Anda di halaman 1dari 17

TINJAUAN PUSTAKA A.

DEFINISI Definisi kista adalah pertumbuhan abnormal berupa kantong (pocket, pouch) yang tumbuh abnormal di bagian tubuh tertentu. Kista ada yang berisi udara, cairan, nanah atau bahan-bahan lain. Kista ovarium adalah suatu kantung yang berisi cairan atau materi semisolid yang tumbuh pada atau sekitar ovarium1. B. ANGKA KEJADIAN Kistadenoma ovarii musinosum terbanyak ditemukan bersama-sama dengan kistadenoma ovarii serosum. Kedua tumor merupakan kira-kira 60% dari seluruh ovarium, sedang kistadenoma ovarii musinosum merupakan 40% dari seluruh kelompok neoplasma ovarium. Di Indonesia Hariadi (1970) menemukan frekuensi sebesar 27%; sedangkan Gunawan (1977) menemukan angka 29,9%; Sapardan (1970) 37,2%; dan Djaswadi 15,1%2. Sedangkan untuk kistadenoma ovarii serosum ditemukan dalam frekuensi yang hampir sama dengan kistadenoma musinosum dan dijumpai pada golongan umur yang sama. Agak lebih sering ditemukan kista bilateral (10 20%); Hariadi (1970) 10,9% dan Gunawan (1977) 20,3%. Selanjutnya, di Surabaya Hariadi dan Gunawan menemukan angka kejadian tumor ini masing-masing 39,8% dan 28,5%; di Jakarta Sapardan mencatat angka 20,0%; dan di Yogyakarta Djaswadi mencatat angka 36,1%2. Frekuensi kista dermoid dijumpai 10% dari seluruh neoplasma ovarium yang kistik dan paling sering ditemukan pada wanita yang masih muda. Ditaksir 25% dari semua kista dermoid bilateral, lazimnya dijumpai pada masa reproduksi walaupun kista dermoid dapat ditemukan pula pada anak kecil. Tumor ini dapat mencapai ukuran yang sangat besar, sehingga beratnya mencapai beberapa kilogram. Frekuensi kista dermoid di beberapa rumah sakit di Indonesia ialah sebagai berikut; Sapardan mencatat angka 16,9%; Djaswadi 15,1%; Hariadi dan Gunawan

masing-masing 11,1% dan 13,5% di antara penderita dengan tumor ovarium. Sebelum perang dunia II, Eerland dan Vos (1935) melaporkan frekuensi kista dermoid sebesar 3,8% dari 451 tumor ovarium yang diperiksa di Nederlands-Indisch Kanker Instituut di Bandung, di antaranya satu kasus pada anak umur 13 tahun2. C. KLASIFIKASI Terdapat berbagai macam tumor yang dapat tumbuh pada ovarium. Ada yang neoplastik dan nonneoplastik. Beberapa di antara tumor neoplastik bersifat jinak (noncancerous) dan tidak pernah menyebar di luar ovarium. Tipe lainnya adalah maligna atau ganas (cancerous) dan dapat menyebat ke bagian-bagian tubuh lainnya. Selanjutnya tumor neoplastik yang bersifat jinak dapat dibagi menjadi tumor kistik dan tumor solid. Kista ovarium termasuk tumor neoplastik yang bersifat jinak dan diklasifikasikan menjadi:1 1. Kistoma Ovarii Simpleks Kista ini mempunyai permukaan rata dan halus, biasanya bertangkai, seringkali bilateral dan dapat menjadi bersar. Dinding kista tipis tampak lapisan epitel jernih, serous dan berwarna kuning. Pada dinding kista tampak lapisan epitel kubik. Berhubung dengan adanya tangkai, dapat terjadi torsi (putaran tangkai) dengan gejalagejala mendadak. Diduga bahwa kista ini suatu jenis kistadenoma serosum, yang kehilangan epitel kelenjarnya berhubung dengan tekanan cairan dalam kista. 2. Kistadenoma Ovarii Musinosum Tumor lazimnya berbentuk multilokuler; oleh karena itu, permukaan berbagala (lobulated). Kira-kira 10% dapat mencapai ukuran yang amat besar, lebih-lebih pada penderita yang datang dari pedesaan. Pada tumor yang besar tidak lagi dapat ditemukan jaringan ovarium yang normal. Tumor biasanya unilateral, akan tetapi dapat juga dijumpai yang bilateral. Kista menerima darahnya melalui suatu tangkai; kadang-kadang dapat terjadi torsi yang mengakibatkan gangguan sirkulasi. Gangguan ini dapat menyebabkan

perdarahan dalam kista dan perubahan degeneratif, yang memudahkan timbulnya perlekatan kista dengan omentum, usus-usus dan peritoneum parietale. Dinding kista agak tebal dan berwarna putih keabu-abuan, yang terakhir ini khususnya bila terjadi perdarahan atau perubahan degeneratif di dalam kista. Pada pembukaan terdapat cairan lendir yang khas, kental seperti gelatin, melekat dan berwarna kuning sampai coklat tergantung dari percampurannya dengan darah. 3. Kistadenoma Ovarii Serosum Pada umumnya kista jenis ini tak mencapai ukuran yang amat besar dibandingkan dengan kistadenoma musinosum. Permukaan tumor biasanya licin, akan tetapi dapat pula berbagala karena kista serosum pun dapat berbentuk multilokuler, meskipun lazimnya berongga satu. Warna kista putih keabu-abuan. Isi kista cair, kuning dan kadang-kadang coklat karena campuran darah. Tidak jarang kistanya sendiri kecil, tetapi permuukaannya penuh dengan pertumbuhan papiler (solid papilloma). 4. Kista Endometroid Kista ini biasanya unilateral dangan permukaan licin; pada dinding dalam terdapat satu lapisan sel-sel, yang menyerupai lapisan epitel endometrium. 5. Kista Dermoid Tidak ada ciri-ciri yang khas pada kista dermoid. Dinding kista kelihatan putih, keabu-abuan dan agak tipis. Konsistensi tumor sebagian kistik kenyal, di bagian lain padat. Sepintas lalu kelihatan seperti kista berongga satu, akan tetapi bila dibelah, biasanya nampak satu kista besar dengan ruangan kecil-kecil dalam dindingnya. Pada umumnya tedapat satu daerah pada dinding bagian dalam, yang menonjol dan padat. Tumor mengandung elemen-elemen ektodermal dan entodermal. Maka dapt ditemukan kulit, rambut, kelenjar sebasea, gigi (ektodermal), tulang rawan, serat otot jaringan ikat (mesodermal) dan mukosa traktus gastrointestinalis, epitel saluran

pernapasan, dan jaringan tiroid (entodermal). Bahan yang terdapat dalam rongga kista ialah produk dari kelenjar sebasea berupa massa lembek seperti lemak, bercampur dengan rambut. Rambut ini terdapat beberapa serat saja, tetapi dapat pula merupakan gelondongan seperti konde. Pada kista dermoid dapat terjadi torsi tangkai dengan gejala nyeri mendadak di perut bagian bawah. Ada kemungkinan pula terjadinya sobekan dinding kista dengan akibat pengeluaran isi kista dalam rongga peritoneum2. D. TANDA DAN GEJALA Kebanyakan wanita dengan tumor ovarium tidak menimbulkan gejala dalam waktu yang lama. Gejala umumnya sangat bervariasi dan tidak spesifik. Sebagian gejala dan tanda adalah akibat dari pertumbuhan, aktivitas endokrin, atau komplikasi tumor tersebut. Pada stadium awal dapat berupa gangguan haid. Dapat juga terjadi peregangan atau penekanan daerah panggul yang menyebabkan nyeri spontan atau nyeri pada saat bersenggama. Jika tumor sudah menekan rektum atau kandung kemih mungkin terjadi konstipasi atau sering berkemih. Pada stadium lanjut gejala yang terjadi berhubungan dengan adanya asites (penimbunan cairan dalam rongga perut), penyebaran ke omentum (lemak perut) dan organ-organ di dalam rongga perut lainnya seperti usus-usus dan hati. Penumpukan cairan bisa juga terjadi pada rongga dada akibat penyebaran penyakit ke rongga dada yang mengakibatkan penderita sangat merasa sesak napas1. Pada umumnya gejala yang timbul dan patognomonik adalah: Penekanan terhadap vesika dan rektum. Perut terasa penuh Pembesaran perut Perdarahan (jarang) Nyeri (pada putaran tangkai/kista pecah) Sesak napas, oedema tungkai (pada tumor yang sangat besar)3.

E. DIAGNOSIS Apabila pada pemeriksaan ditemukan tumor di rongga perut bagian bawah dan atau di rongga panggul, maka setelah diteliti sifat-sifatnya (besarnya, lokalisasi, permukaan, konsistensi, apakah dapat digerakkan atau tidak), perlulah ditentukan jenis tumor tersebut. Pada tumor ovarium biasanya uterus dapat diraba tersendiri, terpisah dari tumor. Jika tumor ovarium terletak di garis tengah dalam rongga perut bagian bawah dan tumor itu konsistensinya kistik, perlu dipikirkan adanya kehamilan atau kandung kemih penuh, sehingga pada anamnesis perlulah lebih cermat dan disertai pemeriksaan tambahan. Di negara-negara berkembang, karena tidak segera dioperasi tumor ovarium dapat menjadi besar, sehingga mengisi seluruh rongga perut. Dalam hal ini kadangkadang sukar untuk menentukan apakah pembesaran perut disebabkan oleh tumor atau ascites, akan tetapi dengan pemeriksaan yang dilakukan dengan teliti, kesukaran ini biasanya dapat diatasi. Apabila sudah ditentukan bahwa tumor yang ditemukan ialah tumor ovarium, maka perlu diketahui apakah tumor itu bersifat neoplastik atau nonneoplastik. Tumor nonneoplastik akibat peradangan umumya dalam anamnesis menunjukkan gejala-gejala ke arah peradangan genital, dan pada pemeriksaan tumor-tumor akibat peradangan tidak dapat digerakkan karena perlengketan. Kista nonneoplastik umumnya tidak menjadi besar dan diantaranya pada suatu waktu biasanya menghilang sendiri2.

F. PEMERIKSAAN PENUNJANG Tidak jarang tentang penegakan diagnosis tidak dapat diperoleh kepastian sebelum dilakukan operasi, akan tetapi pemeriksaan yang cermat dan analisis yang tajam dari gejala-gejala yang ditemukan dapat membantu dalam pembuatan diferensial diagnosis2. Beberapa cara yang dapat digunakan untuk membantu menegakkan diagnosis adalah: 1. Laparoskopi Pemeriksaan ini sangat berguna untuk mengetahui apakah sebuah tumor berasal dari ovarium atau tidak, serta untuk menentukan sifat-sifat tumor itu. 2. Ultrasonografi Dengan pemeriksaan ini dapat ditentukan letak dan batas tumor, apakah tumor berasal dari uterus, ovarium, atau kandung kencing, apakah tumor kistik atau solid, dan dapat pula dibedakan antara cairan dalam rongga perut yang bebas dan yang tidak. 3. Foto Rontgen Pemeriksaan ini berguna untuk menentukan adanya hidrothoraks. Selanjutnya, pada kista dermoid kadang-kadang dapat dilihat adanya gigi dalam tumor. 4. Parasintesis Pungsi ascites berguna untuk menentukan sebab ascites. Perlu diperhatikan bahwa tindakan tersebut dapt mencemarkan cavum peritonei dengan isi kista bila dinding kista tertusuk2. Pada pemeriksaan ultrasonografi (USG) kista abnormal dapat memberikan gambaran kantung dengan banyak ruang-ruang dan terlihat pertumbuhan sel-sel yang menonjol dari dinding dalam kista. Ini membuat permukaan kista menjadi bergerigi atau tidak mulus. Dan tidak seperti kista fungsional yang hanya terisi cairan, kista abnormal memperlihatkan campuran cairan dan jaringan solid4.

G. PENATALAKSANAAN Terapi kista ovarium bergantung dari beberapa faktor, yaitu ukuran dan jenis kista, umur dan kondisi kesehatan penderita, rencana kehamilan di masa depan, demikian juga dengan beratnya gejala-gejala yang terjadi4. Dua prinsip penting dalam manajemen kista ovarium yaitu: 1. Sikap wait and see. Oleh karena mayoritas kista adalah kista fungsional yang akan menyusut dengan sendirinya dalam 2 3 bulan. Semakin dini deteksinya semakin mudah pengobatannya. Tentu setiap wanita berharap agar ovariumnya tetap utuh, tidak rusak atau dapat dipertahankan, jika diputuskan untuk mengangkat kista. Kemungkinan ini dapat terjadi jika kista ditemukan dalam stadium dini. 2. Pilihan lainnya ialah terapi bedah. Indikasi bedah ialah kista yang tidak menghilang dalam beberapa kali siklus menstruasi atau kista yang memiliki ukuran demikian besar, kista yang ditemukan pada wanita yang menopause atau kista yang menimbulkan rasa nyeri luar biasa dan sampai timbul perdarahan. Tindakan bedah dapat sangat terbatas berupa pengangkatan kista dengan tetap mempertahankan ovarium. Tindakan ini kemungkinan dapat menjadi lebih ekstensif, mulai dari pengangkatan seluruh ovarium atau lebih luas lagi merembet ke pengangkatan uterus (histerektomi total)4. Prinsip penanganan kista ovarium bahwa tumor ovarium neoplastik memerlukan operasi dan tumor nonneoplastik tidak, jika menghadapi tumor ovarium yang tidak memberikan gejala/keluhan pada penderita dan yang besarnya tidak melebihi 5 cm diameternya, kemungkinan besar tumor tersebut adalah kista folikel atau kista korpus luteum. Tidak jarang tumor tersebut mengalami pengecilan secara spontan dan menghilang, sehingga perlu diambil sikap untuk menunggu selama 2 3 bulan, jika selama waktu observasi dilihat peningkatan dalam pertumbuhan tumor tersebut, dapat diambil kesimpulan bahwa kemungkinan tumor besar itu bersifat neoplastik dan dapat dipertimbangkan untuk pengobatan operatif2.

Tindakan operasi pada tumor ovarium neoplastik yang tidak ganas ialah pengangkatan tumor dengan mengadakan reseksi pada bagian ovarium yang mengandung tumor, akan tetapi jika tumornya besar atau ada komplikasi perlu dilakukan pengangkatan ovarium, biasanya disertai pengangkatan tuba (salphyngooogorektomi). Jika terdapat keganasan operasi yang lebih tepat ialah histerektomi dan salphyngoooforektomi bilateral. Akan tetapi pada wanita muda yang masih ingin mendapatkan keturunan dan dengan tingkat keganasan tumor yang rendah, dapat dipertanggungjawabkan untuk mengambil resiko dengan melakukan operasi yang tidak seberapa radikal2. H. KOMPLIKASI Komplikasi yang dapat terjadi pada kista ovarium diantaranya2: Torsi Ruptur Perdarahan Menjadi keganasan: potensi kistadenoma ovarium jinak menjadi ganas sudah dipostulasikan, kista dermoid dan endometriosis dapat berubah menjadi ganas, akan tetapi dalam persentase yang relatif kecil. I. PROGNOSIS Wiliam Helm, C dkk (2005) mengatakan: Prognosis dari kista jinak sangat baik. Kista jinak tersebut dapat tumbuh di jaringan sisa ovarium atau di ovarium kontralateral. Kematian disebabkan karena karsinoma ovarii ganas berhubungan dengan stadium saat terdiagnosis pertama kali dan pasien dengan keganasan ini sering ditemukan sudah dalam stadium akhir. Angka harapan hidup dalam 5 tahun rata-rata 41,6% bervariasi antara 86,9% untuk stadium FIGO Ia dan 11,1% untuk stadium IV.

Tumor sel granuloma memiliki angka bertahan hidup 82% sedangkan karsinoma sel skuamosa yang berasal dari kista dermoid berkaitan dengan prognosis yang buruk. Sebagian besar tumor sel germinal yang terdiagnosis pada stadium awal memiliki prognosis yang sangat baik. Disgerminoma dengan stadium lanjut berkaitan dengan prognosis yang lebih baik dibandingkan germinal sel tumor nondisgerminoma. Tumor yang lebih tidak agresif dengan potensi keganasan yang rendah mempunyai sifat yang lebih jinak tetapi berhubungan dengan angka kematian yang tinggi. Secara keseluruhan angka bertahan hidup selama 5 tahun adalah 86,2%.

LAPORAN KASUS

I. Identitas Pasien Nama Jenis Kelamin Umur Suku Pendidikan Pekerjaan Status Pernikahan Alamat MRS II. Anamnesis Keluhan Utama: pasien mengeluhkan terasa benjolan di perut bagian bawah Riwayat penyakit sekarang: Pasien mengeluhkan terasa benjolan di perut bagian bawah yang disadari sejak 1 minggu yang lalu. Pasien mengaku benjolan tersebut semakin lama makin membesar. Pasien juga mengeluh nyeri pada benjolan tersebut sejak 1 minggu yang lalu. Pasien juga mengeluh sering kencing sejak 1 bulan yang lalu, frekuensi kencing 15 kali perhari, jumlah sedikit-sedikit, nyeri saat kencing disangkal pasien. Perdarahan tidak ada, gangguan buang air besar disangkal oleh pasien. Riwayat menstruasi : pasien mengaku selalu mendapat haid tiap bulan dengan siklus : Ny. Warne : Perempuan : 29 tahun : Sasak : SD : IRT : Menikah : desa Sokong, Tanjung, KLU : 15 April 2012.

haid 30 hari dan lamanya haid 5 hari.

Riwayat kontrasepsi Riwayat obsetri:

:-

1. Laki-laki, 10 tahun, aterm, dukun, spontan, hidup. Riwayat penyakit terdahulu: penderita menyangkal pernah menderita penyakit kencing manis, jantung, asma, tekanan darah tinggi dan sesak nafas. Riwayat penyakit keganasan pada keluarga: tidak ada III. Pemeriksaan Fisik Status Umum Keadaan umum Kesadaran Tensi Nadi Respirasi T rectal Status general Kepala Thorak : Mata Anemia -/-, ikterus -/-, pupil isokor, reflex pupil (+/+) THT dalam batas normal, pembesaran KGB(-) : inspeksi : simetris Palpasi : gerakan didnding dada sama kanan dan kiri Perkusi : sonor pada kedua lapang paru Auskultasi : Cor S1S2 tunggal reguler murmur Po vesikuler +/+, ronkhi -/-, wheezing -/Abdomen : Inspeksi : Perut tampak membesar. Palpasi : Tinggi fundus uteri tidak teraba. Teraba massa dengan konsistensi padat pada perut bagian bawah dengan diameter 16 x : Baik : Composmentis : 110/70 mmHg. : 80x/menit : 16x/menit : 36,4 oC

24cm, permukaan irregular, berbatas tegas, dapat digerakkan dan terdapat nyeri tekan. Perkusi : nyeri ketuk (+), shufting dullness (-) Auskultasi : bising usus (+) Ekstremitas : akral hangat (+), oedema (-) IV. Pemeriksaan Penunjang Pemeriksaan penunjang yang dilakukan untuk menegakkan diagnosis kasus ini adalah dengan USG didapatkan hasil: uterus sulit dievaluasi. Tampak massa hiperechoic dan beberapa sonolunan, ukuran tidak terjangkau oleh tranduser. Tampak cairan bebas. Kesan kistoma ovarii dengan bagian padat curiga keganasan dan ascites. V. Diagnosis Kista ovarium. VI. Penatalaksanaan Rencana Tindakan : Laparotomi. : Creatinin, gula darah dan UL. Konsultasi ke bagian Penyakit Dalam dan Anastesia sebelum operasi. Laparotomi tanggal 17 april 2012, namun laparotomi ditunda karena pasien belum mendapatkan darah untuk persiapan operasi

Cek laboratorium sebelum operasi: DL, HbSAg, SGOT, SGPT, Ureum

PEMBAHASAN kista adalah pertumbuhan abnormal berupa kantong (pocket, pouch) yang tumbuh abnormal di bagian tubuh tertentu. Kista ada yang berisi udara, cairan, nanah atau bahan-bahan lain. Kista ovarium adalah suatu kantung yang berisi cairan atau materi semisolid yang tumbuh pada atau sekitar ovarium Pada kasus ini gejala dan tanda yang dialami pasien adalah perut terasa membesar karena pasien mengeluhkan adanya benjolan padat di daerah perut bagian bawah. Pada pasien ini juga terdapat keluhan buang air kecil yang sering dan sedikitsedikit, hal ini dapat terjadi karena ukuran kista yang besar sehingga dapat menekan organ disekitarnya, dalam hal ini adalah vesika urinaria. Namun rektum belum mengalami penekanan sehingga tidak terdapat gangguan pada buang air besar. Usia pasien yang menderita kista pada kasus ini adalah 29 tahun. Hal ini sesuai dengan literatur yang menyatakan bahwa kista ovarium paling sering terdapat pada wanita berusia antara 20 50 tahun dan jarang sekali pada masa prapubertas. Pemeriksaan fisik yang dilakukan pada pasien untuk menentukan diagnosis kista dalam hal ini adalah pemeriksaan abdomen, dimana didapatkan hasil pada abdomen bagian kanan bawah teraba massa dengan konsistensi padat pada perut bagian bawah dengan diameter 16 x 24 cm, permukaan irregular, berbatas tegas dan dapat digerakkan. Pasien juga mengatakan pada pemeriksaan palpasi dan perkusi abdomen terasa nyeri didaerah perut bagian bawah. Rasa nyeri ini kemungkinan terjadi karena adanya torsi dari kista. Rasa nyeri dapat juga terjadi akibat ruptur dan perdarahan yang terjadi sekonyong-konyongnya dalam jumlah yang banyak, akan terjadi distensi cepat dari kista yang menimbulakan rasa nyeri mendadak. Kecurigaan kista nonneoplastik dapat disingkirkan dari diagnosis karena tumor yang diderita pasien semakin lama makin membesar dan tidak dapat menghilang sendiri. Tidak didapatkan tanda-tanda peradangan pada pasien seperti suhu badan tinggi dan tumor yang lengket dengan peritoneum. Dari anamnesis dan pemeriksaan

fisik yang dilakukan dapat dibuat beberapa diferensial diagnosis yaitu tumor tumor abdomen yang biasanya terletak di bagian bawah rongga perut seperti mioma subserosum dan mioma intraligamenter, serta tumor-tumor bukan dari ovarium yang tertelak di daerah pelvis antara lain ginjal ektopik, limpa bertangkai dan tumor dari kolon sigmoideum. Namun pemeriksaan ini belum dapat menegakkan diagnosis pasti tumor ovarium, karena harus menyingirkan diferensial diagnosis dari kista ovarium sehingga perlu dilakukan pemeriksaan penunjang. Ketika USG menangkap gambaran ganas, seharusnya dibutuhkan pemeriksaan lanjutan, sebab penentuan definitif sifat kista abnormal, apakah jinak atau ganas, hanya dapat diketahui dengan mengambil contoh jaringan secara langsung. Hal ini mesti dikerjakan melalui tindakan operasi. Namun, pada kasus ini tidak dilakukan pemeriksaan jaringan (patologi anatomi) sehingga tidak dapat ditentukan apakah kista bersifat jinak atau ganas. Tindakan yang akan dilakukan pada pasien kista di kasus ini adalah laparatomi. Pasien telah dijadwalkan operasi tanggal 17 April 2012, tetapi karena pasien belum menyiapkan darah untuk persiapan transfusi paska operasi, laparatomi ditunda.

DAFTAR PUSTAKA 1. Mulyana, Salim. (2007), Kistoma Ovarii, (medlinux.blogspot), Available from: http://medlinux.blogspot.com. (Acessed: 2012, April 15). 2. Wiknjosastro, Hanifa, dkk. (2005), Ilmu Kandungan, Edisi 2, Yayasan Bina Pustaka Sarwono Prawirohardjo, Jakarta. 3. Moeloek, Farid Anfasa. (2003), Standar Pelayanan Medik Obstetri dan Ginekologi, Perkumpulan Obstetri dan Ginekologi Indonesia, Jakarta. 4. Anonim. (2004), Kista Ovarium yang Jarang Disadari. (majalah farmasia), Available from: http://www.majalahfarmasia.com. (Acessed: 2012, April 15). 5. William Helm, C. (2005), Ovarian Cysts, (emedicine), Available from: http://emedicine.com (Acessed: 2012, April 15).

LAPORAN KASUS GINEKOLOGI

KISTA OVARIUM

Disusun oleh : RARIN CHINTIA NOVALISSA H1A005043 PEMBIMBING Dr. A. Rusdhy H. Hamid SpOG

DALAM RANGKA MENGIKUTI KEPANITERAAN KLINIK MADYA DI LAB/SMF KEBIDANAN DAN PENYAKIT KANDUNGAN FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS MATARAM RSU MATARAM AGUSTUS 2012