Anda di halaman 1dari 23

TRANSPLANTASI HATI (Makalah Kapita Selekta Biokimia)

Oleh 1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. Fitriyanti (0917011029) Miftahul Jannah (0917011012) Rizki Yuliandari (0917011013) Stephanie Oktiana (0917011057) Adek purnawati (0817011014) Miftasani (0817011041) Musrifatun (0817011044)

Jurusan Kimia Fakutas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Universitas Lampung 2012

I.

PENDAHULUAN

A.

Latar Belakang

Hati merupakan kelenjar terbesar dalam tubuh yang terletak di bagian atas rongga perut sebelah kanan, tepatnya di bawah diafragma. Hati mempunyai tugas penting yang rumit demi kelangsungan seluruh fungsi kesehatan tubuh. Dalam sistem pencernaan, hati berperan mensekresikan empedu yang memegang peranan penting dalam metabolisme karbohidrat, lemak, dan protein. Sedangkan dalam sistem eksresi, hati berperan membantu fungsi ginjal dengan cara memecah beberapa senyawa yang bersifat racun yang dikeluarkan dalam bentuk amonia, urea, dan asam urat. Proses pemecahan senyawa racun oleh hati disebut proses detoksifikasi.

Penting bagi kita untuk selalu menjaga kesehatan hati karena terdapat beberapa jenis penyakit yang dapat menyerang hati diantaranya hepatitis, sirosis, dan kanker hati. Ketiga penyakit ini termasuk penyakit hati yang sering terjadi. Penyembuhan sirosis bisa ditangani dengan melakukan transplantasi hati atau cangkok hati.

Transplantasi hati pada dasarnya adalah mengganti hati yang rusak dengan hati yang sehat, bisa dari donor cadaver (mayat) maupun dari donor living (hidup). Hati pendonor diambil sebagian dan didonorkan kepada yang sakit. Sementara organ hati si penerima donor harus diangkat seluruhnya karena sudah tidak berfungsi dengan baik. Transplantasi hati ditempuh untuk menghindari ancaman kematian. Proses transplantasi akan memperpanjang daya tahan hidup dan produktivitas pasien sampai perpanjangan usia 1 tahun atau bahkan mencapai 3-8

tahun. Hal ini tergantung perawatan sebelum, selama, maupun sesudah transplantasi hati .

B.

Tujuan

Tujuan dari makalah ini adalah untuk memberikan informasi tentang transplantasi hati.

II.

ISI

1.

Hati

Hati (bahasa Yunani:hpar) merupakan kelenjar terbesar di dalam tubuh. Hati adalah organ tunggal dalam tubuh yang berukuran paling besar dan kompleks dengan bobot sekitar 2 kg. Hati berfungsi mengatur komposisi darah, terutama jumlah gula, protein, dan lemak yang masuk dalam peredaran darah. Hampir semua zat makanan yang diserap melalui usus diproses dalam hati. Selain untuk mengubah zat makanan menjadi bentuk yang dapat digunakan tubuh. Organ hati dapat mendetoksifikasi darah dengan cara memisahkan obat-obatan dan bahan kimia atau metabolit yang berpotensi merusak dari aliran darah. Hati juga menyingkirkan bilirubin (senyawa pigmen berwarna kuning yang merupakan produk katabolisme enzimatik biliverdin oleh biliverdin reduktase) dari darah lalu mengubahnya sehingga dapat dikeluarkan ke empedu dan akhirnya lewat feses.

Gambar 1. Hati manusia

Sebagai kelenjar, hati menghasilkan:

empedu yang mencapai liter setiap hari. Empedu merupakan cairan kehijauan dan terasa pahit, berasal dari hemoglobin sel darah merah yang telah tua, yang kemudian disimpan di dalam kantong empedu atau diekskresi ke duodenum. Empedu mengandung kolesterol, garam mineral, garam empedu, pigmen bilirubin, dan biliverdin. Sekresi empedu berguna untuk mencerna lemak, mengaktifkan lipase, membantu daya absorpsi lemak di usus, dan mengubah zat yang tidak larut dalam air menjadi zat yang larut dalam air. Apabila saluran empedu di hati tersumbat, empedu masuk ke peredaran darah sehingga kulit penderita menjadi kekuningan. Orang yang demikian dikatakan menderita penyakit kuning.

sebagian besar asam amino faktor koagulasi I, II, V, VII, IX, X, XI protein C, protein S dan anti-trombin kalsidiol trigliserida melalui lintasan lipogenesis kolesterol insulin-like growth factor 1 (IGF-1), sebuah protein polipeptida yang berperan penting dalam pertumbuhan tubuh dalam masa kanak-kanak dan tetap memiliki efek anabolik pada orang dewasa.

enzim arginase yang mengubah arginina menjadi ornitina dan urea. Ornitina yang terbentuk dapat mengikat NH dan CO yang bersifat racun.

trombopoietin, sebuah hormon glikoprotein yang mengendalikan produksi keping darah oleh sumsum tulang belakang.

Pada triwulan awal pertumbuhan janin, hati merupakan organ utama sintesis sel darah merah, hingga mencapai sekitar sumsum tulang belakang mampu mengambil alih tugas ini.

albumin, komponen osmolar utama pada plasma darah. angiotensinogen, sebuah hormon yang berperan untuk meningkatkan tekanan darah ketika diaktivasi oleh renin, sebuah enzim yang disekresi

oleh ginjal saat ditengarai kurangnya tekanan darah oleh juxtaglomerular apparatus.

enzim glutamat-oksaloasetat transferase, glutamat-piruvat transferase dan laktat dehidrogenase

Selain melakukan proses glikolisis dan siklus asam sitrat seperti sel pada umumnya, hati juga berperan dalam metabolisme karbohidrat yang lain:

Glukoneogenesis, sintesis glukosa dari beberapa substrat asam amino, asam laktat, asam lemak non ester dan gliserol. Pada manusia dan beberapa jenis mamalia, proses ini tidak dapat mengkonversi gliserol menjadi glukosa. Lintasan dipercepat oleh hormon insulin seiring dengan hormon tri-iodotironina melalui pertambahan laju siklus Cori.[17]

Glikogenolisis, lintasan katabolisme glikogen menjadi glukosa untuk kemudian dilepaskan ke darah sebagai respon meningkatnya kebutuhan energi oleh tubuh. Hormon glukagon merupakan stimulator utama kedua lintasan glikogenolisis dan glukoneogenesis menghindarikan tubuh dari simtoma hipoglisemia. Pada model tikus, defisiensi glukagon akan menghambat kedua lintasan ini, namun meningkatkan toleransi glukosa.[18] Lintasan ini, bersama dengan lintasan glukoneogenesis pada saluran pencernaan dikendalikan oleh kelenjar hipotalamus.[19]

Glikogenesis, lintasan anabolisme glikogen dari glukosa.

Dan pada lintasan katabolisme:

degradasi sel darah merah. Hemoglobin yang terkandung di dalamnya dipecah menjadi zat besi, globin, dan heme. Zat besi dan globin didaur ulang, sedangkan heme dirombak menjadi metabolit untuk diekskresi bersama empedu sebagai bilirubin dan biliverdin yang berwarna hijau kebiruan. Di dalam usus, zat empedu ini mengalami oksidasi menjadi urobilin sehingga warna feses dan urin kekuningan.

degradasi insulin dan beberapa hormon lain.

degradasi amonia menjadi urea degradasi zat toksin dengan lintasan detoksifikasi, seperti metilasi.

Hati juga mencadangkan beberapa substansi, selain glikogen:


vitamin A (cadangan 12 tahun) vitamin D (cadangan 14 bulan) vitamin B12 (cadangan 1-3 tahun) zat besi zat tembaga. Penyakit pada hati

2.

Hati merupakan organ yang menopang kelangsungan hidup hampir seluruh organ lain di dalam tubuh. Oleh karena lokasi yang sangat strategis dan fungsi multidimensional, hati menjadi sangat rentan terhadap datangnya berbagai penyakit. Contoh-contoh kelainan pada hati adalah : Hepatitis (Radang hati), biasanya disebabkan oleh virus seperti hepatitis A, B, dan C. Hepatitis dapat memiliki penyebab non-infeksi seperti minum alkohol, obat-obatan, reaksi alergi, atau obesitas. Fibrosis adalah lanjutan dari radang hati. Setelah meradang, hati mencoba memperbaiki dengan membentuk bekas luka atau parut kecil. Parut ini disebut fibrosis, yang membuat hati lebih sulit melakukan fungsinya. Sirosis merupakan kerusakan hati jangka panjang yang mengakibatkan jaringan parut semakin banyak terbentuk dan mulai menyatu (permanent).. Hati kemudian menjadi tidak dapat berfungsi dengan baik. Kanker Hati merupakan tahap lanjutan dari sirosis. Ada beberapa jenis kanker hati, yaitu: 1. Hepatoseluler Karsinoma (HCC) merupakan bentuk paling umum dari kanker hati pada orang dewasa. Pasien Hepatitis C kronis memiliki resiko lebih tinggi untuk menderita kanker jenis ini. Kanker ini dimulai dalam hepatosit, yaitu jenis sel hati utama. HCC dapat memiliki pola

pertumbuhan yang berbeda. Beberapa bermula sebagai tumor tunggal yang tumbuh membesar dan pada akhirnya penyakit ini tidak menyebar ke bagian lain dari hati. Sedangkan lainnya bermula di banyak tempat di seluruh hati, bukan sebagai tumor tunggal. Hal ini paling sering terlihat pada orang dengan sirosis hati dan merupakan pola yang paling umum terlihat, khususnya di negara-negara maju dimana konsumsi alkohol tinggi. 2. Kanker saluran empedu (cholangiocarcinomas) merupakan kanker saluran empedu. Kanker ini dimulai pada saluran empedu. 3. Kanker yang dimulai di pembuluh darah di hati (angiosarcomas dan hemangiosarcomas) adalah jenis kanker langka yang dimulai di dalam pembuluh darah hati. Tumor ini tumbuh cepat. Seringkali pada saat ditemukan mereka sudah menyebar sehingga tidak dapat diangkat. Pengobatan mungkin membantu memperlambat penyakit, tetapi kebanyakan pasien tidak tinggal lebih dari setahun setelah kanker ini ditemukan. 4. Hepatoblastoma merupakan kanker yang sangat jarang terjadi, biasanya ditemukan pada balita. Pengobatan utamanya adalah dengan operasi dan kemoterapi. Penyakit ini memiliki kelangsungan hidup hingga 90% bila ditemukan pada stadium awal. Stadium Kanker Hati Sebelum menyarankan opsi pengobatan dokter biasanya perlu mengetahui stadium kanker hati Ada empat tahap kanker hati: # Stadium I: Kanker hati bersifat lokal dan bisa diangkat/dioperasi. Tumor berukuran 2 cm atau kurang, terletak di daerah tunggal hati dan dapat dilakukan pembedahan. Tumor jinak hati yang umum adalah Hemangioma, Hepatik adenoma, Focal nodular, hyperplasia, Kista, Lipoma, Fibroma, dan Leiomyoma. # Stadium II: Kanker hati masih bersifat lokal dan dapat dioperasi. Pada tahap ini, kanker hadir dalam satu atau lebih lokasi di hati dan berukuran

> 2 cm,tetapi tidak menyebar ke kelenjar getah bening atau pembuluh darah yang berdekatan. # Stadium III: Pada tahap ini, kanker belum menyebar ke organ tubuh lainnya atau kelenjar getah bening. Biasanya ukuran tumor sudah 6 cm. # Stadium IV: Pada tahap ini, kanker hadir di lebih dari satu lobus hati, berukuran > 6cm, dan mungkin sudah menyebar ke kelenjar getah bening yang berdekatan, organ lain (kecuali kantong empedu) dan struktur (seperti peritoneum), serta tumbuh ke dalam atau di sekitar pembuluh darah utama.

Gambar 2. Tahapan Penyakit Hati

Gambar 3. Hati yang Terkena Kanker Kegagalan hati: Sewaktu sirosis bertambah parah, hati tidak dapat menyaring kotoran, racun, dan obat yang ada dalam darah. Hati tidak lagi dapat memproduksi clotting factor untuk menghentikan pendarahan. Cairan tubuh terbentuk pada abdomen dan kaki dan pendarahan pada usus sering terjadi. Pada titik ini, transplantasi hati adalah pilihan satu-satunya.

Ascites adalah dampak dari sirosis. Ascites merupakan kebocoran cairan dari hati ke dalam perut yang menyebabkan perut buncit dan berat. Batu empedu, jika batu empedu terjebak dalam saluran empedu yang mengeringkan hati, akibatnya dapat terjadi hepatitis dan infeksi saluran empedu (kolangitis).

Hemochromatosis, yaitu adanya besi yang terdeposit dalam hati sehingga dapat merusak hati. Kolangitis sclerosing Primer merupakan sebuah penyakit langka dengan penyebab yang tidak diketahui, kolangitis sclerosing primer menyebabkan peradangan dan jaringan parut pada saluran empedu di hati.

Sirosis bilier Primer adalah kelainan yang terjadi akibat rusaknya saluran empedu di hati yang menyebabkan sirosis.

3.

Penyebab Kanker Hati dan Gejala-Gejalanya

Penyebab kanker hati sampai sekarang belum diketahui secara pasti. Namun kanker hati kanker hati primer (karsinoma hepatoseluler) cenderung terjadi pada hati yang rusak karena cacat lahir, infeksi kronis akibat penyakit seperti hepatitis B dan C, hemochromatosis (terlalu banyaknya kadar besi dalam hati) dan sirosis hati. Lebih dari 50% orang yang terdiagnosa kanker hati primer, telah mengalami sirosis hati. Mereka yang menderita kondisi genetik yang disebut hemochromatosis memiliki risiko yang lebih besar. Selain dari virus hepatitis, kanker hati dapat disebabkan oleh zat-zat berikut antara lain herbisida, aflatoksin (sejenis jamur tanaman pada gandum & palawija), dan bahan kimia tertentu seperti vinil klorida dan arsen. Faktor lainnya penyebab kanker hati, adalah:

Jenis kelamin (pria/wanita), biasanya pria lebih beresiko tinggi kanker hati daripada wanita.

Pola hidup, misalnya tidur terlalu malam dan bangun terlalu siang, tidak buang air besar pada pagi hari, tidak makan pagi, terlalu banyak

mengkonsumsi obat-obatan atau narkoba, terlalu banyak mengkonsumsi bahan pengawet, zat tambahan (penyedap rasa), zat pewarna, pemanis buatan, mengkonsumsi masakan mentah atau dimasak matang, merokok atau menjadi perokok pasif, juga mengkonsumsi alkohol.

Berat badan atau Obesitas dapat meningkatkan resiko terkena kanker hati. Ras, umumnya kanker hati terjadi pada ras Asia dan Oceania. Penggunaan steroid anabolic, hormon yang disalahgunakan oleh para atlet untuk mengembangkan otot ini, sedikit dapat meningkatkan resiko kanker hati dalam jangka panjang.

Riwayat diabetes, studi telah menyatakan adanya hubungan antara diabetes dan kanker hati.

Penyakit metabolik yang diwariskan terbukti dapat meningkatkan resiko kanker hati

Penyakit langka, penelitian telah menemukan hubungan antara kanker hati dan beberapa penyakit langka seperti defisiensi alfa-1-antitrypsin, tyrosinemia, dan penyakit Wilson.

Kanker hati seringkali tidak menimbulkan gejala. Ketika kanker bertambah besar, mungkin akan trelihat satu atau lebih dari gejala umum ini:

Rasa sakit di perut bagian atas di sisi kanan Sebuah benjolan atau rasa berat di perut bagian atas Bengkak (kembung) pada perut Kehilangan nafsu makan dan perut terasa penuh Penurunan berat badan tanpa sebab jelas Kelelahan kronis Mual dan muntah Kulit dan mata berwarna kuning, tinja pucat, dan urine berwarna gelap Demam

4.

Jenis- jenis Pemeriksaan pada Hati

Pemeriksaan fungsi hati adalah salah satu item pemeriksaan hati yang paling dikenal oleh masyarakat. Hasil indeks pemeriksaan fungsi hati (Liver Function Index) berupa SGOT dan SGPT . SGOT dan SGPT adalah enzim yang paling banyak ditemui didalam sel-sel hati. Tidak adanya peningkatan angka SGOT dan SGPT bukan berarti tidak terjadi pengerasan hati atau tidak adanya kanker hati. Bila terjadi radang hati atau karena satu atau sebab lain sehingga sel-sel hati mati, maka SGOT dan SGPT akan lari ke luar. Hal ini menyebabkan kandungan SGOT dan SGPT didalam darah meningkat. Pada stadium awal kanker hati, indeks hati juga tidak akan mengalami kenaikan, karena pada masa-masa pertumbuhan kanker, hanya sel-sel di sekitarnya yang diserang sehingga rusak dan mati. Kerusakan ini hanya secara skala kecil sehingga angka SGOT dan SGPT mungkin masih dalam batas normal. Hal ini sering menyebabkan terjadinya kesalahpahaman tentang kondisi hati. Untuk itu perlu dilakukan tes lanjutan, yaitu: a. Tes Darah: Panel Fungsi hati, terdiri dari berbagai pemeriksaan darah untuk meneliti seberapa baik hati bekerja. ALT (Alanin aminotransferase), adanya peningkatan level ALT dapat membantu dalam mengidentifikasi penyakit ataupun kerusakan hati dari berbagai penyebab, termasuk hepatitis. AST (aspartate aminotransferase), adanya kenaikan ALT mengharuskan pemeriksaan AST dilakukan untuk mengecek kerusakan hati yang lain. Alkali fosfatase, adanya alkali fosfatase dengan kadar tinggi dalam sel-sel yang mensekresi empedu pada hati menyebabkan aliran empedu dari hati terblokir. Bilirubin, adnya tingkat bilirubin yang tinggi menunjukkan adanya masalah dengan hati.

Albumin, sebagai bagian dari tingkat protein total, albumin membantu menentukan seberapa baik hati bekerja. Amonia, kadar amonia dalam darah meningkat menunjukkan hati tidak berfungsi dengan baik. Hepatitis A tes sebagai pengujian fungsi hati serta antibodi untuk mendeteksi virus hepatitis A. Hepatitis B tes sebagai pengujian antibodi untuk menentukan apakah terinfeksi virus hepatitis B. Hepatitis C tes sebagai tes darah untuk menentukan apakah terinfeksi virus hepatitis C. Prothrombin Time (PT) and Partial tromboplastin Time (PTT), biasanya dilakukan untuk memeriksa adanya masalah pembekuan darah.

b.

Tes Imaging: USG Abdomen, berfungsi untuk menguji banyak kondisi hati, termasuk kanker, sirosis, atau batu empedu. CT scan abdomen dapat memberikan rincian gambar mengenai hati dan organ perut lainnya. Biopsi hati biasanya dilakukan setelah tes-tes lainnya, seperti tes darah ataupun USG, tujuannya adalah untuk mengecek adanya massa tumor pada hati. Scan Hati dan pankreas menggunakan bahan radioaktif untuk membantu mendiagnosis sejumlah kondisi, termasuk abses, tumor, dan masalah fungsi hati lainnya.

5.

Transplantasi Hati

Berbagai penyakit hati mulai dari sirosis hingga kanker hati terus meningkat. Transplantasi hati atau cangkok hati menjadi salah satu alternatif penyembuhan untuk meningkatkan harapan hidup penderitanya. Transplantasi hati adalah pengangkatan total hati yang sakit dan menggantinya dengan organ donor yang

lebih sehat. Pengangkatan hati yang sakit akan menyediakan tempat bagi hati yang baru dan memungkinkan rekonstruksi anatomis vaskuler hati serta saluran bilier mendekati keadaan normal.

Dewasa ini, transplantasi hati dilakukan hanya pada saat hati telah memasuki jenjang akhir suatu penyakit, atau telah terjadi disfungsi akut yang disebut fulminant hepatic failure. Kasus transplantasi hati pada manusia umumnya disebabkan oleh sirosis hati akibat dari hepatitis kronis, ketergantungan alkohol,atau hepatitis otoimun. Transplantasi hati digunakan untuk mengatasi penyakit hati stadium terminal yang mengancam jiwa penderita setelah bentuk terapi yang lain tidak mampu menanganinya. Sebelum transplantasi hati dilakukan,diperlukan terapi imunosupresif yang intensif yang disebut preparative regimen atau conditioning untuk mencegah penolakan organ donor oleh sistem kekebalan inang.

Teknik umum transplantasi hati yang digunakan adalah transplantasi ortotopik, yaitu penempatan organ donor pada posisi anatomik yang sama dengan posisi awal organ sebelumnya. Transplantasi hati berpotensi dapat diterapkan, hanya jika penerima organ donor tidak memiliki kondisi lain yang memberatkan, seperti kanker metastatis di luar organ hati, ketergantungan pada obat-obatan atau alkohol. Organ donor, disebut allograft, biasanya berasal dari manusia lain yang baru saja meninggal dunia akibat cedera otak traumatik (cadaverik). Teknik transplantasi lain menggunakan organ manusia yang masih hidup, operasi hepatektomi yaitu dengan mengangkat 20% hati pada segmen Coinaud 2 dan 3 dari organ donor dari orang dewasa untuk didonorkan kepada seorang anak. Prosedur yang akan dilalui penerima dalam proses transplantasi hati yaitu evaluasi sebelum dan sesudah transplantasi (termasuk prosedur dan tes yang berhubungan dengan medis dan psikososial). Setelah itu,penerima dan pendonor akan dioperasi secara bersamaan oleh dua tim transplantasi termasuk dokter ahli bedah, ahli bius, suster dan teknisi pada dua ruangan operasi yang terpisah. Dokter ahli bedah akan

mengambil satu bagian dari hati antara 40% - 60 % tergantung usia penerima. Bagian hati yang sudah diambil itu akan dibersihkan dengan bahan pengawet dan didinginkan pada es.

Hati yang sudah dicangkok kemudian ditransplantasikan kepada penerima sesegera mungkin untuk memastikan bahwa hati tersebut akan berfungsi dengan baik setelah ditransplant. Proses operasi untuk pendonor dari ketika pembedahan dilakukan untuk memindahkan liver dan penjahitan kembali memerlukan waktu enam sampai delapan jam.

Dokter bedah yang lain akan mengeluarkan hati yang sudah rusak dari penerima, membiarkan pembuluh darah utama dijepit dan ditaruh pada tempatnya. Ketika cangkokan hati telah tersedia, dokter bedah akan meletakkannya ke dalam rongga perut dan memprosesnya untuk dihubungkan dengan pembuluh darah utama. Setelah ini siap dilakukan, dokter radiologi akan melakukan ultrasound scan untuk memastikan bahwa darah mengalir ke dalam hati yang baru. Operasi transplantasi pada penerima memerlukan waktu sebanyak delapan sampai dua belas jam. Setelah transplantasi, penerima organ harus mendapat obat penekan sistem kekebalan (imunosupresan) yang kuat untuk mencegah penolakan organ baru.

Proses operasi transplantasi hati

Selain itu, ada pula teknik transplantasi hati parsial yang baru bernama auxiliary partial orthotopic liver transplantation (APOLT). Teknik transplantasi baru tersebut juga memungkinkan beberapa pasien tertentu untuk tidak perlu lagi menjalani terapi imunosupresan yang dilakukan untuk mencegah sistem kekebalan menyerang dan merusak organ hati yang didonorkan kepada mereka. Karena, dalam teknik tersebut organ hati yang rusak cukup dihilangkan setengah hingga tiga perempat bagian saja untuk kemudian digantikan dengan organ hati yang didonorkan ke si pasien. Namun, keterbatasan teknik tersebut adalah pasien yang menderita gagal hati kronis, sirosis, dan luka di organ hati tidak dapat menjalani teknik itu. Ada beberapa kendala yang ditemui ketika melakukan transplantasi hati, yaitu sulitnya mencari donor yang mau menyumbangkan organ hatinya, ada atau tidaknya kecocokan organ donor dengan pertahanan tubuh penerima (kompatibilitas), dan rumitnya teknik pemasangan organ hati. Transplantasi hati juga akan disertai dengan komplikasi yang menyertai prosedur bedah yang lama, terapi imunosuperesif, infeksi dan berbagai kesulitan teknis yang dihadapi selama melakukan rekonstruksi pembuluh darah dan saluran empedu. Keberhasilan transplantasi hati bergantung pada kebersihan terapi imunosupresi, preparatrin, kortikosteroid, azathioprin,dan antibodi monoklonal. Oleh karena itu, pasien kanker hati dianjurkan untuk menjalani kemoterapi sistemik atau terapi radiasi bersama dengan transplantasi hati. Keberhasilan pencangkokan organ terletak pada kendali sistem imun untuk mengizinkan proses adaptasi pencangkokan tersebut dan mencegah proses penolakan. Gen-gen merupakan alasan utama pengenalan antigen-antigen asing. Major Histocompatibility Complex (MHC), berada pada lengan pendek kromosom 6. Gen-gen MHC manusia mencerminkan molekul-molekul permukaan sel disebut alloantigen atau dikenal sebagai HLA. Molekul-molekul permukaan sel bersifat bersifat polimorfik dan memungkinkan sistem imun untuk mengenal antigen sendiri dan asing.

Gen-gen MHC, diwariskan menurut model Mendelian klasik, terdiri dari MHC kelas I dan MHC kelas II. Berikut penjelasannya: HLA kelas I yaitu HLA-A, HLA-B & HLA-C ditemukan pada semua permukaan sel. HLA kelas I mengikat antigen protein asing, termasuk jaringan/tissu yang dicangkok, dikenal oleh sel T antigen spesifik. Molekul MHC/HLA kelas I biasanya dikenal oleh CD8+ sel T sitotoksik. HLA kelas II yaitu HLA-DR,HLA-DP, HLA-DQ, ditemukan hanya pada sel-2 yang mengenali antigen seperti limfosit B, makrofag,sel-2 dendrit dari organ-organ limfoid. Molekul HLA kelas II dominan mengawali respon imun terhadap antigen pengcangkokan asing. Penolakan dari pencangkokan merupakan proses dari sistem imun si penerima pencangkokan menyerang organ yang dicangkok. Hal ini dikarenakan sistem imun yang normal dan sehat dapat membedakan organ asing untuk menghancurkannya, misalnya sistem organisme menghancurkan bakteri dan virus yang menginfeksinya. Antigen MHC/HLA merupakan alasan utama penolakan secara genetik dari penerima cangkokan terhadap organ asing. Alloantigen ini dibawa ke sel T oleh HLA kompleks yang menentukan kecepatan penolakan ini akan terjadi. 1. Hiperakut merupakan respon mediasi komplemen pada penerima dengan antibodi yang telah ada pada donor (antibodi tipe darah ABO) terjadi dalam hitungan menit sehingga cangkokan tersebu.harus segera dibuang. Hal ini berfungsi untuk mencegah respons inflamasi sistemik yang parah. 2. Penolakan Akut umumnya terjadi 5-10 hari setelah pencangkokan dan dapat menghancurkan cangkokan tesebut apabila tidak diketahui dan dirawat. Obat penekan sistem imun sangat efektif mencegah tipe penolakan ini. Hal ini berhasil 60-75% pencangkokan ginjal pertama dan 50-60% pada pencangkokan hati.

3. Penolakan Kronis Penolakan jangka panjang diakibatkan oleh respons imun alloreaktif penerima. Hal ini dapat terjadi pada semua tipe cangkokan seperti pengcangkokan jantung, paru, ginjal,dan lain-lain.

Mekanisme penolakan Sel T berperan utama dalam proses penolakan. Setelah distimulasi, efektor CD4+ sel T menghasilkan sitokin (antara lain interleukin -2 yang menyediakan signal untuk Sel T sitotoksik dan sel T helper. IL-2 juga meningkatkan ekspansi klonal sel T ,yang membantu dalam proses penolakan Sitokin yang lain juga dihasilkan dalam proses respons untuk mendeteksi antigen asing. Pengenalan antigen transplantasi oleh sel T Helper disebutallorecognition. Penyembuhan dari penolakan biasanya menggunakn terapi Imunosupresif. Tujuan terapi imunosupresif setelah transplantasi berfungsi untuk mencegah Alloregnition dan menyerang terus menerus kepada organ transplantasi. Ada 4 imunosupresif yang dipakai, yaitu Antilimfosit, Antimetabolit,Glucocorticoids , dan inhibitor kalsineurin. Obat-obat ini banyak digunakan untuk mempertahankan organ hati,yaitu: 1.Kortikosteroid Diberikan setelah revaskularisasi jaringan hati donor. Turunkan secara tapering dosis obat ini sampai mencapai baseline yang dapat mempertahankan jaringan hati donor 2. Siklosporin dan Takrolimus Diberikan sebelum memulai dan setelah tindakan transplantasi. Jika tidak dapat mentoleransi obat ini dapat ditambahkan azatioprin untuk mencapai efek imunosupresi yang adekuat. Beberapa bulan setelah kondisi jaringan hati donor stabil, turunkan dosis obat secara gradual.

3.Imunosupresan lainnya Dapat digunakan mycophenolat mofetil, serolimus, antilymphocyte antibody, dan specific monoclonal antibody sebagai alternative kombinasi atau jika terdapat kontraindikasi pemberian obat diatas.

Gambar 4. Keadaan hati sebelum dan sesudah transpalntasi

Proses transplantasi akan memperpanjang daya tahan hidup dan produktivitas pasien. Sampai saat ini ,perpanjangan usia 1 tahun yang dicapai dengan transplantasi hati mengalami peningkatan (50%), bahkan perpanjangan usia mencapai 3-8 tahun. Hal ini tergantung dari banyak faktor, terutama perawatan dan manajemen sebelum, selama, maupun sesudah transplantasi hati oleh tim ahli hepatologi dan ganstroenterologis. 6. Regenerasi Hati

Hati mempunyai kemampuan yang menakjubkan untuk tumbuh kembali. Hati pendonor akan tumbuh kembali ke ukuran utuhnya dalam waktu beberapa minggu setelah operasi tanpa mempengaruhi fungsi normalnya. Hati yang sudah ditransplantasi juga akan tumbuh menjadi ukuran yang seharusnya dalam tubuh penerima. Walaupun operasi pada pendonor aman dan sering tidak memerlukan transfusi darah, tetapi kemungkinan komplikasi tetap ada (sebanyak 15 persen) dan kematian (sebanyak 0.05 persen) untuk semua pendonor yang potensial.

Kemampuan hati untuk melakukan regenerasi merupakan suatu proses yang sangat penting agar hati dapat pulih dari kerusakan yang ditimbulkan dari proses detoksifikasi dan imunologis. Regenerasi tercapai dengan interaksi yang sangat kompleks antara sel yang terdapat dalam hati, antara lain hepatosit, sel Kupffer, sel endotelial sinusoidal, sel Ito dan sel punca; dengan organ ekstrahepatik, seperti kelenjar tiroid, kelenjar adrenal,pankreas,duodenum,dan hipotalamus.

Regenerasi hati setelah hepatektomi parsial merupakan proses yang sangat rumit di bawah pengaruh perubahan hemodinamika, modulasisitokina, hormon faktor pertumbuhan dan aktivasi faktor transkripsi, yang mengarah pada proses mitosis. Hormon PRL yang disekresi olehkelenjar hipofisis menginduksi respon hepatotrofik sebagai mitogen yang berperan dalam proses proliferasi dan diferensiasi. PRL memberi pengaruh kepada peningkatan aktivitas faktor transkripsi yang berperan dalam proliferasi sel, seperti AP-1, c-Jun dan STAT-3; dan diferensiasi dan terpeliharanya metabolisme, seperti C/EBP-alfa, HNF-1, HNF-4 dan HNF-3. c-Jun merupakan salah satu protein penyusunAP-1. Induksi NF-B pada fase ini diperlukan untuk mencegah apoptosis dan memicu derap siklus sel yang wajar. Pada masa ini, peran retinil asetat menjadi sangat vital, karena fungsinya yang menambah massa DNA dan protein yang dikandungnya.

III.

KESIMPULAN

Berdasarkan pembahasan pada makalah dapat diambil kesimpulan sebagai berikut: 1. Hati mempunyai tugas penting yang rumit demi kelangsungan seluruh fungsi kesehatan tubuh yaitu sebagai organ eskresi dan organ pencernaan. 2. Penyebab penyakit hati yang utama adalah virus (hepatits A,B, dan C) sedangkan penyakit lainnya sebagian besar merupakan kelanjutan penyakit hati akibat serangan virus tersebut. 3. Transplantasi hati adalah pengangkatan total atau sebagian hati yang sakit dan menggantinya dengan organ donor yang lebih sehat. 4. Transplantasi hati digunakan untuk mengatasi penyakit hati stadium terminal yang mengancam jiwa penderita setelah bentuk terapi yang lain tidak mampu menanganinya. 5. Terapi imunosupresan pasca operasi perlu dilakukan untuk mencegah sistem kekebalan menyerang dan merusak organ hati yang didonorkan. 6. Hati mempunyai kemampuan untuk tumbuh kembali baik pada hati pendonor maupun hati yang sudah ditransplantasi.

DAFTAR PUSTAKA

Perhimpunan Dokter Spesialis Penyakit Dalam Indonesia. 2007. Buku Ajar Ilmu Penyakit Dalam Jilid I Edisi IV. Jakarta : EGC http://jadiberita.com/transplantasi-hati-sejarah-baru-dunia-kedokteran-indonesia/ diakses 20:39 WIB tanggal 14/03/2012 http://detikhealth.com/risiko-kanker-berlipat-ganda-setelah-transplantasi-organ/ diakses 22:41 WIB tanggal 14/03/2012 http://wikipedia.com/pengertian-hati/ diakses 20:00 WIB tanggal 12/03/2012 http://RajaPembalut.com/Pengobatan-Kanker-Hati.html/ diakses 19.20 WIB tanggal 12/03/2012 http://askep45kesehatan.blogspot.com/transplantasi-hati.html/ diakses 19:00 WIB tanggal 13/03/2012 http://lifestyle.okezone.com/transplantasi-hati-jalan-terakhir-pengobatanhati/diakses 19:10 WIB tanggal 13/02/2012 http://lpkijateng.files.wordpress.com/liver-sequels.jpg/ diakses 20:03 WIB tanggal 13/03/2012