Anda di halaman 1dari 3

WARFARIN Khasiat : antikoagulan Mekanisme aksi : mengganggu sintesis hepatic vitamin K tergantung pada factor koagulasi (II, VII,

IX, X) Kegunaan : pencegahan dan terapi thrombosis vena, pulmonary embolism, throboembolic disorders, atrial fibrilasi dengan resiko emboli dan sebagai terapi tambahan pada pencegahan emboli sistemik setelah infark miokardial. Unlabeled use : pencegahan kekambuhan serangan iskemik transier dan untuk mengurangi resiko serangan infark miokardial Kehamilan : kategori X Antikoaglan oral melewati plasenta dan menghasilkan abnormalitas fetal. Warfarin tidak boleh diberikan pada kehamilan karena resiko yang signifikan. Terapi dapat menggunakan heparin dengan dosis yang disesuaikan pada pasien dengan venous thromboembolism. Laktasi : metabolitnya (AAP rates) terekskresi dalam ASI Kontraindikasi : hipersensitif terhadap warfarin atau komponen lain dalam formulasinya; hemoragik tendensi; hemophilia; thrombocytopenia purpura; leukemia; potensi atau baru saja operasi mata atau CNS; mayor regional blok lumbar anestesi atau hasil operasi besar, jaringan terbuka; pasien pendarahan di GI, respirasi, atau GU tract; riwayat pendarahan diathesis; prostatectomy; terancam aborsi; pembengkakan pembuluh darah; kekurangan vitamin C; eklamsia/pre eklamsia; polyarthritis; cerebrovaskular hemorrhage; malnutrisi; penyakit hati sedang; visceral carcinoma; subacute bacterial endocarditis; kehamilan; pecandu alcohol; pericarditis atau pericardial enfusi; riwayat warfarin menginduksi nekrosis; severe uncontrolled atau hipertensi malignant; blood dyscrasias; ketidakpatuhan pasien; pasien punya riwayat jatuh atau resiko jatuh yang signifikan Efek Samping : ES mayor adalah pendarahan. perdarahan bisa terjadi pada hamper setiap bagian. Resiko tergantung pada beberapa variabel termasuk intensitas pemakaian dan kerentanan pasien. Kardiovaskular: vaskulitis, edema, syok hemoragik CNS : demam, kelesuan, stroke, nyeri, pusing, pening, mailase, asthenia Dermatologi : kemerahan, dermatitis, pruritus,bullous eruptions, urticaria,alopecia

Gastrointestinal : hilangnya nafsu makan, mual, muntah, kram perut, nyeri abdominal, diare, hematuria,flatulence, pendarahan GI, mouth ulcers, perasaan tidak nyaman, perut kembung Genitourinary : hematuria, priapism Hematologi : hemoragi,leucopenia, retroperitoneal hematoma, agranulositosis Hati : kerusakan hati, jaundice, peningkatan transaminase Neuromuscular & skeletal : paresthesia, osteoporosis Respiratory : hemoptysis, epistaxis, pulmonary hemorrhage, tracheobronchial calcification Lain-lain : hipersensitifitas atau reaksi alergi Overdosis / toksisitas : Gejala termasuk pendarahan internal atau eksternal dan hematuria. Muntah dan lavage untuk kemungkinan trauma dan kejadian pendarahan. Ketika terjadi overdosis obat harus segera dihentikan dan dapat diberi vitamin K1 (phytonadione) sampai 25 mg I.V. untuk dewasa. Ketika terjadi pendarahan tranfusi plasma beku segar dapat membantu mengontrol pendarahan dengan mengganti factor pembekuan. Pada kondisi mendesak, pendarahan diberikan konsentrat protrombin kompleks. Interaksi Obat : 1. Warfarin Aspirin (antikoagulan antiplatelet) Aspirin meningkatkan efek anti koagulan. Efek samping antiplatelet aspirin dapat meningkatkan kemungkinan pendarahan pada mukosa lambung. Efek antikoagulan warfarin ditingkatkan aspirin jika penggunaan aspirin 3 gram/hari. Berdasarkan penelitian penggunaan aspirin 500 mg/hari dan mengkonsumsi antioagulan 3-5x sehari resiko pendarahan meningkat terutama di GI tetapi dengan 100 mg/hari dan mengkonsumsi warfarin 2-4x sehari resiko pendarahan hanya kecil dan meningkatkan prothrombin times. Dosis rendah aspirin 75 mg/hari dan intensitas rendah warfarin (INR=1,5) kemungkinan pendarahan kecil sampai menengah lebih besar daripada pemberian aspirin dosis rendah saja atau warfarin intenstas rendah saja. Pada stroke iskemik tidak ada perbedaan dalam tingkat pendarahan ketika penggunaan jangka pendek aspirin ditambah warfarin atau heparin dibandingkan dengan penggunaan antikoagulan saja. Meta analisis dari empat penelitian yang melibatkan hampir 900 pasien menyimpulkan bahwa penggunaan kombinasi antikoagulan oral dan aspirin (100-500 mg sehari) secara signifikan mengurangi angka kematian dan komplikasi emboli pada pasien

dengan katup jantung prostetik, meskipun cara ini sebagian diimbangi oleh peningkatan episode perdarahan. Namun secara keseluruhan manfaat mungkin melebihi masalah. Studi lain di 677 pasien dibandingkan natrium warfarin 1,25 mg sehari saja, warfarin natrium 1,25 mg setiap hari dengan 300mg aspirin/hari, 300mg/hari aspirin dan dosis warfarin disesuaikan untuk pencegahan stroke pada atrial fibrilasi. dampak buruk secara signifikan tidak ditemukan Mekanisme : aspirin memiliki efek langsung pada lapisan perut dan dapat menyebabkan perdarahan gastrointestinal juga menurunkan agregasi platelet dan memperpanjang waktu perdarahan, yang semuanya tampaknya akan menjelaskan beberapa episode perdarahan. Selain itu pada dosis besar (2-4x sehari) aspirin saja diketahui memiliki efek hypoprothrombinnaemic langsung, yang reversibel oleh vitamin K. Efek aspirin bisa aditif dengan efek anti koagulan. Management : pasien harus diberitahu bahwa aspirin mungkin ada dalam obat flu, demam, analgetik antipiretik, dan demam. Ingatkan pula mungkin tertulis sebagai asam asetilsalisilat sehingga dapat menghindari pemakaian bersamaan dengan warfarin. Parasetamol dapat digunakan sebagai pengganti aspirin sebagain analgetik 2. Warfarin Atenolol (antikoagulan beta bloker) Efek oral antikoagulan secara normal tidak dipengaruhi oleh beta bloker (atenolol) 3. Warfarin fenitoin (antikoagulan antikonvulsan) Fenitoin meningkatkan efek/toksisitas