Anda di halaman 1dari 9

Sejarah Perbankan Syariah

A. AWAL KELAHIRAN SISTEM PERBANKAN SYARIAH


Tujuan utama dari pendirian lembaga keuangan berlandaskan etika islam adalah tiada lain sebagai upaya kaum muslimin untuk mendasari segenap aspek kehidupan ekonominya berlandaskan Al Quran dan As Sunnah. 1. Mit Ghamr Bank 2. Islamic Development Bank 3. Islamic Research and Training Institute

B. PEMBENTUKAN BANK SYARIAH


Kategori bank islam komersial (Islamic Comercial Bank) diantaranya: Faisal Islamic Bank (di Mesir dan Sudan); Kuwait Finance House ; Dubai Islamic Bank; Jordan Islamic Bank for Finance and Investment; Bahrain Islamic Bank; Islamic International Bank for Investment and Development (Mesir). Kategori lembaga investasi dalam bentuk International Holding Companies diantaranya: Daar am Maal Al Islami (Jenewa); Islamic Investment Company of the Gulf; Islamic Investment Company (Bahama); Islamic Investment Company (Sudan); Bahrain Islamic Investment Bank (Manamma); Islamic Investment House (Amman).

C. PERKEMBANGAN BANK SYARIAH DI BERBAGAI NEGARA


1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. 8. 9.

Pakistan Mesir Siprus Kuwait Bahrain Uni Emirat Arab Malaysia Iran Turki

D. PERKEMBANGAN BANK SYARIAH DI INDONESIA


1. Latar Belakang Bank Syariah Berkembangnya bank-bank syariah di Negara-negara Islam berpengaruh ke Indonesia. Pada awal periode 1980-an, diskusi mengenai bank syariah sebagai pilar ekonomi islam mulai dilakukan. 2. PT Bank Muamalat Indonesia Bank Muamalat Indonesia lahir sebagai hasil kerja tim perbankan MUI tersebut. Akta pendirian PT BMI ditandatangani pada tanggal 1 November 1991. 3. Era Reformasi dan Perbankan Syariah Perkembangan perbankan syariah pada era reformasi ditandai dengan disetujuinya UU No. 10 Tahun 1998. Dalam undang-undang tersebut diatur dengan rinci landasan hukum serta jenis-jenis usaha yang dapat dioperasikan dan diimplementasikan oleh Bank Syariah. UU tersebut juga memberikan arahan bagi bank-bank konvensional untuk membuka cabang syariah atau bahkan mengkonversi diri secara total menjadi bank syariah.

C. PERKEMBANGAN BANK SYARIAH DI INDONESIA


Perbedaan Bank Syariah dan Bank Konvensional Dalam beberapa hal, bank konvensional dan bank syariah memiliki persamaan, Akan tetapi terdapat banyak perbedaan mendasar diantara keduanya. Perbedaan itu menyangkut aspek legal, struktur organisasi, usaha yang dibiayai, dan lingkungan kerja. Akad dan aspek legalitas. Dalam bank syariah, akad yang dilakukan memiliki konsekuensi duniawi dan ukhrawi karena akad yang dilakukan berdasarkan hukum islam. Lembaga Penyelesai Sengketa Berbeda dengan perbankan konvensional, jika pada perbankan syariah terdapat perbedaan atau perselisihan antara bank dan nasabahnya, kedua belah pihak tidak menyelesaikannya di peradilan negeri, tetapi menyelesaikan sesuai tata cara dan materi syariah.

E. PERBEDAAN BANK SYARIAH DAN KONVENSIONAL


Struktur Organisasi Bank syariah dapat memiliki struktur yang sama dengan bank konvensional, misalnya dalam hal komisaris dan direksi, tetapi unsur yang amat membedakan antara bank syariah dan bank konvensional adalah keharusan adanya dewan pengawas syariah yang bertugas mengawasi operasional bank dan produkproduknya agar sesuai dengan ketentuan syariah. Bisnis dan Usaha yang Dibiayai Dalam bank syariah, bisnis dan usaha yang dilaksanakan tidak terlepas dari saringan syariah. Karena itu, bank syariah tidak akan mungkin membiayai usaha yang terkandung didalamnya keharaman. Lingkungan Kerja dan Corporate Culture Sebuah bank syariah selayaknya memiliki lingkungan kerja yang sejalan dengan syariah. Dalam hal etika misalnya, sifat shidiq dan amanah, tabligh dan fathanah harus melandasi setiap karyawan.

F. PERBANDINGAN ANTARA BANK SYARIAH DAN KONVENSIONAL


Bank Islam Bank Konvensional

1. Melakukan investasi-investasi
yang halal saja; 2. Berdasarkan prinsip bagi hasil, jual beli atau sewa; 3. Profit dan falah oriented 4. Hubungan dengan nasabah dalam bentuk hubungan kemiteraan; 5. Penghimpunan dan penyaluran dana harus sesuai dengan fatwa Dewa Pengawas Syariah

1. Investasi yang halal dan haram; 2. Memakai perangkat bunga; 3. Profit Oriented; 4. Hubungan dengan nasabah

dalam bentuk hubungan debiturkreditur; 5. Tidak terdapat dewan sejenis

Terima Kasih