Anda di halaman 1dari 16

LAPORAN PRAKTIKUM KELISTRIKAN PERTANIAN (Daya lampu Pada Jaringan AC/DC)

Shift Kelompok 1. Iwan Feby H 2. Riyan Hermansyah 3. Nela Angela 4. Dwi Pretty S 5. Ardy Yusuf W Co. Ass

: A1 : 2 (dua) (240110090006) (240110090007) (240110090008) (240110090009) (240110090010) : Reka Raflesia

LABORATORIUM INSTRUMEN dan KELISTRIKAN PERTANIAN JURUSAN TEKNIK DAN MANAJEMEN INDUSTRI PERTANIAN FAKULTAS TEKNIK INDUSTRI PERTANIAN UNIVERSITAS PADJADJARAN 2011

BAB I PENDAHULUAN

1.1 Pendahuluan Perkembanganteknologi akan meningkatkan penggunaan peralatan

elektronik dalam kehidupan sehari-hari, sehingga penggunaan listrik pun makin banyak. Salah satu hal yang berkaitan dengan dunia kelistrikan adalah

pengukuran daya lampu sangat dibutuhkan. Hal yang perlu diperhatikan dalam pengukuran daya ini, yaitu besarnya resistansi dan reaktansi lampu, dan besarnya arus pada jaringan AC maupun DC. Salah satu yang sangat penting bagi kehidupan kita, adalah penggunaan lampu yang merupakan kebutuhan yang tak dapat kita hindarkan.Lampu dapat menyala ketika ada arus yang mengalir melalui suatu kabel.Listrik arus searah atau DC (Direct Current) adalah aliran aruslistrik yang konstan dari potensial tinggi ke potensial rendah. Pada umumnya ini terjadi dalam sebuah konduktor seperti kabel, namun bisa juga terjadi dalam semikonduktor, isolator, atau juga vakum seperti halnya pancaran elektron atau pancaran ion. Dalam kehidupan kita sehari-hari motor DC dapat kita lihat pada motor starter mobil, pada tape recorder, pada mainan anak-anak dan pada pabrik-pabrik motor DC digunakan untuk traksi, elevator, conveyor, dan sebagainya. dimana tidak ada perbedaan konstruksi antara motor DC dan generator DC. Untuk itu dibutuhkan pengetahuan yang mendalam mengenai arus DC ini, karena menjadi modal awal bagi mahasiswa pada umumnya.

1.2 Tujuan Adapun tujuan dari praktikum ini adalah: Menentukan besarnya resisitansi dan reaktansi lampu Menentukan besarnya arus DC yang melalui lampu

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

2.1. Daya Listrik (Electric Power) Power atau daya adalah energi per satuan waktu, satuan umumnya adalah Watts (W). P = I .V = I2 . R (Watt) Meskipun persamaan diatas sama, tapi perlu dibedakan antara Daya Dissipasi dan Daya Transmisi. Untuk Daya Dissipasi umum dipakai persamaan P = I2. R. (Dissipasi diindikasikan sebagai energi listrik yang diubah menjadi energi panas). Sedangkan Daya Transmisi umum digunakan persamaan P = I .V Persamaan DAYA diatas merupakan persaman untuk rangkaian DC atau rangkaian AC yang bersifat resistive murni.

Gambar.1 Vektor voltase pada rangkaian seri RLC

Gambar.2 Vektor arus pada rangkaian parallel RLC

Perkalian antara Voltase dan Arus untuk rangkaian AC umumnya bersatuan VA ( Volt Ampere ) atau kVA (kilo Volt Ampere) disebut sebagai apparent power. Cara pengukuran rangkaian AC adalah pengalian antara bacaan Voltase dengan bacaan Arus.Sedangkan daya sesungguhnya pengukurannya mengunakan wattmeter, disebut sebagai true power.Untuk sistem daya rangkaian AC sangat perlu mengetahui ratio antara true power dengan apparent power yang kemudian ratio ini disebut sebagai factor daya (Power Factor). Daya dalam arus searah (DC) dirumuskan P = V.i, dengan V dan i harganya selalu tetap. Tetapi untuk arus bolak-balik (AC) daya listriknya dinyatakan sebagai : perkalian antara tegangan, kuat arus dan faktor daya.

P Vi cos
Dengan :

atau

P i 2 Z cos

P = daya listrik bolak-balik (Watt) V = tegangan efektif (V) i = kuat arus efektif (A) Z = impedansi rangkaian (Ohm) Cos = faktor daya =

cos

R Z

2.2. Arus searah (DC) Listrik arus searah atau DC (Direct Current) adalah aliran aruslistrik yang konstan dari potensial tinggi ke potensial rendah. Pada umumnya ini terjadi dalam sebuah konduktor seperti kabel, namun bisa juga terjadi dalam semikonduktor, isolator, atau juga vakum seperti halnya pancaran elektron atau pancaran ion. Istilah lama yang digunakan sebelum listrik arus searah adalah Arus galvanis. Penyaluran tenaga listrik komersil yang pertama (yang dibuat oleh Thomas Edison di akhir abad ke 19 menggunakan listrik arus searah.Karena listrik arus bolak-balik lebih mudah digunakan dibandingkan dengan listrik arus searah untuk transmisi (penyaluran) dan pembagian tenaga listrik, di

zaman sekarang hampir semua transmisi tenaga listrik menggunakan listrik arus bolak-balik. Dalam kehidupan kita sehari-hari motor DC dapat kita lihat pada motor starter mobil, pada tape recorder, pada mainan anak-anak dan pada pabrik-pabrik motor DC digunakan untuk traksi, elevator, conveyor, dan sebagainya. dimana tidak ada perbedaan konstruksi antara motor DC dan generator DC. Dasar-dasar motor DC Bahan penting yang digunakan pada mesin-mesin arus searah adalah bahan ferogmagnetik. Garis-garis gaya magnet cenderung untuk melewati bahan-bahan yang termaksud jenis ini (bahan yang permeabilitasnya jauh lebih besar dari 1). Kutub-kutub magnet yang digunakan untuk mesin arus searah biasanya menggunakan magnet buatan yang dibuat dengan prinsip elektromagnetisme, yang pembuatanya adalah dengan melilitkan kawat email pada bahan feromagnetik yang kemudian di aliri arus searah. Prinsip dasar dari pembuatan kutub magnet buatan tersebut ialah hasil percoban oersted, yang menyatakan jarum kompas akan menyimpang apabila berada didekat kawat berarus. Jarum kompas akan menyimpang bila disekitarnya terdapaat medan magnet. Dari percobaan oersted dapat disimpulkan bahwa disekitar kawat berarus listrik terdapat medan magnet. Arah medan magnet yang terbentuk disekitar kawat yang berarus listrik diperoleh berdasarkan percobaan Maxwell. Bila arus listrik yang mengalir didalam kawat arahnya menjauhi pengamat (maju), maka medan yang terbentuk disekitar kawaat berarus arahnya searah dengan putaran arah jarum jam. Sebaliknya bilamana arus listrik yang mengalir didalam kawat arahnya mendekati kita (mundur) maka medan medan magnet yang berbentuk disekitar kawat arahnya berlawanan dengan arah jarum jam. Prinsip dasar dari motor arus searah adalah: apabila sebuah kawat berarus diletakan antara kutub magnet (U-S), maka pada kawat itu akan bekerja suatu gaya yang menggerakan kawat itu. Arah gerak kawat itu dapat ditentukan dengan kaidah tangan kiri yang berbunyi sebagai berikut : Apabila tangan kiri terbuka diletakan antara kutub U dan S, sehingga garis-

garis gaya yang keluar dari kutub utara menembus telapak tangan kiri dan arus didalam kawat mengalir searah dengan keempat jari, maka kawat itu akan mendapat gaya yang arahnya sesuai dengan arah ibu jari.

2.3. Arus bolak balik (AC) Arus bolak-balik (AC/alternating current) adalah arus listrik dimana besarnya dan arahnya arus berubah-ubah secara bolak-balik.Berbeda dengan arus searah dimana arah arus yang mengalir tidak berubah-ubah dengan waktu.Bentuk gelombang dari listrik arus bolak-balik biasanya berbentuk gelombang sinusoida, karena ini yang memungkinkan pengaliran energi yang paling efisien. Namun dalam aplikasi-aplikasi spesifik yang lain, bentuk gelombang lain pun dapat digunakan, misalnya bentuk gelombang segitiga (triangular wave) atau bentuk gelombang segi empat (square wave). Secara umum, listrik bolak-balik berarti penyaluran listrik dari sumbernya (misalnya PLN) ke kantor-kantor atau rumah-rumah penduduk. Namun ada pula contoh lain seperti sinyal-sinyal radio atau audio yang disalurkan melalui kabel, yang juga merupakan listrik arus bolak-balik. Di dalam aplikasi-aplikasi ini, tujuan utama yang paling penting adalah pengambilan informasi yang termodulasi atau terkode di dalam sinyal arus bolak-balik tersebut. Jaringan AC Resistif Murni

Tegangan dan arus pada phase yang sama

Gambar.3 Tegangan dan arus pada phase yang sama

Daya Pada Jaringan AC Resistif Murni Selalu Positif

Gambar. 4 Daya Pada Jaringan AC Resistif Murni Selalu Positif Power pada jaringan non reaktif Jika arus AC mengalir pada rangkaian murni (non reaktif) sebesar R ohm, maka efek panas yang dihasilkan pada satu siklus penuh adalah I2R watt.Dimana I adalah niali rms dari arus dalam amper.Hal ini identik dengan power pada jaringan yang dialiri arus DC. Power pada lampu listrik Gaya mekanik pada lampu dibangkitkan oleh kumparan.Sebenarnya kumparan tidak hanya memiliki hambatan dalam r, yang dianggap seri dengan kumparan tersebut. Pada diagram fasfor berlaku persamaan: Vs2 VL,r2 = (VR+Vr)2 + VL = VL+VR = VR+Vs-2VR VS cos 2.4. Reaktansi hukum Ohm : V=IxR V = tegangan I = arus R = resistan = .l/A-----properti dari suatu material atau komponen elektrik untuk menghambat aliran arus searah. Sedangkan reaktan adalah property suatu komponen untuk

mempengaruhi voltase dan arus bolak-balik.Ada dua tipe reaktansi, yaitu

reaktansi induktif dan reaktansi kapasitif.Sedangkan gabungan kombinasi reaktansi dan resistansi yang mendeskrepsikan kondisi keseluruhan dari komponen dalam rangkaian disebut impedansi (impedance).Reaktansi, resistansi dan impedansi semua bersatuan Ohm ().

2.5. Reaktansi induktif Peralatan induktif adalah lilitan kawat, disebut induktor atau solenoid. Fungsinya berdasar bukti fisik bahwa arus memproduksi suatu medan magnet disekelilingnya (right hand rule). Penjumlahan medan dapat diperkuat dengan memasukkan material berpermeabilitas tinggi (sebagai contoh besi) kedalam lilitan; hal inilah bagaimana elektromagnet terbentuk.

Gambar 5. Dasar induktor atau solenoid

Gambar 6.Arus tertinggal 90o dari voltase.Fungsinya V(t) = Vmax (sin t) dan I(t) = Imax (sin t /2) Ketika lilitan kawat ini ditempatkan pada rangkaian a.c., fakta fisik kedua adalah perubahan medan magnet pada kawat induktor menginduksi suatu arus untuk mengalir melalui kawat ini. Karena medan magnet berubah secara kontinu maka akan menginduksi arus yang lain di dalam kawat. Arus

induksi ini proportional dengan perubahan medan magnet. Arah arus induksi ini berlawanan dengan arus yang memproduksi medan magnet. Akibatnya akan membuat arus tertinggal (lagging) dibelakang tegangan sejauh seperempat siklus atau 900. Efek dari induktor pada rangkaian a.c. diekpresikan oleh reaktansinya, ditulis XL. Reaktansi induktif adalah hasil frekuensi angular a.c. dan induktansi (L, bersatuan henry (H) XL = .L Penurunan tegangan (V) melalui suatu induktor adalh hasil perkalain induktansinya L dan laju perubahan arus I melaluinya. V=L
I t

BAB III METODELOGI PRAKTIKUM

3.1. Alat dan Bahan 3.1.1 Alat-alat: 1. breadboard 2. Kabel Penghubung 3. Lampu 4. Hambatan 3,4 Ohm 5. Multimeter 6. Batere 3.1.2 Bahan-bahan : 1. Sumber Tegangan AC 2. Sumber Tegangan DC

3.2. Prosedur Percobaan Prosedur yang digunakan pada praktikum kali ini adalah : 3.2.1 AC Power 1. Pasang R dan lampu secara seri, seperti pada gambar 2. Siapkan trafo dengan keluaran sekitar 1,5 volt sebagai sumber tegangan AC dan hubungkan dengan ramgkaian R dan lampu secara seri. 3. Ukur tegangan pada R, L(Lampu), dan RL seri dengan multimeter volt AC. 3.2.2 DC Power 1. Ukur resistensi r dalam dari lampu dengan ohmmeter 2. Pasang R dan lampu secara seri, seperti pada gambar 3. Siapkan sebuah baterai 1,5 volt dan hubungkan dengan rangkaian R dan lampu secara seri 4. Ukur tegangan pada R, L (lampu), dan RL seri dengan multimeter volt DC.

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN

4.1 Hasil Pengamatan : Tabel.1 DC Power R(Ohm) 4 r(Ohm) VR(V) VL,r (lampu)(V) 4 0,41 2 Vs(V) 2,42 I (A) 0,13 P(Watt) 0,3146

Perhitungan :

P = I x Vs = 0,13 x 2,41 = 0,3146 Watt

Tabel.2 AC Power R(Ohm) 1 L 2,6 Vr(V) 0,1 VL,r (lampu)(V) 2,1 Vs(V) 2,6 Z () 118,83 I (A) 0,102 5 P(Watt) 0,2665

Perhitungan :

P = I x Vs = 0,1025 x 2,6 = 0,2665 Watt

DAFTAR PUSTAKA

http://www.scribd.com/doc/20922388/Arus-Bolak-Balik-Ac di akses pukul 18.45 tanggal 19 oktober 2010 http://www.scribd.com/document_downloads/20922388?extension=pdf&skip_int erstitial=true di akses pukul 18.50 tanggal 19 oktober 2010 http://azzahratunnisa.wordpress.com/2009/05/26/motor-arus-searah-dc/ di akses pukul 18.50 tanggal 19 oktober 2010

LAMPIRAN

Bread board

resistor

Multitester

Batrei

Rangkain

Lampu

TUGAS PENDAHULUAN PRAKTIKUM KELISTRIKAN 1. Hitung reaktansi kapasitif dan induktif, jika masing masing kapasitif dan induktif sebesar 100 sebesar 60, 120, dan 2500 Hz ? Dik : C = 100 F = 100x10-6 F L = 10 H = 10x10-6 H f = 60 Hz, 120 Hz dan 2500 Hz Dit : Xc dan XL Jawab : a. Reaktansi kapasitif (Xc) f = 60 Hz f = 120 Hz f = 2500 Hz ohm ohm Xc = 26,5258 ohm , dialiri arus AC dengan frekuensi

b. Reaktansi induktif (XL) XL = 2fL f = 60 Hz f = 120 Hz

XL = 2..60.10x10-6 XL = 0,0037699 ohm XL = 2..120.10x10-6 XL = 0,0075398 ohm XL = 2..2500.10x10-6 & XL = 0,15708 ohm

f = 2500 Hz

2. Hitung reaktansi untuk induktor dan kapasitor serta impedansi resistif, inpedansi kapasitif dan impedansi total (dalam bilangan kompleks) ? Dik : E = 120 V C = 1,5 F f = 60 Hz Dit : XL, XC, ZR, ZL, ZC, Ztotal ? Jawab : a. Reaktansi induktor XL = 2..f.L XL = (2..60 Hz.650 mH) XL = 245,04 ohm b. Reaktansi kapasitor
Xc = 1768,388 ohm

R = 250 ohm L =650 mH

c.

Impedansi resistif ZR= 250 + j0 atau 250 < 0

d. Impedansi Induktif ZL = 0 + j245,04 atau 245,04 < 90 e. Impedansi Kapasitif Zc = 0 - j1768,388 atau j1768,388 < -90 f. Impedansi total Ztotal = ZR + ZL + ZC Ztotal = (250 + j0 ) + (0 + j245.04 ) + (0 - j1768,388 ) Ztotal = 250 - j1523,39 atau 1.5437 k < -80.680 Z (impedansi) () () (k) R (resistif) 250 + j0 250 < 0 0,25 < 0 L (induktif) 0 + j245,04 245,04 < 90 0,24504 < 90 C (kapasitif) 0 - j1768,388 1768,388 < -90 1,768388 < -90 1,5437 < -80,680 Total 250 j1523,388