Anda di halaman 1dari 33

MAKALAH INSTRUMETASI SANITASI TEMPAT-TEMPAT UMUM DAN PARIWISATA Disusun Untuk Memenuhi Tugas Mata Kuliah Instrumentasi

Disusun oleh: Kelompok 6 1. 2. 3. 4. Inten Retno Asmeisti Laila Khusnul Khotimah Nur Hidayati Yurasa Satnawatri NIM: P07133111019 NIM: P07133111020 NIM: P07133111028 NIM: P07133111040

KEMENTERIAN KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA POLITEKNIK KESEHATAN YOGYAKARTA JURUSAN KESEHATAN LINGKUNGAN 2012

KATA PENGANTAR

Puji syukur kehadirat Allah SWT yang tak pernah berhenti memberikan rahmat dan hidayah-Nya sehingga kami dapat menyelesaikan penyusunan makalah Instrumentasi Sanitasi Tempat-tempat Umum dan Pariwisata ini. Shalawat dan salam semoga senantiasa tercurah kepada Baginda Rasulullah SAW, keluarga, sahabat dan umatnya yang masih istiqomah di jalan beliau. Dalam penyusunan makalah ini, tidak lepas bantuan dan bimbingan dari berbagai pihak, maka pada kesempatan ini penyusun menyampaikan rasa terima kasih kepada: 1. Tuntas Bagyono, SKM, M.Kes, selaku Ketua Jurusan Kesehatan Lingkungan Politeknik Kesehatan Yogyakarta. 2. M. Mirza Fauzie, S,ST, M.Kes, selaku pengampu mata kuliah Instrumentasi Jurusan Kesehatan Lingkungan Politeknik Kesehatan Yogyakarta. 3. Bapak dan Ibu tercinta yang telah memberikan motivasi serta bantuan baik secara moral maupun spiritual. 4. Semua pihak yang telah membantu dalam menyelesaikan makalah hini. Penyusun menyadari bahwa makalah ini yang masih jauh dari kesempurnaan. Kritik dan saran yang bersifat membangun sangat kami harapkan dari semua pihak demi karya yang lebih baik. Akhir kata dengan segala kerendahan hati semoga makalah ini bermanfaat untuk semua pihak yang membutuhkan.

Yogyakarta, Mei 2012

Penyusun

DAFTAR ISI

Halaman HALAMAN JUDUL ....................................................................................... i KATA PENGANTAR .................................................................................... ii DAFTAR ISI ................................................................................................... iii BAB I PENDAHULUAN A. B. C. D. Latar Belakang .................................................................................... Tujuan ................................................................................................. Ruang Lingkup .................................................................................... Manfaat ............................................................................................... 1 11 11 11

BAB II TINJAUAN PUSTAKA Instrumentasi sanitasi tempat-tempat umum dan pariwisata .......................... 12 BAB III PENUTUP A. Kesimpulan ......................................................................................... 32 B. Saran .................................................................................................... 32 DAFTAR PUSTAKA LAMPIRAN

BAB I PENDAHULUAN
A. Latar Belakang Pengertian sanitasi menurut WHO adalah bahwa yang dimaksud Sanitasi merupakan suatu usaha untuk mengawasi beberapa faktor lingkungan fisik yang berpengaruh kepada manusia terutama terhadap hal-hal yang mempunyai efek merusak perkembangan fisik, kesehatan, dan kelangsungan hidup. Sementara pengertian tempat-tempat umum ialah suatu tempat dimana banyak orang berkumpul untuk melakuikan kegiatan baik secara insidentil maupun terus-menerus, baik secara membayar, maupun tidak membayar, atau tempattempat umum adalah suatu tempat dimana banyak orang berkumpul dan melakukan aktivitas sehari-hari. Jadi Pengertian sanitasi tempat-tempat umum adalah suatu usaha untuk mengawasi dan mencegah kerugian akibat dari tidak terawatnya tempat-tempat umum tersebut yang mengakibatkan timbul menularnya berbagai jenis penyakit, atau pengertian lain bahwa yang dimaksud sanitasi tempat-tempat umum merupakan suatu usaha atau upaya yang dilakukan untuk menjaga kebersihan tempat-tempat yang sering digunakan untuk menjalankan aktivitas hidup sehari-hari agar terhindar dari ancaman penyakit yang merugikan kesehatan. Tujuan dari pengawasan sanitasi tempat-tempat umum, antara lain:
1. 2.

Untuk memantau sanitasi tempat-tempat umum secara berkala. Untuk membina dan meningkatkan peran aktif masyarakat dalam menciptakan lingkungan yang bersih dan sehat di tempat-tempat umum.

Kriteria suatu tempat umum adalah terpenuhinya beberapa syarat : 1. 2. Diperuntukkan bagi masyarakat umm Harus ada gedung/tempat yang permanen

3. 4.

Harus ada aktivitas (pengusaha, pegawai, pengunjung) Harus ada fasilitas (SAB, WC, Urinoir, tempat sampah, dll)

Sasaran khusus yang harus diberikan dalam pengawasan tempat-tempat umum meliputi : 1. Manusia sebagai pelaksana kegiatan (kebersihan secara umum maupun personal hygiene). 2. 3. Alat-alat kebersihan. Tempat kegiatan.

Adapun alasan mengapa sanitasi di tempat-tempat umum sangat diperlukan yaitu karena : 1. Adanya kumpulan manusia yang berhubungan langsung dengan lingkungan. 2. 3. 4. 5. 6. Kurangnya pengertian dari masyarakat mengenai masalah kesehatan. Kurangnya fasilitas sanitasi yang baik. Adanya kemungkinan besar terjadinya penularan penyakit. Adanya kemungkinan terjadinya kecelakaan. Adanya tuntutan physical dan mental confort.

Syarat-syarat dari sanitasi tempat-tempat umum, yaitu: 1. 2. 3. 4. Diperuntukkan bagi masyarakat umum. Harus ada gedung dan tempat yang permanent. Harus ada aktivitas (pengusaha, pegawai, pengunjung. Harus ada fasilitas (SAB, WC, Urinoir, tempat sampah, dll).

Aspek penting dalam penyelenggaraan sanitasi tempat-tempat umum ialah diantaranya : 1. Aspek teknis atau hukum (persyaratan H dan S, Peraturan dan perundang-undangan sanitasi). 2. Aspek sosial, yang meliputi pengetahuan tentang : kebiasaan hidup, adat istiadat, kebudayaan, keadaan ekonomi, kepercayaan,

komunikasi, dll.

3.

Aspek administrasi dan management, yang meliputi penguasaan pengetahuan tentang cara pengelolaan STTU yang meliputi : Man, Money, Method, Material dan Machine.

Ruang

lingkup

sanitasi

tempat-tempat

umum,

yaitu:

Secara spesifik ada beberapa ruang lingkup sanitasi tempat-tempat umum, yaitu: 1. 2. Penyediaan air minum (Water Supply). Pengelolaan sampah padat, air kotor, dan kotoran manusia (wastes disposal meliputi sawage, refuse, dan excreta). 3. 4. 5. 6. 7. Hygiene dan sanitasi makanan (Food Hygiene and Sanitation). Perumahan dan kontruksi bangunan (Housing and Contruction). Pengawasan vektor (Vektor Control). Pengawasan pencemaran fisik (Physical Pollution). Hygiene dan sanitasi industri (Industrial Hygiene and Sanitation).

Kegiatan yang mendasari sanitasi tempat-tempat umum (STTU), yaitu: 1. Pemetaan (monitoring) Pemetaan (monitoring) adalah meninjau atau memantau letak, jenis dan jumlah tempat-tempat umum yang ada kemudian disalin kembali atau digambarkan dalam bentuk peta sehingga mempermudah dalam menginspeksi tempat-tempat umum tersebut. 2. Inspeksi sanitasi Inspeksi sanitasi adalah penilaian serta pengawasan terhadap tempat-tempat umum dengan mencari informasi kepada pemilik, penanggung jawab dengan mewawancarai dan melihat langsung kondisi tempat umum untuk kemudian diberikan masukan jika perlu apabila dalam pemantauan masih terdapat hal-hal yang perlu mendapatkan pembenahan. 3. Penyuluhan Penyuluhan terhadap masyarakat (edukasi) terutama untuk menyangkut pengertian dan kesadaran masyarakat terhadap bahaya-

bahaya yang timbul dari TTU. Teknik pembuangan kotoran sebagai pelaksanaan usaha kebersihan Teknik pembuangan kotoran yang dimaksud dalam STTU berupa hasil dari kegiatan manusia dalam hal ini berupa sampah. Dalam teknik penanganan sampah, tidak semua macam-macam tempat-tempat umum melakukan teknik yang sama. Ada yang melakukannya dengan mengumpulkan sampah pada TPS (tempat pembuangan sementara) sebelum dibuang ke TPA (tempat pembuangan akhir), dan ada juga sampah yang dihasilkan langsung dibakar pada tempat yang telah disediakan. Selain itu volume pengangkutan sampah yang dihasilkannyapun berbeda-beda, ada yang pengangkutan dari TPS ke TPA dilakukan setiap hari, tetapi ada juga yang pengangkutannya sekitar dua sampai tiga kali dalam seminggu. Berikut adalah hukum yang mendasari nilai ambang batas (NAB) yaitu; 1. UU No.23 thn 1992 tentang Kesehatan. 2. UU No.11 thn 1962 tentang Hygiene untuk usaha bagi umum. 3. UU No. 2 thn 1966 tentang Hygiene. 4. Permenkes No. 06/menkes/per/I/1990 tentang pesyaratan kesehatan kolam renang dan pemandian umum. 5. Pemerkes No.80/menkes/II/1990 tentang persyaratan kesehatan hotel. 6. Peraturan daerah yang mengatur kegiatan-kegiatan usaha bagi umum. Nilai ambang batasnya dalam penilaian STTU yang distandarkan yaitu: A.Gedungsecaraumum 1)Bangunan gedung kuat. 2)Bangunan gedung utuh. 3)Bangunan gedung bersih. 4)Bangunan tidak rentan menimbulkan kecelakaan. 5)Bangunan tidak rentan menimbulkan penyakit. 6)Bangunan gedung tidak mengganggu lingkungan sekitar.

7)Bangunan B.Lantai 1)Lantai kedap air. 2)Lantai rata.

gedung

tidak

terganggu

lingkungan

sekitar.

3)Lantai tidak licin. 4)Lantai mudah dibersihkan. 5)Lantai dalam keadaan bersih.

C.Dinding 1) Dinding sebelah dalam berwarna terang. 2) Dinding sebelah dalam rata. 3) Dinding mudah dibersihkan. 4) Dinding dalam keadaan bersih. D.Langit-langit 1) Langit-langit berwarna terang. 2) Langit-langit mudah dibersihkan. 3) Jarak langit-langit dari lantai minimal 2,5 meter.

E.Atap 1) Atap kuat. 2) Atap tidak bocor. 3) Atap tidak memungkinkan dijadikan sarang serangga dan tikus.

F.Ventilasi 1) Terdapat ventilasi alami atau mekanis. 2) Udara dalam ruangan tidak pengap.

G.Pencahayaan 1) Pencahayaan dalam ruangan cukup terang. 2) Pencahayaan tidak menimbulkan silau.

H.Perlindungan terhadap serangga dan tikus 1) Lubang penghawaan terlindung rapat. 2) Lubang pembuangan air limbah tertutup dan dilengkapi jeruji atau saringan. 3) Tempat penampungan air diberi tutup. 4) Tempat penampungan air dibersihkan secara berkala. 5) Saluran pembuangan air limbah mengalir dengan lancar.

I. Penyediaan air bersih 1) Air bersih memenuhi syarat fisik ( tidak berasa, berbau dan berwarna). 2) Jumlah kuantitas air cukup. J. Kamar mandi dan jamban 1) Tersedia kamar mandi dan jamban 2) Kamar mandi bersih. 3) Tersedia air dalam jumlah cukup. 4) Dilengkapi dengan bahan pembersih (sabun, sikat, dll). 5) Lantai tidak licin. 6) Lantai tidak tergenang air atau miring ke arah saluran pembuangan. 7) Jamban menggunakan tipe minimal leher angsa. 8) Jarak jamban dapat dijangkau atau berdekatan dengan bak penampungan air. K. Tempat sampah 1) Tempat sampah terbuat dari bahan yang kuat. 2) Tempat sampah kedap air. 3) Tempat sampah mudah dibersihkan. 4) Permukaan bagian dalam rata. 5) Dilengkapi dengan tutup.

L. Karyawan 1) Bertempramen baik.

2) Tidak berpenyakit. 3) Menggunakan pakaian kerja atau seragam. 4) Pakaian dalam kondisi baik dan bersih. Sementara hambatan-hambatan yang sangat sering dijjumpai dalam pelaksaan sanitasi di tempat-tempat umum ialah diantaranya : PENGUSAHA 1. Belum adanya pengertian dari para pengusaha mengenai peraturab per undang-undangn yang menyangkut usha STTU dan kaitannya dengan usaha kesehtan masyarakat 2. Belum mengetahui / kesadaran mengenai pentingnya usaha STTU untuk menghindari terjadinya kecelakaan atau penularan penyakit 3. Adanya sikap keberata dari pengusaha untuk memenuhi persyaratanpersyaratan karena memerlukan biaya ekstra 4. Adanya sikap apatis dari masyarakat tenang adanya

peraturan/persyaratan dari STTU PEMERINTAH 1. Belum semua peralatan dimiliki oelh tenaga pengawas pada tingkat II dan kecamatan 2. Masih terbatasnya pengetahan petugas pengawasan 3. 4. Masih minimnya dana yang dialokasikan untuk pengawasan STTU Belum semua kecamatan /tingkat II memiliki saran transportasi untuk melakukan kegiatan pengawasan Dan langkah-langkah dalam implementasi usaha STTU meliputi : 1. 2. 3. 4. 5. Identifikasi masalah (problem identification) Pemeriksaan H&S TTU (sanitary inspection) Follow Up Evaluasi Pencatatan dan pelaporan dalam melaksanakan

Dan berikut adalah jenis-jenis tempat umum yang sangat memerlukan pengawasan saat ini :

1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. 8. 9. 10. 11. 12.

Hotel Restourant Kolam renang Pasar Bioskop tempat-tempat rekreasi tempat-tempat ibadah pertokoan Pemangkas rambut salon Stasiun kereta api atau bus rumah sakit

B. Tujuan Untuk mengetahui dan memahami alat ukur yang digunakan dalam sanitasi tempat-tempat umum dan pariwisata, cara menggunakannya, cara perawatan, serta cara kalibrasi alat / instrumen tersebut.

C. Ruang Lingkup Ruang lingkup pembahasan dalam makalah ini adalah bidang sanitasi tempat-tempat umum dan pariwisata.

D. Manfaat Dengan membaca makalah ini diharapkan pembaca dapat lebih mudah untuk memahami alat ukur yang digunakan dalam sanitasi tempat-tempat umum dan pariwisata, cara menggunakannya, cara perawatan, serta cara kalibrasi alat atau instrumen tersebut.

BAB II TINJAUAN PUSTAKA


1. Light Trap a. Fungsi : untuk menangkap serangga.

b. Alat dan bahan untuk pembuatan Light trap : Alat Bahan Black cat semprot 2 - Satu botol galon (teko Susu) Selotip 8 - hubungan twist Bubuk talc 1 - cahaya Clamp Lubang pukulan 1 - 60 watt bola lampu Gunting 2 - Transparences (dari toko peralatan kantor, biasanya digunakan untuk proyektor overhead) Pisau Nail Palu Cara Pembuatan :

Langkah # 1 - Cahaya Clamp

Ambil cahaya klem dan tempat tepi bawah naungan cahaya datar pada balok kayu, gunakan palu dan paku untuk menusuk 4 lubang merata spasi di sekeliling naungan cahaya. (Lubang ini akan digunakan untuk menghubungkan cahaya klem ke transparences kemudian)

Langkah # 2 (Transparences)

Membuat

baling-baling Potong 2 transparences mulai di tengah bagian atas atau bawah dan memotong garis lurus ke tengah lembaran. * Putar salah satu dari 360 lembar sehingga potong (slice) berada di ujung berlawanan dari transparansi lainnya. Geser dua lembar bersama-sama membuat sebuah "X" * Ambil scotch tape dan tape-keping pusat sama untuk mencegah lembar geser dari terpisah, dan untuk membantu menjaga baling-baling dipisahkan dan kokoh. * Ambil selembar kecil pita dan memakai setiap sudut pada kedua sisi transparences. (Ini mencegah lubang dari merobek keluar.) * Ambil pukulan hole dan meninju lubang di setiap sudut transparences dan tape. (Lubang akan

digunakan untuk menghubungkan penjepit cahaya ke atas dan saluran ke bawah transparences.) Langkah # 3 - Membuat saluran dan wadah koleksi * Ambil salah satu botol (kendi galon) galon dan memotong off ketiga bawah, kemudian menggunakan lubang punch, pukulan 4 lubang di sekitar tepi pemotongan merata jarak terpisah. * Ambil pisau dan memotong pusat dari masing-masing tutup dan tape mereka bersamasama kembali ke belakang sehingga Anda masih dapat sekrup tutup ke botol galon. (Petunjuk; lebih mudah untuk memotong tutup sebelum Anda menempelkan mereka bersama-sama, kami juga menempatkan lem panas antara tutup untuk menambah kekuatan.) * Selanjutnya akan perlu mengecat semua pada saluran dan koleksi dengan semprot hitam. botol galon dan Anda untuk bagian wadah cat (Baik tutup)

Langkah # 4 - Perakitan Perangkap Cahaya * Hubungkan klem cahaya ke transparences dengan menempatkan twist dasi melalui lubang di bawah naungan cahaya penjepit dan kemudian InflowNet lubang di transparansi itu. Ulangi langkah ini untuk semua empat lubang.

* Menggunakan empat ikatan lain twist, menghubungkan tabung galon yang kini saluran Anda ke bagian bawah tranparence tersebut. * Ambil penutup yang direkam bersama-sama dan dicat dan sekrup ke corong yang sekarang terhubung ke transparences. * Menggunakan tabung kedua sebagai wadah koleksi Anda pasang pada ujung corong sehingga menggantung. Menggunakan Perangkap Cahaya Agar perangkap yang akan efektif perangkap harus ditempatkan di ruangan di mana Anda ingin mengumpulkan kumbang. (Perangkap ini tidak akan efektif menarik kumbang dari kamar lain.)

PENTING - Pastikan bahwa anda mematikan semua lampu lain di ruangan itu dan (jika mungkin) pintu dekat dan penutup jendela sehingga tidak ada cahaya lain dalam ruangan. Gunakan bola lampu 60 watt dalam perangkap cahaya. PENTING-taburkan bedak bubuk pada baling-baling dari perangkap cahaya dan di dalam saluran. Hal ini untuk mencegah kumbang dari mampu untuk "ambil" ke baling-baling dan terbang menjauh. c. Cara Kerja : 1. Lampu dipasang disekeliling tempat yang ingin dilakukan penangkapanserangga2. 2. Tinggi tempat pemasangan lampu kurang lebih 50 cm dari permukaan tanah. Jarak lampu dengan perangkap kurang lebih 10 cm.

3. Biarkan selama beberapa jam. Banyaknya lampu dan besarnya watt sangat berpengaruh pada jumlahserangga yang terperangkap. 2. Stereoskop a. Fungsi : untuk melihat perbesaran serangga dengan 2X dan 4X perbesaran. b. Cara Kerja 1) Pastikan kabel listrik telah terpasang. 2) Letakkan objek glass ditempat objek. 3) Amati serangga yang ingin diamati melalui lensa okuler dibawah mikroskop danpakai perbesarannya 2x-4x perbesaran. Gunakan juga pengatur atas bawah untuk mempermudah pengamatan c. Gambar

3. LUX-Meter a. Fungsi : Untuk mengukur pencahayaan ruangan b. Cara kerja : Lux meter cukup diletakkan di atas meja kerja atau dipegang setinggi 75 cm di atas lantai. Layar penunjuknya akan menampilkan tingkat pencahayaan pada titik pengukuran. Bila nilai tingkat pencahayaan ruangan jauh lebih tinggi dari standar, maka kita berpotensi untuk menghemat energi dengan cara mengganti lampu dengan daya listrik lebih rendah atau mematikan sebagian lampu ruangan yang ada.Bia nilai tingkat pencahayaan ruangan jauh lebih rendah dari standar, maka sebaiknya kita mengganti lampu tersebut dengan lampu yang lebih terang.Lux meter akan memandu kita menentukan lampu yang tepat untuk dipasang pada setiap ruangan. Sehingga, dihasilkan tingkat pencahayaan yang sesuai standar. Tingkatpencahayaan yang sesuai standar akan menjaga kualitas pekerjaan serta kesehatan mata kita.

c. Gambar

d. CARA PEMELIHARAAN 1. Peralatan yang tidak dipakai harap disimpan pada suhu kamar 2. Setiap jenis peralatan setelah digunakan disimpan kembalai pada tempat yang telah disediakan pada carryng box.

4. Sound Level Meter a. Fungsi : untuk mengukur tingkat kebisingan / suara / bunyi sesuai sumber suara dalam decibel (Db). b. Cara Kerja 1) Hidupkan tombol ON / OFF 2) Arahkan microfone pada sumber kebisingan, kemudian lihat dan baca angka kebisingan pada layar. c. Standarisasi / Kalibrasi 1) Kalibrasi internal dilakukan dengan menggunakan referensi tegangan pada rangkaian-rangkaian listrik dari meteran tingkat kebisingan serta amplitude disesuaikan. Penyesuaian dilakukan dengan membandingkan nilai yang ditunjukkan oleh fitur kalibrasi internal terhadap nilai tertayang dari meteran tingkat kebisingan. 2) Kalibrasi akustik dilakukan dengan menyisipkan generator suara atau pistonphon ke dalam mikrofon dari meteran tingkat kebisingan dan menggunakan tekanan ssuara referensi (berbeda menurut alatnya, misalnya 94 dB pada 1 kHz, 124 dB pada 250 Hz, dll.). Skala penuh (FS) dari meteran tingkat kebisingan yang dipakai oleh masukan sinyal kalibrasi disetel 6 dB lebih tinggi dari pada tingkat tekanan suara dari sinyal kalibrasi normal. Misalnya,

bila suara sinyal kalibrasi adalah 124 dB, 130 dB disetel, atau bila suara sinyal kalibrasi adalah 94 dB, 100 dB disetel pada alat. 3) Pada sound level meter tipe S2A, kalibrasi sound meter dilakukan dengan hati-hati. Kalibrasikan sound meter sebelum melakukan tes suara. Menggunakan calibrator yang disetujui pabriknya, berikut caranya: 1) Mengaktifkan kalibrator dan sound level meter 2) Memutar tombol penyetel, dan mengatur tingkat tekanan suara 3) Memastikan kalibrator berada pada sound level meter yang benar 4) Menyesuaikan sound level meter untuk mendapatkan pembacaan yang benar. a. Gambar sound level meter

5. Air Polution Test Kit a. Fungsi : Untuk melakukan sumpling atau mengukur gas CO mox & sox seperti pengambilanPb di udara. b. Cara kerja 1) Isi tabung Midget Impinger dengan larutan absorbance. 2) Hidupkan pompa hisap. 3) Atur Flow Rate terus sambungkan tabung Midget dengan pompamenggunakan selang / pipa. 4) Lakukan sumpling selama 1 jam. 5) Untuk mengetahui nilainya, ukur menggunakan spektrofotometer c. Gambar

6. Indoor Air Quality a. Fungsi : Untuk mengukur kadar CO, CO2 dalam ruang. b. Cara kerja 1) Sensor diletakkan 1,5-2 meter dari permukaan berdiri. 2) Hidupkan tombol power On. Pada saat sumpling baca Indoor Air Quality 3) Setiap 15 menit sampai 1 jam c. Gambar

7. Turbidity Meter

1) 2) 3) 4) 5) 6)

a. Fungsi : Untuk mengukur tingkat /kadar kekeruhan air baik air bersih, limbah dll b. Cara kerja Sambungkan adaptor dan monitor pada alat pembaca. Hidupkan semua alat dengan menekan tombol On. Masukkan tabung kalibrasi kelubang detector dan sesuaikan angka pada monitor. Keluarkan tabung kalibrasi, masukkan sampel kedalam tabung sampel. Kemudian ukur didalam lubang detector. Catat hasilnya pada layar hasil. c. Gambar

8. Spektrofotometer a. Fungsi : Untuk mengukur intensitas warna dan panjang gelombang b. Cara Kerja 1) Pastikan kabel listrik sudah terpasang. 2) Putar tombol on/off searah jarum jam (sampai habis) secara perlahan. 3) Biarkan alat hidup selama 10-15 menit. 4) Standarkan alat dengan cara memutar tombol on/off berlawanan arah jarum jam sampai angka dimonitor menunjukkan angka nol (0) diposisiTransmitance (0% T). 5) Masukkan blanko (yang sudah dimasukkan kedalam cuvet sampai tanda batas)kedalam lobang deteksi, sebelumnya dilap dulu dengan menggunakan tissuelalu tutup lobang deteksi 6) Biarkan angka dimonitor stabil, kemudian putar tombol yang berada disebelahtombol On/Off sampai angka dimonitor menunjukkan angka 100 (100%T). 7) Pencet tombol Mode hingga angka di monitor menjadi 0,000 A (Absorbance).

8) Keluarkan cuvet yang berisi larutan blanko dari lobang deteksi. 9) Masukkan larutan standar atau larutan sampel yang akan diukur kedalamlobang deteksi (yang sebelumnya dimasukkan kedalam cuvet sampai tandabatas). 10) Catat angka yang tertera dimonitor tanpa memutar/memencet tombol apapun. 11) Setelah selesai, matikan alat dengan memutar tombol on/off berlawanan arah jarum jam sampai alat benar benar mati kemudian cabut colokan dari aliranlistrik. 12) Tutup alat dengan plastik c. Gambar

9. Low Volume Air Sumple (LVAS) a. Fungsi LVAS (Low Volume Air Sampler) merupakan alat atau instrumen yang digunakan untuk mengambil partikel / debu. b. Cara Kerja a. Pengambilan sampel partikel / debu: 1) Glass filter dikeringkan dalam almari pengering 105 oC selama 1 jam, didinginkan dalam desikator selama 30 menit dan selanjutnya ditimbang dengan neraca analitik (misal berat glass filter A gram). 2) Selanjutnya filter dipasang pada filter holder. 3) Pasang inlet pada LVAS setinggi 1,5 meter, selanjutnya atur kecepatan udara sebesar 2 lpm, dengan menombol on, putar tombol pengaturan lpm sampai bola pada angka 2, selanjutnya paparkan selama 30 menit. b. Pemeriksaan partikel pada udara: 1) Glass filter dikeringkan dalam almari pengering 105 oC selama 1 jam, didinginkan dalam desikator selama 30 menit dan

2) 3)

4)

5)

selanjutnya ditimbang dengan neraca analitik (misal berat glass filter A gram). Selanjutnya filter dipasang pada filter holder. Pasang inlet pada LVAS setinggi 1,5 meter, selanjutnya atur kecepatan udara sebesar 2 lpm, dengan menombol on, putar tombol pengaturan lpm sampai bola pada angka 2, selanjutnya paparkan selama 30 menit. Setelah sampling selesai, glass filter diambil dan sikeringkan dalam almari pengering 105 oC selama 1 jam, didinginkan dalam desikator selama 30 menit dan selanjutnya ditimbang dengan neraca analitik B gram. Kemudian hasilnya dihitung menggunakan rumus: Berat partikel =

c.

gambar untuk LVAS:

10. Fly Grill a. Fungsi : untuk menghitung angka kepadatan lalat. b. Cara Pembuatan : 1) Alat dan Bahan Alat dan bahan dalam pembuatan alat tersebut adalah sebagai berikut : a) Bambu diameter 5 cm dan panjang 80 cm sebanyak 10 buah. b) 2. Tali ban c) 3. Paku

d) 4. Bor e) Gergaji 2) Cara Pembuatan Alat Pembuatan alat fly grill ini adalah : a) Siapkan bambu 10 buah dengan diameter 5 cm dan panjang 80 cm. b) Potong setiap bambu menjadi 2 bagian. c) Bambu yang sudah di potong dibersihkan. d) Bagian kanan dan kiri dilubangi diameter 0,5 cm untuk lubang tali. e) Antara bambu atas dan bawahnya diberi jarak 2 cm. f) Bambu yang sudah dilubangi, bagian pinggirnya dianyam dengan tali ban sehingga tidak terpisah. g) Kemudian jika sudah selesai, fly grill dilipat. h) Setelah itu fly grill di beri tali untuk mempermudah dalam membawa. c. Cara Penggunaan 1) Fly grill di hamparkan dari lipatanya. 2) Fly grill di pasang di tempat yang telah ditentukan. 3) Dihitung durasi tiap 1 menit ada berapa lalat yang menempel. Kemudian tiap titik diulang 10 kali. 4) Setelah selesai pengukuran kepadatan lalat, fly grill dapat dilipat ( diluntung) kembali. d. Gambar

11. Thermohygrometer

d. e. 1) 2) 3)

Fungsi : untuk mengukur suhu dan kelembaban suatu ruangan Cara Kerja
Gantungkan alat di tengah ruangan Biarkan sekitar 10-15 menit Catat suhu dan kelembabab yang tertera pada thermohygrometer.

f. Standarisasi / Kalibrasi Standarisasi thermohygrometer dapat dilakukan dengan cara memasukkan thermohygrometer ke dalam lemari es (pada freezer) atau termos es yang berisi es, sehingga thermohygrometer dalam keadaan normal (kelembaban mendekati 100%), sedangkan suhu mendekati 0 (nol) derajat. g. Gambar

12.

Chlorine diffuser a. Fungsi : digunakan sebagai metode desinfeksi air bersih Desinfeksi adalah proses pengolahan air dengan tujuan membunuh kuman atau bakteri pathogen yang ada dalam air. Bahan bahan desinfektan antara lain chlor, iodiom, ozon atau sinar ultraviolet. Metode cholrin difuser telah digunakan petugas Puskesmas dalam mencegah maupun menanggulangi pencemar bakteri dengan indikator E. Coli baik Coli Tinja atau Coliform. Alat cholin difuser menggunakan bahan pipa pvc - inchi. Dengan ukuran bahan pengisi klorin/kaporit Ca(OCl)2 dengan pasir pengisi antara 1 : 4 sampai 1 : 8. Ukuran 1 : 4 digunakan untuk mengurangi cemaran akibat bakteri Coli dengan jumlah cukup

tinggi. Dan ukuran 1 : 6 sampai 1 : 8 digunakan untuk menjaga cemaran bakteri atau proses pemulihan air dari cemaran bakteri Coli. Bahan untuk Chlorinasi menggunakan: Kaporit Ca(OCl)2 (calcium hipochlorit) Sifat : a. mengandung 60 70 % Ca(OCl)2 b. mudah larut dalam air. c. berisfat korosif yaitu melakukan reduksi oksigen kepada bahan yang mudah teroksidasi seperti besi, seng dll. d. bahaya bagi kulit dan mata. Chlorin Cl2 Sifat : a. Keadaan cair jernih dan mudah menguap. b. Keadaan gas kuning kehijauan. Cholrin ini bersifat oksidator sehingga jika dalam proses desinfeksi masih terdapat koloidal yang belum tersaring maka secara reaksi reduksi dan oksidasi chlorin akan memberi sebagian oksigennya kepada koloidal tersebut sehingga dalam bentuk OH akan membasakan air menjadi lebih besar dan kaitannya dalam proses penetralannya sulit dan juga menimbulkan bau. Faktor-faktor yang mempengaruhi kemampuan desinfektan yaitu : kecepatan dan

a. Keadaan mikroorganisme dilihat dari jenis, jumlah, umur, penyebaran b. Desinfektan dilihat dari jenis dan konsentrasi desinfektan. c. Waktu kontak d. Faktor lingkungan meliputi suhu, ph, kualitas air, pengolahan air. b. Cara Kerja 1. Meletakkan chlorine diffuser pada sumber air yang akan di desinfeksi. 2. Tunggu beberapa menit sampai air terlihat jernih, terlihat bersih dan kadar chlor dalam chlorine diffuser habis. 3. Ambil chlorine diffuser dari sumber air.

c. Gambar

13. pH meter a. Fungsi : digunakan untuk mengukur pH (kadar keasaman atau alkalinitas) ataupun basa dari suatu larutan (meskipun probe khusus terkadang digunakan untuk mengukur pH zat semi padat). pH meter yang biasa terdiri dari pengukuran probe pH (elektroda gelas) yang terhubung ke pengukuran pembacaan yang mengukur dan menampilkan pH yang terukur. Prinsip kerja dari

alat ini yaitu semakin banyak elektron pada sampel maka akan semakin bernilai asam begitu pun sebaliknya, karena batang pada pH meter berisi larutan elektrolit lemah. Alat ini ada yang digital dan juga analog. pH meter banyak digunakan dalam analisis kimia kuantitatif. Probe pH mengukur pH seperti aktifitas ion-ion hidrogen yang mengelilingi bohlam kaca berdinding tipis pada ujungnya. Probe ini menghasilkan tegangan rendah (sekitar 0.06 volt per unit pH) yang diukur dan ditampilkan sebagai pembacaan nilai pH. Rangkaian pengukurannya tidak lebih dari sebuah voltmeter yang menampilkan pengukuran dalam pH selain volt. Pengukuran Impedansi input harus sangat tinggi karena adanya resistansi tinggi (sekitar 20 hingga 1000 M) pada probe elektroda yang biasa digunakan dengan pH meter. Rangkaian pH meter biasanya terdiri dari amplifier operasional yang memiliki konfigurasi pembalik, dengan total gain tegangan kurang lebih -17. Amplifier meng-konversi tegangan rendah yang dihasilkan oleh probe (+0.059 volt/pH) dalam unit pH, yang mana kemudian dibandingkan dengan tegangan referensi untuk memberikan hasil pembacaan pada skala pH. b. Cara kerja : 1. Letakkan alat pada tempat yang akan diukur pH nya. 2. Nyalakan alat dan tunggu sampai angka keluar pada layar. 3. Tunggu sampai beberapa saat untuk menstabilkan perubahan angka pada layar. 4. Setelah stabil, catat angka yang muncul pada layar yang menunjukkan sebagai angka pH. c. Cara Kalibrasi Untuk pengukuran yang sangat presisi dan tepat, pH meter harus dikalibrasi setiap sebelum dan sesudah melakukan pengukuran. Untuk penggunaan normal kalibrasi harus dilakukan setiap hari. Alasan melakukan hal ini adalah probe kaca elektroda tidak diproduksi e.m.f. dalam jangka waktu lama. Kalibrasi harus dilakukan setidaknya dengan dua macam cairan standard buffer yang sesuai dengan rentang nilai pH yang akan diukur. Untuk penggunaan umum buffer pH 4 dan pH 10 diperbolehkan. pH meter memiliki pengontrol pertama (kalibrasi) untuk mengatur pembacaan pengukuran agar sama dengan nilai standard buffer pertama dan pengontrol kedua (slope) yang digunakan menyetel

pembacaan meter sama dengan nilai buffer kedua. Pengontrol ketiga untuk men-set temperatur. Dalam penggunaan pH meter ini, Tingkat keasaman/kebasaan dari suatu zat, ditentukan berdasarkan keberadaan jumlah ion hidrogen dan ion hodroksida dalam larutan. Yang dapat dinyatakan dengan persamaan : pH = -log[H+] pOH = -log[OH-] pH = 14 pOH Keuntungan dari penggunaan pH meter dalam menentukan tingkat keasaman suatu senyawa adalah: 1. Pemakaiannya bisa berulang-ulang 2. Nilai pH terukur relatif cukup akurat Instrumen yang digunakan dalam pHmeter dapat bersifat analog maupun digital. Sebagaimana alat yang lain, untuk mendapatkan hasil pengukuran yang baik, maka diperlukan perawatan dan kalibrasi pH meter. Pada penggunaan pH meter, kalibrasi alat harus diperhatikan sebelum dilakukan pengukuran. Seperti diketahui prinsip utama pH meter adalah pengukuran arsu listrik yang tercatat pada sensor pH akibat suasana ionik di larutan. Stabilitas sensor harus selalu dijaga dan caranya adalah dengan kalibrasi alat. Kalibrasi terhadap pHmeter dilakukan dengan: Larutan buffer standar : pH = 4,01 ; 7,00 ; 10,01. d. Gambar

14. Thermometer Digital a. Fungsi : Termometer merupakan salah satu alat ukur yang berfungsi untuk mengetahui suhu objek (benda/tubuh).

b. Cara Kalibrasi : Kalibrasinya biasa menggunakan kalibrator manual atau otomatis, kalibrator manual suhu yg dikenakan ke sensor adalah suhu pemanas nyata dimulai dari 0 derajat untuk setting ofsetnya. Kalibrasi otomatis terdiri dari suhu pemanas dan checker untuk gain dalam rangkaian komparatornya c. Cara menggunakan ;

1. Tekan tombol On/off 2. Tunggu sebentar hingga alat siap digunakan. 3. Letakkan atau tempatkan pada bagian obyek yang akan diukur suhunya. 4. Tunggu hingga angka yang tertera pada thermometer digital konstan. 5. Kemudian lihat berapa angka yang tertera,sehingga suhu dapat diketahui. d. Perawatan : Thermometer Untuk mengukur suhu jika kita akan memasukan thermometer kedalam lubang gabus hendaknya basahi dahulualat kaca dgn air. Simpan pada tempatnya agar tidak mudah pecah.
e. Gambar

15. Sling Psychrometer a. Fungsi : Sling Psychrometer merupakan alat yang digunakan untuk mengukur suhu kering dan suhu basah. b. Cara Kerja : 1) Basahi termometer bola basah dengan sedikit air, kemudian putar sling psychrometer selama kurang lebih 3-5 menit. 2) Catat hasil dari sling psychrometer. c. Cara Perawatan 1) Kain muslin harus selalu diganti. Kain muslin slingPsychrometer adalah kain muslin khusus. Kain muslin diganti sebelum kotor, sebaiknya 2 minggu sekali. Lebih sering diganti jika alat digunakan di daerah pantai atau industri. Di daerah pantai, haruslah berhati-

hati jangan sampai bola basah terkena percikan ombak. Hal ini sering terjadi jika ada badai dan angin laut. 2) Air untuk membasahi kain muslin adalah air aquades. Air yang dipakai untuk bola basah harus murni. Jangan membeli air murni dari bengkel kendaraan bermotor, karena dapat mengandung garam asam belerang. 3) Besi pelindung harus terawat. d. Gambar

16. Midget Impinger a. Fungsi : untuk mengambil sampel gas-gas, kuman udara, SO2 udara, NO2 udara, CO udara, H2S udara, dan Pb. b. Cara Kerja : 1) Masukkan bahan penyerap yang sesuai dengan apa yang akan diambil sampelnya, misal ingin memeriksa Pb, maka masukkan larutan Pb. 2) Lalu hubungkan midget impinger dengan pompa sampling udara atau pompa hisap sesuai keperluan pemeriksaan. 3) Pastikan tabung panjangnya tercelup dalam larutan penyerap dan hubungkan ke sumber listrik. 4) Tekakn tombol on. 5) Putar pada kecepatan aliran dengan memutar tombol sampai bola menunjuk angka 1 lpm. 6) Letakkan inlet di tempat yang sesuai. c. Gambar

BAB III PENUTUP

A. Kesimpulan Untuk sanitasi tempat-tempat umum dan pariwisata diperlukan instrumen atau alat-alat untuk menunjang kebersihan, kenyamanan, dan kesehatan dari tempat tersebut. Alat yang digunakan berfungsi untuk mencegah dan mengendalikan terjadinya pencemaran. B. Saran Dengan adanya alat-alat atau instrumen pada tempat-tempat umum dan pariwisata diharapkan dapat menunjang kebersihan, kenyamanan dan kesehatan di sekitar maupun di lokasi tempat-tempat umum dan pariwisata tersebut.

DAFTAR PUSTAKA

http://digilib.unimus.ac.id/files/disk1/105/jtptunimus-gdl-badiusmian-5204-4bab3.pdf http://ilmubawang.blogspot.com/2011/06/artikel-sound-level-meter_11.html http://www.alatuji.com/kategori/262/sound-level-meter http://ilmubawang.blogspot.com/2012/03/fungsi-ph-meter.html http://ipm.osu.edu/lady/L.T.instr.htm


tuloe.wordpress.com/2009/06/07/sanitasi-umum/ id.scribd.com School Work Study Guides, Notes, & Quizzes

http://www.alatuji.com/kategori/262/sound-level-meter http://www.google.co.id/imgres?q=Turbidity+Meter&start=36&hl=id&biw=102 4&bih=381&gbv=2&tbm=isch&tbnid=a7DfRC3ohViCM:&imgrefurl=http://www.cnrinch.com/lab-turbiditymeter.htm&docid=_oy0JjXJtcbLpM&imgurl=http://www.cnrinch.com/sx7200portable-turbiditymeter.jpg&w=426&h=290&ei=nQe2T5SlHJHkrAfRnNj0Bw&zoom=1&iact=rc &dur=416&sig=116165668130012287774&page=3&tbnh=103&tbnw=138&nd sp=19&ved=1t:429,r:26,s:36,i:64&tx=75&ty=32 http://www.directindustry.com/industrial-manufacturer/turbidity-meter65544.html