Anda di halaman 1dari 33

PROTEIN

LAPORAN RESMI PRAKTIKUM DASAR TEKNIK KIMIA II


Materi

PROTEIN

Disusun Oleh :

Group Nama

: II / Rabu Pagi : Gilas Gigih Prasetyo Riang Anggraini R Zakiyah Fitri Kahar (21030111120003) (21030111130056) (21030111130050)

LABORATORIUM DASAR TEKNIK KIMIA II TEKNIK KIMIA FAKULTAS TEKNIK UNIVERSITAS DIPONEGORO SEMARANG 2012
i

PROTEIN
LEMBAR PENGESAHAN Laporan resmi Praktikum Dasar Teknik Kimia II dengan materi protein yang disusun oleh : Kelompok Anggota : II / Rabu Pagi : 1. Gilas Gigih Prasetyo 2. Riang Anggraini R. 3. Zakiyah Fitri Kahar Telah disahkan pada Hari : Tanggal : 21030111120003 21030111130056 21030111130050

Semarang,

Juni 2011

Mengesahkan Asisten

Agmarina Laila N. 21030110130101

ii

PROTEIN
KATA PENGANTAR Puji syukur penulis panjatkan Kehadirat Allah SWT atas segala limpahan rahmat, karunia dan hidayah-Nya sehingga penulis dapat menyelesaikan Laporan Resmi Praktikum Dasar Teknik Kimia II dengan materi Protein. Dalam laporan ini penulis meyakini sepenuhnya bahwa tidaklah mungkin menyelesaikan makalah ini tanpa doa, bantuan dan dukungan baik secara langsung maupun tidak langsung. Pada kesempatan ini penulis ingin memberikan rasa terima kasih kepada : 1. Ir.C.Sri Budiyati, MT selaku Koordinator Dosen Praktikum Dasar Teknik Kimia II 2. Asisten Laboratorium Dasar II Teknik Kimia Universitas Diponegoro. 3. Kedua orang tua atas doa, kesabaran, limpahan kasih sayang, dukungan, dan pengorbanan yang telah diberikan. 4. Teman-teman angkatan 2011 Teknik Kimia Univeritas Diponegoro Penulis meyakini bahwa laporan ini jauh dari kesempurnaan. Mohon maaf apabila terdapat kekurangan bahkan kesalahan. Penulis mengharapkan kritik dan saran yang membangun dari semua pihak berkaitan dengan laporan ini. Akhir kata, semoga laporan ini dapat bermanfaat bagi semua pihak dan dapat berguna sebagai bahan penambah ilmu pengetahuan.

Semarang, Juni 2012

Penulis

iii

PROTEIN
DAFTAR ISI HALAMAN JUDUL .......................i LEMBAR PENGESAHAN........ii KATA PENGANTAR ..................................iii DAFTAR ISI ....iv DAFTAR TABEL..............................................................................................vi DAFTAR GAMBAR............vii INTISARI SUMMARY BAB I PENDAHULUAN I.1 Latar Belakang ............................1 I.2 Tujuan Percobaan.....................................................1 I.3 Manfaat Percobaan...................................1 BAB II TINJAUAN PUSTAKA II.1 Asam Amino....................................................................................2 II.2 Klasifikasi Protein...........................................................................2 II.3 Kegunaan Protein............................................................................3 II.4 Metode Kjedahl...............................................................................3 II.5 Hal yang Perlu Diperhatikan...........................................................4 II.6 Fungsi Reagen.................................................................................4 II.7 Faktor Konversi...............................................................................5 BAB III METODOLOGI PERCOBAAN III.1. Bahan dan Alat yang Digunakan III.1.1. Bahan..........................................................................................7 III.1.2. Alat-alat ......................................................................................7 III.2. Gambar Rangkaian Alat.................................................................7 III.3. Cara Kerja.......................................................................................8 BAB IV HASIL PERCOBAAN DAN PEMBAHASAN IV.1. Hasil Percobaan .......................................10 IV.2. Pembahasan .............................................................10 BAB V PENUTUP V.1 Kesimpulan........................................15 V.2 Saran..............................................................................................15

iv

PROTEIN
DAFTAR PUSTAKA........................................................................................16 LAPORAN SEMENTARA............................................................................A-1 LEMBAR PERHITUNGAN REAGEN..........................................................B-1 LEMBAR PERHITUNGAN...........................................................................B-2 LEMBAR KUANTITAS REAGEN ..............................................................C-1 LAMPIRAN REFERENSI LEMBAR ASISTENSI

PROTEIN
DAFTAR TABEL Tabel IV.1 Tabel Hasil Percobaan ...............................................................10

vi

PROTEIN
DAFTAR GAMBAR Gambar III.2.1 Gambar Rangkaian Alat Destruksi.....................................7 Gambar III.2.2 Gambar Rangkaian Alat Destilasi.......................................8 Gambar III.2.3 Gambar Rangkaian Alat Titrasi...........................................7

vii

PROTEIN
INTISARI Protein merupakan senyawa organik yang jumlah molekulnya sangat besar , susunannya sangat kompleks serta tersusun dari rangkaian asam asam amino. Protein terdiri dari unsur C,H, O, dan N . Kadang kadang dijumpai S dan P. Analisa protein ini bertujuan agar dapat merangkai alat analisa protein dengan benar , memahami reaksi reaksi yang terjadi pada senyawa protein dan dapat menentukan kadar protein pada sampel ikan mujair. Dalam percobaan ini digunakan Metode Kjeldahl karena pengerjaannya mudah dan kesalahannya tidak terlalu besar. Metode ini terdiri dari tiga tahap, yaitu destruksi, destilasi, dan titrasi. Pada percobaan ini, pertama-tama menimbang 10 gram ikan mujair yang sudah dihaluskan dan dikeringkan, masukkan dalam labu digester. Tambahkan 10 gram Na2S2O3, 5 gram CuSO4.5H2O dan 30 ml H2SO4(p). Setelah itu , didestruksi selama kurang lebih 2 jam. Jika destruksi telah sesuai campuran tersebut didestilasi dengan pemanasan , tambahkan NaOH dalam campuran tersebut. Hasilnya (destilat) ditampung dalam erlenmeyer yang berisi 100 ml larutan boraks. Setelah itu destilat diambil 10 ml. kemudian ditambah 3 tetes MO dan dititrasi dengan HCl sebanyak 3 kali. Hasil percobaan yang kami dapatkan, kadar protein yang kami temukan dalam ikan mujair setelah 3 kali percobaan kemudian dirata rata adalah 6,510875 %, kadar aslinya 1,82 %. Sehingga % error yang diperoleh sebesar 257,14 %. Kadar yang lebih besar ini disebabkan hasil destruksi yang tidak jernih dan pemanasan yang kurang merata. Asam boraks berfungsi sebagai penangkap NH3 dan sebagai destilat berupa gas yang bersifat basa. Protein sel tunggal merupakan bahan makanan berkadar protein tinggi. Selain itu normalitas HCl berpengaruh terhadap kadar protein. Agar praktikum lebih baik sampel yang digunakan harus benar benar halus dan kering. Pemanasan saat destruksi harus merata, mengusahakan NaOH dan protein habis secara bersamaan, cermat dalam melihat TAT dan pada saat perangkaian alat destilasi.

PROTEIN
SUMMARY Protein is a very big molecul of organic acid compounds which their structure is very complex and compose of a series of amino acids. Protein consisting of the elements C, H, O, and N. Sometimes found S and P in protein. Protein analysis aims to assemble a protein analysis tool correctly, to understand the reactions that occurs in protein compounds and to determine the protein levels in tilapia fish samples. The method that used in this experiment is Kjeldahl because the process is easy and not very big mistake. This method consists of three stages, namely destruction, distillation, and titration. In this experiment, firstly, weigh 10 grams tilapia fish that have been mashed and dried, put in the digester flask. Add 10 grams of Na2S2O3, 5 grams CuSO4.5H2O and 30 ml of H2SO4 (p). After that, destructed for about 2 hours. If the destruction has finished, the mixture is distilled with the heating, add NaOH in the mixture. The result (distillate) accommodated in a 100ml erlenmeyer containing a solution of borax. After that 10 ml of distillate taken. Then add 3 drops of MO and titrated with HCl 3 times. The experimental results we got, we found that protein levels in tilapia fish after 3 times trial and the averaged is 6,510875%, the original content is 1,82%. So that the% error is 257.14%. Greater levels is due to the destruction that is not clear and uneven heating. Borax acid serves as a catcher in the form of NH3 and as the distillate which is alkaline gases. A single cell protein is a high protein yield food. In addition to the normality of HCl effected on protein levels. In order that practical is better sample that used has to be really smooth and dry. The heating at destruction has to be spread evenly, NaOH and protein depleted simultaneously, careful in looking TAT and at the coupling the distillation equipment.

PROTEIN
BAB I PENDAHULUAN I.1. Latar Belakang Protein adalah senyawa organik dengan jumlah molekul yang benar yaitu susunannya kompleks yang terdiri dari rangkaian asam amino. Protein disusun oleh C, H, O, N terkadang terkadang S dan P. Dalam kehidupan sehari hari, hasil protein sangat besar manfaatnya , diantaranya sebagai zat pembangun, pengganti sel sel yang rusak dan sebagai buffer untuk menjaga pH dalam tubuh. Untuk itu dilakukan percobaan analisa protein yang memiliki tujuan utama menentukan kadar protein suatu bahwa secara kuantitstif sehingga dapat diperoleh kuantitas protein yang sebenarnya dapat digunakan untuk kehidupan sehari hari. I.2. Tujuan Percobaan Mahasiswa mampu menyusun rangkaian alat analisa protein dan mengoperasikannnya , memahami reaksi reaksi yang terjadi pada protein , dan cara menentukan kadar protein pada daging ikan mujair dengan metode kjeldahl sesuai prosedur yang benar. I.3 Manfaat Percobaan Mahasiswa dapat mengetahui sifat sifat dan klasifikasi protein Mahasiswa dapat mengetahui metode metode analisa kadar protein Mahasiswa dapat melakukan percobaan sesuai prosedur

PROTEIN
BAB II TINJAUAN PUSTAKA Protein merupakan suatu senyawa organik dengan jumlah molekul yang sangat besar, susunannya sangat kompleks serta tersusun dari rangkaian asamasam amino. Ikatan utama asam amino yang satu dengan yang lainnya terjadi karena adanya ikatan peptida, sehingga protein sering disebut polipeptida. Protein terdiri dari unsur-unsur C, H, O, dan N serta kadang kadang dijumpai S dan P. Bila protein dihdrolisa dengan menggunakan larutan asam atau bantuan enzim, menghasilkan asam amino. II.1. Asam Amino Asam amino merupakan asam organik yang mempunyai gugus COOH yang bersifat asam dan gugus NH2 yang bersifat basa. Di dalam asam aminio baik gugus yang bersifat basa maupun adalah lemah. II.2 Klasifikasi Protein 1. Berdasarkan berat molekul a. b. a. b. c. d. e. f. a. b. a. b. Molekul Globular Protein Fibrosa Albumin Globulin Histerin Protamine Keratin Elastin Protein Hewani Protein Nabati Protein enzim Protein hormon 2

2. Berdasarkan komponen penyusun

3. Berdasarkan sumbernya

4. Berdasarkan fungsi biologis

PROTEIN
c. d. e. Protein pembangun Protein kontraktil Protein pengangkut

II.3. Kegunaan Protein 1. Sebagai zat pembangun 2. Sebagai pengganti sel-sel yang rusak 3. Sebagai zat pengemulsi 4. Sebagai zat penghasil energi 5. Berguna untuk pembentukan enzim 6. Sebagai buffer untuk mempertahankan pH tubuh 7. Dalam industri sebagai penghasil wol dan sutera sintesis II.4. Metode Kjedahl Metode ini paling banyak digunakan karena penggunaannya mudah dan kesalahannya tidak terlalu besar. Metode ini tidak dapat digunakan untuk menganalisa banyaknya protein atau asam amino suatu zat, tetapi yang dianalisa adalah nitrogen, setelah diketahui banyaknya nitrogen dikalikan factor konversi. Faktor ini berbeda pada berbagai zat namun diambil rata-ratanya. Analisa kadar N secara kjldahl dibagi tiga tahap, yaitu: 1) Destruksi Zat dirusak dengan H2SO4. Zat yang mengandung protein didestruksi di dalam labu Kjedahl dimana di atasnya ditutup dengan gelas arloji untuk menjaga agar tidak banyak uap yang keluar dari labu. Mula-mula cairan dalam labu menjadi hitam yaitu sewaktuzat-zat terurai menghasilkan karbon. Ketika atom-atom sudah membentuk ikatan lagi maka larutan akan menjadi jernih yang berarti destruksi selesai. NH2 O | || RCH2COOH + NH4HSO4 RCHCOH + H2SO4 + H2O

PROTEIN
RCH2COOH + H2SO4 2) Destilasi Destilasi dilakukan sambil penambahan larutan NaOH sehingga terjadi reaksi : NH4HSO4 + 2NaOH reaksi : 3NH3 + H3BO3 3) Titrasi (NH4)3BO3 + 3HCl 3NH4Cl + H3BO3 (NH4)3BO3 Na2SO4 + NH3 + 2H2O Amina yang terdestilasi dialirkan ke larutan asam boraks sehingga terjadi CO2 + H2O + SO2

II.5. Hal-hal yang Perlu Diperhatikan 1. Bahan harus murni, dalam keadaan kering dan halus agar proses destruksi sempurna 2. Pemanasan harus merata 3. Pada waktu destilasi, destilat dimasukkan ke dalam boraks jenuh dalam Erlenmeyer agar NH3 dapat segera diikat dan tidak menguap keluar. Selain itu dipasang kapas antara adaptor dan leher Erlenmeyer untuk mencegah penguapan 4. Titrasi sangat penting sehingga laruatan HCl harus distandarisasi terlebih dahulu untuk mengetahui normalitas HCl yang dipakai 5. Pada proses destruksi larutan yang didapat harus sampai jenuh kembali, sebab apabila belum jenuh, asam-asam belum dapat membentuk ikatan kembali. II.6. Fungsi Reagen 1. HCl 2. Na2SO4 anhidrid 3. CuSO4.5H2O : sebagai titran agar banyaknya asam boraks yang bereaksi dengan ammonia dapat diketahui. : sebagai katalis agar titik didih asam sullfat tinggi sehingga destruksi berjalan cepat : sebagai katalis untuk memepercepat oksidasi serbuk Zn agar selama destilasi tidak terjadi superheating ataupun percikan cairan atau timbulnya gelembung gas yang besar. 4

PROTEIN
4. H2SO4 Pekat 5. H3BO3 jenuh 6. MO 7. NaOH II.7 Faktor Konversi Kandungan nitrogen kemudian dapat dihitung sebagai berikut: %N = ml NaOH blanko ml NaOH sampel N. NaOH 14,008 100% Gram bahan x 1000 Apabila penampung destilasi digunakan asam borat maka banyaknya asam borat yang bereaksi dengan ammonia dapat diketahui dengan titrasi menggunakan asam khlorida 0,1 N dengan indikator (BCG + MR). Akhir titrasi ditandai dengan perubahan warna larutan dari biru menjadi merah muda. Kandungan nitrogen kemudian dapat dihitung sebagai berikut: %N = ml NaOH blanko ml NaOH sampel N. HCl 14,008 100% Gram bahan x 1000 Setelah diperoleh %N, selanjutnya dihitung kadar proteinnya dengan mengalikan suatu faktor. Besarnya faktor perkalian N menjadi protein ini tergantung pada persentase N yang menyusun protein dalam suatu bahan. Kadar protein (%) = % N x faktor konversi Nilai faktor konversi berbeda tergantung sampel: 1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. 8. 9. Sereal Roti Sirup Biji-bijian Buah Beras Susu Kelapa Kacang Tanah 5,7 5,7 6,25 6,25 6,25 5,95 6,38 5,20 5,46 5 : sebagai pemutus ikatan . : sebagai penangkap NH3 (sebagai destilat berupa gas yang bersifat basa). : indicator asam basa rentang pH 3,1 4,4 : memberikan suasana basa karena reaksi tidak dapat berlangsung dalam keadaan asam.

PROTEIN

Apabila faktor konversi tidak diketahui, faktor 6,25 dapat digunakan . Faktor ini diperoleh dari fakta rata-rata nitrogen dalam protein adalah 16 %. Kadar Protein (%) = N x 100/16 = N x 6,25 (http://chemistryismyworld.blogspot.com/2011/03/makalah-analisaprotein-metode-kjeldahl.html)

PROTEIN
BAB III METODOLOGI PERCOBAAN III.1. Bahan dan Alat yang Digunakan 1. Bahan yang digunakan Ikan Mujahir Serbuk Zn HCl 0,5N 37% NaOH 2 N H2SO4 Pekat CuSO4.5H2O H3BO3 jenuh Na2SO4 anhidrid Aquadest Indikator MO 2. Alat yang digunakan a. labu kjeldahl b. labu destilasi c. buret d. pendingin Liebig e. adaptor f. kompor listrik g. beaker glass III.2.Gambar Rangkaian Alat Gambar III.2.1 . Gambar Rangkaian Alat Destruksi Keterangan : 1. Klem 2. Statif 3. Labu Kjedahl 4. Kompor listrik h. gelas ukur i. erlenmeyer j. pipet tetes k. cawan porselen l. statif dan klem m. corong pemisah : 10 gram : 4 gram : 100 ml : 100 ml
:

30 ml

: 5 gram : 100 ml : 10 gram : 100 ml : 3 tetes

PROTEIN
Gambar III.2.2 Gambar Rangkaian Alat Destilasi
Keterangan : 1. Klem 2. Statif 3. Labu Destilasi 4. Kompor listrik 5. Corong Pemisah 6. Pendingin Leibig 7. Adaptor 8. Erlenmeyer

Gambar III.2.3 Gambar Rangkaian Alat Titrasi Keterangan : 1. Klem 2. Statif 3. Buret 4. Erlenmeyer

III.3.Cara Kerja 1. Menimbang 10 gr bahan (ikan mujair), masukkan dalam labu kjeldahl 2. Tambahkan 10 gr Na2SO4 anhidrid, 5 gr CuSO4.5H2O dan 30 ml H2SO4 pekat 3. Panaskan campuran tersebut pelan-pelan sampai tidak terbentuk percikan lagi, kemudian pemanasan diteruskan dengan cepat sampai digestion sempurna yaitu larutan menjadi berwarna tidak berwarna/jernih. Biasanya digestion membutuhkan waktu dua jam dan selama proses digestion, labu kjeldahl sering diputar-putar selama 15 menit sekali agar tidak terjadi pemanasan setempat.

PROTEIN
4. Dinginkan labu dan tambahkan aquadest 100 ml, ke dalam labu destilasi secukupnya hingga larut. Tambahkan 4 gr serbuk Zn untuk mencegah terjadinya bumping serta percikan. 5. Selama proses destilasi tambahkan 100 ml NaOH 2 N. Destilat ditampung dalam asam boraks jenuh sebanyak 100 ml. Lakukan sampai NaOH habis. 6. Hitung volume H3BO3, teteskan 3 tetes methyl orange. Kemudian titrasi menggunakan HCl. Catat kebutuhan titran. 7. Hitung kadar protein dalam ikan mujair dengan mengalikan kadar nitrogen yang diperoleh dengan faktor konversi.

PROTEIN
BAB IV HASIL PERCOBAAN DAN PEMBAHASAN IV.1 Hasil Percobaan Hal yang Diamati Berat sampel Volume titrasi Volume HCL rata-rata Volume destilat Kadar protein teoritis Kadar protein praktis % error IV.2 Pembahasan IV.2.1 Kadar protein praktis lebih besar daripada kadar protein teoritis, dimana protein praktis 6.510875 % dan protein teoritis 1.82 % dalam ikan mujair. Hal ini karena: a. Tahap Destruksi Pada tahap ini sampel ikan mujair dipanaskan dengan H2SO4 pekat. H2SO4 tersebut berfungsi untuk memecah sampel tadi menjadi unsur-unsurnya. Elemen karbon, hidrogen, teroksidasi menjadi CO, CO2, H2O sedangkan nitrogen nya berubah menjadi NH4SO4 menurut reaksi: R-CH2-C-OH + H2SO4 NH2 R-CH2-C-OH + H2SO4 O Pada tahap destruksi, senyawa organik dioksidasi oleh H2SO4 sehingga menghasilkan CO2, H2O, dan NH4SO4. Dalam hal ini menghasilkan hasil samping SO2 yang menghasilkan basa dari reduksi H2SO4, H2O, dan CO2. Dalam reaksi-reaksi ini dilepaskan dalam bentuk gas. CO2 + H2O + SO2 R-CH2-COOH + NH4 + SO4 Keterangan 10 gram ikan mujair 10 mL 10.63 mL 140 mL 1.82% 6.510875 % 257.14%

Tabel IV.1 Tabel Hasil Percobaan

10

PROTEIN

Organic Compoural + H2SO4

(Dipanskan)

CO2(g) + H2O(g) + NH4SO4 + SO2(g) Dalam reaksi di atas, SO2 akan mengalami penetralan pada alat penetral seperti prinsip lemari asam. SO2 yang telah netral atau menguap membantu dalam pembentukan NH4SO4 sehingga jumlah NH4SO4 bertambah karena seperti reaksi di atas, SO2 mempengaruhi hasil pembentukan produk utama sehingga H2SO4 yang digunakan untuk melepas ikatan senyawa organik menjadi berkurang. Dengan bertambahnya jumlah NH4SO4, NH3 yang dihasilkan juga bertambah, sehingga volume titran HCl yang dibutuhkan untuk titrasi juga banyak jumlahnya. Hal inilah yang menyebabkan kadar protein yang diperoleh menjadi lebih besar daripada kadar teoritis. Hal ini menurut reaksi: NH4SO4 + 2 NaOH Na2SO4 + NH3 + 2 H2O (http://kisahfathe.blogspot.com/2009/02/kjeldahl.html) (http://www.scribd.com/doc/5430853/Egdp_Protein) b. Tahap Destilasi Pada proses destilasi, terjadi pemisahan larutan berdasarkan titik didihnya. Amonium sulfat akan diperoleh menjadi NH3 dengan NaOH. NH3 yang dihasilkan akan ditampung bersama dengan H3BO3. Reaksi: NH4SO4 + 2 NaOH 3 NH3 + H3BO3 Na2SO4 + NH3 + 2 H2O (NH4)3BO3

Seperti yang telah dijeklaskan sebelumnya, pada proses destruksi kami mendapatkanNH4SO4 yang lebih banyak karena H2SO4 yang bereaksi menghasilkan NH4HSO4, memiliki titik didih yang tinggi sehingga proses penguapannya lama. Hal ini menyebabkan kontak/reaksi NH4SO4 dengan protein menjadi lebih lama. Pada saat destilasi, NH4SO4 yang bereaksi

11

PROTEIN
dengan NaOH juga lebih banyak dan menghasilkan NH3 yang ditampung di boraks akan lebih banyak juga. (http://www.scribd.com/doc/54310853/Egdp-Protein) c. Tahap Titrasi Pada tahap titrasi, (NH4)3BO3 dititrasi dengan HCl dengan reaksi sebagai berikut: (NH4)3BO3 + 3HCl 3 NH4Cl + H3BO3 Karena pada proses destilasi kami telah mendapatkan (NH4)3BO3 lebih besar. Hal ini menyebabkan HCl yang diperlukan untuk titrasi juga lebih banyak. Dengan demikian, kadar protein yang ditemukan juga lebih besar. (http://kisahfathe.blogspot.com/2009/02/kjeldahl.html) IV.2.2 Fungsi Asam Boraks (H3BO3) dalam Proses Destilasi Asam Boraks (H3BO3) berfungsi penangkap NH3 dan sebagai destilat berupa gas yang bersifat basa. Supaya amonia ditangkap secara maksimal, maka sebaiknya ujung alat destilasi tercelup semua ke dalam larutan asam standar sehingga dapat ditentukan jumlah protein sesuai dengan kadar protein bahan. Reaksi yang terjadi: (NH4)2SO4 + NaOH 2 NH4OH 4 NH3 + 2 H3BO3 Na2SO4 + 2 NH4OH 2 NH3 + 2H2O 2 (NH4)2BO3 + H2

(http://www.scribd.com/doc/54310853/Egdp_Protein) IV.2.3 Protein Sel Tunggal Protein Sel Tunggal (PST) adalah bahan makanan berkadar protein tinggi yang berasal dari mikroba. Istilah protein sel tunggal digunakan untuk membedakan bahwa PST berasal dari organisme bersel tunggal atau banyak. Pemanfaatan mikroorganisme sehingga menghasilkan makanna berprotein tinggi dengan memproduksi khamir torula. Operasi utama dalam produksi protein sel

12

PROTEIN
tunggal adalah fermentasi yang bertujuan mengoptilmalkan konversi substrat menjadi massa microbial. Mikroorganisme yang dibiakkan untuk protein sel tunggal dan digunakan sebagai sumber protein untuk hewan atau pangan harus mendapat perhatian secara khusus. Mikroorganisme yang cocok antara lain memiliki sifat tidak menyebabkan penyakit terhadap tanaman, hewan, dan manusia. Selain itu, nilai gizinya baik, dapat digunakan sebagai bahan pangan, tidak mengandung bahan beracun serta biaya produk yang dibutuhkan rendah. Mikroorganisme yang umum digunakan antara lain, alga chlorella, spirulina, dan scenedesmus; dan khamir candida utylis; dari kapang berfilamen Fussarium Gramenium; maupun dari bakteri. Protein sel tunggal yang berasal dari kapang berfilamen disebut mikroprotein. Di Amerika Serikat, mikroprotein telah diproduksi secara komersial bernama quorn. Quorn dibuat dengan cara menanam kapang ditempat peragian yang berukuran besar. Setelah membuang air dari tempat peragian, amaknan berharga yang tertinggal dicetak menjadi balok-balok yang mudah dibawa. (http://sasukedakhlan.wordpress.com/2008/08/07/bioteknologi-bahan-pangan) IV.2.3 Pengaruh Normalitas HCl terhadap Hasil Percobaan Normalitas menyatakanjumlah mol ekuivalen zat terlarut dalam 1 liter larutan. N = M Valensi Pada percobaan, kami menggunakan HCl 0.05 N sebnayak 100 ml sehingga untuk membuat HCl 0.05 N kami mengencerkan HCl pekat dengan mengambil 0.41 ml HCl pekat, kemudian diencerkan pada 100 ml aquadest. Menurut Perhitungan : N = M Valensi M=

13

PROTEIN

0,05 = n=

0,005=

Karena massa jenis HCl ( = 1,19 gr/mol)

Besar kecilnya normalitas HCl ini akan berpengaruh terhadap hasil percobaan. Apabila nilai normalitas jauh lebih kecil, maka volume HCl yang dibutuhkan menjadi lebih banyak dan begitu juga sebaliknya, apabila nilai normalitas HCl lebih besar, maka volume HCl yang dibutuhkan sebagai titran menjadi lebih sedikit. Dengan demikian, normalitas HCl yang kita pakai akan berpengaruh terhadap kadar nitrogen dalam percobaan, sesuai dengan perhitungan sebagai berikut:
( )

( )

(Underwood 59-61)

14

PROTEIN
BAB V PENUTUP V.1 Kesimpulan 1. Pada percobaan yang dilakukan , diperoleh kadar protein dalam ikan mujair sebesar 65,1 % daripada kadar protein teoritisnya yaitu 1,82% dengan persen eror sebesar 257,14 %. 2. Asam boraks berfungsi agar NH3 dapat segera diikat dan tidak menguap keluar. Selain itu dipasang kapas antara adaptor dan leher Erlenmeyer untuk mencegah penguapan. 3. Protein sel tunggal adalah bahan makanan berprotein tinggi yang berasal dari mikroba. Mikroorganisme yang umum digunakan antara lain alga chrollera,spirullina , dan scenedesmus 4. Normalitas HCl berpengaruh terhadap hasil percobaaan. Semakin besar normalitas HCl, maka volume HCl yang dibutuhkan menjadi lebih sedikit, sebaliknya semakin kecil normalitas HCl. Maka volume HCl yang dibutuhkan sebagi titran menjadi lebih banyak. V.2 Saran 1. Sampel harus benar-benar halus dan kering. 2. Proses pemanasan harus merata 3. Mengusahakan NaOH dan protein habis secara bersamaan. 4. Pada perangkaian alat destilasi antara adaptor dengan Erlenmeyer diberi kapas untuk menghindari penguapan. 5. Cermat dalam melihat perubahan warna pada saat titrasi.

15

PROTEIN
DAFTAR PUSTAKA Buku Pedoman Pratikum Kimia Organik. Baldwin, J. Experimental Organic Chemistry 2nd ed. Tokyo : Kogakusha Company Ltd. Fessenden & Fessenden . 1986. Organic Chemistry. Griffin, R. W. 1969. Modern Organic Chemistry. Tokyo : Mc Graw Hill Book, Kogakusha Ltd. Underwood A. I. and Day R.A. Analisa Kimia Kuantitatif 6th ed, Jakarta : Erlangga http://kisahfathe.blogspot.com/2005/02/kjeldahl/ http://www.scribd.com/doc/54310853/Egdp_protein http://sasukedakhlan.wordpress.com/2008/07/bioteknologi_bahan_pangan

16

PROTEIN

LAPORAN SEMENTARA PRAKTIKUM DASAR TEKNIK KIMIA II

Materi : Protein

Kelompok Anggota

: II / Rabu Pagi : Gilas Gigih Prasetyo ( 21030111120003)


Riang Anggraini R Zakiyah Fitri Kahar ( 21030111130056) ( 21030111130050)

LABORATORIUM DASAR TEKNIK KIMIA II TEKNIK KIMIA FAKULTAS TEKNIK UNIVERSITAS DIPONEGORO SEMARANG 2012

PROTEIN

I.

Tujuan Percobaan Mahasiswa mampu menyusun rangkaian alat protein dan mengoperasikannya Memahami reaksi reaksi yang terjadi pada protein dan cara menentukan kadar protein pada daging ikan mujahir sesuai dengan metode kejeldahl sesuai prosedur yang benar.

II.

Percobaan 2.1 Bahan yang Digunakan Ikan mujahir Serbuk Zn HCl 0,05N 37 % NaOH 0,2 N H2SO4 CuSO4.5H2O H3BO3 jenuh Na2SO4 anhidrid Aquadest 2.2 Alat yang Digunakan n. labu digester o. labu destilasi p. buret q. pendingin Liebig r. adaptor s. kompor listrik t. beaker glass u. gelas ukur v. erlenmeyer w. pipet tetes x. cawan porselen y. statif dan klem z. corong pemisah : 10 gr : 4 gr : 100 ml : 100 ml
:

30 ml

: 5 gr : 100 ml : 10 gr : secukupnya

Protein

2.2.1 Gambar Rangkaian Alat Destruksi

Keterangan : 1. Klem 2. Statif 3. Labu Kjedahl 2.2.2 Gambar Rangkaian Alat Destilasi 4. Kompor listrik

Keterangan : 1. Klem 2. Statif 3. Labu Destilasi 4. Kompor listrik 5. Corong Pemisah 6. Pendingin Leibig 7. Adaptor 8. Erlenmeyer

2.2.3 Gambar Rangkaian Alat Titrasi Keterangan : 1. Klem 2. Statif 3. Buret


4. Erlenmeyer

Protein

2.3.Cara Kerja 8. Menimbang 10 gr bahan (ikan mujair), masukkan dalam labu kjeldahl 9. Tambahkan 10 gr Na2SO4 anhidrid, 5 gr CuSO4.5H2O dan 30 ml H2SO4 pekat 10. Panaskan campuran tersebut pelan-pelan sampai tidak terbentuk percikan lagi, kemudian pemanasan diteruskan dengan cepat sampai digestion sempurna yaitu larutan menjadi berwarna tidak berwarna/jernih. Biasanya digestion membutuhkan waktu dua jam dan selama proses digestion, labu kjeldahl sering diputar-putar selama 15 menit sekali agar tidak terjadi pemanasan setempat. 11. Dinginkan labu dan tambahkan bumping serta percikan. 12. Selama proses destilasi tambahkan 100 ml NaOH 2 N. Destilat ditampung dalam asam boraks jenuh sebanyak 100 ml. Lakukan sampai NaOH habis. 13. Hitung volume H3BO3, teteskan 3 tetes methyl orange. Kemudian titrasi menggunakan HCl. Catat kebutuhan titran. 14. Hitung kadar protein dalam ikan mujair dengan mengalikan kadar nitrogen yang diperoleh dengan faktor konversi. aquadest 100 ml, ke dalam labu destilasi secukupnya hingga larut. Tambahkan 4 gr serbuk Zn untuk mencegah terjadinya

2.4 Hasil Percobaan Kadar Protein dalam 10 gr ikan mujahir V asam boraks = 100 ml V total destilat = 140 ml Titran I = 9,2 ml II = 9,9 ml III= 12,8 ml
9,2 9,9 12,8 10,63ml 3 V N HCl BMN 6,25 Vdestilat 100% 10,63 0,05 14 6,25 140 100% % protein 1000 beratsampel Vyangdiamb il 1000 10 10 VHCl

= 6,51%

Protein

10 gr 18,2% 1,82% 100 gr Kadar dalam 10 gr ikan mujahir = 1,82%


Kadar asli =

%kesalahan

6,51 1,82 100% 257,14% 1,82

Praktikan

ASISTEN

Zakiyah Fitri Kahar

Agmarina Laila N. 210301101301

Protein

LEMBAR PERHITUNGAN REAGEN a. HCl 0,05 N M 37 %

Volume = 100 ml = 1,19 = =


10 p % BM

10 1,19 37 36,5

= 12,06 M1V1 = M2V2 V1= 0,41 ml b. NaOH 2 N Volume N Mol NaOH = 100 ml =
mol V

12,06 V1 = 0,05 100

= N V = 2 N 0,1 L = 0,2

Massa NaOH = molBM = 0,240 = 8 gr = 800 mgr

Protein

LEMBAR PERHITUNGAN Kadar Protein dalam 10 gr ikan mujahir V asam boraks = 100 ml V total destilat = 140 ml Titran I = 9,2 ml II = 9,9 ml III= 12,8 ml
9,2 9,9 12,8 10,63ml 3 V N HCl BMN 6,25 Vdestilat 100% 10,63 0,05 14 6,25 140 100% % protein 1000 beratsampel Vyangdiamb il 1000 10 10 VHCl

= 6,51%

10 gr 18,2% 1,82% 100 gr Kadar dalam 10 gr ikan mujahir = 1,82%


Kadar asli =

%kesalahan

6,51 1,82 100% 257,14% 1,82

Protein

LEMBAR KUANTITAS REAGEN LABORATORIUM DASAR UNIVERSITAS TEKNIK KIMIA II JURUSAN TEKNIK KIMIA FAKULTAS TEKNIK UNIVERSITAS DIPONEGORO PRAKTIKUM KE MATERI HARI TANGGAL KELOMPOK NAMA ASISTEN :3 : Protein : Rabu : 11 April 2012 : II/ Rabu pagi : 1. Gilas Gigih Praseto 21030111120003 2. Riang Anggraini Rahmanisa 21030111130056 3. Zakiyah Fitri kahar 21030111130050 : Agmarina Laila N.

KUANTITAS REAGEN NO.


1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 Ikan Mujair Serbuk Zn HCl 0,05 N 37% NaOH 0,1 N H2SO4 pekat CuSO4.5H2O Asam boraks jenuh Na2SO4 anhidrid MO aquadest

JENIS REAGEN

KUANTITAS
10 gram 4 gram 100 mL 100 mL 30 mL 5 gram 100 ml 10 gram 3 tetes 100 ml

TUGAS TAMBAHAN
Referensi kadar teoritis ikan mujahir

CATATAN 3 kali titrasi Volum titran 10 ml Bawa malam dan kapas

SEMARANG, 11 April 2012 ASISTEN Agmarina 21030110130101