Anda di halaman 1dari 1

arsitektur

REPUBLIKA AHAD, 28 FEBRUARI 2010

B4

Grande Mosquee de Paris


Inspirasi dari Al-Hambra
Nidia Zuraya/Rosyid Nurul Hakim

G
Masjid ini merupakan ungkapan te-rima kasih Pemerintah Prancis atas peran umat Islam saat Perang Dunia I.

rande Mosquee de Paris atau Masjid Raya Paris adalah masjid pertama yang dibangun di Prancis dan merupakan masjid terbesar di negara Eropa Barat tersebut. Masjid ini didirikan setelah berakhirnya Perang Dunia I sebagai tanda terima kasih Prancis kepada komunitas Muslim di sana yang ikut melawan pasukan Jerman dalam sebuah pertempuran yang berlangsung di daerah perbukitan utara Kota Verdun-sur-Meuse di wilayah bagian utara-timur Prancis pada 1916. Dalam peperangan tersebut, sekitar 100 ribu tentara Muslim tewas. Seluruh pendanaan masjid yang dibangun di lokasi bekas Rumah Sakit Mercy ini disediakan oleh Pemerintah Prancis. Peletakan batu pertama dilakukan pada 1922. Pada 15 Juli 1926, bangunan Grande Mosquee de Paris diresmikan secara simbolis oleh presiden Prancis saat itu Gaston Doumergue. Ahmad al-Alawi (1869-1934), seorang tokoh sufi berdarah Aljazair, ditunjuk sebagai imam shalat pertama sebagai pertanda diresmikannya masjid baru di Kota Paris di hadapan presiden Doumergue. Imam Masjid Raya Paris saat ini dijabat oleh Mufti Dalil Boubakeur yang juga merupakan presiden Dewan Muslim Prancis. Dibangun di atas lahan seluas satu hektare di daerah komunitas Latin (distrik kelima di Paris), Masjid Raya Paris memperlihatkan keagungan sebuah bangunan Islam yang ditunjukkan lewat desain arsitektur dan mozaik-mozaiknya. Masjid itu memperlihatkan aspek klasik dan perkembangan peradaban seni Islam serta bentuk ajaran yang sangat toleran dan jelas dari agama dan budaya Islam. Inspirasi Alhambra Bangunan Grande Mosquee de Paris terinspirasi oleh Masjid Alhambra di Spanyol. Karena itu, jika menilik lebih jauh setiap detail bangunannya, sarat dengan gaya arsitektur Alhambra yang banyak mengadopsi arsitektur bangsa Moor. Untuk mempertegas gaya Moor, Pemerintah Prancis memerintahkan sejumlah seniman asal Afrika Utara untuk mendesain Grande Mosquee de Paris. Komunitas Muslim yang bermukim di Kota Paris pada masa itu merupakan para imigran asal Afrika Utara. Masjid dengan gaya Spanyol-Maroko itu memiliki menara setinggi 33 meter. Dari atas menara inilah, suara azan berkumandang memanggil orang-orang untuk menunaikan shalat lima waktu. Suaranya membahana di keempat penjuru langit Prancis. Menara yang berbentuk segi empat dan dilapisi keramik hijau toska ini meng-

WIKIMEDIA

adopsi kaidah Mazhab Maliki. Pada keramik-keramik tersebut, dapat dilihat kerumitan tatanan dinding yang berwarna abu-abu. Di dalam bangunan menara, terdapat sebuah tangga menuju bagian puncak menara. Dari kejauhan, bentuk menara ini mirip dengan menara Masjid Hassan II di Casablanca, Maroko. Untuk menuju ke dalam kompleks Masjid Raya Paris, pengunjung harus melalui pintu gerbang utama. Setelah melewati pintu gerbang ini, pengunjung akan melihat sebuah lapangan yang cukup luas. Di tengah-tengah lapangan, terdapat sebuah sumur. Tidak jauh dari sumur tersebut, terdapat sebuah bangunan yang pada masa awal berdirinya masjid ini merupakan tempat pemandian umum (hammam) bagi orang-orang Muslim Maroko. Keberadaan bangunan hammam ini merupakan salah satu ciri khas dari kompleks bangunan masjid pada masa kejayaan Islam. Untuk melihat-lihat bagian dalam hammam ini, pengunjung terlebih dahulu harus turun ke jalan Quatrefages, lalu berbelok ke kiri. Di jalan Geoffroy SaintHilaire, akan ditemukan sebuah pintu masuk ke bangunan ini. Di dalamnya, terdapat sejumlah perabotan bernuansa oriental yang memang terbuka untuk masyarakat umum yang ingin melihatnya. Bagian lain dari kompleks Masjid Raya Paris yang sangat menarik untuk dikunjungi adalah La Cour dHonneur yang merupakan sebuah halaman luas yang juga difungsikan sebagai ruang pertemuan utama. Untuk menuju La Cour dHonneur ini, pengunjung harus melewati pintu besar yang terbuat dari kayu oak yang bertatahkan perunggu dengan mozaik yang terbuat dari kayu ekaliptus dan hiasan koral. Taman yang terdapat pada La Cour dHonneur ini terinspirasi dari desain taman bergaya Spanyol-Maroko dan taman yang terdapat di rumah-rumah bangsawan Afrika Utara. Ketika masuk ke tempat tersebut, seorang pengunjung akan menemukan taman bercorak Andalusia, lengkap dengan keran-keran air.

Tampak pula teras-teras yang dilapisi marmer hitam, kolam berikut air mancurnya, beranda, dan beberapa keran air yang sewaktu-waktu akan menyemprotkan air di antara bunga-bunga yang tumbuh di halaman. Di bagian kiri, terdapat sebuah ruang pertemuan utama yang diapit oleh dua paviliun. Ruang pertemuan utama ini biasanya digunakan untuk berbagai macam pertemuan dan tempat memberikan kuliah bahasa Arab. Bangunan ini juga mencakup ruang-ruang perkantoran dan perpustakaan yang dikhususkan untuk Lembaga Agama Islam. Di sebelah kanan ruang pertemuan utama, terdapat sebuah tembok besar berwarna putih yang menaungi pintu masuk utama ke sebuah ruang terbuka (patio) yang menuju ruang shalat. Melalui pintu ini, kita dapat melihat sebuah ruangan yang luas dengan sebuah peristyle yang dikelilingi oleh pilar-pilar bergaya Spanyol-Maroko yang menjulang tinggi, seperti yang terdapat pada bangunan Alhambra. Bagian lantai dari ruangan ini merupakan plesteran yang bahannya campuran dari marmer dan batu kapur. Pintu masuk utama ke patio mengingatkan kita pada karya seni Maroko. Hiasan dari batu berukiran memperlihatkan corak kaligrafi yang banyak digunakan sebagai tulisan pada abad ke-13. Bagian atap pintu terbuat dari kayu pohon cedar yang diukir oleh seniman Maroko. Daun pintunya terbuat dari kayu pohon walnut yang sama persis seperti bangunan-bangunan pertama berarsitektur Islam abad ke-14. Di bagian dalam patio ini, terdapat sebuah selasar yang mengelilingi sebuah taman yang kerindangan pepohonannya mampu mengajak pengunjung untuk bermeditasi. Sebuah air mancur dan vas marmer raksasa dengan keran untuk berwudhu terdapat di bagian dalam ini. Pengunjung juga akan melewati beberapa tangga marmer, dekorasi tembok, dan lukisan sederhana yang terlihat kontras dengan arsitektur Arab klasik. Pintu yang menghubungkan bagian dalam dengan bagian luar patio ini terbuat dari kayu pohon ek yang dipahat dengan pola mozaik terukir di atasnya. Potongan-potongan mozaik ini disesuaikan dengan sempurna sehingga menghasilkan perpaduan warna yang memikat (merah marun dan hijau giok), bintangbintang merah, serta dua dekorasi melintang paralel. Dekorasi pertama menunjukkan karakter potongan Arab di atas plakat berwarna senja yang didatangkan khusus dari Cina. Plakat tersebut berbentuk lingkaran penuh dan tampak bersinar. Dekorasi ini dipadukan dengan puisi karya seniman Tunisia, Jalaleddine En-Nakache. Konstruksi Masjid Raya Paris dan ke-

agungan Tuhan-lah yang menginspirasi para donatur dan seniman yang membuat karya tersebut. Tulisan-tulisan yang terdapat pada bagian dinding itu mengelilingi seluruh ruangan. Sementara itu, dekorasi kedua jauh lebih ringan, hanya terdiri atas lukisan-lukisan dinding bercorak kaligrafi Arab, bunga-bunga, dan mozaik-mozaik. Seniman Maroko Semua dekorasi tersebut tercipta berkat kerja keras para seniman asal Maroko. Mereka-lah yang menyelesaikan bingkai dari bahan plesteran, memotong setiap detail potongan mozaik dengan pisau, serta selalu sabar dan teliti dalam menyelesaikan tugasnya. Kita bisa membuktikan ini dari hasil yang mereka tunjukkan. Pahatan yang ada memperlihatkan bagaimana pandangan dan kepekaan dari seniman-seniman tersebut. Pilihan bahan-bahan dan warna yang dihasilkan mampu menciptakan suatu harmonisasi yang enak untuk dilihat. Pengunjung juga bisa menilai ketelitian mereka dari 7 ribu potongan tegel yang terbuat dari batu kapur dan disusun meter per meter membentuk pola mozaik. Keindahan karya para seniman Maroko ini juga bisa kita lihat pada bagian plafon dan lantai. Plafon yang terbuat dari kayu cedar disusun dengan rapi yang dipadu dengan lantai dari marmer putih. Perpaduan ini menunjukkan sebuah tradisi yang anggun. Bagian lain dari kompleks Masjid Raya Paris yang tidak boleh dilewatkan adalah ruangan shalat. Untuk menuju ruang shalat, harus melalui sebuah pintu yang terbuat dari puluhan potongan kayu yang sudah dipahat. Ruangan shalat ini dihiasi dengan jendela-jendela berteralis. Pada bagian depan, akan tampak sebuah dekorasi rapi bertuliskan mihrab yang menjadi arah kiblat. Di bagian tengah ruangan yang luas itu, tampak beberapa tiang yang menopang kubah dari kayu cedar yang merupakan hasil pahatan tangan. Tiangtiang tersebut membentuk formasi segi delapan. Di dalam ruang shalat ini, terdapat dua buah mimbar untuk tempat imam berkhotbah di hari Jumat atau hari raya Islam. Mimbar pertama yang terbuat dari kayu berkualitas bagus merupakan pemberian Raja Fuad pertama dari Mesir. Mimbar yang lain adalah hasil pemberian Raja Son Altesse Lamine Bey dari Tunisia. Ini merupakan mimbar terbaik dari masjid di kerajaannya. Ketika memasuki ruangan shalat, para pengunjung akan melihat hamparan karpet yang indah berukuran 7,64x4,37 meter. Karpet tersebut merupakan pemberian Raja Iran, Shah Reza Pahlevi. Dibuat di Djanchaghan, karpet ini merupakan karya seni Persia. berbagai sumber ed: sya

LINTERNAUTE.COM

Tempat Persembunyian Orang-orang Yahudi

aat bangunan Grande Mosque de Paris telah resmi digunakan, masyarakat dunia baru saja pulih dari trauma Perang Dunia I yang berlangsung dari 1914 hingga 1918. Kendati pihak Jerman mengalami kekalahan pada perang tersebut, pada babak berikutnya justru bangkit dan tumbuh menjadi sebuah kekuatan baru di kancah internasional. Melalui gerakan Nazi, pemimpin Jerman, Adolf Hitler, kembali berusaha menancapkan kekuasaan dan pengaruhnya di dunia internasional melalui propaganda-propaganda yang dilancarkannya. Salah satu propaganda yang dilancarkan Nazi adalah menyebarluaskan kebencian terhadap Yahudi. Karena itu, ketika pecah Perang Dunia II, bangsa Yahudi pada masa itu hidup di bawah bayang-bayang ketakutan. Para tentara Jerman Nazi tidak segan-segan membunuh orangorang Yahudi yang mereka jumpai yang dikenal

dengan nama Holocaust. Bahkan, beberapa sumber sejarah menyebutkan, untuk menjalankan aksinya ini, para tentara Nazi mengumpulkan orang-orang Yahudi yang berhasil mereka tangkap di sebuah kamp konsentrasi untuk kemudian dibunuh secara massal. Grande Mosque de Paris menjadi saksi bisu sejarah kelam bangsa Yahudi ini. Dalam buku berjudul The Mosque That Sheltered Jews, sang penulisnya Annette Herskovits mengungkapkan bagaimana umat Islam di Prancis selama Perang Dunia II membantu ratusan orang Yahudi yang kebanyakan anakanak. Mereka melarikan diri dari Nazi. Herskovits sendiri merupakan anak dari korban tindakan Holocaust tentara Nazi. Kisah mengenai ini ia temukan dalam sebuah dokumen tua. Dalam tulisannya, Herskovits menceritakan bahwa komunitas Muslim di Prancis yang seba-

gian besar keturunan Aljazair telah menyembunyikan sekitar 1700 orang asing. Sebagian besar adalah Yahudi dari kamp-kamp pembantaian Nazi. Mereka di-sembunyikan di dalam sebuah bangunan masjid yang berada di pusat Kota Paris. Masjid tersebut digambarkan memiliki menara yang tinggi dan sebuah taman yang indah. Herskovits juga menceritakan bahwa imam masjid saat itu, Si Kaddour Benghabrit, telah membantu orang-orang Yahudi mendapatkan sejumlah dokumen palsu, seperti sertifikat identitas sebagai Muslim, akta kelahiran, hingga surat nikah. Sang imam juga benarbenar menyembunyikan mereka di masjid dan di rumah-rumah yang ada di lingkungan sekitar bangunan masjid. Bahkan, ia tidak segan untuk membantu mereka melarikan diri dengan cara menyusuri Sungai Seine dan menumpang kapal kargo.
nidia/berbagai sumber ed: sya
A7.IDATA.OVER.BLOG.COM