Anda di halaman 1dari 7

Tumor Marker oleh Davrina Rianda, 0906507936 DEFINISI Pada transformasi malignan, setiap pembelah sel akan menghasil

sel malignan yang baru. Pada proses ini, sel malignan membutuhkan beberapa unsur baru yang membedakan mereka dengan sel nonmalignan dari origin yang sama. Unsur yang dibutuhkan dapat berupa perubahan pada morfologi selular, fisiologi, atau perubahan pada pertumbuhan sel. Perbedaan antara sel normal dengan malignan ini dapat dijadikan kunci mendeteksi sel malignan. Dengan adanya hal ini, lahirlah istilah tumor marker. Tumor marker adalah substansi yang dideteksi pada proses tersebut. Nyatanya, perbedaan antara sel tumor dengan normal muncul dalam tingkat yang berbeda-beda. Adanya hal ini membuat variasi pada tumor marker yang beragam untuk menggambarkan berbagai substansi dan proses selular yang beranekaragam. Akibatnya, antigen membran, hormon, enzim, poliamin, nukleosida, produk onkogen, produk tumor suppressor genes, atau ploidi DNA dan propors sel dalam fase S di siklus hidup (aktivitas proliferatif) dapat digolongkan sebagai tumor marker. Bidang yang berbeda pada onkologi menggunakan tumor marker yang berbeda bergantung pada kebutuhan dan teknik follow up. Misalnya, tumor marker pada onkologi klinik berbeda pada biologi molekular, berbeda pula untuk imunohistokimia untuk fisiologi. Penggunaan tumor marker didasarkan pada sensitivitas dan spesifisitas marker dan kemampuan metode lain yang dapat digunakan untuk tujuan yang sama. Tabel 1. Penggunaan Tumor Marker pada Onkologi

APLIKASI TUMOR MARKER Definisi standar tumor marker pada onkologi klinik mengacu pada substansi yang diproduksi oleh sel malignan atau substansi yang diproduksi sel lain dalam pengaruh sel malignan dan dapat diuji pada cairan tubuh. Tumor marker dapat berupa substansi yang baru disintesis (yang umumnya tidak diproduksi pada sel normal yang sehat) maupun substansi yang dapat ditemukan pada organisme normal dalam konsentrasi yang sangat rendah. Penentuan tumor marker pada onkologi klinik sangat berguna dalam berbagai proses, misalnya proses diagnosis dan prognosis, seperti halnya deteksi awal dari penyakit yang rekurens atau metastasis. Akan tetapi, marker pada onkologi klinik saat

ini hanya digunakan sebagai metode skrining untuk deteksi penyakit malignan. Marker yang berbeda digunakan pada tujuan berbeda, misalnya beberapa di antaranya lebih baik digunakan untuk follow up dan sebagian lainnya digunakan untuk deteksi dini. Proses follow up dari penyakit malignan pada sebelum, selama, dan sesudah tatalaksana, serta proses yang baik terhadap data yang ditemukan akan memberikan informasi mengenai karakteristik malignansi dan prognosis pasien. Secara umum, konsentrasi yang sangat tinggi dari tumor marker merupakan prediktor dari outcome yang buruk. Dalam cairan tubuh, tumor marker ditemukan dalam konsentrasi yang rendah sehingga dibutuhkan teknologi yang sangat sensitif untuk mendeteksinya. Teknik yang digunakan didasarkan pada deteksi kompleks antigen-antibodi. Lebih umum lagi, teknik yang dipakai adalah radioimmune assay, enzyme-immune assay, dan luminometricimmune assay yang dibedakan oleh komponen yang menempel pada antibodi untuk deteksi dan metode deteksi dari kompleks yang terbentuk. SPESIFISITAS DAN SENSITIFITAS Tumor marker yang ideal memiliki syarat: 1. Hanya muncul pada sel tumor 2. Spesifik untuk tipe dan organ yang terkena tumor 3. Dapat dinilai pada serum pasien dengan tipe tumor yang sama 4. Dapat dinilai pada serum pasien pada masa awal perkembangan tumor dan konsentrasinya haruslah berkorelasi dengan bahaya dari tumor tersebut. Hingga saat ini, tidak terdapat struktur antigen yang diketahui hanya pada sel tumor. Artinya, antibodi yang berikatan dengan tumor marker tertentu dapat bereaksi silang dengan struktur antigen lainnya. Karena itu, tidak terdapat tumor marker dan metode yang 100% spesifik. Ketik menilai hasil yang didapat, perhatikan pula bahwa peningkatan tumor marker dapat disebabkan oleh faktor lain yang dapat mengganggu konsentrasinya. Adanya bias ini dapat disebabkan oleh: Spesifisitas yang inadekuat untuk tipe malignansi Produksi marker dalam konsentrasi tinggi pada penyakit nonmalignan Produksi marker dalam kondisi psikologis yang berbeda Produksi pada jaringan sehat Pengunaan marker kombinasi kini sering dilakukan untuk meningkatkan sensitivitas, karena pada beberapa kasus, lebih dari satu tumor marker dapat meningkat. Contohnya adalah kombinasi dari HCG dan alfa fetoprotein pada tumor germinal nonseminoma. Masing-masing uji memiliki spesifisitas lebih dari 90% dan sensitivitas mencapai 60% untuk tipe tersebut. Dengan adanya kombinasi, sensitivitas uji meningkat hingga 95%. KLASIFIKASI Tumor marker dapat diklasifikasikan dalam berbagai cara: berdasarkan struktur kimianya, jaringan asalnya, tipe malignansinya. Klasifikasi yang paling umum digunakan adalah mengombinasikan unsur biokimiawi, jaringan asal, dan fungsionalnya. 1) Protein Onkofetal Protein onkofetal adalah antigen yang umumnya diproduksi pada perkembangan embrional. Pada dewasa, produksi akan dibatasi atau akan hilang sama sekali. Peningkatan konsentrasi pada dewasa disebabkan oleh reaktivasi dari gen tertentu yang mengontrol pertumbuhan selular dan secara langsung dihubungkan dengan proses malignansi. Carcinoembyonic antigen (CEA) adalah salah satu contohnya. Pada perkembangan embrional, CEA diproduksi di sel epitelial dari traktus gastrointestinal, hati, dan pankreas. CEA penting pada proses follow up pasien dengan kanker kolorektal karena 65% dari seluruh pasien (termasuk pasien dengan penyakit terlokalisasi dan stage I)

serta 100% dari pasien dengan metastasis memiliki peningkatan CEA. Selain itu, marker ini juga digunakan untuk follow up pasoen dengan malignansi lainnya seperti kanker payudara, ovarium, pankreas, paru-paru, hati, dan endometrium. Konsentrasi serum antara 4-10 ng/ml dapat ditemukan pada pasien dengan malignansi atau pasien dengan penyakit jinak, bahkan pada perokok berat. Sementara itu, kosentrasi di atas 10 ng/ml sudah mengarah pada malignansi. Peningatan konsentrasi serum juga ditemukan pada pasien dengan bronkitis, gastrtis, ulkus duodenal, penyakit hati, pankreatitis, dan poliposis kolorektal. Alfa-fetoprotein (AFP) adalah glikoprotein yang diproduksi di yolk sac, sel epitelial dari traktus gastrointestinal, dan hati selama perkembangan embrional. Pada kehamilan, AFP memasuki cairan amnion melalui darah fetus, melalui plasenta, dan menuju darah maternal. Pada dewasa, AFP dapat ditemukan pada darah dalam konsetrasi yang sangat rendah. Konsentrasi serum normal dicapai pada usia 9 bulan setelah kelahiran. Peningkatan kadar AFP serum (di atas 10 ng/ml) pada dewasa dapat ditemukan pada pasien dengan hepatitis viral akut, sirosis hati, ikterus obstruktif, dan pada penyakit malignansi, seperti halnya pada kanker pankreas, kanker paru-paru, dan kanker gastrik. Fungsi utama AFP adalah follow up pasien dengan karsinoma hepatoselular (95100% sepsifisitas dan sensitivitas). Konsentrasi yang mencapai 1200 ng/ml memastikan diagnosis dari kanker primer hari dan pasien dengan tumor germinal non-seminoma (spesifisitas 60%). 2) Hormon Proses malignansi dapat mengubah sintesis dan sekresi dari berbagai hormon. Perubahan kuantitatif dan kualitatif dari sintesis dan sekresi hormon dapat menjadi indikator proses malignansi. Perubahan kuantitatif dapat muncul jika tumor berkembang pad ajaringan kelenjar endokrin, sehingga mempengaruhi produksi normal dari hormon. Kelompok ini terdiri dari penanda tumor malignan endokrin, seperti hormon paratiroid, insulin, prolaktin, katekolamin, dan lain-lain. Perubahan kualitatif muncul jika sel yang bertransformasi dari berbagai organ (paru-paru, payudara, lambung, sistem saraf pusat, dan ovarium) mulai memproduksi hormon (disebut pula produksi ektopik. Sebagai contoh, kalsitonin dan paratiroid pada kanker payudara, lipotropin pada tumor karsinoid, serta kalsinoid, insulin, dan paratiroid [ada malignoma timus. Di antara hormon lainnya, HCG merupakan tumor marker yang sering digunakan. Protein ini tergabung dalam kelompok antigen karsinoplasental, yaitu protein yang disintesis di plasenta selama kehamilan dan dapat ditemukan pada dewasa untuk beberapa kondisi. Peningkatan konsentrasinya dapat ditemukan pada seluruh wanita dengan tumor germinal dengan komponen tropoblastik (koriokarsinoma), mola hidatidosa, dan beberapa pasien pria dengan tumor germinal. HCG memiliki waktu paruh yang sangat cepat (36-48 jam) sehingga dapat digunakan untuk follow up respons tatalaksana, sebagaimana kita dapat memprediksi prognosis. Dikombinasikan dengan AFP, HCG merupakan penanda yang baik untuk pasien dengan tumor germinal. 3) Enzim Beberapa enzim khusus diproduksi lebih banyak jika proses malignansi muncul pada organisme, sehingga dapat digunakan sebagai tumor marker. Prostatic acid phosphatase (PAP) adalah enzim yang diproduksi olhe jaringan prostat normal. Peningkatan konsnetrasi (lebih dari 3 ng/ml) dapat ditemukan pada pasien dengan kanker prostat dan umumnya dihubungkan dengan fase lanjut dari penyakit ketika tumor mempenestasi kapsul prostat. Penentuan PAP dapat digunakan untuk membedakan proses jinak dengan malignan. Alkaline phosphatase (AP) muncul pada bentuk iso-enzim yang disintesis di hati, tulang, atau plasenta. Peningkatan konsentrasi serum pada pasien dengan penyakit

malignan umumnya mengindikasikan metastasis menuju hati dan/atau tulang, dan/atau adanya tumor primer tulang (osteosarkoma). Neuron specific enolase (NSE) adalah enzim glikolitik sitoplasma yang pertama kali dideteksi pada sel dengan asal neuroektodermal dan neuronal. Seiring dengan perkembangan pengetahuan, NSE ditemukan pada jaringan tumor dengan diferensiasi neuroektodermal dan neuroendokrin. Lactic dehydrogenase (LDH) sering ditemukan meningkat pada pasien dengan limfoma malignan dan tumor germinal. Gamma glutamyl transpeptidase (GGT) mengindikasikan kolestasis karena adanya metastasis hati. Sementara itu, timidin kinase (TK) dapat membantu evaluasi penyebaran penyakit pada pasien dengan leukemia, limfoma, tumor otak, small cell lung cancer, dan kanker payudara. 4) Tumor-Associated Antigens Kelompok ini terdiri dari penanda struktur membran dari sel tumor. Perkembangan teknologi menunjukkan kemungkinan memproduksi antibodi monoklonal sepsifik untuk antigen yang menjadi karakteristik sel tumor. Karena itu, penanda grup ini lebih spesifik untuk tipe malignansi dibandingkan penanda lainnya dan cukup sering konsentrasi serumnya merefleksikan lebih akurat mengenai pertumbuhan atau regresi dari massa tumor. Antigen carninomic 15-3 (CA 15-3) diproduksi pada epitel sekretorik dan dapat ditemukan pada ekskresi dari dewasa sehat. Peningkatan konsentrasi serum hingga 30 U/ml dideteksi pada pasien dengan kanke rpayudara. Akan tetapi, peningkatan CA 15-3 dapat pula ditemukan pada malignansi lainnnya seperti kanker paru-paru, prostat, ovarium, dan lain sebagainya. Meski tidak spesifik, CA 15-3 merupakan indikator yang baik untuk respons tatalaksana dan manifestasi penyakit pada kanker payudara. Penggunaan CA 1503 dan CEA pada kanker payudara meningkatkan sensitivitas pemeriksaan. CA 125 merupakan karakteristik dari kanker ovarium. Pada perkembangan embrional, CA 125 diproduksi pada epitelium selomik, duktus Muellerian, sel epitelial pleura, perikardium, dan peritoneum. Pada dewasa, CA 125 dapat ditemukan pada mukosa serviks uteri dan parenkim paru, namun tidak diproduksi oleh jaringan ovarian yang sehat. Peningkatan konsentrasi hingga 35 U/ml dapat ditemukan pada kanke rovarium, penyakit ginekologisdan malignansi non-ginekologikal. Pada pasien dengan kanker ovarian, CA 125 dapat digunakan untuk proses follow up untuk kanker epitelial dan tidak terdiferensiasi pada ovarium. CA 19-9 adalah glikolipid yang menunjukkan adanya hapten Lewis termodifikasi dari sistem golongan darah. CA 19-9 umumnya meningkat pada serum pasien dengan tumor gastrointestinal. Penanda ini sedikit lebih spesifik untuk kanker hati dan pankreas, tetapi umum juga meningkat pada pasine dengan kolorektal, gastrik, dan kanker ovarium. Pada konsentrasi yang cukup tinggi, CA 19-9 dapat ditemukan pada cairan prostat, cairan gastrik, cairan amnion, dan ekskresi pankreas dan duodenum. Prostate spesific antigen (PSA) adalah protease serin yang diekstraksi dari prostat dan sperma. PSA diproduksi pada jaringan prostat dan diekskresikan melalui cairan prostat. Peran protease serin ini untuk mencegah koagulasi sperma. Pada orang yang sehat, PSA dalam jumlah yang sangat kecil memasuki aliran darah. Pada pasien dengan gangguan prostat, jumlah PSA akan meningkat pada darah. Penanda ini spesifik untuk kanker prostat dan kadarnya menggambarkan tingkat bahaya dari kanker. Dengan interpretasi dalam bentuk PSA yang berbeda (total, terikat, bebas) dan evaluasi yang baik dari rasionya, pasien dapat diprediksikan dengan cukup baik, apakah mengalami kondisi penyakit prostat yang jinak ataupun malignan. 5) Protein Serum Khusus Kelompok ini terdiri dari berbagai protein, salah satunya adalah feritin. Feritin berikatan dengan besi intraselular dan bertanggung jawab untuk detoksikasi. Pada kondisi normal, konsentrasi tinggi dari feritin dapat ditemukan pada hati, limfa, dan sumsum tulang. Kadar normalnya berkisar dari 8-440 nng/ml. Konsentrasi yang

meningkat dapat ditemukan pada pasien dengan leukimia akut, limfoma Hodgkin, kanker paru, hati, dan prostat. Tiroglobulin adalah glikoprotein intraselular yang bertanggung jawab untuk produksi dan penyimpanan tirosin. Dalam konsentrasi yang rendah, glikoprotein ini dapat ditemukan pada orang sehat (0-75 ng/ml), dimana konsentrasi yang tinggi ditemukan pada pasien dengan karsinoma tiroid berdiferensiasi folikular. Beta-2-mikroglobulin adalah protein yang identik dengan rantai pendek HLA dan muncul pada membran sel pada seluruh sel yang berdiferensiasi. Peningkatan konsentrasinya ditemukan pada pasien dengan kanker paru, hati, pankreas, dan kolorektal, serta limfoma dan leukemia limfoid kronik. Protein S-100 memiliki kisaran normal di bawah 0,3 ng/ml. Protein ini menajdi indikator yang baik untuk trauma sistem saraf pusat dan berbagai kanker pada saraf, seperti neurinoma, glioblastoma, astrositoma, dan meningeoma. Protein ini juga memoliki peran spesial sebagai faktor prognostik pada pasien dengan melanoma malignan (<0,3 ng/ml 85% 3 years survival; 0,3-0,6 ng/ml 50% 3 years survival; > 0,6 ng/ml 10% 3 years survival). Tabel 2. Faktor yang Mempengaruhi Hasil Pemeriksaan Tumor Marker

Tabel 3. Berbagai Kegunaan Tumor Marker

KESIMPULAN: Tumor Marker tidak dapat dijadikan satu-satunya pemeriksaan konfirmasi diagnosis karena sifat kurang spesifiknya. Karena itu, dibutuhkan anamnesis gejala dan pemeriksaan laboratorium lainnya untuk mendukung konfirmasi diagnosis. Daftar Pustaka: 1. National Cancer Institute. Tumor markers. Diakses pada Kamis, 31 Mei 2012. Diunduh dari: http://www.cancer.gov/cancertopics/factsheet/ Detection/tumormarkers 2. Novakovic S. Tumor markers in clinical oncology. Radiology Oncology. 2004; 38(2):73-83. 3. Oosterhuis WP, Bruns DE, Watine J, Sandberg S, Horvath AR. Evidence-based guidelines in laboratory medicine: principles and methods. Clin Chem. 2004;50:806-18.