Anda di halaman 1dari 131

BAB I

PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Hakikat belajar sains tentu saja tidak cukup sekedar mengingat dan
memahami konsep yang ditemukan oleh ilmuwan. Akan tetapi, yang sangat
penting adalah pembiasaan perilaku ilmuwan dalam menemukan konsep yang
dilakukan melalui percobaan dan penelitian ilmiah. Proses penemuan konsep yang
melibatkan keterampilan-keterampilan yang mendasar melalui percobaan ilmiah
dapat dilaksanakan dan ditingkatkan melalui kegiatan laboratorium.
Peserta didik cenderung menganggap belajar fisika hanya sebatas
menghafal rumus-rumus secara fisiknya saja, menyelesaikan perhitungan-
perhitungan berdasarkan soal-soal yang tidak ada implementasinya dalam
kehidupan sehari-hari dan menghafal teori serta hukum-hukum dengan lancar dan
benar namun tidak mengetahui makna atau hubungan antara variabel satu dengan
yang lain. Berdasarkan permasalahan yang terungkap tersebut maka untuk
memperoleh pemahaman konsep pada peserta didik yang tidak hanya beroreantasi
pada aspek kognitif saja tetapi juga beroreantasi pada aspek afektif dan
psikomotor.
Agar siswa dapat terlibat secara aktif dan memberikan kesempatan kepada
siwa agar dapat melakukan sendiri, mengikuti suatu proses, mengamati suatu
objek, menganalisis, membuktikan dan menarik suatu kesimpulan sendiri tentang
sesuatu adalah salah satu metode yang dapat dipergunakan yaitu metode
demonstrasi dengan menggunakan KIT IPA sehingga peserta didik mampu
menemukan dan mengembangkan sendiri fakta dan konsep serta menumbuh dan
mengembangkan sikap positif dan keterampilan siswa. Dalam proses ini siswa
berperan aktif dalam proses belajar mengajar dan peran guru bukan lagi sebagai
pusat informasi tetapi hanya memberikan bimbingan/arahan bagi siswa yang
membutuhkan.
Berdasarkan hasil observasi di SMU Negeri 1 Segeri, siswa kurang
berminat dalam mengikuti pelajaran fisika, kurang memperhatikan guru dalam
mengajar karena penggunaan metode yang monoton dari waktu ke waktu dan
kurang optimalnya penggunaan KIT IPA. Guru hanya menjelaskan konsep fisika
sedangkan siswa hanya menghafal konsep, sehingga siswa kurang mampu
mengaplikasikan konsep tersebut dalam kehidupan nyata ini dikarenakan kurang.
Oleh karena itu penetapan nilai KKM SMA Negeri 1 Segeri sebesar 67 sukar
dicapai siswa.
Fakta yang lebih nyata dan dapat dipercaya terlihat dari nilai rata-rata
kelas X dari X
A
hingga X
F
untuk mata pelajaran fisika tahun ajaran 2010/2011
untuk semester ganjil.
Tabel 1.1 Rata-rata Hasil Belajar Fisika Semester Ganjil kelas X SMA
Negeri 1 Segeri Kabupaten Pangkep Tahun Ajaran 2010/2011
Kelas X
A
X
B
X
C
X
D
X
E
X
F

Rata-rata Hasil Belajar 71,78 64,50 67,71 59,27 64,09 66,94
( Sumber : SMA Negeri 1 Segeri)
Berdasarkan tabel di atas menunjukkan bahwa ketuntasan hasil belajar
fisika siswa kelas X SMU Negeri 1 Segeri masih tergolong rendah. Dari
observasi awal yang dilakukan.
Berdasarkan uraian di atas, maka penulis terdorong untuk melakukan
penelitian dengan judul Penerapan Metode Demonstrasi dengan Menggunakan
KIT IPA dalam Pencapaian Hasil Belajar Siswa Kelas X SMA 1 Segeri
Kabupaten Pangkep.
B. Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang masalah yang telah dikemukakan di atas, maka
rumusan masalah yang diangkat dalam penelitian ini adalah:
1. Seberapa besar pencapaian hasil belajar fisika siswa SMA Negeri 1 Segeri
setelah dilakukan pembelajaran dengan metode demonstrasi yang
menggunakan KIT IPA?
2. Apakah persentase hasil belajar fisika siswa SMA Negeri 1 Segeri setelah
dilakukan pembelajaran dengan metode demonstarasi yang menggunakan
KIT IPA minimum mencapai nilai KKM yaitu 67?
C. Tujuan Penelitian
Berdasarkan rumusan masalah yang dikemukakan di atas, maka tujuan
penelitian ini:
1. Untuk mengetahui besarnya pencapaian hasil belajar fisika siswa SMA Negeri
1 Segeri setelah dilakukan pembelajaran dengan metode demonstrasi yang
menggunakan KIT IPA.
2. Untuk mengetahui presentase hasil belajar fisika siswa SMA Negeri 1 Segeri
setelah dilakukan pembelajaran dengan metode demonstrasi yang
menggunakan KIT IPA minimum mencapai nilai KKM.
D. Manfaat Penelitian
Manfaat yang diharapkan dari hasil penelitian ini adalah sebagai berikut:
a. Bagi siswa, memberi pengalaman langsung pada siswa dalam menemukan
konsep-konsep fisika, merangsang siwa agar lebih aktif, kreatif serta
menumbuhkan sikap positif mereka terhadap bidang studi fisika yang
terkesan sulit.
b. Bagi guru, sebagai bahan pertimbangan Fisika dalam memilih alat
pembelajaran agar siswa lebih aktif.
c. Bagi peneliti, dapat memberikan pengalaman langsung dalam mengajar,
sekaligus sebagai bahan pembanding bagi peneliti-peneliti lain dalam
meneliti masalah yang relevan.
d. Bagi sekolah, sebagai bahan pertimbangan dalam memperhatikan
kelengkapan peralatan yang menunjang pembelajaran khususnya
pembelajaran fisika.



BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
A. TINJAUAN PUSTAKA
1. Hakikat Ilmu Pengetahuan Alam (Sains)
Ilmu pengetahuan alam (IPA), dalam bahasa Inggris disebut Natural
Science atau di singkat Science dan dalam bahasa Indonesia lazim digunakan
istilah sains.
Ilmu pengetahuan alam (Sains) berawal pada saat manusia memperhatikan
gejala-gejala alam, mencatatnya dan kemudian mempelajarinya. Pengetahuan
yang diperoleh mula-mula merupakan hasil pengamatan terhadap gejala alam
yang ada, kemudian diperoleh dari hasil pemikiran dan selanjutnya dari
peningkatan kemampuan nalar. Dari hal inilah manusia mampu melakukan
eksperimen untuk membuktikan kebenaran dari suatu pengetahuan.
Untuk aspek fisis, sains memfokuskan diri pada benda tak hidup, mulai
dari benda tak hidup yang dikenal dalam kehidupan sehari-hari seperti air, tanah,
udara, batuan dan logam sampai dengan benda-benda diluar bumi dalam susunan
tata surya dan system galaksi di alam semesta (M.A. Martawijaya dan M. Natsir,
2006 : 18)
Nokes dalam Science in Education menyatakan IPA adalah pengetahuan
teoritis yang diperoleh dengan metode khusus yaitu melakukan observasi,
eksperimentasi, penyimpulan, penyusunan teori kemudian melakukan eksperimen,
observasi dan demikian seterusnya saling kait mengait antara metode yang satu
dengan metode yang lain. Sedangkan H.W Fowler menyatakan bahwa IPA adalah
ilmu yang sistematik dan dirumuskan, yang berhubungan dengan gejala-gejala
kebendaan dan didasarkan terutama atas pengamatan dan diuji berulang-ulang
melalui eksperimen (Anonim, 2011 : 1)
Sains (science) diambil dari kata latin scientian yang arti harfiahnya
adalah pengetahuan. Sund dan Trowbridge merumuskan bahwa sains merupakan
kumpulan pengetahuan dan cara-cara untuk mendapatkan dan mempergunakan
pengetahuan itu. Sains merupakan produk dan proses yang tidak dapat dipisah
kan. (Anonim, 2011 : 1)
Pendidikan sains diarahkan untuk mencari tahu dan berbuat untuk
memperoleh pemahaman yang lebih mendalam tentang alam sekitar. Dengan
demikian siswa harus mampu mengembangkan sejumlah keterampilan proses
untuk menguji gagasan-gagasan atau memecahkan masalah. (Anonim, 2010 : 1)
Fisika merupakan cabang ilmu pengetahuan alam. Fisika sendiri mulai
diajarkan pada siswa SMP dengan nama mata pelajaran sains, meskipun
dasardasar sudah diberikan sejak SD. Menurut Y. Padmono (2000 : 141), Fisika
pada khususnya dan IPA pada umumnya sebagai hasil dari kegiatan manusia yang
berupa pengetahuan, gagasan, dan konsep yang terorganisasi tentang alam sekitar
yang diperoleh dari serangkaian proses ilmiah antara lain penyelidikan,
penyusunan, pengujian.(Junaidi, 2010 : 1)
Menurut Y. Padmono (2000 : 142 ), Secara umum IPA memiliki tiga sifat
dasar atau hakikat yaitu (a) kontent atau produk, (b) proses, (c) sikap . IPA
sebagai produk merupakan produk ilmu pengetahuan baik itu sebagai teori,
konsep, hipotesis, atau postulat. Selanjutnya IPA sebagai proses pada hakikatnya
merupakan suatu cara untuk memecahkan masalah dengan prosedur tertentu
mengenai gejala alam. Sedangkan IPA sebagai sikap merupakan cara memandang
terhadap gejala-gejala alam dalam rangka memahami gejala alam tersebut. Sesuai
hakikat atau sifat dasarnya maka tujuan pendidikan/pembelajaran IPA adalah
tidaklah hanya sekedar agar siswa diharapkan terbentuk kemampuannya dalam
memecahkan masalah mengenai alam sekitar sesuai dengan cara/proses yang
dikehendaki dalam IPA. (Junaidi, 2010 : 1)
Berdasarkan uraian di atas dapat disimpulkan bahwa sains merupakan
kumpulan pengetahuan yang berupa fakta, konsep, teori dan generalisasi yang
mempelajari tentang alam yang diperoleh melalui metode ilmiah yang sistematis
dengan mengaplikasikan pengetahuan yang satu dengan yang lainnya yag saling
menunjang.
2. Pengertian Belajar
Belajar secara umum dapat diartikan sebagai perubahan, contohnya dari
tidak tahu menjadi tahu, dari tidak mampu menjadi mampu, dari tidak mau
menjadi mau, dan lain sebagainya. Namun demikian tidak semua perubahan pasti
merupakan peristiwa belajar. Sedangkan yang dimaksud perubahan dalam belajar
adalah perubahan yang relatif, konstan, dan berbekas. Relatif artinya ada kalanya
suatu hasil belajar ditiadakan atau dihapus dan digantii dengan yang baru, dan ada
kemungkinan suatu saat hasil belajar terlupakan. Hal ini tergantung dari
kebutuhan belajar saat itu, karena belajar terjadi dalam interaksi dengan
lingkungan. Dengan demikian relatif tersebut dalam arti tergantung dari
perubahan lingkungan. Konstan dan berbekas maksudnya bahwa perubahan dalam
belajar harus menjadi milik pribadi, artinya perubahan itu akan bertahan lama,
sehingga bila digunakan akan segera dapat direproduksi. (Sahabuddin, 2007 : 10)
Menurut Skinner (1985) Learning is a process of progressive behavior
adaption, bahwa belajar itu merupakan suatu proses adaptasi perilaku yang
bersifat progresif. Menurut Mc. Beach (1956) memberikan definisi Learning is
change performance as a result of practice, ini berarti bahwa belajar membawa
perubahan dalam performen, dan perubahan itu sebagai akibat dari latihan.
Menurut Morgan (1984) Learning can be defined as any relatively permanent
change in behavior which accurs as a result of practice or experience, bahwa
perubahan perilaku itu sebagai akibat belajar karena latihan atau karena
pengalaman. (Dek Rizky, 2009 : 1)
Belajar tidak hanya terjadi di dalam kelas, tetapi terjadi dimana saja dan
kapan saja secara kontinu dan dilandasi dengan perubahan tingkah laku ke arah
yang lebih baik.
Belajar adalah suatu proses yang dilaksanakan untuk memperoleh suatu
perubahan tingkah laku yang secara keseluruhan sebagai hasil pengalaman sendiri
yang berinteraksi dengan lingkungan. (Anonim, 2009 : 1)
Nasution (1987), pengertian belajar adalah:
a. Belajar adalah perubahan pengetahuan. Defenisi ini banyak dianut di sekolah-
sekolah dimana guru-guru berusaha memberikan ilmu sebanyak mungkin dan
murid giat mengumpulkannya. Seringkali belajar disamakan dengan
menghafal.
b. Belajar adalah sebgai perubahan kelakuan berkat pengalaman dan latihan.
(Hasnidar, 2007 : 19)
Biggs mendefinisikan belajar dalam tiga macam rumusan, yaitu rumusan
kuantitatif, institusional, rumusan kualitatif. (Muhammad Aris, 2008 : 32 )
a. Secara kuantitatif, belajar berarti kegiatan pengisian atau pengembangan
kemampuan kognitif dengan fakta sebanyak-banyaknya. Jadi, belajar dalam
hal ini dipandang dari sudut berapa banyak materi yang dikuasai siswa.
b. Secara institusional, belajar dipandang sebagai proses validasi terhadap
penguasaan siswa atas materi-materi yang telah ia pelajari. Bukti institusional
yang menunjukkan siswa telah belajar dapat diketahui dalam hubungannya
dengan proses mengajar. Ukurannya ialah, semakin baik mutu mengajar yang
dilakukan guru maka akan semakin baik pula mutu perolehan siswa yang
kemudian dinyatakan dalam bentuk skor atau nilai.
c. Secara kualitatif, belajar ialah proses memperoleh arti-arti dan pemahaman-
pemahaman serta cara-cara menafsirkan dunia di sekeliling siswa.
Bertolak dari berbagai defenisi yang diutarakan di atas, secara umum
belajar dapat dipahami sebagai tahapan perubahan yang bersifat relatif, konstan
dan berbekas.


3. Metode Demonstari
Menurut Sanjaya (2006), metode demonstrasi (demonstration method)
adalah metode penyajian pelajaran dengan memperagakan dan mempertunjukkan
kepada siswa tentang suatu proses, situasi atau benda tertentu, baik sebenarnya
atau hanya sekadar tiruan.
Metode demonstrasi adalah metode yang digunakan untuk memperlihatkan
suatu proses atau cara kerja suatu benda yang berkenaan dengan bahan pelajaran.
Manfaat psikologis pedagogis dari metode demonstrasi, sebagai berikut:
a. Perhatian siswa dapat lebih dipusatkan
b. Proses belajar siswa lebih terarah pada materi yang sedang dipelajari.
c. Pengalaman dan pesan sebagai hasil pembelajaran lebih melekat dalam
diri siswa.
Kelebihan metode demonstrasi sebagai berikut :
1. Melalui metode demonstrasi terjadinya verbalisme akan dapat dihindari,
sebab siswa disuruh langsung memerhatikan bahan pelajaran yang
dijelaskan.
2. Proses pembelajaran akan lebih menarik, sebab siswa tak hanya
mendengar tetapi juga melihat peristiwa yang terjadi.
3. Dengan cara mengamati secara langsung siswa akan memiliki kesempatan
untuk membandingkan antara teori dan kenyataan.
Kelemahan metode demonstrasi sebagai berikut :
1. Anak didik terkadang sukar melihat dengan jelas benda yang akan
dipertunjukkan
2. Tidak semua materi ajar dapat didemonstrasikan
3. Demonstrasi memerlukan kemampuan dan keterampilan guru yang
khusus, sehingga guru dituntut untuk bekerja lebih professional.
Metode demonstrasi akan berhasil jika:
1. Guru sebelumnya telah dapat mengumpulkan alat-alat yang diperlukan.
2. Semua siswa dapat mengikuti demonstrasi.
3. Guru telah menetapkan secara garis besar langkah-langkah demonstrasi
serta perkiraan jumlah waktu yang diperlukan.
(Sahabuddin, 2007 : 71)
Berdasarkan uraian diatas metode demonstrasi adalah metode penyajian
pelajaran dengan cara memperagakan penggunaan suata alat pembelajaran yang
mengurangi aktivitas verbal dalam kegiatan pembelajaran yang bermanfaat untuk
memfokuskan perhatian siswa dan agar proses belajar siswa lebih terarah.
4. KIT IPA dan Penggunaannya dalam Pembelajaran IPA
Pemahaman terhadap konsep-konsep IPA, terlebih dahulu diawali dengan
melihat dan menjalani dengan dasar bahwa segala pikiran berawal dari
pengamatan dan pada akhirnya mengerti. Oleh karena itu, kegiatan belajar
mengajar IPA hendaknya melalui kegiatan praktikum untuk mengerjakan suatu
percobaan diperlukan alat KIT IPA yang mendukung percobaan tersebut.
KIT IPA merupakan suatu sarana untuk dapat membantu kelancaran
proses belajar mengajar yang terdiri atas alat-alat IPA. (Anonim, 2009 : 1)
KIT berarti kotak dan IPA adalah ilmu pengetahuan alam, jadi KIT IPA
adalah kotak yang berisi seperangkat alat-alat IPA yang dilengkapi dengan buku
pedoman. (Anonim, 2009 : 1)
KIT adalah kotak alat-alat sehingga KIT IPA berarti kotak yang berisi
seperangkat alat-alat IPA. (John Echols dan Hassan Shadaly, 1994 : 32 )
Dari beberapa pendapat tentang KIT IPA maka dapat ditarik kesimpulan
bahawa KIT IPA adalah kotak yang berisi seperangkat alat-alat IPA dan memiliki
buku pedoman.
Kelengkapan KIT IPA di sekolah belum tentu menjamin kualitas
pendidikan tanpa diimbangi pengelolaan yang cermat oleh guru. Bila
penggunaannya tepat guna, maka akan menjadi sarana yang dapat membantu para
siswa dalam penguasaan pengetahuan, peningkatan keterampilan dan sikap
ilmiah.
Ada anggapan bahwa semakin sering KIT IPA digunakan berarti semakin
penting alat itu digunakan atau diadakan, dan penggunaannya terletak di tangan
guru itu sendiri. Untuk itu, diharapkan guru yang mengajar khususnya IPA harus
paham tentang cara penggunaan KIT IPA itu sendiri. Guru tidak hanya cukup
menguasai materi IPA yang diajarkan saja, namun dibutuhkan keterampilan untuk
merakit, mengoperasikan serta merawat alat tersebut dengan baik. Perawatan
secara rutin perlu dilakukan, seperti pembersihan, pengemasan pengadaan
alat/komponen yang rusak sehingga penggunaan berikutnya tidak mengalami
kendala.
Berdasarkan uraian di atas dapat ditarik kesimpulan bahwa guru memiliki
peranan yang penting dalam menunjang keefektifitasan KIT IPA dalam kegiatan
pembelajaran.
Pada era teknologi saat ini sering kali dalam pembelajaran IPA dan fisika
pada khususnya guru banyak menggunakan media elektronik untuk membantu
dalam kegiatan pembelajaran misalnya simulasi suatu percobaan. Hal ini
mengakibatkan siswa tidak melakukan kegiatan percobaan hanya menyaksikan
saja tanpa melibatkan siswa dalam kegiatan tersebut.
Dengan memanfaatkan KIT IPA yang tersedia, para siswa dapat
berhadapan secara langsung dengan alat-alat IPA. Ini berarti memberikan manfaat
kepada siswa karena secara langsung dapat diamati sendiri tentang apa yang
disajikan gurunya, bahkan langsung dapat mencobanya.
Piaget mengemukakan bahwa anak yang tahap berpikirnya masih berada
pada taraf operasional konkrit tidak dapat memahami operasi (logik) dalam
konsep IPA tanpa dibantu benda-benda konkrit. Berdasarkan pendapat ini,
nampak bahwa kehadiran KIT IPA sangat tepat untuk menanamkan konsep-
konsep IPA secara nyata. (Anonim, 2009 : 1)
Dalam strategi belajar mengajar IPA diharapkan terjadi partisipasi aktif
dari siswa. Walaupun belajar itu sendiri sudah bersifat aktif namun kadar
aktivitasnya masih bervariasi, misalnya mendengar, mencatat, dan menghafal. Itu
merupakan aktivitas belajar siswa tetapi masih rendah karena hanya menyangkut
aktivitas intelektual tingkat rendah.
Gelegal mengemukakan faktor-faktor yang mempengaruhi seseorang
dalam menjalankan tugasnya, dapat ditinjau dari tiga hal, yaitu :
a. Faktor Individu
Dalam kehidupan sehari-hari dikenal keberadaan manusia yang berbeda-
beda. Keunikan manusia membuat dirinya dapat dinilai secara phsikis. Dalam
konteks phsikis ini dapat dilihat dari aspek kesempurnaan dan kekurang
sempurnaannya. Dalam hal ini kesempurnaannya hanya terbatas pada kelebihan
manusia dibandingkan dengan mahluk lainnya. Kepribadian yang tertanam dalam
jiwa manusia akan berpengaruh dalam menjalankan tugas sehari-hari seperti
bekerja keras, tekun serta lebih kompetitif khususnya dalam menggunakan KIT
IPA sebagai alat bantu dalam proses belajar mengajar IPA.
b. Faktor Sosial
Yang tercakup dalam faktor sosial ini antara lain : pergaulan, komunikasi
dan kerja sama. Pengaruh yang didapatkan seseorang dari pergaulan, komunikasi
dan kerja sama akan bermanfaat bagi usaha peningkatan kemampuan seseorang
dalam melaksanakan tugasnya.
Dalam pergaulan tidak mungkin terjadi tanpa komunikasi, baik dalam
bentuk verbal maupun non verbal. Jika antara individu-individu yang
berkomunikasi ada kesamaan konsep dan pengetahuan khususnya tentang KIT
IPA, maka sudah tentu melalui komunikasi seseorang mampu mendemonstrasikan
pokok bahasan yang sesuai, mengemas maupun merawatnya.

c. Faktor Profesional
Ada beberapa faktor yang mempengaruhi seseorang dalam melaksanakan
tugasnya, diantaranya adalah faktor profesional. Hal ini tidak dapat dipungkiri
mengingat keterkendalaan menjalankan tugas dalam kenyataan sehari-hari belum
tentu ada keserasian. Ini menyebabkan tugas yang dipangku seorang guru sering
kurang sempurna. Untuk itu penyesuaian keahlian khusus dalam bidang pekerjaan
tertentu seperti keterampilan menggunakan KIT IPA sangat diperlukan. Hal ini
bisa diperoleh melalui latihan sehingga dapat membuat seseorang mampu
menghadapi tugas-tugas yang diberikan. Dengan latihan, baik sendiri-sendiri
maupun secara kelompok, lambat laun profesinya akan menjadi meningkat.
(Anonim, 2010 : 1)
Berdasarkan pada penjelasan diatas dapat disimpulkan bahwa faktor yang
mempengaruhi penggunaan KIT IPA yaitu pertama, faktor individu yang didasari
pada kepribadian individu itu sendiri; kedua, faktor sosial yang didasari pada
pergaulan, komunikasi, dan kerja sama seseorang; dan ketiga, faktor professional
yang didasari pada keterampilan seseorang.
5. Hasil Belajar
Setiap kegiatan yang berlangsung pada akhirnya ingin diketahui hasilnya.
Demikian pula dalam pembelajaran untuk mengetahui berhasil tidaknya seseorang
yang belajar, harus dilakukan pengukuran dan penilaian. Dengan mengukur hasil
belajar, maka seseorang akan dapat diketahui tingkat penguasaan tentang materi
pelajaran yang telah dipelajari. Hasil dari pembelajaran itu disebut hasil belajar.
Jadi hasil belajar adalah hasil yang dicapai oleh siswa setelah melakukan kegiatan
belajar dimana hasil tersebut merupakan gambaran penguasaan pengetahuan dan
keterampilan dari peserta didik yang berwujud angka dari tes standar yang
digunakan sebagai pengukur keberhasilan. Angka atau skor sebagai hasil
pengukuran mempunyai makna jika dibandingkan dengan patokan sebagai batas
yang menyatakan bahwa siswa telah menguasai secara tuntas materi pelajaran
tersebut. (Abd. Haling, 2004: 36)
Hasil belajar dapat dilihat melalui tiga aspek yaitu: aspek kognif, aspek
afektif dan aspek psikomotorik. unsur-unsur yang terdapat dalam tiga aspek hasil
belajar tersebut. (M. Aqil Rusli, 2007 : 27)
Hasil belajar bidang kognitif
Ranah kognitif banyak berhubungan dengan informasi dan pengetahuan.
Tujuan ini terutama dialamatkan kepada perkembangan intelektual siswa.
Perkembangan dalam bidang ini meliputi baik keterampilan intelektual dasar
seperti kemampuan menambah dan mengurangi, maupun kemampuan fakta,
konsep dan generalisasi. Berdasarkan taksonomi Bloom, ranah kognitif terdiri atas
enam bagian yaitu:
1. Pengetahuan (knowledge)
Pengetahuan mencakup ingatan mengenai hal-hal yang pernah dipelajari
dan disimpan dalam ingatan. Hal ini dapat meliputi fakta, norma, prinsip dan
metode yang diketahui. Pengetahuan yang disimpan dalam ingatan, digali pada
saat dibutuhkan dalam bentuk mengingat kembali. Tingkah laku operasional
khusus yang berisikan tipe hasil belajar ini antara lain: menyebutkan, menjelaskan
kembali, menunjukkan, menuliskan, memilih, dan mengidentifikasikan.
2. Pemahaman
Pemahaman mencakup kemampuan menangkap makna dan arti dari bahan
yang diajarkan, yang ditunjukkan dalam bentuk kemampuan menguraikan isi
pokok dari suatu bacaan, menjelaskan arti suatu defenisi, mengubah kalimat aktif
menjadi kalimat pasif. Kata-kata operasional untuk merumuskan tujuan
instruksional dalam bidang pemahaman, antara lain membedakan, menjelaskan,
meramalkan, menafsirkan, memperkirakan, membuat rangkuman, menuliskan
kembali, melukiskan dengan kata-kata sendiri.
3. Penerapan (aplikasi)
Aplikasi adalah kesanggupan menerapkan, mengabstaksikan suatu konsep,
ide, rumus, hukum dalam situasi yang baru. Jadi, dalam aplikasi harus ada konsep,
teori, hukum dan rumus. Dalil hukum tersebut diterapkan dalam pemacahan suatu
masalah. Tingkah laku operasional untuk merumuskan tujuan instruksional
biasanya menggunakan kata-kata: menghitung, memecahkan,
mendemonstrasikan, mengerjakan, mengubah dan lain-lain.
4. Analisis
Analisis adalah kesanggupan memecahkan, mengurangi seperti suatu
integritas (kesatuan yang utuh) menjadi unsur-unsur atau bagian-bagian yang
mempunyai arti. Bila kemampuan analisis telah dimiliki seseorang akan dapat
mengkreasikan sesuatu yang baru. Kata-kata operasional yang lazim dipakai
untuk analisis antara lain: menganalisis, membedakan, menyimpulkan dan
merumuskan.
5. Sintesis
Menyintesis atau menggabungkan mencakup kemampuan menggabungkan
komponen-komponen yang terpisah-pisah sehingga membentuk satu keseluruhan.
Kata-kata operasional yang digunakan antara lain menggabungkan, menghimpun,
menyimpulkan, menyusun dan merancang.
6. Evaluasi
Evaluasi mencakup kemampuan membentuk suatu pendapat mengenai
sesuatu berdasarkan pertimbangan dan kriteria evaluasi tertentu. Kemampuan ini
dinyatakan dalam bentuk pemberian penilaian terhadap sesuatu. Tingkah laku
operasional dilukiskan dalam kata-kata menilai, membandingkan,
mempertimbangkan, mempertentangkan, mengeritik, menyimpulkan, mendukung
dan memberikan pendapat.
Hasil belajar bidang afektif
Bidang afektif berhubungan dengan pertumbuhan sikap, emosi, sosial dan
nilai-nilai diri siswa. Bidang ini berhubungan dengan konsep diri siswa,
pertumbuhan pribadi dan perkembangan emosional siswa.
Hasil belajar bidang psikomotor
Hasil belajar bidang psikomotor tampak dalam bentuk keterampilan dan
kemampuan bertindak individu. (Hasnidar, 2007 : 31)
Dari uraian dapat disimpulkan bahwa hasil belajar adalah hasil yang
diperoleh setelah melalui proses belajar dalam waktu tertentu yang dapat terdiri
dari tiga aspek yaitu kognitif, afektif dan psikomotorik.
B. KERANGKA PIKIR
Pembelajaran hendaknya diarahkan pada pemahaman konsep yang lebih
bermakna, yaitu yang didukung dengan adanya penggunaan metode pembelajaran
yang tepat yang beriringan dan peralatan yang menunjang pembelajaran yang
beriringan dengan proses pembelajaran di kelas.
Fisika dipandang sebagai suatu proses dan sekaligus produk sehingga
dalam pembelajarannya harus mempertimbangkan pendekatan pembelajaran yang
efektif dan efesien yaitu salah satunya melalui kegiatan praktik atau demonstrasi.
Hal ini dikarenakan melalui kegiatan demonstrasi, siswa tidak hanya menerka-
nerka mengenai materi yang dijelaskan oleh guru tapi juga dapat melihat secara
langsung mengenai penggunaan suatu alat dan mengetahui hubungan antara suatu
variabel dengan variabel lainnya.
Kegiatan praktikum atau demonstrasi dalam pembelajaran fisika
mempunyai peran motivasi dalam belajar, memberi kesempatan pada siswa untuk
mengembangkan sejumlah keterampilan, dan meningkatkan kualitas belajar siswa.
Berdasarkan hal tersebut, penggunaan KIT IPA melalui metode
demonstrasi akan membuat hasil belajar fisika siswa SMA Negeri 1 Segeri
mencapai nilai Kriteria Ketuntasan Minimal (KKM).

Alur Kerangka Pikir








C. HIPOTESIS PENELITIAN
Hasil belajar Fisika yaitu nilai rata-rata yang dicapai siswa kelas X SMA
Negeri 1 Segeri setelah diajar dengan metode demonstrasi dengan menggunakan
kit IPA lebih besar dari nilai Kriteria Ketuntasan Minimal (KKM) yang telah
ditetapkan.



Proses belajar mengajar
Guru
Siswa
Metode demonstrasi
Penggunaan KIT IPA
Hasil belajar fisika
BAB III
METODE PENELITIAN
A. Jenis dan Lokasi Penelitian
1. Jenis Penelitian
Jenis penelitian yang dilakukan yaitu penelitian pra-eksperimen
2. Lokasi Penelitian
Lokasi penelitian ini bertempat di SMA Negeri 1 Segeri
B. Variabel Dan Desain Penelitian
1. Variabel Penelitian
Variabel penelitian ini terdiri dari dua variabel yaitu:
a. Variabel bebas yaitu pembelajaran dengan metode demonstrasi yang
menggunakan KIT IPA.
b. Variabel terikat yaitu hasil belajar fisika.
2. Desain Penelitian
Disain penelitian yang digunakan adalah One-Shot Study Design.
Dalam disain ini subyek ditempatkan pada satu kelas eksperimen secara
random (acak) untuk diberi perlakuan yang kemudian diberi post-test.
Dengan gambar disain penelitian sebagai berikut (Arikunto, Suharsimi.
2006 : 85 )

X O
Keterangan:
X : Perlakuan (pembelajaran dengan metode demonstrasi yang
menggunakan KIT IPA).
O : test yang dilakukan setelah diberi perlakuan
C. Definisi Operasional Variabel
1. Metode demonstrasi yang menggunakan KIT IPA adalah pembelajaran
yang dilakukan dengan memperagakan penggunaan alat-alat IPA sesuai
dengan materi yang diajarkan yang dilaksanakan oleh guru.
2. Hasil belajar siswa adalah tingkat keberhasilan siswa menguasai bahan
pelajaran fisika setelah memperoleh pengalaman belajar fisika dengan
metode demonstrasi yang menggunakan KIT IPA yang diukur dengan
menggunakan tes hasil belajar fisika yang dinyatakan dengan skor hasil
belajar.
D. Populasi dan Sampel Penelitian
1. Populasi
Populasi dalam penelitian ini yaitu seluruh siswa Kelas X SMA
Negeri 1 Segeri pada tahun ajaran 2010/2011 dengan jumlah siswa
secara keseluruhan sekitar 196 orang yang terdiri dari 6 kelas.
2. Sampel
Sampel dalam penelitian ini adalah akan dipilih salah satu kelas X
SMA Negeri 1 Segeri. Sampel dipilih secara langsung yang tiap kelas
memiliki sekitar 32 orang siswa.



E. Teknik Pengumpulan Data
1. Instrumen penelitian
Untuk mendapatkan data mengenai variabel yang diteliti dalam
penelitian ini digunakan instrumen, berupa tes hasil belajar siswa dalam
bentuk essay yang telah di validitas dan di uji coba untuk mengetahui
reliabilitas tes tersebut.
Untuk mengetahui konsistensi instrumen yang digunakan, maka
harus ditentukan reliabilitasnya. Adapun kriteria tingkat reliabilitas
sebagai berikut :
Table 3.1 Kriteria tingkat reliabilitas item
Rentang Nilai Kategori
> 0,800 - 1,000 Cukup Tinggi
>0,600-0,800 Tinggi
>0,400-0,600 Sedang
>0,200-0,400 Rendah
0,000-0,200 Sangat Rendah
(Arikunto, Suharsimi, 2003: 100)

Uji coba instrumen tes hasil belajar fisika dilaksanakan dengan
jumlah responden 29 orang pada tanggal 24 Mei 2011 di SMA Negeri 1
Segeri pada kelas X
B
. Pengujian Reabilitas dilakukan dengan persamaan
koefisien reabiabilitas Alpha Cronbach dengan rumus sebagai berikut:


(Nurgiantoro, Burhan, 2010 : 171)
Keterangan:
= Jumlah butir soal

= Jumlah varian butir-butir


= Varian total (untuk seluruh butir tes)



Berdasarkan perhitungan, reliabilitas item instrumen hasil belajar
setelah diuji cobakan adalah 0,81 dan ini berarti bahwa item yang
digunakan berada pada kategori cukup tinggi (perhitungan selengkapnya
dapat dilihat pada lampiran ).
2. Lembar observasi atau pengamatan
Instrument ini digunakan untuk mendapatkan data hasil
kemampuan afektif dan psikomotorik siswa. Untuk aspek afektif
pengamatan dilakukan setiap pertemuan sedangkan untuk penilaian aspek
psikomotorik siswa dilakukan satu saat ujian psikomotorik. Format
penilaian untuk kemampuan afektif sama untuk setiap pertemuan.
3. Pelaksanaan penelitian
Pelaksanaan penelitian ini dibagi dua tahap, yaitu :
a. Tahap pertama
Tahapan ini merupakan tahap persiapan yang meliputi observasi
pada lokasi penelitian untuk mendapatkan sampel penelitian,
pembuatan RPP dan instrument penelitian.


b. Tahap kedua
Tahap ini merupakan pelaksanaan penelitian, sebelum diadakan
penelitian, terlebih dahulu dilakukan konsultasi dengan guru bidang
studi dan kepala sekolah SMA Negeri 1 Segeri mengenai pembelajaran
dengan menggunakan KIT IPA melalui metode demonstrasi dalam
proses belajar mengajar yang akan dilaksanakan. Waktu pengumpulan
data penelitian disesuaikan dengan jadwal kegiatan pelajaran fisika.
Hal ini dimaksudkan agar tidak mengganggu jalannya kegiatan belajar-
mengajar di sekolah tersebut.

F. Teknik Analisis Data
Setelah pengumpulan data, kemudian data yang ada dianalisis dengan
menggunakan teknik analisis deskriptif dan teknik analisis inferensial.
1. Teknik Analisis Deskriptif
Teknik analisis deskriptif digunakan untuk mendeskripsikan hasil belajar
fisika yang diperoleh setelah mengikuti materi pelajaran yang meliputi hasil
belajar kognitif, psikomotorik, dan afektif. Pada teknik analisis deskriptif hasil
belajar kognitif penyajian data berupa data hasil belajar, skor rata-rata, standar
deviasi, skor maksimal, skor minimal, daftar distribusi frekuensi kumulatif, dan
persentase ketuntasan belajar . Pada teknik analisis deskriptif hasil belajar
psikomotorik dan afektif penyajian data berupa grafik observasi skor rata-rata
psikomotorik dan afektif siswa. Pada grafik ditampilkan persamaan garis lurus
( dan koefisien korelasi .
Untuk mengetahui nilai yang diperoleh siswa, maka skor di konversi
dalam bentuk nilai menggunakan rumus sebagai berikut:

x 100
Keterangan:
N = nilai siswa
SP = skor hasil belajar siswa yang di peroleh
ST = skor total/ideal
Nilai standar ketuntasan belajar siswa kelas X pada mata pelajaran fisika
di SMA Negeri 1 Segeri adalah 67.
2. Teknik Analisis Inferensial
Teknik analisis inferensial digunakan untuk menguji hipotesis penelitian. Pada
teknik ini dilakukan pengujian normalitas dan pengujian hipotesis.
a. Uji Normalitas
Untuk keperluan pengujian hipotesis, maka terlebih dahulu dilakukan
pengujian dasar yaitu uji normalitas data . Uji nomalitas dimaksudkan untuk
mengetahui apakah data yang digunakan berdistribusi normal atau tidak.
Untuk pengujian tersebut digunakan rumus chi-kuadrat yang dirumuskan
sebagai berikut:

=

=
k
i
i
i
hitung
E
E E
1
2
0 2
) (
_

(Somantri, Ating dan Muhidin, Sambas Ali 2006: 193)
Keterangan:
2
hitung
_
= Nilai Chi-kuadrat hitung
E
o
= Frekuensi hasil pengamatan
E
i
= Frekuensi harapan
k = Banyaknya kelas
Kriteria pengujian:
Data berdistribusi normal bila
2
hitung
_
lebih kecil dari
2
tabel
_
dimana
2
tabel
_
diperoleh dari daftar
2
_
dengan dk = (k-3) pada taraf signifikan o = 0,05.

b. Pengujian hipotesis
Pengujian hipotesis dimaksudkan untuk menjawab hipotesis yang telah
diajukan pada awal penelitian. Gambaran hipotesis statistik pada penelitian ini
adalah:
H
0
: =


H
a
: >



(Somantri, Ating dan Muhidin, Sambas Ali 2006: 166)
Keterangan :
H
0
: Nilai rata-rata hasil belajar fisika siswa kelas X SMA Negeri 1
Segeri setelah diajar dengan metode demonstrasi yang
menggunakan Kit IPA pada pembelajaran fisika sama dengan 67
H
a :
Nilai rata-rata hasil belajar fisika siswa kelas X SMA Negeri 1
Segeri setelah diajar dengan metode demonstrasi yang
menggunakan Kit IPA pada pembelajaran fisika lebih besar dari 67
: Nilai rata-rata hasil belajar yang diperoleh dari sampel

: Nilai KKM yang telah ditetapkan yaitu 67


Berdasarkan bunyi hipotesis yang telah diajukan, maka jenis hipotesis
yang digunakan adalah uji pihak kanan dengan menggunakan uji z dengan
= 0,05. Penggambaran statistiknya adalah:


(Somantri, Ating dan Muhidin, Sambas Ali 2006: 166)
Dimana


Keterangan
= rata-rata nilai yang diperoleh dari hasil pengumpulan data

= Rata-rata nilai yang dihipotesiskan (nilai KKM)


= Standar deviasi dari distribusi sampel rata-rata


= Banyak sampel
Kriteria pengujian tolak H
0
jika z
hitung
>z
tabel
dan H
a diterima
jika z
hitung
> z
tabel

BAB IV
HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
A. Hasil Penelitian
1. Hasil Analisis Deskriptif
a. Hasil Belajar Kognitif
Berikut ini hasil analisis deskriptif hasil belajar fisika siswa kelas Xc SMA
Negeri 1 Segeri tahun ajaran 2010/2011 semester genap yang diajar dengan
metode demonstrasi yang menggunakan Kit IPA pada pembelajaran fisika.
Tabel 4.1. Data Hasil Belajar Fisika Siswa

No Nama Skor Nilai

No Nama Skor Nilai
1 A 62.5 69.4

14 N 80 88.9
2 B 65.5 72.8

15 O 76 84.4
3 C 81 90.0

16 P 65.5 72.8
4 D 65 72.2

17 Q 83 92.2
5 E 81 90.0

18 R 74 82.2
6 F 65 72.2

19 S 68.5 76.1
7 G 59 65.6

20 T 78 86.7
8 H 76 84.4

21 U 55.5 61.7
9 I 74 82.2

22 V 71.5 79.4
10 J 65.5 72.8

23 W 80 88.9
11 K 86 95.6

24 X 57.5 63.9
12 L 60 66.7

25 Y 77 85.6
13 M 82 91.1

26 Z 48 53.3


Jumlah total 1837 2041,1






Tabel 4.2 Statistik Skor Hasil Belajar Fisika
Rata-rata skor 70,54
Standar deviasi 10, 46
Skor tertinggi 86
Skor terendah 48
Rentang 38
Banyak kelas interval 6
Panjang kelas interval 7

Jika skor hasil belajar siswa kelas Xc SMA Negeri 1 Segeri dianalisis
dengan menggunakan persentase pada distribusi frekuensi maka dapat dibuat tabel
distribusi frekuensi kumulatif sebagai berikut :
Tabel 4.3 Distribusi Frekuensi Kumulatif Skor Hasil Belajar Fisika
Siswa Kelas Xc SMA Negeri 1 Segeri
No. Nilai f
f.relatif
(%)
Kumulatif kurang dari kumulatif sama atau lebih
kurang dari
f. kumulatif
(%)
sama atau
lebih
f. kumulatif
(%)
1
46 - 52 1
3.85 1 3.85 26 100.00
2
53 - 59 3
11.54 4 15.38 25 96.15
3
60 -66 7
26.92 11 42.31 22 84.62
4
67 - 73 2
7.69 13 50.00 15 57.69
5
74 - 80 8
30.77 21 80.77 13 50.00
6
81 - 87 5
19.23 26 100.00 7 26.92
Jumlah 26 100.00

Tabel distribusi persentase kumulatif hasil belajar fisika siswa tersebut
menunjukkan bahwa skor rata-rata siswa yaitu 70,54 berada pada interval 67 - 73
sebagai titik taksiran sedang. Dimana ada 42,31 % siswa yang berada pada
taksiran rendah dan ada 50,00 % siswa yang berada pada taksiran tinggi,
sedangkan kelas modus berada pada interval 74 80 yang merupakan interval
80.77 %
19.23 %
Tuntas
Tidak Tuntas
skor yang paling sering muncul atau diperoleh oleh sampel. Jika skor rata-rata di
konversi kedalam bentuk nilai maka diperoleh nilai rata-rata sebesar 78,38 yang
menunjukkan nilai yang lebih besar dari nilai KKM yang telah ditetapkan yaitu
67.
b. Hasil Belajar Psikomotorik
Hasil belajar psikomotorik yaitu berupa keterampilan yang dilakukan
siswa selama melakukan kegiatan praktikum. Pengamatan keterampilan ini
dilakukan 1 kali yaitu saat ujian praktikum (data terlampir lampiran D.2
pengamatan psikomotorik pada hal. 105). Dibawah ini disajikan grafik berupa
hasil pengamatan psikomotorik siswa selama praktikum:
Grafik 4.1 Grafik Peresentase Hasil Observasi Nilai Psikomotorik Siswa



Berdasarkan grafik tersebut terlihat bahwa terdapat 80,77 % siswa yang
memperoleh nilai 67 keatas yang berarti berada pada kategori tuntas, terdapat 21
orang yang memperoleh nilai tuntas dari 26 orang siswa. Sedangkan terdapat
19,23 % siswa yang memperoleh nilai dibawah stangart KKM yang berada pada
kategori tidak tuntas, dalam hal ini terdapa 5 orang siswa yang memperoleh nilai
dibawah 67 dari seluruh jumlah siswa yaitu 26 orang.nilai
c. Hasil Belajar Afektif
Hasil belajar afektif adalah hasil pengamatan terhadap sikap siswa yang
dilakukan selama proses pembelajaran. Pengamatan hasil belajar afektif dilakukan
sebanyak lima kali (data terlampir pada lampiran D.3 pengamatan afektif hal.111).
Dibawah ini disajikan grafik berupa hasil pengamatan afektif siswa:
Grafik 4.2 Grafik Hasil Observasi Skor Rata-Rata Afektif Siswa


Berdasarkan grafik tersebut terlihat bahwa skor rata-rata afektif siswa
kelas Xc SMA Negeri 1 Segeri setiap pertemuan mengalami perubahan secara
linear. Dari grafik diperoleh nilai koefisien korelasi sebesar r = +0,9793. Tanda
plus (adanya hubungan positif) menunjukkan bahwa skor rata-rata afektif siswa
18.3
18.7
19.1
19.4
20.1
y = 0.43x + 17.83
R = 0.9793
18
18.5
19
19.5
20
20.5
0 1 2 3 4 5 6
S
k
o
r

R
a
t
a
-
r
a
t
a

Pertemuan Ke-
mengalami peningkatan setiap pertemuan. Sedangkan 0,9793 menunjukkan
adanya hubungan yang kuat antara skor rata-rata afektif siswa setiap pertemuan.
2. Hasil Analisis Inferensial
a. Pengujian normalitas
Syarat yang harus diperoleh sebelum melakukan pengujian terhadap hipotesis
adalah melakukan pengujian normalitas. Pengujian ini, dilakukan dengan
menggunakan rumus chi-kuadrat. Setelah dilakukan perhitungan diperoleh
nilai 3,9166
2
=
hitung
_ dengan nilai 8147 , 7
2
=
tabel
_ , dk = 3 dan taraf
signifikansi 05 , 0 = o . Sehingga dapat disimpulkan bahwa data yang
digunakan pada post test berasal dari populasi yang berdistribusi normal
karena .
2 2
tabel hitung
_ _ <

Untuk lebih jelasnya dapat dilihat pada Lampiran
E.2. Hal 120.
b. Pengujian hipotesis
Dilakukan penguji proporsi dengan uji z dengan = 0,05. Hasil analisis
diperoleh z
hitung
= 5,55 sedangkan nilai z dari daftar normal baku yakni 1,64.
Hal ini menunjukkan bahwa z
hitung
> z
tabel
. Berdasarkan kriteria pengujian tolak
H
0
jika z
hitung
>z
tabel
dan tolak H
a
jika z
hitung
< z
tabel,
maka H
a
diterima dan H
0

ditolak. Ini berarti nilai rata-rata hasil belajar fisika siswa kelas Xc SMA
Negeri 1 Segeri lebih besar dari standar KKM setelah diajar dengan metode
demonstrasi yang menggunakan Kit IPA. Untuk lebih jelasnya dapat dilihat
pada Lampiran E.2. Hal. 123.


B. Pembahasan
Berdasarkan data-data yang ada pada analisis deskriptif yang merupakan
fakta empiris, diperoleh informasi yang menunjukkan bahwa metode demonstrasi
yang menggunakan Kit IPA dapat meningkatkan hasil belajar fisika siswa
sehingga standar KKM dapat tercapai. Hal ini terjadi karena dalam pembelajaran
tersebut siswa lebih aktif sehingga membantu untuk memahami materi yang
sedang dipelajari dan dapat memperkuat ingatan siswa dalam waktu yang lama
daripada siswa yang hanya mendengarkan dan menghayalkan apa yang sedang
dipelajari.
Analisis deskriptif untuk hasil belajar kognitif menunjukkan pencapaian
yang bagus yang berada pada kategori tinggi diajar dengan metode demonstrasi
yang menggunakan Kit IPA. Untuk hasil belajar kognitif diperoleh nilai rata-rata
sebesar 78,38, dalam hal ini pencapaian tersebut lebih besar dari nilai standar
KKM yang telah ditetapkan yaitu 67. Hal ini disebabkan karena dengan
pembelajaran menggunakan metode demonstrasi yang menggunakan Kit IPA,
siswa lebih aktif sehingga membantu untuk memahami materi yang sedang
dipelajari dan dapat memperkuat ingatan siswa dalam waktu yang lama daripada
siswa yang hanya mendengarkan dan menghayalkan apa yang sedang dipelajari.
Analisis grafik untuk hasil belajar psikomotorik terdapat 80,77 % siswa
yang berada dalam kategori tuntan yang berarti bahwa nilai yang diperoleh
berhasil mencapai nilai standar KKM dan terdapat 19,23 % siswa yang berada
dam kategori tidak tuntas yang perolehan nilainya berada dibawah dari nilai
standar KKM yang telah ditetapkan.
Analisis grafik untuk hasil belajar afektif menunjukkan bahwa skor rata-
rata afektif siswa mengalami peningkatan setiap pertemuan. Peningkatan ini
disebabkan karena melaui metode demonstrasi yang menggunakan Kit IPA, siswa
menjadi lebih aktif dalam melakukan kegiatan pembelajaran dan menumbuhkan
serta mengembangkan sikap ilmiah. Dengan demikian, hasil belajar yang meliputi
pengetahuan, keterampilan, dan sikap sebagai tuntutan kompetensi dalam
kurikulum yang dikembangkan saat ini akan tercapai.
Pada pengujian hipotesis diperoleh besarnya z
hitung
adalah 5,55 dengan
menggunakan taraf = 0,05 sehingga diperoleh besarnya z
tabel
sebesar = 1,64. Hal
ini menunjukkan bahwa z
hitung
> z
tabel
. Berdasarkan kriteria pengujian tolak H
a
jika
z
hitung
> z
tabel
dan tolak H
0
untuk nilai lainnya. Berdasarkan hasil pengujian yang
diperoleh, maka H
a
diterima dan H
0
ditolak. Hal ini menunjukkan nilai rata-rata
hasil belajar fisika siswa kelas Xc SMA Negeri 1 Segeri mencapai nilai standar
KKM setelah diajar dengan metode demonstrasi yang menggunakan Kit IPA.
Fakta empiris yang telah dikemukakan tersebut sesuai dengan pernyataan
yang dikemukakan oleh I Komang Nuriana (2007) berdasarkan hasil penelitiannya
menyimpulkan bahwa penggunaan Kit IPA sebagai alat bantu pembelajan
memberikan peranan penting dalam meningkatkan hasil belajar fisika siswa.

BAB V
SIMPULAN DAN SARAN
A. Simpulan
Berdasarkan hasil analisis data dan pembahasan hasil penelitian, dapat
disimpulkan bahwa :
1. Hasil belajar fisika kelas Xc SMA Negeri 1 Segeri setelah di ajar dengan
metode demonstrasi yang menggunakan Kit IPA berada dalam kategori
tinggi.
2. Hasil belajar fisika siswa kelas Xc SMA Negeri 1 Segeri telah memenuhi
standar KKM yang telah ditetapkan oleh sekolah setelah diajar dengan
metode demonstrasi yang menggunakan Kit IPA.

B. Saran
Sehubungan dengan kesimpulan hasil penelitian di atas, maka saran yang dapat
dikemukakan oleh peneliti adalah:
1. Metode demonstrasi dengan menggunakan Kit IPA dapat diterapkan pada
mata pelajaran Fisika agar hasil belajar fisika siswa memenuhi standar
KKM.
2. Diharapkan kepada peneliti selanjutnya agar dapat mengembangkan dan
memperkuat hasil penelitian ini dengan mengadakan penelitian selanjutnya.

DAFTAR PUSTAKA

Anonim. 2009. http://definisi-pengertian.blogspot.com/2009/11/pengertian-
belajar.html. Diakses pada tanggal 15 februari 2011.
Anonim. 2009. http://kafeilmu.co.cc/tema/pengertian-kit.html. Diakses pada
tanggal 15 februari 2011.
Anonim. 2010. http://ilmusains.blogspot.com/2010/4/ilmu_sains.html. Diakses
pada tanggal 15 februari 2011.
Anonim. 2010. http://penggunaankit.blogspot/2010. Diakses pada tanggal 15
februari 2011.
Anonim. 2011. http://id.wikipedia.org/wiki/ilmu_alam. diakses pada tanggal 15
februari 2011.
Arikunto, Suharsimi. 2006. Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Praktek.
Bineka Cipta. Jakarta.
Arikunto, Suharsimi. 2008. Dasar Dasar Evaluasi Pendidikan (Edisi Revisi).
Bumi Aksara. Jakarta.
Aris, Muhammad. 2008. Upaya Menigkatkan Hasil Belajar Fisika Melalui
Metode Eksperimen pada Siswa Kelas X
A
SMA Cokroaminoto Tamalanrea
Makassar. Skripsi, Jurusan Fisika FMIPA UNM. Makassar.
Haling, Abdul. 2007. Belajar dan Pembelajaran. Badan Penerbit Universitas
Negeri Makassar, Makassar.
Haling, Abdul. 2008. Pengantar Pendidikan. Jurusan Kurikulum dan Teknologi
Pendidikan FIP UNM. Makassar.
Hasnidar. 2007. Peranan Modul Berbasis Lingkungan Terhadap Hasil Belajar
Fisika Siawa Kelas X SMU 1 Mattiro Bulu Kabupaten Pinrang. Skripsi,
Jurusan Fisika FMIPA UNM. Makassar.
Junaidi. 2010. http://www.junaidi.co.cc/2010/03/pengertian-sains-teknologi-dan-
seni.html. Diakses pada tanggal 15 februari.
Martawijaya,M.Agus dan Natsir,M. 2006. Model-model Pembelajaran IPA.
Badan Penerbit Universitas Negeri Makassar. Makassar.
Nurgiyantoro, Burhan. 2010. Penilaian Pembelajaran Bahasa Berbasis
Kompetensi. BPFE. Yogyakarta.
Rizky, Dek. 2009. http://kuliahpsikologi.dekrizky.com/pengertian-belajar.
Diakses pada tanggal 15 februari 2011.
Rusli, M. Aqil. 2007. Penerapan Metode Eksperimen dengan Menggunakan LKS
untuk Meningkatkan Kemampuan Analisis Siswa SLTP Kelas II pada
Mata Pelajaran Sains Fisika. Skripsi, Jurusan Fisika FMIPA UNM.
Makassar.
Sahabuddin, 2007. Mengajar dan Belajar. Badan Penerbit Universitas Negeri
Makassar. Makassar.
Somantri, Ating dan Ali Muhidin Sambas. 2006. Aplikasi Statistika dalam
Penelitian.Pustaka Setia. Bandung
Sudjana. 2008. Metode Statistik. PT. Transito. Bandung.
Tiro, A. 2000. Dasar Dasar Statistika, State University of Makassar Press.
Makassar.










A.1 RENCANA PELAKSANAAN PEMBELAJARAN
A.2 LEMBAR KERJA SISWA

LAMPIRAN A
(PERANGKAT PEMBELAJARAN)
LAMPIRAN A.1 RENCANAPELAKSANAAN PEMBELAJARAN (RPP)

RENCANA PELAKSANAAN PEMBELAJARAN (RPP)
Sekolah : SMA Negeri 1 Segeri
Mata Pelajaran : Fisika
Kelas/semester : X/2
Alokasi Waktu : 2 x 45 menit
Pertemuan : 1

Standar Kompetensi :
5. Menerapkan konsep kelistrikan dalam berbagai penyelesaian masalah dan
berbagai produk teknologi
Kompetensi Dasar :
5.1. Memformulasikan besaran-besaran listrik rangkaian tertutup sederhana
(satu loop)
Indikator :
Menyelidiki hubungan antara kuat arus listrik dengan tegangan dalam rangkaian
sederhana.

A. Tujuan Pembelajaran
Siswa mampu:
1. Menjelaskan pengertian arus listrik
2. Menjelaskan hubungan antara arus listrik dengan muatan listrik dalam
suatu rangkaian tertutup
3. Menjelaskan hubungan antara arus listrik dengan banyaknya elektron
yang mengalir pada suatu rangkaian
4. Menjelaskan pengertian tegangan
5. Menjelaskan hubungan antara kuat arus dengan beda potensial
6. Menformulasikan hukum Ohm

B. Materi Pokok : Listrik Dinamis (Bahan ajar terlampir)
Arus listrik
Beda potensial
Hukum Ohm

C. Model Pembelajaran : Pembelajaran langsung

D. Metode Pembelajaran : Demonstrasi, ceramah dan diskusi informasi

E. Langkah-langkah Pembelajaran
Jenis
Kegiatan
Fase Kegiatan Guru Kegiatan Siswa Waktu Ket




Awal
I
(Menyampaikan
tujuan
pembelajaran dan
memotivasi siswa).
1. Memberi acuan/ gambaran kepada siswa dengan
menuliskan tujuan pembelajaran.
2. Memberi motivasi siswa dengan mengajukan
sebuah pertanyaan Dalam kehidupan sehari-
hari dikenal istilah arus listrik, siapa yang bisa
menjelaskan pengertian arus listrik?
1. Menulis tujuan pembelajaran
yang disampaikan oleh guru
dan mendengar penjelasan
guru.
2. Menjawab pertanyaan yang
diajukan oleh guru.
10


II
(Pemahaman/peres
1. Memberi penjelasan dan gambaran kegiatan
yang akan dilaksanakan pada pertemuan ini
Memperhatikan penjelasan dari
guru dan bertanya jika ada yang
10




Inti
entase materi yang
akan diajarkan ).
serta pelaksanaannya.
2. Menjelaskan materi yang akan dipelajari
mengenai pengertian arus listrik dan beda
potensial
3. Memberi penjelasan mengenai hubungan
antaraarus listrik dengan muatan listrik serta
hubungan antara arus listrik dan banyaknya
electron yang mengalir
4. Menjelaskan mengenai hukum Ohm
kurang dipahami serta mencatat
poin-poin yang dianggap penting
III
(Memberi latihan
terbimbing ).
1. Membagi siswa kedalam beberapa kelompok
yang terdiri dari 5-6 orang.
2. Memberikan arahan pada siswa agar bergabung
dengan kelompok masing-masing
3. Membagi LKS kepada tiap-tiap kelompok.
4. Melakukan demonstrasi mengenai materi
hubungan antara kuat arus dan tegangan.
5. Mengecek kegiatan tiap kelompok .
6. Membimbing kelompok siswa yang mengalami
kesulitan.
1. Duduk berdasarkan kelompok
masing-masing dan mengatur
posisi masing-masing
kelompok.
2. Perwakilan tiap-tiap kelompok
mengambil LKS dari guru.
3. Memperhatikan guru saat
kegiatan demonstrasi
4. Meminta bantuan guru jika
mengalami kesulitan.
30
IV
(Mengecek
pemahaman dan
memberi umpan
balik).
1. Memberi kesempatan pada salah satu
kelompok mempresentasekan hasil yang
diperoleh dari kegiatan demonstrasi.
2. Memberi pertanyaan secara lisan kepada siswa
untuk mengecek sejauh mana pemahaman para
siswa .
3. Memberi kesempatan kepada siswa untuk
1. Perwakilan kelompok
mempresentasikan hasil
diskusi kelompok
masingmasing.
2. Menjawab pertanyaan yang
diberikan oleh guru.
3. Menjawab pertanyaan dari
20
menanyakan hal-hal yang masih belum
dimengerti yang berhubungan dengan materi
pembelajaran saat itu.
4. Memberi kesempatan kepada siswa lain untuk
menjawab pertanyaan dari temannya, jika tidak
ada maka guru yang akan menjawab pertanyaan
tersebut.
teman sendiri yang masih
kurang mengerti.

Akhir
V
(Evaluasi)
1. Memberi soal latihan kepada siswa serta
membimbing siswa dalam menyelesaikannya.
2. Meminta beberapa siswa menyimpulkan yang
telah dipelajari.
1. Mengerjakan soal latihan.
2. Menyimpulkan materi yang
telah dipelajari
20

F. Sumber/alat dan bahan ajar
- Sumber belajar:
- Setya Nurachmandani, fisika 1 untuk SMA/MA kelas X, Jakarta : Pusat Perbukuan
- Internet
- Buku-buku yang relevan
- Alat dan bahan : Peralatan IPA yang digunakan saat demonstrasi (lihat pada LKS), Papan tulis,Penghapus, Spidol, LKS
(terlampir)
G. Penilaian
Prosedur Penilaian :
Penilaian Kognitif
Jenis : Tes tertulis
Bentuk : Essay
Penilaian Afektif
Bentuk : Lembar pengamatan sikap siswa (sama setiap pertemuan)
Instrumen :
Aspek Kognitif
1. Jelaskan pengertian arus listrik?
2. Jelaskan hubungan antara arus listrik dengan muatan listrik dalam suatu
rangkaian tertutup?
3. Jelaskan hubungan antara arus listrik dengan banyaknya elektron yang
mengalir pada suatu rangkaian?
4. Jelaskan pengertian tegangan?
5. Jelaskan hubungan antara kuat arus dengan beda potensial?
6. Seutas kawat yang memiliki beda potensial sebesar 0,65 volt yang dialiri
muatan 300 mC dalam satu menit. Tentukan besar hambatannya?

Jawaban dan Rubrik
1. Arus listrik dapat didefinisikan sebagai aliran muatan positif dari potensial
tinggi ke potensial rendah. Arus listrik terjadi apabila ada perbedaan potensial.
2. Muatan yang mengalir pada suatu penghantar bukanlah muatan listrik positif,
melainkan muatan listrik negatif yang disebut elektron.
3. Banyaknya elektron yang mengalir dalam suatu penghantar sama dengan
banyaknya muatan listrik positif yang mengalir, hanya arahnya yang
berlawanan
4. Potensial listrik adalah banyaknya muatan yang terdapat dalam suatu benda.
5. Ketika sumber tegangan ditambah , maka jumlah muatan yang dihantarkan
makin besar sehingga arusnya meningkat.

Skor 2
Skor 4
Skor 4
Skor 2
Skor 4
6. Dik :
V = 0,65 volt
q = 300 mC = 300 10
-3
C
t = 1 60 s = 60 s
dit : R =.?
Peny:



)


Aspek Afektif : Lembar Pengamatan Sikap
Instrumen Penilaian Afektif
NO NAMA
SKOR ASPEK YANG DINILAI
1 2 3 4 5 6 7 8
1.
2.
3.



Aspek yang dinilai
1. Bekerjasama dalam Kelompok
Kriteria Penilaian SKOR
Bekerja sama 3
Kurang bekerja sama 2
Tidak bekerja sama 1

2. Keaktifan dalam Pembelajaran
Kriteria Penilaian SKOR
Aktif dalam pembelajaran 3
Kurang aktif dalam pembelajaran 2
Tidak aktif dalam pembelajaran 1
Skor 2
Skor 6

3. Menghargai Pendapat Orang Lain
Kriteria Penilaian SKOR
Menghargai 3
Kurang menghargai 2
Tidak menghargai 1



4. Tidak Mengganggu Proses Pembelajaran
Kriteria Penilaian SKOR
Tidak mengganggu 3
Agak mengganggu 2
Mengganggu 1

5. Rajin bertanya/Konsultasi
Kriteria Penilaian SKOR
Rajin bertanya/konsultasi 3
Kurang rajin bertanya/konsultasi 2
Tidak rajin bertanya/konsultasi 1

6. Disiplin
Kriteria Penilaian SKOR
Disiplin 3
Kurang disiplin 2
Tidak disiplin 1

7. Bersikap sopan
Kriteria Penilaian SKOR
Bersikap sopan 3
Kurang sopan 2
Tidak sopan 1

8. Kerapian dalam berpakaian
Kriteria Penilaian SKOR
Rapi dalam berpakaian 3
Kurang rapi dalam berpakaian 2
Tidak rapi dalam berpakaian 1

Nilai siswa untuk aspek kognitif ataupun afektif ditentukan dengan cara:





Bahan Ajar : Listrik Dinamis

A. Arus Listrik
Pada dasarnya rangkaian listrik dibedakan menjadi dua, yaitu rangkaian
listrik terbuka dan rangkaian listrik tertutup. Rangkaian listrik terbuka adalah
suatu rangkaian yang belum dihubungkan dengan sumber tegangan, sedangkan
rangkaian listrik tertutup adalah suatu rangkaian yang sudah dihubungkan dengan
sumber tegangan.

Arus listrik dapat didefinisikan sebagai aliran muatan positif dari potensial
tinggi ke potensial rendah. Arus listrik terjadi apabila ada perbedaan potensial.
Pada perkembangan selanjutnya, setelah elektron ditemukan oleh ilmuwan
fisika J.J. Thompson (18561940), ternyata muatan yang mengalir pada suatu
penghantar bukanlah muatan listrik positif, melainkan muatan listrik negatif yang
disebut elektron.
Arah aliran elektron dari potensial rendah ke potensial tinggi (berlawanan
dengan arah aliran muatan positif). Namun hal ini tidak menjadikan masalah,
karena banyaknya elektron yang mengalir dalam suatu penghantar sama dengan
banyaknya muatan listrik positif yang mengalir, hanya arahnya yang berlawanan.
Jadi, arus listrik tetap didefinisikan berdasarkan aliran muatan positif yang disebut
arus konvensional
Kuat arus listrik merupakan kecepatan aliran muatan listrik. secara
matematis dapat ditulis sebagai berikut.




B. Beda Potensial
Potensial listrik adalah banyaknya muatan yang terdapat dalam suatu
benda. Suatu benda dikatakan mempunyai potensial listrik lebih tinggi daripada



benda lain, jika benda tersebut memiliki muatan positif lebih banyak daripada
muatan positif benda lain.
Secara matematis beda potensial dapat dituliskan sebagai berikut.




Saat mengukur beda potensial listrik, voltmeter harus dipasang secara
paralel dengan benda yang diukur beda potensialnya.

C. Hukum Ohm
Orang pertama yang menyelidiki hubungan antara kuat arus listrik dengan
beda potensial pada suatu penghantar adalah Georg Simon Ohm, ahli fisika dari
Jerman.Ohm berhasil menemukan hubungan secara matematis antara kuat arus
listrik dan beda potensial, yang kemudian dikenal sebagai Hukum Ohm.







RENCANA PELAKSANAAN PEMBELAJARAN (RPP)
Sekolah : SMA Negeri 1 Segeri
Mata Pelajaran : Fisika
Kelas/semester : X/2
Alokasi Waktu : 2 x 45 menit
Pertemuan : 2

Standar Kompetensi :
5. Menerapkan konsep kelistrikan dalam berbagai penyelesaian masalah dan
berbagai produk teknologi
Kompetensi Dasar :
5.1 Memformulasikan besaran-besaran listrik rangkaian tertutup sederhana (satu
loop)
Indikator :
Menyelidiki faktor-faktor yang mempengaruhi nilai hambatan suatu kawat
penghantar

A. Tujuan Pembelajaran
Siswa mampu:
1. Menjelaskan pengertian hambatan listrik
2. Menyebutkan jenis-jenis hambatan listrik
3. Menjelaskan cara mengukur hambatan
4. Menyelidiki faktor-faktor yang mempengaruhi nilai hambatan suatu kawat
penghantar

B. Materi Pokok : Listrik Dinamis (Bahan ajar terlampir)
Hambatan listrik
Jenis-jenis hambatan listrik
Cara mengukur hambatan listrik
Faktor-faktor yang mempengaruhi hambatan listrik
C. Model Pembelajaran : Pembelajaran Langsung

D. Metode Pembelajaran : Demonstrasi, ceramah dan diskusi informasi


E. Langkah-langkah Pembelajaran
Jenis
Kegiatan
Fase Kegiatan Guru Kegiatan Siswa Waktu Ket




Awal
I
(Menyampaikan
tujuan
pembelajaran dan
memotivasi
siswa).
1. Memberi acuan/ gambaran kepada siswa dengan
menuliskan tujuan pembelajaran.
2. Memberi motivasi siswa dengan mengajukan
sebuah pertanyaan jika terdapat selang air yang
sedang dialiri air kemudian tersembat, yang mana
aliran air yang lebih deras jika disumbar oleh
tongkat kayu kecil dan pendek dindingkan
tongkat kayu yang besar dan panjang?
1. Menulis tujuan pembelajaran
yang disampaikan oleh guru
dan mendengar penjelasan
guru.
2. Menjawab pertanyaan yang
diajukan oleh guru.
10






II
(Pemahaman/pere
sentase materi
yang akan
diajarkan ).
1. Memberi penjelasan dan gambaran kegiatan yang
akan dilaksanakan pada pertemuan ini serta
pelaksanaannya.
2. Memberi penjelasan mengenai hambatan
3. Menjelaskan materi tentang jenis-jenis hambatan
listrik
4. Menjelaskan faktor-faktor yang mempengaruhi
arus listrik
Memperhatikan penjelasan dari
guru dan bertanya jika ada yang
kurang dipahami serta mencatat
poin-poin yang dianggap penting
10
Inti III
(Memberi latihan
terbimbing ).
1. Membagi LKS kepada tiap-tiap kelompok.
2. Melakukan demonstrasi mengenai faktor-faktor
yang mempengaruhi nilai hambatan listrik
3. Mengecek kegiatan tiap kelompok .
4. Membimbing kelompok siswa yang mengalami
kesulitan.
1. Perwakilan tiap-tiap kelompok
mengambil LKS dari guru.
2. Memperhatikan guru saat
kegiatan demonstrasi
3. Meminta bantuan guru jika
mengalami kesulitan.
30
IV
(Mengecek
pemahaman dan
memberi umpan
balik).
1. Memberi kesempatan pada salah satu kelompok
mempresentasekan hasil yang diperoleh dari
kegiatan demonstrasi.
2. Memberi pertanyaan secara lisan kepada siswa
untuk mengecek sejauh mana pemahaman para
siswa .
3. Memberi kesempatan kepada siswa untuk
menanyakan hal-hal yang masih belum
dimengerti yang berhubungan dengan materi
pembelajaran saat itu.
4. Memberi kesempatan kepada siswa lain untuk
menjawab pertanyaan dari temannya, jika tidak
ada maka guru yang akan menjawab pertanyaan
tersebut.
1. Perwakilan kelompok
mempresentasikan hasil diskusi
kelompok masingmasing.
2. Menjawab pertanyaan yang
diberikan oleh guru.
3. Menjawab pertanyaan dari
teman sendiri yang masih
kurang mengerti.
20

Akhir
V
(Evaluasi)
1. Memberi soal latihan kepada siswa serta
membimbing siswa dalam menyelesaikannya.
2. Meminta beberapa siswa menyimpulkan yang
telah dipelajari.
1. Mengerjakan soal latihan.
2. Menyimpulkan materi yang
telah dipelajari
20
F. Sumber/alat dan bahan ajar
- Sumber belajar:
- Setya Nurachmandani, fisika 1 untuk SMA/MA kelas X, Jakarta :
Pusat Perbukuan
- Internet
- Buku-buku yang relevan
- Alat dan bahan : Peralatan IPA yang digunakan saat demonstrasi (lihat
pada LKS), Papan tulis,Penghapus, Spidol, LKS (terlampir)

G. Penilaian
Prosedur Penilaian :
Penilaian Kognitif
Jenis : Tes tertulis
Bentuk : Essay
Penilaian Afektif
Bentuk : Lembar pengamatan sikap siswa (sama setiap pertemuan)
Instrumen :
Aspek Kognitif
1. Jelaskan pengertian hambatan listrik?
2. Sebutkan jenis-jenis hambatan listrik?
3. Jelaskan cara mengukur hambatan?
4. Dua penghantar silinder terbuat dari bahan sama, memiliki volume sama tetapi
penghantar yang satu tiga kali panjangnya dari penghantar lainnya. Jika
penghantar yang lebih panjang memiliki hambatan 1,8 , berapakah
hambatan penghantar yang lebih pendek?
Jawaban dan Rubrik
1. Hambatan listrik dapat didefinisikan sebagai hasil bagi beda potensial
antara ujung-ujung penghantar dengan kuat arus yang mengalir pada
penghantar tersebut.
2. Resistor Tetap dan Resistor variabel
Skor 2
Skor 2
3. Mengukur hambatan
- Secara langsung
Untuk mengukur hambatan dengan menggunakan multimeter,
terlebih dahulu kita putar sakelar pilih pada multimeter ke arah yang
bertanda R. Dengan demikian, multimeter telah berfungsi sebagai
ohmmeter (pengukur hambatan). Hubungkan ujung-ujung terminal
multimeter dengan ujung-ujung benda yang akan diukur hambatannya,
kemudian perhatikan skala yang ditunjukkan pada multimeter.
- Secara tidak langsung
Menggabungkan voltmeter dan amperemeter secara bersama-sama
pada rangkaian listrik yang diukur hambatannya. Voltmeter dipasang
secara paralel, sedangkan amperemeter dipasang seri dengan benda yang
akan diukur hambatannya. Baca skala yang ditunjukkan voltmeter maupun
amperemeter, kemudian hitung nilai hambatan R dengan persamaan
hukum ohm
4. Dik:


Dit:


Peny:




Skor 3
Skor 3
Skor 3
Skor 2
Skor 2
Skor 1
Skor 2
Aspek Afektif : Lembar Pengamatan Sikap
Instrumen Penilaian Afektif
NO NAMA
SKOR ASPEK YANG DINILAI
1 2 3 4 5 6 7 8
1.
2.
3.



Aspek yang dinilai
1. Bekerjasama dalam Kelompok
Kriteria Penilaian SKOR
Bekerja sama 3
Kurang bekerja sama 2
Tidak bekerja sama 1

2. Keaktifan dalam Pembelajaran
Kriteria Penilaian SKOR
Aktif dalam pembelajaran 3
Kurang aktif dalam pembelajaran 2
Tidak aktif dalam pembelajaran 1

3. Menghargai Pendapat Orang Lain
Kriteria Penilaian SKOR
Menghargai 3
Kurang menghargai 2
Tidak menghargai 1
4. Tidak Mengganggu Proses Pembelajaran
Kriteria Penilaian SKOR
Tidak mengganggu 3
Agak mengganggu 2
Mengganggu 1

5. Rajin bertanya/Konsultasi
Kriteria Penilaian SKOR
Rajin bertanya/konsultasi 3
Kurang rajin bertanya/konsultasi 2
Tidak rajin bertanya/konsultasi 1

6. Disiplin
Kriteria Penilaian SKOR
Disiplin 3
Kurang disiplin 2
Tidak disiplin 1

7. Bersikap sopan
Kriteria Penilaian SKOR
Bersikap sopan 3
Kurang sopan 2
Tidak sopan 1

8. Kerapian dalam berpakaian
Kriteria Penilaian SKOR
Rapi dalam berpakaian 3
Kurang rapi dalam berpakaian 2
Tidak rapi dalam berpakaian 1
Nilai siswa untuk aspek kognitif ataupun afektif ditentukan dengan cara:




Bahan ajar : Listrik Dinamis
Pengertian Hambatan
Berdasarkan persamaan hukum Ohm, hambatan listrik dapat didefinisikan
sebagai hasil bagi beda potensial antara ujung-ujung penghantar dengan kuat arus
yang mengalir pada penghantar tersebut.
Jenis-Jenis Hambatan
1. Resistor Tetap
Pada resistor tetap yang biasanya dibuat dari karbon atau kawat nikrom tipis,
nilai hambatannya disimbolkan dengan warna-warna yang melingkar pada kulit
luarnya
2. Resistor Variabel
Di pasaran, resistor variabel yang kita kenal ada dua, yaitu resistor
variabel tipe berputar dan bergeser (rheostat). Pada prinsipnya, cara kerja kedua
resistor ini adalah sama, yaitu memutar atau menggeser kontak luncur untuk
menambah atau mengurangi nilai hambatan sesuai kebutuhan.
Faktor-faktor yang Mempengaruhi Suatu Hambatan
a. Pengaruh suhu



b. Pengaruh hambatan jenis, panjang dan luas



Apabila kawat penghantar makin panjang dan hambatan jenisnya makin besar,
maka nilai hambatannya bertambah besar. Tetapi apabila luas penampang kawat
penghantar makin besar, ternyata nilai hambatannya makin kecil.

RENCANA PELAKSANAAN PEMBELAJARAN (RPP)
Sekolah : SMA Negeri 1 Segeri
Mata Pelajaran : Fisika
Kelas/semester : X/2
Alokasi Waktu : 2 x 45 menit
Pertemuan : 3

Standar Kompetensi :
5. Menerapkan konsep kelistrikan dalam berbagai penyelesaian masalah dan
berbagai produk teknologi
Kompetensi Dasar :
5.1 Memformulasikan besaran-besaran listrik rangkaian tertutup sederhana (satu
loop)
Indikator :
1. Memformulasikan hukum I Kirchoff
2. Memformulasikan hukum II Kirchoff

A. Tujuan Pembelajaran
Siswa mampu:
1. Menyebutkan bunyi hukum I Kirchoff
2. Merumuskan persamaan hukum I Kirchoff
3. Menyebutkan bunyi hukum II Kirchoff
4. Merumuskan persamaan hukum II Kirchoff

B. Materi Pokok : Listrik Dinamis (Bahan ajar terlampir)
Hukum I Kirchoff
Hukum II Kirchoff


C. Model Pembelajaran : Pembelajaran langsung

D. Metode Pembelajaran : Demonstrasi, ceramah dan diskusi informasi

E. Langkah-langkah Pembelajaran
Jenis
Kegiatan
Fase Kegiatan Guru Kegiatan Siswa Waktu Ket




Awal
I
(Menyampaikan
tujuan
pembelajaran dan
memotivasi
siswa).
1. Memberi acuan/ gambaran kepada siswa dengan
menuliskan tujuan pembelajaran.
2. Memberi motivasi siswa dengan mengajukan
sebuah pertanyaan ada yang tahu bunyi hukum I
dan II Kirchoff ? jika ada yang menjawab
selanjutnya mengajukan pertanyaan lagi apa
maksud dari jawabannya?
1. Menulis tujuan pembelajaran
yang disampaikan oleh guru
dan mendengar penjelasan
guru.
2. Menjawab pertanyaan yang
diajukan oleh guru.
10






Inti
II
(Pemahaman/pere
sentase materi
yang akan
diajarkan ).
1. Menjelaskan materi Hukum I Kirchoff
2. Memberi penjelasan mengenai Hukum II
Kirchoff
Memperhatikan penjelasan dari
guru dan bertanya jika ada yang
kurang dipahami serta mencatat
poin-poin yang dianggap penting
10
III
(Memberi latihan
terbimbing ).
1. Membagi LKS kepada tiap-tiap kelompok.
2. Melakukan demonstrasi mengenai hukum I
Kirchoff.
3. Mengecek kegiatan tiap kelompok .
1. Perwakilan tiap-tiap kelompok
mengambil LKS dari guru.
2. Memperhatikan guru saat
kegiatan demonstrasi
30
4. Membimbing kelompok siswa yang mengalami
kesulitan.
3. Meminta bantuan guru jika
mengalami kesulitan.
IV
(Mengecek
pemahaman dan
memberi umpan
balik).
1. Memberi kesempatan pada beberapa kelompok
mempresentasekan hasil yang diperoleh dari
kegiatan demonstrasi.
2. Memberi pertanyaan secara lisan kepada siswa
untuk mengecek sejauh mana pemahaman para
siswa .
3. Memberi kesempatan kepada siswa untuk
menanyakan hal-hal yang masih belum
dimengerti yang berhubungan dengan materi
pembelajaran saat itu.
4. Memberi kesempatan kepada siswa lain untuk
menjawab pertanyaan dari temannya, jika tidak
ada maka guru yang akan menjawab pertanyaan
tersebut.
1. Perwakilan beberapa kelompok
mempresentasikan hasil diskusi
kelompok masingmasing.
2. Menjawab pertanyaan yang
diberikan oleh guru.
3. Menjawab pertanyaan dari
teman sendiri yang masih
kurang mengerti.
20

Akhir
V
(Evaluasi)
1. Memberi soal latihan kepada siswa serta
membimbing siswa dalam menyelesaikannya.
2. Meminta beberapa siswa menyimpulkan yang
telah dipelajari.
1. Mengerjakan soal latihan.
2. Menyimpulkan materi yang
telah dipelajari
20

F. Sumber/alat dan bahan ajar
- Sumber belajar:
- Setya Nurachmandani, fisika 1 untuk SMA/MA kelas X, Jakarta :
Pusat Perbukuan
- Internet
- Buku-buku yang relevan
- Alat dan bahan : Peralatan IPA yang digunakan saat demonstrasi (lihat
pada LKS), Papan tulis,Penghapus, Spidol, LKS (terlampir)
G. Penilaian
Prosedur Penilaian :
Penilaian Kognitif
Jenis : Tes tertulis
Bentuk : Essay
Penilaian Afektif
Bentuk : Lembar pengamatan sikap siswa (sama setiap pertemuan)
Instrumen :
Aspek Kognitif
1. Perhatikan gambar berikut ini!







Tentukan persamaan yang tepat untuk I
4
berdasarkan gambar diatas. . . .

2. Kuat arus yang melalui hambatan 3 dalam gambar berikut ini adalah. . . .





I
3

I
2

I
4

I
5

I
1

2
3
6 V
3 V
D E F
C B A
Jawaban dan Rubrik
1.


2. Dik:


Dit:


Peny:







Aspek Afektif : Lembar Pengamatan Sikap
Instrumen Penilaian Afektif
NO NAMA
SKOR ASPEK YANG DINILAI
1 2 3 4 5 6 7 8
1.
2.
3.



Aspek yang dinilai:

1. Bekerjasama dalam Kelompok
2
3
6 V
3 V
D E F
C B A
Skor 2
Skor 2
Skor 2
Skor 2
Skor 3
Skor 3
Kriteria Penilaian SKOR
Bekerja sama 3
Kurang bekerja sama 2
Tidak bekerja sama 1

2. Keaktifan dalam Pembelajaran
Kriteria Penilaian SKOR
Aktif dalam pembelajaran 3
Kurang aktif dalam pembelajaran 2
Tidak aktif dalam pembelajaran 1

3. Menghargai Pendapat Orang Lain
Kriteria Penilaian SKOR
Menghargai 3
Kurang menghargai 2
Tidak menghargai 1



4. Tidak Mengganggu Proses Pembelajaran
Kriteria Penilaian SKOR
Tidak mengganggu 3
Agak mengganggu 2
Mengganggu 1

5. Rajin bertanya/Konsultasi
Kriteria Penilaian SKOR
Rajin bertanya/konsultasi 3
Kurang rajin bertanya/konsultasi 2
Tidak rajin bertanya/konsultasi 1

6. Disiplin
Kriteria Penilaian SKOR
Disiplin 3
Kurang disiplin 2
Tidak disiplin 1

7. Bersikap sopan
Kriteria Penilaian SKOR
Bersikap sopan 3
Kurang sopan 2
Tidak sopan 1

8. Kerapian dalam berpakaian
Kriteria Penilaian SKOR
Rapi dalam berpakaian 3
Kurang rapi dalam berpakaian 2
Tidak rapi dalam berpakaian 1

Nilai siswa untuk aspek kognitif ataupun afektif ditentukan dengan cara:






Bahan Ajar : Listrik Dinamis
A. Hukum I Kirchoff
Bunyi hukum I Kirchoff : Jumlah kuat arus yang masuk kesuatu titik cabang
sama dengan jumlah arus yang keluar dari titik cabang tersebut. Secara
matematis ditulis sebagai berikut



B. Hukum II Kirchoff
Dalam kehidupan sehari-hari tidak hanya dikenal rangkaian listrik satu
rangkaian (loop), tetapi juga di kenal system rangkaian lebih dari satu
rangkaian.
Bunyi hukum II Kirchoff : Di dalam sebuah rangkaian tertutup, jumlah aljabar
gaya gerak listrik dengan penurunan tegangan sama dengan nol. Secara
matematis dapat ditulus sebagai berikut:


RENCANA PELAKSANAAN PEMBELAJARAN (RPP)
Sekolah : SMA Negeri 1 Segeri
Mata Pelajaran : Fisika
Kelas/semester : X/2
Alokasi Waktu : 2 x 45 menit
Pertemuan : 4

Standar Kompetensi :
5. Menerapkan konsep kelistrikan dalam berbagai penyelesaian masalah dan
berbagai produk teknologi
Kompetensi Dasar :
5.1 Memformulasikan besaran-besaran listrik rangkaian tertutup sederhana (satu
loop)
5.2 Mengidentifikasi penerapan listrik AC dan DC dalam kehidupan sehari-hari.
Indikator :
1. Menyelidiki nilai hambatan, kuat arus dan tegangan dalam rangkaian seri dan
paralel
2. Mengidentifikasi penerapan arus listrik searah dan bolak balik dalam
kehidupan sehari-hari

A. Tujuan Pembelajaran
Siswa mampu:
1. Menjelaskan pengertian rangkaian seri
2. Menjelaskan pengertian rangkaian paralel
3. Merumuskan nilai hambatan dalam rangkaian seri dan paralel
4. Merumuskan nilai kuat arus dan beda potensial dalam rangkaian seri dan
paralel
5. Menjelaskan penerapan arus searah dan arus bolak balik dalam kehidupan
sehari-hari

B. Materi Pokok : Listrik Dinamis (Bahan ajar terlampir)
Susunan seri dan paralel hambatan listrik
Penerapan arus searah dan arus bolak balik

C. Model Pembelajaran : Pembelajaran Langsung

D. Metode Pembelajaran : Demonstrasi, ceramah dan diskusi informasi

E. Langkah-langkah Pembelajaran

Jenis
Kegiatan
Fase Kegiatan Guru Kegiatan Siswa Waktu Ket




Awal
I
(Menyampaikan
tujuan
pembelajaran dan
memotivasi
siswa).
1. Memberi acuan/ gambaran kepada siswa
dengan menuliskan tujuan pembelajaran.
2. Memberi motivasi siswa dengan mengajukan
sebuah pertanyaan bangaimana nyala lampu
jika dirangkai seri atau parallel? Apakah redup
atau terang?
1. Menulis tujuan pembelajaran
yang disampaikan oleh guru
dan mendengar penjelasan
guru.
2. Menjawab pertanyaan yang
diajukan oleh guru.
10





II
(Pemahaman/pere
sentase materi
yang akan
diajarkan ).
1. Menjelaskan materi Rangkaian listrik secara seri
2. Memberi penjelasan mengenai Rangkaian listrik
secara parallel
3. Memberi penjelasan mengenai penerapan arus
searah dan bolak balik.
Memperhatikan penjelasan dari
guru dan bertanya jika ada yang
kurang dipahami serta mencatat
poin-poin yang dianggap penting
10

Inti
III
(Memberi latihan
terbimbing ).
1. Membagi LKS kepada tiap-tiap kelompok.
2. Melakukan demonstrasi mengenai materi
Rangkaian Seri dan Paralel.
3. Mengecek kegiatan tiap kelompok .
4. Membimbing kelompok siswa yang mengalami
kesulitan.
1. Perwakilan tiap-tiap kelompok
mengambil LKS dari guru.
2. Memperhatikan guru saat
kegiatan demonstrasi
3. Meminta bantuan guru jika
mengalami kesulitan.
30
IV
(Mengecek
pemahaman dan
memberi umpan
balik).
1. Memberi pertanyaan secara lisan kepada siswa
untuk mengecek sejauh mana pemahaman para
siswa .
2. Memberi kesempatan kepada siswa untuk
menanyakan hal-hal yang masih belum
dimengerti yang berhubungan dengan materi
pembelajaran saat itu.
3. Memberi kesempatan kepada siswa lain untuk
menjawab pertanyaan dari temannya, jika tidak
ada maka guru yang akan menjawab pertanyaan
tersebut.
1. Menjawab pertanyaan yang
diberikan oleh guru.
2. Menjawab pertanyaan dari
teman sendiri yang masih
kurang mengerti.
20

Akhir
V
(Evaluasi)
1. Memberi soal latihan kepada siswa serta
membimbing siswa dalam menyelesaikannya.
2. Meminta beberapa siswa menyimpulkan yang
telah dipelajari.
1. Mengerjakan soal latihan.
2. Menyimpulkan materi yang
telah dipelajari
20
F. Sumber/alat dan bahan ajar
- Sumber belajar:
- Setya Nurachmandani, fisika 1 untuk SMA/MA kelas X, Jakarta :
Pusat Perbukuan
- Internet
- Buku-buku yang relevan
- Alat dan bahan : Peralatan IPA yang digunakan saat demonstrasi (lihat
pada LKS), Papan tulis,Penghapus, Spidol, LKS (terlampir)

G. Penilaian
Prosedur Penilaian :
Penilaian Kognitif
Jenis : Tes tertulis
Bentuk : Essay
Penilaian Afektif
Bentuk : Lembar pengamatan sikap siswa (sama setiap pertemuan)
Instrumen :
Aspek Kognitif
Evaluasi
6. Tuliskan sifat-sifat dari rangkaian seri dan rangkaian paralel?
7. Terdapat tiga buah hambatan masing-masing bernilai 5 , 10 dan 20
dengan suber tegangan 5 V. Tentukan nilai hambatannya jika:
a. Dirangkai secara seri
b. Dirangkai secara paralel
8. Berdasarkan soal no.2 tentukan nilai,
a. Kuat arus pada masing-masing rangkaian
b. Beda potensial pada masing-masing rangkaian
9. Sebuah setrika yang memiliki spesifikasi 300 W/220 V digunakan selama 1
jam setiap hari. Jika setrika dipasang pada sumber tegangan 110 V, tentukan
biaya tagihan listrik satu bulan dengan biaya per kWh adalah Rp 100,00!

Jawaban dan Rubrik
1. Sifat-sifat rangkaian seri dan rangkaian paralel
a. Sifat-sifat rangkaian seri
- Disusun secara berderet
- Besar arus yang melalui rangkaian semuanya sama
- Nilai tegangan bergantung pada masing-masing hambatan yang
digunakan
- Bila arus terputus pada salah satu komponen maka arus juga terputus
b. Sifat-sifat rangkaian paralel
- Disusun secara berjajar
- Besar arus yang melalui rangkaian berbeda-beda bergantung pada
hambatan yang digunakan
- Nilai tegangan pada masing-masing hambatan semuanya sama
- Bila arus terputus pada salah satu komponen maka arus tetap mengalir
pada komponen yang lain
2. Dik:


Dit: a.


b.


Peny:
a.


b.



3. Dik:


Skor 4
Skor 4
Skor 2
Skor 5
Skor 7
Skor 2


Dit: a.
b.
Peny:
Rangkaian seri Rangkaian paralel
a.

a.


b. Tegangan

b. tegangan



4. Dik:



Dit:



Peny:
(a) Daya sesungguhnya yang diserap setrika listrik dapat dihitung dengan:


(b) Waktu total pemakaian:

Energy listrik total yang diserap setrika listrik selama sebulan:


Biaya tagihan listrik satu bulan:




Skor 2
Skor 2
Skor 2
Skor 2
Skor 2
Skor 2
Skor 2
Skor 2
Skor 2
Skor 3
Skor 2
Skor 2
Skor 2
Aspek Afektif : Lembar Pengamatan Sikap
Instrumen Penilaian Afektif
NO NAMA
SKOR ASPEK YANG DINILAI
1 2 3 4 5 6 7 8
1.
2.
3.


Aspek yang dinilai
1. Bekerjasama dalam Kelompok
Kriteria Penilaian SKOR
Bekerja sama 3
Kurang bekerja sama 2
Tidak bekerja sama 1

2. Keaktifan dalam Pembelajaran
Kriteria Penilaian SKOR
Aktif dalam pembelajaran 3
Kurang aktif dalam pembelajaran 2
Tidak aktif dalam pembelajaran 1

3. Menghargai Pendapat Orang Lain
Kriteria Penilaian SKOR
Menghargai 3
Kurang menghargai 2
Tidak menghargai 1

4. Tidak Mengganggu Proses Pembelajaran
Kriteria Penilaian SKOR
Tidak mengganggu 3
Agak mengganggu 2
Mengganggu 1

5. Rajin bertanya/Konsultasi
Kriteria Penilaian SKOR
Rajin bertanya/konsultasi 3
Kurang rajin bertanya/konsultasi 2
Tidak rajin bertanya/konsultasi 1

6. Disiplin
Kriteria Penilaian SKOR
Disiplin 3
Kurang disiplin 2
Tidak disiplin 1

7. Bersikap sopan
Kriteria Penilaian SKOR
Bersikap sopan 3
Kurang sopan 2
Tidak sopan 1

8. Kerapian dalam berpakaian
Kriteria Penilaian SKOR
Rapi dalam berpakaian 3
Kurang rapi dalam berpakaian 2
Tidak rapi dalam berpakaian 1

Nilai siswa untuk aspek kognitif ataupun afektif ditentukan dengan cara:




Bahan Ajar : Listrik Dinamis
A. Rangkaian Seri
Hambatan pengganti


Tegangan total


Arus total yang mengalir pada rangkaian


Arus yang mengalir pada suatu hambatan



B. Rangkaian Paralel
Hambatan pengganti


Tegangan total


Arus total yang mengalir pada rangkaian


Arus yang mengalir pada suatu hambatan


C. Penerapan Arus Searah
Arus searah (DC) adalah suatu arus listrik yang aliran muatannya hanya dalam
satu arah. Arus searah banyak digunakan pada kendaraan bermotor dan lampu
penerangan dirumah.


- Energi Listrik
Energi listrik yaitu besar muatan dikalikan beda potensial yang
dialaminya


- Daya Listrik
Daya listrik adalah energy listrik yang dihasilkan atau diperlukan
persatuan waktu.


Jika tegangan listrik mengalami penurunan, maka daya yang terjadi
juga mengalami penurunan dapat dirumuskan sebagai berikut


D. Penerapan Arus Bolak balik
Arus bolak balik (AC) adalah suatu arus listrik yang arahnya membalik denga
frekuensi f. Biasanya digunanakan rumah-rumah seperti penggunaan TV,
strika, kipas angin dan kompor listrik.


RENCANA PELAKSANAAN PEMBELAJARAN (RPP)
Sekolah : SMA Negeri 1 Segeri
Mata Pelajaran : Fisika
Kelas/semester : X/2
Alokasi Waktu : 2 x 45 menit
Pertemuan : 5

Standar Kompetensi :
5. Menerapkan konsep kelistrikan dalam berbagai penyelesaian masalah dan
berbagai produk teknologi
Kompetensi Dasar :
5.3.Menggunakan alat ukur listrik
Indikator :
Terampil menggunakan alat ukur listrik

A. Tujuan Pembelajaran
Siswa mampu:
1. Menjelaskan karakteristik alat ukur listrik
2. Menggunakan alat ukur listrik

B. Materi Pokok : Listrik Dinamis (Bahan ajar terlampir)
Alat ukur listrik

C. Model Pembelajaran : Pembelajaran langsung

D. Metode Pembelajaran : Demonstrasi, ceramah, dan diskusi informasi




E. Langkah-langkah Pembelajaran
Jenis
Kegiatan
Fase Kegiatan Guru Kegiatan Siswa Waktu Ket




Awal
I
(Menyampaikan
tujuan
pembelajaran dan
memotivasi
siswa).
1. Memberi acuan/ gambaran kepada siswa dengan
menuliskan tujuan pembelajaran.
2. Memberi motivasi siswa dengan mengajukan
sebuah pertanyaan alat apa yang digunakan untuk
mengukur arus listrik dan beda potensial?
1. Menulis tujuan pembelajaran
yang disampaikan oleh guru
dan mendengar penjelasan
guru.
2. Menjawab pertanyaan yang
diajukan oleh guru.
10






Inti
II
(Pemahaman/pere
sentase materi
yang akan
diajarkan ).
1. Memberi penjelasan mengenai materi Amperemeter
dan penggunaannya.
2. Menjelaskan materi Voltmeter dan cara
penggunaannya
3. Menjelaskan mengenai alat ukur listrik yang lainya.
Memperhatikan penjelasan dari
guru dan bertanya jika ada yang
kurang dipahami serta mencatat
poin-poin yang dianggap penting
10
III
(Memberi latihan
terbimbing ).
1. Membagi LKS kepada tiap-tiap kelompok.
2. Melakukan demonstrasi mengenai penggunaan alat
ukur listrik.
3. Mengecek kegiatan tiap kelompok .
4. Membimbing kelompok siswa yang mengalami
kesulitan.
1. Perwakilan tiap-tiap kelompok
mengambil LKS dari guru.
2. Memperhatikan guru saat
kegiatan demonstrasi
3. Meminta bantuan guru jika
mengalami kesulitan.
30
IV
(Mengecek
pemahaman dan
memberi umpan
1. Memberi pertanyaan secara lisan kepada siswa
untuk mengecek sejauh mana pemahaman para
siswa .
2. Memberi kesempatan kepada siswa untuk
1. Menjawab pertanyaan yang
diberikan oleh guru.
2. Menjawab pertanyaan dari
teman sendiri yang masih
20
balik). menanyakan hal-hal yang masih belum dimengerti
yang berhubungan dengan materi pembelajaran saat
itu.
3. Memberi kesempatan kepada siswa lain untuk
menjawab pertanyaan dari temannya, jika tidak ada
maka guru yang akan menjawab pertanyaan
tersebut.
kurang mengerti.

Akhir
V
(Evaluasi)
1. Memberi soal latihan kepada siswa serta
membimbing siswa dalam menyelesaikannya.
2. Meminta beberapa siswa menyimpulkan yang telah
dipelajari.
1. Mengerjakan soal latihan.
2. Menyimpulkan materi yang
telah dipelajari
20

F. Sumber/alat dan bahan ajar
- Sumber belajar:
- Setya Nurachmandani, fisika 1 untuk SMA/MA kelas X, Jakarta : Pusat Perbukuan
- Internet
- Buku-buku yang relevan
- Alat dan bahan : Peralatan IPA yang digunakan saat demonstrasi (lihat pada LKS), Papan tulis,Penghapus, Spidol, LKS
(terlampir)

G. Penilaian
Prosedur Penilaian :
Penilaian Kognitif
Jenis : Tes tertulis
Bentuk : Essay
Penilaian Afektif
Bentuk : Lembar pengamatan sikap siswa (sama setiap pertemuan)
Instrumen :
Aspek Kognitif
1. Tuliskan fungsi dari masing-masing alat ukur listrik!
2. Perhatikan gambar penggunaan amperemeter berikut ini!

Nilai kuat arus pada rangkaian adalah...
3. Perhatikan gambar penggunaan voltmeter berikut ini!




Nilai beda potensial pada rangkaian adalah...
Jawaban dan Rubrik
1. Fungsi dari Amperemeter dan Voltmeter adalah
- Amperemeter berfungsi untuk mengukur arus listrik dalam suatu
rangkaian.
- Voltmeter berfungsi untuk mengukur beda potensial/tegangan dalam suatu
rangkaian.
10 A
5 A
0 A
-10
-5
0
0 20
40
100
50
20
10
60
30
40
80
10 V
5 V
0 V
-10
-5
0
0

20
40
100
50
20
10
60
30
40
80
Skor 1,5
Skor 1,5
- Ohmmeter berfungsi untuk mengukur besar/nilai suatu penghantar.
- Wattmeter berfungsi untuk mengukur besar/nilai daya listrik
2. Dik:


Dit:
Peny:






3. Dik:


Dit:
Peny:












Skor 1
Skor 1
Skor 2
Skor 3
Skor 1
Skor 1
Skor 2
Skor 3
Skor 1,5
Skor 1,5
Aspek Afektif : Lembar Pengamatan Sikap
Instrumen Penilaian Afektif
NO NAMA
SKOR ASPEK YANG DINILAI
1 2 3 4 5 6 7 8
1.
2.
3.



Aspek yang dinilai
1. Bekerjasama dalam Kelompok
Kriteria Penilaian SKOR
Bekerja sama 3
Kurang bekerja sama 2
Tidak bekerja sama 1

2. Keaktifan dalam Pembelajaran
Kriteria Penilaian SKOR
Aktif dalam pembelajaran 3
Kurang aktif dalam pembelajaran 2
Tidak aktif dalam pembelajaran 1

3. Menghargai Pendapat Orang Lain
Kriteria Penilaian SKOR
Menghargai 3
Kurang menghargai 2
Tidak menghargai 1
4. Tidak Mengganggu Proses Pembelajaran
Kriteria Penilaian SKOR
Tidak mengganggu 3
Agak mengganggu 2
Mengganggu 1

5. Rajin bertanya/Konsultasi
Kriteria Penilaian SKOR
Rajin bertanya/konsultasi 3
Kurang rajin bertanya/konsultasi 2
Tidak rajin bertanya/konsultasi 1

6. Disiplin
Kriteria Penilaian SKOR
Disiplin 3
Kurang disiplin 2
Tidak disiplin 1

7. Bersikap sopan
Kriteria Penilaian SKOR
Bersikap sopan 3
Kurang sopan 2
Tidak sopan 1

8. Kerapian dalam berpakaian
Kriteria Penilaian SKOR
Rapi dalam berpakaian 3
Kurang rapi dalam berpakaian 2
Tidak rapi dalam berpakaian 1






Aspek psikomotorik ( saat ujian praktikum)
Instrument penilaian psikomotorik

No Nama
Skor Aspek yang Dinilai
1 2 3 4 5 6
1.
2.
3.


Aspek yang dinilai
1. Kemampuan Memilih Alat dan Bahan
Kriteria Penilaian SKOR
5-4 alat dan bahan yang disiapkan sesuai dengan topik
percobaan
4
3-2 alat dan bahan yang disiapkan sesuai dengan topik
percobaan
3
1 alat dan bahan yang disiapkan sesuai dengan topik
percobaan
2
Alat yang disiapkan tidak sesuai dengan topik percobaan 1
Tidak ada alat yang disiapkan untuk percobaan 0
2. Kemampuan Merangkai Alat
Kriteria Penilaian SKOR
Merangkai alat dengan benar sesuai prosedur dengan
sekali membaca
4
Merangkai alat dengan benar sesuai prosedur namun
masih perlu membaca berulang-ulang
3
Merangkai alat dengan benar sesuai prosedur namun
masih sering bertanya kepada guru
2
Merangkai alat dengan bantuan guru 1
Tidak merangkai alat dan tidak meminta bantuan guru 0
3. Kemampuan Mengoperasikan Alat Ukur
Kriteria Penilaian SKOR
Menggunakan alat dengan tepat dan aman 4
Menggunakan alat dengan tepat namun tidak aman 3
Menggunakan alat kurang tepat namun tidak aman 2
Hanya mampu menggunakan sebagian alat, selebihnya
perlu bantuan guru
1
Tidak mampu menggunakan alat 0


4. Ketepatan Metode Pengambilan Data
Kriteria Penilaian SKOR
Prosedur kerja sistematis, identivikasi variabel jelas, dan
hasil pengamatan akurat
4
Prosedur kerja sistematis, identivikasi variabel jelas,
namun hasil pengamatan tidak akurat
3
Prosedur kerja sistematis, identivikasi variabel tidak jelas,
dan hasil pengamatan tidak akurat
2
Prosedur kerja tidak sistematis, identivikasi variable tidak
jelas, dan hasil pengamatan akurat
1
Prosedur kerja tidak sistematis, identivikasi variabel tidak
jelas, dan hasil pengamatan tidak akurat
0
5. Kecepatan (Efisiensi Kegiatan)
Kriteria Penilaian SKOR
Merangkai alat dan mengambil data dengan cepat dan
tepat
4
Merangkai alat dengan cepat dan mengambil data kurang
cepat namun tepat
3
Merangkai alat dan mengambil data kurang cepat namun
tepat
2
Merangkai alat dan mengambil data kurang cepat dan
kurangtepat
1
Sangat lamban dalam merangkai dan mengambil data 0
6. Persiapan untuk mengakhiri kegiatan praktikum
Kriteria Penilaian SKOR
Alat dan bahan disimpan dengan tepat dan tempat kerja
bersih setelah praktikum
4
Hanya sebagian alat dan bahan disimpan dengan tepat dan
tempat kerja bersih setelah praktikum
3
Alat dan bahan disimpan dengan tepat dan tempat kerja
tidak dibersihkan setelah praktikum
2
Alat dan bahan tidak disimpan dengan tepat dan tempat
kerja bersih setelah praktikum
1
Alat dan bahan tidak disimpan dengan tepat dan tempat
kerja dan tidak dibersihkan setelah praktikum
0
Nilai siswa untuk aspek kognitif ataupun afektif ditentukan dengan cara:




Bahan Ajar : Listrik Dinamis
A. Amperemeter
Amperemeter adalah alat ukur arus listrik. Amperemeter harus dipasang
secara seri dalam suatu rangkaian, arus listrik yang melewati hambatan adalah
sama dengan arus listrik yang melewati amperemeter tersebut.
Amperemeter juga mempunyai hambatan sehingga dengan disisipkannya
amperemeter tersebut menyebababkan arus listrik dalam rangkaian sedikit
berkurang. Idealnya, suatu amperemeter harus memiliki hambatan yang sangat
kecil agar berkurangnya arus listrik dalam rangkaian juga sangat kecil.
Susunan suatu amperemeter dengan menggunakan galvanometer jika
dipakai mengukur arus yang lebih besar dari batas ukurnya maka harus
dipasang suatu hambatan parallel terhadap galvanometer.



B. Voltmeter
Voltmeter adalah alat ukur tegangan listrik. Voltmeter harus dipasang paralel
dengan ujung-ujung hambatan yang diukurnya. Idealnya, suatu voltmeter
harus memiliki hambatan yang sangat besar agar berkurangnya arus listrik
yang melewati hambatan juga sangat kecil.
Susunan suatu voltmeter dengan menggunakan galvanometer jika dipakai
untuk mengukur tegangan yang lebih besar dari batas ukurnya maka harus
dipasang suatu hambtan seri terhadap galvanometer. Besar hambtan yang
harus dipasang


C. Ohmmeter
Ohmmeter adalah alat ukur hambatan listrik. Pada pengukuran suatu
hambatan listrik dilakukan dengan menghubungkan suatu sumber tegangan
yang sudah diketahui tegangannya secara seri dengan sebuah amperemeter dan
hambatan yang akan diukur.
Hasil nilai ukur hambatan dapat dihitung dan nilai tegangan sumber dan
arus yang terbaca pada amperemeter, hasil alat ukur ini dikalibrasi sehingga
pembacaannya menunjukkan hasil dalam ohm meskipun sesungguhnya yang
diukur adalah arus.
Metode jembatan Wheatstone


D. Wattmeter
Wattmeter adalah alat ukur daya listrik
E. Multimeter
Multimeter adalah suatu alat yang berfungsi sebagai amperemeter, voltmeter,
dan ohmmeter.

LAMPIRAN A.2 LEMBAR KERJA SISWA (LKS)
HUKUM OHM
Tujuan : Menyelidiki hubungan antara kaut arus dengan beda petensial
dalam rangkaian sederhana
Alat dan Bahan:
1. Resistor
2. Voltmeter
3. Amperemeter
4. Baterai
5. Kabel
Materi
Pada rangkaian listrik tertutup, terjadi aliran arus listrik. Arus listrik
mengalir karena adanya beda potensial antara dua titik pada suatu penghantar,
seperti pada lampu senter, radio, dan televisi. Alat-alat tersebut dapat menyala
(berfungsi) karena adanya aliran listrik dari sumber tegangan yang dihubungkan
dengan peralatan tersebut sehingga menghasilkan beda potensial.
Orang pertama yang menyelidiki hubungan antara kuat arus listrik dengan
beda potensial pada suatu penghantar adalah Georg Simon Ohm, ahli fisika dari
Jerman.Ohm berhasil menemukan hubungan secara matematis antara kuat arus
listrik dan beda potensial, yang kemudian dikenal sebagai Hukum Ohm.
Hambatan listrik yang dilambangkan R, dan diberi satuan ohm () untuk
menghargai Georg Simon Ohm. Jadi, persamaan tersebut dapat dituliskan sebagai
berikut.


Keterangan :


= tegangan atau beda votensial (V)
= kuat arus (A)
= hambatan listrik ()
Langkah Kerja
1. Buatlah rangkaian seperti gambar di bawah ini:

2. Aturlah batas ukur amperemeter dan voltmeter yang sesuai
3. Amati penunjukan kuat arus dan tegangan ujung-ujung R melalui amperemetr
dan volt meter.
4. Ulangi langkah (2) dan (3) dengan mengubah jumlah baterai
5. Mencatat hasil pengamatan pada table pengamatan
Table hasil pengamatan
No Tegangan (V) Kuat arus (A) Hambatan ()
1
2
3

Analisis
1. Bagaimana penunjukan voltmeter dan amperemeter jika jumlah baterai
ditambah?
2. Bagaimana hubungan kuat arus dengan tegangan?
3. Berdasarkan data yang telah diperoleh, tuliskan bunyi hukum Ohm!
R
E
+


HAMBATAN LISTRIK
Tujuan : Menyelidiki hubungan antara panjang kawat penghantar dengan
nilai hambatan dalam rangkaian sederhana.
Alat dan Bahan:
1. Kawat penghantar (2 buah dengan panjang yang berbeda)
2. Voltmeter
3. Amperemeter
4. Baterai
5. Kabel
Materi
Kawat penghantar yang dipakai pada kawat listrik pasti mempunyai hambatan, meskipun
nilainya kecil.
Hambatan listrik suatu kawat penghantar dipengaruhi oleh panjang kawat (l), hambatan
jenis kawat ( ), dan luas penampang kawat (A). Secara matematis, hubungan ketiga
faktor tersebut dapat dituliskan sebagai berikut.



Langkah Kerja
1. Buatlah rangkaian seperti gambar di bawah ini:

2. Tutuplah sakelar (S), kemudian amati skala yang tertera pada voltmeter dan
amperemeter!
3. Ulangilah kegiatan tersebut dengan mengubah panjang kawat!
4. Catatlah hasil kegiatan dalam tabel pengamatan!
Table hasil pengamatan
Jenis Panjang
Kawat
Tegangan (V) Kuat arus (A) Hambatan ()
Panjang
Pendek

Analisis
1. Bagaimana penunjukan voltmeter dan amperemeter jika digunakan kawat
penghantar yang panjang?
2. Bagaimana penunjukan voltmeter dan amperemeter jika digunakan kawat
penghantar yang pendek?
3. Hitung nilai hambatan dari data yang diperoleh
4. Berdasarkan percobaan yang telah diperagakan tuliskan kesimpulan yang dapat
diperoleh!

Hukum I Kirchoff



Tujuan
Mengetahui kuat arus di setiap titik dalam rangkaian bercabang.

Alat dan Bahan
Baterai
4 buah amperemeter
2 buah lampu pijar
kabel.
Materi
Hukum I Kirchoff secara matematis dapat dituliskan sebagai berikut.



Arus yang masuk pada titik percabangan sama dengan kuat arus yang keluar pada
titik percabangan tersebut.

Prosedur Kerja







1. Buatlah rangkaian seperti terlihat pada gambar di atas!
2. Bacalah skala yang ditunjukkan oleh jarum amperemeter 1, 2, 3, dan 4!
3. Bandingkan besar kuat arus pada masing-masing amperemeter tersebut!
4. Nyatakan kesimpulan Anda!


A



Rangkaian Seri dan Paralel

Tujuan: Menganalisis kuat arus dan tegangan pada rangkaian seri dan paralel.
Alat dan Bahan:
Sumber tegangan
Kabel penghubung
Basic meter 2 buah
Bohlam lampu 2 buah
Cara Kerja:
1. Susunlah alat-alat seperti pada gambar di bawah ini







2. Amati penunjukan jarum pada amperemeter.
3. Ulangi langkah 2 dengan menempatkan amperemeter pada titik B.
4. Catat hasil pengamatan Anda dan buatlah kesimpulan.
5. Ubahlah susunan alat pada kegiatan 1 menjadi seperti gambar di bawah
ini :








A

V
L1
L2
6. Ukurlah kuat arus yang masuk di R1 dan R2 degan menempatkan
amperemeter di antara titik cabang di masing-masing hambatan
7. Ukur pula tegangan pada masing-masing bohlam dengan memasang
voltmeter secara paralel dengan masing-masing bohlam.
8. Buatlah kesimpulan tentang arus dan tegangan pada rangkaian paralel.
Hasil pengamatan
Tabel 1:
No. Tegangan (V) Kuat Arus (A) Hambatan
R
1
()
Hambatan
R
2
()
1.
2.


Kesimpulan :

ALAT UKUR LISTRIK
Tujuan : Mempelajari cara penggunaan alat ukur listrik
Alat dan Bahan:
1. Resistor
2. Amperemeter
3. Voltmeter
4. Baterai
5. Kabel
Materi
Alat ukur listrik ada dua yaitu amperemeter dan voltmeter. Amperemeter
dapat digunakan untuk mengukur kuat arus listrik. Sedangkan voltmeter adalah
alat untuk mengukur beda potensial antara dua titik (tegangan listrik).
Pengukuran kuat arus dengan amperemeter harus dipasang secara seri
voltmeter dipasang secara pararel.
Amperemeter dan voltmeter memiliki dua bagian utama yaitu skala
pengukuran dengan jarum penunjuknya dan batas ukur. Pembacaan hasil
pengukurannya disesuaikan dengan batas ukur yang digunakan.



Langkah Kerja
- Kegiatan I
1. Buatlah rangkaian seperti gambar di bawah ini:
A
A
E

2. Aturlah batas ukur amperemeter yang sesuai
3. Pasanglah amperemeter secara seri dengan R.
4. Bacalah penunjukan Amperemeter.
5. Ulangi langkah (2) dan (3) dengan mengubah jumlah baterai
6. Mencatat hasil pengamatan pada table pengamatan
Table hasil pengamatan
No Tegangan sumber (V) Kuat arus (A)
1
2
3

- Kegiatan II
1. Buatlah rangkaian seperti gambar di bawah ini:

2. Aturlah batas ukur votmeter yang sesuai
3. Pasanglah voltmeter secara paralel dengan R.
4. Bacalah penunjukan voltmeter.
A
A
L L
2

a
m
lamp
u
bater
ai
bater
ai
a l
a
L
1
L
2

5. Ulangi langkah (2) dan (3) dengan mengubah jumlah baterai
6. Mencatat hasil pengamatan pada table pengamatan
Table hasil pengamatan
No Tegangan sumber (V) Tegangan (V)
1
2
3


Analisis
1. Bagaimana penunjukan amperemeter jika jumlah baterai ditambah?
2. Bagaimana penunjukan voltmeter jika jumlah baterai ditambah?
3. Buatlah kesimpulan berdasarkan percobaan!









B.1 KISI-KISI INSTRUMEN PENELITIAN
B.2 INSTRUMEN PENELITIAN


LAMPIRAN B
(KISI-KISI INSTRUMEN PENELITIAN)
LAMPIRAN B.1 KISI-KISI INSTRUMEN PENELITIAN
KISI-KISI INSTRUMEN HASIL BELAJAR SEBELUM VALIDASI

Standar Kompetensi
5. Menerapkan konsep kelistrikan dalam berbagai penyelesaian masalah dan berbagai produk teknologi
KD Indikator Soal Ket
5.1 Memformulasikan
besaran-besaran
listrik rangkaian
tertutup sederhana

5.1.1 Menyelidiki
hubungan antara
kuat arus listrik
dengan
tegangan dalam
rangkaian
sederhana.

1. Arus listrik mengalir sebesar A dalam waktu T, maka muatan listriknya adalah Q.Bila arus yang
diberikan 3 kali dari pada sebelumnya dengan waktu T, Berapakah perbandingan muatan
listriknya?
C2
3. Perhatikan data beikut ini!
No Tegangan (V) Arus (A) Hambatan ()
1
2
3
12
6
3
24
6
1,5
0,5
1
2
Berdasarkan data di atas, jelaskan hubungan yang terjadi antar variabel!
C4
5.1.2 Menyelidiki
faktor-faktor
yang
mempengaruhi
nilai hambatan
suatu kawat
penghantar

2. Sebuah bola lampu yang filamennya terbuat dari tungsten memiliki hambatan listrik 200 O ketika
suhunya

C. Hitung hambatan bola lampu ini pada suhu

C. Koefisien hambatan jenis


untuk tungsten adalah

C.
C3
7. Seutas kawat nikrom dengan panjang 30 m (hambatan jenis 10
-6
) memiliki luas penampang 5
10
-6
.m
2
. Tentukan:
a. Nilai hambatannya
b. Kuat arus yang mengalir pada kawat jika dipasang pada tegangan 120





C3
2
3
15 V 3 V
D E F
C B A
5.1.3 Memformulasik
an hukum
Kirchhoff I
5.1.4 Memformulasik
an hukum
Kirchhoff II
6. Tentukan persamaan I
3
dari gambar dibawah !









C4

9. Dari gambar di bawah tentukan besar kuat arus yang mengalir pada hambatan 3










C4
5.1.5 Menyelidiki nilai
hambatan, kuat
arus dan
tegangan
10. Empat buah hambatan masing-masing besarnya 10 , 20 , 25 , dan 50 disusun seri atau
parallel. Tentukan hambatan yang paling besar dan hambatan paling kecil yang mungkin
diperoleh?
C5


dalam
rangkaian seri
dan parallel
a. Mengidentifikasi
penerapan listrik
AC dan DC dalam
kehidupan sehari-
hari.

5.1.6 Mengidentifikasi
penerapan arus
listrik searah
dalam kehidupan
sehari-hari.
5.1.7 Mengidentifikasi
penerapan arus
listrik bolak
balik dalam
kehidupan
sehari-hari.
4. Hitunglah energi listrik pada kasus-kasus berikut
a. Sebuah CD player menarik arus 280 mA ketika dioprasikan oleh baterai 9 V selama 1 jam
b. Elemen pemanas dengan hambatan 500 menarik arus 2 A selama 50 menit
c. Sebuah pemanas dengan hambatan 20 dan memiliki tegangan sebesar 110 V dinyalakan
selama 15 menit
C3
5. Sebuah lampu pijar bertuliskan 50 Watt 220 volt. Hitunglah daya yang diterima lampu ketika
dipasang pada tegangan 110 volt.




C3
5.3.Menggunakan
alat ukur listrik
5.1.8 Terampil
menggunakan
alat ukur Listrik
8. Perhatikan gambar penggunaan voltmeter berikut ini!

Berapakah nilai beda potensial pada rangkaian diatas?

C4

10 V
5 V
0 V
-10
-5
0
0

20
40
100
50
20
10
60
30
40
80
KISI-KISI INSTRUMEN HASIL BELAJAR SETELAH VALIDASI

Standar Kompetensi
5. Menerapkan konsep kelistrikan dalam berbagai penyelesaian masalah dan berbagai produk teknologi
KD Indikator Soal Ket
5.1 Memformulasikan
besaran-besaran
listrik rangkaian
tertutup sederhana

5.1.1 Menyelidiki
hubungan antara
kuat arus listrik
dengan
tegangan dalam
rangkaian
sederhana.

1. Arus listrik mengalir sebesar A dalam waktu T, maka muatan listriknya adalah Q.Bila arus yang
diberikan 3 kali dari pada sebelumnya dengan waktu T, Berapakah perbandingan muatan
listriknya?
C2
3. Perhatikan data beikut ini!
No Tegangan (V) Arus (A) Hambatan ()
1
2
3
12
6
3
24
6
1,5
0,5
1
2
Berdasarkan data di atas, jelaskan hubungan yang terjadi antar variabel!
C4
5.1.2 Menyelidiki
faktor-faktor
yang
mempengaruhi
nilai hambatan
suatu kawat
penghantar

2. Sebuah bola lampu yang filamennya terbuat dari tungsten memiliki hambatan listrik 200 O ketika
suhunya

C. Hitung hambatan bola lampu ini pada suhu

C. Koefisien hambatan jenis


untuk tungsten adalah

C.
C3
7. Seutas kawat nikrom dengan panjang 30 m (hambatan jenis 10
-6
) memiliki luas penampang 5
10
-6
.m
2
. Tentukan:
a. Nilai hambatannya
b. Kuat arus yang mengalir pada kawat jika dipasang pada tegangan 120





C3
2
3
15 V 3 V
D E F
C B A
5.1.3 Memformulasik
an hukum
Kirchhoff I
5.1.4 Memformulasik
an hukum
Kirchhoff II
6. Tentukan persamaan I
3
dari gambar dibawah !








C4

9. Dari gambar di bawah tentukan besar kuat arus yang mengalir pada hambatan 3










C4
5.1.5 Menyelidiki nilai
hambatan, kuat
arus dan
tegangan
dalam
10. Empat buah hambatan masing-masing besarnya 10 , 20 , 25 , dan 50 disusun seri atau
parallel. Tentukan hambatan yang paling besar dan hambatan paling kecil yang mungkin
diperoleh?
C5


rangkaian seri
dan parallel
a. Mengidentifikasi
penerapan listrik
AC dan DC dalam
kehidupan sehari-
hari.

5.1.8 Mengidentifikasi
penerapan arus
listrik searah
dalam kehidupan
sehari-hari.
5.1.9 Mengidentifikasi
penerapan arus
listrik bolak
balik dalam
kehidupan
sehari-hari.
4. Hitunglah energi listrik pada kasus-kasus berikut
a. Sebuah CD player menarik arus 280 mA ketika dioprasikan oleh baterai 9 V selama 1 jam
b. Elemen pemanas dengan hambatan 500 menarik arus 2 A selama 50 menit
c. Sebuah pemanas dengan hambatan 20 dan memiliki tegangan sebesar 110 V dinyalakan
selama 15 menit
C3
5. Sebuah lampu pijar bertuliskan 50 Watt 220 volt. Hitunglah daya yang diterima lampu ketika
dipasang pada tegangan 110 volt.




C3
5.3.Menggunakan
alat ukur listrik
5.1.8 Terampil
menggunakan
alat ukur Listrik
8. Perhatikan gambar penggunaan voltmeter berikut ini!

Berapakah nilai beda potensial pada rangkaian diatas?

C4

10 V
5 V
0 V
-10
-5
0
0

20
40
100
50
20
10
60
30
40
80
LAMPIRAN B.2 INSTRUMEN PENELITIAN
Nama Sekolah : SMA Negeri 1 Segeri
Mata Pelajaran : Fisika
Materi Pokok : Listrik Dinamis
Kelas/Semester : X/II
Alokasi Waktu : 2 x 45 menit


1. Arus listrik mengalir sebesar A dalam waktu T, maka muatan listriknya
adalah Q.Bila arus yang diberikan 3 kali dari pada sebelumnya dengan waktu
T, Berapakah perbandingan muatan listriknya?
2. Sebuah bola lampu yang filamennya terbuat dari tungsten memiliki hambatan
listrik 200 O ketika suhunya

C. Hitung hambatan bola lampu ini pada


suhu

C. Koefisien hambatan jenis untuk tungsten adalah

C.
3. Perhatikan data beikut ini!
No Tegangan (V) Arus (A) Hambatan ()
1
2
3
12
6
3
24
6
1,5
0,5
1
2
Berdasarkan data di atas, jelaskan hubungan yang terjadi antar variabel!
4. Hitunglah energi listrik pada kasus-kasus berikut
a. Sebuah CD player menarik arus 280 mA ketika dioprasikan oleh baterai 9
V selama 1 jam
b. Elemen pemanas dengan hambatan 500 menarik arus 2 A selama 50
menit
c. Sebuah pemanas dengan hambatan 20 dan memiliki tegangan sebesar
110 V dinyalakan selama 15 menit
5. Sebuah lampu pijar bertuliskan 50 Watt 220 volt. Hitunglah daya yang
diterima lampu ketika dipasang pada tegangan 110 volt.
6. Tentukan persamaan I
3
dari gambar dibawah !









2
3
15 V
3 V
D E F
C B A


7. Seutas kawat nikrom dengan panjang 30 m (hambatan jenis 10
-6
) memiliki
luas penampang 5 10
-6
.m
2
. Tentukan:
a. Nilai hambatannya
b. Kuat arus yang mengalir pada kawat jika dipasang pada tegangan 120 V

8. Perhatikan gambar penggunaan voltmeter berikut ini!

Berapakah nilai beda potensial pada rangkaian diatas?

9. Dari gambar di bawah tentukan besar kuat arus yang mengalir pada hambatan
3









10. Empat buah hambatan masing-masing besarnya 10 , 20 , 25 , dan 50
disusun seri atau parallel. Tentukan hambatan yang paling besar dan hambatan
paling kecil yang mungkin diperoleh?









10 V
5 V
0 V
-10
-5
0
0

20
40
100
50
20
10
60
30
40
80
JAWABAN INSTRUMEN PENELITIAN

1.









2.


Peny:



Skor 2
Skor 2
3. Berdasarkan data yang terdapat pada table
- menyatakan bahwa kuat arus yang mengalir pada kawat penghantar
berbanding lurus dengan beda potensialnya, makin besar kuat arus yang
mengalir maka makin besar pula beda potensialnya begitu pula sebaliknya.

-

menyatakan bahwa kuat arus yang mengalir pada kawat penghantar


berbanding terbalik dengan hambatannya, makin besar hambatannyamaka
makin kecil kuat arus yang mengalir begitu pula sebaliknya.


4. Dik: a. I = 280 mA = 280 10
-3
A Dit: W = ?
V = 9 volt
t = 1 jam = 3600 s
b. R = 500
I = 2A
t = 50 menit = 3000 s
c. R = 20
V = 110 volt
t = 15 menit = 900 s
Peny:



5. Dik: Vt = 220 volt Dit: Ps = ?
Vs = 110 volt
Pt = 50 watt

Skor 5
Skor 5
Skor 2
Skor 2
Skor 2
Skor 2
Skor 2
Peny:

(


)

)
6.



7. Dik: l = 30 m Dit: a. R = ?
= 10
-6
m b. I = ? (V = 120 volt)
A = 5 10
-6
m
2

Peny:



8.







Skor 2
Skor 4
Skor 5
Skor 5
Skor 2
Skor 3
Skor 3
Skor 5
Skor 5
9. Dik:


Dit:


Peny:







10. Dik: R
1
= 10 Dit: R
terbesar
= ?
R
2
= 20 R
terkecil
= ?
R
3
= 25
R
4
= 50
Peny:
Hambatan terbesar diperoleh jika keempat hambatan dirangkai seri


Hambatan terkecil diperoleh jika keempat hambatan dirangkai secara parallel


Skor 2
Skor 4
2
3
15 V
3 V
D E F
C B A
Skor 2
Skor 2
Skor 6
Skor 6








C.1 TABEL ANALISIS RELIABILITAS ITEM HASIL
BELAJAR
C.2 RELIABILITAS

LAMPIRAN C
(RELIABILITAS ITEM)
LAMPIRAN C.1 TABEL ANALISIS RELIABILITAS ITEM HASIL BELAJAR
NO NAMA
NO. SOAL
SKOR
Kuadrat
1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 Skor Total
1 A 5 4 5 0 2 4 7 7 8 11 53 2809
2 B 6 8 2.5 4 8 7 7 9 8 5 64.5 4160.25
3 C 5 0 2.5 8 6 10 8 10 2 0 51.5 2652.25
4 D 4 7 3.5 4 6 7 8 0 1 5 45.5 2070.25
5 E 3 8 3.5 4 3 10 6.5 10 8 10 66 4356
6 F 3 0 8 0 2 7 8 5 8 12 53 2809
7 G 3 8 2 4 5 10 5 6 8 8 59 3481
8 H 6 8 3.5 2 5 10 6 10 8 10 68.5 4692.25
9 I 3 4 4 4 8 10 7 6 5.5 10 61.5 3782.25
10 J 4 7 3.5 4 4 10 5 6 8 10 61.5 3782.25
11 K 6 8 10 8 8 10 5 10 6 12 83 6889
12 L 3 8 3.5 4 7 10 5 5 8 10 63.5 4032.25
13 M 6 8 10 8 5 10 8 9 6 14 84 7056
14 N 2 8 2 2 4 10 6 7 8 10 59 3481
15 O 2 8 0 3 3 7 4 6 8 4 45 2025
16 P 6 8 8 6 8 10 8 10 4 12 80 6400
17 Q 6 8 10 2 3 10 5 10 8 7 69 4761
18 R 5 8 5 8 8 10 8 10 8 14 84 7056
19 S 2 8 0 3 3 7 4 6 8 4 45 2025
20 T 5 8 5 4 8 10 8 10 6 14 78 6084
21 U 6 8 2.5 8 6 10 8 10 2 10 70.5 4970.25
22 V 6 8 3.5 2 7 10 3 6 8 6 59.5 3540.25
23 W 6 2 3.5 2 4 7 0 10 8 8 50.5 2550.25
24 X 2 8 10 4 4 7 4 6 0 4 49 2401
25 Y 3 7 3.5 4 7 0 4 10 8 10 56.5 3192.25
26 Z 3 4 2.5 2 5 10 5 10 5 11 57.5 3306.25
27 AA 5 8 3.5 2 8 10 8 0 2 8 54.5 2970.25
28 AB 4 8 7 2 8 4 8 10 8 10 69 4761
29 AC 6 2 5 8 5 10 7 9 2 8 62 3844
Jumlah 127 191 135.5 120 165 253 182.5 231 186.5 267 1803.5
115939.3 Jumlah Kuadrat 612 1419 836.25 630 1000 2275 1173.25 1943 1284.25 2601 13773.75


1.93 5.55 7.00 4.60 2.11 2.34 0.85 3.55 2.93 4.92 35.79


130.35

0.81 Cukup Tinggi


LAMPIRAN C.2 RELIABILITAS
Pengujian Reabilitas dilakukan dengan persamaan koefisien reabiabilitas Alpha Cronbach dengan rumus sebagai berikut:


(Nurgiantoro, Burhan, 2010 : 171)
Keterangan:
= Jumlah butir soal

= Jumlah varian butir-butir


= Varian total (untuk seluruh butir tes)



Dengan:
= 10

= 35,79

= 130,35
Sehingga:



Jadi reliabilitas tes uji coba hasil belajar fisika adalah 0,81 (memiliki taraf
kepercayaan yang cukup tinggi).










D.1 DATA HASIL BELAJAR FISIKA SISWA
D.2 DATA HASIL PENGAMATAN PSIKOMOTORIK SISWA
D.3 DATA HASIL PENGAMATAN AFEKTIF SISWA




LAMPIRAN D
(DATA HASIL PENELITIAN)

LAMPIRAN D.1 DATA HASIL BELAJAR FISIKA SISWA
Untuk mengetahui nilai yang diperoleh oleh siswa, digunakan rumus
berikut:


Keterangan:
N = nilai siswa
Ss = skor hasil belajar siswa yang diperoleh
Si = skor total/ideal (90)
Maka data skor hasil belajar fisika kelas Xc SMA Negeri 1 Segeri secara
keseluruhan dapat dilihat pada tabel berikut :
Tabel D.1.1. DATA HASIL BELAJAR FISIKA SISWA
No Nama Skor Nilai

No Nama Skor Nilai
1 A 62.5 69.4

14 N 80 88.9
2 B 65.5 72.8

15 O 76 84.4
3 C 81 90.0

16 P 65.5 72.8
4 D 65 72.2

17 Q 83 92.2
5 E 81 90.0

18 R 74 82.2
6 F 65 72.2

19 S 68.5 76.1
7 G 59 65.6

20 T 78 86.7
8 H 76 84.4

21 U 55.5 61.7
9 I 74 82.2

22 V 71.5 79.4
10 J 65.5 72.8

23 W 80 88.9
11 K 86 95.6

24 X 57.5 63.9
12 L 60 66.7

25 Y 77 85.6
13 M 82 91.1

26 Z 48 53.3


Jumlah total 1837 2041,1
Jumlah siswa (n) = 26
Jumlah skor = 1837
Skor rata-rata = 70,54
Jumlah nilai = 2041,1
Nilai rata-rata = 78,38
Dari data di atas diperoleh nilai rata-rata yang lebih besar dari nilai standar KKM
yang telah di tetapkan yaitu 67 dan terlihat bahwa hasil belajar siswa berada
dalam kategori tinggi.

LAMPIRAN D.2 DATA HASIL PENGAMATAN PSIKOMOTORIK
SISWA
Tabel D.2. 1 Data Hasil Pengamatan Psikomotorik Siswa
NO NAMA
ASPEK YANG DI NILAI
SKOR NILAI
1 2 3 4 5 6
1 A 2 1 3 2 2 3 13 54.2
2 B 3 3 3 2 3 3 17 70.8
3 C 3 3 4 3 3 4 20 83.3
4 D 3 2 3 3 2 4 17 70.8
5 E 2 3 4 3 3 4 19 79.2
6 F 4 3 3 3 3 2 18 75.0
7 G 3 1 2 2 1 2 11 45.8
8 H 4 3 2 2 2 4 17 70.8
9 I 3 2 3 2 3 4 17 70.8
10 J 3 2 3 3 3 4 18 75.0
11 K 4 3 3 4 4 4 22 91.7
12 L 3 2 3 3 2 4 17 70.8
13 M 4 3 4 4 4 2 21 87.5
14 N 4 3 3 2 3 4 19 79.2
15 O 4 3 2 3 3 3 18 75.0
16 P 3 2 2 2 3 2 14 58.3
17 Q 3 3 2 3 2 4 17 70.8
18 R 3 3 3 3 2 4 18 75.0
19 S 3 2 2 3 3 4 17 70.8
20 T 3 3 3 3 3 4 19 79.2
21 U 4 2 3 2 2 4 17 70.8
22 V 3 2 2 3 3 2 15 62.5
23 W 3 2 3 3 2 4 17 70.8
24 X 2 1 2 2 1 1 9 37.5
25 Y 4 3 3 3 3 4 20 83.3
26 Z 3 2 3 3 2 4 17 70.8
Jumlah 83 62 73 71 67 88 444 1850.0
Rata-rata 3.19 2.38 2.81 2.73 2.58 3.38 17.08 71.2

Grafik D.1.1 Grafik Peresentase Ketuntasan Hasil belajar Psikomotorik

Berdasarkan grafik tersebut terlihat bahwa presentasi ketuntasan hasil belajar
siswa berada dalam kategoti tinggi. Pada grafik terlihat terdapat 80,77 % siswa
yang berada dalam kategori tuntas dalam hal ini terdapat 21 orang siswa yang
dalam kategori tuntas dari jumlah keseluruhan siswa yaitu 26 orang yang berarti
bahwa terdapat 21 orang yang berhasil mencapai nilai standar KKM, sebaliknya
terdapat 19,23 % siswa yang terdiri dari 5 orang dari jumlah keseluruhan yang
berada dalam kategori tidak tuntas yang berarti tidak berhasil mencapai nilai
standar KKM yang telah ditetapkan.
LAMPIRAN D.3 DATA HASIL PENGAMATAN AFEKTIF SISWA
Tabel D.3.1 Data Hasil Pengamatan Afektif Siswa Pertemuan I
NO NAMA
ASFEK YANG DI NILAI
SKOR NILAI
1 2 3 4 5 6 7 8
1
A
2 1 2 2 1 2 3 3 16 66.7
2
B
2 1 2 2 1 2 2 2 14 58.3
3
C
3 2 2 3 2 3 3 3 21 87.5
80.77 %
19.23 %
Tuntas
Tidak Tuntas
4
D
3 2 3 3 2 3 3 3 22 91.7
5
E
3 2 1 2 2 2 3 3 18 75.0
6
F
2 1 1 1 1 2 2 3 13 54.2
7
G
2 1 1 2 1 1 2 1 11 45.8
8
H
2 2 3 3 2 3 3 3 21 87.5
9
I
2 1 3 3 1 3 3 3 19 79.2
10
J
2 2 3 3 1 3 3 3 20 83.3
11
K
3 2 1 2 2 3 3 1 17 70.8
12
L
2 1 2 2 1 2 3 2 15 62.5
13
M
3 2 3 3 2 3 3 3 22 91.7
14
N
3 2 2 3 2 3 3 3 21 87.5
15
O
3 2 1 2 2 2 3 2 17 70.8
16
P
2 2 3 3 1 3 3 3 20 83.3
17
Q 3 2 3 3 2 3 3 3
22 91.7
18
R
3 2 3 3 2 3 3 3 22 91.7
19
S
2 2 3 3 2 3 3 3 21 87.5
20
T
3 2 3 3 2 3 3 3 22 91.7
21
U
2 2 3 2 1 3 3 3 19 79.2
22
V
2 1 1 1 1 1 2 2 11 45.8
23
W
2 2 3 3 2 3 3 3 21 87.5
24
X
2 1 2 1 1 1 2 1 11 45.8
25
Y
3 2 3 3 2 3 3 3 22 91.7
26
Z 2 2 2 3 2 3 2 3
19 79.2
Jumlah 63 44 59 64 41 66 72 68 477 1873.3
Rata-rata 2.4 1.7 2.3 2.5 1.6 2.5 2.8 2.6 18.3 72.1


Tabel D.3.2 Data Hasil Pengamatan Afektif Siswa Pertemuan II
NO NAMA
ASFEK YANG DI NILAI
SKOR NILAI
1 2 3 4 5 6 7 8
1
A
2 1 2 2 1 2 2 3 15 62.5
2
B
2 2 2 2 2 2 2 2 16 66.7
3
C
3 2 2 3 3 3 3 3 22 91.7
4
D
3 2 2 3 3 3 3 3 22 91.7
5
E
3 2 2 2 2 2 3 3 19 79.2
6
F
2 1 1 2 2 2 2 2 14 58.3
7
G
2 1 2 2 1 2 2 1 13 54.2
8
H
3 2 2 3 2 3 3 3 21 87.5
9
I
2 1 2 3 2 2 3 3 18 75.0
10
J
2 2 2 3 2 2 3 3 19 79.2
11
K
3 2 2 3 3 2 2 2 19 79.2
12
L
2 1 2 2 2 2 2 1 14 58.3
13
M
3 2 3 3 3 2 3 3 22 91.7
14
N
3 2 3 3 3 2 3 2 21 87.5
15
O
2 2 2 2 2 2 2 1 15 62.5
16
P
2 1 3 3 1 2 3 3 18 75.0
17
Q 3 2 2 3 3 2 3 3
21 87.5
18
R
3 2 3 3 3 3 3 3 23 95.8
19
S
3 2 3 3 3 3 3 3 23 95.8
20
T
3 2 3 3 3 3 3 3 23 95.8
21
U
2 2 3 2 2 3 3 3 20 83.3
22
V
2 1 2 2 1 2 2 1 13 54.2
23
W
2 2 3 3 2 3 3 3 21 87.5
24
X
2 1 2 2 2 1 2 1 13 54.2
25
Y
3 2 3 3 3 3 3 3 23 95.8
26
Z 2 1 2 3 2 2 3 3
18 75.0
Jumlah 64 43 60 68 58 60 69 64 486 2025
Rata-rata 2.5 1.7 2.3 2.6 2.2 2.3 2.7 2.5 18.7 77.9


Tabel D.3.3 Data Hasil Pengamatan Afektif Siswa Pertemuan III
NO NAMA
ASPEK YANG DI NILAI
SKOR NILAI
1 2 3 4 5 6 7 8
1
A
2 1 2 2 1 3 3 2 16 66.7
2
B
2 2 2 2 1 3 3 2 17 70.8
3
C
2 3 3 3 3 3 3 3 23 95.8
4
D
2 2 3 3 2 3 3 3 21 87.5
5
E
2 2 2 2 2 3 3 3 19 79.2
6
F
2 1 2 2 1 3 2 3 16 66.7
7
G
2 1 2 2 1 2 3 2 15 62.5
8
H
2 2 3 3 2 3 3 3 21 87.5
9
I
2 2 2 3 1 3 3 3 19 79.2
10
J
2 2 2 3 2 3 3 3 20 83.3
11
K
2 2 2 2 2 3 3 2 18 75.0
12
L
2 2 2 2 1 2 3 2 16 66.7
13
M
3 2 3 3 2 3 3 3 22 91.7
14
N
3 2 2 2 2 3 3 3 20 83.3
15
O
3 3 2 3 2 2 3 2 20 83.3
16
P
2 2 3 3 1 2 3 3 19 79.2
17
Q 2 2 3 3 2 3 3 3
21 87.5
18
R
2 2 3 3 2 3 3 3 21 87.5
19
S
2 2 3 3 1 3 3 3 20 83.3
20
T
3 2 3 3 2 3 3 3 22 91.7
21
U
2 2 3 2 1 3 3 3 19 79.2
22
V
2 1 2 2 1 2 2 2 14 58.3
23
W
2 2 3 3 1 3 3 3 20 83.3
24
X
2 1 2 2 1 2 2 2 14 58.3
25
Y
3 2 3 3 3 3 3 3 23 95.8
26
Z 2 2 2 3 2 3 3 3
20 83.3
Jumlah 57 49 64 67 42 72 75 70 496 2066.7
Rata-rata 2.2 1.9 2.5 2.6 1.6 2.8 2.9 2.7 19.1 79.5

Tabel D.3.4 Data Hasil Pengamatan Afektif Siswa Pertemuan IV
NO NAMA
ASFEK YANG DI NILAI
SKOR NILAI
1 2 3 4 5 6 7 8
1
A
2 1 3 3 1 3 3 3 19 79.2
2
B
2 1 3 3 1 3 3 3 19 79.2
3
C
2 3 3 3 3 3 3 3 23 95.8
4
D
3 2 3 3 2 3 3 3 22 91.7
5
E
2 2 2 2 2 3 3 3 19 79.2
6
F
2 1 2 3 1 3 2 3 17 70.8
7
G
2 1 2 2 1 1 3 2 14 58.3
8
H
2 3 3 3 2 3 3 3 22 91.7
9
I
2 2 2 3 1 3 3 3 19 79.2
10
J
2 2 2 3 2 3 3 3 20 83.3
11
K
2 2 2 2 2 3 3 3 19 79.2
12
L
2 2 2 2 2 2 3 2 17 70.8
13
M
2 2 3 3 2 3 3 3 21 87.5
14
N
2 2 3 3 2 3 3 2 20 83.3
15
O
3 3 2 3 3 2 3 2 21 87.5
16
P
2 1 3 3 1 2 3 3 18 75.0
17
Q 2 3 3 3 3 3 3 3
23 95.8
18
R
2 3 3 3 2 3 3 3 22 91.7
19
S
2 2 3 3 2 3 3 3 21 87.5
20
T
3 2 3 3 2 3 3 3 22 91.7
21
U
2 2 3 2 2 3 3 3 20 83.3
22
V
2 1 1 2 1 1 2 2 12 50.0
23
W
2 2 3 3 1 3 3 3 20 83.3
24
X
2 1 1 2 1 1 2 2 12 50.0
25
Y
2 3 3 3 3 3 3 3 23 95.8
26
Z 2 2 2 3 2 3 3 3
20 83.3
Jumlah 55 51 65 71 47 69 75 72 505 2104.167
Rata-rata 2.1 2.0 2.5 2.7 1.8 2.7 2.9 2.8 19.4 80.9
Tabel D.3.5 Data Hasil Pengamatan Afektif Siswa Pertemuan V
NO NAMA
ASFEK YANG DI NILAI
SKOR NILAI
1 2 3 4 5 6 7 8
1
A
2 2 3 3 1 2 3 3 19 79.2
2
B
2 2 2 3 2 2 3 3 19 79.2
3
C
3 3 3 3 2 3 3 3 23 95.8
4
D
3 2 3 3 2 3 3 3 22 91.7
5
E
3 3 2 3 2 2 3 3 21 87.5
6
F
2 1 2 2 1 3 3 3 17 70.8
7
G
2 1 2 2 1 2 3 2 15 62.5
8
H
3 3 3 3 2 3 3 3 23 95.8
9
I
3 2 2 3 1 3 3 3 20 83.3
10
J
2 1 2 3 1 3 3 3 18 75.0
11
K
3 3 2 2 2 3 3 3 21 87.5
12
L
2 2 2 3 2 2 3 2 18 75.0
13
M
2 2 3 3 2 3 3 3 21 87.5
14
N
3 2 3 3 2 3 3 2 21 87.5
15
O
3 2 2 3 2 3 3 3 21 87.5
16
P
3 2 3 3 1 3 3 3 21 87.5
17
Q 3 3 3 3 3 3 3 3
24 100.0
18
R
3 3 3 3 2 3 3 3 23 95.8
19
S
2 2 3 3 2 3 3 3 21 87.5
20
T
3 2 3 3 2 3 3 3 22 91.7
21
U
2 2 3 2 2 3 3 3 20 83.3
22
V
2 1 2 2 1 2 2 2 14 58.3
23
W
2 2 3 3 2 3 3 3 21 87.5
24
X
2 1 2 2 1 2 2 2 14 58.3
25
Y
3 2 3 3 3 3 3 3 23 95.8
26
Z 3 1 2 3 2 3 3 3
20 83.3
Jumlah 66 52 66 72 46 71 76 73 522 2175
Rata-rata 2.5 2.0 2.5 2.8 1.8 2.7 2.9 2.8 20.1 83.7






Grafik D.3.1 Grafik Skor Rata-Rata Afektif Siswa

Berdasarkan grafik tersebut terlihat bahwa skor rata-rata afektif siswa kelas Xc
SMA Negeri 1 Segeri setiap pertemuan mengalami perubahan secara linear.
Dari grafik diperoleh nilai koefisien korelasi sebesar r = +0,9793 Tanda plus
(adanya hubungan positif) menunjukkan bahwa nilai rata-rata afektif siswa
mengalami peningkatan setiap pertemuan. Sedangkan 0,9793 menunjukkan
adanya hubungan yang kuat antara nilai rata-rata afektif siswa setiap pertemuan.

18.3
18.7
19.1
19.4
20.1
y = 0.43x + 17.83
R = 0.9793
18
18.5
19
19.5
20
20.5
0 1 2 3 4 5 6
S
k
o
r

R
a
t
a
-
r
a
t
a

Pertemuan Ke-








E.1 ANALISIS DESKRIPTIF HASIL PELAJAR
E.2 ANALISIS INFERENSIAL




LAMPIRAN E
(ANALISIS DATA HASIL PENELITIAN)
LAMPIRAN E.1 ANALISIS DESKRIPTIF HASIL PELAJAR
Jumlah sampel (n) : 26
Skor tertinggi : 86
Skor terendah : 48
Skor ideal : 90
Skor rata-rata : 70,54
Rentang skor : Skor tertinggi skor terendah
= 86 - 48 = 38
Banyak kelas Interval : 6 (jumlah kelas ditentukan sesuai kebutuhan)
Panjang kelas : 38/6= 6,33 7
(Tiro, M. A. 2008:116)
Tabel Distribusi Frekuensi Skor Hasil Belajar Fisika Siswa Kelas Xc SMA
Negeri 1 Seger Kab. Pangkep Gowa yang Diajar dengan Metode
Demonstrasi yang Menggunakan Kit IPA

Skor f
i
x
i
x
i
2
f
i
x
i
f
i
x
i
2
(x-xi)
2
fi(x-xi)
2

46 52 1 49 2401 49 2401
463.91 463.91
53 59 3 56 3136 168 9408
211.37 634.10
60 66 7 63 3969 441 27783
56.83 397.80
67 73 2 70 4900 140 9800
0.29 0.58
74 80 8 77 5929 616 47432
41.75 334.01
81 87 5 84 7056 420 35280
181.21 906.07
Jumlah 26 399 27391 1834 132104 955.36 2736.46

Skor Rata-rata



Standar Deviasi





LAMPIRAN E.2 ANALISIS INFERENSIAL
1. Uji Normalitas
Tabel E.2.1 Pengujian normalitas
Interval
Skor
Eo Xi BK Z BK Luas Ei Eo - Ei (Eo - Ei)
2


1
2 3 4 5 6 7 8 9
10
46 52 1 49
45.5 52.5 -2,39 ( -1,72) 0.0343 0.8918 0.1082 0.0117 0.0131
53 59 3 56
52.5 59.5 -1,72 (-1,06) 0.1019 2.6494 0.3506 0.1229 0.0464
60 66 7 63
59.5 66.5 -1,06 (-0,39) 0.2037 5.2962 1.7038 2.9029 0.5481
67 73 2 70
66.5 73.5 -0.39 0,28 0.0376 0.9776 1.0224 1.0453 1.0693
74 80 8 77
73.5 80.5 0,28 0,95 0.2148 5.5848 2.4152 5.8332 1.0445
81 87 5 84
80.5 87.5 0,95 1,62 0.1185 3.081 1.919 3.6826 1.1952

26
3.9166

Keterangan:
Kolom 1 : Interval Skor
Tentukan salah sata batas interval terbawah dimana batas tersebut mencakup
perolehan skor terendah pada data yang diperoleh maka ditetapkan batas bawah
itu 46 selanjutnya tentukan batas atas intervalnya



Maka diperoleh interval 46 52, untuk interval selanjutnya nilai batas bawah yaitu
nilai diatas batas atas interval sebelumnya yaitu 53 selanjutnya dilakukan hal yang sama
untuk mentukan batas atas interval.
Kolom 2 : Frekuensi pada setiap interval
Kolom 3 : Nilai tengah interval


Begitupun untuk interval selanjutnya
Kolom 4 : Batas Kelas




Maka diperoleh batas kelas 45.5 52.5, begitupun untuk interval selanjutnya


Kolom 5 : Z Batas Kelas
S
X kelas Batas
Z
kelas batas


Dengan cara yang sama diperoleh
Z
BK1
= -2,39 Z
BK2
= -1,72
Z
BK3
= -1,06 Z
BK4
= -0,39
Z
BK5
= 0,28 Z
BK6
= 0,95
Z
BK7
= 1,62
Kolom 6 : luas Z (berdasarkan tabel)


Begitu pula untuk luas Z selanjutnya, adapun untuk nilai Z table


Kolom 7 : Frekuensi harapan


Begitupun untuk frekuensi harapan selanjutnya
Kolom 8 : Selisih antara frekuensi dengan frekuensi harapan



Begitupun untuk data selanjutnya
Kolom 9 : Kuadrat dari selisih antara frekuensi dengan frekuensi harapan


Begitupun untuk data selanjutnya
Kolom 10 : nilai Chi Kuadarat


Setelah dilakukan perhitungan diperoleh data


Derajat kebebasan (dk) = k 3
= 6 3
= 3
Taraf signifikansi (o ) = 0,05
( )( ) ( )( )
8147 , 7
2
3 95 , 0
2
1
2
= = =

X X X
dk tabel o

Dari hasil perhitungan di atas maka diperoleh

= 3,9166, untuk o = 0,05 dan


dk = k 3 = 6 3 = 3, maka diperoleh

tabel
= 7,8147. Dengan demikian dapat
disimpulkan bahwa

hitung
<

tabel
, hasil belajar fisika yang diperoleh kelas
Xc SMA Negeri 1 Segeri berdistribusi normal.
2. Pengujian Hipotesis
Hipotesis penelitian ini yaitu nilai rata-rata hasil belajar fisika siswa kelas Xc
SMA Negeri 1 Segeri lebih besar dari standar KKM setelah diajar dengan metode
demonstrasi yang menggunakan Kit IPA. Gambaran Hipotesis statistik adalah:

H
0
: =


H
a
: >



(Somantri, Ating dan Muhidin, Sambas Ali 2006: 166)
Keterangan :
H
0
: Nilai rata-rata hasil belajar fisika siswa kelas X SMA Negeri 1
Segeri setelah diajar dengan metode demonstrasi yang
menggunakan Kit IPA pada pembelajaran fisika sama dengan 67
H
a :
Nilai rata-rata hasil belajar fisika siswa kelas X SMA Negeri 1
Segeri setelah diajar dengan metode demonstrasi yang
menggunakan Kit IPA pada pembelajaran fisika lebih besar dari 67
: Nilai rata-rata hasil belajar yang diperoleh dari sampel

: Nilai KKM yang telah ditetapkan yaitu 67


Berdasarkan bunyi hipotesis yang telah diajukan, maka jenis hipotesis
yang digunakan adalah uji pihak kanan dengan menggunakan uji z dengan
= 0,05. Penggambaran statistiknya adalah:


(Somantri, Ating dan Muhidin, Sambas Ali 2006: 166)
Dimana


Keterangan
= rata-rata nilai yang diperoleh dari hasil pengumpulan data

= Rata-rata nilai yang dihipotesiskan (nilai KKM)


= Standar deviasi dari distribusi sampel rata-rata


= Banyak sampel


Sehingga



Dengan taraf = 0,05 dari daftar normal baku memberikan z
0,45
= 1,64. Harga
z
hitung
= 5,55 lebih besar dari z
tabe
l = 1,64. Maka H
a
diterima dan H
0
ditolak. Ini
berarti nilai rata-rata hasil belajar fisika siswa kelas Xc SMA Negeri 1 Segeri
lebih besar dari standar KKM yaitu 67 setelah diajar dengan metode demonstrasi
yang menggunakan Kit IPA.