Anda di halaman 1dari 20

Manajemen Kualitas Air - Effect of Probiotics on the Hatchery Seed Production of

Black Tiger Shrimp, Penaeus monodon (Fabricius)

1.

Pendahuluan. Data perikanan dunia memperkirakan bahwa separuh dari permintaan makanan laut dunia akan disuplai oleh sektor budidaya pada tahun 2020, hal ini terjadi karena adanya penurunan pada perikanan tangkap liar. Kultur udang tersebar luas di seluruh daerah tropis di dunia. Industri budidaya ini sangat berkembang, dan saat ini bernilai sekitar US $ 10 miliar. Udang windu adalah spesies yang paling banyak dibudidayakan. Di beberapa negara, industri budidaya udang dilanda penyakit, sebagian besar disebabkan oleh bakteri (terutama Vibrio harveyi) dan virus. Kepadatan hewan yang tinggi dalam hatchery dan tambak sangat kondusif untuk penyebaran patogen (Moriarty, 1999). Kemajuan teknologi pembenihan udang yang telah maju selama beberapa decade ini sering terganggu oleh kematian yang sebagian besar disebabkan oleh bakteri. Peningkatan populasi Vibrio di tangki air pemeliharaan larva telah dilaporkan dapat mengurangi tingkat kelangsungan hidup larva dan post larva. Spesies V. harveyi diduga sebagai peyebab kematian massal pada hatchery udang. Vibrio masuk ke dalam hatchery melalui air laut, kotoran, pakan, dan exoskeleton dari induk. Sejauh ini, pendekatan konvensional, seperti penggunaan desinfektan dan obat antimikroba, memiliki tingkat keberhasilan yang terbatas dalam pencegahan atau pengobatan penyakit di air. Peran bakteri probiotik dalam budidaya udang sering dicobakan akan tetapi tidak banyak dilaporkan terutama di udang tiger ini, P. monodon. Efek menguntungkan dari penggunaan probiotik pada produksi benih udang komersial India, P. monodone sangat membutuhkan banyak studi. Oleh karena itu, penelitian ini, bertujuan untuk mengetahui pengaruh probiotik terhadap produksi benih pada hatchery udang windu, P. monodon. Melalui tulisan ini untuk mengetahui efisiensi probiotik terhadap sintasan larva P. monodon dan juga pengaruhnya terhadap parameter kualitas air penting yaitu salinitas, pH, temperature, oksigen terlarut, alkalinitas dan amonia.

2.

Tinjauan Pustaka.
1

Manajemen Kualitas Air - Effect of Probiotics on the Hatchery Seed Production of


Black Tiger Shrimp, Penaeus monodon (Fabricius)

2.1

Probiotik (Verschuere, et al. 2000). Fuller memberikan definisi yang tepat dari probiotik, yaitu suplemen mikroba hidup dalam bentuk pakan yang menguntungkan dan dapat mempengaruhi hewan inang untuk meningkatkan keseimbangan ususnya. Istilah "probiotik" disebut sebagai bakteri gram-positive yang berasosiasi dengan genus Lactobacillus. Definisi yang diusulkan oleh Fuller yang diaplikasikan dalam budidaya, namun masih memerlukan beberapa pertimbangan. Demikian pula dengan manusia dan hewan, dapat diasumsikan dalam akuakultur dimana entitas usus mikrobiota tidak bekerja dengan sendirinya tetapi ada interaksi yang konstan dengan lingkungan dan fungsi host. Banyak peneliti telah meneliti hubungan antara usus mikrobiota dengan habitat atau makanannya. Beberapa hasil penelitian pada ikan, memberikan bukti bahwa kehadiran bakteri dalam lingkungan perairan mempengaruhi komposisi usus mikrobiota dan begitu pula sebaliknya. Keberadaan beberapa genus dalam saluran pencernaan secara umum tampaknya berasal dari lingkungan atau makanan yang bisa bertahan dan berkembang biak di saluran pencernaan tersebut. Namun, dapat diakui bahwa lingkungan sekitar dalam sistem akuakultur langsung memiliki pengaruh yang jauh lebih besar pada status kesehatan dibandingkan dengan pengaruhnya terhadap hewan darat atau manusia. Memang, interaksi inang-mikroba sering kali kualitatif maupun kuantitatif berbeda untuk spesies akuatik dan terestrial (darat). Dalam lingkungan perairan, host dan mikroorganisme berbagi ekosistem. Dalam beberapa hal, mikroba di lingkungan akuatik memiliki pilihan hidup dalam hubungannya dengan host (saluran usus, insang, atau kulit) atau tidak, sementara di lingkungan terestrial, aktivitas cukup besar mungkin akan terbatas pada niche air seperti yang terdapat dalam isi perut hewan host. Hewan akuatik dikelilingi oleh lingkungan yang mendukung patogen secara mandiri dari inangnya, dan (oportunistik) patogen dapat mencapai kepadatan sangat tinggi di hewan tersebut. Bakteri terus dicerna baik dengan pakan atau ketika host minum. Hal ini terutama terjadi pada hewan yang bersifat filter feeder, yang

Manajemen Kualitas Air - Effect of Probiotics on the Hatchery Seed Production of


Black Tiger Shrimp, Penaeus monodon (Fabricius)

menelan bakteri pada tingkat tinggi, menyebabkan interaksi secara alami antara mikrobiota lingkungan dengan pakan hidup tersebut. Sedangkan penelitian probiotik dalam akuakultur difokuskan dimulai pada saat ikan masih remaja, namun saat ini perhatian lebih banyak diberikan kepada larva ikan dan kerang dan organisme hidup lainnya. Binatang (mamalia) mewarisi bagian penting dari koloni bakteri awalnya melalui kontak dengan host, sedangkan spesies air biasanya memijah dalam air, tanpa kontak lebih lanjut dengan induk. Hal ini memungkinkan bakteri untuk menjajah permukaan telur larva hewan atau bayi yang baru lahir. Selanjutnya, larva yang baru menetas tidak memiliki sistem pencernaan yang sepenuhnya berkembang dan tidak memiliki komunitas mikroba dalam saluran usus, insang, atau pada kulit. Karena tahap awal larva air bergantung mikrobiota utama mereka di mana mereka dipelihara, sifat-sifat bakteri dalam air sekitar adalah yang paling penting. Berdasarkan definisi ini, probiotik mungkin termasuk tambahan yang berarti mikroba yang dapat mencegah patogen berkembang biak di saluran pencernaan, pada permukaan, dan di lingkungan budidaya, yang aman penggunaannya, sebagai pakan optimal yang dapat membantu pencernaan, meningkatkan kualitas air, atau merangsang sistem kekebalan tubuh host. Bakteri memberikan nutrisi penting ke host (single-cell protein) tanpa aktif dalam host atau tanpa berinteraksi dengan bakteri lain, dengan lingkungan, atau dengan host itu sendiri tidak termasuk dalam definisi tersebut. Meskipun probiotik juga dapat memberikan kontribusi substansial bagi kesehatan dan kinerja zootechnical melalui nutrisi dan meskipun kadangkadang tidak mungkin untuk memisahkan pakan organisme perairan dari kontrol lingkungan, definisi ini dibatasi untuk penggunaan probiotik sebagai agen pengendalian hayati di akuakultur.

2.2

Meninjau Probiotik yang Digunakan dalam Budidaya (Irianto and Austin, 2002).

Manajemen Kualitas Air - Effect of Probiotics on the Hatchery Seed Production of


Black Tiger Shrimp, Penaeus monodon (Fabricius)

Cakupan probiotik untuk digunakan dalam budidaya telah mencakup kedua bakteri (Gram-negatif dan Gram-positif), dan yeast. Secara khusus, probiotik telah dilaporkan berhasil diuji cobakan pada berbagai invertebrata dan vertebrata. Ada beberapa fakta-fakta khusus tentang host tetapi signifikan dari pengamatan masih menunggu penelitian lebih lanjut.

Bakteri Gram positif. Bakteri aerobik pembentuk endospora Gram-positif, yaitu Bacillus spp., telah ditinjau sebagai probiotik, termasuk dengan menggunakan Bacillus spp. untuk peningkatan kualitas air dengan mempengaruhi komposisi populasi mikroba yang tertular melalui air dan dengan mengurangi jumlah patogen di sekitar spesies budidaya. Dengan demikian, basillus diperkirakan memusuhi patogen potensial yang ada di dalam lingkungan perairan. Hal ini aneh karena seperti yang diketahui pada umumnya kultur laboratorium tidak bertahan hidup baik ketika dikembalikan ke lingkungan, sel-sel yang sering outcompeted/ antagonized oleh mikroflora alami. Namun demikian, manfaat yang langsung dirasakan dengan penggunaan basil adalah pengurangan penggunaan bahan kimia di lingkungan perairan dan peningkatan pertumbuhan spesies budidaya. Penggunaan probiotik secara bersamaan telah disertai dengan pengurangan di tingkat senyawa antimikroba (khususnya antibiotik) yang digunakan dalam budidaya dan meningkatkan nafsu makan serta kinerja pertumbuhan spesies budidaya. Yang pertama jelas sejauh jika hewan tersebut dinyatakan sehat maka tidak akan perlu menggunakan senyawa antimikroba. Namun, dugaan tentang peningkatan nafsu makan dan pertumbuhan lebih sulit untuk dilakukan. Beberapa peneliti telah menggunakan produk komersial yang tersedia. Sebagai contoh, Queiroz & Boyd (1998) dan Moriarty (1998) menggunakan preparat komersial yang mengandung Bacillus spp. masing-masing di kolam lele dan udang. Para peneliti ini menemukan bahwa Bacillus dapat meningkatkan kelangsungan hidup larva, peningkatan penyerapan makanan dengan meningkatkan tingkat protease dan memberikan pertumbuhan yang lebih baik. Selain itu, probiotik menurunkan jumlah
4

Manajemen Kualitas Air - Effect of Probiotics on the Hatchery Seed Production of


Black Tiger Shrimp, Penaeus monodon (Fabricius)

bakteri patogen yang dicurigai dalam usus. Juga, enterococci yang mempengaruhi pencernaan mikroflora, mengurangi keberadaan Escherichia coli, Staphylococcus aureus dan Clostridium spp. Asam laktat yang diproduksi bakteri, seperti laktobacilli putatif, telah menjadi fokus perhatian. Sebagai contoh, Gatesoupe (1991) melaporkan manfaat menggunakan Lactobacillus dalam ikan turbot, menyebabkan peningkatan pertumbuhan. Bakteri heterotrofik aerobik dari saluran pencernaan ikan salmon atlantik, rainbow trout dan turbot diteliti untuk aktivitas penghambatan terhadap A. salmonicida menggunakan metode cross-streaking, yang menghasilkan zona pembuka dan pertumbuhan berlebih dari A. Salmonicida.

Bakteri Gram-Negatif. Pseudomonas telah dilaporkan dapat menghambat Saprolegnia sp. dan A. salmonicida dalam kultur ikan. Dominasi Pseudomonas, yang meningkatkan kelangsungan hidup rainbow trout terhadap vibriosis yang masuk kedalam perairan (kloam budidaya). Namun, Pseudomonas, yang dianggap sebagai probiotik yang efektif untuk memberikan perlindungan kapada rainbow trout terhadap vibriosis, tidak melindungi salmon atlantik terhadap infeksi dengan A. Salmonicida meskipun dalam metode in vitro menunjukkan penghambatan patogen. Bakteri lain telah meningkatkan kultur larva kepiting, tiram Pasifik dan ikan turbot. Dengan demikian, Vibrio meningkatkan pencernaan protein dalam juvenile turbot bila diberikan melalui intubasi oral. Juga meningkatkan kelangsungan hidup tiram Pasifik, Crassostrea gigas, bila diberikan dalam air. Kultur ini menghasilkan zat-penghambat bakteriosin terhadap bakteri patogen di beberapa media kultur. Irianto & Austin (2002) melaporkan bahwa kultur Aeromonas dan Vibrio efektif dalam mengontrol infeksi oleh A. Salmonicida pada rainbow trout. Selain itu, Roseobacter adalah inhibitor untuk Vibrio, dengan ekstrak sel yang dapat meningkatkan kelangsungan hidup larva kerang.

Manajemen Kualitas Air - Effect of Probiotics on the Hatchery Seed Production of


Black Tiger Shrimp, Penaeus monodon (Fabricius)

Sejak tahun 1995, penggunaan probiotik telah sukses dalam industri udang Ekuador, khusus untuk mengontrol tingginya insiden penyakit pada larva. Hasil yang menguntungkan dilaporkan dalam penggunaan antibiotik selama pemeliharaan larva. Morales & Mialhe (observasi unpublished) menyatakan bahwa probiotik mungkin paling efektif bila diterapkan untuk pemeliharaan larva tahap naupliar di kolam pemeliharaan, ketika larva belum mulai makan dan kekurangan suatu microflora mapan. Bisa dibayangkan bahwa pada tahap ini larva akan menjadi koloni dari probiotik, sehingga memungkinkan mengontrol usus mikroflora.

Yeast. Catla, Catla catla (Hamilton), telah digunakan untuk mengevaluasi potensi kedua bakteri dan yeast sebagai probiotik, dengan data yang menunjukkan bahwa calon yang berhasil menyebabkan peningkatan kelangsungan hidup dan berat badan. Perlu dicatat bahwa sel dan -glukan dari Saccharomyces, meningkatkan ketahanan juvenile penaeids terhadap vibriosis. Di sini, data menunjukkan bahwa diet yang mengandung P. rhodozyma menyebabkan peningkatan besar terhadap kelangsungan hidup larva. Juga, Debaryomyces, memproduksi kembali yeast polyamine dari saluran pencernaan ikan, meningkatkan kelangsungan hidup, tetapi menyebabkan penurunan pertumbuhan larva seabass, Dicentrarchus, tersebut digabungkan ke dalam makanan. Kehadiran yeast, yang mampu cocok terhadap usus, menyebabkan peningkatan sekresi amilase dan stimulasi enzim membran pada larva yang berumur 27 hari. Ada minat yang cukup besar dalam penggunaan probiotik untuk meningkatkan kondisi produksi dalam budidaya tambak. Probiotik yang paling umum adalah inokulum bakteri hidup yang kadang-kadang dilengkapi dengan ekstrak ragi dengan enzim ekstraseluler. Beberapa perusahaan menjual preparat enzim ekstraseluler tanpa bakteri hidup. Ekstrak tanaman juga digunakan sebagai probiotik. Klaim tentang potensi manfaat probiotik dalam tambak meliputi : penyempurnaan dekomposisi bahan organik, penurunan konsentrasi nitrogen dan fosfor; meningkatkan pertumbuhan alga menjadi lebih baik; ketersediaan oksigen
6

Manajemen Kualitas Air - Effect of Probiotics on the Hatchery Seed Production of


Black Tiger Shrimp, Penaeus monodon (Fabricius)

terlarut lebih besar; mengurangi cyanobacteria (alga biru-hijau), pengontrolan amonia, nitrit, dan hidrogen sulfida, mengurangi insiden penyakit dan memberikan kelangsungan hidup yang lebih besar, udang besar dan produksi ikan. Vendor biasanya menjual probiotik untuk perawatan profilaksis untuk memberikan perlindungan terhadap penyakit dan untuk memperbaiki kondisi lingkungan budidaya (Boyd dan Gross, 1998).

2.3. Black Tiger Shrimp (Panaeus monodon). Black Tiger Shrimp atau Giant tiger atau Panaeus monodon di Indonesia disebut udang windu. Udang windu saat ini tidak berkembang lagi karena terserang berbagai macam penyakit udang diantaranya yang ganas adalah white spot atau virus bintik putih (Wikipedia, 2011). Udang ini memiliki cirri fisik Ujung depan rostrum lengkung mengarah ke atas dengan gigi atas rostrum 7-8 buah dan gigi bawahnya 3 buah. Terdapat sebuah duri pada buku kedua pasangan pertama dan kedua dari kaki jalannya. Buku ketiga pasangan kaki jalan pertama dilengkapi pula dengan sebuah duri. Badannya berwarna kecokelatan dengan bercak-bercak biru dan berbelang-belang (Fishblogs, 2009). Amri (2003) menyatakan bahwa habitat udang berbeda-beda tergantung dari jenis dari persyaratan hidup dari tingkatan-tingkatan dalam daur hidupnya. Udang windu bersifat euryhaline yakni bisa hidup di laut yang berkadar garam tinggi hingga perairan payau yang berkadar garam rendah. Udang windu juga bersifat benthik, hidup pada permukaan dasar laut yang lumer (soft) terdiri dari campuran lumpur dan pasir terutama perairan berbentuk teluk dengan aliran sungai yang besar dan pada stadium post larva ditemukan di sepanjang pantai dimana pasang terendah dan tertinggi berfluktuasi sekitar 2 meter dengan aliran sungai kecil, dasarnya berpasir atau pasir lumpur.

Klasifikasi (Wikipedia, 2012) :

Manajemen Kualitas Air - Effect of Probiotics on the Hatchery Seed Production of


Black Tiger Shrimp, Penaeus monodon (Fabricius)

Kingdom Phylum Class Order Sub Order Family Genus Species

: : : : : : : :

Animalia Arthropoda Crustacea Malacostraca Decapoda Dendrobranchiata Penaeidae Penaeus P. monodon

Sub Phylum :

3.

Materi dan Metode. Penelitian ini dilakukan di CP (Charoen Pockphand, Aquacultur India Pvt Ltd,.) hatcheri terletak di desa Chettikuppam dekat Marakkanam. Hatcheri ini terletak sekitar 24 km utara Puducherry. Penetasan ini dirancang dengan baik, lengkap dan dirawat untuk produksi komersial benih P. monodon selama sepuluh tahun terakhir. Ada empat unit produksi yang beroperasi secara simultan dan produksi tahunan sekitar 200-300 juta benih. Para induk dikumpulkan dari alam dan diangkut ke dalam kantong plastik berisi oksigen. Awalnya induk dikarantina dan dirawat di bagian penerima. Selanjutnya sampel dicuci 10 ppm KMnO4, dicuci dalam air laut dan dipelihara dalam kotak thermocol dengan aerasi secara terpisah. Sampel dipersiapkan untuk tes PCR untuk mendeteksi keberadaan WSSV dan MBV. Hanya induk negatif ditebar dalam tangki pemeliharaan dan diberi makan dengan cacing polychaete dan cumi dua kali sehari. Lima puluh persen air diganti setiap hari. Para induk kemudian dipindahkan ke tangki maturasi dan diperlakukan dengan probiotik air (Super biotik) sebanyak 20 ppm untuk mengendalikan bakteri. Untuk meningkatkan pemijahan buatan, terlebih dahulu dilakukan ablasi. Jantan dan betina ditebar dengan perbandingan 2:1 dalam 50 tangki persegi panjang. Betina matang gonad dipindahkan ke kapasitas tanki FRP untuk

Manajemen Kualitas Air - Effect of Probiotics on the Hatchery Seed Production of


Black Tiger Shrimp, Penaeus monodon (Fabricius)

pemijahan. Setelah pemijahan, betina yang telah dipindahkan, telur yang telah disaring dipindahkan ke tangki penetasan setelah diobati dengan larutan 20 ppm yodium. Sebelum penebaran nauplii, tangki pemeliharaan larva pertama kali diisi dengan 2 t air laut klor (30ppt) dan semua parameter kualitas air diperiksa. Tangki pemeliharaan larva dibagi menjadi dua untuk memberikan efek kenyamanan. Tangki berisi probiotik diperlakukan sebagai perlakuan dan tanki tanpa probiotik diperlakukan sebagai kontrol. Air probiotik yaitu Super biotik dan Biodream (probiotik ini mengandung Bacillus sp dan Streptococcus sp.) ditambahkan ke dalam tangki percobaan saja @ 5ppm. Selain probiotik 0,05 ppm Treflon juga ditambahkan baik ke dalam tanki perlakuan dan kontrol untuk mencegah penyakit jamur. Nauplii yang baru menetas dari tangki penetasan dipanen dan dipindahkan dalam kantong plastik dan disimpan di dalam DNS dan tangki eksperimen @ 2 lakh per tangki. Dua puluh empat jam setelah penebaran, nauplii dikonversikan menjadi zoea - I di dalam tangki percobaan. Sedangkan di bak kontrol, waktu konversi diperpanjang dari 24 ke 30 jam. Makan pertama dimulai ketika zoea I muncul. Tahapan zoeal (I sampai III) diberi makan dengan Chaetoceros sp. @ 1x106 sel / ml dalam dua kali sehari pada kontrol dan bak perlakuan. Tahap mysis (I hingga III) diberi makan dengan ganggang @ kepadatan 5 x 10 4 sel / ml pada kontrol dan bak perlakuan. Selain alga, tahap mysis diberi makan dengan knock Artemia (Artemia dibunuh dengan air panas) @ 5 sampai 10g/bak. Tahap pasca larva diberi pakan Artemia secara eksklusif nauplii hidup yang baru menetas @ 5 nos per PL per makan. Secara umum, hewan uji dalam bak percobaan mengkonsumsi lebih baik dibandingkan bak kontrol. Probiotik, Super PS (CP Aquacultur Pvt. Ltd) ditambahkan harian @ 5-10ppm dari tahap zoeal dan probiotik Zymatin @ 5ppm ditambahkan setelah munculnya tahap pasca larva dalam tangki percobaan saja. Stok kultur Chaetoceros sp dipertahankan pada suhu ruangan terkontrol (2024oC) dengan 2000-5000 lux intensitas cahaya. Conway Walney Medium or Guillard Medium (F2) digunakan untuk kultur dalam ruangan. Kultur Chaetoceros
9

Manajemen Kualitas Air - Effect of Probiotics on the Hatchery Seed Production of


Black Tiger Shrimp, Penaeus monodon (Fabricius)

sp. dalam 2 liter botol gelas, 25 liter kantong plastik, 500 liter bak FRP dan 20 30 t semen bak outdoor. Untuk kultur luar ruangan, TMRL dan Skelon media yang digunakan. Setelah kultur alga memasuki fase eksponensial dan konsentrasi sel yang cukup telah dipompa ke dalam tangki pemeliharaan larva. Artemia komersial diaerasi selama setengah jam sebelum dekapsulasi. Dua liter klorin cair dan 120 ml larutan Natrium hidroksida yang dicampur secara merata. Kista dialihkan ke larutan dan dilakukan pengadukan secara konstan di bawah 40oC. Warna berubah dari coklat tua sampai oranye menunjukkan kista mengalami dekapsulasi. Pada tahap ini, kista dipindahkan ke bak penetasan berisi Artemia setelah dicuci di air tawar sampai bau kaporit hilang. Aerasi dan pencahayaan teratur dengan lampu 60 V diberikan untuk mempercepat proses penetasan. Setelah 24 jam, nauplii menetas yang telah dikumpulkan. Pergantian air dilakukan dari tahap mysis III dan seterusnya. Menggunakan mesh size 0,5 mm air dikurangi sekitar 50%. Setelah post larva muncul, salinitas berkurang perlahan dan dijaga tetap pada 20 ppt terutama di bak perlakuan, karena probiotik akan bekerja dengan baik di salinitas rendah. Parameter kualitas air dari probiotik diperlakukan dan bak kontrol secara teratur dipantau. Parameter kualitas air seperti salinitas, suhu, pH, amonia terlarut, alkalinitas dan oksigen terlarut diamati setiap hari pada pagi hari. Salinitas air diukur dengan menggunakan refraktometer (Erma-Jepang). PH air diukur dengan menggunakan pH pen elektronik diproduksi oleh Perusahaan Hanna Instrumental, Jepang. Suhu air diukur dengan menggunakan termometer Celcius standar. DO meter untuk mengukur oksigen terlarut. Pertama menggunakan natrium bikarbonat setelah standarisasi asam sulfat kemudian sampel dititrasi dengan asam sulfat standar dengan menggunakan indikator Methyl merah. Tingkat Amonia dipantau secara teratur dengan mengadopsi metode Solorzano (1969) dan Koroleff (1969). Sampel air diambil dari tangki pemeliharaan (kontrol dan bak perlakuan) dan pada berbagai tahap larva (yaitu nauplii, zoea, mysis dan post larva). Total plate count (TPC) dilakukan dengan pengenceran sepuluh kali lipat dalam Tryptic Soy Agar yang mengandung 1% NaCl (TSAS) dengan metode sebar. Setiap sampel
10

Manajemen Kualitas Air - Effect of Probiotics on the Hatchery Seed Production of


Black Tiger Shrimp, Penaeus monodon (Fabricius)

diduplikasi. Pelat diinkubasi pada suhu 29,1C dan diamati setelah 24 jam. Untuk menentukan jumlah bakteri, plat diamati di ruangan gelap. 4. Hasil dan Pembahasan Salinitas dipertahankan pada 30 ppt untuk kontrol dan bak perlakuan. PH dari bak kontrol adalah 8,4 dan bak perlakuan 8.2. Suhu (31oC) dari kontrol dan bak eksperimen. Oksigen terlarut lebih tinggi di dalam bak percobaan (6.12 mg/l) dan lebih rendah dalam bak kontrol (5.75mg/l). Alkalinitas (150 ppm) dari kontrol dan bak eksperimen lebih atau hampir sama. Amoniak lebih tinggi pada bak kontrol (0,19 mg/l) daripada bak perlakuan (0.15mg/l) (Tabel 1). Tingkat kelangsungan hidup nauplii pada bak kontrol dan bak perlakuan kurang lebih sama. Tingkat kelangsungan hidup zoea yang dipelihara dalam bak percobaan lebih tinggi (90%) dibandingkan dengan bak kontrol (75%). Tingkat kelangsungan hidup mysis maksimum (85%) dalam bak percobaan dan minimum dalam bak kontrol (60%). Tingkat kelangsungan hidup semua tahap post larva (PL1-PL15) lebih besar dalam bak perlakuan dibandingkan yang bak kontrol (Tabel 2). Panjang rata-rata semua postlarva (PL1-PL15) maksimal bila dipelihara dalam bak percobaan dibandingkan bak kontrol (Tabel 3). Green koloni relatif lebih banyak dalam bak kontrol dibandingkan bak perlakuan (baik di air dan pada tahap larva). Dan jumlah bakteri mencapai maksimum dalam tahap larva dibandingkan di air (Tabel 4).

11

Manajemen Kualitas Air - Effect of Probiotics on the Hatchery Seed Production of


Black Tiger Shrimp, Penaeus monodon (Fabricius)

12

Manajemen Kualitas Air - Effect of Probiotics on the Hatchery Seed Production of


Black Tiger Shrimp, Penaeus monodon (Fabricius)

Pembudidaya tradisional maupun intensif masih tergantung pada benih udang hasil tangkapan dari alam atau udang yang masuk akibat terbawa arus pasang surut. Namun, dalam budidaya udang tradisional permintaan untuk bibit sehat dan berkualitas cenderung stabil sepanjang tahun. Penelitian ini dilakukan untuk memastikan efisiensi probiotik terhadap kelangsungan hidup udang terutama yang paling penting peternakan larva, P. monodon selain pengaruhnya terhadap parameter kualitas air. Penting memonitor parameter kualitas air selama penelitian ini diantaranay salinitas, pH, suhu, oksigen terlarut, alkalinitas dan amoniak. Kualitas air memegang peranan penting dalam produksi akuakultur. Pengertian menyeluruh mengenai hubungan antara kualitas air dengan produktivitas akuatik sangan esensial untuk pertumbuhan dan produksi yang optimum. Kualitas air selama periode kultur akan menurun terutama disebabkan oleh akumulasi limbah metabolik organisme hidup, dekomposisi sisa pakan, dan pembusukan materi biotik. Umumnya organisme berada dalam keadaan keseimbangan antara mikroorganisme pembawa penyakit dan lingkungannya. Perubahan keseimbangan ini terjadi akibat penurunan parameter kualitas air yang dapat mempengaruhi kelangsungan hidup organisme tersebut dan menjadi rentan terhadap penyakit akibat stres, begitu juga pertumbuhannya. Penambahan probiotik dilaporkan efektif menangani substansi ini dan membantu mempertahankan parameter kualitas air sehingga meningkatkan laju pertumbuhan dan tingkat kelangsungan hidup. Pada penelitian ini, parameter kualitas air hatchery dalam kondisi baik karena penerapan suplemen mikroba melalui probiotik. Kualitas air yang lebih baik terutama dikaitkan dengan Bacillus sp. Alasannya adalah bakteri gram positif merupakan konverter bahan organik yang lebih baik dibanding bakteri gram negatif. Selama siklus produksi, tingginya level bakteri gram positif dapat meminimalkan penumpukan partikulat karbon organik dan karbon organik terlarut. Pengamatan yang sama ditemukan pada studi ini. Tangki yang diberi perlakuan probiotik (Super Biotic, Biodream, Super PC dan Zymetin) berlimpah dengan Bacillus sp. dan menunjukkan level amonia yang rendah, yang diubah menjadi nitrat melalui nitrit.

13

Manajemen Kualitas Air - Effect of Probiotics on the Hatchery Seed Production of


Black Tiger Shrimp, Penaeus monodon (Fabricius)

Suhu air mungkin adalah variabel lingkungan yang paling penting bagi pemeliharaan larva, karena secara langsung mempengaruhi metabolisme, konsumsi oksigen, pertumbuhan, moulting dan kelangsungan hidup larva. Secara umum, perubahan temperatur yang mendadak mempengaruhi sistem imun larva. Kisaran suhu optimum untuk pemeliharaan larva udang windu adalah antara 28 32C (Kannupandi et al., 2002). Suhu dalam penelitian ini adalah 31C. Tidak ada perbedaan suhu antara kontrol dan tangki eksperimen dalam penelitian ini. Salinitas adalah faktor paling penting yang mempengaruhi respons fungsional organisme yaitu dalam metabolisme, pertumbuhan, migrasi, perilaku osmotik, reproduksi, dan lain-lain. Organisme laut mempertahankan konsentrasi garam internal (konsentrasi garam darah dan cairan tubuh) mereka dengan osmoregulasi. Mereka membutuhkan energi yang cukup untuk osmoregulasi untuk memelihara keseimbangan garam internal mereka dalam kaitannya dengan media eksternal di mana mereka hidup. Ketika energi nutrisi digunakan untuk osmoregulasi, pertumbuhan ikan akan menjadi lambat. Untuk pembenihan udang kisaran salinitas yang dianjurkan adalah 28-35 ppt (Kannupandi et al., 2002) Dalam penelitian ini, digunakan filter air laut dan salinitas terdapat dalam kisaran yang diinginkan 30 ppt baik tangki kontrol maupun tangki eksperimen. pH kultur memiliki peranan penting dalam metabolisme dan proses fisiologis organisme lainnya. pH dapat berubah dengan adanya akumulasi sisa pakan, algae yang mati dan ekskreta. Pada kisaran pH optimum, amonia tidak akan menyebabkan banyak masalah. Toksisitas nitrit dan hidrogen sulfida meningkat pada pH rendah. Kisaran pH yang dibutuhkan untuk budidaya udang larva adalah 8,2-8,5 (Kannupandi et al., 2002). Dalam penelitian ini tingkat pH lebih dalam tangki kontrol (8.4) dan tangki eksperimental (8,2) tapi tetap jatuh pada kisaran optimum. Hasil ini menunjukkan bahwa probiotik yang ditambahkan kedalam tangki eksperimental sangat membantu dalam mempertahankan pH dalam tingkat yang diinginkan. Krishnaprakash (2007) juga mempertahankan pH (8,27-8,96) untuk pemeliharaan larva P. monodon. Oksigen terlarut (DO) dalam medium pemeliharaan merupakan faktor penting dan tidak hanya digunakan untuk respirasi
14

Manajemen Kualitas Air - Effect of Probiotics on the Hatchery Seed Production of


Black Tiger Shrimp, Penaeus monodon (Fabricius)

organisme air tetapi juga untuk mempertahankan kondisi kimia dan lingkungan yang menguntungkan pada badan air. Dia mengontrol banyak reaksi oksidasi dan memelihara kondisi aerobik dalam air. Ketika tingkat oksigen sangat rendah dan terdapat kondisi anaerob, nitrat direduksi menjadi amonia, yang bersifat toksik dan dapat meningkatkan pH. Level oksigen yang rendah dapat menghambat kinerja metabolik pada larva udang dan dapat mengurangi pertumbuhan, moulting dan menyebabkan kematian (Gilles, 2001). Level oksigen dalam medium kultur dipertahankan dalam kisaran yang diinginkan dengan aerasi. Aerasi terus menerus dilakukan selama penelitian ini dan karenanya tingkat oksigen tidak berbeda secara signifikan antara kontrol dan tangki eksperimen dan berada di kisaran 5.75 6.12 ml/liter. Alkalinitas juga hampir sama (150 ppm). Nilai alkalinitas berada di kisaran 140-160 ppm dalam pemeliharaan larva P. monodon (Krishnaprakash, 2007). Level amonia tangki kontrol dan tangki uji adalah 0,19 mg/liter dan 0,15 mg/liter. Jumlah amonia yang rendah dalam tangki percobaan terutama disebabkan oleh mikroorganisme yang ada dalam probiotik, yang menginisiasi nitrifikasi. Konsentrasi amonia diamati antara 0 dan 2.1 ppm dalam pemeliharaan larva P. monodon (Krishnaprakash, 2007). Dalam penelitian ini Chaetoceros sp. dan Artemia nauplii digunakan sebagai pakan untuk semua tahap pada larva P. monodon untuk memperoleh sintasan yang lebih baik. Produksi komersial benih udang penaeid terhambat oleh terjadinya penyakit infeksi dan non infeksi. Sejumlah agen mikroba terlibat sebagai penyebab kematian. Penyakit yang disebabkan oleh bakteri dianggap menjadi penyebab utama kematian pada pembenihan udang (Wyban dan Sweeney, 1991) dan juga merupakan kendala dalam produksi larva yang konsisten (Grisez dan Ollevier, 1995). Bakteri, terutama Vibrio spp telah dilaporkan menyebabkan mortalitas larva di Asia selatan dan tenggara. V. harveyi, spesies luminous, merupakan penyebab dalam sejumlah kasus kematian massal (Sunaryanto dan Mariam, 1986; Karunasagar et al, 1994). Meskipun organisme penyebab penyakit selalu ada di dalam air, mereka menyerang larva hanya ketika larva lemah karena stress
15

Manajemen Kualitas Air - Effect of Probiotics on the Hatchery Seed Production of


Black Tiger Shrimp, Penaeus monodon (Fabricius)

lingkungan atau kekurangan nutrisi. Sejumlah faktor mempengaruhi mikroflora dalam hatchery udang. Flora alami yang ada dalam air laut dapat diubah oleh metode treatment filtrasi, klorinasi yang diterapkan dalam pembenihan. Mikroflora pemeliharaan larva dapat memasuki sistem pembenihan melalui pakan hidup atau telurnya seperti algae dan Artemia. Untuk menghindari masalah bakteriologis, pembenihan udang komersial mengadopsi perawatan air yang lebih ekstensif, meliputi filtrasi, klorinasi, dan treatment ultraviolet. Secara tradisional, pengendalian masalah bakteri pada pembenihan udang penaeid masih bertumpu pada senyawa kimia. Penyalahgunaan antimikroba dapat mengakibatkan pengembangan strain bakteri yang resisten (Weston, 1996). Barubaru ini organisme probiotik digunakan. Probiotik, yang umumnya digunakan dalam sistem pembesaran, sekarang juga digunakan dalam pembenihan. Produk probiotik komersial dengan kandungan Lactobacillus, Bacillus dan Streptococcus digunakan dalam penelitian ini. Kualitas air dan beban mikroba ada dalam batas diperbolehkan. Bakteri luminous diamati dalam jumlah yang lebih rendah pada sistem hatchery ini.Namun dalam sistem pemeliharaan larva buatan, keseimbangan diubah oleh penggunaan air desinfeksi, mikroalgae, Artemia nauplii, rotifera dan antibakteri. Akibatnya, komunitas mikroba pelindung tidak dapat berkembang di lingkungan dan atau pada sistem pencernaan larva. Larva dipelihara dalam lingkungan hatchery yang relatif steril tidak tumbuh dengan baik dan menunjukkan kelangsungan hidup yang rendah bila terkena populasi mikroba yang kompleks yang membuat mereka rentan terhadap stres lingkungan dan bakteri patogen potensial. Pemeriksaan kesehatan hewan secara teratur dilakukan di hatchery pada berbagai tahap pemeliharaan. Post larva diperiksa secara teratur: nekrosis, bakteri luminous, WSSV, MBV, endoparasit dan lain-lain. Uji stress juga dilakukan. Hanya larva sehat, yang lulus batas kesehatan, dijual ke petani. Tingkat kelangsungan hidup dalam penelitian ini adalah 30 dan 75% pada tangki kontrol dan tangki uji. Hal ini jelas menunjukkan bahwa probiotik yang digunakan dalam tangki uji lebih memelihara kualitas air dan organisme penyebab
16

Manajemen Kualitas Air - Effect of Probiotics on the Hatchery Seed Production of


Black Tiger Shrimp, Penaeus monodon (Fabricius)

penyakit dibanding tangki kontrol. Rata-rata panjang PL juga jauh lebih tinggi pada hewan uji perlakuan probiotik dibanding kontrol. Krishnaprakash (2007) juga memperoleh 43,07% untuk produksi benih P.monodon. Dalam akuakultur, probiotik dapat diberikan baik sebagai suplemen makanan atau sebagai aditif pada air (Moriarty, 1999). Probiotik dalam akuakultur telah terbukti memiliki beberapa mode tindakan: eksklusi kompetitif bakteri patogen dengan memproduksi senyawa penghambat; peningkatan kualitas air, peningkatan respon imun dari spesies inang, dan peningkatan nutrisi spesies inang melalui produksi tambahan enzim pencernaan (Verschuere et al., 2000). Oleh karena bakteri Bacillus mengeluarkan exoenzymes dalam jumlah banyak (Moriarty, 1996; 1999), bakteri ini telah digunakan secara luas sebagai probiotik putative. Penelitian menunjukkan bahwa ketika bakteri ini diberikan sebagai probiotik ke dalam tangki pemeliharaan larva udang, pertumbuhan dan kelangsungan hidup dan kekebalan tubuhnya meningkat (Rengpipat et al, 1998; 2000). Beberapa bakteri yang digunakan sebagai kandidat probiotik memiliki efek antivirus. Meskipun mekanisme aksi bakteri belum diketahui secara pasti. Direkbusarakom et al. (1997) mengisolasi dua strain bakteri Vibrio spp. NICA 1030 dan 1031 NICA dari pembenihan udang windu. Isolat ini mempunyai aktivitas antiviral terhadap virus IHNV dan OMV. Beberapa penelitian menyatakan bahwa mikroorganisme memiliki efek yang bermanfaat dalam proses pencernaan hewan air. Balca'zar (2003) menunjukkan bahwa pemberian campuran jenis bakteri (Bacillus dan Vibrio sp.) secara positif mempengaruhi pertumbuhan dan kelangsungan hidup juvenil udang putih dan memberi efek perlindungan terhadap patogen V. harveyi dan virus penyebab white spot. Perlindungan ini disebabkan karena adanya stimulasi sistem kekebalan tubuh, dengan meningkatkan fagositosis dan aktivitas antibakteri. Administrasi bakteri Bacillus ke tangki pemeliharaan larva udang menghasilkan peningkatan aktivitas spesifik lipase, protease dan amilase dalam saluran pencernaan larva. Bakteri gram positif ini, anggota genus Bacillus, mensekresikan beragam exoenzymes (Moriarty, 1996; 1999), namun tidak bisa membedakan aktivitas antara enzim yang disintesis oleh larva atau oleh bakteri. Mereka mengamati peningkatan aktivitas spesifik enzim pencernaan dalam
17

Manajemen Kualitas Air - Effect of Probiotics on the Hatchery Seed Production of


Black Tiger Shrimp, Penaeus monodon (Fabricius)

perlakuan probiotik mungkin telah menyebabkan pencernaan dan penyerapan makanan yang lebih baik, yang pada gilirannya berkontribusi pada peningkatan ketahanan hidup dan pertumbuhan P. indicus. Konsumsi pakan juga maksimal pada perlakuan probiotik dibanding kontrol pada penelitian ini. Korelasi antara jumlah bakteri, aktivitas enzim pencernaan dan sintasan yang lebih tinggi dan parameter pertumbuhan pada perlakuan PP terhadap kontrol menunjukkan bahwa penambah probiotik pada tahap pembenihan dan diteruskan administrasinya pada seluruh tahap kultur diperlukan untuk memaksimalkan kelangsungan hidup dan pertumbuhan udang. Kesimpulan umum yang diperoleh dari penelitian ini bahwa probiotik memegang peranan penting dalam sintasan dan ketahanan terhadap penyakit pada kultur larva dengan cara mempertahankan parameter kualitas air yang baik pada seluruh siklus. Terlihat jelas pada data beban mikroba bahwa Vibrio sp. dominan hanya pada tangki kontrol dan tidak pada tangki uji.

5.

Kesimpulan. Kesimpulan umum yang diperoleh dari penelitian ini adalah bahwa probiotik memainkan peran penting dalam ketahanan kelangsungan hidup dan penyakit pertanian larva dengan mempertahankan parameter kualitas air yang baik di seluruh siklus. Hal ini jelas dari data beban mikroba yang Vibrio sp. dominan hanya di bak kontrol tidak dalam tangki percobaan.

18

Manajemen Kualitas Air - Effect of Probiotics on the Hatchery Seed Production of


Black Tiger Shrimp, Penaeus monodon (Fabricius)

Daftar Pustaka Boyd, CE and Gross, A. 1998. Use of Probiotics for Improving Soil and Water Quality in Aquaculture Ponds. National Center for Genetic Engineering and Biotechnology. Bangkok. Diakses tanggal 25 Maret 2011. Moriarty, DJW. 1999. Disease Control in Shrimp Aquaculture with Probiotic Bacteria. The University of Queensland. Australia. Proceedings of the 8th International Symposium on Microbial Ecology. Diakses tanggal 25 Maret 2011. Soundarapandian, P and Babu, R. 2010. Effect of Probiotics on Hatchery Seed Production of Balck Tiger Shrimp, Penaeus monodon (Fabricius). Annamalai University. India. International Journal of Animal an Veterinary Advances 2 (1) : 9-15. Diakses tanggal 25 Maret 2011. Verschuere, L. et al. 2000. Probiotic Bacteria as Biological Control Agents in Aquaculture. Microbiology and Molecular Biology Reviews; vol. 64, No. 4 : p. 655-671. Diakses tanggal 25 Maret 2011.
19

Manajemen Kualitas Air - Effect of Probiotics on the Hatchery Seed Production of


Black Tiger Shrimp, Penaeus monodon (Fabricius)

YE Cherng Industrial Products, Co., LTD. Technical Information : Probiotics in Aquaculture. No. YC2006018. Diakses tanggal 25 Maret 2011.

20