Anda di halaman 1dari 6

ANALISA TINDAKAN HECTING UP PADA KLIEN DENGAN CF ANKLE RUANG EDELWIS RS. ORTOPEDI PROF. DR. R.

SOEHARSO SURAKARTA Disusun untuk Memenuhi Tugas Mata Ajar Praktik Keperawatan Dewasa II

Pembimbing : RUDY PUJI. W, S.Kep.Ns

Disusun oleh: Hani Tuasikal G2B009010

PROGRAM STUDI ILMU KEPERAWATAN FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS DIPONEGORO 2012

Inisial Pasien

: Ny. W

Diagnosa Medis: CF Ankle Lateral No. Register : 00.21.86.36

1. Diagnosa Keperawatan Dan Dasar Pemikiran Diagnosa keperawatan yang sesuai adalah gangguan rasa nyaman adalah merasa kurang senang, lega dan sempurna dalam dimensi fisik, psikospritual, lingkungan, dan sosial. Batasan karakteristik Ansietas Menangis Gangguan pola tidur Takut Gejala terkait penyakit Ketidakmampuan untuk relaks Sumber yang tidak adekuat (misalkan dukungan finansial dan sosial) Iritabilitas Kurang pengendalian lingkungan Kurang privasi Kurang kontrol situasional Merengek Stimuli lingkungan yang tidak menyenangkan/ mengganggu Melaporkan perasaan tidak nyaman Melaporkan merasa dingin Melaporkan merasa panas Melaporkan gejala distres Melaporkan rasa lapar Melaporkan rasa gatal Melaporkan kurang puas dengan keadaan Melaporkan kurang senang dengan situasi tersebut

Gelisah Efek samping terkait terapi misalkan medikasi dan radiasi

2. Tindakan Keperawatan yang Dilakukan Angkat jahitan (Hecting Up) 3. Prinsip-Prinsip Tindakan Pengertian Jahitan adalah benang yang digunakan untuk menjahit jaringan tubuh bersamaan. Jahitan yang digunakan untuk merapatkan jaringan dibawah kulit sering di buat dari bahan yang dapat di absorpsi yang menghilang beberapa hari. Jahitan kulit sebaiknya terbuat dari berbagai bahan yang dapat di absopsi, seperti sutra, katun, linen, kawat, nilon dan dakron (serat poliester). Jepitan kawat perak atau staple juga digunakan. Biasanya jahitan dan staple diangkat 7-10 hari setelah pembedahan bila penyembuhan telah adekuat. Tujuan 1. Mencegah timbulnya infeksi. 2. Observasi perkembangan luka. 3. Mengabsorbsi drainase. 4. Meningkatkan kenyamanan fisik dan psikologis Persiapan alat 1. Alat sterill a. Pinset anatomi 2 buah. b. Gunting bedah 1 buah. c. Gunting jaringan 1 buah. d. Korentang. e. Sarung tangan steril. f. Balutan steril. g. Kassa kering dalam kom tertutup secukupnya. h. Kassa desinfektan dalam kom tertutup 5-10 helai.

2. Alat tidak sterill a. Sarung tangan. b. Plester. c. Pengalas. d. Gunting perban 1 buah. e. Masker. f. Baskom untuk tempat sampah. g. Nierbeken 2 buah. h. Kom kecil 1 buah. i. NaCl 0,9%. Persiapan pasien a. Perkenalkan diri. b. Jelaskan tujuan. c. Jelaskan prosedur perawatan pada pasien. d. Persetujuan pasien. Pelaksanaan a. Jelaskan pada klien tindakan yang akan dilakukan. b. Informasikan pada klien bahwa pelepasan jahitan dapat menimbulkan sedikit ketidak nyamanan seperti sensasi ditarik atau disengat, tetapi tidak akan menyakitkan. c. Cuci tangan dan observasi prosedur pengendalian infeksi lain yang sesuai. d. Berikan privasi klien. e. Angkat balutan dan bersihkan insisi dengan cara pakai sarung tangan steril, bersihkan garis jahitan dengan larutan anti mikroba sebelum dan sesudah pelepasan jahitan, tujuannya untuk mencegah infeksi. f. Lepaskan jahitan dengan cara : jahitan terputus sederhana. Jahitan terputus matras. Jahitan kontinu sederhana. Jahitan kontinu selimut.

Jahitan kontinu matras.

g. Bersihkan dan tutup daerah insisi dengan larutan antimikroba. h. Ajari klien mengenai tindak lanjut perawatan luka.

3. Analisa Tindakan Keperawatan Tindakan ini dilakukan pada luka-luka post op 3 minggu sehingga dapat mepercepat kesembuhan luka. Jahitan kulit sebaiknya terbuat dari berbagai bahan yang dapat di absopsi, seperti sutra, katun, linen, kawat, nilon dan dakron (serat poliester). Tujuannya untuk mencegah timbulnya infeksi dari luka tersebut serta mengobservasi perkembangan luka.

4. Resiko yang Dapat Terjadi Hesting up dilakuakn pada saat luka yang sudah kering karena lebih cepat mengangkat benangnya dibandingkan dengan luka yang masih basah. Bisanya luka yang masih bisah apabila di angkat benangnya masih terdapat keluaran darah yang dapat membuat luka tersebut lama untuk kering. Pada hecting up ini apabila terjadinya penyimpangan yang signifikan biasanya langsung di laporkan ke dokter, untuk mendapatkan penangan yang secepatnya. Jahitan yang terlalu lama dibiarkan / tdk dilepas akan menimbulkan suture mark dan resiko infeksi lokal akibat kuman / bakteri yang bersembunyi di sekitar benang (terutama jenis benang multifilamen).

5. Hasil yang Didapat dan Maknanya Hasil yang didapat dari tindakan ini adalah bahwa pasien dapat S O : pasein merasa lebih nyaman : luka bersih, jahitan terangkat dengan tidak tersisa satupun benang pada luka A P : Masalah teratasi : berikan pendkes tentang perawatan luka

6. Tindakan Keperawatan Lain yang Dapat Dilakukan untuk Mengatasi Diagnosa Keperawatan di atas (Mandiri dan Kolaboratif) Yang dilakukan utuk mengatasi diagnosa di atas yakni dengan menganjurkan klien untuk membersihkan luka bekas jahitanya 2 kali sehari. Dan abila terjadi infeksi pada luka maka tindakan selanjtnya yakni kolaborai dengan dokteruntuk penanganan lebih lanjut.

7. Kepustakaan Kusnanto. 2004. Pengantar Profesi dan Praktik Keperawatan Profesional. Jakarta: EGC Nurachma, Elly dan Sudarsono. 2000.Buku Saku Prosedur Keperawatan Medikal Bedah. Jakarta: EGC Morison, Moya J. 2003. Manajemen Luka. Jakarta: EGC

8. Evaluasi Diri Ketika melakukan tindakan ini sebaiknya dilakukan dengan hati-hati karena apabila kurang teliti dalam melihat jenis luka jahitan sudah kering dan masih basah maka akan menambah infeksi pada luka tersebut terutama pada luka yang masih basah. Selain itu pada saat melakukan tindakan sebaiknya bagian yang akan di angkat jahitannya di dekatkan dengan perawat sehingga mudah dilakukan pengangkatan jahitan.