P. 1
Rajajalu.docx Tower BTS

Rajajalu.docx Tower BTS

|Views: 1,284|Likes:
Dipublikasikan oleh Linda Rahman

More info:

Published by: Linda Rahman on Jun 26, 2012
Hak Cipta:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOCX, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

02/21/2013

pdf

text

original

Minggu, 19 Juli 2009

Radiasi Tower BTS Bisa Menyebabkan Kanker
NISAM-Pihak puskesmas Nisam merasa keberatan dengan pembangunan sebuah Tower base transceiver station (BTS). Pasalnya, BTS milik salah satu perusahaan telekomunikasi dibangun berjarak tiga meter dari Puskesmas. Dikhawatirkan tower itu dapat mengganggu kesehatan pasien yang sedang berobat. Oleh karena itu, Kamis kemarin (3/8), sejumlah staf yang ada di Puskesmas Nisam mendatangi DPRD Aceh Utara untuk melaporkan keberatan mereka. Mengingat radiasi yang dipancarkan oleh tower BTS dapat menyebabkan gangguan kesehatan, seperti kanker maupun leukimia. Kedatangan kepala puskesmas bersama para staf diterima oleh komisi B DPRD Aceh Utara. Disamping itu, pihak komisi B akan menindak lanjuti keluhan para staf puskesmas ini. Bahkan pihaknya dalam waktu dekat ini akan memanggil pihak-pihak terkait. “Kita telah mendapat pengaduan dari pihak puskesmas Nisam yang keberatan dengan adanya pembangunan tower BTS yang letaknya hanya berjarak 3 meter dari sarana kesehatan itu. Alasannya tower itu akan memancarkan radiasi yang dapat mengganggu kesehatan. Mereka meminta agar pembangunan tower dapat dipindahkan dari lokasi tersebut,�ungkap Tgk.H.Zulkarnaen wakil ketua komisi B kepada wartawan koran ini yang didampingi Muhammad H.R. Pengaduan dan kekhawatiran para pegawai puskesmas memang dapat dijadikan alasan yang kuat. Dibeberapa media sering diberitahukan dampak dari tower BTS pada sejumlah habitat lainnya yang ada disekitar termasuk manusia. “Kita akan memanggil pihak-pihak terkait untuk membicarakan hal ini. Diharapkan pembangunan tower dapat kita pindahkan ke lokasi lain yang agak jauh dari penduduk. Minimal jika BTS dipindahkan, dapat mengurangi dampak psicologis para pasien dan pegawai puskemas. Terlepas berbahaya atau tidak, dan harus ada penjelasan dari ahlinya,�sambung Saifullah Muhammad sekretaris komisi B. Mendapat laporan ini, pihak DPRD juga menghimbau kepada pemerintah daerah agar dapat meninjau ulang setiap adanya rencana pembangunan BTS. “Yang jelas, semua alat elektronik pasti menimbulkan radiasi, tergantung sejauh mana pancarannya dan pengaruhnya. Jadi pemerintah daerah harus jeli dalam memberikan izin pembangunan tower. Apalagi pada kawasan padat penduduk,�terang Saifullah lebih lanjut. (agt)

sumber : Rakyat Aceh Online

Diposkan oleh rajajalu di 07:44

REFERENSI TOLAK BTS
Blog ini dibuat sebagai ajang komunikasi, sharing data dan referensi mengenai tata cara menolak BTS . Pembangunan BTS yang kebanyakan di pemukiman padat selalu rawan terhadap penyimpangan. Blog ini memerlukan sumbangan aneka peraturan pemerintah atau pemda mengenai pembangunan BTS untuk mencegah aksi ‖ dirty tactic‖ yang disinyalir terjadi dan meresahkan masyarakat tidak terjadi lagi, seperti yang TENGAH terjadi di kampung kami.

PENGANTAR
Situs ini sengaja dibuat untuk menjadi referensi bagi siapa yang keberatan dengan pembangunan BTS wilayahnya, khususnya di DKI Jakarta. Sampai dengan situs ini dibuat, kami, tujuh warga RT. 07/08 kelurahan Sungai Bambu, Kecamatan Tanjung Priok, Jakarta Utara, masih was was kalau kalau BTS itu akhirnya didirikan. Meskipun tidak ada izin, seluruh PERALATAN DAN ANTENA BTS SUDAH ADA DI LOKASI hingga memicu keributan warga dengan pemilik. Berbagai cara telah ditempuh, termasuk mengirimkan surat keberatan kepada Pemkot. Jakarta Utara dan terakhir dinas P2B DKI Jakarta, termasuk Telkomsel. Hanya Allah SWT, Tuhan Yang Maha Esa yang bisa menghentikan pembangunan BTS tersebut karena kami percaya KEBENARANLAH YANG BERBICARA. Status terakhir, BTS itu tidak ada izin namun pemilik mengatakan izin akan tetao diurus. Padahal Pemda DKI menyatakan SUDAH TIDAK ADA LAGI IZIN BAGI PEMBANGUNAN MENARA BTS karena akan dibuat menara bersama. Tujuan situs ini juga untuk membantu Pemkot Jakarta Utara serta Pemda Dki secara keseluruhan karena dari perjuangan kami mempertahankan hak hidup kami, kami menangkap ada ‖ dua kubu‖ di Pemda DKI yang saling bergesekan keras yakni Kelompok ‖ The Good Guys‖ and ‖The Bad Guys‖. Perkembangan ini jelas menggembirakan karena bagaimanapun fenomena ini menunjukkan bahwa Pemda DKI dan jajaran pemerintah lainnya sedang menuju kepada perubahan kearah ‖ Good Governance‖ yang transparan, adil serta mengayomi warganya jauh dari segala bentuk Korupsi, Kolusi dan Nepotisme. Tujuan lain dari situs ini adalah untuk memberi gambaran kepada kita semua mengenai tingkah polah kontraktor, operator, aparat pemerintah dibawah biasanya RT, RW dan Lurah yang cenderung TIDAK MEMIHAK WARGA. Mereka menganggap praktek praktek lama KASIH UANG HABIS PERKARA berlaku dimana mana ketika warga kerkeberatan dengan pembangunan BTS. Padahal kami BERBEDA. Kami bertujuh yang menolak BTS di lingkungan kami SAMA SEKALI TIDAK MENGINGINKAN KOMPENSASI UANG. Ini disebabkan karena menara BTS tersebut sangat membahayakan keselamatan kami karena AKAN DIPASANG di bangunan bertingkat tiga yang tidak laik bangun.

Situs ini sangat terbuka untuk dikomentari oleh siapapun yang ingin menyaksikan KEBENARAN selalu muncul asalkan kita memperjuangkannya. Masukan yang sangat diperlukan situs ini adalah terutama ANEKA PERATURAN TATA CARA PERIZINAN PEMBANGUNAN BTS. Harapan kami, situs ini juga menjadi ajang komunikasi bagi warga yang keberatan dengan pembangunan BTS di daerahnya agar bisa dilakukan aksi bersama yang berdasarkan hukum dan aturan yang berlaku.
Tulisan ini dikirim pada pada Selasa, Juli 29th, 2008 1:37 pm dan di isikan dibawah Uncategorized. Anda dapat meneruskan melihat respon dari tulisan ini melalui RSS 2.0 feed. r Anda dapat merespon, or trackback dari website anda.

yang harus di pikirin sama provider ato apa pun nama yang punya dan bangun tu BTS adalah efek jangka panjang dari paparan radiasi dari gelombang microwave yang di pancarkan oleh perangkat yang berada pada BTS.ada yang bilang justru hp lebih besar efek radiasinya daripada microwave yang ada di BTS.masalahnya hp gk selamanyanya memaparkan gelombangnya ke arah manusia,hanya saat2x tertentu ketika menerima atau melakukan koneksi panggilan menggunakan perangkat tersebut.masalahnya adakah langkah jaminan dari pihak pemilik BTS akan dampak yang akan di timbulkan dari paparan gelombang yang di hasilkan dari perangkat mereka kepada manusia sekitar BTS mereka.?bayangkan paparan gelombang dari microwave akan mengenai manusia di sekitarnya selama dia berada di sekitar BTS tersebut.kalo untuk kurun bulan ok.tp kalo untuk kurun waktu tahunan saya berasumsi bakal ada akumulasi dampak dari paparan gelombang microwave kepada manusia disekitarnya.belum lagi kalo terjadi kebocoran dari jalur pipa optik yang langsung mengenai masyarakat sekitarnya.dan tentu hal ini kadang tidak akan serta merta di sosialisasikan karena dampak nya tidak langsung kelihatan.

HUBUNGI : 1. LSM 1) Barisa Oposisi Rakyat Indramayu (BOR)- Organisasi politik 2) PBHBM (Pos Bantuan Hukum Berbasis Masyarakat) 2. DPRD 3. HAM 4. Media cetak 1) Jondol Wartawan Indramayu (JWI)-Media/berita/penerbitan 5. Media Elektronik 6. LBH 2) H.Moh. Mahfud MD (staf pengajar dan guru besar fakultas hukum Universitas Islam Indonesia (UII) Yogyakarta sejak th 1984, sebelum menjabat sebagai hakim konstitusi Prof.Mahmud pernh menjabat sebagai menteri pertahanan RI)

Rabu, 09 Januari 2008

BANYUMAS

Tolak Tower, Warga Tegalsari Demo

Membakar Ban Bekas

PURWOREJO-Puluhan warga kampung Tegalsari, Kelurahan/Kecamatan/Kabupaten Purworejo kemarin menggelar aksi unjuk rasa di jalan raya lingkar utara Purworejo. Mereka menuntut agar pembangunan tower BTS (Base Transceiver Station) milik Terkomsel yang ada di RT 01 RW 02 dibatalkan. Dalam aksi yang mengganggu arus lalu lintas itu, warga membakar ban bekas. Mereka juga membuat miniatur tower dari bambu kering yang juga ikut dibakar bersama ban sebagai simbul penolakan. Mereka juga menggelar spanduk yang berisi kecaman terhadap aparat RT dan Kelurahan, serta dari Telkomsel yang mengabaikan aspirasi warga. Yang menarik, dalam warga juga menyembelih dua ekor bebek. Itu dilakukan sebagai simbol "menyembelih" kesewenang-wenangan aparat pemerintah di tingkat bawah yang tidak memerhatikan aspirasi warga. Sebelum melakukan aksi, warga terlebih dahulu menggelar doa bersama di masjid SDIT Ulul Albab. Dalam doa tersebut, mereka meminta agar dihindarkan dari dampak-dampak negatif akibat pembangunan tower Telkomsel. Khawatir Ketua Yayasan SDIT Ulul Albal, Subiyakto dalam kesempatan itu menjelaskan, penolakan tersebut dilakukan warga karena khawatir akan dampak keberadaan tower. ëíDampaknya memang tidak bisa langsung kelihatan. Tapi jangka panjang akan memengarui kesehatan warga. Termasuk anak-anak yang sekolah di sini," katanya. Dia mengatakan, hingga pembangunan tower mencapai 80 persen, pihaknya belum pernah mendapatkan sosialisasi. Apalagi penjelasan mengenai dampak-dampak yang ditimbulkan. Padahal, lembaga pendidikan itu masuk dalam radius. Hal yang sama juga diungkapkan sejumlah warga peserta aksi. Mereka mengaku sampai saat ini belum pernah sekalipun mendapatkan sosialisasi rencana pembangunan tower tersebut. Warga tetap menuntut pembangunan tower itu agar dihentikan. Mereka khawatir gelombang elektromagnetik yang bersumber dari tower itu akan berakibat buruk bagi kesehatan warga,

terutama anak-anak Seperti dilansir sebelumnya (SM, 8/1) 28 kepala keluarga (KK) di Kelurahan/Kecamatan/Kabupaten Purworejo menolak tegas pembangunan tower BTS milik Telkomsel yang ada di sebuah tanah milik warga di Kampung Tegalsari, RT 01 RW 02. Kendati muncul penolakan, namun tower tersebut tetap saja dibangun sejak seminggu lalu. (H43-64)

Copyright© 1996-2004 SUARA MERDEKA

Ketika Petir Menyambar Tower BTS
Sumber tulisan : Didiet (http://cingciripit.wordpress.com/2008/04/10/ketika-petir-menyambartower-bts/) Tulisan ini sebenarnya adalah email kiriman dari seorang teman yang bekerja di sebuah operator telepon seluler di Bandung. Beberapa perubahan dan penghilangan pada kata dan kalimat sengaja dilakukan menjaga kerahasiaan operator, lokasi kejadian dan warga penggugat.

Sekitar bulan lalu, salah satu tower BTS sebuah operator telepon seluler di Bandung terkena sambaran petir. Alarm yang muncul di OMC sudah dapat teratasi dengan correctivenes dari team network. Yang menjadi bulan-bulanan sampai detik ini adalah, adanya masalah community complain, yang mengklaim bahwa petir yang menyambar tower BTS tersebut mengakibatkan beberapa peralatan elektronik milik warga rusak. Setelah melalui pembicaraan yang berkepanjangan dengan warga, akhirnya disepakati, akan diadakan investigasi serius untuk masalah ini. Yang memperkuat klaim ini adalah adanya seorang warga

yang menjadi saksi saat itu, melihat petir berturut-turut merambat ke seluruh rumah warga. Sejak saat itu, peralatan elektronik milik warga banyak yang rusak. Untuk menangani hal ini, sebuah tim dari operator tersebut bekerja untuk menginvestigasi penyebab kerusakan. Anehnya, tempat tinggal warga yang juga site keeper BTS ini, tidak mengalami kerusakan apapun pada peralatan elektroniknya, bahkan, site keeper ini jadi tujuan kemarahan warga saat itu. Setelah sepakat, warga dan tim dari operator setuju untuk mendatangkan tim teknisi untuk memeriksa peralatan yang rusak. Saat itu juga, warga membuat daftar peralatan siapa saja yang rusak, dan teknisi tersebut memang membenarkan kerusakannya. Namun, sayangnya, teknisi ini tidak dapat memberi kepastian, apakah alat-alat ini rusak karena efek petir atau memang sudah rusak sebelumnya. Saat dimeetingkan pada hari Selasa, 8 april 2008 yang lalu, kami sangat kaget dengan list yang di serahkan warga. Terdapat 20 orang yang mengklaim peralatan elektroniknya rusak, seperti radio, TV, charger HP, lampu, bahkan hingga dispenser ada pada list tersebut. Sampai, ada klaim dari seorang warga yang kakinya terluka gara-gara petir ini, dan mengklaim sebesar 150ribu untuk perawatannya. Juga sebuah salon yang mengklaim seluruh peralatannya rusak karena petir ini. Dari pihak operator, sangat mungkin untuk mengganti semua klaim, namun, yang harus divalidkan adalah kebenaran penyebabnya. Sampai hari ini pun solusi masih belum selesai. Operator memutuskan untuk membawa pihak asuransi internal untuk menginvestigasi hal ini bersama-sama dengan perwakilan warga.

Sebenarnya, permasalahan BTS kena petir itu sudah biasa, karena faktor cuaca yang memungkinkan terjadinya banyak petir dan bukankah petir selalu mencari jalan untuk menyentuh permukaan bumi ?. Yang tidak biasanya adalah ketika petir menyambar tower BTS kemudian menyebabkan kerusakan peralatan elektronik di rumah-rumah warga sekitar BTS. Apa ada yang bisa membuat analisa kejadian seperti ini ?

*** Jika gugatan warga ini akhirnya dipenuhi oleh pihak operator, nampaknya warga-warga di atas tadi layak mendapatkan Stella Award, sebuah penghargaan untuk gugatan terkonyol, terutama untuk warga yang menggugat klaim biaya perawatan kakinya Sayang, Stella Award ini hanya berlaku untuk gugatan hukum di Amerika Serikat saja. Barangkali ada yang ingin membuat list gugatan terkonyol di Indonesia, bisa dimulai dengan gugatan di atas tadi (atau sudah ada ya listnya ?).

.

1.

abdulsyakur says Dijawab oleh SUTAN pada Kamis, 15-Mei-2008 pukul 11:59 am Penjelasan mengenai kerusakan yang terjadi di sekitar area BTS oleh sambaran Petir sebenarnya sederhana sekali. Saya berani meng-klaim bahwa 99% kerusakan yang terjadi di rumah warga memang diakibatkan oleh sambaran petir yang menghantam TOwer BTS. Analisa teknisnya begini : -Tinggi Tower minimal 42 m, seblum ada tower ketinggial max dari area tersebut paling 8 m ( rumah 2 tingkat ). Sehingga ketika ada Petir pada area tersebut, katakanlah 10 KA. Berdasarkan rumus Golde dan Rolling Spare Theory, jarak sambaran petir kurang lebih 50 m. Jadi besar kemungkinan yang tersambar petir pada area tersebut adalah Tower -Material Tower pasti Metal. Ketika terjadi badai petir, semua material yang ada di bumi mengalami suatu proses yang disebut ionisasi ( berkumpulnya ion2 positif bumi pada bagian ujung sebuah material/melingkupi material). Dan material dengan bahan metal dengan konduktifitas tinggi serta bentuk tower yang mendukung high ionization, menyebabakan probabilitas tersambarnya tower akan semakin tinggi Ketikan petir menyambar Tower, effek2 petir yang akan terjadi adalah : - Sambaran langsung ( direct Striking ). Mengingat kontruksi dan kekuatan materila Tower, bisa dipastikan secara fisik tidak akan berpengruh apa2 terhadap Tower -Sambaran tidak langsung 1. Galvanic Coupling ( Sambungan oleh Tanah ) Pada saat petir menyambar, arus petir akan masuk ke bumi dan akan menyebabkan yang namanya GPR ( Ground Potential Rising ) atau kita kenal sebagai Kenaikan Tegangan Tanah. Luasnya cakupan GPR mencapai i km dari titik sambaran. Semakin dekat dengan titik sambaran GPR akan semakin besar Perangakat di dalam Shelter tidak mengalami keruskan karena telah memiliki Sistem Proteksi Petir ( Integrasi Grounding, Arrester, dll). Bagaimana dengan rumah/bangunan

disekitar Tower ??? 2. Inductive Coupling Pada saat sambaran petir mengenai tower maka akan timbul medan elektromagnetic dengan kerapatan yang cukup tinggi. Dan akan menginduksi semua material dalam radius 1 km persegi. Lagi2 shelter tidak mengalami kerusakan karean sudah ada Arrester Pemotong tegangan. Bagaimana dengan kabel PLN, antena TV dan kabel telpon disekitar BTS? 3. kapasitif Coupling Besrnya muatan petir yang mengenai tower menyebabkan terjadinya potentian diference anatara Tower dengan material disekelilingnya. Yang akan menyebabkan terjadinya loncatan energi ( discharge ). Kenapa material yang berada didlam BTS tidak apa2? Karean semua material yang ada didalam BTS telah ter-bonding (terikat)/terintegrasi satu sama lain. Mulai dari pagar,shelter,pintu shelter,rangka shelter, tower, tiang lampu. tiang listrik. Jadi jelas tidak ada beda potensial didalam BTS. Tapi bgaimana dengan material/orang diluar area BTS. December 1, 2009, 11:24 PM 3. Bapak Deni ‗Alaikum salam Wr. Wb. BTS dibangun diperkampungan padat penduduk, itu berbahaya, terutama resiko terkena induksi sambaran petir. Bisa dibayangkan, meskipun sambaran petir hanya berupa induksi ( yaitu sambaran tidak langsung ), namun karena masih memiliki orde ribuan Volt, maka tegangan induksi sambaran petir juga masih berpengaruh terhadap piranti yang bekerja pada orde Volt atau milivolt, contohnya komputer, leptop, televisi, radion dan piranti lain. Induksi petir ini sampai ke rumah dan ke piranti elektronik ini melalui kopling galvanis, kopling induktif dan kopling kapasitif, sebagaimana dijelaskan sebagai berikut : 1. Galvanic Coupling/Kopling Galvanis ( Sambungan oleh Tanah ) Pada saat petir menyambar, arus petir akan masuk ke bumi dan akan menyebabkan Kenaikan Tegangan Tanah ( Ground Potential Rising =GPR). Luas cakupan GPR mencapai 1 km dari titik sambaran. Semakin dekat dengan titik sambaran, GPR akan semakin besar Perangakat di dalam BTS tidak mengalami kerusakan karena telah memiliki Sistem Proteksi Petir ( Integrasi Grounding, Arrester, dll). Bagaimana dengan rumah/bangunan disekitar Tower BTS ? 2. Inductive Coupling/Kopling Induktif Pada saat sambaran petir mengenai tower BTS, maka akan timbul medan elektromagnetik dengan kerapatan yang cukup tinggi. Dan akan menginduksi semua material dalam radius 1 km persegi. Lagi2 shelter tidak mengalami kerusakan karena sudah ada Arrester

pemotong Bagaimana dengan kabel PLN, antena TV dan kabel telpon disekitar BTS?

tegangan.

3. Capasitive Coupling / Kopling Kapasitif Besarnya muatan petir yang mengenai tower BTS menyebabkan terjadinya perbedaan potensial antara Tower BTS dengan material disekelilingnya, yang akan menyebabkan terjadinya loncatan energi ( discharge ). Mengapa material yang berada di dalam BTS tidak apa-apa? Karena semua material yang ada didalam BTS telah ter-bonding (terikat)/terintegrasi satu sama lain. Mulai dari pagar,shelter,pintu shelter,rangka shelter, tower, tiang lampu. tiang listrik. Jadi jelas tidak ada beda potensial didalam BTS. Tapi bagaimana dengan material/orang diluar area BTS ? Itulah beberapa bahaya yang mungkin terjadi, pada saat ada sambaran petir mengenai Tower BTS. Sudah sewajarnya, jika pemilik BTS akan melindungi/memproteksi shelter, dan semua perlengkapan/peralatan yang berada di dalam batas pagar BRC. Tapi apakah penduduk juga melakukan hal yang sama untuk melindungi/memproteksi piranti elektroniknya dari sambaran petir tidak langsung ini ? Sejauh yang saya ketahui, pemilik BTS tidak memasang sistem proteksi eksternal dan internal bagi para penduduk di sekitar menara BTS. Bagaimana memberikan arahan kepada penduduk tentang bahaya petir dan cara pencegahannya ? Secara ilmiah, bisa dijelaskan bahwa kehadiran BTS di suatu tempat, akan meningkatkan angka jumlah sambaran petir di tempat tersebut. Sehingga, frekuensi sambaran petir di sekitar menara akan meningkat, dibandingkan sebelum ada tower BTS. Maka, usaha yang dilakukan oleh pemilik tower BTS, selain memproteksi peralatan milik sendiri yang berada dalam kawasan di dalam pagar, juga diberikan proteksi eksternal dan internal di rumah-rumah sekitar tower BTS. Maksudnya, agar peralatan-peralatan listrik di rumah aman, terutama aman dari sambaran petir tidak langsung / sambaran induksi. Semoga bermanfaat. Salam. August 17, 2010, 4:44 PM

2.

Agus says Yth Pak Abdulsyakur

ada kejadian petir menyambar tiang kwh yg tingginya 4m dr tanah hingga kwh panel gosong. Tapi tower, shelter, tiang kwh lain yang ada di site tsb tdk mengalami masalah apapun. Kejadian ini sdh 2x dalam waktu 1 thn. Apa solusi nya ? Apakah perlu dipasang 1 tombak penangkal petir lagi utk di atas tiang kwh panel dan diground ke copperplate ? Terimakasih August 30, 2010, 10:35 PM

3.

Dody says Sekedar sharing, Saya bekerja sebagai Engineer di kontraktor telekomunikasi, menurut analisa saya kejadian tersebut tidak akan terjadi jika kabel penangkal petir yang menghubungkan dari penangkal petir yang ada diatas tower menuju ke BUSBAR yang langsung menuju ke tanah dalam kondisi normal ( dlm arti hambatan dari grounding tersebut <= 0.1Ohm ) selama ini saya mengamati banyak site2 BTS terutama Kabel grounding baik itu untuk penangkal petir, Kabel Grounding untuk kabel Feeder dan kabel grounding yg conect ke tower terputus (biasanya karena kabel yg berupa kabel tembaga sering di curi ) jadi semua kabel grounding termasuk penangkal petir yg menuju master Grouding BOX terputus sehingga pada saat terjadi sambaran petir aliran listrik yg disebabkan oelh petir seharusnya langsung menuju ke tanah ( ground ) terpancarkan / terpantulkan ke area sekitar tower . Semoga Bermanfaat November 24, 2010, 9:40 AM

4.

indra says besar induktansi menaranya berapa pak(rumusnya) January 29, 2011, 9:13 AM

5.

Irdam says Yth. Bp. Abdul Syakur, Apakah salah satu cara untuk melindungi isi rumah dari sambaran langsung atau tidak langsung oleh petir dengan menggunakan rangka atap rumah dari bahan logam/baja

ringan, Terima kasih

sehingga

membentuk

sangkar

Farraday?

April 25, 2011, 3:34 PM

6.

abdulsyakur says Yth. Bpk Irdam Adil. Benar bapak, untuk melindungi isi rumah dari sambaran petir langsung atau tidak langsung salah satunya dengan memasang sistem penyalur petir (SPP, Sistem Proteksi Petir ) baik yang internal ( menggunakan arrester ) ataupun eksternal ( menggunakan metode sangkar faraday, lalu diketanahkan dengan nilai tahanan yang rendah ). Semua peralatan tersebut, sekarang sudah tersedia dipasaran, mudah ditemui dan mudah dicari. Semoga dengan memasang SPP tersebut, seperti kerangka baja, dan diketanahkan, maka akan mempermudah bagi arus petir untuk mengalir ke tanah, tanpa merusak peralatan yang ada di dalam rumah. Salam. April 25, 2011, 5:51 PM

7.

joko says Sory gw baru baca berita ini, saya mau tanya emang kedalaman berapa meter Busbar Utama tower ditempetkan? biasa saya denger itu kedalaman 7-8meter dibawah permukaan tanah,dan biasa ketinggian tower itu 50mtr,Sedangkan klo diatas 50mtr?? itu kedalaman berapa meter?? thx May 16, 2011, 7:29 PM

8.

sutan says Dear All, Ternyata ramai juga diskusinya. Sudah lama tidak mengunjungi Blog Mas Syakur.

Sebelumnya mohon maaf apabila analisa saya menyinggung teman2 yang sudah berpengalaman di Bisnis Telekomunikasi, utamanya pembagunan dan maintenance BTS. Analisa yang saya jelaskan diawal memang masih sangat bisa diperdebatkan. Karna memang hal itulah yang saya inginkan dari diskusi ini. So, mari kita sama2 bahas lebih dalam lagi, bagimana desain Sistem Proteksi Petir yang memadai untuk diimplementasikan pada Struktur BTS. %0 June 4, 2011, 3:19 AM tapi sebelumnya ada beberapa hal yang mesti saya tegaskan disini : 1. Bahwa Indonesia telah memiliki SNI untuk Sistem Proteksi Petir, yaitu SNI 70152004. Bisa di DL disini http://dl.dropbox.com/u/20964848/SNI%2003-7015-2004.pdf Yang bisa kita jadikan referensi utama dalam men-desain sebuah Sistem Proteksi Petir. 2. Untuk menambah refersensi Installation Standard kita juga bisa menggunakan American Standard for Lightning Protection System, NFPA 780-2006. Yang lebih applicable. 3. Bahwa Sistem Proteksi Petir, pada prinsipnya terbagi dalam 2 bagian, yaitu Sistem Proteksi Petir Eksternal dan Internal. Perlu kita ketahui bahwa, Proteksi Eksternal hanya ditujukan untuk menghindari bangunan/struktur dari sambaran petir LANGSUNG. Dan beberapa standard (IEC,SNI dan NFPA) merekomendasikan, untuk struktur berbahan logam seperti tower/tangki. Boleh tersambar langsung, asal memiliki ketebalan material lebih dari 4 mm. Dan struktur logamnya juga kita boleh dimanfaatkan sebagai Down Conductor. Mengapa? 1. Berdasarkan perhitungan titik leleh material dibandingkan dengan energi panas yang ditimbulkan oleh sambaran Petir Langsung. Material Logam(Besi,Tembaga,Alumunium), masih mampu untuk menahannya. Disamping berdasarkan Rolling Sphere Method, petir juga memang memiliki probabilitas untuk menyambar dari samping. Bukan menyambar titik tertinggi dari bangunan. ini kita kenal sebagi Side Flash. 2. Pemanfaatan Body Tower sebagai Down Conductor didaarkan pada perhitungan besaran Impedansi Tower secara keseluruhan. Jujur saja, kalau kita hitung, Body Tower secara keseluruhan, memiliki Impedansi yang jauh lebih kecil dibandingan dengan Kabel tembaga berukuran 50-70 mm2. Sehingga secara natural, sebenarnya, porsi terbesar dari Energi/Arus Petir, mengalir melalui Body Tower, bukan Down Conductor Konvesional (NYA 50,BC 50,NYY 50 mm2). Ditambah lagi, entah karena sudah kebiasaan atau memang kita malas membaca Standard. Down Conductor Konvensionl yang terpasang di Tower, hanya menggunakan satu kabel. Padahal Standard mensyaratkan, minimal 2 kabel Down Conductor. 3. Sebenarnya yang menjadi concern dalam men-desain Sistem Proteksi Petir pada Tower adalah GROUNDING/EARTHING. Dalam mendesain Sistem Grounding, para engineer BTS, hanya berpatokan pada Standard yang dikeluarkan oleh Telkom, untuk desain

Grounding Tower mereka. Hampir tidak ada acuan Technical Standard, baik Nasional maupun Internasional. Ditambah lagi dengan adanya, ―Virus Nilai Resistansi‖ Disemua Standard, grounding dibuat bertujuan UTAMA adalah untuk Human Safety. Technically, yang ingin dicapai dari sebuah desain Sistem Grounding adalah bagimana cara mendapatka Nilai Tegangan Langkah (Step Voltage) dan Tegangan Sentuh (Touch Voltage) yang aman pada area Grounding. Sehingga ketika terjadi current fault (Short Circuit/Lightning Stroke Current), tegangan langkah/sentuh yang timbul tidak membahayakan, baik bagi manusia maupun perangkat. Sederhanya, Grounding yang baik adalah Grounding yang memiliki area cakupan (Volum metric Coverage) yang luas dan terintegrasi. Konfigurasinya bisa berbentuk Mesh, Ring ataupun Radial. Dengan penggunaan material,jenis dan ukuran, sesuai dengan Standard. Untuk lebih detailnya mungkin bisa di baca referensi Standard Sistem Grounding untuk Sub-Station ( IEEE 80-2000) (Untuk yang berminat bisa kirim email ke saya dan akan saya berikan Link DL-nya) Jadi, mengenai ―Virus Nilai Resistansi‖, mohon untuk sedikit demi sedikit kita singkirkan. Karena apa, Nilai resistansi yang rendah, tidak mutlak menurunkan besaran Tegangan Langkah dan Tegangan Sentuh. Kalo tidak percaya bolehlah sekali-kali diliat Standard IEC 62305-3(Protection Against Lightning). Kita bisa liat disitu, berapa besaran Nilai Resistansi yang masih di rekomendasikan. Dan apa point utama dari Grounding yang BAIK dan BENAR. . kenapa ya petir sering membuat TRIP MCB ? November 30, 2011, 9:39 AM

9.

abdulsyakur says Petir sering membuat MCB Trip, karena petir menimbulkan lonjakan arus sesaat yang disebut dengan Impuls. Petir memiliki impuls tegangan dan impuls arus. Jika lonjakan arus ini melebihi batas kemampuan MCB, maka MCB akan trip. November 30, 2011, 3:41 PM

10.

umi khafsoh says pak di belakang rumah kami mau didirikan tower bts,kami tidak setuju…sebenarnya mekanisme pendirian tower itu seperti apa sih pak…?tolong saya di beri tau radiusnya kira15 m dari rumah kami dan padat penduduk tolong pak…saya sudah maju kekantor

camat tapi kok tetap ya mau berdiri dan tolong terangkan secara rinci bahayanya…?boleh ga pak beberapa argument bapak saya ambil sebagai penguat kami… February 1, 2012, 7:05 PM

11.

abdulsyakur says Kalau tanya prosedur pendirian BTS, detailnya saya kurang paham. Tentu saja, pihak yang akan mendirikan BTS pastinya mengajukan ijin pendirian BTS, mendapat persetujuan dari warga di sekitar dimana BTS akan didirikan dan tentu juga akan menyewa tanah atau membeli tanah yang akan digunakan untuk mendirikan tower BTS tersebut. Kalau jarak rumah dengan BTS sekitar 15 meter, tinggi BTS (anggap sampai 70 meter), tentu rumah tersebut akan aman dari sambaran petir secara langsung. Namun demikian, akan rawan terhadap pengaruh atau induksi sambaran petirnya. Untuk mengatasi pengaruh atau adanya induksi sambaran petir, harus dibuat sistem pengetanahan (grounding) yang baik. Coba baca artikel saya di alamat web berikut, (yang sudah dimuat di Suara Merdeka). http://suaramerdeka.com/v1/index.php/read/cetak/2011/01/31/135780/Petir-di-SekitarMenara-BTS

271

0

http%3A//w w w .g

About Electrical Discharge

abdul Dept. University Jln. Tembalang

of of Prof. –

Electrical Soedarto

SYAKUR Engineering Diponegoro SH Semarang

Jawa Telp.Fax : (24) 7460057 E-mail syakur@undip.ac.id gakusei2003@yahoo.com Barang Elektronik Warga Rusak Akibat Induksi Menara BTS Telkomsel Tag : Barang, Elektronik, Warga, Rusak, Akibat, Induksi, Menara, BTS, Telkomsel

Tengah

:

BERITA - jawa.infogue.com - Puluhan barang elektronik milik warga Pondok Jati, Pondok Aren, Kota Tangerang Selatan

(Tangsel), Banten, tidak berfungsi akibat induksi sambaran petir dari menara Base Transceiver Station (BTS) ke rumah warga. Sekitar 60-an warga Pondok Jati, Pondok Aren, Tangsel, nyaris membongkar menara besi itu, Minggu, beruntung aksi massa itu tidak berubah anarkis setelah ditenangkan warga lainnya. Mereka akhirnya mengeluarkan sejumlah spanduk sebagai tanda protes. "Puluhan televisi, komputer, pesawat telepon dan radio milik warga rusak karena disambar petir pengaruh tower BTS Telkomsel yang mengarah ke rumah warga," ujar Achmad Ketua RT 007/03, Pondok Jati, Pondok Aren, Tangsel, Minggu. Menurut Achmad, hampir 10 tahun ini warga mengeluhkan keberadaan tower BTS yang berdiri di atas lahan 500 meter persegi berdekatan dengan permukiman warga. Achmad mengatakan, puluhan warga nyaris membongkar menara setinggi 45 meter tersebut, selain tidak memiliki izin perpanjangan operasi menara itu tidak memiliki penangkal petir. "Sejumlah rumah warga yang jaraknya radius 200 meter juga terkena dampak, apalagi yang dekat di sini," ungkap Achmad. Selain dikeluhkan warga, sekitar 40 pelajar Tempat Pengajian Anak (TPA) Al Mubaroh yang berada tujuh meter dari lokasi menara tersebut tidak bisa mengikuti proses belajar mengajar dengan tenang. "Kalau petir menyambar tower kita berlarian, lampu kelas TPA akhirnya mati. Aku dan teman-teman tidak bisa belajar mengaji karena takut," kata Ikhsan Ismail (13), seorang pelajar TPA. Guru TPA Al Mubaroh, Toyibah merasa prihatin dengan kondisi 40 anak itu karena tidak bisa mengikuti pengajian dengan baik akibat keberadaan tower BTS milik Telkomsel. Sementara itu, Kepala Badan Pelayanan Perizinan Terpadu (BP2T) Kota Tangsel, Mursan Sobirin mengatakan, BP2T Tangsel tidak akan mengeluarkan perpanjangan izin operasi perusahaan provider pemilik tower tersebut. "IMB dari tower tersebut tidak dimiliki, kita akan melajutkan permasalahan ini setelah menerima izin lingkungan dan tata ruang dari dinas terkait soal keberadaan tower Telkomsel itu," kata

Written by Administrator

Thursday, 15 March 2012 11:53

Pembangunan Menara BTS Acuhkan Dampak Sosial

Maraknya pembangunan menara base transceiver station (BTS) di Jakarta, tidak hanya merusak tata ruang dan peruntukkan kawasan. Namun, juga sudah tidak mengindahkan dampak sosial yang ditimbulkan bagi masyarakat sekitar. Sebab, tak jarang menara tersebut dibangun dekat pemukiman warga, bahkan ada juga yang di atas fasilitas ibadah seperti masjid sehingga keberadaannya meresahkan warga sekitar. Arie K Suhardiadi warga Jl Bunga Mayang 3 RT 002/01, Bintaro, Pesanggrahan, Jakarta Selatan, yang rumahnya berdekatan dengan menara BTS menuturkan, selama hampir 10 tahun menara tersebut berdiri, telah menimbulkan gangguan sinyal pada perangkat elektroniknya dan warga sekitar. "Itu mengganggu sinyal radio, televisi, dan ponsel. Apalagi kalau sedang rusak, gensetnya sangat bising dan mengganggu," keluhnya, Selasa (6/3). Lebih parah lagi, di Jl Pekayon I RT 10/03, Ragunan, Pasarminggu, Jakarta Selatan. Di wilayah tersebut, masjid yang seharusnya menjadi tempat ibadah, harus terganggu karena adanya pembangunan menara BTS di atapnya. "Masjid seharusnya untuk shalat agar bisa khusyuk, tapi kok malah ada menara BTS di atasnya? Apalagi pas pengerjaan sekarang sering ada suara-suara yang mengganggu saat ibadah," sesal Junaidi, warga setempat. Meskipun banyak warga keberatan dengan menara BTS di sekitar pemukiman, namun Kepala Seksi Pos dan Telekomunikasi (Kasie Postel) Sudin Kominfomas Jakarta Selatan Kristianto, mengatakan menara BTS yang saat ini berdiri terutama di Jakarta Selatan aman. "Sebelum berdiri ada perizinan dari tata ruang, amdal, dan kita sendiri memeriksa proses teknis BTS itu," ucapnya. Menurut Kristianto, radiasi yang dikeluarkan oleh BTS di atas 50 meter sangat kecil terhadap masyarakat sekitar. Dengan melakukan perhitungan frekuensi besar seperti 1.800 MHz saja, pada jarak 1 meter jalur pita pancar utama, hanya menghasilkan total daya radiasi sebesar 9,5 watt permeter persegi. Begitu pun pada jarak 12 meter akan semakin mengecil dengan total radiasi sebesar 0,55 watt permeter persegi. "Jadi kalau tower di atas 50 meter paling radiasinya tidak lebih dari 0,02 watt permeter persegi. Ini sangat aman sekali, karena level batas radiasi yang diperbolehkan menurut standar WHO saja, masing-masing 4,5 watt permeter persegi untuk perangkat yang menggunakan frekuensi 900 MHz dan 9 watt permeter persegi untuk 1.800 MHz," tambah Kristianto. Kristianto menambahkan, saat ini Dirjen Postel Kementerian Kominfo juga telah memberlakukan aturan baru. Melalui Keputusan Dirjen Postel No 1920/DJPT.4/KOMINFO/11/2005 yang dikeluarkan pada 21 November 2005 tentang

penyesuaian pita alokasi frekuensi radio untuk TNI dan selular pada gelombang 438-470 MHz. "Ini akan jauh lebih kecil lagi radiasi, jadi amanlah baik untuk elektronik maupun kesehatan. Kecuali ada kebocoran radiasi yang disebabkan oleh kerusakan teknis dari perangkatnya, tapi kan kita terus melakukan pemeriksaan berkala," terangnya. Namun, ia mengaku tidak ada data pasti jumlah menara BTS yang berdiri di Jakarta Selatan. Sedangkan data yang dimiliki oleh Seksi Postel Sudin Kominfo Jakarta Selatan yang diberikan oleh Dinas Kominfomas DKI Jakarta, di wilayah Jakarta Selatan dari Juli 2007-Maret 2009 telah berdiri 198 menara BTS. "Angka itu yang terdata, banyak yang masih belum terdata. Kalau untuk data terbarunya belum ada," tandasnya. Bookmark Hits: 881 Comments (0) Subscribe to this comment's feed

Write comment You must be logged in to post a comment. Please register if you do not have an account yet.

FAKTA © Forum Warga Kota Jakarta Pemerintah juga telah mematok jarak aman untuk radiasi, jarak minimum menara BTS dari perumahan, luas minimum lahan, standar kontruksi dan hal-hal teknis maupun non teknis lainnya. Direktorat Jendarl Pos dan Telekomunikasi telah mengadakan pertemuan dengan Dinas Pekerjaan Umum, Pemerintah Daerah, Operator dan Vendor untuk menyepakati rancangan draf. Pemerintah memaparkan jarak aman menara, 1. Pertama; untuk tinggi menara maksimun 45 meter jarak dari pemukiman publik ialah 20 meter. 2. Bila peletakan dan pembangunan menara BTS di tempat komersial jarak peletakannya ialah 10 meter dan 5 meter bila di daerah industri. 3. Untuk menara BTS dengan tinggi di atas 45 meter, jarak dari pemukiman minimum 30 meter, 15 meter bila di daerah komersial dan 10 meter bila di daerah industri. Referensi artikel di ambil dari Surat Kabar Pikiran Rakyat, Tempo Interaktif dan CSR FILES.

Perda Menara Telekomunikasi Musti Atur Persetujuan Warga
Nasional / Rabu, 27 Juli 2011 21:56 WIB Metrotvnews.com, Kulon Progo: Peraturan Daerah tentang Penataan dan Pengendalian Menara Bersama Telekomunikasi Kabupaten Kulon Progo, Daerah Istimewa Yogyakarta, perlu menyebutkan tentang persetujuan tertulis dari warga yang harus dilampirkan dalam permohonan izin mendirikan menara. Juga harus dibuatkan berita acara saat dilakukan sosialisasi oleh pelaksana pembangunan menara. "Hal itu untuk lebih menjamin pemahaman warga mengenai seluk-beluk pembangunan menara, termasuk hak-hak warga dan risikonya, serta jangan sampai merugikan warga terkait adanya menara itu," kata anggota Panitia Khusus (Pansus) III Raperda itu, Kasdiono, di Wates, Rabu (27/7). Menurut dia, apabila masuk dalam pasal Perda, kedudukannya akan lebih kuat dibanding syarat sosialisasi dalam pengajuan permohonan izin mendirikan menara. Ia mengatakan izin mendirikan menara juga harus memperhatikan faktor keamanan dan keselamatan warga masyarakat, bukan sekadar mengejar target pendapatan retribusi. "Selain itu, proses perizinannya jangan bertele-tele. Harus cepat dan transparan. Ini bukan hanya untuk izin mendirikan menara telekomunikasi, tetapi juga untuk perizinan lainnya," katanya. Sementara itu, anggota Pansus III Raperda lainnya, Akhid Nuryati mengatakan ada batasan yang jelas tentang penerimaan asuransi jika terjadi kecelakaan, terutama bagi warga sekitar menara yang berisiko tinggi terhadap kemungkinan menjadi korban kecelakaan atau kerusakan menara. "Di samping itu, pengelola dan penanggungjawab menara juga harus memberikan sosialisasi yang jelas kepada warga tentang cara-cara memperoleh asuransi. Sehingga, apabila terjadi kecelakaan, para korban atau keluarganya bisa mengurus dan memperoleh hak-haknya secara cepat," katanya. Kepala Seksi Pelayanan dan Fasilitasi Perizinan Dinas Perhubungan, Komunikasi, dan Informatika (Dishubkominfo) Kabupaten Kulon Progo Evi Yulianti mengatakan di wilayah kabupaten ini sekarang terdapat 84 menara seluler. "Menara sebanyak itu menempati 46 zona dari 90 zona yang ada di Kulon Progo, sehingga masih ada 44 zona yang belum ditempati atau dibangun menara seluler," katanya.(Ant/BEY)

Petir di Sekitar Menara BTS
o

Oleh Abdul Syakur 0 0

SIARAN dari Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) dalam harian ini (SM, 26/01/11) memberikan peringatan kepada warga Semarang dan sekitarnya agar mewaspadai potensi hujan lebat disertai petir dan angin kencang berdurasi singkat. Fenomena alam seperti itu biasanya terjadi tiap November, sebagaimana pada November 2008 dan 2009. Akibat dari adanya sambaran petir ke bumi ini, jaringan listrik padam dan beberapa peranti elektronik rusak. Saat ini, seiring pesatnya teknologi komunikasi, utamanya terkait penggunaan ponsel, kita banyak menjumpai menara base transceiver station (BTS) di dekat permukiman padat penduduk. Kehadiran menara tersebut tentu ada efek baik dan buruk. Sisi baiknya yaitu tidak ada sambaran petir secara langsung pada objek yang posisinya lebih rendah dari ketinggian menara itu. Namun sisi buruknya, ‘‘jumlah‘‘ petir di sekitar BTS akan meningkat dan rawan terhadap induksi sambaran petir. Artinya dengan adanya menara itu maka petir lebih sering menyambar ujung atasnya. Efek induksi petir bisa mengenai alat elektronik di rumah-rumah yang letaknya di dekat menara yang tegangan kerjanya hanya berukuran miliVolt. Untuk pengamanan peranti yang berada di sekitar BTS, pemilik menara (biasanya operator telepon seluler atau pihak yang menyewakan menara) pasti sudah menerapkan sistem pengetanahan (arde) yang baik, dengan membuat nilai tanahan kurang dari 1 Ohm. Tapi apakah rumah-rumah penduduk memiliki sistem pengetanahan yang baik? Membaca tulisan Anies, ‘‘Problem Menara BTS di Perkotaan‘‘ (SM, 06/11/08) pada bagian awal disebutkan bahwa menara BTS telah menjadi problem perkotaan dengan isu yang dikemukakan adanya efek negatif gelombang elektromagnetik. Namun pada bagian akhir diberikan pernyataan agar masyarakat yang berada di bawah atau di sekitar menara tidak perlu cemas sebab tidak akan mengganggu kesehatan. Dengan adanya pernyataan tersebut, secara langsung telah menjawab bahwa problem utama menara BTS bukanlah radiasi yang dipancarkan. Justru problem utama keberadaan menara BTS di sekitar permukiman padat penduduk adalah sambaran petir yang mengenainya. Jika ada sejumlah awan bermuatan dengan medan statis yang cukup untuk mengondisikan terjadinya petir maka objek yang kali pertama tersamba adalah menara tersebut, yang strukturnya menjulang tinggi dan terbuat dari logam. Praktis jumlah sambaran petir di sekitar menara meningkat,. Bila kita melihat ada logam lancip/ runcing di ujung menara, komponen itu bukan penangkal petir melainkan lebih tepat sebagai pemancing/ pemanggil petir. Teorinya tinggal di bawah atau di sekitar menara akan aman karena tidak dikenai sambaran petir langsung. Hal ini sesuai dengan penelitian Whitehead yang menyatakan objek dalam radius

kurang dari 2h1.09 dari menara aman dari sambaran petir langsung (JG Anderson,1987). Sistem Pengaman Pemilik BTS tentu sudah mengetahui dan memperhitungkan bahaya yang diakibatkan oleh sambaran petir sehingga untuk mengantisipasi kenaikan tegangan yang sangat tinggi secara tibatiba yang disebabkan petir, menara biasanya dilengkapi dengan sistem penyalur arus petir (grounding system = sistem pengetanahan, sistem pembumian) dan peralatan proteksi yang disebut arrester. Jika kondisi sistem pengetanahan tidak baik, misalnya menara berlokasi di daerah bebatuan, hal ini dapat menyebabkan nilai resistensi tinggi dan tegangan akibat sambaran petir yang melewati sistem pengetanahan itu makin tinggi pula. Untuk itu, masyarakat perlu mengetahuinya agar bisa menyiapkan tindakan preventif. Misalnya memasang sistem penyalur arus petir di atap rumah, memasang peralatan pelindung akibat tegangan petir yang disebut arrester pada peranti elektronik yang menggunakan supply tegangan rendah. Untuk keperluan keamanan dan kenyamanan, maka nilai resistansi sistem penyalur arus petir harus diukur dan nilainya diusahakan kurang dari 1 Ohm dan untuk peranti elektronik harus dipasang arrester. Kalau secara teknis, sistem penyalur arus petir ke tanah ini sudah memenuhi syarat, masyarakat di bawah ataupun yang berada di sekitar menara boleh tidur tenang. Petir biar saja menyambar menara tapi arus sudah diberikan jalur langsung menuju ke tanah. (10) — Abdul Syakur, kandidat doktor Fakultas Teknik Elektro UGM (/)

You're Reading a Free Preview

Mengunduh
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->