Anda di halaman 1dari 15

BAB I PENDAHULUAN

I.

LATAR BELAKANG Air merupakan bahan yang sangat penting bagi kehidupan manusia dan fungsinya tidak pernah digantikan oleh senyawa lain. Air juga merupakan komponen penting dalam bahan makanan. Bila badan manusia hidup dianalisis komposisi kimianya, maka akan diketahui bahwa kandungan airnya rata-rata 65 % atau sekitar 47 liter per orang dewasa. Setiap hari sekitar 2,5 liter air harus diganti dengan air yang baru. Diperkirakan dari sejumlah air yang harus diganti tersebut 1,5 liter berasal dari air minum. Dengan demikian, kebutuhan air untuk tubuh manusia merupakan hal yang pokok. Air untuk keperluan minum tidap sama persis dengan pengertian air secara kimiawi, karena air minum merupakan air (kimiawi) yang mengandung unsur-unsur tertentu (termasuk mineral) yang diperlukan tubuh. Bahan-bahan minerak tersebut antara lain kalsium, magnesium, natrium, besi dan lain-lain. Namun jumlah mineral yang terlarut dalam air minum tidak boleh melebihi ambang batas yang diperlukan tubuh. Jika mineral-mineral tersebut jumlahnya sangat tinggi dan melebihi nilai

ambang batas, dapat menggangu proses dan mekanisme dalam tubuh. Oleh karena itu, pemerintah menetapkan standar-standar kualitas air melalui Peraturan Pemerintah nomor 20 tahun 1990. Golongan-golongan air tersebut adalah: Golongan A : air yang dapat digunakan sebagai sumber air minum secara langsung tanpa pengolahan terlebih dahulu. Golongan B : air baku yang baik untuk air minum dan rumah tangga dan dapat dimanfaatkan untuk keperluan lainnya tetapi tidak sesuai dengan golongan A.

Golongan C

: air yang baik untuk keperluan perikanan dan peternakan dan dapat dimanfaatkan untuk keperluan lainnya tetapi tidak sesuai untuk keperluan tersebut pada golongan A dan B.

Golongan D

: air yang baik untuk keperluan pertanian dan dapat dimanfaatkan untuk perkantoran, industri, listrik tenaga air, lalu lintas air dan keperluan lainnya, tetapi tidak sesuai untuk keperluan tersebut pada golongan A, B dan C.

Golongan E

: air yang tidak sesuai untuk keperluan tersebut pada golongan A, B, C dan D

Air yang akan dibahas dalam makalah ini adalah air hasil pemeriksaan laboratorium yang akan dipakai sebagai air golongan B atau air untuk keperluan minum dan rumah tangga.

II.

PERMASALAHAN Suatu pemeriksaan laboratorium terhadap suatu badan air disajikan sebagai berikut: Suhu Kekeruhan Warna pH NO2 Fosfat (PO4-P) Klorida Sulfat Besi Timbal Kesadahan : 30oC : 15 NTU : 23 TCU : 8.5 : 4.5 ppm : 9 ppm : 650 : 300 ppm : 1 ppm : 0.02 ppm : 600 ppm CaCO3

Permasalahan yang akan dibahas antara lain: 1. Apakah air hasil pemeriksaan laboratorium tersebut bisa digunakan sebagai air minum dan air keperluan rumah tangga (air kualitas B)? 2. Bagaimanakah cara pengolahan air minum tersebut agar bisa digunakan sebagai air minum dan air keperluan rumah tangga (air kualitas B)?

BAB II PEMBAHASAN

I.

PEMBAHASAN 1.1 Perbandingan Air Hasil Uji Laboratorium dengan Kriteria Air Kualitas B Menurut Peraturan Pemerintah Nomor 20 Tahun 1990 Kriteria air kualitas B menurut Peraturan Pemerintah nomor 20 tahun 1990 adalah sebagai berikut:

Parameter

Satuan

Minimum yang Maksimum Dianjurkan yang Diperbolehkan

Keterangan

FISIKA Temperatur Residu terlarut KIMIA pH Barium Besi total Mangan total Tembaga Seng Krom heksavalen Cadmium Raksa total Timbal Arsen Selenium Sianida mg/L mg/L mg/L mg/L mg/L mg/L mg/L mg/L mg/L mg/L mg/L mg/L 5-9 0 1 0 0 1 0 0 0.0005 0.005 0 0 0 5-9 1 5 1 1 15 0.05 0.01 0.001 0.01 0.05 0.01 0.05
o

Tem.air normal 500

Tem.air normal 1500

mg/L

Sulfida Fluorida Klorida Sulfat Amoniak Nitrat Nitrit DO

mg/L mg/L mg/L mg/L mg/L mg/L mg/L mg/L

0 0.5 200 200 0.01 5 0

0 1.5 600 400 0.5 10 1 Air permukaan dianjurkan 6

BOD COD Metilen Blue Fenol Minyak dan lemak Karbonkloroform terekstrak FCB BAKTERIOLOGI Kolifora Group

mg/L mg/L mg/L mg/L mg/L mg/L

6 10 0 0.001 0 0.04

0.5 0.002 0 0.05

mg/L

MPM/1 00mL

10 000

Kolifera Tinja

MPM/1 00mL

2 000

RADIOAKTIVITAS Aktivitas Beta Total Strontium-90 Radium-226 PESTISIDA Aldrin mg/L 0 0.017 pCi/L pCi/L pCi/L 100 2 1

Chlordane DDT Dieldrin Endrin Heptaklor Heptaklor apoxide Lindane Metxy chlor Organofosfatdan karbonat Toxaphene

mg/L mg/L mg/L mg/L mg/L mg/L mg/L mg/L mg/L

0 0 0 0 0 0 0 0

0.003 0.012 0.017 0.001 0.018 0.018 0.056 0.055 0.1

mg/L

0.005

Perbandingan antara kriteria air kualitas B menurut Peraturan Pemerintah nomor 20 tahun 1990 dengan data air hasil pemeriksaan laboratorium adalah sebagai berikut: Parameter Suhu,oC Kekeruhan, NTU Warna, TCU pH NO2, ppm Fosfat, ppm Klorida, ppm Sulfat, ppm Besi, ppm Timbal, ppm Kesadahan, ppm Kriteria PP no. 20 tahun 1990 5-9 1 600 400 5 0.01 30 15 23 8.5 4.5 9 650 300 1 0.02 600 Hasil Pemeriksaan Laboratorium

Berdasarkan tabel di atas, dapat disimpulkan bahwa air minum hasil pemeriksaan laboratorium tersebut dapat dipakai menjadi air

golongan B (air minum dan air keperluan rumah tangga), jika diolah terlebih dahulu. Pengolahan yang harus dilakukan adalah: Pengurangan kadar klorida dalam air Pengurangan kadar NO2 (nitrit) dalam air Pengurangan kadar timbal dalam air 1.2 Cara Pengolahan Air Hasil Uji Laboratorium agar Bisa Dipakai Menjadi Air Golongan B 1.2.1 Pengurangan Kadar Klorida dalam Air Kandungan Klorida dalam air dalam jumlah kecil tidak berpengaruh, tetapi dalam konsentrasi tinggi,

menyebabkan masalah. Biasanya konsentrasi klorida dalam air rendah. Kadar rendah atau menengah dari senyawa ion tersebut menambah rasa segar pada air. Pada kenyataannya, klorida dibutuhkan karena alasan tersebut. Jumlah

konsentrasi yang berlebihan dari klorida akan membuat air jadi tidak enak diminum. Namun, klorida dengan

konsentrasi yang lebih besar, air tersebut bisa menjadi masalah, khususnya untuk orang-orang yang tidak terbiasa dengan air seperti itu. Klorida menjadikan air terasa asin. Dalam kadar konsentrasi apapun, klorida menjadi terasa dan tergantung dari individu masing-masing. Dalam konsentrasi tinggi, klorida menyebabkan air menjadi payau, rasa asin yang sama sekali tidak diinginkan. Walaupun klorida sangat larut, klorida memiliki stabilitas. Stabilitas ini memungkinkan mereka bertahan dari perubahan dan tetap konstan dalam air apapun, kecuali air yang dicemari oleh industri. Klorida menyumbang total kandungan mineral pada air. Seperti yang diindikasikan di atas, total konsentrasi dari mineral mungkin memiliki efek yang bervariasi. Konsentrasi yang tinggi dari ion klorida mengakibatkan pertambahan kemampuan konduktivitas

listrik air. Klorida dapat dihilangkan dari air dengan Reverse osmosis, deionisasi (demineralisasi) atau destilasi. a. Proses Reverse Osmosis Proses reverse osmosis pada prinsipnya adalah kebalikan proses osmosis. Dengan memberikan tekanan larutan dengan kadar garam tinggi (concentrated solution) supaya terjadi aliran molekul air yang menuju larutan dengan kadar garam rendah (dilute solution). Pada proses ini molekul garam tidak dapat menembus membransemipermeable, sehingga yang terjadi

hanyalah aliran molekul air saja. Melalui proses ini, kita akan mendapatkan air murni yang dihasilkan dari larutan berkadar garam tinggi. Inilah prinsip dasar reverse osmosis. Berdasarkan penjelasan sederhana di atas, dalam proses reverse osmosis minimal selalu membutuhkan dua komponen yaitu adanya tekanan tinggi (high pressure) dan membransemipermeable. b. Deionisasi/Demineralisasi Demineralisasi adalah sebuah proses

penghilangan kadar garam dan mineral dalam air melalui proses pertukaran ion (ion exchangeprocess) dengan menggunakan media resin/softener anion dan kation. Proses ini mampu menghasilkan air dengan tingkat kemurnian yang sangat tinggi (ultrapure water) dengan jumlah kandungan kandungan Ionik dan anionik nya mendekati angka nol sehingga mencapai batas yang hampir tidak dapat dideteksi lagi. Proses demineralisasi terjadi didalam 2 tabung penukar ion (ionexchanger tank) yang berisikan resin penukar ion positif (kation resin) dan resin penukar ion negatif (anion resin).

Pada tabung yang berisikan resin kation terjadi proses pertukaran ion-ion positif seperti magnesium (Mg), calcium (Ca) dan natrium (Na) dengan ion H+ dari resin kation, sedangkan pada tabung anion terjadi pertukaran ion-ion negatif seperti Cl-, SO42-, SiO2 dengan ion OH- dari resin anion. Penukar ion yang dipakai bisa berupa basa kuat, dengan reaksi sebagai berikut: RR3NOH + Cl- RR3NCl + OHAtau berupa basa lemah, dengan reaksi sebagai berikut: RNH3OH + Cl- RNH3Cl + OH1.2.2 Pengurangan Kadar NO2 (Nitrit) dalam Air Bagi anak-anak dan orang dewasa pemakaian makanan yang mengandung nitrit ternyata membawa pengaruh yang kurang baik. Nitrit bersifat toksin bila dikonsumsi dalam jumlah yang berlebihan. Nitrit dalam tubuh dapat mengurangi masuknya oksigen ke dalam sel-sel atau otak. Menurut beberapa ahli kimia, nitrit yang masuk ke dalam tubuh akan bereaksi dengan amino dalam reaksi yang sangat lambat membentuk berbagai jenis nitrosamin yang kebanyakan bersifat karsinogenik kuat.Nitrit dapat berikatan dengan aminoatau amida dan membentuk turunan nitrosamin yang bersifat toksik (Muchtadi, 2008). Nitrosamin merupakan zat karsinogenik yang dapat menimbulkan kanker pada

berbagaimacam jaringan tubuh (Anwar, 2004) Nitrit dan nitrat yang berlebihan dalam tubuh dapat menyebabkan methemoglobinsimptomatik. Pada anak-anak dan orang dewasa, nitrat diabsorbsi dan disekresikan sehingga resikountuk keracuna nitrat jauh lebih kecil (Utama, 2008). Menurut Silalahi dalam Darius (2007) bahwa methemoglo yang di dalamnya ion Fe2+ diubah menjadi ion Fe3+ dan

kemampuannya untuk mengangkut oksigen telah berkurang. Hemoglobin adalah pigmen darah merah yang berfungsi untuk mengikatoksigen dari paru-paru untuk dialirkan ke seluruh tubuh kita (Muchtadi, 2008).Kandungan methemoglobin dalam darah 30-40% dapat menimbulkan gejala klinis berkaitan dengankekurangan oksigen dalam darah (hypoxia), karena darah tidak mampu berperan sebagai pembawa oksigen. Warnadarah berubah dari merah normal menjadi kecokelatan (gelap) (Pranita, 2007). Penderita

methemoglobin(methemoglobinemia) akan menjadi pucat, cianosis (kulit menjadi biru), sesak nafas, muntah dan shock. Kemudiankematian penderita akan terjadi apabila kandungan methemoglobin lebih tinggi dari 70 % (Cahyadi, 2006). Oleh karena itu, nitrit sebaiknya tidak terkandung dalam air melebihi ambang batas yang telah ditentukan. Cara mengurangi kadar nitrit yang terkandung dalam air adalah dengan proses demineralisasi. 1.2.3 Pengurangan Kadar Timbal dalam Air Timbal yang masuk ke tubuh melalui air minum berbahaya bagi kesehatan karena dapat menyebabkan

keracunan, antara lain: a. Keracunan akut Keracunan timbal akut jarang terjadi. Keracunan timbal akut secara tidak sengaja yang pernah terjadi adalah karena timbal asetat. Gejala keracunan akut mulai timbul 30 menit setelah meminum racun. Berat ringannya gejala yang timbul tergantung pada dosisnya. Keracunan biasanya terjadi karena masuknya senyawa timbal yang larut dalam asam atau inhalasi uap timbal. Efek adstringen menimbulkan rasa haus dan rasa logam

disertai rasa terbakar pada mulut.

Gejala lain yang

sering muncul ialah mual, muntah dengan muntahan yang berwarna putih seperti susu karena Pb klorida dan rasa sakit perut yang hebat. Lidah berlapis dan nafas mengeluarkan bau yang menyengat. Pada gusi terdapat garis biru yang merupakan hasil dekomposisi protein karena bereaksi dengan gas Hidrogen Sulfida. Tinja

penderita berwarna hitam karena mengandung Pb Sulfida, dapat disertai diare atau konstipasi. Sistem

syaraf pusat juga dipengaruhi, dapat ditemukan gejala ringan berupa kebas dan vertigo. Gejala yang berat

mencakup paralisis beberapa kelompok otot sehingga menyebabkan pergelangan tangan terkulai (wrist dop) dan pergelangan kaki terkulai (foot drop). b. Keracunan subakut Keracunan sub akut terjadi bila seseorang berulang kali terpapar racun dalam dosis kecil, misalnya timbal asetat yang menyebabkan gejala-gejala pada sistem

syaraf yang lebih menonjol, seperti rasa kebas, kaku otot, vertigo dan paralisis flaksid pada tungkai. Keadaan ini kemudian akan diikuti dengan kejang-kejang dan koma. Gejala umum meliputi penampilan yag gelisah, lemas dan depresi. Penderita sering mengalami

gangguan sistem pencernaan, pengeluaran urin sangat sedikit, berwarna merah. Dosis fatal : 20 - 30 gram. Periode fatal : 1-3 hari. c. Keracunan kronis Keracunan timbal dalam bentuk kronis lebih sering terjadi dibandingkan keracunan akut. Keracunan timbal kronis lebih sering dialami para pekerja yang terpapar timbal dalam bentuk garam pada berbagai industri,

karena itu keracunan ini dianggap sebagai penyakit industri. seperti penyusun huruf pada percetakan,

pengatur komposisi media cetak, pembuat huruf mesin cetak, pabrik cat yang menggunakan timbal, petugas pemasang pipa gas. Bahaya dan resiko pekerjaan itu ditandai dengan TLV 0,15 mikrogram/m3 atau 0,007 mikrogram/m3 bila sebagai aerosol. Keracunan kronis juga dapat terjadi pada orang yang minum air yang dialirkan melalui pipa timbal, juga pada orang yang mempunyai kebiasaan menyimpan Ghee (sejenis

makanan di India) dalam bungkusan timbal. Keracunan kronis dapat mempengaruhi system syaraf dan ginjal, sehingga menyebabkan anemia dan kolik,

mempengaruhi fertilitas, menghambat pertumbuhan janin atau memberikan efek kumulatif yang dapat muncul kemudian. Oleh karena itu, kadar timbal dalam air perlu dikurangi dengan cara: a. Adsorbsi Adsorbsi adalah akumulasi suatu zat pada antar muka (interface) diantar dua fase. Zat yang diserap disebut adsorbat/solute dan zat yang menyerap disebut adsorben. Banyak zat dipakai sebagai adsorben untuk menyerap zat pengotor dalam cairan. Adsorben yang umum dipakai secara komersial misalnya, silica gel, alumina, molekulmelekul penyaring dan karbon aktif. b. Destilasi Proses destilasi menggunakan sumber panas untuk menguapkan air. Tujuan dari destilasi adalah memisahkan molekul air murni dari kontaminan yang punya titik didih lebih tinggi dari air. Destilasi, mirip dengan R.O.,

menyediakan air bebas mineral untuk digunakan di laboratorium sains atau keperluan percetakan. Destilasi membuang logam berat seperti timbal, arsenic, dan merkuri.Meskipun destilasi dapat membuang mineral dan bakteri, tapi tetap tidak bisa menghilangkan klorin, atau VOC (volatile organic chemicals) yang mempunyai titik didih lebih rendah dari air. Destilasi, seperti halnya R.O., memberikan air bebas mineral yang bisa berbahaya bagi tubuh karena keasamannya. Air bersifat asam dapat merampas kandungan mineral dari tulang dan gigi.

BAB III KESIMPULAN DAN SARAN

I.

Kesimpulan Dari penjabaran mengenai data air golongan B dengan kriteria yang telah disebutkan, terdapat 3 indikasi mineral yang terkandung dalam air tersebut yang melebihi baku mutu berdasarkan PP no.20 tahun 1990. Indikkasi tersebut adalah: adanya kelebihan angka baku mutu pada kandungan Cl-, NO2, dan timbal. Untuk mengurangi kadar klorin yang terdapat dalam air golongan B, dilakukan proses reserve osmosis dan deionisasi/demineralisasi. Sedangkan untuk menguragi kadar NO2 dilakukan demineralisasi, dan untuk mengurangi kadar timbal dilakukan proses adsorbsi dan destilasi.

II.

Saran Saran yang dapat diberikan penulis antara lain: mengetahui terlebih dahulu golongan air yang akan digunakan. Bila untuk air minum, sebaiknya dilakukan pengecekan terhadap baku mutu yang telah ada. Jika air minum yang akan digunakan tidak memenuhi baku mutu, sebaiknya dilakukan beberapa treatment demi kesehatan penggunaan.

DAFTAR PUSTAKA Aina, Nur. 2008. Baku Mutu Air Nasional. Jakarta. Narasinga, Rao. 1078. Analysis In Vitro methode for Predicting the Bioavailability of Iron From Food. The American Journal of Clinical Nutrition. Palar, H. 1994.Pencemaran dan Toksikologi Logam Berat. Rineke Cipta: Jakarta. http://staff.uny.ac.id/sites/default/files/pengabdian/suyanta-msi-dr/pengolahanairppmyuli.pdf http://www.bsn.go.id/files/348256349/Litbang%202009/Bab%203.pdf http://www.cheersindonesia.com/otherwat-id.shtml http://www.chem-is-try.org/materi_kimia/kimia-lingkungan/zat-aditif/natriumnitrit-atau-sodium-nitrit/ http://www.kelair.bppt.go.id/Publikasi/BukuAirMinum/BAB4PENGANTAR.pdf http://www.pom.go.id/public/siker/desc/produk/Timbal.pdf http://www.profil.waterindonesia.com/main/wpcontent/uploads/2010/06/PRINSIP-KERJA-REVERSE-OSMOSIS.pdf http://www.scribd.com/doc/78830478/laporan-nitrit http://www.waterpluspure.com/demineralisasi-system-proses-konvensional-pen