Anda di halaman 1dari 7

BAB I Pendahuluan 1.

Latar belakang Sejarah Minyak nigeria Nigeria adalah produsen minyak terbesar keenam di dunia, produsen terbesar keempat di OPEC, dengan produksi hampir dua juta barel per hari, dan menghasilkan sekitar US $ 12 miliar per tahun. Minyak menyumbang sekitar 90% dari devisa negara dan 80% dari pendapatan pemerintah dengan mengekspor 1,6 juta barel perhari semenjak ditemukannya sumber minyak di negara tersebut pada awal 1950.1 Nigeria pun menjadi negara pengekspor minyak terbesar dibandingkan dengan negara - negara di kawasan Afrika lainnya. Dampak dari ekspor tersebut terus membantu dalam peningkatan pendapatan negara yang pada puncaknya terjadi pada tahun 1979 mencapai 10,6 milyar Naira yang sebelumnya pada tahun 1970 hanya 219 juta Naira. hal teersebut juga telah merubah cara pandang pemerintah Nigeria dalam membangun perekonomian dalam negerinya. Program - program strategis pyn dilaksanakan oleh pemerintah semunya terfokus pada pengembangan industri minyak di Nigeria, dan bagaimana mendatangkan para pemodal asing di nigeria. Ditemukannya sumber minyak dalam jumlah yang sangat besar pertama kali ditemukan pada tahun 1956 di Oilibiri yang termasuk dalam negara bagian Bayelsa. Selanjutnya secara berturut - turut ditemukan di daerah Afam, Bomu, Ebubu dan Ughello antara pertengahan tahun 1960 dan 1970an, oleh sejumlah perusahaan multinasional yang tertarik tehadap potensi nigeria. sedangkan aktivitas industri minyak yang pertama kali dilakukan di Nigeria oleh Shell Pertoleum Development Company (SPDC) sebagai perusahaan multinasioanal milik Belanda. setelah dipelopori oleh SPDC, beberapa perusahaan multinasional lain yang bergerak dalam bidang migas pun mulai berdatangan untuk membuat perusahaan pengeboran minyak di Nigeria, perusahaan tersebut adalah Chevron, Exxon Mobile, AGIP. Hal tersebut tak mengherankan kenapa banyak Perusahan multinasional sangat tertarik untuk dapat mengeksploitasi minyak Nigeria karena besarnya potensi minyaknya. Nigeria menyumbangkan 2,5% dari produksi

Bill Turnbull W.F, Nigeria - the Ogoni dilemmadiakses dari http://dspace.dial.pipex.com/suttonlink/327ni.html

minyak dunia dengan output rata - rata diatas 2 juta barrel perhari. lebih jauh lagi, sekitar tahun 1970an pemerintah Nigeria menyatakan bahwa cadangan minyak yang dimiliki negaranya sekitar 27 milyar barrel minyak dari ladang minyak di darat (onshore) maupun lepas pantai (offshore) sejumlah besar cadangan minyak tersebut belum termasuk dengan jumlah tambahan cadangan minyak nigeria dari ladang minyak baru diatas tahun 197oan sampai sekarang.2 Shell di Nigeria Royal Dutch shell sebenarnya telah berada di nigeria sejak tahun 1937, ,ereka mulai melakukan eksploitasi pertama kali dengan menggunakan nama Shell D'Archy, sebuah perusahaan joint venture antara konglomerat D'archy Exploration company perusahan miliki warga Belanda yang bekerjasama dengan pemerintah kolonial Inggris. namun kegiatan penambangan minyak di NIgeria ini terhenti akibat dari terjadinya perang dunia kedua, dan selanjutnya dilanjutkan kembali lima tahun kemudian di bawah nama baru shell yaitu shell-BP Development company. perusahaan ini pertama kali manemukan ladang minyak di Oloibiri, yang merupakan darah perkampungan etnis Ijaw di bagian timur delta niger pada tahun 1956 yang merupakan ladang dengan sumber minyak yang besar.3 Dari eksploitasi sederhana tersebut kemudian melahirkan perusahaan shell petroleum company (SPDC) di Nigeria yang saat ini menjadi perusahaan privat paling penting si negara tersebut. SPDC mengoprasikan produksi minyak terbesar dengan resiko yang cukup besar pula di Nigeria, SPDC memproduksi antara 800.000 hingga 1 juta barrel tiap harinya, setengah dari total produksi minyak di Nigeria. untuk melakukan ini SPDC memiliki area konsensi lebih dari 31.000 km2 di delta Nigeria, dengan memilki 96 ladang minyak onshore dan pipa saluran sepanjang 4000 mil, dengan mempekerjakan 5.500 orang, termasuk 300 orang diantaranya ekspatriat dan terus meningkat pada 2010 sebanyak 20.000 0rang. Dengan besarnya produksi minyak yang dilakukan oleh SPDC membuat SPDC merupakan mengontrol kurang lebih 60% minyak domestik NIgeria.4 Keadaan social ekonomi dan politik Nigeria

2 3 4

Olayemi Akinwumi, crises and conflict in nigeria: a Political history since 1960. munster: LIT-Verlag, 2004) hal 117 ibid

Nigeria mengalami sebuah permasalahan klasik yang sering disebut dengan resource curse (kutukan sumberdaya alam). Joseph E Stieglitz, et al dalam Escaping Resource Curse (2007) mengemukakan bahwa negara-negara yang berkelimpahan sumberdaya alam mengalami performa pembangunan ekonomi dan good governance yang lebih buruk daripada negara dengan sumberdaya alam yang lebih kecil. Senada dengan Stieglitz, mantan wakil UNICEF di Nigeria, Dr. Ibrahima Fall pernah menulis bahwa kemiskinan di Nigeria adalah sebuah isu yang terus mengemuka, sangat paradoks dengan kenyataan bahwa Nigeria memiliki sumberdaya alam yang berlimpah. Lebih parah lagi, akses terhadap sumber-sumber ekonomi Nigeria ini sering memicu konflik antar sesama mereka. Termasuk perebutan kekuasaan politik dan kudeta berdarah yang berkali-kali dilakukan oleh militer dan sipil di Nigeria. Bahkan, isu etnis dan agama disebut sebagai upaya dari orang-orang di lingkaran kekuasaan untuk memecah-belah kaum miskin, sehingga mereka dapat memonopoli sumber-sumber kekayaan negara untuk kepentingan sendiri. Inilah bagian terburuk dari sebuah resource curse Pemerintah Nigeria menyatakan kemiskinan terus meningkat di negara itu meskipun terjadi pertumbuhan ekonomi dalam beberapa tahun belakangan. Biro Statistik Nasional menyatakan 61 persen rakyat Nigeria hidup dengan penghasilan kurang dari 1 dolar per hari pada tahun 2010, dibandingkan dengan jumlah sekitar 51 persen pada tahun 2004. Disebutkan bahwa persentase rakyat Nigeria yang hidup dalam kemiskinan absolut juga mencapai 61 persen pada tahun 2010, naik dari angka 55 persen pada enam tahun sebelumnya. Tingkat kemiskinan tertinggi ditemukan di bagian barat laut dan timur laut Nigeria. Laporan itu juga mencatat kenaikan ketidakseimbangan pendapatan di Nigeria. Kepada wartawan di Abuja, kepala biro statistik Yemi Kale mengatakan angka-angka tersebut dan ketidakseimbangan pendapatan mungkin meningkat lebih jauh pada tahun 2011.5 Dengan adantya dominasi perusahan multinasional terhadap penguasaan sumber daya alam yang cukup bernilai memang sudah menjadi fenomena yang cukup lumrah di bernagai negara dunia ketiga. hal seperti ini akan terus berimbas pada kebijakan - kebijakan pemerintah yang seringkali lebih condong kepada perusahaan dan mengabaikan rakyat, pahadal rakyat lah yang menanggung dampak terburuk terutama dari segi sosial-ekonomi dan lingkungan dari kegiatan perusahaan MNC. Dengan mempengaruhi kebijakan negara, perusahaan - perusahaan
5

http://www.yiela.com/view/2266071/angka-kemiskinan-meningkat-di-nigeria-

multinasional tersebut seakan memperoleh memperoleh legalitas untuk menguasai (memonopoli) sumber daya alam setempat, menggusur dan meniadakan hak - hak penduduk asli (indigenous people) dan melakukan degradasi lingkungan atau perusakan lingkungan. Degradasi lingkunagn merupakan salah satu dampak dari berbagai macam aktifitas industriliasasi dan eksloitasi sumber daya alam yang dilakukan oleh perusahaan MNC. sedangakan masyarakat dari negara - negara ketika merupakan pihak yang sangat dirugikan karena keserakahan dari negara - negara besar yang ingin mengeksploitasi kekayaan dari negara dunia ketiga seperti Nigeria. isu lingkungan seringkali bersifat politis disatu sisi negara dan sekutunya dan sisi lain hal ini menyangkut kekuasaan yang dimiliki para pengambil kebijakan di nigeria. Pengambilan kebijakan biasanya juga biasanya di dasari oleh kepentingan pribadi sehingga lagi lagi kaum miskin yang lemah lah yang menjadi korban. kaum miskin hanya di berikan kompensasi berupa Corporate Social Responsibility (CSR) atau tanggung jawab sosial namun apakah hal tersebut dapat menyelesaikan masalah di Nigeria, itu lah yang menjadi kajian mendalam. 2. Perumusan masalah 1. Apakah dampak yang akibat dari keberadaan shell petroleum company (SPDC) di Nigeria? 2. Apakah peran Corporate Social Responsibility (CSR) atau tanggung jawab social sudah dapat membantu menangani permasalahan social ekonomi di Nigeria?

3. Literature Review Fahnia Chairawaty dalam skripsinya yang berjudul Konflik Ekologi Politik Antara

Negerara Versus Masyarakat Di Nigeria ( 2009)6. Menjelaskan mengenai konflik yang terjadi antara Negara dan masyarakat akibat dari masyarakat Ogoni yaitu sebuah desa dibagiaan Negara Rivers state. Dalam skripsinya Fahnia menjelaskan mengenai penyebab konflik yang terjadi di Nigeria yang disebabkan oleh adanya kegiatan industry dari perusahaan minyak Shell di kawasan tersebut. Fahnia menjelaskan bahwa shell telah memberikan banyak kerugian bagi warga Ogoni dengan pencemarah lingkungan yang memperburuk keadaan di Ogoni yang penuh dengan
6

Fahnia Chairawaty, Konflik

Ekologi Politik Antara Negerara Versus Masyarakat Di Nigeria,

skripsi

penderitaan. Yang kemudian muncullah perlawanan dari masyarakat Ogoni untuk menentang perusahaan dan pemerintah yang dianggap telah menjadi sumber dari kekacauan atau konflik yang ada di Ogoni.

4. Kerangka pemikiran (teori) Asumsi dasar dari Marxisme yang pertama adalah bahwa individu dikelompokkan berdasar kelas-kelas, lebih spesifiknya adalah pengelompokan kelas antara borjuis dan proletar. Dimana terjadi ketidakseimbangan ekonomi antara keduanya. Yang kaya akan semakin kaya dan yang miskin semakin miskin, hal ini disebabkan karena pihak borjuis sebagai pemilik modal akan cenderung untuk mengeksploitasi kaum proletar. Lalu asumsi dasar yang kedua adalah bahwa sudah merupakan sifat dasar manusia untuk memenuhi kebutuhan dasarnya dan menentang eksploitasi dan dominasi. Untuk memenuhi kebutuhan-kebutuhannya manusia tentu membutuhkan yang namanya materi. Manusia oleh marxisme dianggap sebagai makhluk materialis, sehingga manusia akan berusaha untuk mengejar materi semata. Materi dianggap sebagai sebuah pencapaian tertinggi. Maka tidak heran jika para pemilik modal akan haus akan pencapaian materi, walaupun materi yang dimilikinya sudah sangat mencukupi apabila dibandingkan dengan kaum proletar. Pemikiran-pemikiran Marxisme dari Karl Marx pada umumnya tidak begitu banyak bicara tentang negara dalam konteks hubungan internasional. Karl Marx lebih menekankan pada sistem kelas yang terjadi di suatu negara. Hubungan antarnegara dalam sistem internasional oleh Karl Marx disamakan dengan hubungan antar kelas, dimana kaum marxisme ini berpendapat bahwa negara-negara di belahan bumi utara mendapat kesejahteraan yang lebih besar daripada negara-negara selatan. Environmentalism

Salah satu ciri utama pembangunan adalah tindakan memagari (enclosure), atau mengubah ruang publik menjadi hak kepemilikan pribadi. Konsekuensi dari pemagaran tersebut yakni memusatkan sumber daya dan kekuasaan hanya pada segelintir orang. Pembangunan kemudian berkembang menjadi suatu pergeseran ideologis yang memandang lingkungan semata-mata sebagai sarana bagi pemenuhan kebutuhan hidup manusia.

Menurut Jill Steans dan Lloyd Pettiford, dalam bukunya International Relation: Perspective and Themes, Environmentalisme memanifestasikan dirinya menjadi teori dalam Hubungan Internasional. Teori ini menekankan bahwa TNC dan MNC sangat dilibatkan dan menampilkan diri sebagai pihak yang mempunyai keahlian untuk menyelesaikan krisis lingkungan yang biasanya mereka timbulkan. Masih menurut Steans dan Pettiford, dikatakan bahwa berbagai jenis degradasi lingkungan hidup akibat eksplorasi manusia secara besar-besaran terhadap alam membawa suatu penurunan terhadap kualitas kehidupan manusia, tetapi beban kesengsaraan tidak dirasakan sama rata oleh semua orang di seluruh dunia, melainkan dirasakan secara tidak seimbang oleh beberapa kelompok-kelompok sosial di dalam suatu negara.7

Konsep Corporate Social Responsibility Secara sederhana, motif dari TNC dan MNC dapat dibagi menjadi dua faktor, Pertama adalah faktor permintaan (demand factor) dan kedua adalah faktor biaya (cost factor).8 Faktor permintaan biasanya didasarkan pada adanya tekanan kepada TNC dan MNC untuk mendapatkan keuntungan (profit). Bob S. Hadiwinata menyebutkan bahwa tujuan awal dibentuknya unit-unit bisnis adalah pertama, menguasai pangsa pasar atas produk-produk yang dihasilkan dan kedua, mengembangkan aktivitas bisnis guna memaksimalisasi keuntungan. Untuk memperbaiki dan menciptakan citra yang baik bagi TNC dan MNC dimata masyarakat, agar tidak dikatakan sebagai monster yang menakutkan, TNC dan MNC menerapkan salah satu strateginya adalah dengan mengimplementasikan konsep Corporate Social Responsibility. Menurut beberapa pakar bisnis menyebutkan ada beberapa definisi mengenai konsep CSR. Menurut Keith Davis dan Robert Blomstrom menyebutkan bahwa CSR adalah: Social Rensponsibility is the obligation of decision makers to take actions which protect and improve welfare of Society as a whole along with their own interests. Definisi yang
7

Steans, Jill dan Lloyd Pettiford. 2009. Hubungan Internasional: Perspektif dan Tema. Yogayakarta :Pustaka Pelajar. Hlm 416
8

Hermawan,Yulius, P., 2007. Transformasi dalam Studi Hubungan Internasional : aktor, isu dan

metodologi. Yogyakarta : Graha Ilmu. Hal 214.

diutarakan oleh Davis dan Blomstrom menyiratkan dua hal penting dalam konsep CSR, yaitu: to protect (melindungi) merupakan kewajiban MNC untuk melindungi masyarakat sekitar dari ekses- ekses negatif yang ditimbulkan oleh keberadaan dan aktvitas TNC dan MNC, kemudian to improve (meningkatkan) adalah bagaimana TNC dan MNC mampu memberikan kontribusi positif dengan cara memberdayakan masyarakat sekitar untuk mendapatkan kehidupan yang lebih baik. Selain empat prinsip dasar yang dikemukakan oleh Carroll, James E. Post et. al, juga memunculkan prinsip dasar dari CSR. Pertama yaitu Charity Principle, prinsip ini merupakan gagasan dimana anggota masyarakat yang lebih kaya sudah seharusnya membantu yang lebih miskin. Bagi TNC dan MNC pelaksanaan tanggung jawab sosialnya dilakukan dengan berpartisipasi dalam kegiatan masyarakat dengan memberikan kontribusi amal. Kedua, Stewardship Principle, bahwa banyak perusahaan saat ini, melihat diri mereka sebagai administrator, agen, pengasuh-steward, yang bekerja untuk kepentingan publik atau masyarakat, meskipun perusahaan mereka merupakan perusahaan swasta yang melaksanakan prinsip ini, akan tetapi prinsip ini dipandang saling menguntungkan kegiatan perusahaan. Dengan adanya prinsip tersebut, maka perusahaan akan mencapai tujuan dari CSR yakni untuk meningkatkan keuntungan atau mendapat profit yang timbul dari public image atau citra perusahaan yang muncul dari masyarakat.9

Ibid., hlm. 29.