suatu klien audit tertentu terdapat satu set berkas permanen dan satu set berkas tahun berjalan untuk setiap tahun yang diaudit. 18. Kertas kerja seharusnya mencakup karateristik tertentu berikut:

Setiap kertas kerja harus diidentifikasi secara pantas


dengan informasi seperti nama klien, periode yang dicakup, deskripsi isi, inisial pembuat, tanggal penyiapan, dan kode indeks. Kertas kerja seharusnya diindeks dan diacu silang untuk memudahkan dalam pengorganisasian dan pengarsipan. Kertas kerja yang sudah selesai harus dengan jelas menunjukkan pelaksanaan pekerjaan audit. Ini dicapai melalui tiga cara: dengan laporan tertulis dalam bentuk memorandum, dengan menandatangani prosedur audit dalam program audit, dan dengan notasi yang langsung dalam daftar kertas kerja. Notasi dalam kertas kerja dicapai dengan menggunakan tick mark, yang merupakan simbol tertulis yang diletakkan berdekatan dengan rincian dalam badan daftar tersebut. Notasi ini harus dengan jelas diterangkan dibagian bawah kertas kerja. Setiap kertas kerja harus berisi informasi yang cukup untuk memenuhi tujuan perancangan. Kalau ingin menyiapkan kertas kerja secara memadai, auditor harus menyadari tujuannya. Misalkan, kalau kertas kerja dirancang untuk menyebutkan rincian dan menunjukkan verifikasi yang mendukung saldo neraca, seperti asuransi dibayar dimuka, adalah penting bahwa rincian dalam kertas kerja direkonsiliasi dengan neraca saldo. Kesimpulan yang ditarik mengenai satu segmen audit yang dinyatakan dengan sederhana.

e). Bandingkan estimasi gabungan dengan pertimbangan awal mengenai materialitas,

5.

Sebutkan faktor-faktor apa saja yang dapat mengubah pertimbangan awal mengenai jumlah materialitas oleh auditor! Materialitas sebagai konsep yang relatif bukan absolut tentang salah saji dalam laporan keuangan. Dasar penetapan materialitas untuk berbagai bagian dalam laporan keuangan berbeda-beda. Faktor-faktor kualitatif yang mempengaruhi materialitas yang merupakan sumber penetapan materialitas berdasarkan sifat.

6.

Jelaskan apa yang Anda ketahui tentang model risiko audit! Model risiko audit adalah model yang digunakan auditor dalam menangani masalah risiko baik dalam tahap perencanaan maupun dalam tahap pengumpulan bahan bukti. 7. Jelaskan apa yang Anda ketahui tentang risiko penemuan yang direncanakan! Risiko penemuan yang direncanakan adalah risiko bahwa bahan bukti yang dikumpulkan dalam segmen gagal menemukan salah saji sampai batas yang tidak dapat ditoleransi, kalau salah saji semacam itu timbul. 8. Jelaskan apa yang Anda ketahui tentang risiko bawaan! Risiko bawaan adalah penetapan auditor akan kemungkinan adanya salah saji dalam segmen audit yang melewati batas toleransi, sebelum memprerhitungkan faktor efektifitas pengendalian intern. Risiko bawaan adalah faktor kerentanan laporan keuangan terhadap salah saji yang material, dengan asumsi tidak ada pengendalian intern. 9. Jelaskan apa yang Anda ketahui tentang risiko pengendalian! Risiko pengendalian adalah ukuran penetapan auditor akan kemungkinan adanya kekeliruan (salah saji) dalam segmen audit yang melewati batas toleransi, yang tak terdeteksi atau tercegah oleh struktur pengendalian intern klien. Risiko pengendalian mengandung unsur (1) penetapan apakah struktur pengendalian intern klien cukup efektif untuk mendeteksi atau mencegah kekeliruan dan (2) keinginan auditor untuk membuat penetapan tersebut dibawah nilai maksimum (100%) dalam rencana audit. 10. Jelaskan apa yang Anda ketahui tentang risiko audit yang dapat diterima! Risiko audit yang dapat diterima adalah ukuran ketersediaan auditor untuk menerima bahwa laporan keuangan salah saji secara material walaupun audit telah selesai dan pendapat wajar tanpa pengecualian telah dberikan.

MODUL 7 1. Kalimat apa dalam paragraf pendapat suatu laporan audit laporan keuangan yang menunjukkan pentingnya masalah materialitas dan risiko dalam audit? Jelaskan! Menurut pendapat kami laporan keuangan tersebut telah menyajikan secara wajar, dalam segala hal yang material, laporan keuangan Kabupaten X Tahun Anggaran 20x1, sesuai dengan prinsip postansi yang berlaku umum. 2. Jelaskan pengertian materialitas menurut FASB dan menurut PMP BPK! Definisi materialitas menurut FASB: Materialitas adalah jumlah atau besarnya kekeliruan atau salah saji dalam informasi postansi yang, dalam kaitannya dengan kondisi yang bersangkutan, mungkin membuat pertimbangan pengambilan keputusan pihak yang berkepentingan berubah atau terpengaruh oleh salah saji tersebut. Panduan Manajemen Pemeriksaan (PMP) BPK yang berbunyi sebagai berikut:Kekeliruan (error) dan ketidakberesan (irregularities) pada laporan keuangan dapat dianggap material atau signifikan, ketika pemakai laporan keuangan akan terpengaruh oleh kesalahan tersebut. auditor harus memutuskan jumlah maksimum salah saji yang dapat ditoleransi. Jumlah ini disebut batas materialitas (materiality threshold). Dalam hal kondisi lain tidak berubah, makin tinggi batas kekeliruan, makin rendah jumlah pengujian pemeriksaan (bukti yang dikumpulkan, pen.) 3. Konsep materialitas dapat didasarkan pada tiga sumber. Sebutkan dan jelaskan! Sumber = Faktor Kualitatif dari sisi sifat 1. Jumlah yang diakibatkan ketidakberesan biasanya dipandang lebih penting dari kekeliruan yang tidak disengaja. 2. Kekeliruan yang kecil sekalipun, dapat dipandang material kalau berkaitan dengan kewajiban kontrak. 3. Kekeliruan yang tidak material dapat menjadi material kalau mempengaruhi kecenderungan (trend) nilai surplus/defisit. 4. Sebutkan lima langkah penetapan dan penggunaan pertimbangan tentang materialitas dalam proses audit! Kelima langkah penetapan materialitas ini adalah sebagai berikut: a). Tentukan pertimbangan awal mengenai materialitas b). Alokasikan pertimbangan awal mengenai materialitas ke dalam segmen c). Estimasikan total salah saji dalam segmen d). Estimasikan salah saji gabungan

MODUL 8 1. Seorang auditor atau tim auditor berkewajiban menunjukkan surat tugas yang resmi dan sah kepada klien audit mereka, sebaliknya klien audit berhak untuk meminta auditor menunjukkan surat tugas mereka. Mekanisme ini diperlukan untuk menghindari pemalsuan tugas audit oleh auditor yang tidak ditugaskan. Suatu penugasan audit pada umumnya merupakan pelaksanaan dari perencanaan audit dari instansi audit selama periode waktu tertentu. 2. Penentuan staf auditor untuk penugasan suatu audit akan dipengaruhi oleh berbagai faktor, di antaranya sebagai berikut: Besar obyek yang akan diaudit Kerumitan obyek yang akan diaudit Jenis obyek yang akan diaudit Rangking risiko Batas waktu penyelesaian Tenaga yang tersedia.

a). b). c). d). e). f).

3.

Memungkinkan. Misal KAP yang ditunjuk atas nama BPK bisa melakukan audit. informasi awal, seperti: informasi umum, struktur organisasi, visi/misi entitas, jumlah anggaran yang diaudit, dan lain-lain.

4.

Tujuan utama dari suatu program audit adalah: untuk menetapkan hubungan yang jelas antara tujuan audit, metodologi audit, dan kemungkinan-kemungkinan pengujian yang harus dilakukan, b) untuk mengidentifikasikan dan mendokumentasikan prosedur-prosedur audit yang harus dilaksanakan, dan c) untuk memudahkan supervisi dan revisi. a) Informasi apa saja yang harus masuk dalam program audit? Sebutka! informasi-informasi sebagai berikut: a) Dasar pelaksanaan audit b) Standar audit yang menjadi pedoman c) Nama dan tempat entitas audit yang diaudit d) Tahun anggaran / tahun buku entitas yang diaudit e) Identitas dan data umum entitas yang diaudit hasil pencarian informasi awal, seperti: informasi umum, struktur organisasi, visi/misi entitas, jumlah anggaran yang diaudit, dan lain-lain. f) Tujuan umum audit, yaitu untuk memberi keyakinan apakah laporan keuangan klien audit telah menyajikan secara wajar posisi keuangan, realisasi anggaran serta arus kas sesuai prinsip akuntansi yang berlaku umum. g) Metodologi audit yang mencakup metode sampling yang digunakan, ukuran sampel, penetapan materialitas dan lainlain. h) Sasaran yang diaudit, yaitu laporan keuangan, lapoan realisasi anggaran serta laporan arus kas. i) Pengarahan pelaksanaan audit j) Jadwal audit k) Susunan tim audit l) Instansi penerima laporan hasil audit m) Kerangka isi laporan hasil audit. 8. 9. Jelaskan manfaat penyusunan program kerja perorangan dalam proses pekerjaan lapangan audit!

5.

Sumber2 untuk memperoleh informasi awal ttg klien audit. 1). Pernyataan visi, misi, tujuan dan dan kegiatan klien yang akan diaudit. 2). Informasi organisasi seperti: a). Struktur organisasi, b). Uraian tugas c). Jumlah pegawai, d). Pegawai kunci, e). Kebijaksanaan dan prosedur, f). Hal hal yang baru mengenai perubahan organisasi dan sistem. 3). Informasi anggaran, hasil hasil kegiatan dan data-data keuangan lainnya. 4). Kertas kerja audit sebelumnya. 5). Laporan hasil audit dari auditor lain khususnya auditor internal. 6). Data pembanding untuk memperkaya pengetahuan dan potensi lain yang belur tercakup. 7). Literatur-literatur teknis dari berbagai sumber. Beberapa informasi tersebut dapat diperoleh dari situs web pemerintah daerah yang bersangkutan. Beberapa informasi yang lain harus didapatkan dari sumber-sumber lain.

Sebutkan informasi apa saja yang dapat diperoleh sebagai hasil dari survey pendahuluan serta prosedurprosedur yang dapat dilaksanakan! Informasi yang perlu dikumpulkan adalah sebagai berikut: 8). Pernyataan visi, misi, tujuan dan dan kegiatan klien yang akan diaudit. 9). Informasi organisasi seperti: a). Struktur organisasi, b). Uraian tugas c). Jumlah pegawai, d). Pegawai kunci, e). Kebijaksanaan dan prosedur, f). Hal hal yang baru mengenai perubahan organisasi dan sistem. 10). Informasi anggaran, hasil hasil kegiatan dan data-data keuangan lainnya. 11). Kertas kerja audit sebelumnya. 12). Laporan hasil audit dari auditor lain khususnya auditor internal. 13). Data pembanding untuk memperkaya pengetahuan dan potensi lain yang belur tercakup. 14). Literatur-literatur teknis dari berbagai sumber. 6. Survey pendahuluan dapat dilaksanakan dengan mempergunakan prosedur-prosedur sebagai berikut: a). Tanya jawab dengan pihak yang akan diaudit. b). Melakukan pengamatan dilapangan. c). Melakukan review atas laporan dan penelitian manajemen. d). Prosedur analitis. e). Membuat bagan arus kegiatan dan prosedur pengendalian atau melakukan pengamatan atas kegiatan dari permulaan sampai selesai 1. Sebutkan prosedur-prosedur apa saja yang dapat dilakukan untuk memperoleh pemahaman atas pengendalian intern! Lima jenis prosedur audit yang berhubungan dengan pemahaman auditor atas struktur pengendalian intern adalah: a) Pengalaman auditor pada periode sebelumnya b) Tanya jawab dengan pegawai c) Pemeriksaan pedoman kebijakan dan sistem d) Pemeriksaan atas dokumen dan catatan e) Pengamatan aktivitas dan operasi pada entitas

10. Jelaskan manfaat penyusunan jadwal dan kalender audit dalam proses pekerjaan lapangan audit! alat pengendalian pelaksanaan audit

7.

Sebutkan tujuan dari disusunnya suatu program audit!

Anda mungkin juga menyukai