Anda di halaman 1dari 20

KANDIDOSIS VULVOVAGINITIS PENDAHULUAN Sepanjang hidupnya, seorang wanita diperkirakan pernah mengalami keputihan (fluor albus) minimal satu

kali. Fluor albus banyak dialami oleh wanita usia reproduktif. E. Tjitra dkk dari Pusat Penelitian Penyakit Menular, Departemen Kesehatan RI menemukan, etiologi terbanyak dari 168 pasien fluor albus yang datang berobat ke Puskesmas Cempaka Putih Barat I, Jakarta tahun 1988/1989 adalah kandidiasis sebesar 52,8%. Sisanya adalah trikomoniasis 3,7%, infeksi campuran trikomoniasis dan kandidiasis 4,3%, gonorrhoe 1,2%, dan bakterial vaginosis 38%. Penelitian itu juga melaporkan bahwa dari 18 ibu hamil dan 25 ibu tidak hamil dan tidak ber-KB yang mengalami fluor albus, sebagian besarnya terinfeksi kandidiasis yaitu 66,7% dan 48%. Sementara itu, pada 77 akseptor KB AKDR dan 30 akseptor KB hormonal yang mengalami fluor albus, sebagian besar juga terinfeksi kandidiasis yakni 54,6% dan 53,3%. Melihat hasil survei tersebut, tak mengherankan kasus kandidiasis sering ditemukan di poliklinik kesehatan ibu dan anak atau poliklinik kebidanan. Kandidiasis vulvovaginal (KVV) tidak digolongkan dalam infeksi menular seksual karena jamur Candida merupakan organisme komensal pada traktus genitalia dan intestinal wanita. Selain itu, pada kenyataannya KVV juga ditemukan pada wanita yang hidup selibat (biarawati). Akan tetapi, kejadian KVV dapat dikaitkan dengan aktivitas seksual. Frekuensi KVV meningkat sejak wanita yang bersangkutan mulai melakukan aktivitas seksual. Frekuensi wanita mengalami kandidosis vulvovaginitis adalah 20-50% dari seluruh wanita, sumber lain mengatakan frekuensi kandidosis vulvovaginitis adalah sebesar 45% dari seluruh kasus vaginitis. Kultur Candida ditemui pada wanita yang asimtomatik sebanyak 20-50%, dan sekitar 75% dialami oleh wanita di Amerika Serikat, tidak terdapat adanya perbedaan ras dalam predileksi kandidosis vulvovaginitis, dan umumnya menyerang usia remaja dan dewasa. DEFINISI Kandidosis vulvovaginitis atau disebut juga kandidiasis vulvovaginitis adalah infeksi vagina dan atau vulva yang bersifat akut atau subakut disebabkan oleh spesies Candida, biasanya oleh spesies Candida albicans (81%) atau kadang kadang T. Glabrata (16%), spesies lain (C.tropicalis, C.stellatoidea, C.pseudotropicalis, C.krusei) sangat jarang, hanya berkisar 3%. ETIOLOGI Penyebab tersering ialah Candida albicans yang dapat diisolasi dari kulit, mulut, selaput mukosa vagina dan feses orang normal. Candida tumbuh sebagai mikroorganisme komensal pada 40-80% manusia sehat berupa blastospora bentuk oval tanpa kapsul, dan bereproduksi melalui pembentukan tunas, hifa yang pipih, memanjang tidak bercabang dan dapat tunbuh dalam biakan atau in vivo sebagai tanda penyakit yang aktif atau budding. Candida albicans secara alami sebenarnya terdapat pada membrane mukosa dalam tubuh kita, paling banyak terdapat dalam saluran pencernaan. Selain itu, Candida juga ditemukan dalam vagina yang sehat, mulut, dan rektum. Jika pertumbuhannya terlalu pesat, Candida dapat menginfeksi vagina, sehingga terjadi peradangan, yang disebut candidiasis. Candidiasis bisa menyerang wanita di segala usia, terutama usia pubertas. Keparahannya berbeda antara satu wanita dengan wanita lain dan dari waktu ke waktu meski pada wanita yang sama. Gejalanya, bibir vagina dan kulit di sekitarnya membengkak, menjadi kemerahan, nyeri, dan gatal. Vagina terasa panas setiap kali buang air kecil. Dapat juga mengenai mulut, kulit, kuku, bronki, atau paru, kadang-kadang dapat menyebabkan septikemia, endokarditis, atau meningitis. Nama lain dari Candidiasis adalah kandidosis,

dermatocandidiasis, bronchomycosis, mycotic vulvovaginitis, muguet, dan moniliasis. Istilah candidiasis banyak digunakan di Amerika, sedangkan di Kanada, dan negara-negara di Eropa seperti Itali, Perancis, dan Inggris menggunakan istilah kandidosis, konsisten dengan akhiranosis seperti pada histoplasmosis dan lainlain. Moses membagi etiologi kandidosis vulvovaginitis menjadi : 1. Kandidosis vulvovaginitis akut, disebabkan oleh Candida albicans (90%). 2. Kandidosis vulvovaginitis kambuhan, disebabkan oleh Candida glabrata (15%), C.parapsilois, Saccaromyces cereviceae. PATOFISIOLOGI Proses infeksi dimulai dengan perlekatan Candida sp. pada sel epitel vagina. Kemampuan melekat ini lebih baik pada C.albicans daripada spesies Candida lainnya. Kemudian, Candida sp. mensekresikan enzim proteolitik yang mengakibatkan kerusakan ikatan-ikatan protein sel pejamu sehingga memudahkan proses invasi. Selain itu, Candida sp. juga mengeluarkan mikotoksin, diantaranya gliotoksin yang mampu menghambat aktivitas fagositosis dan menekan sistem imun lokal. Terbentuknya kolonisasi Candida sp. memudahkan proses invasi tersebut berlangsung sehingga menimbulkan gejala pada pejamu. Interaksi Imunologi Koloni Candida akan meningkatkan beban antigenik yang selanjutnya menimbulkan peralihan dari tipe Th1 menjadi Th2. Transformasi yang dominan ke Th2 justru menghambat proteksi dan menimbulkan reaksi hipersensitivitas segera (tipe 1). Lebih lanjut, reaksi proteksi lokal imunitas selular pada mukosa vagina dapat berkurang atau hilang bersamaan dengan meningkatnya reaksi alergi. Interleukin(IL)-1 memicu Th1 untuk memproduksi IL-2. IL-2 akan merangsang pembentukan Th1 lebih banyak. Th1 memproduksi IFN-gamma yang berfungsi menghambat pembentukan germ tube. Reaksi hipersensitivitas tipe 1 berhubungan dengan reaktivitas Th2, yang menghasilkan IL-4 dan meningkatkan produski IgE melalui sel B serta lepasnya PGE2. PGE2 selanjutnya menghambat proliferasi dan produksi dari IL-2. Maka dari itu, adanya PGE2 akan menghambat kemampuan proteksi mukosa vagina terhadap Candida. Selain itu, PGE2 juga menghambat aktivitas makrofag. Dengan kata lain, PGE2 merupakan down regulatory biological response modifier. Sekitar 71% sekret vagina penderita kandidiasis vulvovagina rekurens (KVVR) dapat ditemukan IgE dan PGE2 sehingga reaksi hipersensitivitas tipe I memberikan respons yang akan merangsang terbentuknya IgE dan meningkatkan virulensi jamur melalui pembentukan germ tube atau melalui supresi pertahanan lokal pejamu. Di samping itu, reaksi hipersensitivitas tipe I menimbulkan tanda dan gejala kandidosis vaginal seperti kemerahan, gatal, terbakar dan bengkak. Dalam dinding sel Candida terdapat bahan polidispersi yang mempunyai berat molekul tinggi yang menginduksi proliferasi limfosit, produksi IL-2 dan IFN-gama, serta membangkitkan perlawanan sitotoksik sel NK. MP65 yang terdapat di dalam dinding sel C. albicans merupakan antigen yang imunodominan untuk respons imunitas selular pada manusia normal dan mampu menstimulir produksi IL-1b, IFN-g, serta IL-6. Kandidiasis Vulvovagina Rekurens Sekitar 3040% dari pasien KVV akan mengalami infeksi ulang untuk kedua kalinya dan kurang lebih 5% KVV akan menjadi kandidosis vulvovagina rekurens (KVVR).Definisi KVVR adalah 4 atau lebih episode infeksi kandidiasis selama 12 bulan/1 tahun. KVVR merupakan bentuk dari KVV komplikasi. KVVR, menurut Sobel & Fidel, dibagi menjadi 3 kelompok yaitu : 1. Kelompok dengan jumlah mikroorganisme yang banyak (KOH+, kultur kuantitatif tinggi) yang

didominasi oleh bentuk hifa, disertai tanda dan gejala yang khas, baik pada daerah vagina maupun vulva. 2. Kelompok yang jumlah organismenya cukup banyak (KOH +), tetapi gejala dan tanda terbatas pada daerah vagina saja. 3. Kelompok dengan jumlah mikroorganisme sedikit, tetapi gejala dan tanda cukup jelas. Perbedaan ketiga kelompok diatas juga terletak pada respon imunitas selularnya. Pada kelompok pertama, respon selular lokal berkurang (reaktivitas Th1 berkurang), sedangkan reaksi hipersensitivitas tipe 1 meningkat (reaktivitas Th2 meningkat). Sementara itu, pada kelompok kedua, reaktivitas Th1 menurun, tetapi reaktivitas Th2 tidak ada atau hanya sedikit. Kelompok terakhir, respon selular berupa Th0 (T helper naf) yang merupakan bentuk awal respon sebelum berubah menjadi Th1 atau Th2. FAKTOR PREDISPOSISI Beberapa faktor predisposisi terjadinya KVV diantaranya adalah kehamilan (trimester ketiga), kontrasepsi, diabetes melitus, antibiotik (terutama spektrum luas seperti tetrasiklin, ampisilin, dan sefalosporin oral), menggunakan pakaian ketat dan terbuat dari nilon. Selama kehamilan, vagina menunjukkan peningkatan kerentanan terhadap infeksi Candida sehingga prevalensi kolonisasi vagina dan vaginitis simtomatik meningkat, khusunya trimester ketiga. Diduga estrogen meningkatkan perlekatan Candida pada sel epitel vagina dan secara langsung meningkatkan virulensi ragi. Timbulnya kandidiasis sering terjadi selama pemakaian antibiotik oral sistemik khususnya spektrum lebar seperti tetrasiklin, ampisilin, dan sefalosporin karena flora bakteri vagina normal yang bersifat protektif seperti Lactobacillus juga tereliminasi. Pakaian ketat ditambah dengan celana dalam nilon meningkatkan kelembaban dan suhu di daerah perineal sehingga mempermudah tumbuh kembang jamur. C.albicans dapat tumbuh pada variasi pH yang luas. Pertumbuhannya akan lebih baik pada pH 4,5-6,5, suhu 28-37 C. Kandidosis vulvovaginitis banyak menyerang wanita dalam masa subur, kebanyakan dengan faktor resiko yang menyebabkan perubahan dari pembawa asimtomatik menjadi simtomatik. Faktor-faktor tersebut adalah : Faktor endogen, yang meliputi : 1. Perubahan fisiologik : Kehamilan Kegemukan Debilitas Premenstrual Keadaan imunodepresi Iatrogenik Diabetes Mellitus Penggunaan obat antibiotik dan kortikosteroid jangka lama. Alat-alat kontrasepsi (IUD, kondom, diafragma, spons) dan kotrasepsi oral.

2. Medikasi :

Faktor eksogen, yang meliputi :

1. Iklim, panas, kelembaban menyebabkan perspirasi meningkat. 2. Keadaan higenitas. 3. Pemakaian pakaian yang berbahan panas, tidak menyerap keringat, terlalu ketat seperti bahan nylon. GEJALA KLINIS Gejala khas candidiasis yang paling dikenal oleh umum adalah keluarnya cairan vagina berwarna putih menyerupai keju cottage. Mungkin karena inilah candidiasis popular dengan sebutan keputihan. Cairan putih keju tersebut berbau tidak sedap, tetapi tidak busuk. Ketika Candida tumbuh semakin pesat, selselnya mengalami metamorfosis. Sebagai khamir alias ragi yang semula selnya berbentuk bulat, berubah menjadi kapang yang berfilamen, memiliki sulur-sulur akar. Akar ini akan berkembang semakin panjang dan menembus sel mukosa usus. Setelah mencapai sistem sirkulasi, Candida akan melepaskan zat racun. Bersama protein yang tidak tercerna, zat racun ini akan merasuki seluruh jaringan tubuh dan mengakibatkan kemerosotan sistem kekebalan tubuh. Akibatnya, muncul reaksi alergi, kelelahan, dan masalah kesehatan lainnya. Istilah lain gangguan kesehatan yang diakibatkan oleh jamur Candida ini adalah sindroma Candida kronis (Candida-Related Complex, CRC). Gejala : 1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. Tanda : 1. 2. 3. 4. 5. 6. vulvitis dengan eritem dan edema vulva fisura perineal pseudomembran lesi satelit papulopustular disekitar pseudomembran karakteristik duh vagina berbentuk keju berwarna putih terdapat vaginitis dan ekskoriasivitis baik pada pemeriksaan langsung maupun dengan kolposkopik. Asimtomatik pada 20-50% wanita Rasa panas Sekret berwarna keputihan, tidak berbau tapi kadang berbau masam atau asam Iritasi pada vulva Rasa gatal (itching) Disuria Dispareuni

DIAGNOSIS Tidak ada gejala dan tanda klinis yang spesifik untuk menegakkan diagnosis KVV. Gejala yang sering terjadi adalah gatal (pruritus) dan duh vagina. Karakteristik duh vagina seperti keju lunak berwarna putih susu, mungkin bergumpal, dan tidak berbau. Rasa nyeri pada vagina, iritasi dan sensasi terbakar pada vulva, dispareuni, serta disuria juga dapat dikeluhkan. Pada inspeksi, dapat dilihat labia dan vulva eritem dan membengkak disertai lesi pustulopapular diskret di bagian tepi. Melalui spekulum, serviks terlihat normal sedangkan epitel vagina tampak eritem disertai duh keputihan dan terdapat lesi satelit. Infeksi dapat menjalar ke daerah inguinal dan perianal. Balanopostitis terjadi pada pria yang berhubungan seksual dengan wanita yang terinfeksi. Gejalanya berupa kemerahan, gatal, dan sensasi terbakar pada penis. Gejala pada pria tersebut biasanya bersifat sembuh sendiri (self-limiting). PEMERIKSAAN PENUNJANG

1. Pemeriksaan mikroskopik Pada pemeriksaan mikroskopik sekret vagina dengan sediaan basah KOH 10% dapat terlihat adanya bentuk ragi (yeast form): blastospora dan pseudohifa (seperti sosis panjang tersambung). Dengan pewarnaan Gram dapat ditemukan pseudohifa yang bersifat Gram positif dan blastospora. 2. Kultur fungal positif Jarang dilakukan, tetapi berguna dalam mengidentifikasi penyebab kandidosis vulvovaginitis kambuhan atau rekuren. 3. Candida on Pap Smear Spesifik tetapi tidak sensitif. 4. Konfirmasi PH vagina Normal PH vagina adalah 4-4,5 5. Tes amin (sniff atau amin odor test) Hasil positif pada kandidosis vulvovaginitis, negative pada vaginitis bacterial. DIAGNOSIS BANDING a. Penyebab vaginitis lainnya seperti: - Vaginosis bakterial - Trikomoniasis b. Infeksi servisitis c. Vaginitis alergi atau vulvitis d. Vulvodinia e. Liken planus PENATALAKSANAAN Pengobatan kandidosis vulvovaginitis dengan obat anti kandida topikal krim maupun tablet vaginal. Preparat azol lebih efektif daripada nistatin. Pengobatan menghasilkan penyembuhan 80-90%. a. Pengobatan topikal : - mikonazol 200 mg intravaginal/hari selama 3 hari - klotrimazol 200 mg intravaginal/hari selama 3 hari - klotrimazol 500 mg intravaginal dosis tunggal - butoconazol 2% krim vulva diberikan selama 1-7 hari - nistatin 100.000 IU intravaginal/hari selama 7-14 hari - klotrimazol 1 % atau mikonazol 2 % atau tiokonazol 6,5% krim vulva 7-14 hari b. Pengobatan sistemik : Beberapa uji coba menunjukkan hasil pengobatan oral dengan flukonazol, ketokonazol, atau itrakonazol sama efektifnya dengan pengobatan topikal. Penggunaan secara oral memang lebih mudah, tetapi potensi toksisitasnya khususnya ketokonazol harus dipertimbangkan. - Pemberian nistatin secara oral tidak terbukti efektif untuk pengobatan kandidosis vulvovaginitis.

- Pemberian ketokonazol dosis 2 x 200 mg selama 5 hari, atau - Flukonazol 150 mg sebagai dosis tunggal - Untuk pengobatan kandidosis vulvovaginitis kambuhan atau rekuren: - Pengobatan setiap bulan dengan satu klotrimazol 500 mg intravaginal, - Ketokonazol 200 mg/hari selama 5 hari setiap bulan, atau - Flukonazol 150 mg oral setiap bulan. c. Untuk pengobatan profilaksis : Flukonazol 150 mg dosis tunggal setiap minggu sampai bulan dengan monitor enzim liver 1-2 bulan. Flukonazol ditoleransi baik dan aman, dan merupakan pengobatan standar kandidosis vulvovaginitis yang mengalami kekambuhan, tidak seperti ketokonazol yang hepatotoksik. Penggunaan selama 6 bulan tidak mengakibatkan resisten terhadap flukonazol, penggunaan flukonazol pada orang yang imunodefisiensi dapat mengakibatkan resistensi. d. Menghindari atau menghilangkan faktor predisposisi. perlu pula mengendalikan faktor risiko dan sebaiknya tidak melakukan hubungan seksual sebelum dinyatakan sembuh atau menggunakan kondom. Pasangan juga perlu diobat apabila terbukti menderita kandidiasis. Hindari pula pemakaian bahan iritan lokal, seperti produk berparfum. PENCEGAHAN MENJAGA KESEHATAN VAGINA Obat antiseptik Jangan membersihkan vagina dengan obat-obatan antiseptik setiap hari atau sebentar-sebentar dicuci. Bila hendak membersihkan dengan menggunakan obat-obatan cukup dilakukan dua minggu sekali, yaitu dipertengahan siklus menstruasi. Harus steril Penggunaan tisu basah atau produk panty liner harus betul-betul steril. Bahkan, kemasannya pun harus diperhatikan. Jangan sampai menyimpan sembarangan, misalnya tanpa kemasan ditaruh dalam tas bercampur dengan barang lainnya. Karena bila dalam keadaan terbuka, bisa saja panty liner atau tisu basah tersebut sudah terkontaminasi. Tidak lembab Perhatikan kebersihan setelah buang air besar atau kecil. Setelah bersih, jangan lupa untuk mengelapnya dengan tisu kering atau handuk khusus. Jangan dibiarkan dalam keadaan lembab. Kebersihan air Bila buang air kecil di tempat umum, perhatikan kebersihan airnya. Bila ragu, sebaiknya dilap saja dengan tisu. Gunakan bahan katun Jangan sekali-kali menggunakan celana yang berbahan nilon. Bahan katun lebih baik karena menyerap keringat.

Tak perlu dibedak Jangan memberi bedak atau talk pada daerah vagina. Karena bisa menimbulkan keganasan (kanker) di indung telur Berkaitan dengan sanggama Bila melakukan senggama, usahakan sebelum dan sesudahnya baik isteri maupun suami, menjaga kebersihan alat kelaminnya. PROGNOSIS Kandidosis vulvovaginitis dapat sembuh dengan baik dengan pengobatan yang adekuat, tetapi jika terjadi reinfeksi atau tidak adekuatnya pengobatan, kandidosis vulvovaginitis bisa menjadi kambuh. Angka kesembuhan dengan antimikotik golongan azole mencapai 80-90%. Pada individu yang menderita HIV, dapat dijumpai kasus resistensi terhadap golongan azole (flukonazol). Bagaimanapun, mencegah lebih baik daripada mengobati. Langkah pencegahan tersebut dikenal dengan A-B-(4)C (Abstinence, Be faithfull, Contact treatment, Compliance, Confidential counseling, dan Condom use). Edukasi terhadap penyakit-penyakit yang dapat ditularkan melalui aktivitas seksual perlu digalakkan. Jangan sampai pasien tidak mendapat informasi yang mereka butuhkan. Akhir kata, jangan sampai ada pasien yang mengeluh, if we go to the doctor and ask whether this (vaginal discharge) is serious or not, the doctor always answers no problem.

asuhan keperawatan dengan klien vulvovaginitis


BAB I PENDAHULUAN 1.1. LATAR BELAKANG Kebanyakan wanita pemberitahuan dari waktu ke waktu bahwa mereka memiliki cairan dari vagina. Ini adalah proses normal yang menjaga lapisan mukosa vagina lembab. Pembuangan biasanya jelas, tetapi dapat kering pada pakaian meninggalkan tanda kekuningan samar. Jenis pembuangan tidak memerlukan obat apapun bahkan ketika cukup berlimpah, seperti yang sering terjadi pada kehamilan. Vagina juga dapat disebabkan oleh mikroorganisme: Vulvovaginal kandidiasis. Trikomoniasis (disebabkan oleh parasit kecil, Trichomonas vaginalis). Ini menyebabkan bau amis atau menyinggung dan kuning, hijau atau cairan berbusa. Bacterial vaginosis (karena ketidakseimbangan jumlah bakteri yang hidup dalam vagina). Ini menyebabkan tipis, putih / abu-abu bau pelepasan dan ofensif. Cytolytic vaginosis (karena adanya pertumbuhan berlebih dari lactobacilli). Vagina yang berlebihan juga bisa disebabkan oleh cedera, benda asing dan penyebab lain vaginitis. 1.2. TUJUAN Untuk mempelajari bagaimana proses terjadinya vulvovagina Untuk mengetahui penyebab dan cara pencegahannya Untuk mempelajari proses asuhan keperawatan bagi klien dengan vulvovagina BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1. PENGERTIAN Vulvovaginitis adalah peradangan atau infeksi pada vulva dan vagina. Vulvovaginal kandidiasis adalah nama yang sering diberikan untuk Candida albicans vagina infeksi berhubungan dengan dermatitis dari vulva (gatal ruam). 'Vaginal thrush', dan 'monilia' juga nama-nama untuk Candida albicans infeksi. Candida albicans adalah jamur ragi biasanya bertanggung jawab atas vulva gatal dan pengosongan. Hal ini umumnya pelaku bahwa perempuan selalu merujuk pada setiap Vulvovaginal gatal sebagai "infeksi jamur," tapi perlu diketahui bahwa semua tidak selalu gatal disebabkan oleh ragi. 2.2. ETIOLOGI Vulvovaginitis dapat mempengaruhi perempuan dari segala usia dan sangat umum. Hal ini dapat disebabkan oleh bakteri, ragi, virus, dan parasit lain. Beberapa penyakit menular seksual juga dapat menyebabkan vulvovaginitis, seperti yang bisa ditemukan berbagai bahan kimia gelembung mandi, sabun, dan parfum. Faktor-faktor lingkungan seperti kebersihan yang buruk dan alergen juga dapat menyebabkan kondisi ini. Candida albicans, yang menyebabkan infeksi jamur, adalah salah satu penyebab paling umum vulvovaginitis perempuan dari segala usia. Penggunaan antibiotik dapat menyebabkan infeksi jamur dengan membunuh antijamur normal bakteri yang hidup di vagina. Infeksi jamur kelamin biasanya menyebabkan gatal-gatal dan tebal, putih discharg vagina, dan gejala lain. Untuk informasi lebih lanjut, lihat: ragi infeksi vagina Penyebab lain adalah vulvovaginitis bakteri vaginosis, suatu pertumbuhan berlebih dari jenis bakteri tertentu dalam vagina. Bakteri vaginosis dapat menyebabkan tipis, warna abu-abu vagina dan bau amis.

Sebuah penyakit menular seksual yang disebut Trichomonas vaginitis infeksi adalah penyebab umum lain. Infeksi ini mengarah ke kelamin gatal, bau vagina, dan vagina yang berat, yang mungkin kuning-abu atau warna hijau. Gelembung mandi, sabun, vagina kontrasepsi, feminin semprotan, dan parfum dapat menyebabkan iritasi ruam gatal di daerah genital, sedangkan nonabsorbent ketat atau pakaian kadang-kadang menyebabkan ruam panas. Jengkel jaringan lebih rentan terhadap infeksi daripada jaringan normal, dan banyak organisme penyebab infeksi berkembang dalam lingkungan yang hangat, lembab, dan gelap. Tidak hanya faktor-faktor ini dapat berkontribusi pada penyebab vulvovaginitis, mereka sering memperpanjang periode pemulihan. Kurangnya estrogen pada wanita postmenopause dapat menyebabkan kekeringan vagina dan penipisan kulit vagina dan vulva, yang juga dapat menyebabkan atau memperburuk kelamin gatal dan terbakar. Nonspesifik vulvovaginitis (di mana penyebab dapat diidentifikasi) dapat dilihat dalam semua kelompok usia, tetapi paling sering terjadi pada anak gadis sebelum pubertas. Setelah pubertas dimulai, vagina menjadi lebih asam, yang cenderung untuk membantu mencegah infeksi. Vulvovaginitis nonspesifik dapat terjadi pada anak perempuan dengan genital miskin kebersihan dan ditandai oleh berbau busuk, coklat-hijau pelepasan dan iritasi labia dan vagina. Kondisi ini sering dikaitkan dengan pertumbuhan berlebih dari suatu jenis bakteri yang biasanya ditemukan di dalam tinja. Bakteri ini kadang-kadang menyebar dari anus ke area vagina dengan mengusap dari belakang ke depan setelah menggunakan kamar mandi. Pelecehan seksual harus dipertimbangkan pada anak-anak dengan infeksi yang tidak biasa dan berulang episode dijelaskan vulvovaginitis. Neisseria gonorrhoeae, organisme yang menyebabkan gonore, menghasilkan gonokokal vulvovaginitis di gadis-gadis muda. Gonocorrhea vaginitis terkait dianggap sebagai penyakit menular seksual. Jika tes laboratorium mengkonfirmasi diagnosis ini, gadis-gadis muda harus dievaluasi untuk pelecehan seksual. Sekitar 20% dari non-hamil wanita usia 15-55 pelabuhan Candida albicans dalam vagina. Sebagian besar tidak mempunyai gejala dan itu berbahaya bagi mereka. Pertumbuhan yang berlebihan dari Candida albicans menyebabkan berat dadih putih seperti vagina, rasa panas di vagina dan vulva dan / atau ruam gatal di vulva dan kulit di sekitarnya. Estrogen menyebabkan lapisan vagina untuk dewasa dan mengandung glikogen, sebuah substrat yang Candida albicans berkembang. Kurangnya estrogen pada wanita yang lebih muda dan lebih tua membuat kandidiasis Vulvovaginal jarang terjadi. Pertumbuhan yang berlebihan dari Candida albicans terjadi paling sering dengan: Kehamilan Dosis tinggi pil KB kombinasi dan estrogen berbasis terapi penggantian hormon Sebuah rangkaian antibiotik spektrum luas seperti tetracycline atau amoxiclav Diabetes mellitus Anemia kekurangan zat besi Defisiensi imunologis misalnya, infeksi HIV Di atas kondisi kulit yang lain, sering psorias , Planus lumut atau lumut sclerosus. Penyakit lain 2.3. PATOFISIOLOGI Proses infeksi dimulai dengan perlekatan Candida sp. pada sel epitel vagina. Kemampuan melekat ini lebih baik pada C.albicans daripada spesies Candida lainnya. Kemudian, Candida sp. mensekresikan enzim proteolitik yang mengakibatkan kerusakan ikatan-ikatan protein sel pejamu sehingga memudahkan proses invasi. Selain itu, Candida sp. juga mengeluarkan mikotoksin diantaranya gliotoksin yang mampu menghambat aktivitas fagositosis dan menekan sistem imun lokal. Terbentuknya kolonisasi Candida sp. memudahkan proses invasi tersebut berlangsung sehingga menimbulkan gejala pada pejamu.

2.4. MANIFESTASI KLINIS Vulvovaginal gejala kandidiasis, yaitu, suatu pertumbuhan berlebih dari Candida albicans, meliputi: Gatal, nyeri dan / atau pembakaran ketidaknyamanan pada vagina dan vulva Berat dadih putih seperti vagina Ruam merah terang yang mempengaruhi bagian dalam dan luar dari vulva, kadang-kadang menyebar luas di pangkal paha untuk memasukkan daerah kemaluan, daerah inguinal dan paha. Ini bisa berlangsung hanya beberapa jam atau bertahan selama berhari-hari, berminggu-minggu, atau jarang, bulan. Gejala mungkin kadang-kadang diperparah oleh hubungan seksual. 2.5. KOMPLIKASI Ketidaknyamanan yang tidak hilang Infeksi kulit (dari garukan) Komplikasi karena penyebab kondisi (seperti gonore dan infeksi kandida) 2.6. PENCEHAGAHAN Untuk mencegah infeksi jamur, mengenakan pakaian katun agar udara dapat bersirkulasi. Walaupun sejumlah obat untuk mengobati infeksi jamur baru-baru ini akan tersedia over-the-counter, berhati-hati dalam membuat diagnosis diri terburu-buru. Penggunaan kondom selama hubungan seksual bisa mencegah sebagian besar infeksi menular seksual vagina. Tepat pas dan memadai penyerap pakaian, dikombinasikan dengan baik kebersihan daerah genital juga mencegah banyak kasus infeksi non-vulvovaginitis. Anak-anak harus diajarkan bagaimana cara benar membersihkan daerah genital saat memandikan atau mandi. Tepat menyeka setelah menggunakan toilet juga akan membantu (anak harus selalu menyeka dari depan ke belakang untuk menghindari memperkenalkan bakteri dari anus ke vagina). Tangan harus dicuci bersih sebelum dan setelah menggunakan kamar mandi. 2.7. PERAWATAN Kadang-kadang Candida albicans infeksi tetap ada meski terapi konvensional yang memadai. Pada beberapa wanita hal ini mungkin merupakan tanda kekurangan zat besi , diabetes melitus atau masalah imun, dan tes yang sesuai harus dilakukan. Perempuan yang mengalami berulang Vulvovaginal Candida albicans melakukannya karena infeksi persisten, daripada infeksi ulang. Tujuan dari perawatan dalam situasi ini adalah untuk menghindari pertumbuhan berlebih dari kandida yang mengarah ke gejala, daripada harus mampu mencapai pemberantasan menyelesaikan atau menyembuhkan. Ada beberapa bukti bahwa langkah-langkah berikut dapat membantu: Kapas atau uap air-wicking pakaian dalam dan pakaian longgar - menghindari stoking nilon. Perendaman dalam garam mandi. Hindari sabun - menggunakan pembersih non-sabun atau krim untuk mencuci berair. Terapkan hidrokortison krim untuk mengurangi gatal dan mengobati sekunder dermatitis mempengaruhi vulva. Perlakukan dengan krim antijamur sebelum setiap periode menstruasi dan sebelum terapi antibiotik untuk mencegah kambuh. Sebuah perjalanan panjang sebuah antijamur topikal agen kadang-kadang diperlukan (tapi hal ini mungkin sendiri menyebabkan dermatitis atau hasil dalam non-proliferasi candida albicans). Antijamur oral obat-obatan (itrakonazol atau flukonazol) dapat diambil secara teratur dan sebentarsebentar (misalnya sekali sebulan). Dosis dan frekuensi yang cukup bervariasi, tergantung pada keparahan gejala. Oral agen antijamur mungkin tidak sesuai pada kehamilan. Mereka membutuhkan resep. Asam borat (boraks) 600mg sebagai supositoria pada malam hari dapat membantu untuk mengasamkan vagina dan mengurangi kehadiran khamir (albicans dan non-candida albicans).

Langkah-langkah berikut belum ditunjukkan untuk membantu. Perawatan pasangan seksual - laki-laki mungkin mendapatkan singkat reaksi kulit pada penis, yang membersihkan cepat dengan krim antijamur. Memperlakukan laki-laki tidak mengurangi jumlah episode kandidiasis pada pasangan wanita mereka. Khusus gula rendah, rendah ragi atau yoghurt tinggi diet Menempatkan yoghurt dalam vagina Obat alami (dengan pengecualian asam borat) BAB III ASUHAN KEPERAWATAN 3.1. PENGKAJIAN A. Identitas Klien B. Keluhan Utama Nyeri Luka Perubahan fungsi seksual C. Riwayat Penyakit 1. Sekarang Keluhan Klien menderita infeksi alat kelamin 2. Dahulu Riwayat keluarga mempunyai penyakit serupa, gangguan reproduksi D. Pemeriksaan fisik Pemeriksaan Bagian Luar Inspeksi Rambut pubis, distribusi, bandingkan sesuai usia perkembangan klien Kulit dan area pubis, adakah lesi, eritema, visura, leokoplakia dan eksoria Labia mayora, minora, klitoris, meatus uretra terhadap pemebengkakan ulkus, keluaran dan nodul Pemeriksaan Bagian Dalam Inspeksi Serviks: ukuran, laserasi, erosi, nodula, massa, keluaran dan warnanya Palpasi Raba dinding vagina: Nyeri tekan dan nodula, Serviks: posisi, ukuran, konsistensi, regularitas, mobilitas dan nyeri tekan Uterus: ukuran, bentuk, konsistensi dan mobilitas Ovarium: ukuran, mobilitas, bentuk, konsistensi dan nyeri tekan 3.2. DIAGNOSA 1. Perubahan kenyamanan b/d infeksi pada system reproduksi 2. Disfungsi seksual b/d perubahan kesehatan seksual 3. Kurang pengetahuan b/d kurangnya informasi mengenai penyakit, prognosis dan kebutuhan pengobatan 4. Kurang pengetahuan b/d kurangnya informasi mengenai penyakit, prognosis dan kebutuhan pengobatan 3.3. INTERVENSI 1. Perubahan kenyamanan b/d infeksi pada system reproduksi Kriteria hasil:

Memperhatikan bahwa nyeri ini ada mengidentifikasi aktivitas yang meningkatkan dan menurunkan nyeri dapat mengidentifikasi dan menurunan sumber-sumber nyeri Intervensi: Berikan pengurang rasa nyeri yang optimal Meluruskan kesalahan konsep pada keluarga Bicarakan mengenai ketakutan, marah dan rasa frustasi klien Berikan privasi selama prosedur tindakan 2. Disfungsi seksual b/d perubahan kesehatan seksual Kriteria hasil: Menceritakan masalah mengenai fungsi seksual, mengekspresikan peningkatan kepuasan dengan pola seksual. Melaporkan keinginan untuk melanjutkan aktivitas seksual Intervensi: Kaji riwayat seksual mengenai pola seksual, kepuasan, pengetahuan seksual, masalah seksual Identifikasi masalah penghambat untuk memuaskan seksual Berikan dorongan bertanya tentang seksual atau fungsi seksual 3. Resiko terhadap infeksi b/d kontak dengan mikroorganisme Kriteria hasil: Klien mampu memperlihatkan teknik cuci tangan yang benar, bebas dari proses infeksi nasokomial selama perawatan dan memperlihatkan pengetahuan tentang fakor resiko yang berkaitan dengan infeksi dan melakukan pencegahan yang tepat. Intervensi: Teknik antiseptik untuk membersihan alat genetalia Amati terhadap manefestasi kliniks infeksi Infomasikan kepada klien dan keluarga mengenai penyebab, resiko-resiko pada kekuatan penularan dari infeksi Terafi antimikroba sesuai order dokter 4. Kurang pengetahuan b/d kurangnya informasi mengenai penyakit, prognosis dan kebutuhan pengobatan Kriteria hasil: Menunjukan pemahaman akan proses penyakit dan prognosis, mampu menunjukan prosedur yang diperlukan dan menjelaskan rasional dari tindakan dan pasien ikut serta dalam program pengobatan Intervensi: Tinjau proses penyakit dan harapan masa depan Berikan informasi mengenai terafi obat-obatan, interaksi, efek samping dan pentingnya pada program Tinjau factor-faktor resiko individual dan bentuk penularan/tempat masuk infeksi Tinjau perlunya pribadi dan kebersihan lingkungan. 3.4. IMPLEMENTASI Pelaksanaan adalah inisiatif dari rencana tindakan untuk mencapai tujuan yang spesifik. Tahap pelaksanaan dimulai setelah rencana tindakan disusun dan ditujukan kepada perawat untuk membantu klien mencapai tujuan yang diharapkan. Adapun tujuan dari pelaksanaan adalah membantu klien untuk mencapai tujuan yang telah ditetapkan meliputi peningkatan kesehatan atau pencegahan penyakit, pemulihan kesehatan dari fasilitas yang dimiliki. Perencanaan tindakan keperawatan akan dapat dilaksanakan dengan baik jika klien mempunyai keinginan untuk berpartisiasi dalam pelaksanaan tindakan keperawatan. Selama perawatan atau pelaksanaan perawat terus melakukan pengumpulan data dan memilih tindakan perawatan yang paling sesuai dengan kebutuhan klien. dan meprioritaskannya. Semua tindakan keperawatan dicatat ke dalam format yang telah ditetapkan institusi. 3.5. EVALUASI Tingkat kenyamanan pasien kembali seperti sebelum sakit

Pola seksualitas dapat berfungsi secara normal Tidak terjadi inveksi Klien mengerti mengenai penyakit, prognosis dan kebutuhan pengobatan

Kolik Renal
April 5, 2012 by admin Oleh: dr.Fitriyani Definisi Kolik renal dikarakterisasikan sebagai nyeri hebat yang intermiten (hilang-timbul) biasanya di daerah antara iga dan panggul, yang menjalar sepanjang abdomen dan dapat berakhir pada area genital dan paha bagian dalam. Kolik renal biasanya berawal di punggung bagian mid-lateral atas dan menjalar anteroinferior menuju daerah lipatan paha dan kelamin. Nyeri yang timbul akibat kolik renal terutama disebabkan oleh dilatasi, peregangan, dan spasme traktus urinarius yang disebabkan oleh obstruksi ureter akut. Ketika ada obstruksi yang kronik, seperti kanker, biasanya tidak dirasakan nyeri. Pola nyeri bergantung pada ambang rangsang nyeri seseorang, persepsi, serta kecepatan maupun derajat perubahan tekanan hidrostatik di dalam ureter dan pelvis renal proksimal. Peristaltik ureter dan perpindahan batu ginjal dapat memicu eksaserbasi akut rasa nyeri. Pasien seringkali dapat menunjuk pada lokasi nyeri, yang kemungkinan besar adalah situs obstruksi ureteral. Kolik renal dapat pula dirasakan pada daerah tubuh yang tidak patologis (referred pain). Epidemiologi Satu dari 20 orang menderita batu ginjal. Pria:wanita = 3:1. Puncak kejadian di usia 30-60 tahun atau 2049 tahun. Prevalensi di USA sekitar 12% untuk pria dan7% untuk wanita. Batu struvite lebih sering ditemukan pada wanita daripada pria. Etiologi Etiologi paling umum adalah melintasnya batu ginjal. Bertambah parahnya nyeri bergantung pada derajat dan tempat terjadinya obstruksi; bukan pada keras, ukuran, atau sifat abrasi batu ginjal. Bekuan darah atau fragmen jaringan juga dapat menyebabkan hal yang sama. Kolik karena bekuan darah sering ditemui pada penyakit gangguan pembekuan darah herediter atau didapat, trauma, neoplasma dari ginjal dan traktus urinarius, perdarahan setelah biopsi renal perkutan, kista renal, malformasi vaskular renal, nekrosis papilar, tuberkulosis, dan infark pada ginjal. Kolik sesungguhnya terjadi karena refluks vesikoureteral. Batu ginjal yang bergerak sepanjang ureter dan hanya menyebabkan obstruksi intermiten sebenarnya menyebabkan rasa nyeri yang lebih hebat daripada batu yang tidak bergerak. Suatu obstruksi konstan akan memicu berbagai mekanisme autoregulasi dan refleks yang akan membantu meredakan nyeri. Dua puluh empat jam setelah obstruksi ureteral total, tekanan hidrostatik akan menurun karena (1) penurunan peristalsis ureteral, (2) penurunan aliran darah arteri renal, yang menyebabkan penurunan produksi urin, dan (3) edema interstitial yang menyebabkan peningkatan lymphatic drainage. Faktor-faktor ini menyebabkan kolik renal yang berintensitas tinggi berdurasi kurang dari 24 jam. Kalau obstruksi bersifat parsial, perubahan-perubahan yang sama terjadi, namun pada derajat yang lebih ringan dan waktu yang lebih lama. Serabut saraf nyeri pada renal umumnya saraf simpatis preganglion yang mencapai korda spinal T-11 sampai L-2 melalui dorsal nerve roots. Transmisi sinyal nyeri terjadi melalui traktus spinotalamikus asenden. Pada ureter bagian bawah, sinyal nyeri juga didistribusikan melalui saraf genitofemoral dan n. ilioinguinal. N. erigentes, yang mempersarafi ureter intramural dan kandung kemih, bertanggung jawab untuk beberapa gejala kandung kemih .

Ureter bagian atas dan pelvis renal: Nyeri dari batu ureter bagian atas condong untuk menjalar ke area pinggang dan area lumbar. Di sisi kanan, hal ini bisa disalahartikan dengan kolelitiasis atau kolesistisis. Di sisi kiri, diagnosis banding meliputi pankreatitis akut, ulkus peptikum dan gastritis. Ureter bagian tengah: Nyeri pada daerah ini menjalar ke bagian kaudoanterior. Nyeri ini bisa menyerupai apendisitis jika berada di kanan ataupun divertikulitis akut pada sisi kiri. Ureter distal: Nyeri pada daerah ini menjalar ke lipat paha, testikel pada pria maupun labia mayor pada wanita karena nyeri ini dialihkan melalui n. ilioinguinal atau n. genitofemoral. Jika batu berada di ureter intramural, gejala yang muncul mirip dengan sistitis atau uretritis. Gejala ini meliputi nyeri suprapubis, urgensi, disuria, nyeri pada ujung penis, dan terkadang berbagai gejala GI seperti diare dan tenesmus. Gejala ini bisa disalahartikan dengan penyakit inflamasi pelvis, ruptur kista ovarium. Kebanyakan reseptor nyeri di traktus urinarius atas yang bertanggung jawab atas persepsi kolik renal berada di submukosa dari pelvis renal, kalix dan ureter bagian atas. Di ureter, peningkatan peristaltik proksimal melalui aktivasi intrinsic ureteral pacemakers berperan penting pada persepsi nyeri. Spasme otot, peningkatan peristaltik proksimal, inflamasi lokal, iritasi, dan edema di tempat obstruksi berperan terhadap perkembangan nyeri melalui aktivasi kemoreseptor dan peregangan ujung saraf bebas submukosa. Mual dan muntah sering dikaitkan dengan kolik renal akut dan terjadi setidaknya pada 50% pasien. Mual disebabkan oleh jalur persarafan yang umum dari pelvis renal, lambung, usus melalui serabut saraf aferen vagal dan sumbu celiac. Hal ini sering diperkuat lagi melalui efek analgesik narkotik yang menginduksi mual dan muntah melalui efek langsung terhadap motilitas GI dan efek tidak langsung pada chemoreceptor trigger zone (CTZ) di medulla oblongata. Nonsteroidal anti-inflammatory drugs (NSAIDs) seringkali dapat menyebabkan iritasi lambung dan masalah GI. Kolik biasanya mengikuti pola yang khas yang mudah untuk dikenali, tetapi bentuk yang atipikal dapat menimbulkan kesulitan diagnostik. Manifestasi klinik Bisa tanpa keluhan sama sekali. Nyeri kolik, yang terasa di satu sisi pinggang atau perut, dapat menjalar ke alat kelamin (buah pelir, penis, vulva), muncul mendadak, hilang timbul, dan intensitasnya kuat. Nyeri ginjal (renal colic), yang terasa di pinggang, tidak menjalar, terjadi akibat regangan kapsul ginjal, sering berhubungan dengan mual dan muntah. Nyeri kandung kemih (buli-buli), terasa di bawah pusat. Urgensi, yaitu rasa ingin kencing sehingga terasa sakit. Disuria, yaitu rasa nyeri saat kencing atau sulit kencing. Polakisuria, yaitu frekuensi kencing yang lebih sering dari biasanya. Hematuria, yaitu terdapat darah atau sel darah merah (eritrosit) di air seni. Anuria yaitu jika produksi air seni < 200 cc/hari. Oliguria yaitu jika jika produksi air seni < 600 cc/hari. Gambaran umum kolik renal dibagi menjadi 2 tipe : A. Kolik renal tipikal Fase-fase serangan kolik kenal akut Nyeri ini terjadi di sekitar dermatom T-10 sampai S-4. Keseluruhan proses ini terjadi selama 3-18 jam. Ada 3 fase: 1. Fase akut / onset Serangannya secara tipikal terjadi pada pagi atau malam hari sehingga membangunkan pasien dari tidurnya. Jika terjadi pagi hari, pasien umumnya mendeskripsikan serangan tersebut sebagai serangan yang mulanya perlahan sehingga tidak dirasakan. Sensasi dimulai dari pinggang, unilateral, menyebar ke sisi bawah, menyilang perut ke lipat paha (groin). Nyerinya biasanya tetap, progresif, dan kontinu; beberapa pasien mengalami serangan intermiten yang paroksismal dan sangat parah. Derajat nyeri bisa

meningkat ke intensitas maksimum setelah 30 menit sampai 6 jam atau lebih lama lagi. Pasien umumnya mencapai nyeri puncak pada 1-2 jam setelah onset. 2. Fase konstan / plateau Saat nyeri telah mencapai intensitas maksimum, nyeri akan menetap sampai pasien diobati atau hilang dengan sendirinya. Periode dimana nyeri maksimal ini dinamakan fase konstan. Fase ini biasanya berlangsung 1-4 jam tetapi dapat bertahan lebih lama lebih dari 12 jam pada beberapa kasus. Kebanyakan pasien datang ke UGD selama fase ini. Pasien yang menderita kolik biasanya banyak bergerak, di atas tempat tidur atau saat berjalan, untuk mencari posisi yang nyaman dan mengurangi nyeri. Walaupun ginjal dan traktus urinarius terletak retroperitoneal, mual dan muntah disertai bising usus menurun / hipoaktif adalah tanda yang dominan; sehingga memungkinkan kesalahan diagnosis intraperitoneal. Contohnya terutama adalah obstruksi ureteropelvis junction pada ginjal kanan. 3. Fase hilangnya nyeri (Relieve) Pada fase terakhir ini, nyeri hilang dengan tiba-tiba, cepat, dan pasien merasakan kelegaan. Kelegaan ini bisa terjadi secara spontan kapanpun setelah onset. Pasien kemudian dapat tidur, terutama jika diberikan analgesik. Fase ini berlangsung 1,5 3 jam. B. Kolik renal atipikal Etiologi kolik tipikal bisa juga menyebabkan kolik atipikal. Obstruksi pada calyx dapat menyebabkan nyeri pinggang yang lebih ringan tapi episodik. Hematuria dapat juga terjadi. Lesi obstruktif pada ureterovesical junction (hubungan ureter dan kandung kemih) ataupun segmen intramural dari ureter dapat menyebabkan disuria, keinginan buang air kecil yang mendadak dan sering, serta nyeri yang menjalar ke atas atau bawah. Kolik renal dapat disertai muntah-muntah hebat, mual, diare, ataupun nyeri ringan yang tidak biasa sehingga memungkinkan kesalahan diagnosis. Diagnosis Hasil pemeriksaan fisik antara lain : a. Kadang-kadang teraba ginjal yang mengalami hidronefrosis/obstruktif. b. Nyeri tekan/ketok pada pinggang. c. Batu uretra anterior bisa di raba. d. Pada keadaan akut paling sering ditemukan adalah kelembutan di daerah pinggul (flank tenderness), ini disebabkan oleh hidronefrosis akibat obstruksi sementara yaitu saat batu melewati ureter menuju kandung kemih. Pasien dengan kolik renal harus menjalani filtrasi urin untuk menemukan batu, bekuan darah, atau jaringan lainnya, sebagai penentu diagnosis. Bila perlu, ini dilakukan berminggu-minggu karena batu atau jaringan bisa menetap di kandung kemih tanpa menimbulkan gejala. Pada urin biasanya dijumpai hematuria dan kadang-kadang kristaluria. Pemeriksaan Penunjang Laboratorium Hematuria biasanya terlihat secara mikroskopis, dan derajat hematuria bukan merupakan ukuran untuk memperkirakan besar batu atau kemungkinan lewatnya suatu batu. Tidak adanya hematuria dapat menyokong adanya suatu obstruksi komplit, dan ketiadaan ini juga biasanya berhubungan dengan penyakit batu yang tidak aktif. Pada pemeriksaan sedimen urin, jenis kristal yang ditemukan dapat memberi petunjuk jenis batu. Pemeriksaan pH urin < 5 menyokong suatu batu asam urat, sedangkan bila terjadi peningkatan pH (?7) menyokong adanya organisme pemecah urea seperti Proteus sp, Klebsiella

sp, Pseudomonas sp dan batu struvit. Radiologis Ada beberapa jenis pemeriksaan radiologis yaitu : a. Foto polos abdomen Foto polos abdomen dapat menentukan besar, macam dan lokasi batu radiopaque. Batu-batu jenis kalsium oksalat dan kalsium fosfat bersifat radiopaque dan paling sering dijumpai diantara batu jenis lain, sedangkan batu asam urat bersifat radiolusen. Gambaran radioopak paling sering ditemukan pada area pelvis renal sepanjang ureter ataupun ureterovesical junction. Gambaran radioopak ini disebabkan karena adanya batu kalsium oksalat dan batu struvit (MgNH3PO4). b. Intravenous Pyelogram (IVP) Pielografi intravena untuk menilai obstruksi urinaria dan mencari etiologi kolik (pielografi adalah radiografi pelvis renalis dan ureter setelah penyuntikan bahan kontras). Seringkali batu atau benda obstruktif lainnya sudah dikeluarkan ketika pielografi, sehingga hanya ditemukan dilatasi unilateral ureter, pelvis renalis, ataupun calyx. IVP dapat menentukan dengan tepat letak batu, terutama batu-batu yang radiolusen dan untuk melihat fungsi ginjal. Selain itu IVP dapat mendeteksi adanya batu semi opaque ataupun batu non opaque yang tidak dapat terlihat oleh foto polos abdomen. Pielografi retrograde (melalui ureter) dilakukan pada kasus-kasus di mana IVP tidak jelas, alergi zat kontras, dan IVP tidak mungkin dilakukan., walaupun prosedur ini tidak menyenangkan dan berkemungkinan kecil menyebabkan infeksi atau kerusakan ureteral. c. CT Scan CT Scan (Computerized Tomography) adalah tipe diagnosis sinar X yang dapat membedakan batu dari tulang atau bahan radiopaque lain. d. Ultrasonografi (USG) USG dilakukan bila pasien tidak mungkin menjalani pemeriksaan IVP, yaitu pada keadaan-keadaan : alergi terhadap bahan kontras, faal ginjal yang menurun dan pada wanita yang sedang hamil. USG ginjal merupakan pencitraan yang lebih peka untuk mendeteksi batu ginjal dan batu radiolusen daripada foto polos abdomen. Cara terbaik untuk mendeteksi BSK (Batu Saluran Kemih) ialah dengan kombinasi USG dan foto polos abdomen. USG dapat melihat bayangan batu baik di ginjal maupun di dalam kandung kemih dan adanya tanda-tanda obstruksi urin. e. Radioisotop Untuk mengetahui fungsi ginjal secara satu persatu, sekaligus adanya sumbatan pada gagal ginjal. Diagnosis Banding Kolik Renal Kecuali kolik renal atipikal, umumnya gejala kolik renal sangat khas dan tidak seperti nyeri karena penyakit intra abdominal atau retroperitoneal lainnya. Diagnosis dapat ditegakkan dengan anamnesis pasien. a. Kolik bilier Nyeri pada kuadran kanan atas abdomen, mual dan muntah yang menetap, abdominal tenderness adalah gejala kolik bilier. Jika terdapat infeksi ginjal, kolik ini juga dapat disertai demam, leukositosis, dan ikterus ringan. Kolesistitis akut dapat menyebabkan nyeri ke bahu kanan atau subskapula. b. Apendisitis Nyeri setelah 4-6 jam di periumbilikus, nyeri terlokalisasi di titik Mc Burney. Pasien biasanya berbaring

tenang, berbeda dengan pasien kolik renal. c. Divertikulitis dan irritable colon syndrome Divertikulitis yaitu nyeri pada sisi kiri dekat ureter bagian bawah, jauh lebih ringan dari kolik renal dan seringkali ada abdominal tenderness. Ini disertai konstipasi dan darah samar di tinja, yang tidak lazim pada kolik renal. Irritable colon syndrome disertai distensi abdomen dan nyeri hebat yang berhubungan dengan nyeri punggung bawah. Yang paling membedakan dengan kolik renal adalah diare hebat dan bising usus hiperaktif. d. Nyeri muskuloskeletal Protrusi diskus intervertebral lumbalis dapat menyebabkan nyeri punggung unilateral yang menjalar ke pinggul, paha, atau lipat paha (paling sering L4-5 dan L5-S1). Pembedanya dari kolik renal adalah nyeri tersebut bergantung dengan posisi tubuh, yang dapat hilang dengan imobilitas. Nyeri pada pelvis dapat terjadi karena lesi obstruktif dan berciri khas unilateral yang menjalar ke bagian sakral. e. Penyakit Skrotal, Penis, atau Labial Kolik ini terjadi karena obstruksi ureterovesical junction. Tandanya adalah keinginan untuk buang air kecil yang sering, disuria, dan nyeri sakral atau lumbal bawah. Penatalaksanaan Berhasilnya penatalaksanaan medis ditentukan oleh lima faktor yaitu : ketepatan diagnosis, lokasi batu, adanya infeksi dan derajat beratnya, derajat kerusakan fungsi ginjal, serta tata laksana yang tepat. Terapi dinyatakan berhasil bila: keluhan menghilang, kekambuhan batu dapat dicegah, infeksi telah dapat dieradikasi dan fungsi ginjal dapat dipertahankan Terapi Konservatif Tanpa Operasi 1. Medikamentosa Terapi medikamentosa ditujukan untuk batu yang ukurannya kurang dari 5 mm, karena diharapkan batu dapat keluar spontan. Terapi yang diberikan bertujuan untuk mengurangi nyeri, memperlancar aliran urin dengan minum banyak supaya dapat mendorong batu keluar dari saluran kemih. Selain itu juga dilakukan pembatasan diet kalsium, oksalat, natrium, fosfat dan protein tergantung pada penyebab batu. Beberapa jenis obat yang diberikan antara lain spasmolitika yang dicampur dengan analgesik untuk mengatasi nyeri, kalium sitrat untuk meningkatkan pH urin, antibiotika untuk mencegah infeksi dan sebagainya. Obat penghilang nyeri, seperti: golongan narkotik (meperidine, morfin sulfat, kombinasi parasetamol dan kodein, atau injeksi morfin), golongan analgesik opioid (morphine sulfate, oxycodone dan acetaminophen, hydrocodone dan acetaminophen), golongan analgesik narkotik (butorphanol), golongan anti-inflamasi non steroid (ketorolac, diclofenac, celecoxib, ibuprofen). Antiemetic (metoclopramide) jika mual atau muntah. Antibiotik jika ada infeksi saluran kemih, misalnya: ampicillin plus gentamicin, ticarcillin dan clavulanic acid, ciprofloxacin, levofloxacin, ofloxacin. Untuk mengeluarkan batu ginjal dapat juga dengan obat golongan calcium channel blockers atau penghambat kalsium (nifedipine), golongan alpha-adrenergic blockers (tamsulosin, terazosin), golongan corticosteroids atau glukokortikoid, seperti: prednisone, prednisolone. Obat pilihan lainnya: agen uricosuric (allopurinol), agen alkalinizing oral (potassium citrate). Batas lama terapi konservatif adalah 6 minggu. Di samping ukuran batu syarat lain untuk observasi adalah berat ringannya keluhan pasien, ada tidaknya infeksi dan obstruksi. Adanya kolik berulang atau ISK ( Infeksi Saluran Kemih ) menyebabkan observasi bukan merupakan pilihan. Begitu juga dengan adanya obstruksi, apalagi pada pasien-pasien tertentu (misalnya ginjal tunggal, ginjal trasplan dan

penurunan fungsi ginjal ) tidak ada toleransi terhadap obstruksi. Pasien seperti ini harus segera dilakukan intervensi. 2. Extracorporeal Shock Wave Lithotripsy (ESWL) Alat ESWL adalah pemecah batu yang diperkenalkan pertama kali oleh Caussy pada tahun 1980. Alat ini dapat memecah batu ginjal, batu ureter proksimal atau batu kandung kemih tanpa melalui tindakan invasif dan tanpa pembiusan. Batu dipecah menjadi fragmen-fragmen kecil sehingga mudah dikeluarkan melalui saluran kemih. Tidak jarang pecahan-pecahan batu yang sedang keluar menimbulkan perasaan nyeri kolik dan menyebabkan hematuria. Persyaratan BSK yang dapat ditangani dengan ESWL : a. Batu ginjal berukuran mulai dari 5 mm hingga 20 mm. b. Batu ureter berukuran 5 mm hingga 10 mm. c. Fungsi ginjal masih baik. d. Tidak ada sumbatan distal dari batu. 3. Endourologi Tindakan endourologi adalah tindakan invasif minimal untuk mengeluarkan BSK yang terdiri atas memecah batu, dan mengeluarkannya dari saluran kemih melalui alat yang dimasukkan langsung ke dalam saluran kemih. Alat itu dimasukkan melalui uretra atau melalui insisi kecil pada kulit (perkutan). Proses pemecahan batu dapat dilakukan secara mekanik, dengan memakai energi hidroulik, energi gelombang suara atau energi laser. Tindakan Operasi 1. Bedah Laparoskopi Pembedahan laparoskopi untuk mengambil BSK saat ini sedang berkembang. Cara ini banyak dipakai untuk mengambil batu ureter. 2. Bedah Terbuka Di klinik-klinik yang belum mempunyai fasilitas yang memadai untuk tindakan-tindakan endourologi, laparoskopi maupun ESWL, pengambilan batu masih dilakukan melalui pembedahan terbuka. Pembedahan terbuka itu antara lain adalah : pielolitomi atau nefrolitotomi untuk mengambil batu pada saluran ginjal, dan ureterolitotomi untuk batu di ureter. Tidak jarang pasien harus menjalani tindakan nefrektomi atau pengambilan ginjal karena ginjalnya sudah tidak berfungsi dan berisi nanah (pionefrosis), korteksnya sudah sangat tipis atau mengalami pengkerutan akibat BSK yang menimbulkan obstruks dan infeksi yang menahun. Pencegahan Pencegahan Primer Tujuan pencegahan primer adalah untuk mencegah agar penyakit tidak terjadi, dengan mengendalikan faktor penyebab suatu penyakit. Kegiatan yang dilakukan meliputi promosi kesehatan, pendidikan kesehatan dan perlindungan kesehatan. Pencegahan primer penyakit BSK seperti minum air putih yang banyak. Konsumsi air putih minimal 2 liter per hari akan meningkatkan produksi urin. Konsumsi air putih juga akan mencegah pembentukan kristal urin yang dapat menyebabkan terjadinya batu. Selain itu, dilakukan pengaturan pola makan yang dapat meningkatkan risiko pembentukan BSK seperti, membatasi konsumsi daging, garam dan makanan tinggi oksalat (sayuran berwarna hijau, kacang, coklat), dan sebagainya. Aktivitas fisik seperti olahraga juga sangat dianjurkan, terutama bagi yang pekerjaannya

lebih banyak duduk. Pencegahan Sekunder Pencegahan sekunder bertujuan untuk mengurangi keparahan penyakit dengan melakukan diagnosis dan pengobatan dini. Untuk jenis penyakit yang sulit diketahui kapan penyakit timbul, diperlukan pemeriksaan teratur yang dikenal dengan pemeriksaan Check-up. Pemeriksaan urin dan darah dilakukan secara berkala, bagi yang pernah menderita BSK sebaiknya dilakukan setiap tiga bulan atau minimal setahun sekali. Tindakan ini juga untuk mendeteksi secara dini apabila terjadi pembentukan BSK yang baru. Untuk pengobatan, pemberian obat-obatan oral dapat diberikan tergantung dari jenis gangguan metabolik dan jenis batu. Pengobatan lain yang dilakukan yaitu melakukan kemoterapi dan tindakan bedah (operasi). Pencegahan Tersier Pencegahan tersier mencakup pembatasan terhadap segala ketidakmampuan dengan menyediakan rehabilitasi saat penyakit, cedera atau ketidakmampuan sudah terjadi dan menimbulkan kerusakan. Kegiatan yang dilakukan meliputi rehabilitasi (seperti konseling kesehatan) agar orang tersebut lebih berdaya guna, produktif dan memberikan kualitas hidup yang sebaik mungkin sesuai dengan kemampuannya.