Anda di halaman 1dari 26

SIMBOL-SIMBOL DALAM CERPEN BISIKAN ANGIN SEBAGAI PENCERMINAN KEHIDUPAN

INGEU WIDYATARI HERIANA 180110110055 SASTRA INDONESIA FAKULTAS ILMU BUDAYA UNIVERSITAS PADJADJARAN 2012

Hubungan Antarunsur Intrinsik dengan Teori Struktural I,1 Tema Setelah membaca dan menganalisi dengan cermat, Beni Setia untuk cerpennya yang satu ini dengan judul Bisikan Angin mengambil tema psikososial. Hal tersebut dibuktikan dengan beberapa penggalan cerpen berikut dan kata yang dicetak tebal merupakan pencerminan dari konflik batin atau psikologi dan konflik dalam sosial di antara tokoh-tokoh dalam cerpen ini. Ace Kosasih marah. Sangat marah --mungkin karena ia sangat kebelet omong dengan Tina Sinariah--, tapi dari kemarin tak bisa menghubunginya. HP-nya dimatikan dan karenanya sia-sia menghubunginya. Mungkin ia telah mencobanya sepanjang malam dan tak menghasilkan apa. Mungkin, seperti yang kukerjakan sepanjang siang berpindah-pindah menghubungi ke dua HP ke tiga nomor rumah. Satu HP tak diaktifkan, satu HP lagi kemudian dimatikan, dan tiga nomor telepon rumah itu diblokir jadi answering machine dan perintah meninggalkan pesan. Tepat --setelah berkali-kali menghubungi, diangkat, mendapat minta maaf dan permintaan agar dihubungkan dengan Tina Sinariah.Maaf. Saya lagi. maaf. Saya hanya karyawan Ace Kosasih yang ditugaskan untuk menghubungi Tina Sinarih. Maaf, kalau... --kataku tidak lampiaskan karena di seberang begitu muak dan karenanya membantingkan telepon. Tapi Ace Kosasih datang untuk mengecek. Untuk ngamuki dan memaki. Aku menggigit bibir. Apa ini karena aku digaji 800.000 rupiah, tanpa uang transpor dan makan? Apa karena diikat begitu maka aku harus mengerjakan tugas khusus di luar rutin sehari-hari? Hanya untuk menelepon pacar yang ngambul, hanya karena ia bos dan aku cuma staf administrasi di kantor pabrik garmen? Dasar singkeh --gumamku. Memijit redial dan menikmati denging. Berulang-ulang. Menyebalkan. Dan aku rindu angin. .... (Setia: 2002) ... "Bisa"?Aku menggeleng. "Sudahlah," katanya. Membalik dan menggerutu. Masuk keruangannya dan, setelah pintu dibanting, kami mendengar meja tulis digrebak dengan tangan. Aku menggaruk rambut. Cici Santosa, masih sepupu Ace kosasih, mendekat. "Maaf, ya," katanya, "Koko lagi bingung, stres, jadinya ia muring-muring. Sepurane ya!" Aku tersenyum bangkit dan jalan ke belakang. Masuk ke toilet. Kencing. Cuci muka dan mengeringkannya dengan sapu tangan. Berpikir akan naik ke atap, bersilang tangan di dada di bubungan merasakan angin menderas di wajah --mengabarkan kabar dari hadapan perkotaan yang padat dan mengajak pergi ke penghujung kota dan menembus batas ke pedalaman. ... (Setia: 2002)

Nun.Tersentak ketika pintu toilet digedor. Ace Kosasih berteriakteraik. Aku membuka pintu dan menahan napas ketika ia masuk sambil menggerutu. "Si Suwe-e koen iku. Nang toilet pabrik opo-o?" Aku bungkam. Apa mungkin menelepon seseorang yang tak ingin ditelepon --dengan menutup diri, dengan mengisolasi telepon? Aku menahan tangan yang mengepal ingin melayang ke bibirnya, menjengkangkannya ke dinding, lalu menggelosor di lantai dengan bunga darah mekar di atas di lorong dan bengkak. Nun. Tapi ia membanting pintu dan aku cuma menggerutu di lorong ke ruang kantor. Menghenyak ke kursi dan menatap pekerjaan yang ditangguhkan di tiga jam barusan. Dan aku rindu dibelai angin. (Setia: 2002) ... Ace Kosasih mendekat. "Aku minta tolong," katanya, "Aku bayar sebagai lembur --dan esoknya kamu boleh enggak masuk. Swear!" ."Kau ke rumahku. Tolong teleponi Tina. Ada jaminannya deh."Aku menatap. Aku tersenyum. "Apa?" kataku. "Tolong teleponkan Tina," katanya. Aku mengangguk. Aku meraih kuduknya, mendorong kepalanya ke tiang kayu mahoni di sudut bedeng, menghantamkannya hingga bedeng itu bergegar. Menghantamkannya. Menghantamkannya. Tubuh bergetar. Darah mendenging. Aku menelan ludah. Haus--rindu angin Aku mengeram. Aku berteriak: Angin di manakah kamu? Bawalah aku ke gunung-gunung beku berkabut atau ke palung-palung yang senantiasa kelam! Bubungkan aku! Tenggelamkan aku! Dan sekelilingku penuh bisikan .... (Setia: 2002) ... Dan karenanya angin naik dari kerongkongan yang tersekat. Dasamuka yang dikubur hidup-hidup. Nun. Dan aku mendengar letupan kecil suara bisik di sekelilingku. Dan aku berteriak. Teriak. (Setia: 2002) I,2 Judul Beni untuk cerpennya kali ini memilih Bisikan Angin sebagai judul. Judul tersebut yang menjadikan cerpennya dumuat dalam Media Indonesia pada Minguu, 24 Maret 2002. Unik dikaitkan dengan isi cerita karena judul itu sendiri sebagai simbol yang mewakili seluruh isi cerpennya mengenai cerminan kehidupan.

I.3 Penokohan Sebuah cerita yang telah memiliki tema dan judul hambar tanpa dihadiri para tokoh. Berikut ini tokoh-tokoh yang diciptakan oleh Beni Setia dalam cerpennya, Bisikan Angin. - Aku. Dibuktikan dengan beberapa penggalan cerpen berikut dengan kata-kata yang dicetak tebal. .... Di masa kanak-kanak aku suka naik ke pohon lamtoro, memetik buah yang belum tua dan berisi biji, memakannya setengah menyepah rasa pahitnya sambil duduk pada dahannya. ... (Setia: 2002)

Mungkin, seperti yang kukerjakan sepanjang siang berpindahpindah menghubungi ke dua HP ke tiga nomor rumah. ... (Setia: 2002) Aku menggigit bibir. Apa ini karena aku digaji 800.000 rupiah, tanpa uang transpor dan makan? Apa karena diikat begitu maka aku harus mengerjakan tugas khusus di luar rutin sehari-hari? Hanya untuk menelepon pacar yang ngambul, hanya karena ia bos dan aku cuma staf administrasi di kantor pabrik garmen? (Setia: 2002) Dan aku rindu angin. Angin."Bisa"?Aku menggeleng. "Sudahlah," katanya. (Setia: 2002) Aku tersenyum bangkit dan jalan ke belakang. (Setia: 2002) Aku membuka pintu dan menahan napas ketika ia masuk sambil menggerutu ... (Setia: 2002) Aku bungkam. Apa mungkin menelepon seseorang yang tak ingin ditelepon --dengan menutup diri, dengan mengisolasi telepon? Aku

menahan tangan yang mengepal ingin melayang ke bibirnya, menjengkangkannya ke dinding, lalu menggelosor di lantai dengan bunga darah mekar di atas di lorong dan bengkak. Nun. Tapi ia membanting pintu dan aku cuma menggerutu di lorong ke ruang kantor. Menghenyak ke kursi dan menatap pekerjaan yang ditangguhkan di tiga jam barusan. Dan aku rindu dibelai angin. (Setia: 2002) Atau angin itu gagal membujuk aku untuk melangkah ke pantai dan mulai menyelam ke kedalaman palung, ke keindahan kekal dunia ganggang dan lumut di terumbu karang, juntai dan tentakel anemon, serta kanibalis yang bisa melayang atau mengintai. (Setia: 2002) Tapi masih punya rindukah aku? Atau pengharapan? Kedalaman di mana rindu bisa bebenah lalu mengecambah? Aku ingin pulang. ... Aku melihat jam. ... (Setia: 2002) ... Aku jalan. Hingga tubuhku penuh keringat. (Setia: 2002) ... Aku melihat sedan Ace Kosasih berparkir. "Asu iki!" gumanku. (Setia: 2002) ... Aku berguman. Aku mengeloyor. Jalan sepanjang lorong. ... (Setia: 2002) Aku merasakan angin menderas dan mengelupaskan selaput keringat kering. Aku merasa diajaknya pergi ke tengah laut, menyelam ke kedalaman sebagai hiu atau paus. ... (Setia: 2002) Nun."Kau ke rumahku. Tolong teleponi Tina. Ada jaminannya deh."Aku menatap. ... (Setia: 2002) Aku tersenyum. "Apa?" kataku. "Tolong teleponkan Tina," katanya. Aku mengangguk. Aku meraih kuduknya, mendorong kepalanya ke tiang kayu mahoni di sudut bedeng, menghantamkannya hingga bedeng itu bergegar. ... (Setia: 2002) Aku mengeram. Aku berteriak: Angin di manakah kamu? Bawalah aku ke gunung-gunung beku berkabut atau ke palung-palung yang senantiasa kelam! Bubungkan aku! Tenggelamkan aku! Dan sekelilingku penuh bisikan. Dan di sekelilingku penuh bisikan, penuh dengan orang yang saling berbisik. ... (Setia: 2002) Aku menatap nanar. "Aku rindu angin, aku ingin duduk di tempat di mana angin deras mendera, dan Singkeh itu menyuruh aku duduk di kamar, menelepon, dan terus menelepon pacarnya yang ngambul. ... (Setia: 2002) Ace Kosasih. Seorang pemimpin keturunan etnis Tionghoa di sebuah perusahaan garmen (pabrik garmen). Dibuktikan dengan penggalan cerpen berikut dengan kata-kata yang dicetak tebal. ... Ace Kosasih marah. ... (Setia: 2002) Tapi Ace Kosasih datang untuk mengecek. ... (Setia: 2002)

"Koko lagi bingung, stres, jadinya ia muring-muring. Sepurane ya!" ... (Setia: 2002) Ace Kosasih berteriak-teraik. ... (Setia: 2002) Ace Kosasih mendekat. "Aku minta tolong," katanya, ... (Setia: 2002) Aku melihat sedan Ace Kosasih berparkir. "Asu iki!" gumanku. (Setia: 2002) Namun, Beni dalam cerpen ini menggunakan simbol untuk menggambarkan tokohtokohnya sebagai cerminan sifat-sifat manusia. Hal tersebut dipilihnya agar ditemukan makna tersirat yang harus pembaca pahami sebagai makna yang sarat dengan filosofi sastra tentang kehidupan. Simbol-simbol yang digunakan oleh penulis sengaja dimunculkan, sehingga menjadi bahan diskusi dan penafsiran yang menarik. Berikut tokoh-tokoh dibuktikan dengan kata yang dicetak tebal dan digarisbawahi. Aku melihat sedan Ace Kosasih berparkir. "Asu iki!" gumanku. (Setia: 2002) Hanya untuk menelepon pacar yang ngambul, hanya karena ia bos dan aku cuma staf administrasi di kantor pabrik garmen? Dasar singkeh --gumamku.... (Setia: 2002) "Aku rindu angin, aku ingin duduk di tempat di mana angin deras mendera, dan Singkeh itu menyuruh aku duduk di kamar, menelepon, dan terus menelepon pacarnya yang ngambul. ... (Setia: 2002) Aku melihat sedan Ace Kosasih berparkir. "Asu iki!" gumanku. Yitno menunggu sedan itu --pasti dapat uang parkir. "Singkeh iki!" gumanku. ... (Setia: 2002)

Dasamuka Dan karenanya angin naik dari kerongkongan yang tersekat. Dasamuka yang dikubur hidup-hidup. ... (Setia: 2002)

Tokoh yang diberi nama Ace sangat mencerminkan nama khas yang berasal dari etnis Tionghoa, Cina. Kosasih merupakan nama yang diambil dari asal kata bahasa Jawa, Indonesia. Keduanya mencerminkan bahwa tokoh Ace Kosasih merupakan warga negara keturunan campuran Indonesia-Cina. Lalu, penulis mengaitkan nama yang diciptakannya itu dengan

sebutan Koko dan Singkeh yang sangat khas masyarakat Indonesia gunakan sebagai sapaan untuk masyarakat keturunan Cina. Lagipula, etnis Tionghoa di Indonesia memang merajai bidang perdagangan atau bisa dibilang bisa sukses di bidang ekonomi perusahaan. Secara istilah, menurut Kamus Besar Bahasa Indoneisa, kata Singkeh, dengan penjabaran singkeh /singkh/ ? singkek memiliki arti Sebutan untuk orang Cina yang masih kental adat istiadat cinanya atau totok, orang Cina totok (baru datang dr negeri Cina) (dengan definisi singkat: a Chinese who is very Chinese in thought and behavior, /singkek/ (Derog.) a China (immigrant) that is still very China in his ways.). Kata Dasamuka yang dimunculkan oleh penulis sebagai tokoh melambangkan sesuatu yang penuh dengan amarah. Segala bentuk amukan, kekesalan, kebencian, kegundahan, keresahan, dan sebagainya mewakilkan sikap tokoh Ace Kosasih atau pun Aku dengan wujud simbol kata berupa tokoh wayang sebagai filosofi sastra mengenai kehidupan manusia. Dasamuka berasal dari mitologi Hindu, tokoh pewayangan Ramayana. Dasamuka merupakan salah satu dari beberapa nama lain Rahwana memiliki beberapa arti, yakni Devanagari: , IAST Rvaa; dialihaksarakan sebagai Raavana dan Ravan atau Revana ialah tokoh utama yang bertentangan dengan Rama atau bisa dibilang bermusuhan dalam Sastra Hindu, Ramayana, karangan Walmiki. Terdapat juga nama "Dasamukha" (, bermuka sepuluh), "Dasagriva" (, berleher sepuluh) dan "Dasakanta" (, berkerongkongan sepuluh) sebagai nama lain dari Rahwana. Dalam kisah, ia merupakan Raja di Alengka, sekaligus Raksasa atau iblis, ribuan tahun yang lalu.

Secara etimologi dari bahasa sansekerta, Dasamuka memiliki arti, Dasa yang berarti sepuluh dan muka yang berarti wajah. Jadi, dasamuka menurut istilah ialah berwajah sepuluh, mempunyai sepuluh kepala, sehingga diberi nama "Dasamukha" (, bermuka sepuluh), Rawana dilukiskan dalam kesenian dengan sepuluh kepala. Hal tersebut menunjukkan bahwa ia memiliki pengetahuan dalam Weda dan sastra. Ia juga memiliki dua puluh tangan,

menunjukkan kesombongan dan kemauan yang tidak terbatas. Ia juga dikatakan sebagai ksatria besar. Dasamuka berwatak kejam, bengis, serakah, mau menang sendiri, merasa paling sakti dan tidak pernah mau kalah atau mengalah. Dasamuka melambangkan watak yang jahat dan angkara murka. Ajiannya yang sangat terkenal adalah Aji Pancasona yang didapat dari Raden Subali, setelah itu dibunuh oleh Dasamuka, supaya Dasamuka menjadi satu satunya orang yang memiliki ajian tersebut dan menjadi tidak tertandingi dimuka bumi. Bila mayatnya menyentuh bumi maka akan hidup lagi. (Sumber: http://id.wikipedia.org/wiki/Rahwana) Dasamuka yang merupakan nama lain dari Rahwana juga memiliki arti darah di hutan karena Rahwana dilahirkan di hutan. Ibunya bernama Dewi Sukesi dari Alengka. Dasamuka kemudian menjadi raja di Alengka. Ia adalah seorang raja yang mahasakti, memiliki aji Pancasona. Ajian ini mempunyai daya hidup ketika menyentuh tanah. Walaupun sudah mati jika menyentuh tanah akan hidup kembali. Dasamuka adalah raja besar yang memiliki watak angkara murka, sewenang-wenang terhadap rakyatnya. Dasamuka mempunyai istri bidadari kahyangan bernama Dewi Tari. Dengan Dewi Tari, Dasamuka mempunyai beberapa anak, yaitu Indrajit, Dewantaka, Tri Sirah, Tri Netra, Tri Jangga, Tri Kaya, Bukbis, dan Pratalamaryam. (Sumber: http://kamusjawa.com/dasamuka.html) Tokoh Ace yang diciptakan sedang mengalami konflik batin yang sama dengan tokoh wayang Dasamuka. Amarahnya yang sedang membara, begitu diceritakan dalam cerpen. Tokoh Ace bertindak kasar terhadap tokoh Aku. Tokoh Aku terpengaruh oleh tindakan Ace yang memperlakukannya dengan kasar, bisa dibilang tidak dapat menahan amarahnya juga seperti Dasamuka yang digambarkan angkara murka dan keinginan yang tidak terbatas.

Tina Sinariah, tokoh ini diceritakan sebagai kekasih Ace Kosasih yang sedang marah. Dibuktikan dengan penggalan cerpen berikut malalui kata-kata yang dicetak tebal. ... Tepat --setelah berkali-kali menghubungi, diangkat, mendapat

minta maaf dan permintaan agar dihubungkan dengan Tina Sinariah. Maaf. Saya lagi. maaf. Saya hanya karyawan Ace Kosasih yang ditugaskan untuk menghubungi Tina Sinarih. Maaf, kalau... --kataku tidak lampiaskan karena di seberang begitu muak dan karenanya membantingkan telepon. (Setia: 2002) Apa karena diikat begitu maka aku harus mengerjakan tugas khusus di luar rutin sehari-hari? Hanya untuk menelepon pacar yang ngambul, ... (Setia: 2002) Nun."Kau ke rumahku. Tolong teleponi Tina. Ada jaminannya deh."Aku menatap. ... (Setia: 2002) "Apa?" kataku. "Tolong mengangguk. ... (Setia: 2002) teleponkan Tina," katanya. Aku

"Aku rindu angin, aku ingin duduk di tempat di mana angin deras mendera, dan Singkeh itu menyuruh aku duduk di kamar, menelepon, dan terus menelepon pacarnya yang ngambul. ... (Setia: 2002) ... kebebasan dan pembebasan, bila di kota ini hanya jadi staf administrasi, yang bisa diselewengkan menjadi operator telepon yang khusus menghubungi HP Tina Sinariah? Dimaki. Dilecehkan dengan sebutan goblok dan segala macam --padahal dia mungkin sudah tak bisa menghubunginya karena yang ingin dihubungi tak mau dihubungi. Kenapa tak marah pada Tina Sinariah? Kenapa tak berani memaki diri sendiri? Kenapa tak berani mengaku kalah dengan menangis dan menyebabkan semua orang tahu kalau Ace Kosasih dilumpuhkan Tina Sinariah? --gumanku. ... (Setia: 2002) Cici Santosa, sepupu Ace Kosasih, dibuktikan dengan salah stu penggalan cerpen berikut melalui kata-kata yang dicetak tebal. Cici Santosa, masih sepupu Ace kosasih, mendekat. "Maaf, ya," katanya, "Koko lagi bingung, stres, jadinya ia muring-muring. Sepurane ya!"... (Setia: 2002) Angin, dibuktikan dengan penggalan cerpen berikut ini dengan kata-kata yang dicetak tebal. ANGIN selalu datang dan mengajak pergi. ... (Setia: 2002) Tapi gelombang itu apa bukan bagian dari angin yang digejalakan di permukaan air laut? ... (Setia: 2002) Angin yang datang dari hamparan sawah yantg berderet sampai di seberang perkampungan --ada lubuk sungai yang teraling-- dan naik ke perbukitan di jauhnya. Angin yang sejuk. Angin yang berisikan desir pada sawah yang malai padinya sedang mengencang dan mengering dengan dedaunan yang mulai kersik --karena itu meruapkan panas. ... (Setia: 2002)

Dan kadang-kadang daun padi yang baru lilir itu beriak bagai jutaan jari yang mengucapkan salam pada angin yang terus mendudu --mengajak pergi dan tak pernah mau singgah. Ke mana angin akan membawa kita? menyeret dan menelikung atau menayang dan membebaskan? ... (Setia: 2002) Berpikir akan naik ke atap, bersilang tangan di dada di bubungan merasakan angin menderas di wajah --mengabarkan kabar dari hadapan perkotaan yang padat dan mengajak pergi ke penghujung kota dan menembus batas ke pedalaman. ... (Setia: 2002) Dan aku rindu dibelai angin. ... (Setia: 2002) Jalan sambil merasakan angin mengapungkan ruap sisa siang di tengah pelataran yang, makin sejuk di dalam remang. Hingga angin tak bisa menyejukkan tubuh. Hingga angin sia-sia mengajak ke palung dan berbaring di celah karang sebagai belut raksasa. ... (Setia: 2002) Angin di manakah kamu? Bawalah aku ke gunung-gunung beku berkabut atau ke palung-palung yang senantiasa kelam! Bubungkan aku! Tenggelamkan aku! Dan sekelilingku penuh bisikan. ... (Setia: 2002) "Aku rindu angin, aku ingin duduk di tempat di mana angin deras mendera, dan Singkeh itu menyuruh aku duduk di kamar, menelepon, dan terus menelepon pacarnya yang ngambul. ... (Setia: 2002) Aku menyimak angin tapi tak ada udara yang bergerak. hanya bisik-bisik yang bercetusan di sekelilingku, bagai biji suara yang telontar ke ladang angin, meletus oleh musim dan berderak tumbuh. ... (Setia: 2002) Desis di tengah desau angin yang lantang mengabarkan suara dan aroma zona yang ditinggalkan dan janji dari zona akan dijelang. Nun. Tapi tak ada angin di sini. Tak ada. ke mana perginya angin? ... (Setia: 2002) Angin berangkat dari satu tempat untuk berlabuh di satu tempat Nun. Tapi apa angin bangkit sendiri atau dibangkitkan dari tenggorokan orang yang sedang sekarat? Menjadi desis dari amarah yang tak lampias karena dipancung oleh sekarat? ... (Setia: 2002) Dan karenanya angin naik dari kerongkongan yang tersekat ... (Setia: 2002) Beni Setia sengaja memunculkan tokoh angin untuk menganalogikan konflik batin tokohtokoh lainnya dalam cerpen ini, seperti Ace dan Aku. Tokoh Aku selalu merindukan angin,

membutuhkan angin, menyebut-nyebut nama angin menandakan ada makna tersurat ingin disampaikan oleh penulis mengenai analogi kehidupan seperti angin.

Angin adalah udara yang bergerak. Pergerakan itu desebabkan rotasi bumi dan adanya perbedaan tekanan udara, yaitu tekanan tinggi ke tekanan rendah di sekitarnya. Angin bergerak dari tekanan tinggi ke tekanan rendah atau dari suhu udara yang rendah ke suhu udara yang tinggi. Udara akan memuai jika dipanaskan. Udara yang telah memuai menjadi lebih ringan sehingga naik. Apabila hal ini terjadi, tekanan udara turun kerena udaranya berkurang. Udara dingin di sekitarnya mengalir ke tempat yang bertekanan rendah tadi. Udara menyusut menjadi lebih berat dan turun ke tanah. Diatas tanah udara menjadi penas lagi dan naik kembali. Aliran naiknya udara panas dan turunnya udara dingin ini dinamanakan konveksi. Angin terjadi karena adanya perbedaan tekanan udara atau perbedaan suhu udara pada suatu daerah. Hal ini berkaitan dengan besarnya energi panas matahari yang di terima oleh permukaan bumi. Pada suatu wilayah, daerah yang menerima energi panas matahari lebih besar akan mempunyai suhu udara yang lebih panas dan tekanan udara yang cenderung lebih rendah. Perbedaan suhu dan tekanan udara akan terjadi antara daerah yang menerima energi panas lebih besar dengan daerah lain yang lebih sedikit menerima energi panas, yang berakibat akan terjadi aliran udara pada wilayah tersebut. (sumber: http://intl.feedfury.com/content/16689388-angin.html)

I.4 Perwatakan Setiap tokoh diciptakan penulis memiliki sifat yang berbeda-beda untuk memunculkann masalah. Tokoh-tokoh yang sudah dirincikan diatas memiliki beberapa sifat. Berikut penjelasannya. - Aku. Tokoh ini memiliki sifat penurut, patuh, mudah dipancing, penyabar, pemikir, perasa, pendendam. Dibuktikan dengan penggalan cerpen berikut. Aku menggigit bibir. Apa ini karena aku digaji 800.000 rupiah, tanpa uang transpor dan makan? Apa karena diikat begitu maka aku harus mengerjakan tugas khusus di luar rutin sehari-hari? Hanya untuk menelepon pacar yang ngambul, hanya karena ia bos dan aku cuma staf administrasi di kantor pabrik garmen? Dasar singkeh gumamku ... (Setia: 2002) Angin."Bisa"? Aku menggeleng. "Sudahlah," katanya. Membalik dan menggerutu. Masuk keruangannya dan, setelah pintu dibanting, kami mendengar meja tulis digrebak dengan tangan. Aku menggaruk rambut. Cici

Santosa, masih sepupu Ace kosasih, mendekat. "Maaf, ya," katanya, "Koko lagi bingung, stres, jadinya ia muring-muring. Sepurane ya!" Aku tersenyum bangkit dan jalan ke belakang. Masuk ke toilet. Kencing. Cuci muka dan mengeringkannya dengan sapu tangan. Berpikir akan naik ke atap, bersilang tangan di dada di bubungan merasakan angin menderas di wajah --mengabarkan kabar dari hadapan perkotaan yang padat dan mengajak pergi ke penghujung kota dan menembus batas ke pedalaman. Nun.Tersentak ketika pintu toilet digedor. Ace Kosasih berteriak-teraik. Aku membuka pintu dan menahan napas ketika ia masuk sambil menggerutu. "Si Suwe-e koen iku. Nang toilet pabrik opo-o?" Aku bungkam. Apa mungkin menelepon seseorang yang tak ingin ditelepon --dengan menutup diri, dengan mengisolasi telepon? Aku menahan tangan yang mengepal ingin melayang ke bibirnya, menjengkangkannya ke dinding, lalu menggelosor di lantai dengan bunga darah mekar di atas di lorong dan bengkak. Nun. Tapi ia membanting pintu dan aku cuma menggerutu di lorong ke ruang kantor. Menghenyak ke kursi dan menatap pekerjaan yang ditangguhkan di tiga jam barusan. Dan aku rindu dibelai angin. Dibisikin segala macam dan diajak untuk pergi ke sana. Nun. Adakah kebebasan di sana? ... (Setia: 2002) ... "Aku minta tolong," katanya, "Aku bayar sebagai lembur --dan esoknya kamu boleh enggak masuk. Swear!" Aku merasakan angin menderas dan mengelupaskan selaput keringat kering. Aku merasa diajaknya pergi ke tengah laut, menyelam ke kedalaman sebagai hiu atau paus. Nun."Kau ke rumahku. Tolong teleponi Tina. Ada jaminannya deh."Aku menatap. Angin menderas, mungkin tergesa karena terjepit gang dan dijejali sampah kota. Mungkin. Aku tersenyum. "Apa?" kataku. "Tolong teleponkan Tina," katanya. Aku mengangguk. Aku meraih kuduknya, mendorong kepalanya ke tiang kayu mahoni di sudut bedeng, menghantamkannya hingga bedeng itu bergegar. Menghantamkannya. Menghantamkannya. Tubuh bergetar. Darah mendenging. Aku menelan ludah. ... (Setia: 2002) ... "Aku cekuk lehernya, aku hantamkan ke tiang rumah. Brakpecah!" kataku. Mereka tertawa. Mereka mengulurkan tangan dan menyalamiku. Aku cuma tersenyum. ... (Setia: 2002) staf administrasi, yang bisa diselewengkan menjadi operator telepon yang khusus menghubungi HP Tina Sinariah? Dimaki. Dilecehkan dengan sebutan goblok dan segala macam --padahal dia mungkin sudah tak bisa menghubunginya karena yang ingin dihubungi tak mau dihubungi.Kenapa tak marah pada Tina Sinariah? Kenapa tak berani memaki diri sendiri? Kenapa tak berani mengaku kalah dengan menangis dan menyebabkan semua orang tahu kalau Ace Kosasih dilumpuhkan Tina Sinariah? --gumanku. (Setia: 2002) Ace Kosasih. Sebagai pemimpin pabrik garmen ia bersikap keras, kasar, kejam, egois,

ambisius, pemarah, pengecut, mudah menyerah, sama seperti tokoh Dasamuka berwatak kejam, bengis, serakah, mau menang sendiri, merasa paling sakti dan tidak pernah mau kalah atau mengalah. Dasamuka melambangkan watak yang jahat dan angkara murka.

Tokoh Ace yang diciptakan sedang mengalami konflik batin yang sama dengan tokoh wayang Dasamuka. Amarahnya yang sedang membara, begitu diceritakan dalam cerpen. Tokoh Ace bertindak kasar terhadap tokoh Aku. Tokoh Aku terpengaruh oleh tindakan Ace yang memperlakukannya dengan kasar, bisa dibilang tidak dapat menahan amarahnya juga seperti Dasamuka yang digambarkan angkara murka dan keinginan yang tidak terbatas. Dibuktikan dengan penggalan-penggalan cerpen berikut melalui kata-kata yang dicetak tebal. ... katanya. Membalik dan menggerutu. Masuk keruangannya dan, setelah pintu dibanting, kami mendengar meja tulis digrebak dengan tangan. ... (Setia: 2002) Tersentak ketika pintu toilet digedor. Ace Kosasih berteriak-teraik. Aku membuka pintu dan menahan napas ketika ia masuk sambil menggerutu. "Si Suwe-e koen iku. Nang toilet pabrik opo-o?" ... (Setia: 2002) Tetapi adakah nun, kebebasan dan pembebasan, bila di kota ini hanya jadi staf administrasi, yang bisa diselewengkan menjadi operator telepon yang khusus menghubungi HP Tina Sinariah? Dimaki. Dilecehkan dengan sebutan goblok dan segala macam --padahal dia mungkin sudah tak bisa menghubunginya karena yang ingin dihubungi tak mau dihubungi.Kenapa tak marah pada Tina Sinariah? Kenapa tak berani memaki diri sendiri? Kenapa tak berani mengaku kalah dengan menangis dan menyebabkan semua orang tahu kalau Ace Kosasih dilumpuhkan Tina Sinariah? --gumanku. ... (Setia: 2002) Ace Kosasih mendekat. "Aku minta tolong," katanya, "Aku bayar sebagai lembur --dan esoknya kamu boleh enggak masuk. Swear!" ... (Setia: 2002) ... "Kau ke rumahku. Tolong teleponi Tina. Ada jaminannya deh.". ... Aku tersenyum. "Apa?" kataku. "Tolong teleponkan Tina," katanya. Aku mengangguk. ... (Setia: 2002) Tapi ia membanting pintu dan aku cuma menggerutu di lorong ke ruang kantor. ... (Setia: 2002) Tina Sinariah. Tokoh ini memiliki sifat yang teguh pendirian dibuktikan dengan dirinya yang sama sekali tidak menggubris dan menanggapi panggilan dari Ace maupun aku. kebelet omong dengan Tina Sinariah--, tapi dari kemarin tak bisa menghubunginya. HP-nya dimatikan dan karenanya sia-sia menghubunginya. Mungkin ia telah mencobanya sepanjang malam dan tak menghasilkan apa ... (Setia: 2002) Apa mungkin menelepon seseorang yang tak ingin ditelepon --dengan menutup diri, dengan mengisolasi telepon ... (Setia: 2002)

Tepat --setelah berkali-kali menghubungi, diangkat, mendapat minta maaf dan permintaan agar dihubungkan dengan Tina Sinariah.Maaf. Saya lagi. maaf. Saya hanya karyawan Ace Kosasih yang ditugaskan untuk menghubungi Tina Sinarih. Maaf, kalau... --kataku tidak lampiaskan ... (Setia: 2002) padahal dia mungkin sudah tak bisa menghubunginya karena yang ingin dihubungi tak mau dihubungi. ... (Setia: 2002) Cici Santosa berwatak baik, penyabar, dan perhatian terhadap tokoh aku dibuktikan dengan penggalan cerpen berikut. ... Aku menggaruk rambut. Cici Santosa, masih sepupu Ace kosasih, mendekat. "Maaf, ya," katanya, "Koko lagi bingung, stres, jadinya ia muring-muring. Sepurane ya!" ... (Setia: 2002) Angin tokoh angin tidak secara langsung dapat disimpulkan wataknya, tetapi melalui sifat angin sesungguhnya menurut pengetahuan alam, tokoh ini bersifat bebas, mengayom, tidak memihak, mengajak, damai, tentram, tenang, sejuk, labil, mudah terbawa. Hal tersebut menganalogikan sifat-sifat tikoh Ace dan aku dalam cerpen ini yang mudah marah mudah dipancing, mudah terbawa suasana lingkungan sekitarnya.
Angin yang sejuk. Angin yang berisikan Dan kadang-kadang daun padi yang baru lilir itu beriak bagai jutaan jari yang mengucapkan salam pada angin yang terus mendudu --mengajak pergi dan tak pernah mau singgah. Ke mana angin akan membawa kita? menyeret dan menelikung atau menayang dan membebaskan?

1.5 Gaya bahasa Penulis menggunakan gaya bahasa prosa dan ilmu pengetahuan yang sarat dengan makna sastra. Gaya bahasa berupa bahasa kias majas metafora banyak digunakan di cerpen ini untuk memperindah alur cerpen. ANGIN selalu datang dan mengajak pergi. Mungkin itu yang dibisikkannya sehingga leluhur membuat rakit dan membentangkan kain layar, lantas berseluncur di laut untuk berpindah dari satu pantai ke pantai lain, dari pulau ke pulau lain --bahkan mungkin dari dunia ini ke dunia lain setelah gelombang membalikkannya. Tapi gelombang itu apa bukan bagian dari angin yang digejalakan di permukaan air laut? Mungkin angin juga yang mengusir burung dari daerah dingin ke daerah panas, karena embusan dingin sampai dan dulu embusan hangat pernah sampai dari sebaliknya. Atau cuma kabar yang dibawa di dalam ketiaknya, berupa aroma dan bunyi--selain rasa sejuk yang memanggil datang atau menyuruh pergi. Tapi kenapa kita tak beranjak?... (Setia: 2002) ... Dan kadang-kadang daun padi yang baru lilir itu beriak bagai jutaan jari yang mengucapkan salam pada angin yang terus mendudu --mengajak pergi dan tak pernah mau singgah. Ke mana angin akan membawa kita? menyeret dan menelikung atau menayang dan membebaskan?... (Setia: 2002) Angin telah berbalik. Menepis amis ganggang dan garam dan muali mengabarkan hanta pasir dan bising perkotaan. Akankah suara itu lelah dan semuanya mengendap dalam palung hingga ikan-ikan akan naik ke permukaan dan sukarela dijaring nelayan agar bisa menyaksikan kesibukan kota yang tak terbayangkan? Atau angin itu gagal membujuk aku untuk melangkah ke pantai dan mulai menyelam ke kedalaman palung, ke keindahan kekal dunia ganggang dan lumut di terumbu karang, juntai dan tentakel anemon, serta kanibalis yang bisa melayang atau mengintai. ... (Setia: 2002) Dalam cerpen ini, pengarang juga menggunakan gaya bahasa majas personifikasi dibuktikan dengan penggalan berikut melalui kata-kata yang dicetak tebak. Dan kadang-kadang daun padi yang baru lilir itu beriak bagai jutaan jari yang mengucapkan salam pada angin yang terus mendudu --mengajak pergi dan tak pernah mau singgah. Ke mana angin akan membawa kita? menyeret dan menelikung atau menayang dan membebaskan? ... (Setia: 2002) Padi dan angin digambarkan seolah olah melakukan kegiatan layaknya manusia. Padi yang

beriak bagai jutaan jari yang mengucapkan salam pada angin, angin yang terus mendudu, dan angin yang membawa kita? Menyeret dan menelikung atau menayang dan membebaskan? Halhal tersebut hanya bisa dilakukan oleh makhluk (insan) atau benda hidup.

I.6 Latar (Setting) I.6.1 Waktu Di cerpen ini pengarang mengambil latar waktu siang hari dibuktikan dengan penggalanpenggalan berikut ini. Di masa kanak-kanak aku suka naik ke pohon lamtoro, memetik buah yang belum tua dan berisi biji, memakannya setengah menyepah rasa pahitnya sambil duduk pada dahannya. Menjulang sambil bergoyang dicumbu oleh angin. Angin yang datang dari hamparan sawah yantg berderet sampai di seberang perkampungan --ada lubuk sungai yang teraling-- dan naik ke perbukitan di jauhnya. Angin yang sejuk. Angin yang berisikan desir pada sawah yang malai padinya sedang mengencang dan mengering dengan dedaunan yang mulai kersik --karena itu meruapkan panas. Sekali waktu penuh bau bubung bakaran jerami basah. Sekali waktu bau ruap lumpur yang baru diratakan dengan kaki atau luku kerbau. Dan kadang-kadang daun padi yang baru lilir itu beriak bagai jutaan jari yang mengucapkan salam pada angin yang terus mendudu --mengajak pergi dan tak pernah mau singgah. Ke mana angin akan membawa kita? menyeret dan menelikung atau menayang dan membebaskan? ... (Setia: 2002) Kegiatan menaiki pohon sangat logis dilakukan pada waktu siang hari. Bisa disimpulkan juga hanya pada saat siang hari indra penglihatan pembaca bisa melihat kata-kata yang digaris bawahi. Dalam penggalan tersebut juga ditemukan kata panas, sehingga menguatkan pendapat bahwa latar yang ditemukan waktu siang hari. Waktu malam hari juga diceritakan dalam cerpen ini dibuktikan dengan penggalan berikut. Aku pergi ke pantai. Bersandar dan menatap kejauhan yang remang dalam malam. ... (Setia: 2002) Jalan sambil merasakan angin mengapungkan ruap sisa siang di tengah pelataran ... (Setia: 2002)

I.6.2 Tempat Latar tempat-tempat yang dimunculkan dalam cerpen ini dibuktikan dengan kata-kata yang decetak tebal oada penggalan-penggalan cerpen berikut. ... Di masa kanak-kanak aku suka naik ke pohon lamtoro, memetik buah yang belum tua dan berisi biji, memakannya setengah menyepah rasa pahitnya sambil duduk pada dahannya. Menjulang sambil bergoyang dicumbu oleh angin. Angin yang datang dari hamparan sawah yantg berderet sampai di seberang perkampungan --ada lubuk sungai yang teraling-- dan naik ke perbukitan di jauhnya. ... (Setia: 2002) ... di kantor pabrik garmen ... (Setia: 2002) ... di atas di lorong ... (Setia: 2002) ... di lorong ke ruang kantor. Menghenyak ke kursi dan menatap pekerjaan yang ditangguhkan di tiga jam barusan. ... (Setia: 2002) Aku pergi ke pantai. Bersandar dan menatap kejauhan yang remang dalam malam. Angin telah berbalik. Menepis amis ganggang dan garam dan muali mengabarkan hanta pasir dan bising perkotaan. Akankah suara itu lelah dan semuanya mengendap dalam palung hingga ikan-ikan akan naik ke permukaan dan sukarela dijaring nelayan agar bisa menyaksikan kesibukan kota yang tak terbayangkan? Atau angin itu gagal membujuk aku untuk melangkah ke pantai dan mulai menyelam ke kedalaman palung, ke keindahan kekal dunia ganggang dan lumut di terumbu karang, juntai dan tentakel anemon, serta kanibalis yang bisa

melayang atau mengintai. ... (Setia: 2002) Menyulut rokok terakhir --meremas kotaknya dan melemparkannya ke lidah alun yang membelai beton pantai. Jalan sambil merasakan angin mengapungkan ruap sisa siang di tengah pelataran yang, makin sejuk di dalam remang. Nun. Aku jalan. Hingga tubuhku penuh keringat. ... (Setia: 2002) Naik pohon lamtoro di belakang rumah, bergoyang-goyang pada dahan sambil bermimpi ... (Setia: 2002) Aku melihat sedan Ace Kosasih berparkir. "Asu iki!" gumanku. Yitno menunggu sedan itu --pasti dapat uang parkir. ... (Setia: 2002) Kresno, sopir, bilang bahwa Ace Kosasih mencari. ... (Setia: 2002) Kata berparkir, sedan, parkir, dan sopir menunjukan bahwa para tokoh sedang berada di tempat parkir karena lazim sekali hal-hal tersebut ditemukan berada di tempat parkir.

I.6.3 Suasana Latar waktu malam yang dijelaskan sebelumnya menghubungakan latas suasana yang dingin dalam cerpen ini. ... Aku merasakan angin menderas dan mengelupaskan selaput keringat kering. ... Selaput keringat kering menggambarkan bahwa hawa malam saat itu sangat dingin hingga kelenjar penghasil keringan pun tidak bekerja, kering keadaanya bisa tersapu oleh angin malam yang dingin. Namun, di tengah dinginnya malam yang dideskripsikan pengarang, hawa tubuh tokoh

aku mulai memanas karena terpancing emosi dari masalah dalam alur. ... Nun. Aku jalan. Hingga tubuhku penuh keringat. Hingga angin tak bisa menyejukkan tubuh. ... Suasana pun menjadi ricuh, menegangkan, dan gaduh saat muncul kembali tokoh Ace. Membalik dan menggerutu. Masuk keruangannya dan, setelah pintu dibanting, kami mendengar meja tulis digrebak dengan tangan. Aku menggaruk rambut. ... (Setia: 2002) Nun.Tersentak ketika pintu toilet digedor. Ace Kosasih berteriakteraik. Aku membuka pintu dan menahan napas ketika ia masuk sambil menggerutu. ... (Setia: 2002) Apa mungkin menelepon seseorang yang tak ingin ditelepon --dengan menutup diri, dengan mengisolasi telepon? Aku menahan tangan yang mengepal ingin melayang ke bibirnya, menjengkangkannya ke dinding, lalu menggelosor di lantai dengan bunga darah mekar di atas di lorong dan bengkak. Nun. Tapi ia membanting pintu dan aku cuma menggerutu di lorong ke ruang kantor. Menghenyak ke kursi dan menatap pekerjaan yang ditangguhkan di tiga jam barusan. ... (Setia: 2002) "Dari mana saja? Aku sampai lumutan menunggu? kata satpam yang mengawal. Aku membungkam. Ace Kosasih mendekat. "Aku minta tolong," katanya, "Aku bayar sebagai lembur --dan esoknya kamu boleh enggak masuk. Swear!" Aku merasakan angin menderas dan mengelupaskan selaput keringat kering. Aku merasa diajaknya pergi ke tengah laut, menyelam ke kedalaman sebagai hiu atau paus. Nun."Kau ke rumahku. Tolong teleponi Tina. Ada jaminannya deh."Aku menatap. Angin menderas, mungkin tergesa karena terjepit gang dan dijejali sampah kota. Mungkin. ... (Setia: 2002)

Aku tersenyum. "Apa?" kataku. "Tolong teleponkan Tina," katanya. Aku mengangguk. Aku meraih kuduknya, mendorong kepalanya ke

tiang kayu mahoni di sudut bedeng, menghantamkannya hingga bedeng itu bergegar. Menghantamkannya. Menghantamkannya. Tubuh bergetar. Darah mendenging. Aku menelan ludah. Haus--rindu angin. Telinga berdengung. Aku mengeram. Aku berteriak: Angin di manakah kamu? Bawalah aku ke gunung-gunung beku berkabut atau ke palung-palung yang senantiasa kelam! Bubungkan aku! Tenggelamkan aku! Dan sekelilingku penuh bisikan. Dan di sekelilingku penuh bisikan, penuh dengan orang yang saling berbisik. Seperti riak atau alun di tengah arus sungai, seperti jelujur benang bermacam warna, dari kiri atau kanan, dari atas atau bawah, dan membungkus dalam hamparan kain badai. Kenapa? Mengapa? Aku membungkam. Bisu. "Hey!" kata salah satu, "Kenapa kamu masuk bui!" Aku menatap nanar. "Aku rindu angin, aku ingin duduk di tempat di mana angin deras mendera, dan Singkeh itu menyuruh aku duduk di kamar, menelepon, dan terus menelepon pacarnya yang ngambul. "Menyibak orang-orang, mendekatkan kepala ke jendela tapi angin yang hanya lewat di luar. "Jadi?" kata salah satu lain lagi. "Aku cekuk lehernya, aku hantamkan ke tiang rumah. Brak-pecah!" kataku. Mereka tertawa. Mereka mengulurkan tangan dan menyalamiku. Aku cuma tersenyum. Aku menyimak angin tapi tak ada udara yang bergerak. hanya bisik-bisik yang bercetusan di sekelilingku, bagai biji suara yang telontar ke ladang angin, meletus oleh musim dan berderak tumbuh. Suara-suara kecil. Desis di tengah desau angin yang lantang mengabarkan suara dan aroma zona yang ditinggalkan dan janji dari zona akan dijelang. ... (Setia: 2002) Selain suasana yang menegangkan, ditemukan juga suasana yang bebas, damai, tentram, hikmat, sejuk dan beraroma yang ditimbulkan oleh narasi tokoh aku berhubungan dengan tokoh angin. Atau cuma kabar yang dibawa di dalam ketiaknya, berupa aroma dan bunyi--selain rasa sejuk yang memanggil datang atau menyuruh pergi. ... (Setia: 2002) Angin yang datang dari hamparan sawah yantg berderet sampai di seberang perkampungan --ada lubuk sungai yang teraling-- dan naik ke perbukitan di jauhnya. Angin yang sejuk. Angin yang berisikan desir pada sawah yang malai padinya sedang mengencang dan mengering dengan dedaunan yang mulai kersik --karena itu meruapkan panas. Sekali waktu penuh bau bubung bakaran jerami basah. Sekali waktu bau ruap lumpur yang baru diratakan dengan kaki atau luku kerbau. Dan kadang-kadang daun padi yang baru lilir itu beriak bagai jutaan jari yang mengucapkan salam pada angin yang terus mendudu --mengajak pergi dan tak pernah mau singgah. Ke mana angin akan membawa kita? menyeret dan menelikung atau menayang dan membebaskan? ... (Setia: 2002) Berpikir akan naik ke atap, bersilang tangan di dada di bubungan merasakan angin menderas di wajah --mengabarkan kabar dari hadapan perkotaan yang padat dan mengajak pergi ke penghujung kota

dan menembus batas ke pedalaman. ... (Setia: 2002) Menepis amis ganggang dan garam dan muali mengabarkan hanta pasir dan bising perkotaan. Akankah suara itu lelah dan semuanya mengendap dalam palung hingga ikan-ikan akan naik ke permukaan dan sukarela dijaring nelayan agar bisa menyaksikan kesibukan kota yang tak terbayangkan? Atau angin itu gagal membujuk aku untuk melangkah ke pantai dan mulai menyelam ke kedalaman palung, ke keindahan kekal dunia ganggang dan lumut di terumbu karang, juntai dan tentakel anemon, serta kanibalis yang bisa melayang atau mengintai ... (Setia: 2002) Aku ingin pulang. Naik pohon lamtoro di belakang rumah, bergoyang-goyang pada dahan sambil bermimpi bercoklangan naik kuda di sabana di tengah angin deras yang menyampaikan aroma dan suara zona yang ditinggalkan dan janji makanan di zona serbuan. Nun. Tetapi adakah nun, kebebasan dan pembebasan, bila di kota ini hanya jadi staf administrasi, yang bisa diselewengkan menjadi operator ... (Setia: 2002) Kata-kata yang dicetak tebal memberikan kesan suasana yang hikmat untuk dinikmati oleh pembaca. Itulah cermatnya Beni Setia dalam pemilihan kata berupa gaya bahasa menggunakan majas metafora menjadikan cerpennya indah. I.7 Alur (plot) Alur yang digunakan oleh penulis dalam cerpen ini adalah alur maju, walaupun sepintas prolog cerpen ini menceritakan masa kanak-kanak tokoh aku. Bisa dibilang pengarang sementara menggunakan alur mundur, sehingga pembaca bisa dengan sejenak menyimpulkan bahwa pengarang menggunakan alur maju-mundur. Tetapi, pada fokusnya, penulis hanya menggunakan alur maju untuk menyelesaikan masalah dalam cerpennya, tidak diceritakan kembali masa lalu para tokoh. Dibuktikan dengan penggalan cerpen berikut. Tapi kenapa kita tak beranjak? Di masa kanak-kanak aku suka naik ke pohon lamtoro, memetik buah yang belum tua dan berisi biji, memakannya setengah menyepah rasa pahitnya sambil duduk pada dahannya. Menjulang sambil bergoyang dicumbu oleh angin. (Setia: 2002)

I.8 Sudut Pandang (Point of View) Beni Setia menggunakan sudut pandang orang pertama serba tahu dalam cerpennya. Hal tersebut dibuktikan dengan penggunaan kata ganti orang pertama, yaitu aku, dalam menceritakan setiap alur. Penulis juga menggunakan kata ganti orang ketiga untuk menyudutkan orang ketiga yang sedang disebutkan atau diceritakan oleh tokoh aku sebagai tokoh utama. Berikut pembuktiannyadengan kata-kata yang dicetak tebal. Aku menggigit bibir. Apa ini karena aku digaji 800.000 rupiah, tanpa uang transpor dan makan? Apa karena diikat begitu maka aku harus mengerjakan tugas khusus di luar rutin sehari-hari? Hanya untuk menelepon pacar yang ngambul, hanya karena ia bos dan aku cuma staf administrasi di kantor pabrik garmen? (Setia: 2002) Dan aku rindu angin. Angin."Bisa"?Aku menggeleng. "Sudahlah," katanya. (Setia: 2002) Aku tersenyum bangkit dan jalan ke belakang. (Setia: 2002) Aku membuka pintu dan menahan napas ketika ia masuk sambil menggerutu ... (Setia: 2002) Dan sekelilingku penuh bisikan.Dan di sekelilingku penuh bisikan, penuh dengan orang yang saling berbisik "Menyibak orang-orang, mendekatkan kepala ke jendela tapi angin yang hanya lewat di luar. "Jadi?" kata salah satu lain lagi. "Aku cekuk lehernya, aku hantamkan ke tiang rumah. Brak-pecah!" kataku. Mereka tertawa. Mereka mengulurkan tangan dan menyalamiku. Aku cuma tersenyum.

1.9 Amanat Melalui cerpennya yang berjudul Bisikan Angin, Beni Setia ingin menyampaikan pesan kepada pembaca bahwa manusia dalam hidupn harus menghadapi dan menyelesaikan segala masalah atau persoalan hidup dengan kepala dingin, tenang, serius, tetapi santai. Manusia harus berusaha dahulu, mencoba dahulu sebelum putus asa, berkata tidak bisa apalagi mengandalkan orang lain, walaupun fitrahnya manusia adalah amkhluk sosial tidak bisa hidup sendiri selalu membutuhkan bantuan orang lain. Tetapi, berpikirlah kemungkinan terburuknya dahulu untuk berjaga-jaga dan mempersiapkan jika hal-hal yang tidak diinginkan menghampiri kita, apabila dalam keadaan susah dan tidak ada yang bisa menolong kita sudah bisa menghadapinya. Manusia boleh bersikap seperti angin yang mengayomi, mengajak, membawa ketentraman, kedamaian, kesejukan, kabar baik, tetapi tidak boleh melulu mengikuti ke mana pun angin pergi. Artinya, manusia harus bisa memilih mana jalan hidup yang benar dan salah.

Manusia juga boleh memiliki sikap berkeinginan keras, ambisius, pantang menyerah, berjiwa pemimpin seperti tokoh Ace atau pun Dasamuka. Disamping sifat-sifat tersebut harus dilandasi dengan kesadaran, sehingga tidak bersikap egois dan menyakiti atau merugikan pihak lain.

Daftra Pustaka http://www.artikata.com/arti-351291-singkek.html (Diakses 24 Juni 2012 pukul 15:10:43) http://www.masinosinaga.com/id/kamus/kamus-indonesia-inggris/terjemahan-dari-singkeh (Diakses 24 Juni 2012 pukul 15:10:06) http://deskripsi.com/s/singkeh (Diakses 24 Juni 2012 pukul 15:10:09) http://surynarend.multiply.com/journal/item/23/Dasamuka?&show_interstitial=1&u= %2Fjournal%2Fitem (Diakses 24 Juni 2012 pukul 15:25:59) http://kamusjawa.com/dasamuka.html (Diakses 24 Juni 2012 pukul 15:25:29) http://id.wikipedia.org/wiki/Rahwana (Diakses 24 Juni 2012 pukul 15:59:19) http://intl.feedfury.com/content/16689388-angin.html (Diakses 24 Juni 2012 pukul

17:00:45) http://www.pengobatan.com/kisah_teladan/fisafat_hidup.html (Diakses 24 Juni 2012 pukul 17:00:45)