Anda di halaman 1dari 17

ANAMNESIS DAN Px FISIK Ca SERVIKS

Diajukan kepada :

dr Adi Setyawan P, Sp.OG (K-Fer)

Disusun oleh :

SMF Obstetri dan Ginekologi Fakultas Kedokteran Universitas Jenderal Soedirman RSUD Prof. Dr. Margono Soekarjo Purwokerto 2011

DASAR DIAGNOSIS Anamnesis - Leukore yang berbau dan tidak gatal - Perdarahan pervaginam spontan atau pascakoitus disertai bau busuk yang khas - Benjolan - Keadaan BB, keluhan cepat lelah, anemia - Fungsi saluran pencernaan, saluran kemih dan saluran pencernaan - Gejala metastasis tergantung organ yang terkena seperti vesica urinaria, rektum, tulang, paru-paru, dll. Pem. Fisik Status generalis: pemeriksaan luasnya penyebaran penyakit - proses penyebaran di vagina - proses penyebaran di parametrium - penyebaran di mukosa vesica urinaria dan rektum - pemeriksaan fisik, terutama abdomen, paru-paru - pembesaran KGB femoral, aksila, supraklavikula - Status Ginekologi: secara inspeksi, bimanual, rektovagina ANAMNESIS (autoanamnesis) Anamnesis Umum a. Riwayat perkawinan Riwayat Kawin berapa kali ? menikah pada usia berapa? Lamanya berapa tahun. b. Riwayat Obstetri c. Riwayat haid Menarche umur berapa? Haid teratur 28 hari atau tidak ?, lamanya berapa hari, darah haid biasa?, sakit waktu haid ada tidak?. d. Nafsu makan : menurun ? e. Miksi dan defekasi ada keluhan tidak ? f. Riwayat penyakit yang pernah diderita DM ada tidak?

Penyakit jantung ada tidak? Hipertensi ada tidak? Anamnesis Khusus Keluhan utama: Perdarahan dari kemaluan ? RPS : Sejak berapa lama mengeluh sering keluar darah dari kemaluan ?, terus menerus ?, terjadi terutama setelah berhubungan suami istri ?. mengeluh sering keluar cairan putih kekuningan dan berbau dari kemaluan ?. Nafsu makan ?, BAB dan BAK ada keluhan ?. II. PEMERIKSAAN FISIK a. Status present Keadaan umum Konjungtiva pucat Kesadaran Tekanan darah Nadi Pernapasan Temperatur : tampak sakit sedang? : (-)/(-), ikterus (-) ? : kompos mentis ? : ? mmHg : ? x/menit : ? x/menit : ? C.

Hati dan limpa teraba tidak ? Edema -/-, varises -/-, refleks fisiologis +/+, refleks patologis -/Payudara hiperpigmentasi -/- ? Jantung Paru-paru Keadaan gizi ? Berat badan : ? kg : gallop (-), murmur (-)? : bising nafas vesikuler, ronkhi -/-, wheezing -/-.

Tinggi badan : ? cm

b. Status ginekologis Pemeriksaan luar : Abdomen; datar, lemas, simetris, fundus uteri teraba tidak? , massa ?, nyeri tekan ?, tanda cairan bebas ?.

Inspekulo : keadaan Portio ?, rapuh? , mudah berdarah?, ukuran ? cm, infiltrasi (+) ?, flour ?, fluksus ? darah aktif ?. Pemeriksaan dalam : o Serviks : portio ?, eksofitik? , ukuran ? cm, rapuh ?, mudah berdarah?, CUT normal ?. o Adnexa parametrium kanan-kiri tegang ?, cavum douglas menonjol ?. o Rectal toucher : tonus sphingter ani ?, mukosa licin?, massa intra lumen?, CUT normal?, ampula recti kosong?, adnexa parametrium kanan-kiri tegang?, CFS kanan %?, dan CFS kiri % ?.

Diagnosis Penegakan diagnosis kasus ini berdasarkan anamnesis, pemeriksaan fisik, dan pemeriksaan penunjang. Dari anamnesis dapat ditanyakan apakah pasien mengalami perdarahan dari kemaluan ?. Perdarahan pada ca serviks umumnya terjadi segera sehabis senggama (perdarahan kontak), namun pada tingkat klinik yang lebih lanjut, perdarahan spontan dapat terjadi. Dari hasil pemeriksaan fisik status ginekologis: Pemeriksaan luar : Abdomen; datar?, lemas?, simetris?, fundus uteri tak teraba, massa (-), nyeri tekan (-), tanda cairan bebas (-). Inspekulo : Portio ?, rapuh?, mudah berdarah?, massa ukuran ? cm, exofitik, infiltrasi ?, flour ?, fluksus ? darah aktif?. Pemeriksaan dalam : o Serviks : portio ?, exofitik ?, ukuran ? cm, rapuh, mudah berdarah, CUT: ~ normal ?. o Adnexa parametrium kanan-kiri ?, cavum douglas menonjol?. o Rectal toucher : tonus sphingter ani ?, mukosa licin?, massa intra lumen (-)?, CUT ~ normal?, adnexa parametrium kanankiri tegang?, CFS kanan ?%, dan CFS kiri ?%.

Anamnesis tambahan menurut Faktor predisposisi Kejadian karsinoma serviks berhubungan erat dengan sejumlah faktor ekstrinsik, berupa usia koitus yang sangat muda (kurang dari 16 tahun). Insidennya meningkat dengan tingginya paritas, sosioekonomi rendah, higiene seksual jelek, aktifitas seksual yang sering berganti pasangan dan kebiasaan merokok. Faktor-faktor predisposisi yang mungkin antara lain adalah : 1) Coitus pertama usia sangat muda yaitu 16 tahun; 2) Sosial ekonomi yang rendah (pasien dan keluarga berprofesi sebagai petani/berkebun) sedikit banyak berpengaruh terhadap pengetahuan

masyarakat tentang penyakit menular sexual; dan 3) Higiene daerah kemaluan kurang. Kejadian Ca serviks berhubungan erat dengan sejumlah faktor ekstrinsik, diataranya: 1. Jarang ditemukan pada perawan 2. Coitarche diusia sangat muda (16 tahun). Hubungan seks pada usia muda atau pernikahan pada usia muda. Faktor ini merupakan faktor risiko utama. Semakin muda seorang perempuan melakukan hubungan seks, semakin besar risikonya untuk terkena kanker serviks. Berdasarkan penelitian para ahli, perempuan yang melakukan hubungan seks pada usia kurang dari 17 tahun mempunyai resiko 3 kali lebih besar daripada yang menikah pada usia lebih dari 20 tahun. 3. Multi paritas dengan jarak persalinan terlalu dekat 4. Sosial ekonomi rendah 5. Higiene seksual jelek 6. Kebiasaan merokok, wanita perokok memiliki risiko 2 kali lebih besar terkena kanker serviks dibandingkan dengan wanita yang tidak merokok. Penelitian menunjukkan, lendir serviks pada wanita perokok mengandung nikotin dan zat-zat lainnya yang ada di dalam rokok, zat-zat tersebut akan menurunkan daya tahan serviks di samping merupakan ko-karsinogen infeksi virus

7. Promiskuitas. Berganti-ganti pasangan seksual. Perilaku seksual berupa gonta-ganti pasangan seks akan meningkatkan penularan penyakit kelamin. Penyakit yang ditularkan seperti infeksi human papilloma virus (HPV) telah terbukti dapat meningkatkan timbulnya kanker serviks, penis dan vulva. Resiko terkena kanker serviks menjadi 10 kali lipat pada wanita yang mempunyai partner seksual 6 orang atau lebih. Di samping itu, virus herpes simpleks tipe-2 dapat menjadi faktor pendamping. 8. Jarang ditemukan pada wanita yang suaminya disirkumsisi. 9. Infeksi HPV (Human Papilloma Virus) Penelitian epidemiologi memperlihatkan bahwa infeksi HPV terdeteksi menggunakan penelitian molekular pada 99,7% wanita dengan karsinoma sel skuamosa karena infeksi HPV adalah penyebab mutasi neoplasma (perubahan sel normal menjadi sel ganas). Terdapat 138 strain HPV yang sudah diidentifikasi, 30 diantaranya dapat ditularkan melalui hubungan seksual. Dari sekian tipe HPV yang menyerang anogenital (dubur dan alat kelamin), ada 4 tipe HPV yang biasa menyebabkan masalah di manusia seperti 2 subtipe HPV dengan risiko tinggi keganasan yaitu tipe 16 dan 18 yang ditemukan pada 70% kanker leher rahim serta HPV tipe 6 dan 11, yang menyebabkan 90% kasus genital warts (kutil kelamin) 10. Defisiensi zat gizi. Ada beberapa penelitian yang menyimpulkan bahwa defisiensi asam folat dapat meningkatkan risiko terjadinya displasia ringan dan sedang, serta mungkin juga meningkatkan risiko terjadinya kanker serviks pada wanita yang makanannya rendah beta karoten dan retinol (vitamin A). Seiring dengan berkembangan biomolekuler, tampak bahwa HPV anogenital beperan penting dalam patogenesis kanker serviks. Pada 90-95 % kanker serviks telah dibuktikan adanya hubungan dengan HPV resiko tinggi. Pada saat ini diketahui terdapat 70 macam tipe HPV. Yang dimaksud dengan HPV tipe high risk adalah HPV tipe 16,18,31, 33, 39, 45, 51, 52, 56 dan 58. Tipe 16 dan 18 merupakan tipe HPV onkogen yang dapat menyebabkan instabilitas kromosomal, terjadinya mutasi dalam DNA dan gangguan regulasi

pertumbuhan. Sedangkan HPV tipe 6, 11, 42, 43 dan 44 disebut low risk yang merupakan tipe non-onkogen. Diagnosis kanker serviks tidaklah sulit apalagi tingkatannya sudah lanjut. Yang menjadi masalah adalah bagaimana melakukan skrining untuk mencegah kanker serviks, dilakukan dengan deteksi, eradikasi, dan pengamatan terhadap lesi prakanker serviks. Kemampuan untuk mendeteksi dini kanker serviks disertai dengan kemampuan dalam penatalaksanaan yang tepat akan dapat menurunkan angka kematian akibat kanker serviks. a. Keputihan. Keputihan merupakan gejala yang paling sering ditemukan, berbau busuk akibat infeksi dan nekrosis jaringan. b. Pendarahan kontak merupakan 75-80% gejala karsinoma serviks. Perdarahan timbul akibat terbukanya pembuluh darah, yang makin lama makin sering terjadi diluar senggama. c. Rasa nyeri, terjadi akibat infiltrasi sel tumor keserabut saraf. d. Gejala lainnya adalah gejala-gejala yang timbul akibat metastase jauh. Pada kanker serviks, faktor risiko yang terpenting adalah infeksi HPV (human papilloma virus). HPV ini ditularkan dari satu orang ke orang lain melalui kontak kulit seperti vaginal, anal, atau oral seks, kontak kulit ke kulit dengan daerah tubuh yang terinfeksi HPV. Studi-studi epidemiologi menunjukkan 90% lebih kanker serviks dihubungkan dengan jenis human papilomma virus (HPV). Beberapa bukti menunjukkan kanker dengan HPV negatif ditemukan pada wanita yang lebih tua dan dikaitkan dengan prognosis yang buruk. HPV merupakan faktor inisiator kanker serviks. Onkoprotein E6 dan E7 yang berasal dari HPV merupakan penyebab terjadinya degenerasi keganasan. Onkoprotein E6 akan mengikat p53 sehingga TSG p53 akan kehilangan fungsinya. Sedangkan onkoprotein E7 akan mengikat TSG Rb, ikatan ini menyebabkan terlepasnya E2F yang merupakan faktor transkripsi sehingga siklus sel dapat berjalan tanpa kontrol.

Virus HPV berisiko rendah dapat menimbulkan genital warts (penyakit kutil kelamin) yang dapat sembuh dengan sendirinya dengan kekebalan tubuh. Namun pada Virus HPV berisiko tinggi, virus ini dapat mengubah permukaan sel-sel vagina. Bila tidak segera terdeteksi, infeksi Virus HPV dalam jangka panjang dapat menyebabkan terbentuknya sel-sel pra kanker serviks. Yang termasuk tipe ini adalah Virus HPV tipe 16, 18, 31, 33 dan 45. Melakukan hubungan seks tidak aman terutama pada usia muda, memungkinkan terjadinya infeksi HPV. Tiga dari empat kasus baru infeksi virus HPV menyerang wanita muda (usia 15-24 tahun). Infeksi Virus HPV dapat terjadi dalam 2-3 tahun pertama mereka aktif secara seksual. Pada usia remaja (12-20 tahun) organ reproduksi wanita sedang aktif berkembang. Rangsangan sperma dapat memicu perubahan sifat sel menjadi tidak normal, apalagi bila terjadi luka saat berhubungan seksual dan kemudian infeksi Virus HPV. Sel abnormal inilah yang berpotensi tinggi menyebabkan kanker serviks. Selain itu, wanita yang memiliki banyak pasangan seks (atau yang berhubungan seks dengan beragam lelaki) memiliki peluang lebih besar untuk mendapatkan HPV. Merokok: Wanita yang merokok berada dua kali lebih mungkin mendapat kanker serviks dibandingkan mereka yang tidak. Rokok mengandung banyak zat racun/kimia yang dapat menyebabkan kanker paru. Zat-zat berbahaya ini dibawa ke dalam aliran darah ke seluruh tubuh ke organ lain juga. Produk sampingan (byproducts) rokok seringkali ditemukan pada mukosa serviks dari para wanita perokok. Infeksi HIV: HIV (human immunodeficiency virus) adalah virus yang menyebabkan penyakit AIDS- tidak sama dengan HPV. Ini dapat juga menjadi faktor resiko kanker serviks. Memiliki HIV agaknya membuat sistem kekebalan tubuh seorang wanita kurang dapat memerangi baik infeksi HPV maupun kanker-kanker pada stadium awal. Infeksi Klamidia : Ini adalah bakteri yang umum menyerang organ wanita, tersebar melalui hubungan seksual. Beberapa riset menemukan bahwa wanita yang memiliki sejarah atau infeksi saat ini berada dalam resiko kanker serviks lebih tinggi.

Diet : Diet rendah sayuran dan buah-buahan dapat dikaitkan dengan meningkatnya resiko kanker seviks. Juga, wanita yang obesitas berada pada tingkat resiko lebih tinggi. Pil KB: Penggunaan pil KB dalam jangka panjang dapat meningkatkan resiko terjadinya kanker serviks. Riset menemukan bahwa resiko kanker serviks meningkat sejalan dengan semakin lama wanita tersebut menggunakan pil kontrasepsi tersebut dan cenderung menurun pada saat pil dihentikan. Hamil pertama di usia muda: Wanita yang hamil pertama pada usia dibawah 17 tahun hampir selalu 2x lebih mungkin terkena kanker serviks di usia tuanya, daripada wanita yang menunda kehamilan hingga usia 25 tahun atau lebih tua Penghasilan rendah: Wanita miskin berada pada tingkat resiko kanker serviks yang lebih tinggi. Ini mungkin karena mereka tidak mampu untuk memperoleh perawatan kesehatan yang memadai, seperti tes Pap Smear secara rutin. DES (diethylstilbestrol): DES adalah obat hormon yang pernah digunakan antara tahun 1940-1971 untuk beberapa wanita yang berada dalam bahaya keguguran. Anak-anak wanita dari para wanita yang menggunakan obat ini, ketika mereka hamil berada dalam resiko terkena kanker serviks dan vagina sedikit lebih tinggi. Riwayat Keluarga: Kanker serviks dapat berjalan dalam beberapa keluarga. Bila ibu atau kakak perempuan memiliki kanker serviks, resiko untuk terkena kanker ini bisa 2 atau 3x lipat. Faktor resiko kanker serviks dibagi menjadi 2 kategori yaitu : 1. Faktor Resiko Mayor

Infeksi HPV (Human Papilloma Virus), khususnya kelompok resiko tinggi seperti HPV tipe 16, 18, 31, 33, 35,39,45, 51, 52, 56, 58, 59, 66, 68, dan 70. Hingga sat ini lebih dari 100 tipe HPV sudah dapat diisolasi. Infeksi HPV ini berhubungan dengan lesi intraepithelial serviks, yaitu (1) hubungan yang kuat seperti HPV tipe 16, 18, 31, 45 ; (2) Hubungan sedang seperti HPV tipe 33, 35, 39, 51, 52, 56, 58, 59, 68, dan (3) Hubungan lemah seperti HPV tipe 6, 11, 26, 42, 43, 44, 53, 54, 55, 56. Distribusi geografis tipe HPV berbeda untuk tiap Negara. HPV tipe 16 dan 18 yang paling sering ditemukan di dunia. Dimana HPV tipe 16 umumnya ditemukan di Negara barat seperti eropa, USA, dan lain-

lain. Sedangkan untuk tipe 18 banyak ditemukan di Asia. HPV merupakan penyakit yang ditularkan melalui hubungan seksual dan merupakan faktor resiko mayor dari kanker serviks (Priyanto & Nuranna, 2006) 2. Faktor Resiko Minor

Menurut daianda (2007) resiko minor kanker serviks adalah : Menikah usia muda (<18 tahun) Mitra seksual multiple Terpapar IMS (Infeksi menular seksual) Merokok Defisiensi vit A/Vit C/Vit E Usia tua (> 35 tahun) Riwayat penyakit kelamin seperti kutilgenital Paritas atau jumlah kelahiran yang banyak Pengunaan alat kontrasepsi hormonal Sebab langsung dari kanker serviks sampai saat ini belum diketahui secara pasti. Diduga penyebab paling utama adalah kanker serviks adalah anggota family papovirida yaitu Human Papiloma Virus (HPV) yang merupakan inisiator dari kanker serviks yang menyebabkan gangguan sel serviks. Oncoprotein E6 dan E7 yang berasal dari HPV merupakan penyebab terjadinya keganasan. Oncoprotein E6 mengikat p53 akan kehilangan fungsinya. Kemudian oncoprotein E7 akan mengikat TSG Rb, ikatan ini menyebabkan terlepasnya E2F, E2F merupakan faktor transkripsi sehingga siklus sel berjalan tanpa kontrol. Ada bukti kuat kejadian kanker serviks memiliki hubungan erat dengan sejumlah faktor ekstrinsik, diantaranya yang penting jarang terjadi pada perawan, insidensi lebiih tinggi pada mereka yang menikah daripada yang tidak menikah, terutama pada gadis yang pertama koitus pertama dialami pada usia sangat muda < 18 tahun, insidensi meningkat dengan tingginya paritas, apalagi bila jarak persalinan terlampau dekat, mereka dari golongan ekonomi rendah dengan hygiene seksual yang jelek, aktivitas seksual yang sering berganti-ganti pasangan, jarang ditemui pada wanita yang suaminya disunat (Wiknjosastro, 2009).

Penyebab terjadinya kelainan pada sel-sel serviks tidak diketahui secara pasti, tetapi terdapat beberapa faktor resiko yang berpengaruh terhadap terjadinya kanker serviks: (Murtiningsih, 2010) 1. HPV (human papillomavirus)

HPV adalah virus penyebab kutil genitalis (kondiloma akuminata) yang ditularkan melalui hubungan seksual. Varian yang sangat berbahaya adalah HPV tipe 16, 18, 45 dan 56. 2. Merokok

Tembakau merusak sistem kekebalan dan mempengaruhi kemampuan tubuh untuk melawan infeksi HPV pada serviks. 3. 4. 5. Hubungan seksual pertama dilakukan pada usia dini Berganti-ganti pasangan seksual Suami/pasangan seksualnya melakukan hubungan seksual pertama pada

usia di bawah 18 tahun, berganti-ganti pasangan dan pernah menikah dengan wanita yang menderita kanker serviks 6. Pemakaian DES (dietilstilbestrol) pada wanita hamil untuk mencegah

keguguran (banyak digunakan pada tahun 1940-1970) 7. 8. 9. 10. Gangguan sistem kekebalan Pemakaian pil KB Infeksi herpes genitalis atau infeksi klamidia menahun Golongan ekonomi lemah (karena tidak mampu melakukan Pap smear

secara rutin) Anamnesis Gejala Kanker Serviks Pada tahap awal, penyakit ini tidak menimbulkan gejala yang mudah diamati. Itu sebabnya, yang sudah aktif secara seksual amat dianjurkan untuk melakukan tes pap smear setiap dua tahun sekali. Gejala fisik serangan penyakit ini pada umumnya hanya dirasakan oleh penderita kanker stadium lanjut. Kebanyakan infeksi HPV dan kanker serviks stadium dini berlangsung tanpa menimbulkan gejala sedikitpun sehingga penderita masih dapat menjalani kegiatan sehari-hari. Namun, jika dilakukan pemeriksaan deteksi dini dapat

ditemukan adanya sel-sel serviks yang tidak normal yang disebut juga sebagai lesi prakanker. Bila kanker sudah mengalami progresifitas atau stadium lanjut maka gejalagejala yang dapat timbul antara lain:
o o o o o

Pendarahan setelah senggama. Pendarahan spontan yang terjadi antara periode menstruasi rutin. Timbulnya keputihan yang bercampur dengan darah dan berbau. Nyeri panggul dan gangguan atau bahkan tidak bisa buang air kecil. Nyeri ketika berhubungan seksual.

Pada stadium dini penyakit ini tidak dirasakan gejalanya, tetapi pada stadium lanjut dapat nampak dan dirasakan gejalanya.Oleh sebab itu menjadi sangat penting untuk mendeteksi secara dini melalui pemeriksaan pap smear. Tanda dan gejala pada stadium yang lanjut yaitu keputihan yang tidak gatal, berwarna coklat, merah dan berbau busuk ,perdarahan yang abnormal, perdarahan antara dua siklus menstruasi, perdarahan pasca menopause, perdarahan per vaginam (kemaluan) saat buang air besar, nyeri ketika bersenggama (Dyspareunia) dan perdarahan sehabis bersenggama, kemaluan yang berair dan berbau

busuk,dysuria (sakit sewaktu kencing),penurunan nafsu makan,penurunan berat badan, Anemia (kurang darah), nyeri panggul. (Murtiningsih, 2010) Pada tahap awal, penyakit ini tidak menimbulkan gejala yang mudah diamati. Itu sebabnya, Anda yang sudah aktif secara seksual amat dianjurkan untuk melakukan tes pap smear setiap dua tahun sekali. Gejala fisik serangan penyakit ini pada umumnya hanya dirasakan oleh penderita kanker stadium lanjut. Yaitu, munculnya rasa sakit dan perdarahan saat berhubungan intim (contact bleeding), keputihan yang berlebihan dan tidak normal, perdarahan di luar siklus menstruasi, serta penurunan berat badan drastis. Apabila kanker sudah menyebar ke panggul, maka pasien akan menderita keluhan nyeri punggung, hambatan dalam berkemih, serta pembesaran ginjal. Faktor risiko epidemiologis terbesar untuk kanker serviks yaitu infeksi HPV, yang merupakan awal dari perkembangan neoplasi leher rahim. HPV DNA ditemukan pada 99,7% dari seluruh karsinoma leher rahim. Tipe HPV 16 ialah

yang paling sering ditemukan pada jenis karsinoma sel skuamosa dan tipe HPV 18 paling sering ditemukan pada adenokarsinoma. Faktor risiko lain yang berkaitan ialah keadaan imunosupresi, infeksi HIV atau memiliki riwayat terkena penyakit menular seksual, merokok, paritas tinggi dan penggunaan kontrasepsi oral (Alan and Nathan, 2007). 1. Perilaku seksual

Banyak faktor yang disebut-sebut mempengaruhi terjadinya kanker serviks. Telaah pada berbagai penelitian epidemiologi menunjukkan bahwa golongan wanita yang mulai melakukan hubungan seksual pada usia kurang dari 20 tahun atau mempunyai pasangan seksual yang berganti-ganti lebih beresiko untuk menderita kanker serviks. Tinjauan kepustakaan mengenai etiologi kanker serviks menunjukkan bahwa faktor resiko lain yang penting adalah hubungan seksual suami dengan wanita tuna susila (WTS) dan dari sumber itu membawa penyebab kanker (karsinogen) kepada istrinya. Data epidemiologi yang tersusun sampai akhir abad 20, menyikap kemungkinan adanya hubungan antara kanker serviks dengan agen yang dapat menimbulkan infeksi. Karsinogen ini bekerja di daerah transformasi, menghasilkan suatu gradasi kelainan permulaan keganasan, dan paling berbahaya bila terpapar dalam waktu 10 tahun setelah menarche. Keterlibatan peranan pria terlihat dari adanya korelasi antara kejadian kanker serviks dengan kanker penis di wilayah tertentu. Lebih jauh meningkatnya kejadian tumor pada wanita monogami yang suaminya sering berhubungan seksual dengan banyak wanita lain menimbulkan konsep Pria Beresiko Tinggi sebagai vektor dari agen yang dapat menimbulkan infeksi (Sjamsuddin, 2001). Banyak penyebab yang dapat menimbulkan kanker serviks, tetapi penyakit ini sebaiknya digolongkan ke dalam penyakit akibat hubungan seksual (PHS). Penyakit kelamin dan keganasan serviks keduanya saling berkaitan secara bebas, dan diduga terdapat korelasi non-kausal antara beberapa penyakit akibat hubungan seksual dengan kanker serviks (Sjamsuddin, 2001). 2. Kontrasepsi

Kondom dan diafragma dapat memberikan perlindungan. Kontrasepsi oral yang dipakai dalam jangka panjang yaitu lebih dari 5 tahun dapat meningkatkan

resiko relatif 1,53 kali. WHO melaporkan resiko relatif pada pemakaian kontrasepsi oral sebesar 1,9 kali dan meningkat sesuai dengan lamanya pemakaian (Sjamsuddin, 2001). 3. Merokok

Tembakau mengandung bahan-bahan karsinogen baik yang dihisap sebagai rokok/sigaret atau dikunyah. Asap rokok menghasilkan polycyclic aromatic hydrocarbon heterocyclic nitrosamines. Pada wanita perokok konsentrasi nikotin pada getah serviks 56 kali lebih tinggi dibandingkan di dalam serum. Efek langsung bahan-bahan tersebut pada serviks adalah menurunkan status imun lokal sehingga dapat menjadi kokarsinogen infeksi virus (Sjamsuddin, 2001). 4. Nutrisi

Banyak sayur dan buah mengandung bahan-bahan antioksidan dan berkhasiat mencegah kanker misalnya alvokat, brokoli, kol, wortel, jeruk, anggur, bawang, bayam, tomat. Dari beberapa penelitian ternyata defisiensi asam folat (folic acid), vitamin C, vitamin E, beta karoten/retinol dihubungkan dengan dengan peningkatan resiko kanker serviks. Vitamin E, vitamin C dan beta karoten mempunyai khasiat antioksidan yang kuat. Antioksidan dapat melindungi DNA/RNA terhadap pengaruh buruk radikal bebas yang terbentuk akibat oksidasi karsinogen bahan kimia. Vitamin E banyak terdapat dalam minyak nabati (kedelai, jagung, biji-bijian dan kacang-kacangan). Vitamin C banyak terdapat dalam sayur-sayuran dan buah-buahan (Sjamsuddin, 2001). Perubahan prekanker pada serviks biasanya tidak menimbulkan gejala dan perubahan ini tidak terdeteksi kecuali jika wanita tersebut menjalani pemeriksaan panggul dan Pap smear (Calvagna, 2007). Gejala biasanya baru muncul ketika sel serviks yang abnormal berubah menjadi keganasan dan menyusup ke jaringan di sekitarnya. Pada saat ini akan timbul gejala berikut (Calvagna, 2007): 1. Perdarahan vagina yang abnormal, terutama diantara 2 menstruasi, setelah

melakukan hubungan seksual dan setelah menopause 2. Menstruasi abnormal (lebih lama dan lebih banyak)

3.

Keputihan yang menetap, dengan cairan yang encer, berwarna pink,

coklat, mengandung darah atau hitam serta berbau busuk Gejala dari kanker serviks stadium lanjut (Calvagna, 2007): 1. 2. 3. 4. Nafsu makan berkurang, penurunan berat badan, kelelahan Nyeri panggul, punggung atau tungkai Dari vagina keluar air kemih atau tinja Patah tulang (fraktur).

Perubahan awal yang terjadi pada sel leher rahim tidak selalu merupakan suatu tanda-tanda kanker. Pemeriksaan Pap smear yang teratur sangat diperlukan untuk mengetahui lebih dini adanya perubahan awal dari sel-sel kanker. Perubahan selsel kanker selanjutnya dapat menyebabkan perdarahan setelah aktivitas sexual atau diantara masa menstruasi. Keputihan merupakan gejala yang sering ditemukan. Getah yang keluar dari vagina ini makin lama akan berbau busuk akibat infeksi dan nekrosis jaringan. Dalam hal demikian, pertumbuhan tumor menjadi ulseratif. Perdarahan yang dialami segera sehabis senggama (disebut sebagai perdarahan kontak) merupakan gejala karsinoma serviks (75-80%). Perdarahan yang timbul akibat terbukanya pembuluh darah makin lama akan lebih sering terjadi, juga diluar senggama (perdarahan spontan). Perdarahan spontan umumnya terjadi pada tingkat klinik yang lebih lanjut (II atau III), terutama pada tumor yang bersifat eksofitik. Pada wanita usia lanjut yang sudah menopause bilaman mengidap kanker serviks sering terlambat datang meminta pertolongan. Perdarahan sponta saat defekasi akibat tergesernya tumor eksofitik dari serviks oleh skibala, memaksa mereka datang ke dokter. Adanya perdarahan spontan pervaginam saat berdefekasi, perlu dicurigai kemungkinan adanya karsinoma serviks tingkat lanjut. Adanya bau busuk yang khas memperkuat dugaan adanya karsinoma. Anemia yang menyertai sebagai akibat perdarahan pervaginam yang berulang. Rasa nyeri akibat infiltrasi sel tumor ke serabut saraf, memerlukan pembiusan umum untuk dapat melakukan pemeriksaan dalam yang cermat, khususnya pada lumen vagina yang sempit dan dinding yang sklerotik dan meradang.

Gejala lain yang dapat timbul ialah gejala-gejala yang disebabkan oleh metastasis jauh. Sebelum tingkat akhir (terminal stage), penderita meninggal akibat perdarahan yang eksesif, kegagalan faal ginjal (CRF=Chronic Renal Failure) akibat infiltrasi tumor ke ureter sebelum memasuki kadung kemih, yang menyebabkan obstruksi total. Membuat diagnosis karsinoma serviks uterus yang klinis sudah agak lanjut tidaklah sulit. Yang menjadi masalah ialah bagaimana mendiagnosis dalam tingkat yang sangat awal, misalnya dalam tingkat prainvasif, lebih baik bila mendiagnosisnya dalam tingkatan pra-maligna (displasia/diskariosis serviks).

DAFTAR PUSTAKA

Andrijono., 2005. Sinopsis Kanker Ginekologi. Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia. Jakarta. Azis, MF., dkk. 2006. Buku Acuan Nasional Onkologi Ginekologi. Yayasan Bina Pustaka Sarwono Prawirohardjo, Jakarta. Dalimartha S. 2004. Deteksi Dini Kanker. Jakarta : Penebar Swadaya. Diananda R. 2007. Mengenal Seluk Beluk Kanker. Yogyakarta : Katahati. Norwitz, E., Schorge, J. 2008. At Glance Obstetri dan Ginekologi. Edisi 2. Erlangga. Jakarta. Wiknyosastro H. 2009. Ilmu Kandungan. Jakarta : Yayasan Bina Pustaka Sarwono Prawihardjo. American Cancer Society. Cancer facts and figures 2006. American Cancer Society Inc. Atlanta. 2006 Mansjoer A dkk. Kanker serviks. Dalam : Mansjoer A dkk. Kapita selekta kedokteran. Media Aesculapius : Jakarta; 2001, 379-381. Agustria ZS. Penuntun pelaksanaan praktis kanker ginekologi. Palembang, 2004;20-26 Bosman FT, Wagener DJ, et al. Tumor alat kelamin wanita. Dalam : Bosman FT, Wagener DJ, et al. Onkologi. Edisi kelima. Yogyakarta : 1996;494-507. Murtiningsih. Kanker Leher Rahim (Cancer Cervix). http://www.fokma.org/index.php?option=com_content&view=category&l ayout=blog&id=11&Itemid=12. Sarwono.Ilmu Kandungan. Yayasan Bina Pustaka. Jakarta. 1997