Anda di halaman 1dari 26

PENGARUH PERPUTARAN PIUTANG DAN PENGUMPULAN PIUTANG TERHADAP TINGKAT LIKUIDITAS PADA INDUSTRI BARANG KONSUMSI YANG TERDAFTAR

DI BURSA EFEK INDONESIA (TUGAS METODOLOGI PENELITIAN) Diajukan untuk memenuhi tugas Metodelogi Penelitian

Diajukan oleh: SUGIARTI 22109041/Semester VI Ganjil

FAKULTAS EKONOMI PROGRAM STUDI AKUNTANSI UNIVERSITAS BATAM 2012

DAFTAR ISI

Halaman HALAMAN JUDUL DAFTAR ISI BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah 1.2 Identifikasi Masalah .. 1.3 Batasan Masalah 1.4 Rumusan Masalah . 1.5 Tujuan dan Manfaat Penelitian BAB II LANDASAN TEORI 2.1 Uraian Teori . 2.1.1 Likuiditas ......... 2.1.2 Piutang . 2.1.3 Tingkat Perputaran Piutang . 2.1.4 Tingkat Pengumpulan Piutang . 2.2 Kerangka Konseptual 2.2.1 Pengaruh Perputaran Piutang terhadap likuiditas 2.2.2 Pengaruh Pengumpulan Piutang terhadap likuiditas 2.2.3 Pengaruh Perputaran Piutang dan Pengumpulan Piutang terhadap likuiditas . 2.3 Hipotesis .. 14 15 i ii 1 1 6 6 6 7 9 9 9 9 10 11 13 13 14

BAB III METODELOGI PENELITIAN .. 3.1 Jenis Penelitian .. 3.2 Definisi Operasional Variabel 3.2.1 Variabel Perputaran Piutang (X1) 3.2.2 Variabel Pengumpulan Piutang (X2) 3.2.3 Variabel Likuiditas (Y) .. 3.3 Populasi dan Sampel Penelitian 3.3.1 Populasi ... 3.3.2 Sampel . 3.4 Jenis dan Sumber Data .. 3.4.1 Jenis Data. 3.4.2 Sumber Data 3.5 Teknik Pengumpulan Data . 3.6 Teknik Analisis Data . 3.6.1 Analisi Regresi Berganda 3.6.2 Uji Asumsi Klasik 3.6.3 Uji Hipotesis .... DAFTAR PUSTAKA .

16 16 16 16 16 17 17 17 17 18 18 18 19 19 19 20 22 23

BAB I PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang Masalah Sejalan dengan perkembangan pertumbuhan ekonomi pada dekade terakhir ini menunjukan kemajuan sangat pesat, sebuah perusahaan didirikan harus memiliki suatu tujuan agar dapat membuat perusahaan hidup dalam jangka panjang, artinya perusahaan harus mempertahankan kelangsungan hidupnya melalui pencapaian tujuan. Salah satu cara untuk menilai baik-buruknya kinerja suatu perusahaan adalah dengan melihat tingkat likuiditas perusahaan tersebut. Semakin tinggi tingkat likuiditas perusahaan ini berarti semakin besar kemampuan perusahaan untuk memenuhi kewajiban financial jangka pendek. Likuiditas merupakan kemampuan suatu perusahaan memenuhi kewajiban-kewajiban keuangan jangka pendek atau yang harus segara dibayar. Masalah likuiditas merupakan salah satu masalah penting dalam suatu perusahaan yang relatif sulit dipecahkan. Dipandang dari sisi kreditur, perusahaan yang memiliki likuiditas yang tinggi merupakan perusahaan yang baik, karena dana jangka pendek kreditur yang dipinjam perusahaan dapat dijamin oleh aktiva lancar yang jumlah relatif banyak. Jika dipandang dari sisi manajemen perusahaan yang memiliki likuiditas yang tinggi menunjukan adanya saldo kas yang menganggur, persediaan yang relatif berlebihan atau

karena kebijakan kredit perusahaan yang tidak baik sehingga mengakibatkan tingginya piutang usaha. Pengungkapan tingkat likuiditas antra rendah dan tinggi dipengaruhi oleh tingkat perputaran modal kerja pada suatu sistem operasi perusahaaan, secara sederhana dapat dijelaskan bahwa perusahaan memiliki alat likuid berupa kas dan surat-surat berharga. Dengan alat likuid ini perusahaan membeli bahan mentah, bahan mentah kemudian diproses melalui proses produksi menjadi barang jadi. Barang jadi kemudian dijual, baik secara tunai maupun kredit. Dengan adanya persaingan usaha yang semakin ketat sekarang ini, maka perusahaan dituntut untuk melakukan kebijakan-kebijakan yang dapat menguntungkan perusahaan dalam rangka mempertahankan kelangsungan hidup perusahaan dan menghasilkan laba atau keuntungan semaksimal mungkin, maka perusahaan memiliki banyak alternative untuk melakukan kegiatan usahanya agar dapat berjalan dan salah satunya adalah dengan

melakukan penjualan secara kredit produk atau jasa yang ditawarkan. Penjualan secara kredit artinya pelanggan tidak langsung membayar produk yang diberikan oleh perusahan tetapi pembayaran dilakukan beberapa waktu setelah penerimaan produknya. Penjualan secara kredit tidak akan menghasilkan kas pada saat terjadi penjualan, tetapi menimbulkan perkiraan dalam bentuk piutang dagang. Piutang dagang akan berubah menjadi kas pada saat piutang dagang itu telah dilunasi yaitu pada saat piutang tersebut jatuh tempo. Pembayaran piutang yang diterima dikemudian hari akan menimbulkan

rediko bagi perusahaan, baik resiko dibayarnya piutang yang terlambat sampai resiko tidak dibayarnya piutang. Jika resiko tersebut terlambat atau tidak dibayar maka angka perputaran piutang akan rendah yang menyebabkan aktivitas perusahaan tergangu dan akhirnya di dalam pencapaian tujuan perusahaan menjadi tergangu pula. Pada umumnya perusahaan lebih menyukai penjualan dalam bentuk tunai karena dengan penjualan tunai relative tidak memiliki resiko tidak tertagihnya hasil penjualan tetapi dengan melakukan penjualan secara kredit berargti resiko tidak tergagihnya kemungkinan besar dapat terjadi. Tetapi karena ketatnya persaingan dengan perusahaan lain, maka perusahaan mau tidak mau harus melakukan penjualan dalam bentuk kredit agar dapat memenangi persaingan pasar yang semakin ketat. Penjualan kredit yang dilakukan oleh suatu perusahaan dapat mempengaruhi tingkat likuiditas perusahaan tersebut, karena hasil dari penjualan kredit ini akan menghasilkan piutang usaha yang merupakan bagian dari aktiva lancar dan perubahan pada aktiva lancar dapat mempengaruhi tingkat likuiditas perusahaan karena terlunasinya piutang usaha maka akan menambah kas sehingga perusahaan dapat membayar kewajiban jangka pendeknya. Sehingga likuiditas itu sendiri dapat diartikan sebagai kemampuan suatu perusahaan untuk memenuhi kewajiban finansialnya yang harus segera dipenuhi. Jika jumlah piutang suatu perusahaan meningkat maka di satu sisi tingkat likuiditas akan naik yang diakibatkan meningkatnya pos aktiva lancar pada neraca perusahaan. Sebaliknya jika jumlah piutang turun maka di satu sisi

tingkat likuiditas akan turun yang diakibatkan menurunnya pos aktiva lancar pada perusahaan. Menurut Parlindungan Dongoran (2009) Perputaran piutang akan sangat berpengaruh bagi suatu perusahaan karena piutang merupakan salah satu komponen modal kerja yang cukup memungkinkan suatu perusahaan dalam melaksanakan aktivitas tidak mengalami kesulitan dan hambatan yang mungkin akan timbul. Tingginya tingkat perputaran piutang merupakan salah satu alat ukur yang dipergunakan untuk menyelesaikan masalah likuiditas perusahaan. Sedangkan Rahmat dan Nur (2008) mengatakan perputaran piutang yang tinggi maka kondisi modal yang ada akan semakin tinggi dan perusahaan dikatakan liquid. Apabila perputaran piutang rendah maka kondisi modal yang ada juga akan rendah sehingga dikatakan illiquid atau tidak liquid. Jadwal jatuh tempo akan mengarahkan perusahaan pada kondisi likuiditas perusahaan yang baik. Perusahaan harus benar-benar teliti di dalam menginvestasikan dana perusahaan dengan tujuan untuk menjaga likuiditas perusahaannya. Penelitian yang dilakukan oleh Dwi Aristianto (2002) mengenai pengaruh perputaran piutang dagang terhadap tingkat likuiditas dan rentabilitas pada PT. Metrodata Electronics Tbk mengemukakan bahwa hubungan antara perputaran piutang dagang dengan tingkat likuiditas memiliki hubungan positif dan lemah. Sedangkan hubungan antara perputaran piutang dagang dengan tingkat rentabilitas memilii hubungan yang negative dan lemah. Hal ini berdasarkandari hasil analisa korelasi untuk likuiditas membarikan hasil untuk

current ratio sebesar 0.1026 dan utnuk quick ratio sebesar 0.0809, berarti antara perputaran piutang dengan likuiditas mempunyai hubunan yang positif dan lemah. Kemudian Evy (2003) pada penelitiannya yang dilakuan pada PT. Sumalindo Lestari Jaya TBK periode 1997-2001 mengemukakan bahwa hasil penelitian menunjuakan hubungan korelasi antara account receivable turnover (tingkat perputaran piutang) dengan rasio likuiditas perusahaan (current ratio dan quick ratio) menunjukan r = -0,9267 dan r = -0,90, hasil ini menunjukan hubungan yang berlawanan arah atau negative dan kuat. Penelitian yang dilakukan penulis sendiri ini merupakan replikasi dari penelitian yang dilakukan oleh Rahmat Agus Santoso dan Mohammad Nur (2008). Dalam penelitiannya mereka mengemukakan bahwa secara parsial dan simultan perputaran piutang dan pengumpulan piutang mempunyai hubungan yang sangat signifikan terhadap likuiditas perusahaan CV. Bumi Sarana Jaya. Hal ini dapat dilihat dari hasil uji F yang memperoleh hasil Fo = 24,841 > F = 19,00 dan uji t yang menghasilkan sig. < 0,05 atau t table < t hitung. Berdasarkan uraian diatas, peniliti bertujuan meneliti kembali pengaruh antara perputaran piutang dan pengumpulan piutang terhadap likuiditas. Dalam penelitian ini menggunakan sampel dan tahun yang berbeda yaitu pada industry barang konsumsi yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia. Untuk itu peneliti membuat judul penelitian ini dengan judul : Pengaruh Perputaran

dan Pengumpulan Piutang Terhadap Tingkat Likuiditas Pada Industri Barang Konsumsi yang Terdaftar di Bursa Efek Indonesia 1.2 Identifikasi Masalah Berdasarkan uraian-uraian sebelumnya, maka masalah penelitiannya adalah: 1. Apakah terdapat pengaruh perputaran piutang terhadap tingkat likuiditas pada industri barang konsumsi di Bursa Efek Indonesia untuk periode 2007 s.d. 2011? 2. Apakah terdapat pengaruh pengumpulan piutang terhadap tingkat likuiditas pada industri barang konsumsi di Bursa Efek Indonesia untuk periode 2007 s.d. 2011? 3. Apakah perputaran piutang dan pengumpulan piutang secara simultan atau bersama-sama berpengaruh terhadap tingkat likuiditas pada industri barang konsumsi di Bursa Efek Indonesia untuk periode 2007 s.d. 2011? 1.3 Batasan Masalah Pada penelitian ini penulis hanya membatasi variabel-variabel penelitian pada variabel perputaran piutang dan pengumpulan piutang sebagai variabel independen serta rasio likuiditas yang menjadi variabel dependen dalam penelitian ini diwakili current ratio dengan mengambil sampel penelitian pada perusahaan manufaktur khususnya perusahaan industri barang konsumsi yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia untuk laporan keuangan periode 2007 s.d. 2011. 1.4 Rumusan Masalah

Berdasarkan batasan masalah diatas, maka perumusan masalah pada penelitian ini adalah: 1. Apakah perputaran piutang berpengaruh secara signifikan terhadap tingkat likuiditas? 2. Apakah pengumpulan piutang berpengaruh secara signifikan tingkat likuiditas? 3. Apakah perputaran piutang dan pengumpulan piutang secara simultan atau bersama-sama berpengaruh terhadap tingkat likuiditas? 1.5 Tujuan dan Manfaat Penelitian Berdasarkan rumusan masalah diatas, maka tujuan dari penelitian ini adalah: 1. Untuk mengetahui pengaruh perputaran piutang secara parsial terhadap tingkat likuiditas. 2. Untuk mengetahui pengaruh pengumpulan perputaran piutang secara parsial terhadap tingkat likuiditas. 3. Untuk mengetahui pengaruh perputaran piutang dan pengumpulan piutang secara simultan atau bersama-sama terhadap tingkat likuiditas. Dengan dilakukan penelitian ini diharapkan dapat bermanfaat dan berguna bagi seluruh pihak diantaranya adalah: 1. Bagi Penulis yaitu untuk memberikan tambahan pengetahuan dan menguji pengetahuan penulis yang telah didapatkan ketika kuliah untuk dapat diplikasikan dalam terhadap

menyusun sebuah penelitian dan mengolah data yang ada untuk mencapai hasil yang diharapkan. 2. Bagi Investor, Kreditor, dan Manajemen Perusahaan yaitu diharapkan dapat memberikan sumbangan pemikiran dalam mengambil keputusan untuk berinvestasi dan memberikan kredit kepada perusahaan. Dan bagi manajemen perusahaan penelitian ini dapat memberikan kontribusi praktis bagi perusahaan dalam pengambilan keputusan ekonomi yang tepat di masa yang akan datang. 3. Bagi Kalangan Akademik dan Praktisi yaitu manambah referensi bukti empiris sebagai rekomendasi penelitian yang dilakukan di masa yang akan datang dan menambah literatur mengenai aspek fundamental yang berhubungan dengan tingkat likuiditas.

BAB II LANDASAN TEORI

2.1 Uraian Teori 2.1.1 Likuiditas Menurut Nitisemito (1989); Riyanto (1997) dalam Parlindungan Dongoran (2009) Likuiditas adalah kemampuan perusahaan untuk memenuhi seluruh kewajibannya yang harus segera dibayar. Jadi likuiditas adalah menunjukan kemampuan perusahaan untuk melunasi hutang jangka pendek pada saat jatuh tempo. Likuiditas perusahaan ditunjukkan oleh besar kecilnya aktiva lancar yaitu aktiva yang mudah untuk diubah menjadi kas yang meliputi kas, surat berharga, piutang, dan persediaan. Dengan menggunakan laporan keuangan yang terdiri atas Neraca, Laporan Rugi-Laba, dan Laporan Perubahan Modal. Semakimn tinggi current ratio ini berarti semakin besar kemampuan perusahaan untuk memenuhi kewajiban financial jangka pendek. Aktiva lancar yang dimaksud termasuk kas, piutang, surat berharga, dan persediaan. Current rasio = aktiva lancar hutang lancar

2.1.2 Piutang Zaki Baridwan (2004:124) dalam Parlindungan Dongoran (2009) mengatakan bahwa piutang yang dimaksud adalah piutang yang timbul dari penjualan barang atau jasa yang dihasilkan perusahaan.

10

Piutang merupakan elemen modal kerja yang selaku dalam keadaan berputar secara terus menerus. Piutang adalah aktiva atau kekayaan perusahaan yang timbul sebagai akibat dari dilaksanakannya praktek penjualan kredit (Indriyo Gitosudarmo, 2002 cit. Parlindungan Dongoran, 2009). 2.1.3 Tingkat Perputaran Piutang Riyanto (2008); Gitosudarmo (2002) dalam Parlindungan Dongoran (2009) menyatakan piutang sebagai bagian dari komponen modal kerja yang selalu dalam keadaan berputar. Periode perputaran piutang dipengaruhi oleh panjang pendeknya kententuan yang disyaratkan dalam syarat pembayaran. Semakin lama terkaitnya modal kerja tersebut dalam piutang dan menandakan semakin kecil tingkat perputaran piutang dalam satu periode akan tetapi sebaliknya semakin pendek pembayaran kredit berarti semakin pendek terikatnya modal kerja sehingga tingkat perputaran piutang dalam satu periode semakin besar. Piutang yang dimiliki oleh suatu perusahaan mempunyai hubungan yang erat dengan volume penjualan kredit, karena timbulnya piutang disebabkan oleh penjualan barang-barang secara kredit dan hasil dari penjualan secra kredit netto dibagi dengan piutang rata-rata merupakan perputaran piutang. Dari kesimpulan di atas bahwa perputaran piutang itu ditentukan oleh dua faktor utama, yaitu penjualan kredit dan rata-rata piutang. Rata-rata piutang dapat diperoleh dengan cara menjumlahkan piutang awal periode dengan piutang akhir periode dibagi dua. Adakalanya angka penjualan kredit untuk

11

suatu periode tertentu tidak dapat diperoleh sehingga yang digunakan sebagai penjualan kredit adalah angka total penjualan. Perputaran piutang yang tinggi mencerminkan kualitas piutang yang semakin baik. Tinggi rendahnya perputaran piutang tergantung pada besar keceilnya modal yang diinvestasikan dalam piutang. Makin cepat perputaran piutang berarti cepat modal kembali. Tingkat perputaran piutang suatu perusahaan dapat menggambarkan tingka efisiensi modal perusahaan yang ditanamkan dalam piutang, sehingga makin tinggi perputaran piutang berarti semakin efisien modal yang digunakan. Untuk menghitung tingkat perputaran piutang maka dapat dirumuskan sebagai berikut: Rata-rata piutang =

piutang awal + piutang akhir 2 penjualan kredit piutang rata-rata

Perputaran piutang =

2.1.4 Tingkat Pengumpulan Piutang Selain perputaran piutang yang digunakan sebagai indikator terhadap efisien atau tidaknya piutang, ada indikator lain yang cukup penting yaitu jika waktu rata-rata pengumpulan piutang (average collection periode). Jangka waktu pengumpulan piutang adalah angka yang menunjukkan waktu rata-rata yang diperlukan untuk menagih piutang. (Munawir, 2004 cit. Muttaqin Hasyim 2009)

12

Syamsudin (2007) mengatakan bahwa pengumpulan piutang adalah merupakan prosedur yang harus diikuti dalam mengumpulkan piutang-piutang bilamana sudah jatuh tempo. Selanjutnya dijelaskan oleh Syamsudin (2007) ada beberapa teknik pengumpulan piutang yang biasa dilakukan perusahaan bila pelanggan belum membayar sampai dengan waktu yang telah ditentukan yaitu: 1. Melalui surat Bila mana waktu pembayaran utang dari pelanggan sudah lewat bebarapa hari tetapi belum juga dilakukan pembayaran maka perusahaan dapat mengirimkan surat dengan nada mengingatkan (menegur) langganan yang belum membayar tersebut bahwa hutangnya sudah jatuh tempo. 2. Melalui telepon Apabila sudah dikirimkan surat teguran ternyata belum juga dibayarkan. Maka bagian kredit dapat menelpon langganan dan secara pribadi memintanya untuk segera melakukan pembayaran. 3. Kunjungan Personal Teknik pengumpulan piutang dengan jalan melakukan kunjungan secara personal atau pribadi ke tempat langganan sering kali digunakan karena sangat efektif dalam usaha-usaha pengumpulan piutang. 4. Tindakan Yuridis Bilamana ternyata langganan tidak mampu membayar hutanghutangnya maka perusahaan dapat menggunakan tindakan-tindakan hukum dengan mengajukan gugatan perdata melalui pengadilan.

13

Maka untuk mengetahui tingkat pengumpulan piutang dapat dijabarkan dengan rumus ebagai berikut:

Periode pengumpulan piutang =

360 perputaran piutang

2.2 Kerangka Konseptual Pengaruh variable-variabel independen tehadap tingkat likuiditas sebagai variabel dependen dalam penelitian ini adalah: 2.2.1 Pengaruh Perputaran Piutang terhadap likuiditas Husnan (1998) dalam Rahmat dan Nur (2008) menyatakan bahwa perputaran piutang merupakan analisis untuk mengukur berapa cepat piutag tersebut dilunasi dalam satu tahun. Perputaran piutang tersebut ditentukan dengan penjualan kredit dibagi dengan piutang. Sartono (1997) dalam Rahmat dan Nur (2008) mengatakan bahwa kecepatan penerimaan hasil piutang dalam satu periode akan dapat mempengaruhi likuiditas perusahaan karena perputaran piutang lebih cepat dari yang diharapkan dan seberapa jauh piutang perusahaan bisa dipakai untuk memenuhi kewajiban jangka pendeknya. Piutang merupakan aktiva lancar yang paling likuid dibandingkan aktiva lancar yang lainnya, untuk merubah piutang menjadi kas memerlukan waktu yang lebih pendek. Semakin lambat dalam melakukan penagihan piutang maka akan dapat mempengaruhi perputaran piutang yang akan dapat memperkecil Cash Ratio perusahaan dan akan dapat memperlambat perusahaan dalam memenuhi kewajiban jangka pendeknya.

14

2.2.2 Pengaruh Pengumpulan Piutang terhadap likuiditas perusahaan Hunan (1998) dalam Rahmat dan Nur (2008) menyatakan bahwa pengumpulan piutang merupakan rata-rata hari yang diperlukan untuk merubah piutang menjadi kas. Pengumpulan piutang merupakan piutang rata-rata dibagi penjualan kredit. Hal ini apabila piutang awal tahun sangat rendah dibandingkan piutang akhir tahun. Abdullah (2005) dalam Rahmat dan Nur 2008) mengatakan bahwa dalam pengumpulan piutang dalam periode 360 hari akan dapat mengetahui efisiensi dana yang tertanam dalam piutang yang akan dapat mempengaruhi likuiditas kewajiban jangka pendek. 2.2.3 Pengaruh Perputaran Piutang dan Pengumpulan Piutang secara simultan terhadap likuiditas perusahaan Sartono (1997) dalam Rahmat dan Nur (2008) mengatakan bahwa pengumpulan piutang dan perputaran piutang keduanya saling berhubungan dan sangat mempengaruhi likuiditas perusahaan. Dalam pengumpulan piutang yang periodenya terlalu tinggi berarti kebijakan kredit terlalu bebas, akibatnya investas dalam piutang menjadi terlalu besar serta keuntungan akan menurun. Periode pengumpulan piutang terlalu pendek berarti kebijakan kredit terlalu ketat maka kemungkinan perusahaan akan memperoleh keuntungan. Untuk itu standar kredit perlu diperlonggar agar pemenuhan kewajiban jangka pendek akan tepat pada waktunya. Kerangka konseptual penelitian ini tampak seperti bagan dibawah ini: Perputaran Piutang (X1)

Likuiditas (Y)

15

Pengumpulan Piutang (X2)

Variabel Independen 2.3 Hipotesis

Variabel Dependen

Adapun hipotesis yang penulis ajukan dalam permasalah ini adalah sebagi berikut: 1. Perputaran piutang berpengaruh signifikan terhadap likuiditas. 2. Pengumpulan piutang berpengaruh signifikan terhadap likuiditas. 3. Perputaran dan pengumpulan piutang berpengaruh signifikan terhadap likuiditas.

BAB III METODELOGI PENELITIAN

16

3.1 Jenis Penelitian Jenis penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah analisis data kuantitatif yaitu: yakni menguji dan menganalisis data dengan perhitungan angka-angka dan kemudian menarik kesimpulan dari pengujian tersebut (Rumengan,2010) 3.2 Definisi Operasional Variabel Untuk memperoleh gambaran awal tentang masalah yang diteliti maka definisi operasional yang digunakan dan dibahas adalah sebagai berikut: 3.2.1Variabel Perputaran Piutang (X1) Perputaran piutang adalah rasio perbandingan antara penjualan kredit dengan piutang rata-rata dengan tujuan untuk mengetahui kecepatan penerimaan hasil piutang dalam suatu periode serta pengukurannya menggunakan satuan ukur beberapa kali. 3.2.2Variabel Pengumpulan Piutang (X2) Selain perputaran piutang yang digunakan sebagai indikator terhadap efisien atau tidaknya piutang, ada indikator lain yang cukup penting yaitu jangka waktu rata-rata pengumpulan piutang (average collection periode). Jangka waktu pengumpulan piutang adalah jangka waktu rata-rata pengumpulan piutang dengan maksud untuk mengetahui efisiensi dana yang tertanam dalam piutang tersebut dan pengukurannya menggunakan satuan ukur dalam hari atau bulan. 3.2.3Variabel Likuiditas (Y)

17

Rasio Likuiditas yang dimaksud dalam penelitian ini diwakili oleh Current Asset Ratio yaitu membandingkan antara Current Asset dengan Current Liabilities. 3.3 Populasi dan Sampel Penelitian 3.3.1 Populasi Populasi adalah wilayah generalisasi yang terjadi dari objek atau subjek yang menjadi kuantitas dan karakteristik tertentu yang ditetapkan oleh peneliti untuk dipelajari dan kemudian ditarik kesimpulannya, populasi sangat berkenan dengan data dan pengukuran kuantitatif dan kulitatif pada karakteristik tertentu mengenai sekumpulan objek yang lengkap (Rumengan, 2010). Adapun populasi yang digunakan dalam penelitian ini adalah perusahaan-perusahaan kelompok industi barang konsumsi yang sudah terdaftar di Bursa Efek Indonesia dengan periode laporang keuangan tahun 2007 s.d. 2011. 3.3.2 Sampel Sampel adalah bagian dari populasi dengan karakteristik yang

dianggap mewakili populasi penelitian (Rumengan, 2010). Teknik pemilihan sampel dalam penelitian ini adalah dengan menggunakan teknik purposive sampling yaitu dimana populasi yang akan dijadikan sampel penelitian merupakan populasi yang memenuhi criteria sampel tertentu \sesuai dengan yang dikehendaki oleh peneliti (Sulistyo, 2010) Adapun kriteria-kriteria yang harus dipenuhi untuk menjadi sampel dalam penelitian ini adalah:

18

1. Termasuk perusahaan manufaktur barang konsumsi yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia. 2. Mempunyai laporan keuangan tahunan yang dipublikasikan dalam bentuk laporan keuangan auditan secara lengkap dari tahun 2007 s.d. 2011. 3. Selama periode tahun penelitian perusahan tidak mengalami kerugian. Berdasarkan kriterisa diatas, maka dipilih 11 perusahaan memenuhi kriteria dari 43 perusahaan dari populasi yang ada dalam penelitian ini. 3.4 Jenis dan Sumber Data 3.4.1 Jenis Data Jenis data yang dipakai adalah data dokumenter berupa data-data laporan keuangan perusahaan industri konsumsi yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia tahun 2007 s.d. 2011 yang diperoleh dari pihak kedua atau tangan kedua. 3.4.2 Sumber Data Sumber data yang digunakan dalam penelitian ini adalah data sekunder berupa laporan keuangan perusahaan industri barang konsumsi yang terdapat pada Indonesian Capital Market Directory yang diterbitkan oleh Bursa Efek Indonesia, JSX Statistics, laporan hasil penelitian ilmiah dan jurnal penelitian ilmiah. 3.5 Teknik Pengumpulan Data Metode pengumulan data ini adalah metode dokumentasi. Metode dokumentasi merupakan tekni pengumpulan data yang tidak langsung ditunjukan kepada subjek penelitian (Suhartono, 1999). Metode ini dilakukan

19

dengan mencatat atau mengumpulan data-data yang tercantum pada Indonesian Capital Market Directory yang berupa data laporan keuangan perusahaanperusahaan yang tergabung di dalam industri barang konsumsi yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia tahun 2007-2011. 3.6 Teknik Analisis Data Analisis dalam penelitian ini menggunakan Software SPSS ver.16, yang meliputi : 3.6.1 Analisis Regresi Berganda Regrsi berganda mengandung makna bahwa dalam suatu persamaan regresi terdapat satu variabel dependen dan lebih dri satu variabel independen. Analisis ini digunakan untuk mengetahui bentuk hubungan antara variabel independen dengan variabel dependen . Rumus regresi linier berganda dalam penelitian ini dapat ditunjukan oleh persamaan:

Y = + 1X1 + 2X2 + e

Dimana: Y = Likuiditas = Konstanta = Koefisien Regresi X1 = Perputaran Piutang X2 = Pengumpulan Piutang

20

= Variabel Pengganggu

3.6.2 Uji Asumsi Klasik Pada penelitian ini peneliti menggunakan Analisa Residual adalah selisih pengamatan Y dengan Prediksi Y setelah model ditetapkan, agar analisa regresi yang ditetapkan terjamin validitasnya. Hal ini dilakukan agar model yang ditetapkan dapat diterima dan menjadi Best Linear Unbiased Estimator (BLUE). Setelah meregresikan absolut residual terhadap variabel independen baru kemudian dilakukan Uji Asumsi Klasik. Dalam uji asumsi klasik ini model analisis yang penulis gunakan adalah: a) Multikolinearitas Mulitikolinearitas adalah untuk menguji apakah dalam medel regresi ditemukan adanya korelasi antar variabel independen. Model regresi dikatakan baik apabila tidak terjadi korelasi diantara variabel independen. Untuk mendeteksi apakah dalam model regresi ini terdapat multikolinearitas yaitu dengan melihat nilai toleran dan lawannya Variance Inflation Factor (VIF) dengan melihat pedoman sebagai berikut: 1. Jika masing-msing variabel independen mempunyai nilai VIF 10 2. Jika masing-masing variabel independen mempunyai angka

tolerance mendekati 1 b) Autokorelasi Autokorelasi bertujuan untuk mengetahui apakah terjadi korelasi antar variabel bebas yang diurutkan menurut waktu (data time series) atau

21

ruang (data cross section). Untuk mengetahi adanya autokorelasi atau tidak dalam suatu model regresi dilakukan dengan melakukan uji Durbin Watson (uji Dw). Cara pengujiannya dengan membandingkan nilai Durbin Watson (Dw) dengan d1 dan du tertentu. Jika nilai Dw > du berarti tidak ada gejala autokorelasi dalam model regresi (Haryati, 2007). c) Heterokedasitas Heterokedasitas bertujuan untuk menguji apakah dalam model regresi terjadi ketidaksamaan varian dari residual atau pengamatan ke pengamatn lainnya tetap maka disebut homokedasitas dan jika berbeda disebut heterokedasitas. Dalam penelitian uji heterokeditas dilakukan dengan korelasi Spearman, dimana jika nilai koefisien korelasi semua prediktor terhadap residual adalah > 0,05 dapat disimpulkan bahwa model regresi tidak terjadi heterokedasitas. d) Normalitas Uji normalitas betujuan untuk mengetahui apakah dalam model regresi variabel dependen dan variabel independen mempunyai distribusi normal atau tidak. Salah satu cara untuk mengetahui apakah data berdistribusi normal atau tidak adalah dengan uji one sampe kolmogrov-smirnov test (Nurgiyantoro dkk, 2004 cit. Haryanti, 2007) hasil normalitas diketahui dari nilai signifikansi, bila > 0,05 berarti menunjukan model regresi telah

memenuhi asumsi normalitas. 3.6.3 Uji Hipotesis

22

Untuk menguji hipotesis penelitian adalah dengan menggunakan Uji t dan Uji F. Uji t untuk melihat significant tidaknya pengaruh variabel independent dan variabel dependen secara parsial. Sedangkan Uji F untuk menguji tingkat pengaruh variabel-variabel bebas secara bersama-sama atau simultan (Rahmat dan Nur, 2008).

DAFTAR PUSTAKA

Dongoran, Parlindungan, 2009, Pengaruh Perputaran Piutang dan Perputaran Kas Terhadap Tingkat Likuiditas pada Perusahaan Tekstil yang Terdapa di Bursa Efek Indonesia, Jurnal Ekonomi dan Bisnis, Vol. 2, No. 11.

23

Haryati, Dwi, 2007, Evaluasi Manfaat Rasio Keuangan dalam Memprediksi Pertubuhan Laba pada KPRI di Kota Semarang, Skripsi, Fakultas Ekonomi, Universita Negeri Semarang, Semarang. Hasyim, Muttaqin, 2009, Analisis Perputaran Piutang, Melalui

http://muttaqinhasyim.wordpress.com Rumengan, Jemmy, 2010, Metodologi Penelitian dengan SPSS, Uniba Press, Batam. Santoso, Rahmat Agus dan Mohammad Nur, 2008, Pengaruh Perputaran Piutang dan Pengumpulan Piutang Tehadap Tingkat Likuiditas pada CV. Bumi Sarana Jaya di Gresik, Jurnal Logos, Vol. 6, No. 1.