Anda di halaman 1dari 4

Jurnal Nefrologi Kepada Yth. Nusarintowati NUV 20030708 .

Kadar N-acetyl--D-glucosaminidase urin pada anak dengan urolitiasis, nefrokalsinosis, atau memiliki risiko urolitiasis Judul Asli Urinary NAG in children with urolithiasis, nephrocalcinosis, or risk of urolithiasis Przemyslaw Sikora, Sara Glatz, Bodo B.Beck, Ludwig Stapenhorst, Malgorzata Zajaczkowska, Albercht Hesse, Bernd Hoppe Pediatr Nephrol (2003) 18:996-999 Latar belakang Interaksi kristal dan sel yang mengawali formasi terbentuknya batu dapat menyebabkan kerusakan dan atau disfungsi tubular. Batu menyebabkan peningkatan ekskresi membran sel dan hal ini menggambarkan turn over sel epitel tubular yang bertambah. N-acetyl--D-glucosaminidase (NAG) merupakan enzim lisosom yang terdapat pada semua segmen nefron terutama epitel tubulus proksimal. Peningkatan ekskresi NAG urin menunjukkan terdapatnya kerusakan tubulus proksimal. Tujuan Mengukur kadar NAG urin pada anak dengan nefrokalsinosis atau mempunyai risiko tinggi urolitiasis akibat hiperoksalurioa atau hiperkalsiuria. Metode Tempat penelitian : Division of Pediatric Nephrology University Childrens Hospital di Cologne, Jerman. Kontrol diambil 70 anak sehat usia 4 - 6 tahun (median 10,3 tahun) terdiri dari 35 anak laki-laki dan 35 anak perempuan. Subyek penelitian 142 anak usia 4 - 6 tahun (median 9,6 tahun) terdiri dari 81 anak laki-laki dan 61 anak perempuan. Sebaran subyek penelitian : o Urolitiasis (UL) : 50 anak; 19 diantaranya telah dilakukan analisis batu dengan hasil dihidrat oksalat. o Riwayat urolitiasis (ULH) : 30 anak. 1

o Nefrokalsinosis (NC) : 20 anak. o Hiperoksaluria sekunder (HyOx): 34 anak. o Hiperkalsiuria (HC) : 8 anak. NC ditegakkan dengan pemeriksaan USG dan/atau X-ray dan terdapatnya faktor seperti hiperkalsiuria, hiperoksaluria, RTA distal dan hipositraturia. Pada HyOx dan HC dapat terjadi isolated hematuria yang berulang dan menetap, proteinuria ringan, ginjal hiperechoic, penyakit Chrohn, kistik fibrosis. Seluruh subyek mempunyai fungsi ginjal yang normal, tidak terdapat infeksi saluran kemih dan tidak terdapat kelainan pada pemeriksaan USG. Pada kontrol tidak dilakukan USG. Urin dikumpulkan dalam 24 jam atau diambil sampel urin pagi pada hari kedua, kemudian NAG diukur dengan metode kolorimeter. (Boehringer Mannheim, Jerman). Hasil pemeriksaan berupa rasio NAG dibanding konsentrasi kreatinin urin (NAG/Cr). Kadar kalsium urin diukur dengan spektroskopi; kadar oksalat urin diukur dengan enzim. Hasil pemeriksaan molar Cr. Analisis statistik dengan Mann-Whitney test, ANOVA, Spearmans test dan pemasukan data dengan SPSS. p value < 0,005 dianggap bermakna. Telah mendapat persetujuan komite etik dan persetujuan orang tua diambil sebelum diambil sampel urin.

Hasil Peningkatan rasio NAG/Cr terjadi pada 56% anak dengan UL, 45% NC, 25% HC, 14,7% HyOx dan 13,3% ULH. Rasio NAG/Cr pada anak dengan UL yang disertai hematuria lebih tinggi dibandingkan tanpa hematuria. UL+hematuria: median 0,72 (0,25-1,77 U/mmol). UL tanpa hematuria median 0,45 (0,18-0,9 U/mmol). Rasio NAG/Cr pada anak dengan UL, NC, ULH lebih tinggi dibanding kontrol. Secara statistik terdapat perbedaan bermakna antara rasio NAG/Cr pada anak dengan UL dengan ULH dengan nilai p<0.001. Tidak terdapat perbedaan bermakna antara rasio NAG/Cr pada anak dengan ULH kurang atau lebih dari 1 tahun. Pada HyOx dan HC terhadap kontrol tidak ditemukan perbedaan bermakna secara statistik. Pemeriksaan ekskresi kalsium urin dan oksalat urin pada kelima grup tidak menunjukkan perbedaan bermakna. Perbedaan bermakna terdapat pada analisis statistik antar grup yaitu : o HC vs UL, NC, ULH dan HyOx. o UL vs ULH, HyOx. o UL vs ULH. o NC vs ULH, HC. 2

o HyOx vs UL, ULH. Diskusi Beberapa penelitian sebelumnya menunjukkan peningkatan NAG atau enzim tubular lain yang berkaitan dengan proses terbentuknya batu. Hipotesa: peningkatan ekskresi merupakan tanda kerusakan tubular primer atau sekunder. Penelitian Jagger 1986 menyimpulkan pada urolitiasis, tubulopati yang terjadi bukan akibat proses penyakit namun akibat terjadi obstruksi (mekanis) batu yang merusak epitel. Penelitian Winter 1996 melaporkan pembentukan batu kalsium oksalat menyebabkan peningkatan ekskresi NAG. Terdapat hubungan positif antara supersaturasi kalsium oksalat urin dengan kadar NAG serta rasio NAG/Cr dengan ekskresi oksalat pada perempuan. Pada pasien dengan HyOx sekunder tanpa batu tidak terdapat perbedaan bermakna antara rasio NAG/Cr dengan kontrol. Beberapa penelitian menyebutkan oksalat bersifat nefrotoksin. Pemeriksaan Scheid 1995 membuktikan efek toksik oksalat pada sel LLCPK1 (sel epitel ginjal). Jonassen 1999 melaporkan toksisitas sel pada kondisi HyOx primer. Khan 1991 melaporkan pada percobaan binatang bahwa keadaan HyOx kronik ringan menyebabkan penumpukkan krintal kalsium oksalat pada tubulus distal sedangkan pada HyOx kronik berat penumpukkan terjadi pada tubulus proksimal. Kondisi terakhir menyerupai HyOx primer pada manusia. Pada penelitian ini, ekskresi oksalat ringan (<0,8 mmol/1,73m 2/24 jam) kecuali pada 3 anak dengan HyOx primer. Pada penelitian ini rasio NAG/Cr grup HyOx juga normal (karena merupakan HyOx sekunder). Hubungan antara HC dan sel epitel tubulus masih belum diketahui. Turkman 1997 pada percobaan kelinci melaporkan terdapat penumpukkan kalsium di tubulus proksimal dan distal juga kapsul Bowman dan dinding pembuluh darah. Pada penelitian ini meskipun 25% anak HC terjadi peningkatan NAG/Cr namun bila dibandingkan kontrol tidak terdapat perbedaan bermakna. Hal ini dapat saja diakibatkan jumlah sampel yang sedikit (n=8). NC akibat berbagai faktor metabolik berkaitan dengan kerusakan tubulus proksimal. Patogenesis UL dan NC memiliki kesamaan. Balla 1998 menyebutkan NAG dapat dipergunakan sebagai parameter kerusakan tubulus pada pasien dengan abtu ginjal. Pada penelitian ini rasio NAG/Cr tertinggi didapatkan pada pasien dengan aktivitas metabolik yang tinggi yaitu UL dengan hematuria. ULH memiliki rasio NAG/Cr lebih tinggi dari kontrol namun hanya 13% yang mengalami peningkatan ekskresi NAG dan tidak terdapat perbedaan bermakna rasio tersebut pada ULH kurang atau lebih dari 1 tahun.

UL dan NC dapat menyebabkan kerusakan tubulus proksimal sebagai konsekuensi aktivasitas metabolik penyakit tersebut serta terdapatnya efek mekanis batu. Mekanisme kerusakan sel amatlah kompleks. Hiperoksaluria ringan atau hiperkalsiuria saja tidak cukup untuk dapat menimbulkan kerusakan tubulus. NAG dapat menjadi parameter aktivitas urolitiasis namun masih memerlukan penelitian lebih lanjut. Telaah kritis jurnal

Penilaian validitas penelitian (Validity) Penelitian tidak dilakukan secara acak. Subyek penelitian diambil berdasarkan data retrospektif. Kontrol diambil sesuai usia dan perbandingan jenis kelamin yang sama. Kriteria pemeriksaan urin disebutkan dengan jelas. Kesimpulan : SAHIH (Valid) Penilaian terhadap pentingnya penelitian (Importance) Apakah hasil penelitian berarti secara klinis sehingga mempengaruhi tata laksana pasien? Tidak Hasil penelitian menunjukkan proses kerusakan dim tubulus proksimal ginjal namun tidak berkaitan dengan tata laksana. Kesimpulan : TIDAK PENTING Penilaian kemamputerapan hasil penelitian (Applicability) 1. Apakah subyek penelitian mempunyai karakteristik yang sama dengan pasien kita? Tidak. 2. Apakah penelitian tersebut tersedia? Tidak. 3. Apakah secara keseluruhan penelitian ini bermanfaat bagi pasien? Tidak, hasil penelitian ini hanya bersifat penunjang diagnosis. Kesimpulan : BELUM MAMPU TERAP