Anda di halaman 1dari 18

MAKALAH ILMU TEKNOLOGI PANGAN BAHAN TAMBAHAN MAKANAN ASAM SITRAT

Dosen Pengampu :

Fitriyono Ayustaningwarno, S.TP., M.Si

disusun oleh : Rahmawati 22030111130028

PROGRAM STUDI ILMU GIZI FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS DIPONEGORO SEMARANG 2012

BAB I PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang Zat aditif adalah suatu bahan kimia yang ditambahkan ke dalam makanan dengan maksud dan tujuan tertentu. Biasanya zat aditif ditambahkan ke dalam makanan pada saat proses pengolahan. Penambahan zat aditif dalam makanan berdasarkan pertimbangan agar mutu dan

kestabilan makanan tetap terjaga dan untuk mempertahankan nilai gizi yang mungkin rusak atau hilang selama proses pengolahan.1 Pengolahan pangan belakangan ini mempunyai kecenderungan untuk memproduksi makanan yang panjang umur simpannya (awet) dan mudah disajikan (convenient). Hal tersebut didorong oleh faktor-faktor seperti sifat bahan pangan segar yang umumnya mudah rusak (perishable) dan musiman, serta gaya hidup yang menginginkan segala sesuatunya serba mudah dan cepat. Untuk mendapatkan makanan yang demikian, salah satu usaha yang digunakan adalah dengan menambahkan bahan pengawet, baik untuk mencegah tumbuhnya mikroba maupun untuk mencegah terjadinya reaksireaksi kimia yang tidak dikehendaki selama pengolahan dan penyimpanan. 2 Dan salah satu pengawet makanan serta pemberi cita rasa asam yang sering digunakan adalah asam sitrat.

1.2 Perumusan Masalah 1.2.1 Apa pengertian dari Bahan Tambahan Makanan ? 1.2.2 Apa saja jenis-jenis dari Bahan Tambahan Makanan? 1.2.3 Apa yang di maksud dengan Asam Sitrat ? 1.2.4 Bagaimana rumus struktur asam sitrat itu? 1.2.5 Apa pengaruh atau resiko yang ditimbulkan akibat penambahan asam sitrat pada bahan pangan? 1.2.6 Apa kegunaan dari asam sitrat? 1.2.7 Berapa batas konsumsi asam sitrat yang diperbolehkan?

1.3 Maksud dan Tujuan 1.3.1 Mengetahui apa yang dimaksud dengan Bahan Tambahan Makanan 1.3.2 Mengetahui jenis-jenis Bahan Makanan yang sering digunakan 1.3.3 Mengetahui deskripsi, kegunaan, resiko kesehatan, dan batas konsumsi asam sitrat

1.4 Manfaat Memahami apa kegunaan dari bahan tambahan makanan terutama asam sitrat, bagaimana resikonya terhadap kesehatan, dan batas konsumsi (regulasi) asam sitrat tersebut.

BAB II ISI

2.1 Pengertian Bahan Tambahan Makanan Bahan Tambahan Makanan (BTM) atau food additives adalah senyawa (atau campuran berbagai senyawa) yang sengaja ditambahkan ke dalam makanan dan terlibat dalam proses pengolahan, pengemasan dan/atau penyimpanan, dan bukan merupakan bahan (ingredient) utama. BTM dan produk-produk degradasinya, biasanya tetap di dalam makanan, tetapi ada beberapa yang sengaja dipisahkan selam proses pengolahan.2 Tujuan penambahan Bahan Tambahan Makanan antara lain untuk : (1) Meningkatkan nilai gizi makanan (2) Memperbaiki nilai sensori makanan (3) Memperpanjang umur simpan (shelf life) makanan. Bahan-bahan tambahan seperti vitamin, mineral, atau asam amino biasanya ditambahkan untuk memperbaiki dan/atau menaikkan nilai gizi suatu makanan.2 Warna, bau, dan konsistensi/tekstur suatu bahan pangan dapat berubah atau berkurang akibat pengolahan dan penyimpanan. Hal ini dapat diperbaiki dengan penambahan BTM seperti pewarna, senyawa pembentuk warna, penegas rasa, pengental, penstabil, dan lain-lain. Pembentukan bau yang menyimpang (off flavor) pada produk-produk berlemak dapat dicegah dengan penambahan antioksidan.2 Tekstur makanan dapat diperbaiki dengan penambahan mineral, pengemulsi, pengental dan/atau penstabil seperti monogliserida, hidrokoloid, dan lain-lain.2

2.2 Jenis Bahan Tambahan Makanan Bahan Tambahan Makanan (BTM) dapat dikelompokkan berdasarkan fungsinya, yaitu2 : (1) antioksidan dan antioksidan sinergis, (2) anti kempal, (3) pengasam, penetral dan pendapar,

(4) enzim, (5) pemanis buatan, (6) pemutih dan pematang, (7) penambah gizi, (8) pengawet, (9) pengemulsi, pemantap dan pengental, (10) pengeras, (11) pewarna alami dan sintetik, (12) penyedap rasa dan aroma, (13) sekuestran, dan (14) bahan tambahan lain.

2.3 Deskripsi Asam Sitrat 2.3.1 Sejarah Asam Sitrat Asam Sitrat diyakini ditemukan oleh alkimiawan Arab-Yaman (kelahiran Iran) yang hidup pada abad ke-8, Jabir Ibnu Hayyan. Pada zaman pertengahan, para ilmuwan Eropa membahas sifat asam sari buah lemon dan limau; hal tersebut tercatat dalam Ensiklopedia Speculum Majus (Cermin Agung) dari abad ke-13 yang dikumpulkan oleh Vincent dari Beauvais. Asam Sitrat pertama kali diisolasi pada tahun 1784 oleh kimiawan Swedia, Carl Wilhelm Scheele, yang mengkristalkannya dari sari buah lemon. Pembuatan Asam Sitrat skala industri dimulai pada tahun 1860, terutama mengandalkan produksi jeruk dari Italia. Pada tahun 1893, C. Wehmer menemukan bahwa kapang Penicillium dapat membentuk Asam Sitrat dari gula. Namun demikian, pembuatan Asam Sitrat dengan mikroba secara industri tidaklah nyata sampai Perang Dunia I mengacaukan ekspor jeruk dari Italia.3 Pada tahun 1917, kimiawan pangan Amerika, James Currie menemukan bahwa galur tertentu kapang Aspergillus niger dapat

menghasilkan Asam Sitrat secara efisien, dan perusahaan kimia Pfizer memulai produksi Asam Sitrat skala industri dengan cara tersebut dua tahun kemudian.3

Di alam, Asam Sitrat tersebar luas sebagai bahan penyusun rasa dari berbagai macam buah-buahan (sitrun, nenas, pear, dan lain-lain). Asam Sitrat terdapat pada berbagai jenis buah dan sayuran, namun ditemukan pada konsentrasi tinggi, yang dapat mencapai 8 % bobot kering, pada jeruk lemon dan limau (misalnya jeruk nipis dan jeruk purut). Karena sifat-sifatnya yang tidak beracun, dapat mengikat logam-logam berat (besi maupun bukan besi), dan dapat menimbulkan rasa yang menarik, Asam Sitrat banyak dimanfaatkan di dalam industri pengolahan alkyd resin. Asam Sitrat alami juga banyak diproduksi di Sisilia, India Barat, Kalifornia, Hawaii, dan di berbagai wilayah lainnya. Produksi Asam Sitrat dengan proses fermentasi diterapkan secara besar-besaran dalam skala industri oleh Jerman pada awal abad ke-20 dan sekarang hampir 90% dari seluruh produksi Asam Sitrat di Amerika Serikat dihasilkan dengan cara fermentasi. Mikroba penghasil asam sitrat antara lain4 : Aspergillus niger Aspergillus wentii Penicillium luteum, P.citrinum Mucor piriformis Citromyces pfefferianus Candida lipolytica Trichoderma viridae Corynebacterium sp. dll
3

2.3.2 Struktur Kimia Asam Sitrat Rumus kimia Asam Sitrat adalah C6H8O7 atau CH2(COOH)COH(COOH)-CH2(COOH), struktur asam ini tercermin pada nama IUPACnya, asam 2-hidroksi-1,2,3-propanatrikarboksilat. Keasaman Asam Sitrat didapatkan dari tiga gugus karboksil COOH yang dapat melepas proton dalam larutan. Jika hal ini terjadi, ion yang dihasilkan adalah ion sitrat.3

Gambar 2.1 Struktur Molekul Asam Sitrat3

2.3.3 Sifat-sifat Asam Sitrat (C6H8O7) 2.3.3.1 Sifat Fisika3 1. Berat molekul 2. Spesific gravity 3. Titik lebur 4. Titik didih 5. Kelarutan dalam air : 192 gr/mol : 1,54 (20C) : 153C : 175C : 207,7 gr/100 ml (25C)

6. Pada titik didihnya asam sitrat terurai (terdekomposisi). 7. Berbentuk kristal berwarna putih, tidak berbau, dan memiliki rasa asam. 2.3.3.2 Sifat Kimia3 1. Kontak langsung (paparan) terhadap Asam Sitrat kering atau larutan dapat menyebabkan iritasi kulit dan mata. 2. Mampu mengikat ion-ion logam sehingga dapat digunakan sebagai pengawet dan penghilang kesadahan dalam air. 3. Keasaman Asam Sitrat didapatkan dari tiga gugus karboksil -COOH yang dapat melepas proton dalam larutan. 4. Asam Sitrat dapat berupa kristal anhidrat yang bebas air atau berupa kristal monohidrat yang mengandung satu molekul air untuk setiap molekulnya.

5. Bentuk anhidrat Asam Sitrat mengkristal dalam air panas, sedangkan bentuk monohidrat didapatkan dari kristalisasi Asam Sitrat dalam air dingin. 6. Bentuk monohidrat Asam Sitrat dapat diubah menjadi bentuk anhidrat dengan pemanasan pada suhu 70-75C. 7. Jika dipanaskan di atas suhu 175C akan terurai (terdekomposisi) dengan melepaskan karbon dioksida (CO2) dan air (H2O).

2.3.4 Diagram Biosintesis Asam Sitrat

Gambar 2.2 Diagram Biosintesis Asam Sitrat4

2.4 Resiko penggunaan Asam Sitrat terhadap Kesehatan 2.4.1 Resiko utama dan sasaran organ Iritasi saluran pernafasan, kulit, mata (kemungkinan dapat parah).5 2.4.2 Rute paparan 2.4.2.1 Paparan Jangka Pendek5 Terhirup : sakit tenggorokan, muntah, gangguan pencernaan Kontak dengan kulit : iritasi Kontak dengan mata : iritasi (mungkin parah)

Tertelan : iritasi, kesulitan bernafas

2.4.2.2 Paparan jangka panjang5 Kontak dengan kulit : sama seperti efek pada paparan jangka pendek Kontak dengan mata : sama seperti efek pada paparan jangka pendek Tertelan : gigi membusuk

2.4.3 Efek Klinis 2.4.3.1 Keracunan Akut5 Terhirup : terhirup bahan ini menyebabkan iritasi mukosa membran dengan luka pada tenggorokan, batuk dan nafas pendek. Reaksi alergi dapat terjadi pada beberapa individu. Kontak dengan kulit : kontak menyebabkan iritasi sedang dengan gejala kemerahan dan rasa sakit. Reaksi alergi dapat terjadi pada beberapa individu. Kontak dengan mata : kontak menyebabkan iritasi parah dengan gejala kemerahan, rasa sakit dan kemungkinan terbakar. Larutan jenuh dalam jumlah banyak yang menyebar pada mata

menyebabkan reaksi konjungtiva yang parah dan terjadi borok pada kornea dan menyebabkan leukoma yang luas. Pemberian 0.5% larutan dengan cara mengaliri kornea selama 30 menit

menyebabkan pandangan kabur permanen pada mata kelinci. 2% larutan menyebabkan kekeruhan (opacification) yang parah pada mata. Tertelan gejala : tertelan dalam jumlah banyak dapat tetapi bila menetap sementara menyebabkan dalam saluran

akut

pencernaan disertai dengan muntah dan diare. Konsentrasi larutan menyebabkan korosif ringan pada saluran tenggorokan bagian atas dengan gejala luka pada tenggorokan, rasa sakit pada perut, membran mukosa dalam mulut dan tenggorokan kasar dan mengkerut, pembengkakan dan perubahan warna pada perut dan

usus. Kematian pernah dilaporkan karena menelan 20-30 gram asam murni. Dosis letal pada tikus menyebabkan metabolisme asam dan kekurangan kalsium 2.4.3.2 Keracunan Kronis5 Terhirup : terpapar secara berlebihan dalam jangka waktu lama menyebabkan kerusakan enamel gigi. Kontak dengan kulit : kontak yang berulang atau dalam jangka waktu yang lama menyebabkan dermatitis. Kontak dengan mata : gejala tergantung pada konsentrasi dan lamanya terpapar. Dapat pula terjadi konjungtivitis atau efek yang sejenis seperti pada terpapar akut Tertelan : frekuensi yang sering dan asupan yang

banyak menyebabkan erosi pada gigi dan iritasi lokal. Selain efek-efek yang telah disebutkan, ternyata berdasarkan penenlitian terbaru yang dilakukan oleh tim peneliti dari Southern Lilinois University School of Dental Medicine dan dipublikasikan oleh AGD, diperoleh hasil bahwa asam sitrat secara signifikan dapat mengakibatkan kerusakan enamel gigi. Dengan uji coba menyelupkan secuil enamel gigi ke dalam minuman soda, diketahui asam sitrat dapat menurunkan berat enamel gigi sebanyak 5 persen selama 48 jam.6 2.5 Penanganan Efek yang Ditimbulkan Terhirup : segera pindahkan korban dari daerah paparan. Jika perlu gunakan masker berkatup atau peralatan serupa untuk melakukan pernafasan buatan (pernafasan penyelamatan). Segera hubungi dokter. 5 Kontak dengan kulit : lepaskan segera pakaian, perhiasan dan sepatu yang terkontaminasi. Cuci dengan sabun atau deterjen lunak dan air yang banyak hingga tidak ada sisa bahan kimia (sekurang-kurangnya 15-20 menit). Bila perlu segera hubungi dokter.5 Kontak dengan mata : segera cuci mata dengan air yang banyak atau larutan garam fisiologis (0.9% b/v), buka sekali-sekali kelopak

mata bagian atas dan bawah hingga tidak ada lagi sisa bahan kimia . teruskan dengan mengaliri garam fisologis ke mata sampai siap dibawa kerumah sakit. Segera hubungi dokter.5 Tertelan : bila terjadi muntah, letakkan posisi kepala lebih rendah dari panggul untuk mencegah aspirasi. Segera bawa ke dokter.5 2.5 Regulasi Asam Sitrat 2.5.1 Kegunaan Asam Sitrat Penggunaan utama Asam Sitrat saat ini adalah sebagai zat pemberi cita rasa dan pengawet makanan dan minuman, terutama minuman ringan. Kode Asam Sitrat sebagai zat aditif makanan (E number) adalah E330. Sifat sitrat sebagai larutan penyangga digunakan sebagai pengendali pH dalam larutan pembersih dalam rumah tangga. Kemampuan Asam Sitrat untuk mengikat ion-ion logam menjadikannya berguna sebagai bahan sabun dan deterjen. Dengan mengikat ion-ion logam pada air sadah, Asam Sitrat akan memungkinkan sabun dan deterjen membentuk busa dan berfungsi dengan baik tanpa penambahan zat penghilang kesadahan.3 Asam Sitrat juga digunakan untuk memulihkan bahan penukar ion yang digunakan pada alat penghilang kesadahan dengan menghilangkan ion-ion logam yang terakumulasi pada bahan penukar ion tersebut sebagai kompleks sitrat. Asam Sitrat dapat pula ditambahkan pada es krim untuk menjaga terpisahnya gelembung-gelembung lemak, dan dalam resep makanan Asam Sitrat dapat digunakan sebagai pengganti sari jeruk. Asam Sitrat dikategorikan aman digunakan pada makanan oleh semua badan pengawasan makanan nasional dan internasional utama. 3 Asam sitrat juga terdapat dalam sari buah-buahan seperti nenas, jeruk, lemon, markisa. Asam ini dipakai untuk meningkatkan rasa asam (mengatur tingkat keasaman) pada berbagai pengolahan minum, produk air susu, selai, jeli, dan lain-lain. Asam sitrat berfungsi sebagai pengawet pada keju dan sirup, digunakan untuk mencegah proses kristalisasi dalam madu, gula-gula (termasuk fondant), dan juga untuk mencegah pemucatan berbagai makanan, misalnya buah-buahan kaleng dan ikan. Larutan asam

10

sitrat yang encer dapat digunakan untuk mencegah pembentukan bintikbintik hitam pada udang.7 Dari rumus strukturnya, asam sitrat ini dapat berfungsi sebagai kelator terhadap logam. Dalam industri bioteknologi dan obat-obatan digunakan sebagai pelapis (passivate) pipa mesin, dalam proses kemurnian tinggi untuk menggantikan asam nitrat.7 Selain itu, asam sitrat juga banyak digunakan dalam beberapa jenis bahan pangan sebagai berikut.

Number 01.1.2 01.3 01.4.3 01.4.4 01.5 01.6.1 01.6.2 01.6.4 01.6.5 01.7 01.8.1 02.2.2 02.3

Food Category Dairy-based drinks, flavoured and/or fermented (e.g. chocolate milk, cocoa, eggnog, drinking yoghurt, whey-based drinks Condensed milk and analogues (plain) Clotted cream (plain) Cream analogues Milk powder and cream powder and powder analogues (plain) Unripened cheese Ripened cheese Processed cheese Cheese analogues Dairy-based desserts (e.g. pudding, fruit or flavoured yoghurt) Liquid whey and whey products, excluding whey cheeses Fat spreads, dairy fat spreads and blended spreads Fat emulsions mainly of type oil-in-water, including mixed and/or flavoured products based on fat emulsion Fat-based desserts excluding dairy-based dessert products of food category 01.7 Edible ices, including sherbet and sorbet Processed fruit Dried vegetables (including mushrooms and fungi, roots and

02.4 03.0 04.1.2

04.2.2.2

tubers, pulses and legumes, and aloe vera), seaweeds, and nuts and seeds

04.2.2.3

Vegetables (including mushrooms and fungi, roots and tubers,

11

pulses and legumes, and aloe vera), and seaweeds in vinegar, oil, brine, or soybean sauce Canned or bottle (pasteurized) or retort pouch vegetables 04.2.2.4 (including mushrooms and fungi, roots and tubers, pulses and legumes, and aloe vera), and seaweeds Vegetables (including mushrooms and fungi, roots and tubers, 04.2.2.5 pulses and legumes, and aloe vera), seaweed, and nut and seed purees and spreads (e.g. peanut butter) Vegetable (including mushrooms and fungi, roots and tubers, 04.2.2.6 pulses and legumes, and aloe vera), seaweed, and nut and seed pulps and preparations (e.g. vegtable desserts and sauces, candied vegetables) other than food category 04.2.2.5 Cooked or fried vegetables (including mushrooms and fungi, 04.2.2.8 roots and tubers, pulses and legumes, and aloe vera), and seaweeds 05.0 06.3 06.4.3 06.5 06.6 06.7 Confectionery Breakfast cereal, including rolled oats Pre-cooked pastas and noodles and like products Cereal and starch based desserts (e.g. rice pudding, tapioca pudding) Batters (e.g. for breading or batters for fish or poultry) Pre-cooked or processed rice products, including rice cakes (oriental type only) Soybean products (excluding soybean-based seasonings and condiments of food category 12.9) Bakery wares Processed meat, poultry, and game products in whole pieces or cuts Processed comminuted meat, poultry, and game products Edible casings (e.g. sausage casings) Semi-preserved fish and fish products, including mollusks, crustaceans, and echinoderms Fully preserved, including canned or fermented fish and fish products, including mollusks, crustaceans, and echinoderms

06.8 07.0 08.2 08.3 08.4 09.3

09.4

12

10.2.3 10.3 10.4 11.6 12.2.2 12.3 12.4 12.5 12.6

Dried and/or heat coagulated egg products Preserved eggs, including alkaline, salted, and canned eggs Egg-based desserts (e.g. custard) Table-top sweeteners, including those containing highintensity sweeteners Seasionings and condiments Vinegars Mustards Soups and broths Sauces and like products Salads (e.g. maccaroni salad, potato salad) and sandwich

12.7

spreads excluding cocoa-and nut-based spreads of food categories 04.2.2.5 and 05.1.3

12.8 12.9 12.10 13.3 13.4 13.5 13.6 14.1.4 14.2.1 14.2.2 14.2.4 14.2.5 14.2.6

Yeast and like products Soybean-based seasonings and condiments Protein products other than from soybeans Dietetic foods intended for special medical purpose (excluding proucts of food category 13.1) Dietetic formulae for slimming purposes and weight reduction Dietetic foods (e.g. supplementary foods for dietary use) excluding products of food categories 13.1-13.4 and 13.6 Food supplements Water-based flavoured drinks, including sport, energy, or electrolyte drinks and particulated drinks Beer and malt beverages Cider and perry Wines (other than grape) Mead Distilled spirituous beverages containing more than 15% alcohol Aromatized alcoholic beverages (e.g. beer, wine and spirituous cooler-type beverages, low alcoholic refreshers) Ready-to-eat savouries Composite foods-foods that could not be placed in categories

14.2.7 15.0 16.0

13

01-15

Tabel 2.1 Penggunaan Asam Sitrat dalam bahan pangan 8

2.5.2 Batas Penggunaan Asam Sitrat Penggunaan maksimum dalam minuman adalah sebesar 3 gram/liter sari buah. GSFA Provisions for Citrid acid
Number 02.1.1 14.1.2.3 12.1.3.3 14.1.2.1 14.1.3.1 01.6.6 Food Category Butter oil, anhydrous milkfat, ghee Concentrates for fruit juice Concentrates for fruit nectar Fruit juice Fruit nectar Whey protein cheese Max Level GMP 3000 mg/kg 5000 mg/kg 3000 mg/kg 5000 mg/kg GMP

Tabel 2.2 Batas Konsumsi penggunaan asam sitrat dalam bahan pangan8

14

BAB III PENUTUP

3.1 Kesimpulan Semua makanan pasti telah ditambahkan bahan tambahan mulai dari yang alami sampai yang kimiawi. Bahan tambahan tersebut disebut dengan Bahan Tambahan Makanan (BTM). Jenis atau macam BTM sangatlah banyak, antara lain antioksidan dan antioksidan sinergis, anti kempal,

pengasam, penetral dan pendapar, enzim, pemanis buatan, pemutih dan pematang, penambah gizi, pengawet, pengemulsi, pemantap dan pengental, pengeras, pewarna alami dan sintetik, penyedap rasa dan aroma, sekuestran, dan bahan tambahan lain. Asam Sitrat merupakan bahan tambahan makanan yang sering digunakan sebagai bahan penambah cita rasa asam, pengawet makanan dan minuman, biasanya minuman ringan (soft drink), karena

kemampuannya untuk mengikat ion-ion logam menjadikannya berguna sebagai bahan sabun dan deterjen, digunakan untuk mencegah proses kristalisasi dalam madu, gula-gula (termasuk fondant), dan juga untuk mencegah pemucatan berbagai makanan, misalnya buah-buahan kaleng dan ikan, serta larutan asam sitrat yang encer digunakan untuk mencegah pembentukan bintik-bintik hitam pada udang. Selain itu, dalam industri bioteknologi dan obat-obatan digunakan sebagai pelapis (passivate) pipa mesin, dalam proses kemurnian tinggi untuk menggantikan asam nitrat. Meskipun asam sitrat sudah dianggap aman untuk digunakan, namun tentu saja memiliki efek samping atau dampak yang dapat membahayakan kesehatan manusia. Efek-efek yang ditimbulkan berdasarkan organ yang terserang (dampak utama atau sasaran organ), rute paparan, dan efek klinis yang dibagi menjadi 2 yaitu keracunan akut dan keracunan kronis. Batasan penggunaan asam sitrat yang dianjurkan adalah 3 gram/liter sari buah. FAO/WHO juga telah memberikan batas maksimum penggunaan asam sitrat sebagaimana yang terlampir pada tabel 2.2.

15

3.2 Saran 1. Untuk mengurangi resiko-resiko yang ditimbulkan dari penggunaan asam sitrat tersebut, hendaknya mengurangi penggunaan asam sitrat terhadap bahan pangan yang akan dikonsumsi sebagaimana yang telah dianjurkan. 2. Sebaiknya tidak perlu menggunakan bahan tambahan makanan secara berlebihan, karena meskipun bahan tersebut dinyatakan aman oleh badan yang bersangkutan, apabila digunakan secara berlebihan pasti akan menimbulkan dampak yang tidak baik untuk kesehatan.

16

DAFTAR PUSTAKA

Zat Aditif [internet]. 2007 July 27 [cited 2012 May 29]. Available from: http://dahlanforum.wordpress.com/2007/07/27/zat-aditif/.

2 Albiner Siagian. Bahan Tambahan Makanan [unpublished lecture notes]. Universitas Sumatera Utara; lecture given 2010 Mar 19 [cited 2012 May 30]. Available from:http://repository.usu.ac.id/handle/123456789/3773 3 M Hasibuan . Asam Sitrat [internet]. 2010 [cited 2012 June 3]. Available from: repository.usu.ac.id/bitstream/123456789/20306/.../Chapter%20II.pdf 4 Produksi Asam Sitrat secara Fermentasi [internet]. [cited 2012 June 3]. Available from: download.fa.itb.ac.id/.../PRODUKSI%20ASAM%20SITRAT.pdf 5 Asam Sitrat [internet]. [cited 2012 June 5]. Available from:

http://www.pom.go.id/katker/doc/Asam%20Sitrat.htm 6 Sitrat Merusak Enamel Gigi [internet]. 2011 Mar [cited 2012 June 5]. Available from: http://healthiskesehatan.blogspot.com/2011/03/asam-

sitrat-merusak-enamel-gigi.html 7 Pina Barus.Pemanfaatan Bahan Pengawet dan Antioksidan Alami pada Industri Bahan Makanan [internet]. Universitas Sumatera Utara; 2009 Oct 3 [cited 2012 May 29] . Available from : www.usu.ac.id/id/files/pidato/pina.pdf 8 GSFA Online Food Additive Details for Citrid Acid [internet]. 2011[cited 2012 June 8]. Available from: www.codexalimentarius.net

17