Anda di halaman 1dari 15

BAB I PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masa nifas adalah masa yang dimulai setelah kelahiran plasenta dan berakhir ketika alat-alat kandungan kembali seperti keadaan sebelum hamil, yang lamanya kira-kira 6 minggu (Maternal Neonatal, 2002) Dalam masa nifas diperlukan suatu asuhan yang bertujuan untuk menjaga kesehatan ibu dan bayinya, baik fisik maupun psikologis serta memberikan pendidikan kesehatan tentang perawatan kesehatan diri, nutrisi, KB, menyusui, pemberian imunisasi kepada bayinya dan perawatan bayi sehat. Pada asuhan masa nifas yang berhubungan dengan nutrisi, ibu nifas mempunyai kebutuhan dasar yaitu minum vitamin A (200.000 unit) agar bisa memberikan vitamin A kepada bayinya melalui ASI. Vitamin A adalah suatu vitamin yang berfungsi dalam sistem penglihatan, fungsi pembentukan kekebalan dan fungsi reproduksi (Depkes RI, 2007). Vitamin A perlu diberikan dan penting bagi ibu selama dalam masa nifas. Pemberian kapsul vitamin A bagi ibu nifas dapat menaikkan jumlah kandungan vitamin A dalam ASI, sehingga meningkatkan status vitamin A pada ibu yang disusuinya. Pada tahun 1998, badan kesehatan dunia WHO menyatakan bahwa ibu dan bayi yang disusuinya akan mendapatkan manfaat dari pemberian satu kapsul vitamin A dosis tinggi (200.000 IU) yang diberikan paling lambat 60 hari (8 minggu /2 bulan) setelah melahirkan. Berbagai studi menunjukkan bahwa, pemberian kapsul vitamin A dosis tinggi (200,000 SI) seperti yang direkomendasikan sebelumnya dirasakan kurang memadai. Pada bulan Desember 2002, The International Vitamin A Consultative Goup (IVCG) mengeluarkan rekomendasi bahwa seluruh ibu nifas seharusnya menerima 400,000 SI atau dua kapsul dosis tinggi @ 200,000 SI. Pemberian kapsul pertama dilakukan segera setelah melahirkan, dan kapsul kedua diberikan sedikitnya satu hari setelah pemberian kapsul pertama dan tidak lebih dari 6 minggu kemudian. Pedoman nasional yang ada saat ini merekomendasikan bahwa 100% ibu nifas menerima satu kapsul vitamin A dosis tinggi 200.000 SI paling lambat 30 hari setelah melahirkan. Walaupun begitu data NSS di beberapa Propinsi menunjukkan bahwa cakupannya hanya berkisar 15 25% saat ini, ibu nifas mungkin mendapatkan kapsul vitamin A bila mereka melahirkan di Puskesmas atau rumah sakit. Walaupun begitu tidak tertutup kemungkinan ibu nifas mendapatkan kapsul vitamin A melalui kader atau bidan di desa saat mereka melakukan kunjungan rumah. Di Indonesia, terutama di daerah pedesaan, mayoritas ibu masih melahirkan dirumah, sering terjadi bahwa bidan ataupun mereka yang membantu kelahiran tidak selalu memiliki akses akan kapsul vitamin A. Selain itu kunjungan rumah oleh kader untuk memberikan kapsul vitamin A jarang dilakukan. Banyak ibu maupun petugas kesehatan yang tidak tahu

mengenai adanya program pemerintah mengenai pemberian kapsul vitamin A ibu nifas (Buletin Kesehatan dan Gizi, 2004). Peningkatan kesehatan ibu merupakan salah satu tujuan Millenium Development Goals (MDGs) yang ingin dicapai pada tahun 2015. Penurunan Angka Kematian ibu merupakan salah satu targetnya. Data terakhir dari Survey Kesehatan Rumah Tangga (SKRT) 2007 menunjukkan Angka Kematian Ibu (AKI) sebesar 228/100.000 kelahiran hidup. Angka Kematian Ibu (AKI) adalah kematian seorang wanita ketika hamil atau dalam 42 hari setelah kehamilan berakhir tanpa memperhatikan durasi dan tempat kehamilan yang diakibatkan oleh penyebab apapun yang berkaitan dengan atau diperburuk oleh kehamilan itu sendiri atau penatalaksanaannya tetapi bukan akibat kecelakaan atau penyebab yang tidak disengaja. Salah satu penyakit yang masih banyak diderita ibu selama kehamilan antara lain adalah anemia dan disebut dengan anemia dalam kehamilan. Hasil Riset Kesehatan Dasar (RISKESDAS) tahun 2007, angka anemia berkisar 24,5%.4 Anemia dalam kehamilan memberikan pengaruh yang kurang baik bagi ibu, baik dalam masa kehamilan, persalinan, maupun nifas, seperti abortus, partus prematur, partus lama, inersia uteri, perdarahan post partum karena atonia uteri, syok, infeksi baik intra partum maupun post partum bahkan sampai dapat menyebabkan kematian ibu. Untuk mengatasi masalah anemia kekurangan zat besi pada ibu hamil, pemerintah melalui Departemen Kesehatan RI sejak Tahun 1970 telah melaksanakan suatu program pemberian tablet zat besi pada ibu hamil di Puskesmas dan Posyandu secara gratis dengan mendistribusikan tablet tambah darah, dimana 1 tablet berisi 200 mg fero sulfat dan 0,25 mg asam folat (setara dengan 60 mg besi dan 0.25 mg asam folat). Setiap ibu hamil dianjurkan minum tablet tambah darah dengan dosis satu tablet setiap hari selama masa kehamilannya sampai empat puluh hari setelah melahirkan. Manfaat pemberian tablet besi sering dihambat oleh dua faktor efek samping pada saluran gastrointestinal akibat pemberian zat si secara oral dan faktor kesulitan dalam memotivasi ibu hamil yang tidak menganggap dirinya sakit untuk mengkonsumsi tablet besi selama dua sampai 3 bulan kehamilan. Kedua faktor tersebut yang mengakibatkan ketidakpatuhan terhadap pengobatan. Untuk mencapai kesembuhan bagi setiap penderita diperlukan kepatuhan dalam berobat, walaupun panduan obat yang digunakan baik tetapi bila penderita tidak berobat secara teratur maka hasilnya akan mengecewakan7. Kepatuhan dan keteraturan berobat penderita juga ditentukan oleh perhatian tenaga kesehatan untuk memberikan penyuluhan, penjelasan kepada penderita, bila diperlukan kunjungan rumah serta obat selalu tersedia . B. Tujuan Mengetahui Permasalahan dalam pemberian Vitamin A dan Tablet Fe pada Ibu Nifas di wilayah kerja Puskesmas Ubung serta memberikan solusi pemecahan masalah agar tercapai sesuai target yang telah ditetapkan.

BAB II TINJAUAN PUSTAKA A. Masa Nifas Masa nifas disebut juga masa postpartum yaitu waktu sejak bayi dilahirkan dan plasenta keluar lepas dari rahim, sampai enam minggu berikutnya, disertai dengan pulihnya kembali organ-organ yang berkaitan dengan kandungan, yang mengalami perubahan seperti perlukaan dan lain sebagainya berkaitan dengan saat melahirkan (Suherni, 2008) Adapun tahapan-tahapan masa nifas (post partum/puerperium) adalah: 1. Puerperium dini : masa kepulihan, yakni saat-saat ibu dibolehkan berdiri dan berjalanjalan, 2. Puerperium intermedial : masa kepulihan menyeluruh dari organorgan genital, kira-kira antara 6-8 minggu, 3. Remot Puerperium : waktu yang diperlukan untuk pulih dan sehat sempurna terutama apabila ibu selama hamil atau persalinan mengalami komplikasi (Suherni, 2008). 4. Perubahan yang terjadi pada masa nifas : a. Posisi uterus atau tinggi fundus uteri kembali keukuran atau bentuk semula. b. Pengeluaran kolostrum atau ASI. c. Penurunan berat badan (Suherni, 2008). B. Vitamin A 1. Pengertian vitamin A Vitamin A merupakan salah satu vitamin yang larut dalam lemak atau minyak. Vitamin A stabil terhadap panas, asam dan alkali tetapi sangat mudah teroksidasi oleh udara dan akan rusak pada suhu tinggi (Soejarwo, 2002). Vitamin A merupakan komponen penting dari retina, maka fungsi utama adalah untuk penglihatan. Disamping itu vitamin A juga membantu pertumbuhan dan mempunyai peranan penting dalam jaringan epitel (Karta Sapoetra & Warsetyo, 2003). 2. Sumber vitamin A Vitamin A sangat penting bagi kesehatan kulit, kelenjar, serta fungsi mata. Sekalipun pada waktu lahir bayi memiliki simpanan vitamin A, ASI tetap menjadi sumber penting dari vitamin A dan karoten (zat gizi yang banyak terdapat secara alami dalam buahbuahan dan sayursayuran). Karoten dapat membantu meningkatkan sistem kekebalan tubuh. Hati, telur, dan keju merupakan sumber-sumber vitamin A yang baik. Vitamin A juga terdapat dalam beta-karoten serta karotenoid lainnya. Tubuh manusia dapat sintesa vitamin A dari karoten atau pro vitamin A yang terdapat di sayuran dan buah-buahan yang berwarna, seperti wortel, tomat, apel, semangka, dan sebagainya (Dinkes Jateng, 2007).

3. Kekurangan vitamin A Kekurangan vitamin A dapat menimbulkan beberapa gangguan terhadap kesehatan tubuh, antara lain : a. Hemeralopia atau rabun ayam, rabun senja; b. Frinoderma, pembentukan epitel kulit tangan dan kaki terganggu, sehingga kulit tangan dan / atau tampak bersisik; c. Perdarahan pada selaput usus, ginjal, dan paru-paru; d. Kerusakan pada kornea dengan menimbulkan bintik, seroftalmin (kornea mengering), dan akhirnya kerotik; e. Terhentinya proses pertumbuhan; f. Terganggunya pertumbuhan bayi (Depkes RI, 2005). g. Penurunan fungsi pertahanan epitel (penurunan pertahanan sekresi mukosa) h. Penurunan fungsi sistem imun i. Meningkatkan derajat infeksi 4. Kebutuhan vitamin A Kebutuhan vitamin A yang dianjurkan untuk anak balita 250 mikrogram retinol (vitamin A) atau 750 mikrogram beta-karotin sehari (Kardjati, dan Alisjahbana, 2005). Sedangkan kebutuhan wanita menyusui berumur 19 tahun keatas dianjurkan mengkonsumsi 1.300 mikrogram vitamin A per hari. Vitamin A atau aseroftol mempunyai fungsi-fungsi penting di dalam tubuh yaitu : a. Pertumbuhan sel-sel epitel; b. Proses oksidasi dalam tubuh; c. Mengatur rangsang sinar pada saraf mata (Kartasapoetra dan Marsetyo, 2003). 5. Konsumsi kapsul vitamin A Vitamin A adalah salah satu zat gizi dari golongan vitamin yang sangat diperlukan oleh tubuh yang berguna untuk kesehatan mata (agar dapat melihat dengan baik) dan untuk kesehatan tubuh (meningkatkan daya tahan tubuh untuk melawan penyakit misalnya campak, diare dan penyakit infeksi lain) (Depkes RI, 2005). Pada ibu hamil dan menyusui, vitamin A berperan penting untuk memelihara kesehatan ibu selama masa kehamilan dan menyusui. Buta senja pada ibu menyusui, suatu kondisi yang kerap terjadi karena kurang Vitamin A (KVA). Berhubungan erat dengan kejadian anemia pada ibu, kekurangan berat badan, kurang gizi, meningkatnya risiko infeksi dan penyakit reproduksi, serta menurunkan kelangsungan hidup ibu hingga dua tahun setelah melahirkan (Dinkes Jateng, 2007). Semua anak, walaupun mereka dilahirkan dari ibu yang berstatus gizi baik dan tinggal di negara maju, terlahir dengan cadangan vitamin A yang terbatas dalam tubuhnya (hanya cukup memenuhi kebutuhan untuk sekitar dua minggu). Di negara berkembang, pada bulan-bulan pertama kehidupannya, bayi sangat bergantung pada

vitamin A yang terdapat dalam ASI. Oleh sebab itu, sangatlah penting bahwa ASI mengandung cukup vitamin A. Anak-anak yang sama sekali tidak mendapatkan ASI akan berisiko lebih tinggi terkena Xeropthalmia dibandingkan dengan anak-anak yang mendapatkan ASI walau hanya dalam jangka waktu tertentu. Berbagai studi yang dilakukan mengenai Vitamin A ibu nifas memperlihatkan hasil yang berbeda-beda. Anak-anak usia enam bulan yang ibunya mendapatkan kapsul vitamin A setelah melahirkan, menunjukkan bahwa terdapat penurunan jumlah kasus demam pada anakanak tersebut dan waktu kesembuhan yang lebih cepat saat mereka terkena ISPA. Ibu hamil dan menyusui seperti halnya juga anak-anak, berisiko mengalami KVA karena pada masa tersebut ibu membutuhkan vitamin A yang tinggi untuk pertumbuhan janin dan produksi ASI. Upaya meningkatkan konsumsi bahan makanan sumber vitamin A melalui proses Komunikasi Informasi Edukasi (KIE) merupakan upaya yang paling aman. Namun disadari bahwa penyuluhan tidak akan segera memberikan dampak nyata. Selain itu kegiatan konsumsi kapsul vitamin A masih bersifat rintisan. Oleh sebab itu penanggulangan KVA saat ini masih bertumpu pada pemberian kapsul vitamin A dosis tinggi. Oleh karena itu, pemberian secara periodik dilakukan kepada: a. Bayi umur 6-11 bulan, baik sehat maupun tidak sehat, dengan dosis 100.000 SI (warna biru). Satu kapsul diberikan satu kali secara serentak pada bulan Februari dan Agustus. b. Anak balita umur 1-5 tahun, bulan, baik sehat maupun tidak sehat, dengan dosis 200.000 SI (warna merah). Satu kapsul diberikan satu kali secara serentak pada bulan Februari dan Agustus. c. Ibu nifas, paling lambat 30 hari setelah melahirkan, diberikan satu kapsul vitamin A dosis 200.000 SI (warna merah), dengan tujuan agar bayi memperoleh vitamin A yang cukup melalui ASI (Depkes RI, 2003). Pemberian kapsul vitamin A dosis tinggi (200.000 SI) sebanyak 2 kapsul pada ibu nifas (0 42 hari) 6. Vitamin A pada Ibu Nifas a. Manfaat Kapsul Vitamin A pada Ibu Nifas Meningkatkan kandungan vitamin A dalam ASI Bayi lebih kebal dan jarang terserang penyakit infeksi Kesehatan ibu cepat pulih setelah melahirkan b. Mengapa Ibu Nifas Harus Minum 2 Kapsul Vitamin A Bayi lahir dengan cadangan vitamin A yang rendah Kebutuhan bayi akan vitamin A tinggi untuk pertumbuhan dan peningkatan daya tahan tubuh Pemberian 1 kapsul vitamin A (200.000 SI) warna merah pada ibu nifas hanya cukup untuk meningkatkan kandungan vitamin A dalam ASI selama 60 hari

Pemberian 2 kapsul vitamin A (200.000) warna merah diharapkan dapat menambah kandungan vitamin A dalam ASI sampai bayi usia 6 bulan. ASI eksklusif 6 bulan

Tabel Rekomendasi IVACG (International Vitamin A Consultative Group) tentang suplementasi vitamin A Rekomendasi IVACG tentang suplementasi vitamin A dosis tinggi untuk ibu nifas di daerah yang memiliki masalah kekurangan vitamin A Populasi Jumlah kapsul vitamin A yang diberikan Jadwal pemberian Ibu nifas 400,000 IU sebagai dua dosis @ Segera setelah melahirkan dan 200,000 SI, pemberian sedikitnya tidak lebih dari enam minggu dengan selang waktu satu hari setelah melahirkan dan/atau 10,000 SI setiap hari atau Selama enam bulan 25,000 IU setiap minggunya setelah melahirkan pertama

7. Pemberian Vitamin A pada Ibu Nifas a. Cara Pemberian Diberikan sebanyak 2 x 200.000 SI atau 2 (dua) kapsul vitamin A, warna merah dalam kurun waktu 2 hari berturut-turut pada masa nifas: - 1 (satu) kapsul vitamin A diminum segera setelah melahirkan - 1 (satu) kapsul vitamin A kedua diminum pada hari berikutnya, minimal 24 jam sesudah kapsul pertama b. Sarana Tempat Pemberian Kapsul Vitamin A Untuk Ibu Nifas Posyandu Polindes (bidan di desa) Puskesmas pembantu Puskesmas Praktek swasta (bidan, rumah bersalin, klinik bersalin dan lain-lain) Kelompok KIA c. Petugas Yang Memberikan Kapsul Vitamin A Untuk Ibu Nifas Tenaga kesehatan : dokter, perawat, bidan, tenaga gizi, vaksinator dan lain-lain Dukun bersalin terlatih Kader d. Strategi Pemberian Kapsul Vitamin A Pada Ibu Nifas Bersamaan dengan pemberian imunisasi hepatitis B kepada bayi umur 0 7 hari pada kunjungan neonatal (KN1)

Apabila kapsul vitamin A tidak diberikan pada KN1, maka dapat diberikan pada kunjungan KN2 (8 28 hari) Sweeping dalam bentuk kunjungan rumah

e. Akselerasi Pecegahan dan penanggulangan Masalah KVA Tahun 2007 Peningkatan komitmen politik melalui advokasi, koordinasi, dan ketraan dengan pihak swasta Peningkatan jangkauan suplementasi gizi terintegrasi dengan pelayanan kesehatan lainnya (KIA, imunisasi, malaria) dan peningkatan infrastruktur jaringan distribusi Daerah dengan prevalensi gizi kurang > 30%, cakupan supplementasi rendah garam dengan AKB tinggi. (Depkes, 2004)

C. Tablet Fe 1. Pengertian Zat besi adalah tablet tambah darah untuk menanggulangi anemia gizi besi yang diberikan kepada ibu hamil. Disamping itu kehamilan memerlukan tambahan zat besi untuk meningkatkan jumlah sel darah merah dan membentuk sel darah merah, janin, dan plasenta. Makin sering seorang mengalami kehamilan dan melahirkan, akan makin banyak kehilangan zat besi dan menjadi makin anemis (Manuaba, 2010). Tiap tablet mengandung FeS04 320 mg (zat besi 60 mg dan asam folat 500 mg) (Salmah, dkk, 2006). 2. Kebutuhan zat besi pada ibu hamil Kebutuhan zat besi pada wanita juga meningkat saat hamil dan melahirkan. Ketika hamil, seorang ibu tidak saja dituntut memenuhi kebutuhan zat besi untuk dirinya, tetapi juga harus memenuhi kebutuhan zat besi untuk pertumbuhan janinnya. Selain itu perdarahan saat melahirkan juga dapat menyebabkan seorang ibu kehilangan lebih banyak lagi zat besi. Karena alasan tersebut, setiap ibu hamil disarankan mengonsumsi tablet zat besi (Soebroto, 2009). Menurut Arisman (2004) Kebutuhan akan zat besi selama trimester I relatif sedikit, yaitu 0,8 mg sehari yang kemudian meningkat tajam selama trimester II dan III, yaitu 6,3 mg sehari. Pada masa tersebut, kebutuhan zat besi tidak dapat diandalkan dari menu harian saja. Walaupun menu hariannya cukup mengandung zat besi, ibu hamil tetap memerlukan tambahan tablet besi (Prasetyono, 2010). Zat besi dibutuhkan untuk pembentukan hemoglobin, cadangan zat besi janin, dan sebagainya. Bisa diperoleh dari daging berwarna merah, bayam, kangkung, kacangkacangan dan sebagainya (Maulana, 2009). Menurut Salmah, dkk (2006) Kebutuhan zat besi pada kehamilan kurang lebih 1000 mg, 500 mg dibutuhkan untuk meningkatkan massa sel darah merah dan 300 mg untuk transportasi ke fetus dalam kehamilan 12

minggu, 300 mg lagi untuk menggantikan cairan yang keluar dari tubuh. Wanita hamil perlu menyerap zat besi rata-rata 3,5 mg/hari, kebutuhannya meningkat secara signifikan pada trimester akhir karena absorbsi usus yang tinggi. 3. Anemia Anemia adalah suatu keadaan dimana kadar Haemoglobin (Hb) di dalam darah kurang dari normal, yang berbeda untuk setiap kelompok umur dan jenis kelamin, yaitu : Anak Balita : 11 gram % Anak Usia Sekolah : 12 gram % Wanita Dewasa : 12 gram % Laki-laki Dewasa : 13 gram % Ibu Hamil : 11 gram % Ibu Menyusui > 3 bulan : 12 gram % 4. Penyebab Anemia Sebagian besar penyebab anemia di Indonesia adalah kekurangan zat besi yang diperlukan untuk pembentukan Haemoglobin, sehingga disebut Anemia Kekurangan Zat Besi. Kekurangan zat besi dalam tubuh tersebut disebabkan karena : Kurangnya konsumsi makanan kaya zat besi, terutama yang berasal dari sumber hewani. Kekurangan zat besi karena kebutuhan yang meningkat seperti pada kehamilan, masa tumbuh kembang serta pada penyakit infeksi (malaria dan penyakit kronis lain misal TBC). Kehilangan zat besi yang berlebihan pada perdarahan termasuk haid yang berlebihan, sering melahirkan dan pada infeksi cacing. Ketidak-seimbangan antara kebutuhan tubuh akan zat besi dibandingkan dengan penyerapan dari makanan. 5. Akibat Anemia Kekurangan Zat Besi a. Kekurangan besi dapat menimbulkan gangguan atau hambatan pada pertumbuhan baik sel tubuh maupun sel otak sehingga : Pada ibu hamil dapat mengalami keguguran, lahir sebelum waktunya, Bayi Berat Lahir Rendah, perdarahan sebelum dan pada waktu melahirkan serta pada anemia berat dapat menimbulkan kematian ibu dan bayi. Anak mengalami gangguan pertumbuhan, tidak dapat mencapai tinggi yang optimal dan anak menjadi kurang cerdas. b. Kekurangan Hb dalam darah mengakibatkan kurangnya oksigen yang di transport ke sel tubuh maupun otak, sehingga menimbulkan gejala-gejala : letih,lesu dan cepat lelah yang akibatnya :

c. Penderita anemia kekurangan zat besi akan turun daya tahan tubuhnya, sehingga mudah terserang penyakit infeksi. 6. Upaya Pencegahan Dan Penanggulangan Mengingat dampak anemia seperti tersebut di atas yang dapat menurunkan kualitas sumber daya manusia Indonesia, maka perlu penanganan segera. Upaya pencegahan dan penanggulangan anemia pada dasarnya adalah mengatasi penyebabnya. Pada anemia berat (kadar Hb < 8 gr %) biasanya ada penyakit yang melatar-belakangi yaitu antara lain penyakit TBC, infestasi cacing atau malaria, sehingga selain penanggulangan pada anemianya harus dilakukan pengobatan terhadap penyakit-penyakit tersebut. Upaya yang dapat dilakukan untuk mencegah dan menanggulangi anemia akibat kekurangan konsumsi zat besi adalah sebagai berikut : a. Meningkatkan konsumsi zat besi dari sumber alami melalui penyuluhan, terutama makanan sumber hewani yang mudah diserap seperti hati, ikan, daging dan lain-lain. Selainitu perlu ditingkatkan juga makanan yang banyak vitamin C dan vitamin A (buah-buahan dan sayuran) untuk membantu penyerapan zat besi dan membantu proses pembentukan Hb. b. Fortifikasi bahan makanan yaitu : menambahkan zat besi, asam folat, vitamin A dan asam amino esensial pada bahan makanan yang dimakan secara luas oleh kelompok sasaran. c. Suplementasi zat besi-folat secara rutin selama jangka waktu tertentu untuk meningkatkan kadar Hb secara cepat.Dengan demikian suplemantasi zat besi hanya merupakan salah satu upaya pencegahan dan penanggulangan anemia yang perlu diikuti dengan cara lain. 7. Penatalaksanaan Anemia Dengan Pemberian Zat Besi Pengadaan dan pemberian preparat besi dalam bentuk tablet dan sirup dapat dilaksanakan oleh pemerintah dan pihak swasta/masyarakat. Dewasa ini tidak seluruh pengadaan dilaksanakan oleh pemerintah. Pemerintah melalui jalur kesehatan hanya menyediakan sekitar 50% kebutuhan tablet besi untuk ibu hamil dan sekitar 25% kebutuhan sirup besi untuk balita. Hal ini membuka kesempatan untuk sektor lain, pihak swasta dan masyarakat untuk berperan serta dalam menyediakan tablet/sirup besi secara swadaya. Pengadaan dari pemerintah diutamakan diberikan kepada sasaran di daerah tertinggal, pemegang kartu sehat dan pada masyarakat yang berpenghasilan rendah. 8. Sasaran pemberian Tablet Fe a. Ibu Hamil sampai Masa Nifas. Dalam hal ini Ibu Hamil mendapat prioritas utama karena kelompok ini mempunyai prevalensi anemia yang tertinggi yaitu 63,5%. Juga kelompok ini yang

paling rentan, karena anemia dapat membahayakan ibu dan bayinya. Sedangkan ibu nifas yang memerlukan besi yang cukup dalam ASI-nya untuk diberikan pada bayinya, tidak diberikan secara tersendiri, karena pemberian pada masa kehamilan sudah dianggap cukup. Pada ibu hamil yang pemberian Fe 1 pada trimester III, dapat diteruskan sampai Fe 3 pada masa nifas. b. Balita ( 6 60 bulan ). Balita memerlukan konsumsi besi yang cukup untuk proses tumbuh kembangnya, disamping itu prevalensi anemia pada balita juga tinggi (55,5%). Oleh karena itu, kelompok ini perlu mendapat prioritas juga. c. Anak Usia Sekolah ( 6 12 tahun ). Prevalensi anemia pada kelompok ini juga relatif tinggi ( 24 35% ). Disamping itu kelompok ini mempunyai aktivitas fisik yang cukup tinggi dan masih dalam proses belajar. Dengan demikian untuk mendapatkan kondisi yang prima guna meningkatkan prestasi belajarnya diperlukan kadar Hb yang normal. d. Remaja Puteri ( 12 18 tahun ) dan Wanita Usia Subur (WUS). Dengan pemberian tablet besi pada kelompok ini, yang mendekati masa perkawinannya akan berguna bagi mereka untuk mempersiapkan masa kehamilannya selain bermanfaat untuk meningkatkan prestasi belajar dan kerjanya. 9. Dosis Dan Cara Pemberian a. Dosis Pencegahan Diberikan kepada kelompok sasaran tanpa pemeriksaan kadar Hb. Ibu Hamil sampai Masa Nifas Sehari 1 tablet berturut-turut selama minimal 90 hari masa kehamilannya sampai 42 hari setelah melahirkan. Pemberian mulai pada waktu pertama kali ibu hamil memeriksakan kehamilan (K1). Balita 6 12 bulan : sehari sendok takar berturut-turut selama 60 hr, balita 12 60 bulan : sehari 1 sendok takar berturut-turut selama 60 hr Anak Usia Sekolah (6 12 tahun) sehari tablet 2 kali seminggu selama 3 bulan. Remaja Puteri dan WUS sehari 1 tablet selama 10 hari pada waktu haid. b. Dosisi Pengobatan Diberikan pada sasaran yang anemia (kadar Hb kurang dari batas ambang). 1) Ibu Hamil sampai Masa Nifas Bila kadar Hb < 11 gr% pemberian menjadi 3 tablet sehari selama 90 hari pada kehamilannya sampai 42 hari setelah melahirkan. 2) Balita Bila kadar Hb < 11 gr% pemberian menjadi : 6 12 bulan : 3 x sendok takar selama 60 hari. 12 60 bulan : 3 x 1 sendok takar selama 60 hari. 3) Anak Usia Sekolah

Bila kadar Hb < 12 gr% pemberian menjadi 3 x tablet seminggu 2 kali selama 3 bulan. 4) Remaja Puteri dan WUS Bila kadar Hb < 12 gr% pemberian 3 tablet sehari selama 10 hari pada waktu haid. Tabel cara pemberian zat besi pada tiap kelompok sasaran Kelompok Ibu Hamil Bayi Anak Balita sasaran sampai Masa (612 bln) (12-60 bln) Nifas Saat/waktu pemberian Setiap hari minimal 90 hari Setiap hari selama 60 hari 2 kali/mg selama 60 hari

Anak Usia Sekolah (6-12 th) 2 kali/mg selama 90 hari 1 x tablet

WUS Remaja Puteri (12-18 th) 1 kali/mg selama 16mg 1 x 1 tablet

Dosis pencegahan Dosis pengobatan

1 x 1 tablet

1 x sendok takar 3 x sendok takar

1 x 1 sendok takar 3 x 1 sendok takar

3 x 1 tablet

3 x tablet

1 x 1 tablet

BAB III PERMASALAHAN

Sasaran pemberian Vitamin A dan Fe pada ibu nifas di Provinsi Nusa Tenggara Barat adalah sebesar 90 %. Pada bulan April 2012 dilakukan rekapitulasi target pencapaian pemberian Vitamin A dan Tablet Fe yaitu sebagai berikut : Table Rekapitulasi Pencapaian Sasaran Pemberian Vitamin A dan Tablet Fe pada wilayah Puskesmas Ubung DahuDaJshfDeJaDuDrJ DahuDaJshfDeJaDuDrJTDplsrJ halDuJ DaesrJT J AIrDaIaJV J sseI aseD DeDaDaJ shlDaJ shlDaJ shlDaJ J shfDe J iaI fhahlDrIf % fhahlDrIf % iaI iaI gphae J 742 J 72 52 27 74.45 52 27 74.45 slDarIa J 752 J 77 52 25 00.37 52 25 00.37 tosayr J 553 J 50 2 70 75.53 2 70 75.53 sDrhJThlIe J 22 J 53 53 03 42.42 53 03 42.42 aDphlID J 702 J 74 74 530 40.30 74 530 40.30 J halDu J 323 J 22 J 24 734 07.33 J 24 734 07.33 Dari table di atas diketahui bahwa untuk wilayah desa Ubung dan desa Nyerot kurang dalam pencapaian target sampai bulan April yang sebesar 30%, yaitu masing-masing sebesar 24,41% dan 21,10%. Sedangkan untuk desa lain sudah mencapai target. Menurut sumber diketahui bahwa penetapan target sasaran ibu nifas di wilayah Puskesmas Ubung ditentukan oleh Dinas Kesehatan Kabupaten Lombok Tengah. Untuk wilayah Nyerot yang luas wilayahnya tidak sebesar desa lain, serta ibu melahirkan tidak sebanyak dari desa lain, maka untuk target bulanan maupun tahunan tidak tercapai. Sedangkan wilayah Ubung dari data yang ada diketahui bahwa untuk sampai bulan ini angka abortus cukup tinggi dibanding desa lain sehingga tidak tercapai target sampai bulan ini.

BAB IV EVALUASI PERMASALAHAN

Secara umum, program pemberian vitamin A dan tablet Fe pada ibu nifas di wilayah puskesmas Ubung telah berjalan dengan baik. Hal ini diketahui dari angka kunjungan ibu nifas dan yang telah diberikan Vitamin A dan tablet Fe telah mencapai target yang telah ditetapkan oleh Dinas Kesehatan Kabupaten Lombok Tengah yaitu untuk bulan April sebesar 30% dari target selama tahun 2012, dimana selama bulan April pencapaian target sasaran untuk wilayah Puskesmas Ubung sebesar 32,88%. Tetapi ada 2 desa yang masih tidak mencapai target yang ditentukan tiap bulannya yaitu desa Ubung dan desa Nyerot. Untuk desa Nyerot tidak mencapai target karena jumlah ibu melahirkan memang sedikit, tidak seperti desa lain. Untuk desa ini perlu evaluasi dari Dinkes Kabupaten Lombok Tengah tentang penetapan target sasaran tiap tahunnya untuk ibu nifas karena pada tahun yang lalu juga tidak mencapai target. Walaupun semua ibu yang melahirkan baik di bidan maupun di dukun akan selalu di rujuk ke bidan setempat untuk diberikan vitamin A maupun Tablet Fe. Untuk wilayah ubung tidak mencapai target karena angka abortus dalam sampai bulan April cukup tinggi yaitu sampai 5 kasus. Dan juga di wilayah Ubung ini angka anemia pada ibu hamil cukup tinggi, sampai bulan April ini terdapat 20 kasus ibu hamil dengan anemia atau sebanyak 39,22%, cukup tinggi dibandingkan dengan desa lain yaitu 10-22%. Anemia pada ibu hamil juga dapat menyebabkan abortus. Selain itu tidak tercapainya target kunjungan ibu nifas juga disebabkan karena beberapa ibu hamil yang pindah ke daerah lain sehingga tidak melahirkan di wilayah dimana dahulu melakukan ANC pertama. Walaupun untuk bulan ini target puskesmas sudah tercapai, tetapi tingkat kepatuhan ibu untuk meminum tablet Fe khususnya sampai habis belum ada datanya, sehingga tidak diketahui apakah ibu meminum Fe sampai tablet habis.

BAB V KESIMPULAN DAN SARAN A. Kesimpulan 1. Dalam masa nifas diperlukan suatu asuhan yang bertujuan untuk menjaga kesehatan ibu dan bayinya, baik fisik maupun psikologis serta memberikan pendidikan kesehatan tentang perawatan kesehatan diri, nutrisi, KB, menyusui, pemberian imunisasi kepada bayinya dan perawatan bayi sehat. 2. Manfaat Kapsul Vitamin A pada Ibu Nifas antaralain meningkatkan kandungan vitamin A dalam ASI, bayi lebih kebal dan jarang terserang penyakit infeksi, dan kesehatan ibu cepat pulih setelah melahirkan. 3. Pemberian 2 kapsul vitamin A (200.000) warna merah diharapkan dapat menambah kandungan vitamin A dalam ASI sampai bayi usia 6 bulan. ASI eksklusif 6 bulan 4. Ibu Hamil mendapat prioritas utama pemberian Fe karena kelompok ini mempunyai prevalensi anemia yang tertinggi yaitu 63,5%. 5. Ibu nifas yang memerlukan besi yang cukup dalam ASI-nya untuk diberikan pada bayinya, tidak diberikan secara tersendiri, karena pemberian pada masa kehamilan sudah dianggap cukup. Pada ibu hamil yang pemberian Fe 1 pada trimester III, dapat diteruskan sampai Fe 3 pada masa nifas. 6. Pemberian Vitamin A dan tablet Fe di wilayah Puskesmas Ubung sudah mencapai 7. Target yang ditetapkan yaitu 90%. 8. Beberapa desa yang tidak mencapai target disebabkan karena beberapa factor B. Saran 1. Melakukan feedback ke Dinkes Lombok Tengah untuk memberikan sedikit perubahan pada beberapa desa tentang target sasaran yang ditetapkan sehingga bisa sesuai target pencapaian pada tahun berikutnya. 2. Melakukan pencarian informasi mengenai penyebab tingginya abortus dan anemia di desa Ubung 3. Melakukan penyuluhan mengenai cara menjaga kehamilan muda, termasuk mengenai gizi pada ibu hamil 4. Melakukan follow up pasien yang diberikan tablet Fe apakah benar-benar di minum sampai habis atau tidak.

DAFTAR PUSTAKA Dinkes. Prop. DIY. 2008. Anemia Gizi Besi Dalam Pedoman Kerja Petugas Gizi Puskesmas. Jogjakarta Kemenkes RI. 2010. Rapor Hijau Untuk Kementerian Kesehatan. Dalam Mediakom. Ed. XXII. Jakarta Kemenkes RI. 2010. Rencana Aksi Pembinaan Gizi Masyarakat 2010--2014. Dirjen Bina Kesehatan Masyarakat. Jakarta Supriyana. D. 2009. Anemia Gizi Dalam Pembinaan Petugas Kesehatan Puskesmas. Bambanglipuro. Bantul. Disampaikan 29 Desember 2009 Alm Atsier, Sunita, Prinsip Dasar Ilmu Gizi / Sunita Almatsier. Jakarta : Gremedia Pustaka Utama, 2001 Departemen Kesehatan RI, 2005, Rencana Aksi Nasional Pencegahan dan Penanggulangan Gizi Buruk. Pemerintah RI Bekerjasama dengan WHO, 2000, Rencana Aksi Pan-gan dan Gizi Nasional 2001-2005. Badan Perencanaan Pembangunan Daerah Kabupaten Humbang Hasundutan (Bappeda_), 2005, Humbang Hasundutan Menuju Ka-wasan Agropolitan. Soekirman, 2001, Perlu Paradigma baru untuk menanggulangi ma-salah gizi makro di Indonesia, dalam http:// www.gizi.net, diakses tanggal 22 Mei 2006. Departemen Kesehatan R I, 2000, Buku Panduan Pengelolaan Pro-gram Perbaikan Gizi Kabupaten/Kota.