Anda di halaman 1dari 21

PENGANTAR BALAGHAH

Balghah secara etimologi berasal dari kata dasar yang memiliki arti
sama dengan kata yaitu sampai. Dalam kajian sastra, Balghah ini menjadi
sifat dari kalm dan mutakallim, sehingga lahirlah sebutan  dan  .
Balghah dalam kalm menurut para pendahulu1 adalah

   

, dalam arti bahwa kalm itu sesusi dengan situasi dan kondisi para
pendengar. Perubahan situasi dan kondisi para pendengar menuntut perubahan
susunan kalm, seperti situasi dan kondisi yang menuntut kalm ithnb tentu berbeda
dengan situasi dan kondisi yang menuntut kalm jz, berbicara kepada orang cerdas
tentu berbeda dengan berbicara kepada orang dungu, tuntuan fashl meninggalkan
khithb washl, tuntutan taqdm tidak sesuai dengan takhr, demikian seterusnya
untuk setiap situasi dan kondisi ada kalm yang sesuai dengannya ( ) .
Nilai Balghah untuk setiap kalm bergantung kepada sejauh mana kalm itu
dapat memenuhi tuntutan situasi dan kondisi, setelah memperhatikan fashhah-nya.
Adapun kalm fashh adalah kalm yang secara nahwu tidak dianggap menyalahi
aturan yang mengakibatkan (  lemah susunan) dan taqd (rumit), secara
bahasa terbebas dari gharbah (asing) dalam kata-katanya, secara sharaf terbebas dari
menyalahi qiys, seperti kata , karena menurut qiys adalah  , dan secara
dzauq terbebas dari tanfur (berat pengucapannya) baik dalam satu kata, seperti kata

atau dalam beberapa kata sekalipun satuan kata-katanya tidak tanfur,


seperti:

*
Balghah itu memiliki tiga dimensi, yaitu ilmu Mani, ilmu Bayn dan ilmu Bad.
1

Husen, Abdul Qadir, Fann al-Balaghah, (Beirut : Alam al-Kutub, 1984), hal. 73

Ilmu Mani adalah ilmu untuk mengetahui hl-ihwal lafadz bahasa Arab
yang sesuai dengan tuntutan situasi dan kondisi (    

)    . Yang dimaksud dengan hl ihwal lafadz bahasa Arab adalah


model-model susunan kalimat dalam bahasa Arab, seperti penggunaan taqdm atau
takhr, penggunaan marifat atau nakirah, disebut (dzikr) atau dibuang (hadzf), dan
sebagainya. Sedangkan yang dimaksud dengan situasi dan kondisi adalah situasi dan
kondisi mukhthab, seperti keadaan kosong dari informasi itu, atau ragu-ragu, atau
malah mengingkari informasi tersebut.
Kajian dalam ilmu Mani ada delapan macam, yaitu (1)
(2) ( 3) ( 4) (   5) ( 6) ( 7)

dan (8) .
Kalimat dalam bahasa Arab disebut al-jumlah. Secara tarkib (struktur), al-jumlah itu
terdiri dari dua macam, yaitu jumlah ismiyah (kalimat nominal) dan jumlah filiyah
(kalimat verbal). Dilihat dari segi fungsinya, al-jumlah itu banyak sekali ragamnya,
yaitu sebagai berikut:
1. Jumlah mutsbatah (kalimat positif)
Menurut al-Masih2, jumlah mutsbatah (kalimat positif) ialah kalimat yang
menetapkan keterkaitan antara subjek dan predikat. Kalimat ini terdiri dari unsur
subjek dan predikat sebagai unsur pokoknya. Kedua unsur tersebut dapat dijumpai
dalam jumlah ismiyah (kalimat nominal) dan jumlah filiyah (kalimat verbal).
a. jumlah ismiyah (kalimat nominal)


- - -
.

Al-Masih.A, Mujam Qawaid al-Lughah al-Arabiyyah, (Libanon: Maktabah Lubnan, 1981), hal.142

Pada jumlah ismiyah (kalimat nominal), mubtada ditempatkan pada permulaan


kalimat, sedangkan khabar ditempatkan sesudahnya, seperti `
Namun, jika mubtada terdiri dari nakirah (indefinitif article) dan khabar berupa
prase preposisi, maka khabar didahulukan, seperti


. Pada


sebagai mubtada.
contoh ini, maka sebagai khabar dan
Karakteristik jumlah ismiyah adalah membentuk makna tsubt (tetap) dan
dawm (berkesinambungan), contoh seperti kalimat

` ,

b. jumlah filiyah (kalimat verbal)


)

.( :

" " : .
.
-
.
Pada jumlah filiyah (kalimat verbal), fiil (verba) itu dapat berbentuk aktif dan


pasif. Contoh jumlah filiyah dengan verba aktif seperti 



  . Contoh jumlah filiyah dengan verba pasif seperti 



.
Karakteristik jumlah filiyah tergantung kepada fiil yang digunakan; fiil mdhi
(kata kerja untuk waktu lampau) membentuk karakter, contoh karakter positif
seperti kalimat


, contoh karakter
negatif seperti kalimat 




, sedangkan fiil mudhri (kata

kerja untuk waktu sedang dan akan, juga untuk perbuatan rutin) membentuk
tajaddud (pembaharuan), contoh seperti

2. Jumlah manfiyah (kalimat negatif)


Kalimat negatif merupakan lawan dari kalimat positif, yaitu kalimat yang
meniadakan hubungan antara subjek dan predikat, seperti berikut: 


(7-6 : 87 ) ,
Kami akan membacakan (Alquran) kepadamu (Muhammad), maka kamu tidak
akan lupa, kecuali kalau Allah menghendaki
3. Jumlah muakkadah (kalimat asertif)
Jumlah muakkadah (kalimat asertif) adalah kalimat yang diwarnai dengan alat-alat
penguat pernyataan. Al-Hasyimi mengemukakan beberapa alat untuk menguatkan


pernyataan. Alat-alat itu ialah: , , yang ada di permulaan kata,
( huruf-huruf yang berfungsi untuk mengingatkan dan huruf-huruf sumpah),
( dua macam nun taukd), huruf tambahan, pengulangan, ,  
, , , dan
. Contoh kalimat asertif seperti: 
(  Sesungguhnya Allah Dialah Maha
(58 : 51   )
Pemberi rizki Yang Mempunyai Kekuatan lagi Sangat Kokoh).
4. Jumlah istifhmiyah (kalimat tanya)
Jumlah istifhmiyah (kalimat tanya) adalah kalimat yang berfungsi untuk meminta
informasi

tentang

sesuatu

yang

belum

diketahui

sebelumnya

dengan

menggunakan salah satu huruf istifhm. Huruf-huruf istifhm ialah: , , ,

, , , , , , , . Contoh kalimat tanya seperti:


(2-1 : 97     )  
( Sesungguhnya Kami telah
menurunkannya (Alquran) pada malam kemuliaan. Dan tahukah kamu apakah
malam kemuliaan itu?)
5. Jumlah al-amr (kalimat perintah)

Al-Hsyimi3 mendefinisikan jumlah al-amr (kalimat perintah) sebagai tuturan


yang disampaikan oleh pihak yang lebih tinggi kedudukannya kepada pihak yang
lebih rendah agar melaksanakan suatu perbuatan, seperti:  


(24-23 : 76     )
( Sesungguhnya Kami telah
menurunkan Alquran kepadamu (hai Muhammad) dengan berangsur-angsur.
Maka bersabarlah kamu untuk (melaksanakan) ketetapan Tuhanmu )
6. Jumlah al-nahy (kalimat larangan)
Al-Hasyimi4 mendefinisikan jumlah al-nahy (kalimat melarang) sebagai tuturan
yang disampaikan oleh pihak yang lebih tinggi kedudukannya kepada pihak yang
lebih rendah agar meninggalkan sesuatu perbuatan, seperti 

(187 : 2 ( )Itulah

larangan

Allah,

maka

janganlah

kamu

mendekatinya.
7. Jumlah al-ardh wa al-tahdhdh (kalimat sindiran dan anjuran)
Hisyam5 mengemukakan bahwa jumlah al-ardh (kalimat sindiran) adalah kalimat
yang digunakan untuk meminta pihak lain melakukan sesuatu dengan hlus dan
sopan, sedangkan jumlah al-tahdhdh (kalimat anjuran) adalah kalimat yang
digunakan untuk meminta pihak lain supaya melakukan sesuatu dengan
menganjurkan dan mendorong. Untuk mencapai maksud tersebut digunakan katakata: , , dan . Contoh seperti: (22 : )
.
8. Jumlah al-tamann (kalimat berangan-angan)
Kalimat tamann (berangan-angan) adalah kalimat yang berfungsi untuk
menyatakan keinginan terhadap sesuatu yang disukai, tetapi tidak mungkin untuk

Al-Hasyimi A, Jawahir al-Balaghah, (Indonesia: Maktabah Dar Ihya al-Kutub alArabiyyah, 1960), hal. 63.
4
I b i d, hal 68.
5
Hisyam, J.I. Mughni al-Labib. (Indonesia: Dar Ihya al-Kutub al-Arabiyyah, tt). hal. 361.

dapat meraihnya, seperti

: )

(79 (Ingin rasanya kami memiliki apa yang diberikan kepada Karun.
Sesungguhnya dia benar-benar memperoleh keberuntungan yang besar).
9. Jumlah al-tarajj (kalimat harapan)
Al-Ghalayani6 mendefinisikan jumlah al-tarajj (kalimat harapan) sebagai
ungkapan yang berfungsi untuk mengungkapkan keinginan terhadap sesuatu yang
disukai yang ada kemungkinan untuk dapat meraihnya, seperti:

(52 : )
.
10. Jumlah al-du (kalimat doa)
Kalimat doa adalah kalimat perintah yang ditujukan kepada yang lebih tinggi
kedudukannya. Contoh seperti:

.
11. Jumlah al-nid (kalimat seruan)
Kalimat seruan adalah kalimat yang berfungsi sebagai ungkapan yang meminta
pihak lain supaya datang, memperhatikan, atau melakukan sesuatu yang
dikehendaki oleh pemanggil dengan menggunakan salah satu huruf al-nid.
Contoh seperti: ( 12 : 19   )
( Hai Yahya, ambillah Al
Kitab (Taurat) itu dengan sungguh-sungguh).

12. Jumlah syarthiyah (kalimat syarat)


Kalimat syarat adalah kalimat yang terdiri dari dua klausa yang dihubungkan
dengan kata sarana tertentu atau hubungan itu bersifat mentalistik. Klausa pertama

Al-Ghalayani, op-cit, hal 299.

disebut syarat, sedangkan yang kedua disebut jawab syarat, seperti


( Barangsiapa yang
(80 : 4 )
mentaati Rasul itu, sesungguhnya ia telah mentaati Allah. Dan barangsiapa
yang berpaling (dari ketaatan itu), maka Kami tidak mengutusmu untuk menjadi
pemelihara bagi mereka).
13. Jumlah al-qasam (kalimat sumpah)
Kalimat sumpah adalah kalimat yang digunakan untuk bersumpah dengan
memakai pola kalimat yang terdiri dari alat untuk bersumpah, nama yang
disumpahkan, dan jawab sumpah, seperti
.

14. Jumlah al-taajjub (kalimat interjektif)
Al-Ghlayani7 mendefinisikan jumlah al-taajjub (kalimat kekaguman) sebagai
pola yang digunakan untuk mengungkapkan kekaguman atau keheranan atas sifat
sesuatu, seperti

15. Jumlah al-madh wa al-dzamm (kalimat pujian dan celaan)


Kalimat pujian ialah kalimat yang digunakan untuk memuji. Sedangkan
kalimat celaan adalah kalimat yang digunakan untuk mencela. Contoh kalimat pujian

 
seperti:    , dan contoh kalimat celaan seperti 



.
QASHAR
Kata menurut bahasa sama dengan yang berarti penjara. Di
dalam Alquran ada ungkapan

)( , juga sama dengan

yang berarti pengistimewaan, seperti dalam ungkapan

Loc-cit

. :
)(
Adapun qashar menurut istilah ulama Balaghah adalah

(mengistimewakan sesuatu atas yang lain dengan jalan tertentu),


seperti mengistimewakan mubtada atas khabarnya dengan jalan nafyi dalam firman
(kehidupan dunia itu semata-mata kesenangan Allah
tipuan) dan seperti mengistimewakan khabar atas mubtada, seperti ungkapan

(Penyair itu hanyalah Mutanabbi). Ada juga definisi lain tentang Qashar,
) ( sebagai berikut:

)(

-
:
- 1
.8 " : ".
. " "
" " .
" " :
" ".
- 2
. :

" "

. :
) ( 9
.

8 1960 183
9 144 :



. :
" ".10
-
) ( :
-1
.
" : " . ": " .
" : "
.
-2
. " :
"
.
.

. " :
"
. .
-

:
:
:
: .
" : "
- : : .
: .
: . : ) : .. ( .. ) : (
:
10 524

: .
: .
:

.
: ) :
11
(

-


:
:

" " .
.
:

" " . :
" : " .


` .
:
. "
" . :
" :
" .


.
:
.
" " . :
:
:
.
11 527


.
.12
-
:
: :
"


"
:
" :









.
"
"
.
:
: "" "" :
" ".
: " :
13 14
15 16

12 529 - 527
13 145 :
14 21 :
15 58 :
16 80 :

."17 "" .
.

.
: "" "" .
. ) :
(18
.
. ) :
(19 : "" "" .
: .
""
" "
. "" ""
. .

)(1

)(2

: " : "
""
:
. :
: .
: .
: .
"" .
. .
.
""
. :
: .
: .

.

17 51 :
18 111 :
19 108 :

)(3

)(1

"" . ""
.
"" .
:
: .
: .
: .
"" "" .
.
: :
.

:
. .
) : (20 :
. :
.
.
.
.
. ) :

.(21
"" ""
"" "" .


.
.
" : "
""

20 5 :
21 36 - 35 :

)(2

)(3

""

.
.

. . :
) .
.
(22
" : ".

. :

.

.
.
.23


:
: 1 .
:2 :

:3 :

:4 :
24
) (

.
22 111213 :
23 544-530

24 19 :

-

..
  
25
..
1. Jumlah ismiyah ialah kalimat yang tersusun dari mubtada dan khabar. Jumlah
ismiyah menurut asalnya digunakan untuk menetapkan sesuatu terhadap sesuatu
tanpa memperdulikan kontinuitas dan pembaharuan. Hal itu, apabila khabar-nya
terdiri dari ism fail atau ism maful, seperti ungkapan dalam teks:

. Sifat mukhtalifah adalah sifat yang melekat pada anwauha, maka dengan
jumlah itu ditujukan untuk menetapkan sifat mukhtalifah kepada anwauha tanpa
pembatasan waktu (lampau, sedang atau akan). Lain halnya jika khabar-nya
terdiri dari fiil, seperti

. Kata ikhtalafat adalah fiil madhi, maka

ungkapan di atas mengandung arti: Macam-macamnya telah berbeda (waktu


lampau).
2. Jumlah filiyah ialah kalimat yang terdiri dari fiil dan fail atau fiil dan naib fail.
Jumlah filiyah mengandung makna pembatasan waktu, yaitu waktu lampau,
sedang dan akan.
3. Taqdim ialah mendahulukan yang seharusnya diakhirkan, seperti mendahulukan
musnad terhadap musnad ilaih. Faidahnya adalah penekanan (taukid).
4. Takhir ialah mengakhirkan yang seharusnya didahulukan.
5. Istikhdam al-adawat. Penggunaan adawat dalam kalimat dimaksudkan untuk
mewarnai dan membatasi kalimat itu. Semakin banyak adawat yang digunakan,
maka semakin jelaslah pembatasan kalimat itu dan semakin jelaslah maksudnya.
184 1979 - 25

Jika adawat-nya dibuang, maka kalimatnya menjadi rancu dan tidak jelas
maksudnya. Ungkapan pada teks seperti

merupakan salah satu contoh penggunaan adawat, yaitu menggunakan

adat al-syarth

yang dihubungkan dengan fiil madhi. Di sini terjadi dua

adawat, yang pertama adalah adat al-syarth


menghubungkan adat al-syarth
syarth

dan yang kedua adalah

kepada fiil madhi, karena biasanya adat al-

dihubungkan kepada fiil mudhari. Tujuannya untuk memberikan

tekanan terhadap kepastiannya (saking sudah pastinya).


6. Khabar ialah pembicaraan yang mengandung kemungkinan benar dan bohong
semata-mata dilihat dari pembicaraannya itu sendiri.
7. Insya ialah pembicaraan yang tidak mengandung kemungkinan benar dan bohong
dari sisi pembicaraannya itu. Insya itu ada dua macam, yaitu insya thalabi dan
insya ghair thalabi. Insya ghair thalabi berupa pujian atau celaan, sumpah,
taajjub dan harapan, dan ini bukan kajian balaghah. Sedangkan insya thalabi bisa
berupa menyuruh, melarang, bertanya, tamanni dan nida.. Contoh insya thalabi
yang berupa perintah dalam teks adalah seperti

3. Ijaz ialah ungkapan yang mengandung makna lebih dari yang diungkapkan.
Macamnya ada dua, yaitu:
8. Ijaz qashar ialah bertambahnya makna tanpa ada kata yang dibuang, seperti firman
Allah:

. Ayat ini kalimatnya pendek tapi maknanya

panjang, yaitu dengan diadakannya hukum qishash, para pembunuh akan merasa
takut untuk membunuh, karena dengan membunuh orang lain berarti membunuh
dirinya sendiri. Maka dengan tidak adanya pembunuhan berarti ada kehidupan.

Contoh ijaz qashar dalam teks adalah seperti

. Kalimatnya

pendek, tapi maknanya panjang, bahwa orang bodoh serba susah, susah dalam
segala hal, tentunya lebih parah dari kemiskinan.
9. Ijaz hadzf ialah ijaz dengan cara membuang salah satu kata yang tidak akan
merusak terhadap pemahaman kalimat itu. Yang dibuang bisa berupa huruf,
seperti firman Allah

,
( )

ism mudhaf seperti firman Allah

, ism mudhaf ilaih seperti firman


( )
Allah

( ) , ism maushuf

seperti firman Allah

(
)

seperti firman Allah

( )

syarath seperti firman Allah (


seperti firman Allah

( ) , musnad ilaih seperti firman Allah

, mutaallaq seperti firman

( )

firman Allah

) , jawab syarath

( )

musnad seperti firman Allah

Allah

, ism shifah

, satu jumlah seperti

, atau
( )

beberapa jumlah

seperti firman Allah

:
(

10. Ithnab ialah menambah kata-kata untuk suatu makna karena tujuan tertentu,
seperti untuk penekanan dan sebagainya, seperti firman Allah

, ungkapan sepanjang ini untuk menyatakan bahwa dia


sudah tua, tapi ada faidahnya, yaitu minta dikasihani oleh Allah swt. Jika dalam
penambahan itu tidak ada manfaat, maka dinamakan tathwil atau hasywu. Macammacam ithnab:
10.1. Dzikr al-khash bada al-am, sepewrti firman Allah:


10.2. Dzikr al-am bada al-khash, contoh sepetrti:
.

10.3. Al-Idhah bada al-ibham, seperti firman Allah:

`




10.4. Al-Takrir, contoh :

10.5. Al-Itiradh, yaitu jumlah penyelang untuk tujuan doa dan sebagainya,
seperti ucapan:

" " .

10.6. Al-Ighal untuk mubalaghah, seperti firman Allah:


.

10.7. Al-Tadzyil, seperti firman Allah:

11. Washal ialah menghubungkan satu jumlah kepada jumlah yang lain dengan
menggunakan wawu. Washal terjadi dalam 3 keadaan:

11.1. Apabila kedua jumlah itu sama-sama khabariyah atau sama-sama insyaiyah
baik lafaznya maupun maknanya, seperti firman Allah:

. Contoh washal dengan model ini dalam teks adalah

seperti
.

11.2. Apabila kedua jumlah itu berbeda, yang satu khabariyah dan yang satunya
lagi insyaiyah, jika tidak diwashalkan akan menimbulkan salah paham,
seperti ucapan dalam jawaban pertanyaan tentang kesembuhan seseorang:

.
11.3. Dimaksud menyertakan jumlah kedua kepada jumlah yang pertama, seperti :

.
12. Fashal ialah memisahkan kedua jumlah dengan tidak menggunakan wawu. Fashal
terjadi dalam 5 keadaan:
12.1. Kamal al-ittishal, bersatunya kedua jumlah secara utuh. Dalam hal ini,
jumlah kedua bisa berupa badal dari jumlah pertama, seperti firman Allah:


maka jumlah

merupakan badal dari jumlah pertama

Atau berupa bayan, seperti:


,
maka jumlah

merupakan penjelasan (bayan) terhadap jumlah

pertama. Atau berupa taukid, seperti firman Allah

maka jumlah

merupan taukid terhadap jumlah pertama.

12.2. Kamal al-inqitha, yaitu bahwa kedua jumlah itu berbeda, seperti jumlah
yang pertama khabar dan jumlah yang kedua insya atau sebaliknya, seperti
ungkapan

. Atau tidak ada kesesuaian sama sekali di

antara kedua jumlah itu, seperti ucapan

12.3. Syibh kamal al-ittishal, yaitu apabila jumlah kedua memiliki hubungan yang
sangat kuat dengan jumlah pertama, karena kedudukannya sebagai jawaban
dari pertanyaan yang muncul dari pemahaman jumlah pertama, seperti
dalam firman Allah:

12.4. Syibh kamal al-inqitha, yaitu meninggalkan athaf untuk menghindari


kesalahpahaman, seperti ungkapan dalam syiir:

*
Jumlah

dapat di athaf-kan kepada jumlah

. Akan tetapi dengan

adanya wawu athaf dikhawatirkan terjadi salah paham, sehingga ber-athaf


kepada jumlah

12.5. Al-Tawassuth baina al-kamalain maa qiyam al-mani, yaitu bahwa kedua
jumlah itu ada munasabah, di antara keduanya ada hubungan yang kuat,
cuma ada penghalang untuk diathaf-kan, karena tidak sama dalam hukum,
seperti firman Allah




.
jumlah

tidak dapat diathaf-kan kepada


-1
-2 .1968
-3       
.1996
-4
.1960
-5 .1988
-6          
.1979
-7    
.1996
-8 1984
-9         
.1991
-10 
.1982
-11          
.1997
-12 .1951
-13    
.1997
-14     
.1996