Anda di halaman 1dari 6

UJI LATIH PADA PASIEN STROKE Berbagai metode digunakan untuk menilai respon terhadap latihan, dikenal 2 istilah

dalam uji latih ini: 1. Uji latih performa Uji latih ini dilakukan pada pasien yang sehat dengan tujuan menilai kapasitas aerobik atau penilaian kebugaran, peresepan latihan dan menilai respon terhadap latihan serta modifikasi gaya hidup. 2. Uji latih klinis Dilakukan pada subyek yang datang dengan tanda dan gejala penyakit dengan tujuan untuk diagnosis, penilaian risiko, memantau kemajuan serta respon terhadap intervensi. Baik uji latih performa maupun uji latih klinis keduanya dapat dilakukan pada seting lapangan ataupun laboratorium. Pemilihan seting uji ini tergantung pada tujuan uji dilakukan, perlunya penilaian respon terhadap latihan dari segi densitas, presisi dan akurasi, instrumen apa yang tersedia dan personel yang melakukan. Protokol yang digunakan baik uji laboratorium maupun uji lapangan, menggambarkan bagaimana uji dilaksanakan. Berdasarkan intensitas yang dilakukan uji latih dibagi dalam dua kelompok yaitu uji maksimal dan submaksimal. Uji submaksimal Uji submaksimal ialah uji dengan peningkatan intensitas lebih rendah daripada uji latih maksimal yang ditandai dengan denyut jantung sebesar 85% dari perkiraan denyut jantung maksimal. Uji submaksimal dapat dikerjakan baik pada uji latih performa maupun uji latih klinis. Uji ini juga dapat dikerjakan pada seting laboratorium ataupun lapangan, dapat

bersifat incremental ataupun konstan, namun tidak dapat menilai kapasitas latihan maksimal secara langsung. Untuk mendapatkan prediksi kapasitas aerobik (VO2max) maka diasumsikan dengan menggunakan rumus atau grafik. Uji maksimal Uji latih maksimal adalah uji dengan peningkatan intensitas usaha sampai tingkat tertentu sampai batas tidak terjadi lagi kenaikan ambilan oksigen. Hal ini ditandai dengan kelelahan atau gejala yang menghambat dilanjutkannya latihan serta tidak lagi terjadi kenaikan denyut jantung. Uji maksimal atau hampir maksimal juga dapat digunakan pada uji latih performa maupun uji latih klinis, serta dapat dilakukan untuk uji lapangan maupun uji laboratorium. Prediksi VO2max akan lebih baik karena dilakukan pengambilan data maksimal yang aktual. Bila

tersedia instrumen untuk pemeriksaan pertukaran gas, maka kapasitas aerobik dapat dinilai (VO2max). Karena subyek diminta untuk mengerjakan sampai batas simptomatik atau subyektif, uji ini sangat tergantung pada usaha subyek. Uji treadmill VO2peak pada pasien stroke Jumlah oksigen yang dikonsumsi selama latihan dengan usaha puncak sering digunakan sebagai pemeriksaan kebugaran umum serta memiliki hubungan yang baik dengan fungsi secara umum pada pasien stroke. Pertama kali dilakukan uji toleransi treadmill pada kemiringan 0 derajat untuk menilai keamanan gait serta menentukan target kecepatan berjalan untuk uji treadmill dengan usaha puncak nantinya. Pasien stroke setidaknya harus menyelesaikan 3 menit berturut-turut pada kecepatan > 0,5 mph untuk diperbolehkan melanjutkan ke uji stres kardiak treadmill tanpa spirometri open circuit. Individu yang mampu mencapai intensitas latihan yang adekuat tanpa menunjukkan tanda-tanda iskemik miokardial yang signifikan atau kontraindikasi lain untuk latihan dapat melanjutkan dengan uji VO2 puncak. Kapasitas latihan puncak diperiksa dengan spirometri open circuit yang dilaksanakan selama kecepatan konstan, berjalan di treadmill yang ditingkatkan secara progresif hingga timbul fatigue. Uji ini telah terbukti aman dan dapat diandalkan untuk pasien stroke dengan disabilitas kronik. Ada yang menganggap gangguan gait dan keseimbangan sebagai kontraindikasi uji treadmill. Namun dengan menggunakan protokol kecepatan konstan yang disesuaikan dengan kecepatan gait pasien, peningkatan beban kerja dengan sudut meningkat pada treadmill yang mengontrol kecepatan turun 0,1 mph memungkinkan kita untuk melakukan uji kardiorespirasi usaha puncak pada kebanyakan pasien stroke hemiparetik. Bahkan, lebih dari 95% pasien stroke telah mentoleransi uji latih usaha puncak dan mencapai denyut jantung puncak 85% 14% dari denyut jantung maksimal sesuai perkiraan usia tanpa efek samping. Semua pasien yang berhasil menyelesaikan uji latih dapat mencapai intensitas latihan yang adekuat untuk intensitas latihan AEX rendahsedang. Saat protokol uji ini digunakan, berhasil dideteksi iskemia miokard tanpa gejala dan reversibel pada sekitar 28% dari pasien stroke yang tidak memiliki riwayat penyakit arteri koroner (CAD). Uji jalan 6 menit pada pasien stroke Baku emas untuk mengetahui kebugaran kardiorespirasi adalah dengan pemeriksaan konsumsi oksigen maksimal selama penilaian uji latih. Namun, impairmen yang terjadi akibat stroke seperti gangguan kekuatan otot serta gangguan sensorik dapat membatasi pelaksanaan uji

latih maksimal pada populasi pasca stroke. Uji latih juga mahal serta membutuhkan waktu cukup lama dan peralatan uji latih ini di setiap tempat. Sebagai alternatif, uji jalan didesain sebagai pemeriksaan status fungsional yang obyektif dan telah digunakan sebagai pemeriksaan pengganti untuk memeriksa kebugaran kardiorespirasi pada populasi tertentu. Pada individu dengan gangguan kardiorespirasi yang korelasi jarak tempuh uji jalan 6 menit (6MWT) dan VO2max bervariasi dari 0,51 hingga 0,90. Terdapat beberapa faktor yang dapat mempengaruhi uji jalan pada pasien stroke, sehingga korelasi antara jarak tempuh dengan kapasitas aerobik belum banyak ditegakkan, namun korelasinya bervariasi mulai dari tidak ada korelasi hingga korelasi yang rendah (0.40, p < 0.005) pada pasien stroke kronik dan korelasi tinggi (0.84, p < 0.001) pada stroke subakut. Tang et al (2006) membandingkan jarak tempuh 6MWT dengan uji ergometer cycle pada 36 pasien stroke. Ergometer cycle dengan posisi semi berbaring digunakan untuk uji latih maksimal untuk menghindari keterbatasan mencapai kapasitas aerobik maksimal bila menggunakan treadmill. Protokol yang digunakan dimulai dengan beban 10 watt, 50 rpm, dengan beban dinaikkan setiap menit. Hasilnya terdapat korelasi sedang antara jarak tempuh 6MWT dengan VO2peak (r=0.56, p<0.001). Durasi uji latih maksimal juga memiliki korelasi sedang dengan jarak tempuh 6MWT (r = 0.60, p < 0.001). Uji Ergometer Cycle pada pasien stroke Pada populasi sehat, VO2max yang ditentukan dengan ergometer cycle sedikit lebih rendah daripada yang dicapai dengan uji treadmill. Selain itu uji ini mungkin tidak cocok untuk digunakan pada pasien usia lanjut, pasien lemah dan dengan keterbatasan berat, klinisi mungkin menganggap bahwa uji 6MWT lebih akurat menggambarkan kebugaran kardiorespirasi. Namun pada populasi stroke kronik, ergometer cycle VO2max rata-rata adalah 22,0 + 4,8 mL/kg/min yang dapat memberikan estimasi VO2max lebih baik daripada uji 6MWT dengan VO2max rata-rata 14,7 + 3,3 mL/kg/min sehingga ergometer cycle merupakan penanda kebugaran kardiorespirasi yang lebih dapat diandalkan. Terdapat asumsi bahwa populasi yang mengalami kesulitan dengan keseimbangan, kekuatan dan spastisitas dapat diakomodasi lebih baik dengan menggunakan ergometer cycle. Sejalan dengan asumsi ini frekuensi denyut jantung maksimum yang diprediksi sesuai usia pada yang menggunakan ergometer cycle 91,8 + 10,7 % bila dibandingkan dengan 6MWT 65,1 + 8.9%. Tingkat perceived exertion yang diukur dengan 16 poin skala Borg juga lebih tinggi saat mengerjakan ergometer cycle.

Kapasitas Kardiorespirasi Pada Pasien Stroke Billinger et al (2011) melakukan studi retrospektif terhadap 62 pasien stroke, parameter kardiorespirasi yang digunakan adalah VO2peak yang diukur dengan ergometer cycle maupun body reccumbent stepper dan dibedakan laki-laki dan perempuan. Hasilnya setelah dibandingkan dengan data yang terdapat di ACSMs guidelines for exercise testing and prescription sebagai kontrol, maka didapatkan hasil bahwa hanya 1 orang yang memiliki VO2peak di bawah percentil 1 yang artinya memiliki kebugaran kardiorespirasi yang rendah (poor), 61 sisanya memiliki tingkat kebugaran yang sangat rendah (very poor). Hanya 10 orang yang memiliki VO2peak lebih dari 20 mL/kg/menit, sisanya di bawah itu dimana nilai VO2peak di bawah 20 mL/kg/menit berhubungan dengan keterbatasan fungsi untuk instrumental AKS.

LATIHAN ENDURANS KARDIORESPIRASI PADA PASIEN STROKE Sistem Energi Sistem energi adalah sistem metabolik yang mencakup serial reaksi biokimia dalam formasi Adenosine Triphosphate (ATP), karbon dioksida dan air. Dimana sel menggunakan energi yang diproduksi dari hasil konversi ATP menjadi AdenosineDiphosphate (ADP) dan Phosphat (P) dalam rangka melakukan aktivitas metabolik. Sel otot menggunakan energi ini untuk formasi kontraksi cross-bridge aktin myosin. Karbohidrat, lemak, dan protein dapat menghasilkan ATP jika dibutuhkan sebagai bahan bakar tubuh melalui jalur metabolik. Tubuh menggunakan ATP simpanan dan Creatinine Phosphate (CP) bila tubuh memerlukan energi untuk melakukan gerakan tiba-tiba. Energi ini disuplai untuk waktu 10 detik. Sedangkan untuk pengisian kembali suplai CP yang telah digunakan membutuhkan waktu selama 1-2 menit. Keseluruhan proses ini berlangsung secara anaerobik (tidak membutuhkan oksigen), berlangsung cepat dan membutuhkan kekuatan besar. Pada beberapa menit pertama kerja fisik berlangsung metabolisme anaerobik pada CP dan glukosa. Seiring dengan berlanjutnya kerja fisik maka berlangsung metabolisme aerobik pada glukosa dan asam lemak. Pada kerja fisik yang lebih berat dimana VO2maks 60% akan terjadi pergeseran kembali ke metabolime glukosa secara anaerobik. Peran asam lemak dalam produksi energi total pada latihan berat bervariasi antara 1040% tergantung tingkat kerja individu. Akumulasi sitrat yang terbentuk akibat dari oksidasi asam lemak akan menghambat glikolisis fosfofruktokinase guna mempertahankan cadangan glikogen tubuh. Jika kerja fisik bertambah berat dimana penggunaan ATP melebihi hasil metabolisme

oksidasi kapasitas otot (berkurangnya oksigen yang menerima ion hidrogen dalam menghasilkan air dan ATP) maka produksi laktat akan meningkat akibat metabolisme anaerobik glukosa. Latihan Aerobik Latihan adalah kegiatan fisik yang direncanakan, terstruktur, berulang dan bertujuan untuk meningkatkan kebugaran fisik. Latihan aerobik didefinisikan sebagai latihan yang ritmik, berulang, menggunakan otot-otot besar yang merangsang respon denyut jantung; kegiatannya dapat berupa jalan cepat, jogging, naik sepeda ataupun berenang. A. Peresepan Latihan Aerobik Kuantitas atau volume latihan mencakup frekuensi, intensitas, jenis (mode) dan durasi. Dosis minimum dan maksimum latihan harus diukur dengan tepat untuk mendapatkan manfaat latihan. Faktor yang harus diperhatikan dalam penyusunan program latihan aerobik adalah: a. Program disusun secara individu. Oleh karena setiap individu memiliki kapasitas aerobik yang berbeda, maka pemberian program berdasarkan kemampuan masing-masing, sehingga seseorang dengan kapasitas aerobik yang rendah akan diberikan beban yang rendah, dan sebaliknya seseorang dengan kapasitas yang tinggi akan diberi program yang tinggi pula. b. Latihan berupa gerakan dinamik. Latihan untuk meningkatkan kapasitas aerobik harus berupa gerakan yang melibatkan kelompok otot besar seperti jalan kaki, berlari, bersepeda, mendayung dan sepak bola. Latihan dinamik akan menyebabkan aliran darah ke otot yang bekerja meningkat dan respon sirkulasi ini berhubungan secara langsung dengan kebutuhan oksigen. c. Latihan ditingkatkan secara progresif. Semua latihan untuk meningkatkan kapasitas aerobik hanya efektif bila bebannya ditingkatkan setiap minggu/bulan. Hal ini karena tubuh hanya akan mengadaptasi stres yang lebih besar dari biasanya. Jadi sistem kardiovaskular dan sistem lain yang telah beradaptasi dengan suatu beban tertentu harus diberi beban yang lebih besar dari latihan sebelumnya agar dicapai tingkat adaptasi yang lebih besar lagi. B. Frekuensi Latihan Walaupun volume total aktivitas fisik merupakan faktor utama dalam mencapai manfaat latihan, namun frekuensi aktivitas fisik (misalnya jumlah hari dalam 1 minggu yang

digunakan untuk latihan) juga dianggap penting. Manfaat latihan bisa didapatkan pada pasien dengan frekuensi latihan minimal 1 hingga 2 sesi latihan per minggu dengan intensitas sedang atau tinggi. ACSM merekomendasikan frekuensi latihan 3-5 kali per minggu. Terdapat peningkatan kebugaran fisik dengan frekuensi >3 kali per minggu dan mencapai peningkatan yang plateau jika latihan dilakukan >5 kali per minggu. Latihan dengan intensitas tinggi dapat meningkatkan kejadian cedera, sehingga dosis aktivitas fisik ini tidak disarankan untuk orang dewasa pada umumnya. C. Intensitas Latihan Terdapat peningkatan manfaat latihan dengan peningkatan intensitas latihan. Ada batasan intensitas minimum yang dapat menghasilkan manfaat kebugaran untuk kebanyakan pasien. Latihan dengan intensitas sedang (40 60% VO2R) yang dapat dilihat peningkatan denyut jantung dan pernapasan direkomendasikan sebagai intensitas minimum bagi orang dewasa untuk bisa mendapatkan manfaat latihan. D. Jenis (mode) latihan Jenis latihan ini berhubungan dengan intensitas latihan, latihan dapat

berupa continousatau intermitten. Latihan dengan intensitas tinggi dapat diberikan secara intermitten dengan diberikan fase istirahat, sedangkan latihan dengan intensitas yang lebih rendah diberikan secara continous. E. Durasi latihan Durasi latihan merupakan penilaian waktu aktivitas fisik dilakukan misalnya per sesi, per hari atau per minggu, atau dapat juga berdasarkan kalori total yang dikeluarkan. Kuantitas aktivitas fisik dapat dilakukan terus menerus atau intermiten dan diakumulasikan dalam 1 hari dengan durasi aktivitas fisik minimal 10 menit. Jika lama latihan rendah (kurang dari 20 menit per sesi) atau intensitas latihan rendah (kurang dari 60% dari denyut jantung maksimal) maka frekuensi latihan dapat ditingkatkan. Berdasarkan data epidemiologi menyatakan bahwa frekuensi/ durasi latihan minimal yang dibutuhkan untuk mendapatkan manfaat latihan dari aktivitas fisik adalah selama 30 menit dan dilakukan 3 kali/minggu, setara dengan pengeluaran energi 700kcal/minggu; dan aktivitas fisik optimal dilakukan selama 15 menit dilakukan 5-7 kali/minggu, setara dengan pengeluaran energi 2000-3500 kcal/minggu.

Anda mungkin juga menyukai