Anda di halaman 1dari 28

1

PENGARUH TINGKAT KECERDASAN EMOSIONAL (EQ) TERHADAP AHKLAK REMAJA SMA DI PONTIANAK

BAB I PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Pola pembangunan SDM di Indonesia selama ini terlalu mengedepankan IQ (kecerdasan intelektual) dan materialisme tetapi mengabaikan EQ (kecerdasan emosi) terlebih SQ (Kecerdasan spiritual). Pada umunya masyarakat Indonesia memang memandang IQ paling utama, dan menganggap EQ sebagai pelengkap, sekedar modal dasar tanpa perlu dikembangkan lebih baik lagi. Fenomena ini yang sering tergambar dalam pola asuh dan arahan pendidikan yang diberikan orang tua dan juga sekolah-sekolah negeri atau swasta pada umumnya. Maka tidak heran kalau banyak remaja siswa Sekolah Menengah Atas berprestasi tapi tidak sedikit kemudian mereka yang berprestasi juga menjadi siswa yang urakan dan mengabaikan tanggungjawabnya dalam menjalani proses pendidikan di sekolah, terjebak dalam pergaulan bebas, narkoba dan atau budaya tawuran sering dilakukan. Pengaruh obat-obatan terlarang, budaya kritis yang cenderung negatif karena mengurangi kesopanan pada guru dan orang tua, selama ini menjadi ciri adanya perubahan budaya pada remaja siswa di Indonesia.

Selama empat dawarsa terakhir, setiap orang dari kepala sekolah dasar hingga tokoh agama dan presiden telah berusaha sekuat tenaga mengatasi krisis perkembangan moral/akhlak anak-anak, tetapi makin lama keadaan justru semakin memburuk. Bila statistik untuk ini saja sudah mengejutkan, apa lagi cerita dibalik data tersebut. Sehingga pada tahun 2003, lahirlah Undang-Undang SIKDIKNAS (Sistem Pendidikan Nasional) Nomor 20 Tahun 2003 merupakan awal reformasi pendidikan yang mencoba menyeimbangkan pola pembangunan SDM dengan mengedepankan SQ (Kecerdasan spiritual), EQ (kecerdasan emosi) dan tidak mengabaikan IQ (kecerdasan intelektual).

Oleh karena itu, kecerdasan emosional harus slalu diasah. Penelitian-penelitian telah menunjukkan bahwa keterampilan EQ yang sama untuk membuat siswa yang bersemangat tinggi dalam belajar, atau untuk disukai oleh teman-temannya di arena bermain, juga akan membantunya dua puluh tahun kemudian ketika sudah masuk kedunia kerja atau ketika sudah berkeluarga.

Banyak media-media masa, dan televisi yang memberitakan tentang rendahnya kecerdasa emosional yang dimiliki remaja-remaja kita saat ini, sehingga itu berimbas pada Akhlakul karimah mereka. Statistik ini dan berita-berita dalam surat kabar mencerminkan masalah-masalah yang paling gawat. Berkembangnya kesadaran akan moral/akhlak dapat berpengaruh terhadap setiap aspek dalam masyarakat kita: keharmonisan

dalam keluarga, kemampuan setiap sekolah dalam mengajar, keamanan di jalan, dan terpadunya nialai-nilai sosial. Fenomena-fenomena tersebut adalah salah satu gambaran

kurangnnya pengetahuan tentang diri (EQ) tidak dimiliki peserta didik kita, akibatnya terjadi kekosongan yang kemudian di isi oleh sentiment, kemarahan, kesombangan dan sifat-sifat buruk lainnya, yang

menggerakkan untuk berbuat jahat. Mengetahui diri sendiri berarti mengetahui potensi-potensi dan kemampuan yang dimiliki sendiri, mengetahui kelemahan-kelemahan dan juga perasan dan emosi. Dengan mengetahui hal tersebut, seseorang mestinya juga bisa mendayagunakan, mengekspresikan, mengendalikan dan juga mengomunikasikan dengan pihak lain. Sekolah merupakan tempat bagaimana anak belajar berinteraksi dengan orang lain. Sekolah harus membangun budaya yang

mengedepankan aspek moral, cinta kasih, kelembutan, nilai demokratis, menghargai perbedaan, berlapang dada menerima kenyataan, dan menjauhkan diri dari nilai-nilai kekerasan. Sekolah harus meningkatkan kecerdasan emosional (psikologis) yang berpengaruh terhadap faktor Akhlak (tingkah laku) siswa agar dapat mencapai tingkat mutu pendidikan. Semua permasalahan di atas merupakan sebuah realita yang mana kecerdasan emosional itu sangat berpengaruh tehadap tingkah laku (akhlak) seseorang. Pengaruh kecerdasan emosional bisa digambarkan

melalui kekuatan emosi seseorang yang bisa lebih kuat daripada kekuatan logikanya. Permasalahan yang banyak terjadi di beberapa SMA di Pontianak adalah permasalahan yang berhubungan dengan latar belakang keluarga siswa, yang sangat mempengaruhi tingkah laku atau akhlak mereka di sekolah. Anak-anak yang memiliki permasalahan keluarga (broken home) sering mangalami stress yang berlebihan sehingga akan membuat mereka tidak besemangat dalam mengikuti pelajaran, dan berlaku acuh-tak acuh terhadap semua orang. Maka dari itu, dalam kaitan pentingnya kecerdasan emosional pada diri siswa sebagai salah satu faktor yang sangat berpengaruh dalam pembentukan akhlaknya, maka dalam penyusunan skripsi ini penulis tertarik untuk meneliti: Pengaruh Emosional Inteligence terhadap Akhlak Siswa SMA di Pontianak.

B. Rumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang masalah yang telah diuraikan di atas, maka masalah penelitian ini dapat dirumuskan sebagai berikut, Seberapa besar pengaruh emosional inteligence terhadap akhlak siswa SMA di Pontianak ?

C. Tujuan Penelitian Berdasarkan rumusan masalah di atas tujuan penelitian dalam penulisan ini adalah Untuk menjelasakan seberapa besar pengaruh emosional intelligence terhadap akhlak siswa SMA di Pontianak. D. Manfaat Penelitian Penelitian ini diharapkan dapat memberikam manfaat sebagai berikut :

1. Bagi individu

Hasil penelitian ini diharapkan dapat membantu memberikan informasi khususnya kepada para orang tua, konselor sekolah dan guru dalam upaya membimbing dan memotivasi siswa remaja untuk menggali kecerdasan emosional yang dimilikinya.

2. Bagi lembaga

Penelitian ini diharapkan dapat menjadi bahan masukan bagi sekolah dalam membimbing tingkah laku (akhlak) siswa. Sehingga akan menjadi manusia yang mandiri dan dewasa.

3. Bagi ilmu pengetahuan

Menambah khazanah ilmu pengetahuan dan memperkaya hasil penelitian yang telah ada dan dapat memberi gambaran mengenai pengaruh kecerdasan emosional terhadap akhlak siswa.

BAB II KERANGKA TEORETIS DAN PENGAJUAN HIPOTESIS

A. Deskripsi Teoritis 1. Kecerdasan Emosional a. Definisi Emosi Kata emosi berasal dari bahasa latin, yaitu emovere, yang berarti bergerak menjauh. Arti kata ini menyiratkan bahwa kecenderungan bertindak merupakan hal mutlak dalam emosi. Menurut Daniel Goleman, emosi merujuk pada suatu perasaan dan pikiran yang khas, suatu keadaan biologis dan psikologis dan serangkaian kecenderungan untuk bertindak. Emosi pada dasarnya adalah dorongan untuk bertindak. Biasanya emosi merupakan reaksi terhadap rangsangan dari luar dan dalam diri individu. Sebagai contoh emosi gembira mendorong perubahan suasana hati seseorang, sehingga secara fisiologi terlihat tertawa, emosi sedih mendorong seseorang berperilaku menangis. Emosi berkaitan dengan perubahan fisiologis dan berbagai pikiran. Jadi, emosi merupakan salah satu aspek penting dalam kehidupan manusia, karena emosi dapat merupakan motivator perilaku dalam arti meningkatkan, tapi juga dapat mengganggu perilaku intensional manusia.

Beberapa tokoh mengemukakan tentang macam-macam emosi, antara lain Descrates. Menurut Descrates, emosi terbagi atas : Desire (hasrat), hate (benci), Sorrow (sedih/duka), Wonder (heran), Love (cinta) dan Joy (kegembiraan). Sedangkan JB Watson mengemukakan tiga macam emosi, yaitu : fear (ketakutan), Rage(kemarahan), Love (cinta). Dari beberapa pengertian tentang emosi diatas dapat disipulkan emosi adalah keadaan atau dorongan untuk bertindak sehingga mendorong individu untuk memberikan respon atau bertingkah laku terhadap stimulus yang ada. b. Definisi kecerdasan emosional Istilah kecerdasan emosional pertama kali dilontarkan pada tahun 1990 oleh psikolog Peter Salovey dari Harvard University dan John Mayer dari University of New Hampshire untuk menerangkan kualitas-kualitas emosional yang tampaknya penting bagi keberhasilan.

Salovey dan Mayer mendefinisikan kecerdasan emosional atau yang sering disebut EQ sebagai himpunan bagian dari kecerdasan sosial yang melibatkan kemampuan memantau perasaan sosial yang melibatkan kemampuan pada orang lain, memilah-milah semuanya dan menggunakan informasi ini untuk membimbing pikiran dan tindakan. Kecerdasan emosional sangat dipengaruhi

oleh lingkungan, tidak bersifat menetap, dapat berubah-ubah setiap saat. Untuk itu peranan lingkungan terutama orang tua pada masa kanak-kanak sangat mempengaruhi dalam pembentukan

kecerdasan emosional. Keterampilan EQ bukanlah lawan keterampilan IQ atau keterampilan kognitif, namun keduanya berinteraksi secara dinamis, baik pada tingkatan konseptual maupun di dunia nyata. Selain itu, EQ tidak begitu dipengaruhi oleh faktor keturunan. Menurut Gardner, kecerdasan pribadi terdiri dari :kecerdasan antar pribadi yaitu kemampuan untuk memahami orang lain, apa yang memotivasi mereka, bagaimana mereka bekerja, bagaimana bekerja bahu membahu dengan kecerdasan. Sedangkan kecerdasan intra pribadi adalah kemampuan yang korelatif, tetapi terarah ke dalam diri. Kemampuan tersebut adalah kemampuan membentuk suatu model diri sendiri yang teliti dan mengacu pada diri serta kemampuan untuk menggunakan modal tadi sebagai alat untuk menempuh kehidupan secara efektif. Dalam penelitian ini yang dimaksud dengan kecerdasan emosional adalah kemampuan siswa untuk mengenali emosi diri, mengelola emosi diri, memotivasi diri sendiri, mengenali emosi orang lain (empati) dan kemampuan untuk membina hubungan (kerjasama) dengan orang lain.

c. Faktor Kecerdasan Emosional Goleman mengutip Salovey menempatkan menempatkan kecerdasan pribadi Gardner dalam definisi dasar tentang

kecerdasan emosional yang dicetuskannya dan memperluas kemapuan tersebut menjadi lima kemampuan utama, yaitu : 1) Mengenali Emosi Diri Mengenali emosi diri sendiri merupakan suatu kemampuan untuk mengenali perasaan sewaktu perasaan itu terjadi. Kemampuan ini merupakan dasar dari kecerdasan emosional, para ahli psikologi menyebutkan kesadaran diri sebagai metamood, yakni kesadaran seseorang akan emosinya sendiri. Menurut Mayer kesadaran diri adalah waspada terhadap suasana hati maupun pikiran tentang suasana hati, bila kurang waspada maka individu menjadi mudah larut dalam aliran emosi dan dikuasai oleh emosi. Kesadaran diri memang belum menjamin penguasaan emosi, namun merupakan salah satu prasyarat penting untuk mengendalikan emosi sehingga individu mudah menguasai emosi. 2) Mengelola Emosi Mengelola emosi merupakan kemampuan individu dalam menangani perasaan agar dapat terungkap dengan tepat atau selaras, sehingga tercapai keseimbangan dalam diri individu. Kemampuan ini mencakup kemampuan untuk menghibur diri

10

sendiri,

melepaskan

kecemasan,

kemurungan

atau

ketersinggungan dan akibat-akibat yang ditimbulkannya serta kemampuan untuk bangkit dari perasaan-perasaan yang menekan. 3) Memotivasi Diri Sendiri Presatasi harus dilalui dengan dimilikinya motivasi dalam diri individu, yang berarti memiliki ketekunan untuk menahan diri terhadap kepuasan dan mengendalikan dorongan hati, serta mempunyai perasaan motivasi yang positif, yaitu antusianisme, gairah, optimis dan keyakinan diri. 4) Mengenali Emosi Orang Lain Kemampuan untuk mengenali emosi orang lain disebut juga empati. Menurut Goleman kemampuan seseorang untuk mengenali orang lain atau peduli, menunjukkan kemampuan empati seseorang. Individu yang memiliki kemampuan empati lebih mampu menangkap sinyal-sinyal sosial yang tersembunyi yang mengisyaratkan apa-apa yang dibutuhkan orang lain sehingga ia lebih mampu menerima sudut pandang orang lain, peka terhadap perasaan orang lain dan lebih mampu untuk mendengarkan orang lain. 5) Membina Hubungan Kemampuan dalam membina hubungan merupakan suatu keterampilan yang menunjang popularitas, kepemimpinan dan

11

keberhasilan antar pribadi. Keterampilan dalam berkomunikasi merupakan kemampuan dasar dalam keberhasilan membina hubungan. Berdasarkan uraian tersebut di atas, penulis mengambil komponen-komponen utama dan prinsip-prinsip dasar dari kecerdasan emosional sebagai faktor untuk mengembangkan instrumen kecerdasan emosional 2. Definisi Akhlak a. Definisi Akhlak Definisi Akhlak dari segi etimologi adalah berasal dari kata Al-Khalqa dan Al-khulqu yang bermakna satu, sebagaimana kata Asy Ayarabu dan Asy Syurabu. Tetapi ketika harokat fathanya disukunkan pada huruf Kha dalam kata al-Khalqu, maka ia bermakna suatu keadaan dan gambaran yang bisa dirasakan oleh pandangan. Sedangkan tatkala

harakatdhammahnya dikhususkan pada khanya, maka ia bermakan suatu kekuatan dan peragai yang bisa dirasakan oleh pandangan hati. Sedangkan Al-Qhazali mengatakan Bagaimana orang mengatakan si A itu baik khalqunya dan Khuluqnya, berarti si A itu baik sifat lahirnya dan sifat batinya. Dalam pengertia sehari-hari, akhlaq umumnya disamakan artinya dengan arti kata budi pekerti atau kesusilaan atau sopan santun

12

dalam bahasa Indonesia, dan tidak berbeda pula dengan arti kata moral atau etic dalam bahasa ingris. Dalam bahasa Yunani, untuk pengertian akhlaq ini dipakai kata ethos atau ethikos yang kemudian menjadi etika dalam istilah bahasa Indonesia. Jadi pada hakekatnya Khulk (budi pekerti) atau akhlak adalah suatu kondisi atau sifat yang telah meresap dalam jiwa dan menjadi kepribadian hingga dari situ timbullah berbagai macam perbuatan dengan cara spontan dan mudah tanpa dibuat-buat dan tanpa memerlukan pemikiran. Apabila kondisi tadi timbul kelakuan yang baik dan terpuji menurut pandangan syariat dan akal pikiran, maka ia dinamakan budi pekerti mulia (akhlakul karimah) dan sebaliknya pabila yang lahir kelakuan yang buruk, maka disebutlah bukit pekerti yang tercela.

b. Dasar Akhlakul Karimah Akhalakul Karimah, tingkah laku yang mulia atau perbuatan baik adalah cerminan dari iman yang benar dan sempurna. Diantara para ahli mnegatakan bahwa akhlak itu adala instinct (garizah) yang dibawa manusia sejak lahir dan ada pula yang mengatakan bahwa akhlak itu adalah hasil dari pendidikan dan latihan serta perjuangan. Pendapat ini dapat memudahkan kita untuk mengkaji akhlak itu dalam

13

penempatannya pada kedudukannya yang seharusnya. Secara sederhana bahwa akhlak itu merupakan hasil usaha dalam pendidikan dan melatih sungguh-sungguh potensi yang dimiliki manusia yang merupkan pembawaan sejak lahir. Jika pendidikan itu benar, yaitu menuju pada kebaikan, maka lahirlah perbuatan baik dan jika pendidikannya salah, maka lahirlah perbuatan yang tercela. Jadi sebenarnya yang menjadi dasar akhlakul karimah adalah pendidikan dan laihan untuk selalu berbuat baik. B. Kerangka Berpikir 1. Pengertian Pengaruh

Pengertian pengaruh menurut kamus besar bahasa Indonesia adalah daya yang ada atau timbul dari sesuatu (orang, benda) yang ikut membentuk watak, kepercayaan, atau perbuatan seseorang.

Dalam penelitian ini pengaruh adalah yang menyebabkan sesuatu terjadi, baik secara langsung maupun tidak. Berarti yang menjadi penyebab emosional itu secara langsung atau tidak terhadap akhlak siswa.

2. Pengertian Kecerdasan Emosional

Kecerdasan emosional menurut Ary Ginanjar Agustian adalah seseorang yang memiliki ketangungguhan, inisiatif, optomisme, dan

14

kemampuan beradaptasi. Hal yang senada di kemukakan oleh Goleman bahwa kecerdasan emosional adalah kemampuan seseorang mengatur kehidupan emosinya dengan inteligensi (to manage our emotional life with intelligence); menjaga keselarasan emosi dan pengungkapannya (the appropriateness of emotion and its expression) melalui keterampilan kesadaran diri, pengendalian diri, motivasi diri, empati dan keterampilan sosial.

Dalam penelitian ini yang dimaksud dengan kecerdasan emosional adalah kemampuan siswa untuk mengenali emosi diri, mengelola emosi diri, memotivasi diri sendiri, mengenali emosi orang lain (empati) dan kemampuan untuk membina hubungan (kerjasama) dengan orang lain.

3. Pengertian Akhlak

Al-Ghozali mendefinisikan Akhlaq adalah suatu sifat yang tertanam dalam jiwa yang dari padanya timbul perbuatan-perbuatan dengan mudah, dengan tidak memerlukan pertimbangan pikiran (lebih dulu).

Jadi pengertian Akhlak dalam penelitian ini adalah suatu kondisi atau sifat yang telah meresap dalam jiwa dan menjadi kepribadian hingga dari situ timbullah berbagai macam perbuatan dengan cara spontan dan mudah tanpa dibuat-buat dan tanpa

15

memerlukan pemikiran. Apabila kondisi tadi timbul kelakuan yang baik dan terpuji menurut pandangan syariat dan akal pikiran, maka ia dinamakan budi pekerti mulia (akhlakul karimah) dan sebaliknya pabila yang lahir kelakuan yang buruk, maka disebutlah bukit pekerti yang tercela.

C. Hipotesis

Berdasarkan uraian teoritik di atas, maka hipotesis penelitian ini dapat dirumuskan sebagai berikut : 1. Hipotesis alternatif (Ha) : semakin tinggi kecerdasan emosional siswa, maka semakin baik pula akhlak siswa 2. Hipotesis nihil (Ho) : semakin rendah kecerdasan emosional siswa, maka semakin buruk pula akhlak siswa

16

BAB III METODOLOGI A. Tempat dan Waktu Penelitian Penelitian ini dilaksanakan di salah satu SMA Negeri di Pontianak, Tepatnya di SMA Negeri 3 Pontianak di Jl. WR. Supratman no.01. Penelitian ini dilakukan pada tanggal 09 Januari 2012 dan direncanakan akan selesai pada April 2012. B. Metode yang Digunakan Pendekatan penelitan ini menggunakan pendekatan

kuantitatif karena data yang kami ambil dalam bentuk angka akan diproses secara statistik. Dan dideskripsikan secara deduksi yang berangkat dari teori-teori umum, lalu dengan observasi untuk menguji validitas keberlakuan teori tersebut ditariklah kesimpulan. Kemudian di jabarkan secara deskriptif, karena hasilnya akan kami arahkan untuk mendiskripsikan data yang diperoleh dan untuk menjawab rumusan. Sedangkan jenis penelitiannya berdasarkan tempat adalah penelitian lapangan (field research) dan studi pustaka. Studi pustaka digunakan untuk melakukan pengumpulan data dari berbagai literatur yang berkaitan dengan masalah yang dibahas dalam skripsi ini. Penelitian lapangan (field research) digunakan pengumpulan data dari objek penelitian, baik berupa data kuantitatif maupun data kualitatif yang diperlukan, dan jenis

17

penelitian

berdasarkan

tekniknya

adalah

Survey

Research

(Penelitian Survei), karena tidak melakukan perubahan (tidak ada perlakuan khusus) terhadap variabel yang diteliti. Penelitian ini menggunakan Correlation Studies, rancangan ini sangat sederhana, dua sekor dikumpulkan, satu set untuk satu variabel yang dicakup dalam penelitian dihubungkan dengan variabel lainnya. Koefisien relasi menunjukkan kekuatan hubungan antar varibel. C. Populasi dan Sampel 1. Populasi Menurut Burhan Bungin populasi penelitian merupakan keseluruhan (universum) dari objek penelitian yang dapat berupa manusia, hewan, tumbuh-tumbuhan, udara, segala, nilai, paristiwa, sikap hidup, dan sebagainya, sehingga objek-obejk ini dapat menjadi sumber data penelitian. Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh siswa kelas II SMAN 3 Pontianak yang berusia 16-17 tahun. 2. Sampel Jumlah seluruh siswa kelas II SMAN 3 Pontianak selurunya adalah 200 siswa. Karena terlalu banyaknya populasi maka perlu diadakan teknik pengambilan sampel dengan

menggunkan cara penarikan sample dari populasi. Sampel yang digunakan adalah sampling random (random sampling),

18

dengan penentuan besar sampelnya berdasarkan pendapat Suharsimi Arikunto yang mengatakan bahwa jika jumlah populasinya lebih dari 100 maka dapat diambil 15% dari populasi. D. Teknik Pengumpulan Data 1. identifikasi Variabel Penelitian

Berdasarkan landasan teori yang ada serta rumusan hipotesis penelitian maka yang menjadi variabel dalam penelitian ini adalah :

a. Variabel bebas : Kecerdasan Emosional

b. Variabel terikat : Akhlak Siswa

2. Validitas dan Realibilitas Alat Pengumpulan Data

Suatu alat ukur dapat dinyatakan sebagai alat ukur yang baik dan mampu memberikan informasi yang jelas dan akurat apabila telah memenuhi beberapa kriteria yang telah ditentukan oleh para ahli psikometri, yaitu kriteria valid dan reliabel. Oleh karena itu agar kesimpulan tidak keliru dan tidak memberikan gambaran yang jauh berbeda dari keadaan yang sebenarnya diperlukan uji validitas dan reliabilitas dari alat ukur yang digunakan dalam penelitian.

19

a. Uji Validitas

Validitas lebih berupa derajat kedekatan kepada kebenaran dan bukan masalah sama sekali banar atau sekali salah. Validitas adalah suatu proses yang tak perah berakhir. Suatu cara pengukuran yang telah lama sekali diyakini akan validitasnya, suatu ketika ditemukan buktibukti baru aka kesalahan atau kekurangannya, sehingga dilakukan penyempurnaan atau peurbahan prosedur dan alat ukur tersebut.

Uji validitas item yaitu pengujian terhadap kualitas item-itemnya yang bertujuan untuk memilih item-item yang benar-benar telah selaras dan sesuai dengan faktor yang ingin diselidiki. Cara perhitungan uji coba validitas item yaitu dengan cara mengorelasikan skor tiap item dengan skor total item.

Dalam penelitian ini digunakan pendekatan validitas konstruk (construct validity) yaitu validitas yang mengacu pada konsistensi dari semua komponen kerangka konsep. Untuk menguji tingkat validitas instrumen penelitiannya, maka digunakan rumus teknik Regresi liner sederhana.

20

Bagian dari uji validitas yang dipakai dalam penelitian ini adalah melalui analisis butir-butir, dimana untuk menguji setiap butir skor total valid tidaknya suatu item dapat diketahui dengan membandingkan antara angka regresi linier sederhana (r Hitung) pada level signifikansi 0,05 nilai kritisnya. Instrumen penelitian ini dikatakan valid dimana nilai korelasinya lebih besar dari 0,3.

b. Uji Reliabilitas

Reliabilitas adalah menunjuk pada tingkat keterdalaman sesuatu. Data yang reliabel adalah data yang dihasilkan dapat dipercaya dan diandalkan. Apabila datanya memang banar-benar sesuai dengan kenyataannya, maka berapa kali pun diambil, tetap akan sama.

Uji realibilitas adalah dengan menguji skor antar item dengan tingkat signifikansi 0,05 sehingga apabila angka korelasi yang diperoleh lebih besar dari nilai kritis, berarti item tersebut dikatakan reliabel. Uji Alpha Cronbach digunakan untuk menguji realibilitas instrumen ini.

21

4. Cara Pengumpulan Data

a. Observasi

Dalam menggunakan metode observasi cara yang paling efektif adalah melengkapinya dengan format atau blangko pengamatan sebagai instrument. Format yang disusun berisi itemitem tentang kejadian atau tingkah laku yang digambarkan akan terjadi

Dari penelitian berpengalaman diperoleh suatu petunjuk bahwa mencatat data observasi bukanlah sekedar mencatat, tetapi juga mengadakan pertimbangan kemudian mengadakan penilaian ke dalam suatu skala bertingkat. Misalnya kita memperhatikan reaksi penonton televisi, bukan hanya mencatat bagaimana reaksi itu, dan berapa kali muncul, tetapi juga menilai reaksi tersebut sangat, kurang, atau tidak sesuai dengan yang kita kehendaki.

b. Dokumentasi

Metode dokumentasi dilakukan dengan cara mencari data tentang hal-hal atau variabel yang berupa catatan, transkrip, buku, surat kabar, majalah, prasasti, notulen rapat, agenda dan sebagainya.

22

Lexi J. Moleong mendefinisikan dokumen sebagai setiap bahan tertulis ataupun film, yang tidak dipersiapkan karena adanya permintaan aseorang penyidik.

Menurut Guba dan Lincoln, (1981) Penggunaan metode dokumen dalam penelitian ini karena alasan sebagai berikut.

1)

Merupakan sumber yang stabil, kaya, dan mendorong.

2)

Berguna sebagai bukti untuk suatu pengujian.

3)

Berguna dan sesuai dengan penelitian kualitatif karena sifatnya yang alamiah, sesuai dengan konteks, lahir dan berada dalam konteks.

4) Tidak reaktif sehingga tidak sukar ditemukan dengan teknik kajian isi.

5)

Dokumentasi harus dicari dan ditemukan.

6) Hasil pengkajian isi akan membuka kesempatan untuk lebih memperluas tubuh pengetahuan terhadap sesuatu yang diselidiki.

c. Angket

Metode angket merupakan serangkaian atau daftar pertanyaan yang disusun secara sistematis, kemudian dikirim untuk diisi oleh responden. Setelah diisi, angket dikirim kembali atau dikembalikan kepeneliti.

23

Bentuk angket yang digunakan dalam penelitian ini adalah bersifat langsung dan tertutup. Artinya angket yang merupakan daftar pertyanyan diberikan langsung kepada mahasiswa sebagai subyek penelitian, dan dakam mengisi angket, mehasiswa diharuskan memilih karena jawaban telah disediakan.

E.

Teknik Analisis Data

Secara garis besar, pekerjaan analisis data meliputi tiga tahap utama:

1. Persiapan: mengecek nama, isian, dan macam data. 2. Tabulasi : memberi skor, memberi kode, mengubah jenis data, dan coding dalam coding form. 3. Penerapan data sesuai dengan pendekatan penelitian 4. Penelitian deskriptif : presentase dan komparasi dengan criteria yang telah ditentukan 5. Penelitian komparasi: dengan berbagai teknik korelasi sesuai dengan jenis data. 6. Penelitian eksperimen: diuji hasilnya dengan t-test.

Namun oleh karena data yang dikumpulkan baru data mentah, maka sebelum di analisis, data mentah tersebut diolah lebih dahulu sebelum dianalisis dengan tehnik analisis tertentu. Dan secara umum teknik analisa data untuk kuantitatif menggunakan metode statistic, dan

24

agar mudah biasanya di bantu oleh program komputer, seperti SPSS, SPS, Minitab, MS exel, dll. Terdapat dua macam statistik yang digunakan untuk analisa data dalam penelitian, yaitu: statistik deskriptif dan statistik inferensial. Statistik inferensial meliputi statistik parametris dan statistik non parametris. Dalam penelitian ini, menggunakan statistik inferensia dan juga deskriptif, karena kedua- duanya sangat membantu dalam penelitian ini.

Bila persyaratan penggunaan teknik analisis statistik benar, maka hasilnya dapat digunakan untuk menerima atau menolak hipotesis atau untuk menolak atau menerima teori yang diujinya. Sebagimana diketahui bahwa tujuan akhir penelitian kuantitatif ialah untuk menguji teori. Oleh karena itu, lengkapnya data yang dikumpulkan dari uji validitas dan uji reliabilitas merupakan criteria mutu hasil penelitian. Sebab, data yang tidak valid dan tidak reliable berarti data itu salah dan tidak dapat dipercaya, sehingga kalau data itu dianalisis, hasilnya juga akan salah.

Berdasarkan skala pengukurannya, jenis data yang digunakan dalam penelitian ini adalah data interval dan ordinal, data interval yaitu data yang selain mengandung unsur penamaan urutan juga memiliki sifat interval (selangnya bermakna). Disamping itu data ini memiliki ciri angka nolnya tidak mutlak. Skala interval memiliki ciri matematis additivity, artinya kita dapat menambah atau mengurangi. Sedangkan data ordinal adalah digunakan untuk mengurutkan objek dari yang paling rendah

25

sampai yang paling tinggi atau sebaliknya. Ukuran ini tidak memberikan nilai absolut terhadap objek, tetapi hanya memberikan peringkat saja. Jika kita memiliki sebuah set objek yang dinomori, dari 1 sampai n, misalnya peringkat 1, 2, 3, 4, 5 dan seterusnya, bila dinyatakan dalam skala, maka jarak antara data yang satu dengan lainnya tidak sama. Ia akan memiliki urutan mulai dari yang paling tinggi sampai paling rendah. Atau paling baik sampai ke yang paling buruk. Misalnya dalam skala Likert.

Dalam penelitian ini, akan digunakan analisis data dengan metode statistik parametik. Karena statistik parametik dapat dilakukan jika sample yang akan dipakai berasal dari populasi yang berdistribusi normal. Jumlah data yang digunakan dalam analisis ini minimal 30 sampel dan menggunakan yang berupa data interval dan ordinal. Ini sangat berkaitan dengan data Interval yang telah digunakan sebelumnya.

Dalam penelitian ini, menggunakan analisis korelasi. Karena digunakan untuk menguji hubungan antara 2 variabel atau lebih, apakah kedua variabel tersebut memang mempunyai hubungan yang signifikan, bagaimana arah hubungan dan seberapa kuat hubungan tersebut.

Untuk menguji penerimaan atau penolakan Ho telah ditentukan untuk menggunakan 2 arah (two sided test). Tahap dari penggunaan rumus korelasi diatas adalah:

a) Menggunakan rumus korelasi untuk mendapatkan r hitung

26

b) Menentukan tingkat signifikansi (level of significance) yaitu sebesar 5%

c)

Melihat nilai kritis menurut table nilai t dengan tingkat signifikansi sebesar 5 %.

d) Mengambil kesimpulan apakah menerima atau menolak Ho dengan membandingkan antara nilai r hitung dan r tabel.

27

BAB IV PENUTUP

A. Kesimpulan B. Saran

28

DAFTAR PUSTAKA

Agustian, Ary Ginanjar. 2001.Rahasian Sukses membangun kecerdasan emosi dan spiritual (The ESQ way 165). Jakarta: Arga.

Aritkunto, Suharsimi. 2002. Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Praktek. Jakarta: rieneka.

Asmaran. 2002. Pengantar Studi Akhlak. Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada.

Daryanto. 1997. Kamus Bahasa Indonesia Lengkap. Surabaya: Appolo.

Moleong, Lexy J. 2007. Metodologi Penelitian Kualitatif. Bandung: PT Remaja Rosda Karya.

Tuti. Kecerdasan Emosional (http;//tuti.azzahra-university.ac.id. Minggu 10-062012. 19.36 WIB)