Anda di halaman 1dari 3

POPULER CULTURE Andaru Ratnasari (pemerhati sastra dan budaya, menetap di Surabaya) Disampaikan acara bedah buku UKIM

STKIP PGRI Bangkalan, 30 Mei 2010- bumi Soekarno-Hatta Bangkalan Mengapa budaya pop? Dominic menunjukkan asal-usul budaya pop atau budaya massa dan satu persatu. Dominic mengenalkan teori dan gagasan budaya massa, mazhab Frankfurt dan indurstri budaya, semiologi dan strukturalisme(filsafat analitik), marxisme (ekonomi politik), feminism, postmoderni. Dominic menjelaskan bagaimana para teoritikus seperti Adorno, Barthes, Althusser dan Hebdige bergulat dengan berbagai bentuk budaya popular, dari jazz hingga Amerikanisasi budaya popular Inggris, dari film Hollywood sampai serial televise popular, dari majalah remaja sampai novel detektif. Dalam filsafat analitik, budaya pop menjadi persoalan karena menjadi penyeragaman langue. Feminisme mempersoalkan budaya pop karena dalam budaya pop terjadi pengekalan stereotype yang kurang menguntungkan perempuan. Persoalan umum yang akan dibahas, apakah masyarakat masih ada dan masih berkuasa dalam budaya pop? Jawabanya, bisa dan harus bisa. Dikatakan harus bisa karena apa yang disebut budaya pop sudah menjadi kenyataan dan harus mencari strategi untuk berpartisipasi dalam realitas popular tersebut. *** Dasawarsa 1920-an dan 1930-an merupakn titik balik penting dalam kajian dan evaluasi budaya popular. Munculnya sinema dan radio, produksi massal dan konsumsi kebudayaan, bangkitnya fasisme dan kematangan demokrasi liberal di sejumlah Negara Barat, semuanya memainkan peranan dalam memunculkan perdebatan atas budaya massa. Kenyataan bahwa kebudayaan nyaris dapat direproduksi secara tak terbatas disebabkan perkembangan teknik-teknik produksi industri yang menimbulkan banyak persoalan dalam hal gagasan-gagasan tradisional mengenai peranan budaya dan seni dalam masyarakat. Signifikansi sosial budaya popular di zaman modern dapat dipetakan berdasarkan bagaimana popular itu diidentifikasikan melalui gagasan budaya massa. Lahirnya media massa maupun semakin meningkatnya komersialisasi budaya dan hiburan telah menimbulkan berbagai permasalahan, kepentingan, sekaligus perdebatan yang masih ada sampai sekarang. Perkembangan gagasan budaya massa terutama sejak dasawarsa 1920-an dan 1930-an, bisa dipandang sebagai salah satu sumber historis dari tema-tema maupun perspektif-perspektif yang berkenaan dengan budaya popular. Secara lebih meyakinkan, budaya popular zaman modern ada kaitannya dengan bentukbentuk perkembangan kesadaran nasional pada akhir abad ke-18 dan terletak pada usaha-usaha kaum intelektual. Misalnya para penyair, untuk mengonstruksi budaya popular sebagai budaya nasional. Perlu diingat juga akan Kesadaran folk rakyat, secara harfiah istilah berarti semangat rakyat, dalam konteks waktu itu bisa berarti semangat nasional. Waktu itu Herder membayangkan adanya kesatuan nasional pada ikatan rakyat. Jelaslah folkgeist sebagai kesadaran kolektif sudah kental dengan kesadaran politik. folkgeist ini bisa ditemukan di daerah jajahan seperti

Indonesia salah satunya, gerakan kesadaran politik kebudayaan yang dirintis Ki Hadjar Dewantara lewat Taman Siswa *** Akhirnya popular yang akan menjadi perhatian dalam buku ini adalah popular yang dialami sekarang, yaitu pengalaman lahir karena budaya konsumsi dan didukung oleh teknologi informasi baru. Kalau seni rakyat muncul dan bertahan karena kehendak bangsa rakyat, seni kerakyatan karena kehendak bangsa, seni popular lahir dan bertahan karena kehendak media (dengan ideologi kapitalisme) dan konsumsi. Menurut Mazhab Frankfurt, industri budaya mencerminkan konsolidasi fetisisme komoditas, dominasi atas pertukaran dan meningkatnya kapitalisme monopoli Negara. Industri budaya membentuk selera dan kecenderungan massa sehingga mencetak kesadaran mereka dengan cara menanamkan keinginan mereka atas kebutuhan-kebutuhan palsu. Oleh karena itu, industri budaya berusaha mengesampingkan kebutuhan-kebutuhan riil atau sejati, konsep-konsep atau teori-teori alternatif dan radikal serta cara berpikir dan bertindak oposisional politis. Industri budaya sangat efektif dalam menjalankan hal ini hingga orang sampai tak menyadari apa yang tengah terjadi. Komoditi-komoditi yang dihasilkan industri budaya diarahkan untuk menyadari nilai di pasaran. Secara industrial, produksi budaya merupakan sebuah proses standardisasi tempat produk-produk tersebut mendapatkan bentuk yang sama seperti western (film koboi). Industri budaya hanya menyelesaikan pada permukaan bukan dipecahkan sebagaimana seharusnya dalam dunia nyata. Industri budaya menawarkan bentuk bukannya substansi penyelesaian masalah, pemuasan semu atas kebutuhan palsu sebagai pengganti solusi riil berbagai persoalan nyata. Dalam melakukan hal ini, industri budaya mengambil alih kesadaran massa. Kekuatan budaya industri untuk mengamankan dominasi dan kesinambungan kapitalisme menurut Adorno terletak pada kemampuannya untuk membentuk dan mengekalkan sebuah khalayak regresi public yang bergantung, pasif, dan rendah diri. Coba kita tengok pada music pop, music pop yang dihasilkan oleh industri budaya didominasi oleh dua proses: standardisasi dan individualism semu. Di sini gagasannya adalah bahwa lagu-lagu pop makin lama makin kedengaran mirip satu sama lain -- lagu-lagu pop makin mirip satu sama lain dan bagian-bagian, bait-bait maupun kornya semakin dapat saling dipertukarkan -- sementara individualisasi semu menyamarkan proses ini dengan menjadi lagu-lagu itu semakin bervariasi dan berlainan satu sama lain. Lagu itu semakin banyak dicirikan oleh suatu struktur inti, yang bagianbagianya dapat dipertukarkan satu sama lain. Namun demikian, inti ni desembuyikan toleh tambahan-tambahan sampingan, kebaruan atau variasi gaya yang direkatkan pada lagu-lagu tersebut sebagai tanda kekhasan yang sudah diduga. Kontras yang ditarik oleh Adorno antara music klasik, karya Beethoven, dan music pop. Menurutnya music klasik setiap detail mendapatkan rasa musikalnya dari total karya secara keseluruhan. Music klasik barat menitikberatkan pada melodi, harmoni Lain dengan Music pop yang hanya sebagai tenaga penggerak dalam sebuah mesin., menekankan pada timbre dan konotasi. Contoh lain dapat diamati pada musik Doo Wop dan the Cadillacs. Dengan suatu cara tertentu, mari kita tengok budaya massa (popular) dengan feminism, sebuah perspektif kritis yang dipakai oleh Modleski dijalankan bersama sekumpulan oposisi yang memberikan hak istimewa pada laki-laki dan kesenian dengan mengorbankan perempuan dan budaya massa

Budaya (seni) tinggi Maskulinitas Produksi Kerja

Budaya massa(popular) Feminitas Konsumsi Santai

Budaya (seni) tinggi Kecerdasan Sifat aktif Menulis

Budaya massa(popular) Emosi Sifat pasif Membaca

Ditegaskan pula Kritik populisme didasarkan pada argumen orang hanya memiliki suatu pemahaman terbatas terhadap kekuatan-kekuatan sosial yang lebih luas maupun berbagai relasi kekuasaan yang membentuk pikiran maupun tindakan mereka. Selera popular mungkin tidak dapat melakukan apa pun atas bumi yang bergerak mengelilingi matahari, tapi ia tdiak dapat dipisahkan dari determinasi popularitas bentuk-bentuk budaya. Yang menjadi sublimasin kita: sudah sampai batas manakah diri kita masuk popular culture?