Anda di halaman 1dari 45

I. I.

1 Latar Belakang

PENDAHULUAN

Kemajuan teknologi pada jaman masa kini semata-mata dibuat untuk keperluan manusia, Agar membuat manusia merasa senyaman mungkin maka dilakukan berbagai riset-riset demi mendukung perkembangan kemajuan teknologi untuk kebutuhan manusia. Pada dunia telekomunikasi saat ini kemajuan teknologi begitu cepat karena permintaan komunikasi pelanggan yang meningkat secara signifikan. Melihat hal tersebut, maka dibutuhkan sumber daya manusia yang berkualitas, baik dari segi ilmu pengetahuan maupun keterampilan dan kepribadian. Oleh karena itu, dunia pendidikan menjadi sarana yang sangat menentukan dan memberikan andil yang sangat besar dalam membentuk sumber daya yang bertanggung jawab dan profesional dibidangnya. Sebagai mahasiswa yang nantinya akan terjun langsung ke dalam dunia kerja, sangat memerlukan pengalaman awal yaitu dengan cara melakukan kerja praktek ke dalam perusahaan-perusahan dan industri, agar nantinya dapat mengenal dunia kerja dan mengimplementasikan ilmu-ilmu yang didapat dalam perkuliahan kedalam lingkungan kerja yang sesungguhnya. I.2 Maksud dan Tujuan Adapun tujuan mahasiswa melaksanakan kerja praktek antara lain sebagai berikut : 1. Sebagai salah satu syarat untuk mengambil tugas akhir. 2. Untuk mendapatkan pengalaman kerja dan sekaligus membandingkan teori yang didapat dalam perkuliahan sesungguhnya. 3. Mendidik dan melatih mahasiswa untuk berdisiplin dan taat terhadap peraturan yang terdapat dalam dunia kerja. dengan keadaan di lapangan kerja yang

4.

Menciptakan hubungan kerjasama antara Universitas trisakti dengan PT.

Telkom. I.3 Batasan Masalah Dengan adanya keterbatasan waktu dalam pelaksanaan kerja praktek ini, maka penulis hanya mencoba membahas tentang bagian - bagian dari fiber optic beserta cara kerjanya dan cara mengatasi masalah bila terjadi gangguan pada fiber optic.Tujuannya adalah untuk memahami lebih jauh tentang penggunaan media fiber optic pada system telekomunikasi masa kini. I.4 Metode Pengumpulan Data Metode pengumpulan data yang dilakukan penulis dalam menyusun laporan ini adalah dengan melakukan wawancara(interview) kepada karyawan-karyawan yang mempunyai wawasan tentang fiber optic serta melihat dari buku- buku referensi mengenai data -data yang diperlukan sesuai dengan obyek pembahasan. Dalam melakukan pengumpulan data tersebut, penulis mencoba menyesuaikan antara apa yang telah didapat dalam teori dengan keadaan dilapangan yang sesungguhnya tanpa melanggar dan menyalahi kopetensi. I.5 Tempat Kerja Praktek Kerja praktek dilaksanakan di PT. Telkom dengan alamat jalan juanda, Bekasi. Dibawah ini merupakan dokumentasi tentang PT. Telkom I.6 Sistematika Penulisan Penulisan laporan Kerja Praktek ini di bagi menjadi 5 bab, dimana pada setiap bab saling berkaitan dalam membahas inti permasalahan dan penyelesaian materi Kerja Praktek. Bab-bab tersebut meliputi : BAB I Pendahuluan Bab ini terdiri dari latar belakang,maksud dan tujuan, batasan masalah, metode pengumpulan data, tempat kerja praktek dan sistematika penulisan

BAB II Profil Perusahaan Profil PT.Telkom,Tbk berkaitan dengan semua hal, meliputi, sejarah, visi, misi, peran serta struktur organisasi PT.Telkom,Tbk. BAB III Landasan Teori Bab ini menjelaskan materi tentang pembahasan teori dasar fiber optik yang berhubungan dengan kerja praktek serta pembahasan mengenai komponen pendukung dalam penggunaan fiber optik BAB IV Lokalisir Gangguan Pada Sistem Komunikasi Serat Optik. Bab ini menjelaskan cara dan proses penanganan gangguan pada fiber optic, proses penarikan dan penyambungan ulang(splicing), serta proses pengukuran terjadinya gangguan menggunakan OTDR(optical Time Domain Reflectometer) dan power meter. BAB V Penutup Bab ini berisikan mengenai kesimpulan dan saran yang bersifat membangun dari laporan kerja praktek lapangan ini.

II. PROFIL PERUSAHAAN II.1 Sejarah Singkat Tahun 1975 merupakan awal perjalanan usaha PT Infomedia Nusantara menjadi perusahaan pertama penyedia layanan informasi telepon di Indonesia. Di bawah subdivisi Elnusa GTDI dari anak perusahaan Pertamina, Infomedia telah menerbitkan Buku Petunjuk Telepon Telkom Yellow Pages. Perkembangan yang tercatat selanjutnya adalah berdirinya PT Elnusa Yellow Pages di tahun 1984 yang berubah nama di tahun 1995 menjadi PT Infomedia Nusantara pada saat PT Telkom Tbk menanamkan investasi. Untuk mendukung implementasi Good Coorporate Governance dalam setiap aspek kegiatan perusahaan, Infomedia telah mengeluarkan kebijakan pedoman tata kelola perusahaan di tahun 2008. Pada tanggal 30 Juni 2009 PT Telekomunikasi Indonesia (Telkom) melalui PT Multimedia Nusantara (Metra), anak perusahaan yang 99,99% milik Telkom (selanjutnya disebut Telkom Group) telah menandatangani Shares Sales & Purchase Agreement (SPA) untuk membeli 49% saham PT Infomedia Nusantara (Infomedia) milik PT Elnusa Tbk (Elnusa), sehingga 100% saham PT Infomedia Nusantara telah dimiliki oleh Telkom Group. Saat ini, Infomedia, sesuai dengan visinya menjadi penyedia jasa layanan informasi yang utama dikawasan regional telah melakukan berbagai upaya untuk mewujudkan visi tersebut dengan mengoptimalkan kompetensi untuk mengambil opportunity dalam pengembangan bisnis kedepan melalui transformasi bisnis dari 3 Pilar Bisnis ( Layanan Direktori, Layanan Contact Center dan Layanan Konten ) menuju Layanan Outsourcing atau Business Process Outsourcing ( BPO ) dan Layanan Konten Digital atau Digital Rich Content ( DRC ). Layanan Outsourcing atau Business Process Outsourcing (BPO) didefinisikan sebagai bisnis penyediaan jasa alih-daya (outsourcing) oleh pihak ketiga bagi perusahaan untuk satu atau beberapa fungsi bisnis dalam jangka panjang (multi year contract). Bisnis

Layanan Outsourcing (BPO) yang telah dijalani Infomedia saat ini berbasis layanan voice yaitu Layanan Contact Center baik untuk inbound maupun outbound dan non voice seperti direct mail dan web development. Namun saat iniInfomedia telah membagi bisnis Layanan Outsourcing (BPO) kedepannya dalam empat kelompok berdasarkan basis layanan yaitu: Contact Center Services, HR Services, IT Services dan Direct Mail. Sedangkan pengembangan bisnis Layanan Konten Digital (DRC) didasarkan oleh semakin berkembangnya kebutuhan informasi yang semakin cepat dan mobile, perubahan gaya hidup dan perkembangan teknologi yang sangat pesat. Infomedia membagi bisnis DRC dalam 3 bagian, yaitu; printed (Yellow Pages, White Pages & Special Directory ) , mobile (mobile application, SMS)dan online (online ad, e-commerce, membership). Keseluruhan produk dan layanan Infomedia merupakan komitmen perusahaan dalam memberikan solusi layanan informasi dan komunikasi yang prima bagi customer dan masyarakat di Indonesia. II.2 Visi dan Misi PT.Telkom

II.2.1 Visi PT. Telkom Adapun Visi PT. TELKOM yaitu: 1. To become a leading InfoCom player in the region, maksudya adalah: PT. TELKOM Indonesia, Tbk berusaha untuk menempatkan diri sebagai perusahaan InfoCom terkemuka di kawasan Asia Tenggara, Asia dan akan berlanjut ke kawasan Asia Pasifik. 2. To be dominant infoCom player in the region and having strong brand equit artinya menjadi penyedia layanan infocom yang paling dominant di Sumatera dan menjadi atau penyampai brand di bidang jasa Telekomunikasi. II.2.2 Misi Telkom PT. TELKOM Indonesia, Tbk mempunyai misi memberikan layanan One Stop InfoCom dengan jaminan bahwa pelanggan akan mendapatkan layanan terbaik, berupa kemudahan, produk dan jaringan berkualitas, dengan harga kompetitif. PT. TELKOM Indonesia, Tbk akan mengelola bisnis melalui praktek-praktek terbaik dengan mengoptimalisasikan sumber daya manusia yang unggul, penggunaan teknologi

yang kompetitif, serta membangun kemitraan yang saling menguntungkan dan saling mendukung secara sinergis. Dari misi diatas maka dapat dinyatakan bahwa : 1. PT. TELKOM Indonesia, Tbk berupaya memberikan pelayanan One Stop InfoCom yang berkualitas tinggi dengan menetapkan system management modern yang dominan pada kepuasan para pelanggan dengan harga yang kompetitif. 2. TELKOM Indonesia, Tbk memberikan layanan yang terbaik dengan mengoptimalkan SDM yang unggul melalui manajemen modern (TQM) dan melakukan setiap kegiatan dengan teknologi yang bersifat komputerisasi. 3. Melakukan kerjasama dengan Share Holder (pemegang saham) yang saling menguntungkan secara Win-win solution melalui Business partner yang sinergi. Logo PT. TELKOM Indonesia, Tbk

Gambar 2.1 Logo Telkom

Adapun arti dari simbol-simbol logo tersebut yaitu : Lingkaran sebagai simbol dari kelengkapan produk dan layanan dalam

portofolio bisnis baru Telkom yaitu TIME ( telecommunuication, information, Media& Edutainment). Expertise. Tangan yang meraih keluar. Simbol ini mencerminkan pertumbuhan dan ekspansi ke luar. Empowering. Jemari tangan. Simbol ini memaknai sebuah kecermatan, perhatian, serta kepercayaan dan hubungan dengan erat. Assured.

Kombinasi tangan dan lingkaran. Simbol dari matahari terbit yang maknanya adalah perubahan dan awal yang baru. Progressive Telapak tangan yang mencerminkan kehidupan untuk menggapai masa depan. Heart.

II.2.3

Peran Telekomunikasi

Peranan PT.Telkom,Tbk dalam dunia industri jasa Telekomunikasi adalah : Memperkukuh persatuan dan kesatuan bangsa Mendukung kegiatan pemerintahan agar tercapainya tujuan pembangunan Mendorong upaya mencerdaskan bangsa Memperlancar pertumbuhan ekonomi nasional Memperkuat hubungan antar bangsa

II.3

Struktur Organisasi Perusahaan Untuk kelancaran dan keberhasilan suatu perusahaan, maka perlu dibentuk struktur

organisasi dengan tujuan agar dapat terlaksananya tugas dengan lancar dan baik. Struktur organisasi juga merupakan gambaran susunan perwujudan oleh tetap hubungan-hubungan, fungsi-fungsi, bagian-bagian dan posisi-posisi maupun yang memisahkan kedudukan dan wewenang dan tanggung jawab bagi tiap-tiap karyawan dalam organisasi.

III.

LANDASAN TEORI

III.1

Pendahuluan Perkembangan Teknologi dalam bidang Telekomunikasi memungkinkan

penyediaan sarana Telekomunikasi dalam biaya relatif rendah, mutu pelayanan yang tinggi, cepat, aman, mempunyai kapasitas yang besar dalam menyalurkan informasi. Seiring dengan perkembangan Telekomunikasi digital maka kemampuan sistem transmisi dengan menggunakan Teknologi serat optik semakin dikembangkan dengan cepat, sehingga dapat menggeser penggunaan sistem transmisi konvensional dimasa mendatang, terutama untuk media transmisi jarak jauh (long distance circuit). Dampak dari perkembangan Teknologi digital adalah perubahan jaringan analog menjadi jaringan digital baik dalam sistem Switching maupun dalam sistem Transmisinya. Katerpaduan ini akan meningkatkan kualitas dan kuantitas informasi yang dikirim, serta biaya operasi dan pemeliharaan lebih ekonomis. Sebagai sarana transmisi dalam jaringan digital, Serat Optik berperan sebagai pemandu gelombang cahaya serat optik dari bahan gelas atau silika dengan ukuran kecil dan sangat ringan, dapat melakukan informasi dalam jumlah besar dengan rugi-rugi relatif rendah. Dalam sistem komunikasi serat optik, informasi diubah menjadi sinyal optik (cahaya) dengan menggunakan sumber cahaya LED atau Diode Laser. Kemudian dengan dasar hukum pemantulan sempurna, sinyal optik yang berisi informasi dilewatkan sepanjang serat sampai pada penerima, selanjutnya Detektor Optik akan mengubah sinyal optik tersebut menjadi sinyal listrik kembali.

III.2

Karakteristik Serat Optik Untuk mengetahui lebih jauh mengapa teknologi serat optik mendapat perhatian

dari negara-negara maju maupun yang sedang bekrembang di dunia ini, sehingga negaranegara pabrikan berlomba-lomba mengadakan penggunaan teknologi serat optik sebagai alat komunikasi. Maka ada baiknya diketahui karakteristik serat optik dibandingkan dengan kabel-kabel telekomunikasi yang ada sekarang ini, yaitu : a. Ukuran kecil Diameter luar serat optik berkisar antara 100-250 m. diameter maksimum setelah dilapisi/dibungkus dengan plastick/nilon sebagai jaket menjadi 1

mm. Ukuran ini masih sangat kecil dibandingkan dengan konduktor kabel coaxial (1-10 mm). b. Ringan Dibandingkan dengan kabel transmisi biasa (Spesifigravity 9.8) maka specifigravity bahan silica sebagai serat optik yaitu 2.2, sehingga beratnya menjadi 1/2 1/3 berat kabel transmisi biasa. c. Lentur Pada umumnya serat optik tidak akan patah bila dilengkungkan dengan radius 5mm. Oleh karenanya kabel serat optik mempunyai kelenturan yang sama dengan kabel transmisi biasa, sehingga teknis pemasangannya tidak jauh berbeda dengan teknik pemasangan kabel biasa. d. Tidak berkarat Bahan silica sebagai bahan dasar serat optik mempunyai sifat kimia yang sangat stabil oleh karenanya tidak mungkin berkarat. e. Rugi-rugi rendah Serat optik dengan bahan silica mempunyai rugi-rugi transmisi rendah, besarnya berkisar 2-8 dB/km dengan panjang gelombang 830 nm. Dibandingkan dengan kabel coaksial yang mempunyai rugi-rugi transmisi sebesar 19 dB/km pada frekuensi 60 Mhz. f. Kapasitas tinggi Kapasitas dalam menyalurkan informasi per cross section area sangat besar disamping mempunyai bandwidth yang lebar (Broadband). Sebagai contoh : Kapasitas penyaluran per cross section area 100 x dibandngkan dengan multi pair cable dan 10 x dibandingkan dengan coaxial cable. g. Bebas induksi Serat optik menggunakan bahan dasar silica yang pada dasarnya merupakan bahan dielektrik yang sangat baik dan kebal terhadap induksi elektromagnet dan juga terhadap kilat/petir. h. Cross Talk rendah Kemungkinan terjadinya kebocoran sinar antar serat optik sangat kecil, demikian pula kebocoran akibat masuknya sinar dari luar kemudian ikut merambat dalam serat optik.

10

i. Tahan temperatur tinggi Bahan silica mempuyai titik leleh 1900 C dan ini sangat jauh diatas titik leleh capper dan plastik. Sangat ideal bila dipergunakakn sebagai sarana komunikasi pada daerah yang rawan terhadap tenperatur tinggi. j. Tidak menimbulkan bunga api Pada titik sambung tidak mungkin terjadi bunga api (discharge), oleh karenanya sangat ideal bila digunakan pada tempat-tempat yang peka terhadap ledakan/kebakaran. k. Tidak dapat dicabangkan Serat optik mempunyai ukuran sangat kecil/sangat tipis. Oleh karenanya sangat sulit bahkan tidak mungkin untuk dicabangkan. Bila harus dicabangkan maka harus dilakukan perubahan terlebih dahulu dari sinyal optik ke sinyal elektrik. l. Tidak menggunakan bahan tembaga Serat optik menggunakan bahan silica yang tidak mengandung unsur logam bahkan serat optik yang menggunakan Multicomponent Glass, unsur campuran logam (copper) sangat kecil. Tembaga hanya digunakan sebagai pelapis pelidung pada kabel fiber optic untuk komunikasi kabel laut dan sebagai lewatnya arus DC untuk mencatu tegangan pada repeater-repeater di bawah laut. m. Rapuh Meskipun rapuh, namun masih mempunyai daya peregangan kurang lebih sebesar 5% untuk menghindarkan kerusakan serat optik pada waktu pemasangan/penarikan, maka pada waktu disusun menjadi kabel optik diberi penguat. III.3 Pengertian dan Blok Diagram Sistem Komunikasi Serat Optik Sistem komunikasi serat optik menggunakan sinyal-sinyal informasi dalam bentuk energi cahaya yang disalurkan melalui serat optik. Sinyal informasi yang dikirirmkan tersebut, dapat berupa sinyal audio, video ataupun data dalam bentuk sinyal elektrik dan kemudian diubah menjadi sinyal optik sebelum ditransmisikan melalui serat optik. Untuk mengubah sinyal listrik menjadi sinyal optik diperlukan suatu sumber optik yang dapat menghasilkan cahaya yang intensitasnya dapat diatur sesuai dengan sinyal elektrik yang mengendalikannya. Begitu pula pada sisi penerima, diperlukan Detektor optik yang dapat

11

mengubah sinyal optik menjadi sinyal elektrik sesuai dengan aslinya. Blok diagram sederhana dari sistem komunikasi serat optik tersebut adalah sebagai berikut :

Gambar 3.1 Prinsip Dasar Sistem Komunikasi Serat Optik

Fungsi dari masing-masing blok adalah : 1. Rangkaian Driver Berfungsi mengendalikan sumber cahaya berdasarkan sinyal elektrik yang diterima dan mengubah sinyal tersebut menjadi sinyal optik. 2. Sumber Optik (Cahaya) Dapat menggunakan LED atau LASER. LED merupakan perangkat yang memancarkan cahaya dengan arah menyebar. Pada umumnya digunakan untuk serat optik dengan diameter core berukuran besar (multimode step indeks). LASER merupakan perangkat yang lebih kompleks dan dapat memancarkan cahaya lebih terang dengan daya 10-100 kali lebih besar dibandingkan dengan LED. Pada umumnya digunakan untuk serat optik dengan diameter core berukuran kecil (singlemode step indeks). Untuk transmisi jarak jauh, penggunaan LASER sebagai sumber cahaya lebih menguntungkan

dibandingkan menggunakan LED. 3. Detektor Optik

12

Berfungsi untuk mengubah kembali sinyal optic menjadi sinyal elektrik sesuai dengan intensitas cahaya yang diterimanya. Detector optik dapat

menghasilkan gelombang sesuai aslinya, dengan meminimalisasi losses yang timbul selama perambatan, sehingga dapat juga menghasilkan sinyal elektrik yang maksimum dengan daya optic yang kecil. Detektor optik yang sering digunakan ada 2, yaitu : a. Detector Optic PIN (Positive Intrinsic Negative) Photodiode Diode PIN adalah sebuah semikonduktor dengan bagian yang didop P, sebuah intrinsik dan bagian yang didop N,sehingga sebagai berikut apat menimbulkan satu pasang elektron tunggal yang diabsorbsi Detektor ini bekerja menurut fungsi modulasi arus oleh cahaya yang diserap, dimana daya optik yang masuk selama sebuah pulsa da[pat dianggap sebagai penerimaan dari sejumlah foton yang masin-masing mempunyai energi sebesar :

E = H/V Dimana : H = konstanta Planck (6,0625. 10-34) V = kecepatan Foton (C/) E = energi Foton Susunan dan prinsip dari dsebuah photodiode adalah :

b. Detector Optic APD (Avalanche Photodiode) Dapat menghasilkan lebih dari satu pasang elektron tunggal melalui ionisasi. APD biasa digunakan untuk sistem yang memerlukan sensitifitas tinggi, sedangkan PIN digunakan untuk sistem yang memerlukan sensitifitas rendah. 4. Rangkaian Penguat Berfungsi untuk menguatkan sinyal elektrik sesuai dengan sinyal elektrik yang ditransmisikan. III.4 Struktur Dasar Serat Optik Struktur dasar dari serat optik sebenarnya tersusun atas coating, cladding dan core. Namun demi alasan keamanan. Maka ditambahkan pengaman setelah lapisan coating. Lapisan tersebut bisa berupa plastik, seng, atau anyaman kawat besi. Pada serat oprtik yang

13

digunakan untuk SKKL (Sistem Komunikasi Kabel Laut). Lapisan pelindung bisa berlapislapis. Berikut adalah gambar susunan dari fiber optik.

Gambar 3.2 Susunan Serat Optik

Keterangan : 1. Core (inti) Core berfungsi untuk menentukan cahaya merambat dari satu ujung ke ujung lainnya. Core terbuat dari bahan kuarsa dengan kualitas sangat tinggi. Ada juga yang terbuat dari hasil campuran silica dan glass. Sebagai inti, core juga tempat merambatnya cahaya pada serat optik. Memiliki diameter 10 m - 50 m. Ukuran core mempengaruhi karakteristik dari serat optik. 2. Cladding (lapisan) Cladding berfungsi sebagai cermin yaitu memantulkan cahaya agar dapat merambat ke ujung lainnya. Dengan adanya cladding ini cahaya dapat merambat dalam core serata optic. Cladding terbuat dari bahan gelas. Dengan indeks bias yang lebih kecil dari core.Cladding merupakan selubung dari core. Diameter cladding antara 5 m 250 m. Hubungan indeks bias antara core dan cladding akan mempengaruhi perambatan cahaya pada core

(mempengaruhi besarnya sudut kritis).

14

3. Coating (jaket) Coating berfungsi sebagai pelindung mekanis pada serat optik dan identitas kode warna.Terbuat dari bahan plastic. Berfungsi untuk melindungi serat optik dari kerusakan.

Gambar 3.3 Susunan Fiber Optik setelah dikupas

III.5

Jenis-jenis Serat Optik : Serat optik terdiri dari beberapa jenis, yaitu :

1. Multimode Step Index Pada jenis multimode step index ini, diameter core lebih besar dari diameter cladding. Dampak dari besarnya diameter core menyebakan rugi-rugi dispersi waktu transmitnya besar. Penambahan prosentase bahan silica pada waktu pembuatan. Tidak terlalu berpengaruh dalam menekan rugi-rugi dispersi waktu transmit. Berikut adalah gambar dari perambatan gelombang dalam serat optik multimode step index.

Gambar 3.4 Perambatan Gelombang pada Multimode Step Index

Jenis serat optik ini mempunyai perubahan index bias yang mendadak seperti ditunjukkan oleh gambar berikut.

15

Gambar 3.5 Index bias dari multimode step index

Multimode Step Index mempunyai karakteristik sebagai berikut : 2. Indeks bias core konstan. Ukuran core besar (50mm) dan dilapisi cladding yang sangat tipis. Penyambungan kabel lebih mudah karena memiliki core yang besar. Sering terjadi dispersi. Hanya digunakan untuk jarak pendek dan transmisi data bit rate rendah. Multimode Graded Index Pada jenis serat optik multimode graded index ini. Core terdiri dari sejumlah lapisan gelas yang memiliki indeks bias yang berbeda, indeks bias tertinggi terdapat pada pusat core dan berangsur-angsur turun sampai ke batas core-cladding. Akibatnya dispersi waktu berbagai mode cahaya yang merambat berkurang sehingga cahaya akan tiba pada waktu yang bersamaaan. Berikut adalah gambar perambatan gelombang dalam multimode graded index.

Gambar 3.6 Perambatan Gelombang pada Multimode Graded Index

16

Index bias yang berubah secara perlahan ditunjukkan pada gambar berikut.

Gambar 3.7 Perubahan index bias pada multimode graded index

Multimode Graded Index mempunyai karakteristik sebagai berikut : Cahaya merambat karena difraksi yang terjadi pada core sehingga rambatan cahaya sejajar dengan sumbu serat. Dispersi minimum sehingga baik jika digunakan untuk jarak menengah Ukuran diameter core antara 30 m 60 m. lebih kecil dari multimode step index. Dan dibuat dari bahan silica glass. Harganya lebih mahal dari serat optik Multimode Step Index karena proses pembuatannya lebih sulit. 3. Single mode Step Index Pada jenis single mode step index. Baik core maupun claddingnya dibuat dari bahan silica glass. Ukuran core yang jauh lebih kecil dari cladding dibuat demikian agar rugirugi transmisi berkurang akibat fading. Seperti ditunjukan gambar berikut.

Gambar 3.8 Perambatan Gelombang pada Singlemode Step Index

17

Pada single mode step index ini. Index biasnya berubah secara mendadak seperti pada multimode step index. Seperti ditunjukan gambar berikut.

Gambar 3.9 Index bias untuk single mode step index

Singlemode Step Index mempunyai karakteristik sebagai berikut : Serat optik Singlemode Step Index memiliki diameter core yang sangat kecil dibandingkan ukuran claddingnya. Ukuran diameter core antara 2 m 10m. Cahaya hanya merambat dalam satu mode saja yaitu sejajar dengan sumbu serat optik. Memiliki redaman yang sangat kecil. Memiliki bandwidth yang lebar. Digunakan untuk transmisi data dengan bit rate tinggi. Dapat digunakan untuk transmisi jarak dekat, menengah dan jauh.Untuk jenis single mode ini ada beberapa spesifikasi yang umum digunakan. Yaitu G652, G653, G665, G662. III.6 Parameter Serat Optik Parameter serat optic antara lain : a.. Kecepatan Propagasi b. Numerical Aperture (NA) c. Dispersi d. Penghamburan Rayleigh e. Pemantulan Fresnel f. Pemantulan dan Pembiasan Keterangan :

18

a. Kecepatan Propagasi Propagasi dalam serat optik disebabkan oleh adanya suatu refleksi (pantulan), sedangkan refleksi terjadi akibatnya adanya perbedaan indeks bias antara core dengan clading. Bila berkas cahaya datang dari suatu media yang lebih padat (n1) ke media yang kurang padat (n2) dimana n1>n2 maka pada bidang batas antara kedua media terjadi pantulan. Bila sudut datang melebihi sudut kritis maka diperoleh pantulan total dan bila sudut datang lebih kecil dari sudut kritis akan terjadi pembiasan dan pemantulan sebagian. Kecepatan perambatan cahaya pada medium memiliki kecepatan rambat yang lebih kecil dari kecepatan rambat cahaya pada ruang hampa, kecepatan tersebut dapat dirumuskan sebagai berikut :

V=C/ n dimana :
V = kecepatan rambat cahaya pada media C = kecepatan rambat cahaya pada ruang hampa n = indeks bias media yang dilalui berkas cahaya b. Numerical Aperture (NA) Numerical Aperture adalah ukuran atau besarnya sinus sudut pancaran maksimum dari sumber optik yang merambat pada inti serat yang cahayanya masih dapat dipantulkan secara total, dimana nilai NA juga dipengaruhi

oleh indeks bias core dan cladding. Besarnya nilai NA dapat diperoleh dengan rumus : dimana : NA = Numerical Aperture = sudut cahaya yang masuk dalam serat optik n1 n2 = indeks bias core = indeks bias cladding

19

Gambar 3.10 Numerical Aperture

c. Dispersi Dispersi adalah suatu berkas cahaya yang melintas didalam serat optik dengan mode, kecepatan atau panjang gelombang yang berbeda. Dispersi dapat menyebabkan pelebaran pulsa pada pulsa cahaya yang ditransmisikan pada serat optik sehingga mengakibatkan jumlah pulsa/satuan waktu (bit rate) dan jarak menjadi terbatas. Dispersi dibedakan menjadi 2, yaitu : a. Dispersi Intermodal Bila pada suatu serat step indaks dimasukkan impulse cahaya monokromatis dan hanya dua mode yang ditransmisikan, menyebabkan perbedaan jalur yang dilewati impulse tersebut akan sampai diujung serat pada saat yang berbeda. Jika kedua impulse tersebut digabungkan, akan terlihat adanya suatu pelebaran pulsa yang dikenal sebagai dispersi modal/multimode. b. Dispersi Kromatik Impulse cahaya yang melintas diserat optik terdiri atas berbagai macam warna yang merambat dengan kecepatan yang berbeda sehingga menyebabkan terjadinya pelebaran pulsa cahaya pada ujung serat. Jadi pelebaran impulse tersebut dipengaruhi oleh lebar spektrum cahaya dari sumber optik. Efek tersebut disebut dengan dispersi kromatik. Jika kecepatan data bertambah, durasi T (periode) berkurang maka impulse akan saling tumpang tindih (overlap) sehingga tidak bisa dikenali lagi (cacat). Hal tersebut mengakibatkan kecepatan sinyal cahaya yang ditransmisikan menjadi terbatas. Dispersi kromatik dibagi menjadi 2 macam, yaitu :

20

a. Dispersi Material Dispersi ini disebabkan adanya perbedaan kecepatan rambat cahaya (indeks bias suatu material merupakan fungsi dari panjang gelombang). b. Dispersi Waveguide Dispersi ini trejadi karena variasi waktu yang dibutuhkan untuk sampai ke ujung serat optik dan disebabkan oleh perbedaan panjang gelombang. Dispersi ini nilainya relatif lebih kecil dibandingkan dispersi jenis lain.

c. Penghamburan Rayleigh (Rayleigh Scattering) Peristiwa ini terjadi karena adanya berkas cahaya yang meengenai suatu materi dalam serat optik yang kemudian menghamburkan\memancarkan berkas-berkas cahaya tersebut ke segala arah. Hal ini disebabkan ketidak homogenan materi yang terdapat dalam serat optik tersebut yang mempunyai sifat menghamburkan suatu berkas cahaya. d. Pemantulan dan Pembiasan - Pemantulan Pemantukan adalah suatu keadaan dimana berkas cahaya dari suatu media yang rapat ke media yang kurang rapat. Bila sudut datang dari suat berkas cahaya lebih besa dari sudut kritisnya maka akan terjadi pemantulan sempurna. - Pembiasan Pembiasan terjadi apabila sudut datang lebih kecil daripada sudut kritis. Sehingga dapat disimpulkan bahwa proses pemantulan akan terjadi apabila sudut datang sama dengan sudut pantul (<i=<r) maka pembiasan akan berlaku bila :

n1 sin 1 = n2 sin 2
Rumus di atas dikenal dengan hukum Snellius.

21

Gambar 3.11 Pantulan Cahaya Snellius

e.

Pemantulan Fresnel (Fresnel Refraction) Berkas cahaya yang datang tegak lurus pada suatu bidang permukaan yang merupakan batas antara udara (n 0 = 1) dengan inti serat optik. Untuk lebih jelasnya perhatikan gambar berikut :

Gambar 3.12 Pantulan Fresnel antara Udara-Inti

Pantulan di atas merupakan Fresnel Refraction pada pemancar yang besarnya adalah :

22

Gambar 3.13 Pantulan fresnal antara inti-udara

23

IV.

Lokalisir Gangguan Pada Sistem Komunikasi Serat Optik

IV.1

Konfigurasi SKSO

Gambar 4.1 konfigurasi SKSO

Sistem Komunikasi Serat Optik terdiri dari : 1. Pemancar/Sumber Optik ( Optical Transmitter ) * LED ( Light Emitting Diode ) atau Diode LASER ( Light Amplification by Stimulated Emission of Radiation ) * Electrical Circuit Transmit 2. Serat Optik ( Optical Fiber ) sebagai Media * Dibuat dari serat kaca dengan diameter dalam mikrometer. 3. Penerima Optik ( Optical Receiver ) * Diode PIN (Positive Intrinsic Negative),atau APD (Avalanche Photo Diode) * Electrical Circuit Receive IV.2 Rugi-rugi pada serat optik Pada umumnya rugi-rugi serat optik dibagi berdasarkan dari mana rugi-rugi tersebut ditimbulkan, yaitu : 1. Rugi-rugi yang timbul dari bahan serat optik itu sendiri 2. Rugi-rugi yang timbul akibat penggunaan serat optik tersebut sebagai media transmisi.

24

A. Rugi-Rugi karena Bahan 1. Absorption Loss Rugi-rugi yang disebabkan karena masih banyaknya kotoran-kotoran pada bahan gelas (terutama yang terbuat dari glass multi komponen). Kotoran-kotoran tersebut dapat berupa logam (besi, tembaga) atau air dalam bentuk ion-ipn yang dapat menyerap sinar yang melaluinya akan berubah menjadi energi panas. Energi panas ini akan menyebabkan daya berkurang. 2. Rayleigh Scattering Loss Peristiwa ini terjadi karena adanya berkas cahaya yang meengenai suatu materi dalam serat optik yang kemudian menghamburkan/ memancarkan berkasberkas cahaya tersebut ke segala arah. Hal ini disebabkan ketidak homogenan materi yang terdapat dalam serat optik tersebut yang mempunyai sifat menghamburkan suatu berkas cahaya. B. Rugi-rugi karena penggunaaan Serat Optik sebagai Media Transmisi 1. Rugi-rugi karena pelengkungan Rugi-rugi ini terjadi pada saat sinar melalui serat optik yang dilengkungkan, dimana sudut datang sinar lebih kecil dari pada sudut kritis sehingga sinar tidak dipantulkan sempurna tapi dibiaskan.

Gambar 4.2 Rugi-rugi karena pelengkungan

25

Untuk mengurangi rugi-rugi karena pelengkungan maka harga Numerical Arpature dibuat besar. Numerical Aperture adalah ukuran atau besarnya sinus sudut pancaran maksimum dari sumber optik yang merambat pada inti serat yang cahayanya masih dapat dipantulkan secara total, dimana nilai NA juga dipengaruhi oleh indeks bias core dan cladding. 2. Microbending Loss Rugi-rugi ini termasuk sebagai akibat adanya permukaan yang tidak rata (dalam orde mikro) sebagai akibat proses perbaikan bahan yang kurang sempurna.

Gambar 4.3 Rugi-rugi karena microbending 3. Splicing Loss Rugi-rugi ini timbul karena adanya gap antara dua serat optik yang disambung. Hal ini terjadi karena dimensi serat optik yang demikian kecil sehingga penyambungan menjadi tidak tepat sehingga sinar dari bahan serat optik ke serat optik lainnya tidak dapat dirambatkan seluruhnya. Ada beberapa kesalahan dalam penyambungan yang dapat menimbulakn rugi-rugi splicing, yaitu:

Sambungan kedua serat optik membentuk sudut Kedua sumbu berimpit namun masih ada celah diantara keduanya Ada perbedaan ukuran antara kedua serat optik yang disambung

Untuk mengukur besarnya rugi-rugi karena sambungan digunakan rumus : L (dB) = 10 Log (P out/ P in) dimana :

26

P out = daya sesudah sambungan P in = daya sebelum sambungan 4. Rugi-rugi Coupling Rugirugi ini timbul karena pada saat serat optik dikopel/ disambungkan dengan sumber cahaya atau photo detektor. Hal ini dapat terjadi karena energiyang diradiasikan oleh sumber optik dapat dimasukkan ke dalam serat optik. Kualitas kopling dinyatakan dengan effisiensi kopling seperti dinyatakan dengan rumus :

dimana : Ps = daya yang dipanncarkan oleh sumber cahaya Pt = daya yang dimasukkan ke dalam serat optic Rugi-rugi pada serat optik tersebut dapat menimbulkan gangguan pada kabel optik yang ada di lapangan, serta gangguan-gangguan eksternal lainnya yang dapat mengganggu proses pengeriman sinyal atau cahaya pada kabel serat optik seperti adanya penggalian tanah, longsor, pencurian kabel tembaga oleh oknum-oknum dan lain sebagainya. Hal itu lah yang mendasari adanya proses penanganan gangguan fiber optik atau lokalisir gangguan serat optik. IV.3 Proses Lokalisir Gangguan Fiber Optik IV.3.1 Konfigurasi Serat Optik antar STO Berikut adalah salah satu konfigurasi sistem komunikasi serat optik untuk daerah yang mengalami gangguan :

27

Gambar 4.4 Konfigurasi daerah yang di lokalisir

IV.3.2 Cara mengatasi gangguan pada kabel fiber optik Pada umumnya untuk kabel putus yang diakibatkan adanya suatu pekerjaan dan pekerjaan itu tampak dan terfokus disatu tempat, ini adalah biasa dan dapat dengan mudah menemukan titik dan lokasi gangguan serta penyebabnya. Namun jika penyebabnya tidak diketahui dan diatas jalur kabel tidak terlihat ada tandatanda kegiatan, ini cukup sulit teknisi yang sudah biasa menangani gangguan pun sulit untuk menemukan titik kerusakan tersebut dengan cepat, bahkan meskipun perkiraan lokasi gangguan sudah diketahui, biasanya ragu untuk meng-eksekusinya karena kurang yakin akibat tidak terlihatnya titik kabel yang rusak, sehingga penanganan ganguan menjadi lama terlebih bila kabel itu putus partial dan terdapat beban. Berikut merupakan yang dapat dilakukan dalam proses penanganan gangguan fiber optik : 1. Ketahui total panjang ruas kabel yang terpasang. 2. Ketahui rute kabel, pelajari As-Built Drawaing, telusuri jalur kabel tersebut dari mulai STO A sampai ke STO tujuan.

28

Gambar 4.5 AS-Built Drawing

3. Mengetahui span kabel yang dipasang, per-2000m-kah, 3000m dan berapa jumlah sambungan yang ada pada ruas tersebut. 4. Pastikan juga untuk mengetahui dimana saja sambungan kabel itu ditanam, berapa jarak dari STO A kesambungan ke-1, dari sambungan ke-1 ke sambungan ke-2 dan seterusnya. . 5. Buat peta ruas kabel dilengkapi dengan alamat titik joint, contoh ruas kabel dari STO PWK STO CKP yang ada di ARNET Bekasi. Panjang total FO dari STO PWK CKP adalah 19.670 m Keterangan : -F1 : (Joint-1) MH PWK02/10 depan RS Bayu Asih Jl. Veteran No.39 Pwk ada patok -F2 : (Joint-2) MH PWK02/19 depan Mes Pajak Jl. Veteran No.249 Pwk ada patok -F3 : (Joint-3) MH PWK02/29 depan Bulog Sadang Jl. Veteran No.28 Sadang ada patok -F4 : (joint-4) HH-01 depan Bionusa Jl. Raya Bungursari No.215 Bungursari ada patok -F4A: (Extra joint) depan Pom Bensin Bungursari 700 m dari F4 ke arah Ckp ada patok -F5 : (joint-5) HH-02 depan Rumah Pa Adji Jl. Raya Bungursari No.103 ada patok -F6 : (joint-6) HH-03 hutan jati sebrang tower xl bungursari Cibungur ada patok -F7 : (joint-7) HH-04 pertigaan BIC Cibungur depan lapo tuak Amigos patok hilang -F8 : (joint-8) HH-01 Perumahan Rawamas depan Rumah No.27 Rt.02/08 Ckp ada patok -F9 : (joint-9) MH CKP 42/06 depan kantor PLN Jl. Ir.H. Juanda No.27 CKP ada patok Sekarang data ruas kabel sudah diketahui, selanjutnya langkah-langkah yang harus dilakukan bila terjadi gangguan :

29

1. Baca SOP 2. Tidak perlu semua core di ukur, cukup sampling saja, untuk kapasitas kabel 48 core 4 tube misalnya, ukur saja 2 core dari masing-masing tube, ukur dengan teliti sehingga dapat mengetahui persis berapa meter jarak gangguan dari tempat melakukan pengukuran. Apabila dari hasil ukur diketahui kabel putus di 13.500 m dari tempat pengukuran di STO PWK, maka dapat dilihat pada peta kabel, joint ke7 berada di 13.935m dan kabel putus ada di 13.500. (13.935-

13.500=435m).Selanjutnya adalah bergerak menuju ke joint ke-7 ukur dengan meter jalan sepanjang 450 dari joint ke-7 ke arah tempat pengukuran. 3. Usahakan tidak melakukan pengukuran dengan meter jalan dari tempat melakukan pengukuran untuk menuju ke 13.500 m,karena ini terlalu jauh dan tidak akan akurat, karena yang diukur adalah panjang jalan bukan panjang kabel, kabel yang perpasang di dalam tanah mempunyai beberapa slek/gulungan, slek itu ada disetiap joint, manhole bahkan sebelum dan sesudah hanging/jembatan kabel, bila anda melakukan pencarian dari mulai tempat pengukuran, maka slek-slek kabel tersebut harus dihitung. 4. Catat setiap penambahan sambungan (input di infracnr), kelak akan sangat membantu bila ruas kabel tersebut mengalami gangguan lagi, pasang patok sambungan. IV.4 Proses Perbaikan Kabel Fiber Optik Apabila kerusakan pada kabel optik tersebut hanya kurang lebih 20% maka tidak perlu diadakan penyambungan ulang hanya perlu pemindahan patch core pada OTB di kedua sisi sentral ke kanal pada OTB lain yang tidak mengalami gangguan pada proses pengiriman sinyal atau cahaya tersebut, namun apabila gangguan pada kabel optik tersebut telah mencapai 50% maka perlu diadakan penggalian dan penarikan ulang serta proses penyambungan kabel optik.

IV.4.1 Penyambungan Kabel Serat Optik Penyambungan serat optik

30

Penyambungan serat optik atau yang sering disebut dengan splicing serat optik dilakukan pada saat serat putus yang dikarenakan oleh faktor dari luar seperti terkena senar layangan, cangkul, jangkar, dan lain-lain atau untuk menghubungkan ujung serat optik pada saat instalasi dengan jarak yang jauh. Dengan melakukan splicing ini kita akan dapat mengurangi redaman. Hal ini disebabkan bila kita menggunakan konektor biasa untuk menghubungkan kedua ujung serat optik, maka kita akan mendapatkan redaman yang lebih besar dibandingkan melakukan teknik splicing. Peralatan dan Bahan

Gambar 4.6 Peralatan dan Bahan 1. Fusion Splicer 2. Pemotong tube 3. Cutter 4. Tang logam 5. Tang pengupas serat 6. Tang pemotong serat 7. Kain bersih 8. Alkohol 9. Tissue 10. Selotip 11. Spidol 12. Meteran

31

13. Thinner-B 14. Pelindung serat 15. OTB (optical terminal box) 16. Potch Core Hal-Hal yang perlu diperhatikan dalam penyambungan Serat Optik Dalam melakukan splicing ada hal-hal yang harus diperhatikan agar splicing bisa berhasil dan juga untuk keselamatan kerja. Hal-hal tersebut antara lain: 1. Sebelum melakukan splicing usahakan agar semua peralatan dan bahan serta tangan kita sebersih mungkin sebab adanya kotoran pada serat optik dapat menyumbang redaman pada serat. 2. Selalu letakkan tangan di belakang cutter ketika sedang melakukan pengupasan pelindung serat. 3. Jangan menginjak tube karena akan merusak core yang ada di dalamnya sehingga bisa menyebabkan core pecah atau retak. 4. Sebaiknya jangan mendekatkan cairan alkohol ke mata kita sebab cairan alkohol bisa menguap ke udara. 5. Jangan menggulung core dengan diameter yang sangat kecil karena bisa membuat core putus. 6. Jangan membuang core sembarangan sebab bila menembus kulit dikuatirkan bisa masuk ke aliran darah dan mengganggu kesehatan. 7. Selalu perhatikan perlindungan pada kaset agar air tidak dapat masuk kedalam kaset dan bisa merusak serat tersebut. 8. Ikuti prosedur atau langkah-langkah yang ada.

32

Langkah-Langkah Instalasi Dalam hal ini kita menggunakan kabel serat optik untuk udara. Berikut ini adalah prosedur atau langkah-langkah dalam melakukan penyambungan atau splicing serat optik : 1. Ukur dengan menggunakan meteran sepanjang +150cm (dalam keadaan baik) dari ujung kabel lalu tandai dengan isolasi atau spidol

+150 cm Gambar 4.7 Panjang kabel yang dikupas

2. Untuk kabel udara terlebih dahulu mengupas logam dalam kabel yang berfungsi sebagai penopang kabel saat berada di udara dengan menggunakan cutter sepanjang batas tersebut lalu potong dengan tang logam. 3. Setelah itu mengupas pelindung tube yang berwarna hitam sepanjang batas tersebut. Langkah-langkah untuk membuka pelindung : a. Sebaiknya dilakukan secara sedikit demi sedikit sepanjang 25 cm dengan cara digergaji dan jangan terlalu dalam karena akan mengenai tube. b. Patahkan sedikit dan memutar pada bekas gergaji dan sudut patah tidak boleh 30o agar tube tidak ikut patah. c. Lalu tarik sehingga yang terlihat hanya benang pelindung dan kupas benang tersebut dengan cutter sehingga yang terlihat hanya tube yang dilapisi jelly. 4. Bersihkan tube dari jelly dengan kain yang sudah dibasahi dengan thinner-B sampai bersih.

33

5. Ukur tube tersebut dari batas isolasi sepanjang +50 cm beri tanda dengan spidol. Lalu kupas tube pada batas tersebut dengan menggunakan pemotong tube dan sebaiknya dilakukan sedikit demi sedikit sepanjang 25 cm dengan cara memutar pemotong tube searah jarum jam sebanyak 2 kali lalu patahkan dan jangan lebih dari 30o agar serat optik tidak ikut patah, lalu tarik tube sehingga yang terlihat hanya serat optik saja yang dilindungi oleh jelly. Lakukan berulang-ulang sampai sepanjang + 100 cm dari ujung tube. 6. Bersihkan core tersebut dari jelly dengan kain yang sudah dibasahi dengan thinner-B sampai bersih.

Gambar 4.8 Panjang tube yang dikupas

7. Gulung serat optik dengan bentuk melingkar agar aman, tidak kotor dan tidak mengenai tanah.

Spiral Pengikat Tube

Core

Kaset

Gambar 4.9 Penempatan serat optik pada kaset

34

Langkah-Langkah Splicing 1. Terlebih dahulu masukkan plastik khusus untuk melindungi bagian core yang telah displice satu persatu dengan diberi tanda dengan spidol. 2. Kupas core dari jaketnya menggunakan tang pengupas dengan cara memposisikan tang agak miring, tahan lalu tarik ke ujung core secara perlahan. 3. Setelah terkupas bersihkan core dengan tissue yang sudah dibasahi dengan alkohol sampai gesekannya mengeluarkan bunyi. Lakukan sebanyak 3 kali lalu keringkan dengan tissue. 4. Lalu masukkan ke dalam pemotong core dimana kita menempatkan ujung jaket pada skala antara 15 dan 20, lalu potong. Pada saat memotong, pisau harus dijalankan dengan kecepatan yang sesuai dan konstan. 5. Setelah itu kita masukkan ke dalam splicer yang berfungsi menyambung core dengan teknik fusion. Jangan sampai ujung core menyentuh sesuatu benda sebab akan menambah redaman.

Gambar 4.10 Peletakan serat optik pada splicer

6. Kemudian tekan tombol set maka secara otomatis splicer akan meleburkan kedua core dan menyambungnya. Tunggu sampai layar menunjukkan estimasi redaman lalu tekan reset maka layar akan kembali ke tampilan awal. 7. Setelah itu keluarkan core tersebut lalu geser plastik khusus tadi ke sisi core yang telah mengalami proses splice. Kemudian masukkan ke bagian splicer yang berfungsi untuk

35

memanaskan plastik tersebut. Tunggu sampai splicer mengeluarkan bunyi lalu keluarkan. 8. Kemudian letakkan core kembali ke dalam kaset tadi seperti gambar di bawah ini.

Gambar 4.11 Peletakan protektor pada kaset

IV.4.2 Pengukuran Serat Optik Alat ukur serat optik digunakan untuk proses pemeliharaan perangkat transmisi serat optik, baik pemeliharaan rutin (preventive maintenance) maupun dadakan (corrective maintenance). Adapun beberapa jenis alat ukur yang biasa digunakan antara lain : 1. OTDR (Optical Time Domain Reflectometer) 2. Laser source 3. Optical power meter 4. Attenuator (fixed & variable) 5. Splicer dan aksesorisnya IV.4.2.1 OTDR (Optical Time Domain Reflectometer) OTDR merupakan salah satu peralatan utama baik untuk instalasi

maupun pemeliharaan link serat optik OTDR memungkinkan sebuah link diukur dari satu ujung OTDR dipakai untuk mendapatkan gambaran visual dari redaman serat

optik sepanjang sebuah link yang diplot pada sebuah layar dengan jarak digambarkan pada sumbu X dan redaman pada sumbu Y. OTDR berfungsi juga untuk mengetahui redaman serat, loss sambungan, loss konektor dan lokasi gangguan / letak titik putus serat optik seperti pada gambar/display. Pemakaian OTDR :

36

Saat instalasi : OTDR dipakai untuk memastikan loss sambungan, konektor dan loss karena tekukan atau tekanan terhadap kabel. Dalam pemeliharaan : Pengecekan periodik untuk memastikan tidak ada degradasi serat Melokalisir gangguan dengan tahap-tahap sebagai berikut : OTDR memancarkan pulsa-pulsa cahaya dari sebuah sumber dioda laser kedalam sebuah Serat Optik. Sebagian sinyal-sinyal dibalikan ke OTDR, sinyal diarahkan melalui sebuah coupler ke Detektor Optik dimana sinyal

tersebut diubah menjadi sinyal listrik dan ditampilkan pada layar CRT. OTDR mengukur sinyal balik terhadap waktu. Waktu tempuh dikalikan dengan kecepatan cahaya dalam serat digunakan untuk menghitung jarak atau l = v x t/2 Tampilan OTDR menggambarkan daya relatif dari sinyal balik terhadap jarak. IV.4.2.2 Backscattering Adalah pemantulan yang kembali ke sisi pengirim yang disebabkan adanya bending ataupun connector loss. Gambar dibawah ini menjelaskan penyebab-penyebab terjadinya backscattering.

Gambar 4.12 Faktor-faktor penyebab Backscattering

37

IV.4.2.3 Dead Zone : Dead Zone menentukan sampai berapa dekat OTDR dapat mengukur. Dead Zone adalah blind spots yang terjadi karena refleksi. Attenuation Dead Zone : Jarak dari awal refleksi ke titik dimana penerima dapat menerima pada 0,5 dB dari backscatter linier. Ini merupakan titik dimana OTDR dapat mengukur lagi redaman dan loss. Event dead zone adalah jarak dari awal refleksi ke titik dimana OTDR dapat menerima 1,5 dibawah puncak refleksi.

Gambar 4.13 Dead Zone

Agar OTDR dapat bekerja dengan baik, harus dihindari lokasi adalah : Vibrasi yang kuat. Kelembaban yang tinggi atau kotor (debu). Dihadapkan langsung ke matahari. Daerah gas reaktif.

38

Sebelum bekerja dengan OTDR : Perhatikan spesifikasi teknik yang dimiliki perangkat. Lakukan pembersihan terhadap konektor (jumper cord).

Gambar 4.14 Cara membersihkan konektor

Dalam mempergunakan OTDR perlu diperhatikan hal-hal sebagai berikut : Jangan melihat langsung laser ke mata, karena berbahaya bagi mata. Konektor harus bersih, agar didapat hasil yang benar. Tegangan catuan yang diijinkan. Penanganan kabel konektor. Kondisi lingkungan alat. Kemampuan spesifik dari peralatan.

Pengukuran kabel serat optic dengan menggunakan OTDR A. Alat-alat yang digunakan antara lain : 1. 2. 3. 4. 5. 6. OTDR Printer Adaptor Power supply Patch Core Kabel penghubung

B. Gambar rangkaian pengukuran C. Prosedur pengukuran

39

a. Rangkailah seperti pada gambar. b. Nyalakan OTDR (tekan switch power). c. Settinglah parameter-parameter berikut ini : panjang gelombang () =1310 nm scatter coefficient = 48,5 dB refractive index = 1,47180 set pada kondisi real time

d. Hubungkan terminal input dari OTDR ke idle core (core yang tidak beroperasi) dari OTB. e. Tekan tombol RUN/STOP untuk menembakkna laser ke idle core. f. Setelah mencapai ujung core yang dimaksud, teksan kembali tombol RUN/STOP untuk mematikan laser. g. Maka pada layar OTDR akan muncul grafik seperti dibawah ini : Dari grafik diatas dapat diketahui keterangan-keterangan sebagai berikut : Jarak antara dua terminal (dua titik pengukuran), rugi-rugi pada setiap titik penyambungan, serta total estimasi loss antara dua terminal tersebut. Untuk menganalisa rugi-rugi tersebut, tekan tombol ENTER dan pilih menu SCAN ANALYSIS. Simbol-simbol diatas sumbu horisontal menunjukkan jenis-jenis losses yang terjadi disepanjang saluran. l. Untuk memberi keterangan hasil pengukuran, tekan tombol ENTER dan pilih menu file trace info, kemudian beri identitas pada masingmasing point dengasn menekan tombol enter i. Untuk menyimpan hasil pengukuran, tekan tombol ENTER, pilih menu file Save As. j. Untuk mencetak hasil pengukuran tekan tombol ENTER, pilih menu file print. IV.4.3. Power Meter Test & Laser Source Dipakai untuk mengukur total loss dalam sebuah link optik baik saat instalasi (uji akhir) atau pemeliharaan dan juga untuk kelurusan core optik.

40

Laser Source : Sebagai sumber laser ( Signal Optik ) Power Meter : Meter untuk mengetahui besarnya signal optik yang datang pada sisi penerima ( Rx ). Redaman : Diukur dalam satuan Decibel (dB)

Loss atau redaman dinyatakan : L (dB) = Pin (dBm) - Pout (dBm) L (dB) = 10 Log (Pin / Pout) dB

Gambar 4.15 Penggunaan Power Meter

Gambar 4.16 Contoh pengukuran serat optik

41

IV.4.3.1

Pengukuran kabel serat optic dengan menggunakan Laser Source dan Power Meter.

A. Alat-alat yang digunakan : 1. 2. Laser Source (sebagai sumber sinyal optik). Power Meter (untuk mengetahui besarnya sinyal optik yang datang pada sisi receiver/ Rx). 3. 4. Optical Varible Attenuator. patch core (FC to FC).

B. Prosedur Percobaan : 1. Sebelum melakukan pengukuran dilakukan kalibrasi trelebih dahulu untuk mengetahui besar daya laser yang dipancarkan oleh Laser Source. Langkah-langkah pengkalibrasian adalah sebagi berikut : a. Hubungkan Laser Source dengan Power Meter seperti pada gambar berikut : b. Nyalakan Laser Source untuk menembakkan laser ke Power Meter. c. Lihatlah tampilan pada layar Power Meter untuk melihat besarnya daya laser yang dipancarkan oleh Laser Source. 2. Hubungkan Laser sorce dengan Optical Variable Attenuator pada sisi input dan Power Meter pada sisi output. 3. Optical Varible Attenuator dipakai sebagai pengganti rugi-rugi yang terjadi di sepanjang saluran karena pengukuran tidak dilakukan di lapangan, sehingga dapat diatur intensitas rugi-ruginya. 4. Nyalakan Laser Source untuk menembakkan laser ke Power Meter. 5. Lihatlah tampilan pada layar Power Meter untuk mengetahui total losses di sepanjang saluran.

42

V. PENUTUP

V.1

Kesimpulan Selama melakukan Kerja Praktek di PT.Telkom Area Network Bekasi Timur,

kami mendapatkan banyak pengetahuan dan pengalaman baru yang sebelumnya belum pernah kami dapat di bangku perkuliahan. Tentunya pengetahuan yang kami dapatkan berkaitan dengan Sistem Komunikasi Serat Optik yang dewasa ini merupakan salah satu teknologi komunikasi yang berkembang sangat pesat, bahkan akan menjadi trend sebagai media penyalur data untuk komunikasi yang akan datang. Tidak salah kiranya apabila kami mengambil Sistem Komunikasi Serat Optik (SKSO) sebagai objek Kerja Praktek., karena SKSO mempunyai banyak kelebihan dibandingkan dengan sistem komunikasi lainnya, seperti Komunikasi Satelit (KOMSAT), Sistem Radio GMD, dan sistem-sistem komunikasi lainnya. Setelah kami menyelesaikan laporan Kerja praktek ini, selanjutnya kami dapat mengambil kesimpulan, yaitu : 1. 2. Serat Optik terdiri dari Core, Cladding,, dan Coating. Sumber cahaya yang biasa digunakan dalam Serat Optik adalah LD (Laser Diode) dan LED (Light Emithing Diode). 3. Kerugian yang terdapat pada kabel fiber optik antara lain adalah Rugi-rugi karena bahan ; absorption loss, rayleigh scattering loss Rugi-rugi karena penggunaaan Serat Optik sebagai Media Transmisi ; rugirugi karena pelengkungan, microbending loss,splicing loss, rugi-rugi coupling. 4. Kerugian pada sistem komunikasi serat optik baik internal maupun eksternal sangat berpengaruh pada proses pengiriman sinyal cahaya pada kabel optik sehingga mengakibatkan gangguan pada proses komunikasi sehingga diperlukannya lokalisir gangguan atau proses penanganan gangguan pada sistem komunikasi serat optik. 5. Proses penanganan gangguan dapat dilakukan dengan cara : a. Ketahui total panjang ruas kabel yang terpasang. b. Ketahui rute kabel, pelajari As-Built Drawaing, telusuri jalur kabel tersebut dari mulai STO A sampai ke STO tujuan

43

c. Mengetahui span kabel yang dipasang, per-2000m-kah, 3000m dan berapa jumlah sambungan yang ada pada ruas tersebut. d. Pastikan juga untuk mengetahui dimana saja sambungan kabel itu ditanam, berapa jarak dari STO A kesambungan ke-1, dari sambungan ke-1 ke sambungan ke-2 dan seterusnya. . e. Buat peta ruas kabel dilengkapi dengan alamat titik joint, contoh ruas kabel dari STO PWK STO CKP yang ada di ARNET Bekasi 6. Apabila terjadi kerusakan core hanya 20% tidak perlu dilakukan penggalian, penarikan dan penyambungan ulang kabel optic namu jika kerusakan mencapai 50% barulah dilakukan proses tersebut. 7. Splicing atau proses penyambungan core optic harus dilakukan dengan teliti agar redaman yang dihasilkan mencapai nilai loss maksimum yang di izinkan atau toleransi sebesar < 0,3 db. V.2 Saran-saran Setelah kami melaksanakan kerja praktek di PT. Telkom ARNET Bekasi, kami merasakan penambahan wawasan dan pengetahuan mengebai perkembangan system Telekomunikasi saat ini. Namun kami memiliki beberapa kritik dan saran, diantaranya : 1. Praktek kerja sebaiknya tidak hanya dilakukan di lingkungan kantor saja, tetapi juga dilakukan di lapangan. 2. Jika melaksanakan Trouble Shooting atau Lokalisir di lapangan, sebaiknya praktikan yang melaksanakan Kerja Praktek diikutsertakan., sehingga para praktikan tersebut bisa mendapatkan pengalaman tentang cara mengatasi Trouble Shooting secara langsung. 3. PT. TELKOM sebaiknya lebih mempererat hubungan kerjasama dengan pihak sekolah atau instansi terkait, terutama dalam pembinaan pendidikan (Education). Demikian kesimpulan dan saran yang dapat kami sampaikan, semoga berkenan dan dapat menjadi masukan yang bermanfaat, khususnya dalam upaya meningkatkan mutu dan kualitas pelayanan PT.TELKOM kepada masyarakat, serta agar Sistem Komunikasi Serat Optik bisa berkembang lebih pesat dalam memudahkan komunikasi di dunia global pada umumnya.

44

Daftar Pustaka

1. Internet : http://www.google.co.id/splicing-fiber-optik.htm http://id.wikipedia.org/wiki/Optical_time-domain_reflectometer 2. 2009.SKSO(Sistem Komunikasi Serat Optik). Telkom Training Center.

45