Anda di halaman 1dari 31

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Penyalahgunaan Napza dari tahun ketahun semakin meningkat.

Permasalahan penyalahgunaan Napza mempunyai dimensi yang luas dan komplikasi baik dari sudut medik, psikiatrik, kesehatan jiwa maupun psikososial (ekonomi, politik, sosial budaya, kriminalitas, kerusuhan massal dan sebagainya). Penyalahgunaan Napza dipengaruhi banyak faktor. Keluarga merupakan salah satu faktor risiko terhadap penyalahgunaan Napza pada remaja. Tujuan Penelitian: Untuk mengetahui adanya hubungan antara fungsi keluarga yaitu fungsi kebersamaan, fungsi fleksibilitas, fungsi komunikasi dan fungsi agama dengan kejadian penyalahgunaan Napza pada remaja. Metodologi Penelitian: Jenis penelitian ini adalah observasional dengan rancangan case control study (kasus-kontrol), menggunakan pendekatan kuantitatif dan kualitatif. Pengumpulan data dilakukan dengan menggunakan kuesioner dan focus group discussion (FGD). Subjek kasus dalam penelitian ini adalah remaja yang menyalahgunakan Napza dan masih berkonsultasi ke Rumah Sakit Jiwa Tampan Pekanbaru, kontrol diambil yaitu remaja yang tidak menyalahgunakan Napza dengan besar sampel 32 kasus dan 32 kontrol. Analisis data dilakukan secara univariat, bivariat dan multivariat. Hasil: Analisis multivariat menunjukkan proporsi remaja yang menyalahgunakan Napza lebih besar pada remaja yang mempunyai fungsi kebersamaan yang rendah dalam keluarga (p<0.05 OR=6,04 dan 95% dan CI=1.77-20.5), remaja yang mempunyai fungsi fleksibilitas yang rendah dalam keluarga (p<0.05. OR=5.31: 95% CI=1.48-18.9) dan fungsi komunikasi yang rendah dalam keluarga (p<0.05 OR=3.97 dan 95% CI=1.11-14.1). Kesimpulan: Fungsi keluarga berhubungan dengan kejadian penyalahgunaan Napza pada remaja. Remaja yang menyalahgunakan Napza mempunyai fungsi kebersamaan, fungsi fleksibilitas dan fungsi komunikasi yang rendah dalam keluarga, sedangkan fungsi agama tidak berhubungan dengan kejadian penyalahgunaan Napza pada remaja.

B. Masalah 1. Apa pengertian dari NAPZA itu sendiri ? 2. Apa penyebab dari penyalahgunaan NAPZA ? 3. Bagaimana C. Tujuan Untuk mengetahui Bagaimana cara pendekatan keluarga dalam mengatasi remaja dengan drug abuse.

BAB II PEMBAHASAN

A. Pengertian NAPZA Narkoba merupakan singkatan dari Narkotika dan obat atau bahan berbahaya. Narkotika juga dikenal dengan istilah NAPZA yaitu Narkotika, Psikotropika dan Zat adiktif lainnya. Semua istilah ini mengacu pada sekelompok zat yang umumnya mempunyai resiko kecanduan. Narkoba atau NAPZA merupakan bahan/zat yang bila masuk ke dalam tubuh akan mempengaruhi tubuh terutama saraf pusat/otak sehingga jika disalah gunakan akan menyebabkan gangguan fisik, psikis/jiwa dan fungsi social. Pada awalnya zat-zat ini digunakan untuk tujuan medis seperti penghilang rasa sakit. Namun belakangan ini banyak orang yang menggunakan zat-zat ini secara tetap, bukan untuk tujuan medis atau digunakan tanpa mengukuti dosis yang seharusnya maka disebut penyalahgunaan NAPZA (Drug Abuse). Oleh sebab itu pemerintah memberlakukan Undang-Undang untuk penyalah gunaan narkoba yaitu UU No. 5 Tahun 1997 tentang Psikotropika dan UU No. 22 Tahun 1997 tentang Narkotika.

B. Kategori NAPZA Berdasarkan jenisnya NAPZA digolongkan menjadi kategori : 1. Psikotropika Psikotropika adalah zat atau obat baik alamiah maupun sintetis bukan narkotika, yang berkhasiat psikoaktif melalui pengaruh selektif pada susunan saraf pusat yang menyebabkan perubahan khas pada aktivitas mental dan perilaku.

2. Narkotika Narkotika adalah zat atau obat yang berasal dari tanaman atau bukan tanaman baik sintetis maupun semin sintetis yang menyebabkan pengaruh bagi penggunanya. Pengaruh tersebut berupa pembiusan, hilangnya rasa sakit, rangsangan semangat, halusinasi atau timbulnya khayalan-khayalan yang menyebabkan efek ketergantungan bagi pemakainya.

3. Alkohol Alkohol adalah minuman yang mengandung etanol yang diproses dari bahan hasil pertanian yang mengandung karbohidrat dengan cara fermentasi dan distilasi atau fermentasi tanpa distilasi, baik dengan cara memberikan perlakuan terlebih dahulu atau tidak, menambahkan bahan lain atau tidak, maupun memproses dengan cara mencampur konsentrat dengan etanol atau dengan cara pengenceran minuman yang mengandung etanol.

4. Zat adiktif lain Zat adiktif lainnya adalah bahan lain bukan narkotika atau psikotropika yang penggunaannya dapat menimbulkan ketergantungan.

Jenis Jenis obat yang dimaksud dalam kategori NAPZA : 1. Narkotika a. Golongan opiat : Heroin, morfin, madat. b. Golongan koka : Kokain, crack.

1. Alkohol Merupakan minuman yang mengandung etanol (Etil alcohol). Alkohol digolongkan NAPZA karena mempunyai sifat menenangkan saraf pusat, mempengaruhi fungsi tubuh maupun perilaku seseorang, mengubah suasana hati dan perasaan. Alcohol bersifat menenangkan walau juga dapat merangsang. Efek

alcohol tidak sama pada semua orang tergantung pada keadaan fisik, mental dan lingkungan.

2. Psikotropika Menurut Undang-Undang No. 5 Tahun 1997 meliputi ekstasi, shabu-shabu, LSD, obat penenang/obat tidur, obat anti depresi, dan anti psikosis.

3. Zat Adiktif Zat adiktif lain termasuk inhalasia (aseton, thinner cat, lem, nikotin, kafein).

C. Klasifikasi NAPZA Menurut Efek pada Pemakai 1. Stimulan Yaitu zat yang merangsang sistem saraf pusat.

2. Depresan Menekan sistem saraf pusat.

3. Halusinogen Mengeubah daya persepsi halusinasi.

D. Etiologi Penyalahgunaan Napza Pada setiap kasus, ada penyebab yang khas mengapa seseorang menyalahgunakan Napza dan ketergantungan. Hal ini berarti penyebab seseorang terjebak dalam perilaku ini merupakan sesuatu yang unik dan tidak dapat disamakan begitu saja dengan kasus lainnya. Namun beberapa penelitian terdapat beberapa faktor yang berperan pada penyalahgunaan Napza. Diantaranya : 1. Faktor Keluarga Berdasarkan hasil penelitian tim UNIKA Atma Jaya dan Perguruan Tinggi Kepolisian Jakarta Tahun 1995, terdapat beberapa tipe keluarga yang beresiko

tinggi

anggota

keluarganya

(terutama

anaknya

yang

remaja)

terlibat

penyalahgunaan Napza yaitu : a. Keluarga yang memiliki sejarah (termasuk orang tua) mengalami

ketergantungan Napza. b. Keluarga dengan managemen keluarga yang kacau, yang terlihat dari pelaksanaan aturan yang tidak konsisten dijalankan oleh ayah dan ibu (misalnya, ayah bilang ya, ibu bilang tidak). c. Keluarga dengan konflik yang tinggi dan tidak pernah ada upaya penyelesaian yang memuaskan semua pihak yang berkonflik. Konflik dapat terjadi antara ayah dan ibu, ayah dan anak, ibu dan anak, maupun antar saudara. d. Keluarga dengan orang tua yang otoriter. Disini peran orang tua sangat dominan, dengan anak yang hanya sekedar harus menuruti apa kata orang tua, dengan alasan sopan santun, adat istiadat, atau demi kemajuan dan masa depan anak itu sendiri tanpa diberi kesempatan untuk berdialog dan menyatakan ketidak setujuannya. e. Keluarga yang perfeksionis, yaitu keluarga yang menuntut anggotanya mencapai kesempurnaan dengan standar tinggi yang harus dicapai dalam banyak hal. f. Keluarga yang neurosis yaitu keluarga yang diliputi kecemasan dengan alasan yang kurang kuat, mudah cemas, dan curiga serta sering berlebihan dalam menanggapi sesuatu.

1. Faktor Kepribadian Kepribadian penyalahgunaan Napza juga turut berperan dalam perilaku ini. Para remaja biasaya penyalahguna Napza memiliki konsep diri yang negative dan harga diri yang rendah. Perkembangan emosi yang terhambat dengan ditandai oleh ketidakmampuan mengekspresikan emosinya secara wajar, mudah cemas, pasif agresif dan cendrung depresi juga turut mempengaruhi. Selain itu kemampuan remaja untuk memecahkan masalahnya secara adekuat berpengaruh terhadap bagaimana ia mudah mencari pemecahan masalah dengan
6

melarikan diri. Hal ini juga berkaitan dengan mudahnya menyalahkan lingkungan dan lebih melihat faktor-faktor diluar dirinya yang menentukan segala sesuatu. Dalam hal ini, kepribadian yang dependen dan tidak mandiri memainkan peranan penting dalam memandang Napza sebagai satu-satunya pemecahan masalah yang dihadapi. Sangat wajar bila dalam usianya remaja membutuhkan pengakuan dari lingkungan sebagai bagian pencarian identitas dirinya. Namun jika ia memiliki kepribadian yang tidak mandiri dan menganggap segala sesuatunya harus diperoleh dari lingkungan, akan sangat memudahkan kelompok teman sebaya untuk mempengaruhinya

menyalahgunakan Napza. Di sinilah sebenarnya peran keluarga dalam meningkatkan harga diri dan kemandirian pada anak remajanya.

2. Faktor kelompok teman sebaya (per group) Kelompok teman sebaya dapat menimbulkan tekanan kelompok yaitu cara temanteman atau orang-orang seumur untuk mempengaruhi seseorang agar berperilaku seperti kelompok itu. Tekanan kelompok dialami oleh semua orang bukan hanya remaja, karena pada kenyataannya semua orang ingin disukai dan tidak ada yang mau dikucilkan. Kegagalan untuk memenuhi tekanan dari kelompok teman sebaya, seperti berinteraksi dengan kelompok teman yang lebih popular, mencapai prestasi dalam bidang olah raga, social dan akademik, dapat menyebabkan frustasi dan mencari kelompok lain yang dapat menerimanya. Sebaliknya keberhasilan dari kelompok teman sebaya yang memiliki perilaku dan norma yang mendukung penyalahgunaan Napza dapat muncul.

3. Faktor Kesempatan Ketersediaan Napza dan kemudahan memperolehnya juga dapat dikatakan sebagai pemicu. Indonesia yang sudah menjadi tujuan pasar narkotika internasional, menyebabkan zat-zat ini dengan mudah diperoleh. Bahkan beberapa media massa melansir bahwa para penjual narkotika menjual barang dagangannya di sekolahsekolah, termasuk sampai di SD. Penegakan hukum yang belum sepenuhnya berhasil tentunya dengan berbagai kendalanya juga turut menyuburkan usaha penjualan Napza Indonesia. Akhirnya, dari beberapa faktor yang sudah diuraikan, tidak ada faktor yang
7

satu-satunya berperan dalam setiap kasus penyalahgunaan Napza. Ada faktor yang memberikan kesempatan dan ada faktor pemicu. Biasanya, semua faktor itu berperan. Karena itu penanganannya pun harus melibatkan berbagai pihak, termasuk keterlibatan aktif orang tua.

2. Ciri-Ciri Pengguna Napza 1. Fisik a. Berat badan turun drastis. b. Buang air besar dan kecil kurang lancar. c. Mata cekung dan merah, muka pucat, dan bibir kehitam-hitaman. d. Sembelit atau sakit perut tanpa alasan yang jelas. e. Tangan penuh dengan bintik-bintik merah seperti bekas gigitan nyamuk dan ada tanda bekas luka sayatan. Goresan dan perubahan warna kulit ditempat bekas suntikan. 2. Emosi a. Bila ditegur atau dimarahi, dia malah menunjukan sikap membangkang. b. Emosinya naik turun dan tidak ragu untuk memukul orang atau berbicara kasar terhadap anggota keluarga atau orang disekitarnya. c. Nafsu makan tidak menentu. d. Sangat sensitive dan mudah bosan.

3. Perilaku a. Bicara cedal atau pelo. b. Jalan sempoyongan. c. Malas dan sering melupakan tanggung jawab dan tugas-tugas rutinnya.

d. Mengalami jantung berdebar-debar. e. Menyalami nyeri kepala. f. Mengalami nyeri/ngilu sendi-sendi. g. Mengeluarkan air mata berlebihan. h. Mengeluarkan keringat berlebihan. i. Menunjukan sikap tidak peduli dan jauh dari keluarga.
8

j. Selalu kehabisan uang. k. Sering batuk dan pilek berkepanjangan, biasanya terjadi pada saat gejala putus zat. l. Sering bohong dan ingkar janji dengan berbagai alasan. m. Sering bertemu dengan orang yang tidak dikenal keluarga, pergi tanpa pamit dan pulang lewat tengah malam. n. Sering mengalami mimpi buruk. o. Sering menguap. p. Cenderung menarik diri. q. Mencuri uang. r. Takut air.

3. Gejala Sakaw 1. Bola mata mengecil. 2. Hidung dan mata berair. 3. Bersin-bersin. 4. Menguap. 5. Banyak keringat. 6. Mual-mual. 7. Muntah. 8. Diare. 9. Nyeri tulang dan persendian.

4. Overdosis Overdosis atau kelebihan dosis terjadi akibat tubuh mengalami keracunan akibat obat. OD sering terjadi bila menggunakan narkoba dalam jumlah banyak dengan rentang waktu terlalu singkat, biasanya digunakan secar bersamaan antara putaw, pil, heroin digunakan bersama alcohol. Atau menelan obat tidur seperti golongan barbiturate (luminal) atau obat penenang (valium, xanax, mogadon).

Ciri-ciri overdosis : 1. Tidak ada respon. 2. Tidur mendengkur. 3. Bibir dan kuku membiru. 4. Tubuh dingin dan kulit lembab.

5. Kejang-kejang. 6. Adanya riwayat pemakaian morfin/heroin terdapat tanda bekas jarum suntik. 7. Frekuensi pernafasan < 12 kali/menit. 8. Penurunan kesadaran.

5. Akibat Penyalahgunaan Napza Terdapat 3 aspek akibat langsung penyalahgunaan Napza yang berujung pada menguatnya ketergantungan. Secara fisik : pengguna Napza akan mengubah metabolism tubuh seseorang. Hal ini terlihat dari peningkatan dosis yang semakin lama semakin besar dan gejala putus obat, keduanya menyebabkan seseorang berusaha terus-menerus mengkonsumsi Napza. Secara psikis : berkaitan dengan berubahnya beberapa fungsi mental, seperti rasa bersalah, malu dan perasaan nyaman yang timbul dari mengkonsumsi Napza. Cara yang kemudian ditempuh untuk beradaptasi adalah dengan mengkonsumsi lagi Napza. Secara social : dampak social yang memperkuat pemakaian Napza. Proses ini biasanya diawali dengan perpecahan di dalam kelompok social terdekat seperti keluarga (lihat faktor penyebab keluarga), sehingga muncul konflik dengan orang tua, teman-teman, pihak sekolah atau pekerjaan. Perasaan dikucilkan pihak-pihak ini kemudian menyebabkan si penyalahguna bergabung dengan kelompok orangorang serupa, yaitu para penyalahguna NAPZA juga. Semua akibat ini berujung pada meningkatkannya perilaku penyalahgunaan NAPZA.

6. Peran Keluarga dalam Mencegah Terjadinya Penyalahgunaan Narkoba Pencegahan penyalahgunaan Narkoba adalah upaya yang dilakukan terhadap faktor-faktor yang berpengaruh atau penyebab baik secara langsung atau
10

tidak langsung. Dengan tujuan agar seseorang atau sekelompok masyarakat mengubah keyakinan, sikap, dan perilakunya sehingga tidak memakai narkoba atau berhenti memakai narkoba. Keluarga adalah lingkungan pertama dan utama dalam membentuk dan mempengaruhi keyakinan, sikap dan perilaku seseorang terhadap pengguna narkoba. Langkah-langkah yang dapat dilakukan diantaranya : 1. Bangun keluarga harmonis. 2. Mendengarkan secara aktif. 3. Orang tua sebagai teladan Berhentilah merokok, minum minuman beralkohol atau memakai narkoba. Buang semua peralatan dan persediaan rokok atau minuman beralkohol. Perlihatkan kemampuan orang tua berkata tidak terhadap hal-hal yang bertentangan dengan hati nurani. Hormati hak-hak anak dan orang lain. Hidup secara tertib dan teratur.

4. Kembangkan kemampuan anak tolak narkoba Beritahu anak mengenai haknya melakukan sesuatu yang cocok bagi dirirnya. Jika ada teman yang memaksa atau membujuk, ia berhak menolaknya. Bimbing anak mencari kawan sejati yang tidak menjerumuskannya. Cari peluang untuk mengajarkan anak mengenai bahaya narkoba dengan menggunakan nalar sehat. Hindari cara menakut-nakuti dalam member nasehat. Ajarkan anak menolak tawaran memakai narkoba. Ketahui jadwal kegiatan anak, siapa kawan-kawannya tetapi jangan bertindak seperti polisi di rumah.

5. Dukung kegiatan anak yang sehat dan kreatif Dukung kegiatan anak di sekolah, berolahraga, menyalurkan hobi, bermain music dan sebagainya. Tanpa menuntut prestasi atau harus menang. Libatkan diri dalam kegiatan anak. Anak menghargai saat orang tua melibatkan diri dalam kegiatan mereka, tanpa terlalu banyak ikut campur dalam keputusan yang diambil anak.

11

6. Buat kesepakatan tentang norma dan peraturan Anak menginginkan kehidupan yang teratur. Ia belajar bertanggung jawab jika ditetapkan aturan bagi perilaku dan kegiatannya sehari-hari. Tetapkan hal itu bersama anak secara adil dan tuliskan peraturan-peraturan itu secara singkat dan jelas.

Yang penting untuk dihindari : 1. Menghakimi atau menuduh . 2. Merasa benar sendiri. 3. Terlalu banyak member nasehat atau ceramah. 4. Sikap seolah-olah mengetahui semua jawaban. 5. Mengkritik atau mencela 6. Menganggap enteng semua persoalan anak. Hindari kata-kata negative ; harus, jangan, tidak boleh. Gunakan kalimat terbuka seperti contoh : a. Ayah mengerti bahwa hal ituu tidak b. Ibu sangat perhatian tentang. Orang tua perlu melatih cara mendengar aktif. Ulangi pernyataan sebagai tanda anda paham apa yang diungkapkan anak. Perhatikan bahasa tubuh anak (mimic, muka, gerakan tubuh) saat berbicara. Jika bertentangan perhatikan bahasa tubuh yang menyatakan isi hati yang sebenarnya. 7. Penanggulangan Masalah NAPZA Penanggulangan masalah NAPZA dilakukan mulai dari pencegahan, pengobatan sampai pemulihan (rehabilitasi). 1. Pencegahan Pencegahan dapat dilakukan, misalnya dengan : a. Memberikan informasi dan pendidikan yang efektif tentang NAPZA. b. Deteksi dini perubahan perilaku. c. Menolak tegas untuk mencoba (say no to drugs) atau katakan tidak pada narkoba.
12

2. Pengobatan Terapi pengobatan pada klien NAPZA misalnya detossifikasi. Detoksifikasi adalah upaya untuk mengurangi atau menghentikan gejala zat, dengan dua cara yaitu : a. Detoksifikasi tanpa subsitusi Klien ketergantungan putau (heroin) yang berhenti menggunakan zat yang mengalami gejala putus zat tidak diberi obat untuk menghilangkan gejala putus zat tersebut. Klien hanya dibiarkan saja sampai gejala putus zat tersebut berhenti sendiri. b. Detoksifikasi dengan substitusi Putau atau heroin dapat disubstitusi dengan memberikan jenis opiate misalnya kodein, bufremorfin dan metadon. Substansi bagi pengguna sedative-hipnotik dan alcohol dapat dari jenis anti ansietas misalnya diazepam. Pemberian substitusi asalah dengan cara penurunan dosis secara bertahap sampai berhenti sama sekali. Selama pemberian substitusi dapat juga diberikan obat yang ditimbulkan akibat putus zat trsebut.

3. Rehabilitasi Rehabilitasi adalah upaya kesehatan yang dilakukan secara utuh dan terpadu melalui pendekatan non medis, psikologis, social dan religi agar pengguna NAPZA yang menderita sindrom ketergantungan dapat mencapai kemampuan fungsional seoptimal mungkin. Tujuannya

pemulihan dan pengembangan pasien baik fisik, mental, social dan spiritual. Sarana rehabilitasi yang disediakan harus memiliki tenaga kesehatan sesuai dengan kebutuhan. (Depkes, 2001)

13

E. Prinsip penatalaksanaan Keperawatan a. Prinsip Biopsikososiospiritual ( Struart Sundeen ) Biologis : Tindakan biologis dikenal dengan detoksifikasi yang bertujuan untuk ( 1 ) Memberikan asuhan yang aman dalam withdrawl (proses penghentian) bagi klien pengguna NAPZA. ( 2 ) Memberikan asuhan yang humanistik dan memelihara martabat klien. ( 3 ) Memberikan terapi yang sesuai. Setelah detoksifikasi tercapai, mempertahankan kondisi bebas dari zat adiktif, dimana terapi farmakologis harus diunjang oleh terapi yang lainnya. Psikologis : Bersama klien mengevaluasi pengalaman yang lalu dan mengidentifikasikan aspek positifnya untuk dipakai mengatasi kegagalan. Sosial : Konseling Keluarga Keluarga sering frustasi menghadapi klien dan tidak mengerti sifat dan proses adiksi sehingga seringkali melakukan hal yang tidak teraupetik terhadap klien. Keluarga sering melindungi klien dari dampak adiksi, meminta anggota keluarga lain untuk memaafkan klien. Menyalahkan diri sendiri, menghindari konfrontasi yang semuanya menyebabkanklien meneruskan pemakaian zat adiktif. Masalah yang dihadapi klienmenimbulkan dampak bagi keluarga seperti rasa tidak aman, malu, rasa bersalah, masalah keuangan, takut dan merasa diisolasi. Oleh karena itu perawat perlu mendorong keluarga untuk mengikuti pendidikan kesehatan tentang proses penggunaan dan

ketergantungan, gejala putus zat, gejala relapse, tindakan keperawatan, lingkungan teraupetik, dan semua hal yang terkait dengan pencegahan relapse di rumah. Terapi Kelompok Terdiri dari 7-10 orang yang difasilitasi oleh terapist, kegiatan yang dilakukan adalah tiap anggota bebasa menyampaikan riwayat sampai terjadinya adiksi, upaya yang dilakukan untuk berhenti memakai zat, kesulitan yang dihadapi
14

dalam melakukan program perawatan, terapist dan anggota kelompok memberikan umpan balik dengan jujur dan dapat menambah pengalaman masing-masing. Self help group Self help group adalah kelompok yang anggotanya terdiri dari klien yang berkeinginan bebas dari zat adiktif, dukungan antara anggota akan memberi kekuatan dan motivasi untuk bebas dari zat adiktif.

b. Prinsip Community Therapeutik ( Ana Keliat ) Pada tempat ini klien dilatih untuk merubah perilaku kearah yang positif, sehingga mampu menyesuaikan dengan kehidupan di masyarakat. Hal ini dapat dilakukan bila klien diberi kesempatan mengungkapkan masalah pribadi dan lingkungan. community teraupetik melakukan intervensi untuk mengatasinya. Beberapa metode yang dilakukan : Slogan yang berisi norma atau nilai ke arah positif. Pertemuan pagi (moorning Meeting) yang diikuti oleh seluruh staf dan klien untuk membahas masalah individu, interaksi antar klien dan kelompok. Talking to : metode yang digunakan untuk saling memperingatkan dengan cara yang ramah sampai yanng keras. Learning experience yaitu pemberian tugas yang bersifat membangun untuk merubah perilaku negatif. Pertemuan kelompok Pertemuan Umum ( general meeting ).

15

F. Prinsip Prestasi ( Yosep ) P Prayer ( religious ) - Pemberian ceramah agama - Menyediakan bacaan buku-buku agama yang memotivasi hidup. - Kolaborasi dalam Psychoreligius terapy. - Menjelaskan prinsip-prinsip kesuksesan hidup menurut konsep agama yang diyakini. - Menjelaskan tanggung jawab yang harus dipukul apabila melanggar norma agama. - Menjelaskan kisah-kisah orang saleh yang diridoi tuhan sebagai suri tauladan. - Diskusi keagamaan, pengajian, seminar keagamaan. - Dsb. R Reconciliation of - Diskusi dengan keluarga family - Mengajarkan komunikasi assertif pada keluarga - Melibatkan anggota keluarga dalam terapi. - Penyuluhan tentang proses, dampak dan penatalaksanaan adiksi. - Motivasi keluarga untuk membantu klien mampu jujur bila sugestinya datang. - Diskusikan upaya keluarga membantu klien mengurangi sugesti. - Bantu suasana mendukung keakraban dirumah. - Identifikasi penerimaan keluarga terhadap masalah. - Bantu menerima masalah. - Identifikasi harapan untuk sembuh total. - Diskusikan arti kesembuhan - Identifikasi pola asuh dalam keluarga - Bantu keluarga latihan mengucapkan kata-kata yang menghargai dan mendukung klien untuk berhenti. - Bantu menyembunyikan klien dari penggunaan zat.
16

- Bantu memutuskan hubungan dengan pengguna zat. - Diskusikan untuk menghargai usaha klien tidak

berhubungan lagi dengan pengguna zat. DSb E Environment Condusif - Menghindari orang yang adiksi. - Menjauhi tempat-tempat yang berkaitan dengan adiksi. - Mencari lingkungan pergaulan baru. - Mencari teman dekat dengan kemampuan prestasi yang tinggi. - Hijrah menuju tempat tinggal yang lebih kondusif untuk maju. - Bergaul dengan orang-orang yang berprestasi. - Bantu mengidentifikasikan teman bukan pengguna zat. - Beri dukungan akan harapan bergaul lebih banyak dengan bukan pengguna zat. Dsb S Say No! (dont Try) - Tidak pernah mencoba ( bagi yang belum terkena ) - Belajar mengungkapkan kata-kata tidak - Belajar berfikir positif dan bersikap optimis - Bantu klien menilai faktor negatif bila kontak dengan sesama pengguna zat. - Bantu klien mengakhiri hubungan dengan teman pengedar. - Bantu klien menghindari penggunaan zat lain. Dsb T Time Management - Membuat jadwal kegiatan harian - Mencatat kegiatan harian - Melakukan evaluasi kegiatan harian setiap menjelang tidur. - Memberikan kegiatan secara bertahap sesuai dengan kebutuhan pasien. - Memberikan reinforcement prestasi yang dicapai pasien - Mengikutsertakan klien dalam kegiatan pertemuan

kelompok setiap pagi : diberi tugas membacaberita yang aktual, serta dibahas bersama klien lain. - Mengikutsertakan dan membuat jadwal pada jam-jam
17

tertentu. - Mengikutsertakan klien pada seminar dengan topik-topik tertentu seperti AIDS, dampak zat adiktif, cara hidup sehat. Dsb A Activity Dynamic of - Membuat target prestasi ahrian. - Meniru orang-orang sukses dalam menghabiskan waktu setiap hari. - Menjelaskan kiat-kiat mengusir kemalasan - Diskusikan cara mengalihkan pikiran dari sugesti ingin menggunakan zat dengan menciptakan sugesti yang lebih positif - Identifikasi potensi/hobi/aktivitas yang menyenangkan. - Diskusikan manfaat aktivitas. - Bantu merencanakan aktivitas ( susun jadwal ) - Motivasi untuk melakukan aktivitas masalah dengan memulai segera. - Motivasi untuk mengatsi bosan dengan selingan istirahat saat beraktivitas. Dsb. S Subject for Future - Membuat perencanaan tahunan - Mencari, mengidentifikasi tokoh idola yang dikagumi klien - Mempelajari riwayat hidup orang-orang sukses - Latihan menggunakan kata-kata, ingin hidup sehat , masa depan penting,masih ada harapan.Dsb I Information impact abuse of drug - Menunjukkan angka-angka statistik korban NAPZA. - Menunjukkan hasil-hasil penelitian pengaruh NAPZA terhadap timbulnya penyakit kronis. - Menjelaskan hubungan antara

prestasi,kekayaan,kedudukan,kebahagian dengan perilaku masa lalu. - Menjelaskan bahwa banyak prestasi yang dicapai orang lain yang tidak mengggunakan NAPZA.Dsb
18

KASUS

Anak A berusia 16thn, SMA kelas 1 anak dari Tn. M dan ny. P merupakan anak yang riang, ceria, sopan terhadap guru. awalnya anak berprestasi sering mendapatkan pengghargaan atas prestasinya. Tetapi belakangan ini prestasinya menurun drastis, hal ini disebabkan oleh terpengaruh pergaulan bebas diluar sekolahnya. Selain itu pertengkaran antara kedua orang tuanya menjadi anak tidak betah dirumah. Sehingga anak tersebut menggunakan napza tanpa sepengetahuan orang tuanya, akhirnya anak itu menjadi pecandu narkoba. Setelah anak A menggunakan napza jenis ganja, sikap anak A berubah, menjadi sering bolos sekolah, pemarah, malas serta sering bertengkar sama teman-temannya disekolah. setalah Tn. M mengetahui anaknya menjadi pecandu narkoba dari teman sebaya dan mendapatkan narkoba jenis ganja dikamarnya. Maka Tn. M(42 thun) dan Ny. P(39) menyanyakan alasan anaknya menggunakan napza jenis ganja. Anak itu menyatakan kepada orang tuanya bahwa dia tidak senang karena orang tuanya sering bertengkar, tidak dapat perhatian dari kedua orang tuanya, terus disekolahnya tidak memiliki banyak teman, sering di ejek teman-teman disekolahnya dan dibilang kutu buku. Menyebabkan anak A sering menyendiri dan mencari pergaulan diluar sekolah. Hal ini fisik anak Tn. A kurus, pucat, lemas, malas makan. Setelah dinasehati kedua orang tuanya, anak A menyeesaliperbuatnnya, dan mengatakan ingin berubah.

19

ASUHAN KEPERAWATAN KELUARGA DENGAN REMAJA DRUG ABUSE I. Data umum 1. Nama Kepala Keluarga Tn. M 2. Alamat : Jalan Parit H. Husin 3. Komposisi Kelarga

No 1. 2. 3. 4. 5. 6. 7.

Nama Tn. M Kk.I Nn.S Ny.P An.A Kk. B Nn. R

Jenis Kelamin L L P P L L P

Hubungan dengan KK Kepala Kelarga Ayah Kandung Ibu Kandng Istri Anak Kandung Ayah Mertua Ibu Mertua

Umur

Pendidikan

42 thn Meninggal Meninggal 39 thn 16 thn Meninggal 60 thn

S1 Sekolah rakyat Sekolah rakyat S1 SMA Sekolah rakyat Sekolah rakyat

Genogram

Kk.I

Nn.S

Kk.B

Nn.R

Tn.M

Ny.P

An.A

20

Ket. genogram : : Meninggal

: Garis Perkawinan

: Garis Keturunan

4. Tipe keluarga : Nuklear family ( bapak ibu dan 1 anak ) 5. Suku bangsa : melayu 6. Agama : islam 7. Status social ekonomi keluarga : Tn.M mengatakan gaji blanan sebesar 7 juta dan Ny.K 4 juta. 8. Aktivitas rekreasi keluarga : Tn.M mengatakan tidak memiliki banyak waktu luang untuk mengajak Ny. P dan An.a jalan-jalan.

II. Riwayat dan tahap perkembangan keluarga 1. Tahap perkembangan keluarga saat ini Tahap perkembangan remaja pada anak An.A yang berumur 16 thn

2. Tahap perkembangan kelarga yang belm terpenuhi Tn.M mengatakan sudah cukup dengan satu anak.

3. Riwayat keluarga inti Tn.M : hipertensi Ny.P : hipertensi An. A : kecanduan NAPZA jenis ganja

4. Riwayat keluarga sebelumnya :keluarga Tn.M tidak ada yang mengkonsumsi NAPZA.

21

III. Lingkungan 1. Karakteristik Rumah Denah rumah

2. Karakteristik tetangga dan komunitas RW Ny.P mengatakan kebanyakan tetangga hanya mengurusi masalah keluarga masingmasing. Keluarga Tn.M cenderung tertutup dan jarang berinteraksi dikarenakan kesibukan masing-masing anggota keluarga. 3. Mobilitas geografis keluarga Keluarga ini tinggal diperumahan elit, Tn.M mengatakan kenbdaraan yang digunakan untuk bekerja adalah mobil pribadi, jarak tempat kerja dengan rumah 10 km, jarak layanan kesehatan 2 km, jarak layanan keamanan 2 km, keluarga tidak pernah berpindah tempat tinggal. 4. Perkumpulan keluarga dan interaksi dengan masyarakat Ny.P mengatakan tidak ada kebiasaan rutin untuk berkmpul dengan anggota keluarga selanjutnya.

22

5. Sistem pendukung keluarga Ny.P mengatakan pertolongan pertama saat sakit yang dilakukan keluarga adalah ke dokter pribadi.

IV. Struktur kelarga 1. Pola komnikasi keluarga Tn.M dan Ny.P mengatakan setiap ada masalah selalu terjadi pertengkaran terlebih dahulu sebelum mengambil keputusan. 2. Struktur kekuatan keluarga Tn.M mengatakan belm pernah terjadi masalah keuangan. 3. Struktur peran Tn.m : Kepala keluarga mencari nafkah,pelindung ,pendidikan,anggota masyarakat Ny.P wanita karir,pengasuh,pendidik, anggota masyarakat. An.A : pelajar,anggota masyarakat 4. Nilai atau norma budaya : Tn.m mengatakan keluarga ini sudah tidak terlalu mengikuti budaya. V. Fungsi keluarga 1. Fungsi afektif : Tn.M mengatakan anggota keluarga mereka memiliki kesibukan masing-masing. 2. Fungsi sosialisasi : Ny,P mengatakan hubungan keluarga dan tetangga lebih bersifat individualism. 3. Fungsi keperawatan kesehatan Ny.P mengatakan untuk beberapa penyakit keluarga memanfaatkan dokter pribadi ntuk pertolongan pertama dan jika tidak ada perubahan penyakit tersebut membawa anggota keluarga ke rumah sakit. VI. Stress dan koping keluarga 1. Kemampuan kelarga berespon terhadap masalah. Tn.M mengatakan keluarga mampu merespon masalah pada kelarga untuk menyelesaikan meskipun sering terjadi pertengkaran antara Tn.M dan Ny.P 2. Strategi koping Tn.M mengatakan sering bertengkaran dengan Ny.P sering bertengkar untk menyelesaikan masalah 3. Strategi disfungsional Tidak ada
23

VII.

Harapan keluarga Tn.M mengatakan harapan keluarga untuk kesehatan adalah keluarga berharap agar An. A segera pulih dari ketergantungan NAPZZA jenis ganja dan dapat beraktivitas seperti sediakala.

VIII.

Analisa data Data subjektif

Tn.M dan Ny.P mengatakan dulunya An.A adalah pribadi yang ceria dan sopan serta sering mendapatkan penghargaan.

Tn.M dan Ny.P menyatakan belakangan ini An.A prestasinya menurun dan sering menyendiri.

Tn.M mengatakan sering bertengkar dengan Ny,P untuk menyelesaikan masalah Data Objektif

An.A mengatakan tidak senang karena orang tua nya sering bertengkar. An.A mengatakan kurang perhatian dari kedua orang tuanya. An. A mengatakan disekolahn ya tidak memiliki banyak teman An.A mengatakan sering diejek teman sekolahnya An.A mengatakan sering dikatakan kutu buku. An. A menggunakan NAPZA jenis ganja sejak 3 bulan yang lalu. Menarik diri pada An.A dari keluarga Tn.M

Perubahan fisik yang tampak pada An.A Kurus Pucat Lemas Malas makan

24

RENCANA ASUHAN KEPERAWATAN KELUARGA DENGAN REMAJA DRUG ABUSE

Diagnose Keperawatan 1. Koping individu tidak efektif akibat akibat pengguna an NAPZA pada An.A dari keluarga Tn.M b/d kurangnya perhatian dari keluarga An.A 2. Menarik Klien tidak Umum Setelah dilakukan terapi kesehatan diharapkan

Tujuan / SMART Khusus Kriteria

Evaluasi Standar - Klien mengatakan sudah mengikuti terapi. - Klien mengatakan akan berusaha merubah pola hidupnya

Rencana Tindakan 1. Bina hubungan saling percaya, kontrak dengan klien. 2. Kaji pengetahuan klien tentang NAPZA. 3. Beri penjelasan klien tentang : - Dampak NAPZA bagi kesehatan. - Anjurkan klien untuk kooperatif dalam mengikuti terapi.

- Klien menaati terapi Secara untuk menghilangkan ketergantungan NAPZA ganja. - Klien mengurangi/berhent i menggunakan NAPZA ganja verbal

menaati dan melaksanakan terapi.

- Klien mau berinteraksi dengan orang lain - Klien mampu berkomunikasi dengan baik pada orang lain
25

Secara verbal

- Klien mengatakan mau berkomunik asi dengan orang lain - Klien

- Bina hubungan saling percaya,kontrak dengan klien. - Menjadi pendengar yang baik buat klien.

diri akibat HDR pengguna an NAPZA pada An.A dari

keluarga Tn.M b/d harga diri rendah.

mengatakan ingin kembali kesekolah dan bertemu dengan temanteman sekolah.

26

CATATAN ASUHAN KEPERAWTAN KELUARGA DIAGNOSA KEPERAWATAN 1. Koping individu tidak efektif akibat penggunaan NAPZA pada An.A dari keluarga Tn.M b/d kurangnya perhatian dari keluarga An.A TANGGAL DAN WAKTU 23 januari 2008 Pukul : 09.00

IMPLEMENTASI/DAR D: Ds : Tn.M mengatakan sering bertengkar dengan Ny,P untuk menyelesaikan masalah Do : An.A mengatakan tidak senang karena orang tua nya sering bertengkar. An.A mengatakan kurang perhatian dari kedua orang tuanya. A: Memberikan motivasi kepada keluarga untuk memberikan support kepada An.A Berikan support kepada An.A untuk meningktkan koping An.A R:
27

EVALUASI/SOAP S: - An.A mengatakan ingin sembuh dari ketergantungan NAPZA ganja. - Keluarga mengatakan akan mensupport An.A untuk sembuh Dario ketergantungan NAPZA ganja O: An. A dapat menentukan dampak positif dan negative penggnaan NAPZA. A: Masalah teratasi sebagian P: - Dilanjutkan oleh keluarga.

Keluarga mensupport kepada An.A untuk sembuh dari ketergantungan NAPZA ganja.

Perawat memberikan spporrt pada An. A dengan menjadi teman yang kooperatif terhadap An.A dalam meningkatkkan koping.

2.Menarik diri akibat penggunaan NAPZA pada An.A dari keluarga Tn.M b/d harga diri rendah

14 mei 2009 Pukul 07.30

D: Ds : Tn.M dan Ny.P menyatakan belakangan ini An.A prestasinya menurun dan sering menyendiri. Do : An.A mengatakan sering diejek teman sekolahnya An.A mengatakan sering dikatakan kutu buku. An. A menggunakan NAPZA jenis ganja
28

S; - An.A mengatakan mau berinteraksi dengan orang lain. - Keluarga mengatakan akan lebih perhatian dan member dukungan kepada An.A ntuk sembuh dari ketergantngan NAPZA ganja. O: - An. A bias menjelaskan pentingnya berinteraksi dengan orang lain.

sejak 3 bulan yang lalu. Menarik diri pada An.A dari keluarga Tn.M A: Beri dukungan pada An.A untuk berinteraksi dengan orang lain Motivasi keluarga untuk memberikan dukungan kepada An.A R: Anak mau berinteraksi dengan perawat Anak merasa diperhatikan orang tua dan mendapatkan dukungan dari orang tua

- Keluarga dapat menjelaskan pentingnya perhatian dan dukungan kepada anak a untuk mempercepat prooses penyembuhan. A: Masalah teratasi sebagian P: Dilanjutkan oleh keluarga.

29

BAB III PENUTUP

A. Kesimpulan Proporsi penyalahguna NAPZA dikalangan remaja sangat besar. Dimana faktor faktor yang berhubungan dengan terjadinya penyalahgunaan NAPZA dikalangan remaja terdiri dari karakteristik jenis kelamin dan umur serta pengetahuan ; faktor lingkungan dalam keluarga yaitu variabel komunikasi ;serta faktor lingkungan di luar keluarga yaitu variabel pergaulan teman sebaya dan penggunaan waktu luang. B. Saran 1. Bagi dinas pendidikan perlu ditingkatkan program penyalahgunaan NAPZA kepada remaja-remaja yang mulai mengenal lingkungan luar dengan melibatkan departemen kesehatan,kehakiman dan kepolisian. 2. Memberikan informasi kepada orang tua untuk mencari pemecahan dalam mencegah terjadinya penyalahgunaan NAPZA. 3. Bagi orang tua perlu lebih ditingkakan pengawasan terhadap anak terutama pada kegiatan diluarnya.

30

DAFTAR PUSTKA
E.Doenges, Marilyn. dkk. 2000. Rencana Asuhan Keperawatan. Jakarta : Penerbit Buku Kedokteran.

http://dinkes-sulsel.go.id, diakses pada tanggal 5 Maret 2011 http://www.dinsos.pemda-diy.go.id, diakses pada tanggal 5 Maret 2011 http://mentalnursingunpad.multiply.com, diakses pada tanggal 5 Maret 2011 http://perawat online.com, diakses pada tanggal 9 Maret 2011

Singgih D. Gunarsa. 2000. Psikologi Praktis Anak, Remaja, dan Keluarga. Jakarta: PT. BPK Gunung Mulia.

Sumiati, dkk. 2009. Asuhan Keperawatan pada Klien Penyalahgunaan dan Ketergantungan NAPZA. Jakarta : Trans Info Media.

Wirawan Sarwono, Salito. 1989. Psikologi Remaja. Jakarta : CV. Rajawali.

Yatim,D.I. dkk., (eds). 1986. Keperibadian Keluarga dan Narkotika: Tinjauan Sosial. Bandung : Accan.

31