Anda di halaman 1dari 9

Tafsir Ibnu Katsir Surah Al Maidah ayat 3 Al Maidah ayat 3

Diharamkan bagimu (memakan) bangkai, darah, daging babi, (daging hewan) yang disembelih atas nama selain Allah, yang tercekik, yang terpukul, yang jatuh, yang ditanduk, dan diterkam binatang buas, kecuali yang sempat kamu menyembelihnya, dan (diharamkan bagimu) yang disembelih untuk berhala. Dan (diharamkan juga) mengundi nasib dengan anak panah, (mengundi nasib dengan anak panah itu) adalah kefasikan. Pada hari ini orang-orang kafir telah putus asa untuk (mengalahkan) agamamu, sebab itu janganlah kamu takut kepada mereka dan takutlah kepada-Ku. Pada hari ini telah Kusempurnakan untuk kamu agamamu, dan telah Ku-cukupkan kepadamu ni'mat-Ku, dan telah Ku-ridhai Islam itu jadi agama bagimu. Maka barang siapa terpaksa karena kelaparan tanpa sengaja berbuat dosa, sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.

Allah Ta'ala melarang hamba-hamba-Nya mengonsumsi binatang-bina-tang yang mati sebagai bangkai, yaitu binatang yang mati dengan sendirinya tanpa disembelih atau diburu sebab di dalamnya terdapat darah beku yang membahayakan agama dan tubuh. Oleh karena itu, Allah Azza wa Jalla mengharamkannya. Dikecualikan dari bangkai itu ialah bangkai ikan karena ikan itu halal, baik mati karena disembelih maupun karena hal lain. Hal ini didasarkan atas keterangan yang diriwayatkan oleh Malik, Syafi'i, Ahmad, Abu Daud, Tirmidzi, an-Nasa\ Ibnu Majah, Ibnu Khuzaimah, dan Ibnu Hibban yang diterima dari Abu Hurairah bahwasanya Rasulullah saw. ditanya ihwal air laut. Maka beliau bersabda, "Laut itu airnya suci dan bangkainya halal." (HR Malik, Syafi'i, Ahmad, Abu

Daud, At-Tirmidzi, an-Nasavi, dan Ibnu Majah)

Demikian pula belalang. la halal sebagaimana menurut hadits yang akan dikemukakan. Firman Allah, "dan darah", maksudnya darah yang mengalir.

Penggalan ini senada dengan firman Allah, "atau darah yang mengalir". Demikian menurut pendapat Ibnu Abbas dan ulama lainnya. Ibnu Abi Hatim meriwayatkan dari Ibnu Abbas bahwa dia ditanya tentang limpa. Beliau menjawab: "Makanlah ia". Orang-orang pun berkata, "Limpa itu adalah darah". Ibnu Abbas berkata, "Sesungguhnya darah yang diharamkan kepadamu hanyalah darah yang mengalir". Demikian pula diriwayatkan oleh Himad dari Aisyah, dia berkata, "Yang dilarang untuk dimakan hanyalah darah yang mengalir". Imam Syafi'i meriwayatkan secara marfu' dari Ibnu Umar, dia berkata bahwa Rasulullah saw. bersabda, "Dihalalkan bagimu duajenis bangkai dan duajenis darah. Dua bangkai itu ialah ikan dan belalang. Dan dua darah ialah hati dan limpa." (HR Syafi'i) Al-A'sya bersyair, "Jauhilah olehmu bangkai dan jangan mendekatinya. Dan janganlah kamu mengambil tulang tajam untuk mengalirkan darah". Maksudnya, janganlah kamu melakukan perilaku jahiliah, yaitu jika ada orang jahiliah lapar maka ia mengambil sesuatu yang tajam baik berupa tulang maupun selainnya untuk ditorehkan kepada untanya. Kemudian, darah yang mengalir ditampung, lalu diminum. Maka, Allah mengharamkan darah kepada umat ini. Firman Allah, "daging babi", baik yang jinak maupun yang liar. Rata "daging" mencakup segala aspeknya, termasuk lemaknya. Dan kita tidak rae-merlukan kecerdikan kaum Zhahiriyah yang merujukkan dhamir dalam "fainnahu"dalam firman Allah, "kecuali ia berupa bangkai, darah yang mengalir, dan daging babi maka sesungguhnya ia najis" kepada "al-khinzir" sehingga pengertian "najis" meliputi segala aspek tubuh babi seperti daging, lemak, dan organ tubuh lainnya; kita tidak memerlukan alasan itu, sebab firman Allah, "sesungguhnya ia merupakan najis" ini saja sudah mencakup daging dan seluruh organnya. Adapun pendapat kaum Zhahiri bahwa dhamir itu kembali kepada "al-khinzir" merupakan pendapat yang janggal, jika dilihat dari segi linguistik sebab pronomina itu hanya kembali kepada mudhaf, bukan kepada mudhafilaih. Jelasnya, kata "daging" itu mencakup seluruh organ sebagaimana hal itu di-maklumi dari konsepsi bahasa Arab dan pemakaian yang berlaku. Dalam Shahih Muslim dikatakan dari Buraidah bin al-Khashib al-Aslami r.a. dia berkata bahwa Rasulullah saw. bersabda, "Barangsiapa yang

bermain dengan dadu maka seolah-olah dia men-celupkan tangannya ke daging dan darah babi." (HR Muslim) Hadits ini menunjukkan bahwa kata
"daging" itu mencakup seluruh organ termasuk lemak dan sebagainya.*

Hadits ini menunjukkan kerasnya keharaman bermain dengan dadu, kartu domino, karambol, congklak, dan polo

Firman Allah Ta'ala, "Dan binatang yang disembelih atas nama selain Allah", yakni binatang yang disembelih dengan menyebutkan selain nama Allah. Binatang ini diharamkan karena Allah Ta'ala mewajibkan agar makhlukmakhluk-Nya disembelih dengan menyebut nama-Nya Yang Agung. Jika beralih dari nama-Nya kepada penyebutan nama lain, seperti nariia berhala, thagut, patung, atau nama makhluk lainnya, maka sembelihan itu haram menurut ijma. Tetapi para ulama berikhtilaf ihwal tidak membaca nama Allah baik karena sengaja maupun lupa. Hal ini insya Allah akan dibahas dalam penafsiran surat al-An'am.

Ibnu Abi Hatim meriwayatkan dari al-Jarud bin Abi Sabirah. Abdullah berkata, "Kakekku, yaitu al-Jarud, berkata, 'Ada seseorang dari Bani Rabah yang dikenal dengan nama Ibnu Wa'il yang juga seorang penyair. Ibnu Wa'il berlomba dengan Farazdaq (dia juga penyair) dalam mengatasi masalah air di daratan Kufah melalui persembahan. Wa'il bermaksud menyembelih seratus ekor unta dan Farazdaq pun akan menyembelih seratus ekor unta juga jika air datang. Setelah air datang maka keduanya tampil menggenggam pedang dan mulai memegang urat leher unta. Al-Jarud berkata, 'Maka khalayak pun berhamburan naik keledai dan bagal guna mengambil daging unta.' Pada saat itu, Ali berada di Kufah. Maka Ali berangkat dengan menunggangi bagal Rasulullah yang berwarna putih. Ali menyeru, 'Wahai manusia, janganlah kalian memakan daging unta sebab ia disembelih bukan atas nama Allah,"" (namun atas datang tidaknya air). Ke-terangan ini merupakan atsar yang jjharib. Kesahihan atsar ini didukung oleh keterangan yang diriwayatkan oleh Abu Daud dari Ibnu Abbas, dia berkata , "Rasulullah saw. melarang memakan sembelihan orang Badui." (HR Abu Daud) Abu Daud meriwayatkan dari Ikramah, dia berkata, "Rasulullah saw. melarang memakan makanan dari basil dua orangyang berlomba."(HR Abu Daud). Kemudian Ibnu Abi Hatim berkata," Abu Daud adalah orang yang paling banyak meriwayatkan hadits mengenai masalah ini, selain Ibnu Jarir, dan hanya Abu Daud saja yang menyebutkan nama Ibnu Abbas di dalam riwayatnya." Firman Allah Ta'ala, "yang tercekik", yaitu binatang yang mati karena dicekik secara sengaja atau dihimpit. Maka ia haram. "Binatang yang dipukul" dengan benda keras tetapi tidak tajam hingga ia mati, sebagaimana dikemukakan oleh Ibnu Abbas dan yang lainnya, katanya ia adalah binatang yang dipukul dengan kayu hingga kesakitan lalu mati. Dalam Shahih dikatakan bahwa Adi bin Hatim berkata (15), "Saya bertanya, 'Wahai Rasulullah, saya memanah binatang buruan dengan anak panah yang melintang, lalu mengena. Bagaimana hukumnya?' Maka beliau bersabda, Jika kamu memanah dengan anak panah yang melintang dan mata panahnya mengena, maka makanlah ia. Jika yang mengena itu batangpanah-nya, maka binatang itu mati lantaran terbunuh, kamu jangan memakan- nya." Rasulullah membedakan binatang yang kena panah: ada yang kena oleh batangnya dan yang kena oleh mata panah. Yang kena oleh mata panah dihalal-kan dan yang kena oleh batang panah hingga ia mati tidak dihalakan. Keterangan ini disepakati oleh para fuqaha. Namun, mereka berselisih jika mata panah itu mengena lalu membunuh binatang buruan tanpa luka karena kerasnya hantaman bukan karena ketajamannya. Masalah ini memiliki dua pendapat yang keduanya merupakan pendapat Syafi'i r.a.. Pertama, binatang itu tidak halal seperti halnya yang terbunuh oleh batang panah. Kesamaannya ialah bahwa baik binatang yang terbunuh oleh batang panah dan oleh kerasnya mata panah adalah kedua cara itu menyebabkan kematian tanpa luka. Jadi, binatang itu terbunuh. Kedua, buruan itu halal karena dihukumi oleh kebolehan memakan binatang yang diburu oleh anjing dan masih diterkamnya. Ketentuan ini menunjukkan kepada kebolehan masalah yang kita tuturkan, sebab termasuk ke dalam cakupannya. Para ulama berikhtilaf mengenai masalah ini. Jika seseorang menghalau anjing untuk menangkap binatang buruan, lalu binatang itu mati oleh kekuatan anjing, bukan karena

gigitannya atau karena senjata orang itu, apakah binatang itu halal atau haram? Jawabannya terbagi dua. Pertama, binatang itu halal ber-dasarkan keumuman firman Allah, "Maka makanlah binatang yang mereka tangkap untukmu" dan berdasarkan keumuman hadits Adi bin Hatim. Kedua, binatang itu tidak halal, dan ini merupakan salah satu pendapat Syafi'i. Pendapat kedua ini dipilih oleh Syafi'i dan disahihkan oleh jumhur imam. Pendapat kedua ini lebih mendekati kebenaran. Wallahu aJlam. Pendapat kedua pun disahihkan oleh Ibnu Shabag dengan hadits Rafi' bin Khadij (16), "Saya bertanya, 'Wahai Rasulullah, kami akan bertemu musuh besok, sedang kami tidak punya golok, apakah kami boleh menyembelih binatang (untuk bekal) dengan sembilu? "Beliau menjawab, Binatang yang disembelih dengan benda

apa sajayang dapat mengalir-kan darah disertai menyebut nama Allah dapat kamu makan."

Demikianlah dalam Shahihain. Walaupun hadits ini muncul karena ada kasus tertentu, namun maksud lafalnya berlaku umum. Demikian menurut jumhur ulama ushul furu'. Adapun binatang yang mati karena dikalahkan oleh tenaga anjing tanpa luka bukan termasuk perkara yang dapat mengalirkan darah. Jadi, menurut mafhum hadits itu, binatang yang dikalahkan anjing tidak halal, karena pasti terjadi mengalirnya darah dengan suatu alat selain gigi dan kuku. Inilah metode pertama penetapan hukum. Metode kedua ialah jalan al-Muzani. Pada jalan ini panah sebagai penjelas. yaitu, jika panah membunuh dengan batangnya maka buruan tidak boleh dimakan. Jika panah merobek, maka buruan dapat dimakan. Adapun anjing tampil secara mutlak. Keberadaan buruan yang ditangkap oleh anjing ditafsirkan kepada adanya robekan oleh panah, karena panah dan anjing sama-sama dituju-kan kepada buruan sehingga panah harus diasosiasikan dengan anjing walaupun sarana membunuh pada keduanya berbeda. Metode kedua pun dapat mengata-kan: jika buruan terbunuh oleh kekuatannya, bukan oleh taringnya maka ia tidak halal seperti halnya buruan yang terbunuh oleh batang panah. Hal yang me-nyatukan keduanya ialah bahwa anjing dan panah sama-sama sebagai alat ber-buru dan buruan mati oleh berat keduanya (kekuatan anjing dan batang panah). Metode ini tidak bertentangan dengan keumuman ayat, karena qiyas (panah kepada anjing) lebih didahulukan daripada keumuman ayat sebagaimana hal ini merupakan mazhab imam yang empat dan jumhur ulama. Ini adalah metode yang baik. Metode lain: sesungguhnya ayat, "diharamkan atas kamu bangkai ..." merupakan ayat muhkam yang tidak mengenal nasakh dan takhshisb. Demikian pula ayat, "Dan mereka bertanya kepadamu mengenai apa yang dihalalkan bagi mereka, maka katakanlah, 'Dihalalkan kepadamu makanan yang baikbaik,'" merupakan ayat yang muhkam. Dengan semikian, sepantasnya tiada kontradiksi sama sekali antara kedua ayat itu, dan Sunnah tampil untuk menjelaskan hal itu. Sebagai bukti akan penjelasan itu ialah soal panah. Diceritakan soal ketetapan yang tercakup oleh ayat yang menghalalkan, yaitu ketetapan ihwal kehalalan buruan yang tercabik oleh batang panah. Binatang yang sobek itu halal karena termasuk makanan yang baik. Dan, termasuk ke dalam cakupan ketetapan ayat yang mengharamkan ialah bahwa buruan yang terkena batang panah tidak boleh dimakan sebab matinya karena terjatuh. Maka, ketetapan ini termasuk ke dalam salah satu cakupan ayat yang

mengharamkan ini. Demikianlah, hukum buruan yang terkena oleh batang panah dan oleh kekuatan anjing mesti sama. Jika buruan itu luka oleh anjing maka buruan itu masuk ke dalam cakupan ayat yang menghalalkan; jika buruan itu tidak luka, namun ditabrak atau terbunuh oleh tenaganya maka buruan termasuk binatang yang mati ditanduk atau dikategori-kan ke dalam ditanduk sehingga ia tidak halal. Biasanya anjing itu suka memakan sebagian buruannya. Oleh karena itu Nabi saw. menegaskan soal anjing yang memakan sebagian buruan. Beliau bersabda: "Jika anjing memakan binatang buruannya,

maka janganlah kamu memakannya. Aku khawatir anjing itu memburu untuk disantap olehnya."

Hadits sahih dan ditegaskan di dalam ShMhain. Menurut sejumlah ulama, hadits ini pun merupakan pembatas keumuman ayat tahlil. Mereka mengatakan, "Tidak halal memakan buruan yang sebagiannya dimakan oleh anjing." Hal ini diceritakan dari Abu Hurairah dan Ibnu Abbas. Hal senada dikemukakan pula oleh sekelompok tabi'in, Abu Hanifah, Ibnu Hambal, dan Syafi'i dalam pan-dangan yang masyhur. Ibnu Jarir meriwayatkan dalam tafsirnya dari Ali, Sa'id, Salman, Abu Hurairah, dan sebagainya demikian, "Buruan itu boleh dimakan walaupun tinggal sepotong saja." Pendapat ini pun dipegang oleh Malik dan oleh Syafi'i dalam qaul qodimnya. Ibnu Jarir pun meriwayatkan dari Salman al-Farisi bahwa Rasulullah saw.bersabda:

"Apabila seseorang melepaskan anjingnya kepada binatang buruan, lalu menangkapnya dan ia memakan sebagiannya, maka makanlah sisanya."
Kemudian Ibnu Jarir menta'lil hadits ini bahwa ia dimauqufkan kepada Salman. Tidak diharamkan memakan organ-organ binatang buruan yang sebagiannya telah dimakan oleh burung pemburu. Ini merupakan mazhab Abu Hanifah dan Ahmad. Mazhab ini mengatakan, "Karena burung tidak mungkin dilatih seperti anjing, misalnya dengan dipukul; dan karena burung pemburu tidak dilatih kecuali dengan memakan buruan. Jadi, ia dimaafkan; tambahan pula bahwa nash-itu menyangkut anjing, bukan burung. Adapun almutaradiyah ialah binatang yang jatuh dari atas atau dari tempat tinggj, lalu ia mati. Binatang yang demikian tidak halal. Adapun an-nathihah ialah binatang yang mati karena ditubruk oleh sesamanya. Binatang demikian haram, walaupun tandukan itu menimbulkan luka dan mengalirkan darah; walaupun keluarnya lukanya itu pada bagian tempat penyembelihannya (leher). "Yang diterkam oleh binatang buas", yakni binatang yang diserang oleh singa, harimau, macan tutul, serigala, atau anjing. Binatang buas itu memakan sebagiannya, lalu buruannya pun mati. Binatang yang demikian haram dimakan walaupun darah mengalir dari tubuhnya; walaupun mengalir dari lehernya. Ia diharamkan berdasarkan ijma. Adalah penduduk jahiliah suka memakan sisa-sisa binatang yang ditinggalkan binatang buas. Allah mengharamkan yang demikian kepada kaum mukminin. "Kecuali yang sempat kamu sembelih", penggalan ini merujuk kepada binatang mana saja di antara binatang yang telah disebutkan di atas, namun keadaannya masih hidup. Binatang ini sempat disembelih. Maksudnya: kecuali binatang yang tercekik, dipukul, jatuh, ditanduk, dan diterkam binatang buas yang sempat kamu sembelih. Sehubungan dengan ayat tersebut, Ibnu Abi Hatim meriwayatkan dari Ali, dia berkata, "Jika ekor binatang itu masih bergerak-gerak, kakinya

kelojotan, dan matanya kedap-kedip, maka makanlah ia (setelah kamu menyembelihnya)." Diriwayatkan dari Thawus dan tabi'in lainnya bahwa apabila binatang sembelihan masih memperlihatkan gerakan yang menunjukkan adanya kehidupan setelah ia disembelih, maka binatang itu halal. Hal ini merupakan mazhab jumhur fuqaha. Dalam Shahihain diriwayatkan dari Rati' bin Khadij, sesungguhnya dia berkata, "Aku bertanya, 'Wahai Rasulullah, sesungguhnya kami akan ber-temu musuh sedang kami tidak memiliki golok lagi, apakah kami boleh menyem-belih dengan sembilu?' Beliau bersabda, 'Binatang yang disembelih dengan benda, kecuali gigi dan kuku, yang dapat mengalirkan darah dan dibacakan basmalah atasnya, maka makanlah ia.' Aku akan menjelaskannya: adapun gigi, maka ia merupakan tulang sedangkan kuku merupakan ujung orang Habsyi." Hadits ini pun diriwayatkan dari Umar secara mauquf. Dalam hadits yang diriwayatkan oleh Ahmad dan para penyusun Sunan dari Abi al-Asyra' ad-Darimi, dari ayahnya, dia berkata , "Aku berkata, 'Wahai Rasulullah, apakah menyembelih itu hanya boleh melalui saluran napas dan tenggorokan?' Beliau bersabda, Jika binatang itu

ditusukpahanya saja, niscaya memadai bagimu.'"

Hadits ini sahih. Namun, ia harus dipahami bahwa cara demikian itu memadai jika binatang itu tidak dapat disembelih pada bagian saluran nafas dan tenggorokannya (karena suatu hal). Firman Allah Ta'ala, "Dan binatang yang disembelih untuk berhala." Mujahid dan Ibnu Juraij berkata bahwa annushub ialah batu berhala yang ada di sekeliling Ka'bah. Berhala itu berjumlah 360 buah. Bangsa Arab pada masa jahiliahnya menyembelih binatang di sisinya dan melumuri Ka'bah dengan sebagian darahnya. Mereka mengiris-iris dagingnya lalu meletakkannya pada berhala. Riwayat demikian tidak hanya diceritakan oleh seorang. Kemudian Allah melarang perbuatan ini bagi kaum mukminin serta mengharamkannya atas mereka memakan daging binatang yang disembelih di samping berhala walau-pun binatang itu disembelih dengan menyebut nama Allah. Karena, perbuatan itu merupakan syirik yang diharamkan oleh Allah dan Rasul-Nya. Penggalan di atas harus ditafsirkan demikian karena telah dikemukakan pengharaman binatang yang dipersembahkan kepada selain Allah. Firman Allah Ta'ala, "Dan mengundi nasib dengan anak panah." Yakni diharamkan kepadamu, wahai kaum muslimin, mengundi nasib dengan anak panah. Azlim berbentuk jamak. Bentuk mufradnya ialah zilm atau zalm. Adalah bangsa Arab, pada masa jahiliah, suka melakukan hal itu. Azlim berarti tiga buah anak panah yang belum dipasangi bulu. Masing-masing anak panah ditulisi dengan "kerjakan", "jangan dikerjakan", dan yang kosong. Jika yang muncul adalah panah yang bertuliskan suruhan maka mereka melakukan perbuatan yang direncanakan, bila yang muncul adalah panah yang berisikan larangan maka meninggalkannya, dan bila yang muncul itu anak panah kosong maka dia mengulanginya. Istiqsam berarti meminta perolehan dari anak panah itu. Demi-kianlah ditegaskan oleh Abu Ja'far bin Jarir. Ibnu Abbas menafsirkan ayat "dan mengundi nasib dengan anak panah" dengan: azlim ialah anak panah yang belum dipasangi bulu. Adalah bangsa Arab suka meminta perolehan melalui anak panah itu. Dalam Shahihain dikatakan: "Tatkala Nabi saw. memasuki Ka'bah maka beliau

menemui Ibrahim dan Isma'il digambar di dalamnya sedangpada kedua

tangannya terdapat anak panah untuk mujur dan sial. Maka beliau bersabda, 'Semoga Allah membinasakan mereka. Mereka mengetahui bahwa keduanya tidakpernah mengundi mujur sial dengan anak panah itu.'"
Ibnu Mardawih meriwayatkan dari Abu Darda, dia berkata bahwa Rasu-lullah saw. bersabda: "Tidak akan masuk ke dalam derajat surga orangyang suka

berdukun, mengundi nasib, ataupulang dari bepergian karena memandang sial melalui burung."

"Yang demikian itu merupakan kefasikan." Yakni, melaksanakan hal itu merupakan kefasikan, penyimpangan, kesesatan, kebodohan, dan tentu saja merupakan kemusyrikan. Sesungguhnya Allah menyuruh kaum mukminin,pabila mereka merasa ragu-ragu dalam menghadapi persoalan, hendaknya mereka meminta pilihan kepada Allah dengan cara menyembah-Nya kemudian meminta pilihan kepada-Nya dalam persoalan yang mereka kehendaki. Sebagai-mana diriwayatkan oleh Imam al-Bukhari dan para penyusun sunan dari Jabir bin Abdullah, dia berkata, "Adalah Rasulullah saw." mengajarkan shalat istikharah kepada kami dalam menghadapi berbagai persoalan sebagaimana beliau mengajari kami surat Al-Qur'an. Beliau bersabda,

'Apabila salah seorang di antara kamu hendak melakukan sesuatu, maka shalat sunnahlah dua rakaat. Kemudian berdoa, 'Ya Allah, aku memohonpilihan dengan ilmu-Mu, mengharap kemampuan dengan kekuasaan-Mu, dan memohon karunia-Mu yang besar. Karena Engkaulah yang ber-kuasa sedang aku tidak berdaya, Engkau Mahatahu sedang aku tidak tahu, dan Engkau mengetahui segala yang gaib. Ya Allah, jika menurut ilmu-Mu bahwapersoalan ini (disebutpersoalannya) baik bagiku bagi agamaku, bagi urusan duniaku dan kesudahanku,' atau beliau bersabda, 'bagi dunia dan akhiratku,' maka tetapkanlah ia bagiku, mudahkanlah, serta berkatilah ia bagiku. Ya Allah, menurutpengetahuan-Mu bilapersoalan ini (disebut persoalannya) buruk bagiku bagi agamaku, urusan dunia, dan kesudahanku, maka hindarkanlah ia dariku dan jaubkanlah aku darinya serta tetapkanlah bagiku halyang lebih baik dan ridhailah ia bagiku ."
Lafal hadits ini dari Ahmad. "Pada hari ini orang-orang kafir berputus asa untuk mengalahkan agamamu." Yakni, mereka berputus asa untuk menyerupai kaum muslimin karena mereka memiliki sifat-sifat yang berbeda dari sifat kemusyrikan dan orang musyrik. Oleh karena itu, Allah Ta'ala menyuruh hamba-hamba-Nya yang beriman yang bersabar dan konsisten dalam menampilkan perbedaan dengan kaum kafir; tidak boleh takut kecuali kepada Allah. Maka Dia berfirman, "Maka janganlah kamu takut terhadap meieka namun takutlah kepada-Ku." Yakni, janganlah kamu takut terhadap mereka lantaran kamu menyalahi mereka, namun takutlah kepada-Ku, niscaya Aku akan menolongmu untuk mengalahkan mereka, mencerai-beraikan mereka, menguntungkanmu atas mereka, membalas sakit hatimu atas mereka, dan menjadikan kamu unggul atas mereka di dunia dan akhirat. "Pada hari ini telah Kusempurnakan bagimu agamamu, telah Kucukup-kan nikmat-Ku bagimu, dan telah Kuridhai Islam sebagai agamamu." Inilah nikmat Allah yang paling besar yang dikaruniakan kepada umat ini, karena Dia telah menyempurnakan agama mereka sehingga mereka tidak memerlukan selain agama-Nya dan tidak memerlukan seorang nabi pun kecuali Nabi saw.. Oleh karena itu, Allah

menjadikan beliau sebagai penutup para nabi dan Dia mengutusnya kepada manusia dan jin. Maka tiada perkara halal kecuali yang telah dihalalkannya, tiada perkara haram kecuali yang telah diharamkannya, dan tiada agama kecuali yang telah disyariatkannya. Setiap perkara yang diinformasi-kan olehnya merupakan kebenaran dan kejujuran; tiada mengandung dusta dan kekeliruan sebagaimana Allah Ta'ala berfirman, "Dan kalimat Tuhanmu telah sempurna kebenaran dan keadilannya", yakni kebenaran infbrmasinya dan keadilan yang menyangkut berbagai perintah dan larangan. Setelah Allah menyempurnakan agama bagi mereka, berarti sempurnalah nikmat atas mereka. Oleh karena itu, Dia berfirman, "Pada hari ini telah Kusempurnakan bagimu agamamu, telah Kucukupkan nikmat-Ku bagimu, dan telah Kuridhai Islam sebagai agamamu." Maka ridhailah olehmu Islam untuk dirimu karena ia merupakan agama yang diridhai Allah dan dibawa oleh Rasul yang paling utama dan dikandung oleh kitab-Nya yang paling mulia. Setelah turun ayat ini, kaum mukminin yang muslim tidak memerlukan tambahan apa pun. Sesungguhnya Allah telah menyempurnakan Islam maka jangan pernah kamu menguranginya. Sesungguhnya Dia telah meridhainya maka jangan pernah kamu membencinya. Ayat ini diturunkan pada hari Arafah. Setelah ayat itu, tidak diturunkan lagi ayat yang menyangkut hukum halal dan haram. Rasulullah saw. meninggal 81 hari setelah hari Arafah. Imam Ahmad meriwayatkan dari Thariq bin Syihab, dia berkata, "Seorang Yahudi datang kepada Umar bin Khaththab, dia berkata, 'Wahai Amirul Mukminin, sesungguhnya kalian membaca sebuah ayat dalam kitabmu. Jika ayat itu diturunkan kepada kami, kaum Yahudi, niscaya kami menjadikan hari penurunan itu sebagai hari raya.' Umar berkata, 'Ayat yang manakah itu?' Yahudi berkata, 'Yaitu firman Allah Ta'ala, "Pada hari ini telah Kusempurnakan bagimu agamamu, telah Kucukupkan nikmat-Ku bagimu, dan telah Kusempurnakan Islam sebagai agamamu." Kemudian Umar berkata, 'Demi Allah, sesungguhnya aku mengetahui hari diturunkan ayat itu kepada Rasulullah dan saat diturunkan ayat itu kepadanya, yaitu pada malam Arafah hari Jumat.'" Hadits ini pun diriwayatkan oleh al-Bukhari, Muslim, dan anNasa^i. Sehubungan dengan riwayat ini, terdapat pula sejumlah hadits mutawatir yang tidak diragukan lagi keshahihannya. Wallahu a'lam. Firman Allah Ta'ala, "Barangsiapa yang terpaksa karena kelaparan tanpa sengaja berbuat dosa maka sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang." Yakni, barangsiapa yang perlu memakan sedikit dari makanan yang telah diharamkan seperti yang telah disebutkan oleh Allah karena mudarat maka dia boleh memakannya. Allah Maha Pengampun dan Maha Penyayang kepadanya. Karena Dia mengetahui kebutuhan hamba-Nya yang terpaksa; keperluan-nya terhadap makanan itu sehingga Dia mengampuni dan memaafkannya. Dalam al-Musnaddzn Shahih Ibnu Hibban diriwayatkan dari Ibnu Umar secara marfu', dia berkata bahwa Rasulullah bersabda, "Allah

suka dilaksanakan kemudahan-Nya sebagaimana Dia membenci bila dilanggar larangan-Nya ",

Lafal hadits ini dari Ibnu Hibban. Dalam hadits menurut lafal Ahmad dikatakan: "Barangsiapa yang tidak menerima kemudahan (dispensasi) dari

Allah, maka baginya dosa sebesar Gunung Arafah."

Oleh karena itu, para fiiqaha berkata, "Terkadang memakan bangkai itu dalam beberapa situasi, adalah wajib, yaitu jika dia mehgkhawatirkan dirinya dan dia tidak menemukan makanan selain bangkai itu. Memakan bangkai itu terkadang sunnah dan terkadang mubah selaras dengan kondisi." Para ulama berselisih paham mengenai kadar bangkai yang boleh dimakan, apakah sekadar memperpanjang hidup atau boleh sampai kenyang, dan atau boleh sampai kenyang serta menjadikannya bekal? Mengenai hal ini, terdapat beberapa pendapat sebagaimana ditegaskan dalam buku mengenai hukum. Kondisi tidak menemukan makanan selama tiga hari bukanlah merupakan syarat bagi bolehnya memakan bangkai, sebagaimana hal ini diduga oleh sejumlah kaum awam dan selainnya. Bolehnya memakan bangkai ialah bilamana dia terpaksa untuk memakannya. Abu Daud meriwayatkan dari an-Naji' alAmiri bahwa dia menemui Rasu-lullah saw. dan bertanya (27), "Sebanyak apakah bangkai yang dihalalkan bagi kami?" Rasul bersabda, "Sebanyak untuk makan kalian." Maka kami membuat makanan untuk makan pagi dan sore. Abu Na'im berkata, "Uqbah menyimpan untukku satu wadah untuk makan pagi dan satu wadah untuk makan malam." Kata Uqbah, "Itulah kondisinya dan bapak saya kelaparan." Dalam kondisi demikian dihalalkan bagi mereka bangkai. Hadits ini hanya diriwayatkan oleh Abu Daud. Seolah-olah mereka memasak sesuatu pada pagi dan sore hari, namun tidak cukup. Maka dihalalkan bagi mereka bangkai guna memenuhi kadar kecukupan mereka. Riwayat ini juga dipakai hujah oleh orang yang memboleh-kan memakan bangkai hingga batas kenyang, dan tidak terikat oleh batasan sekadar memperpanjang napas untuk hidup. Wallahu a'lam. Firman Allah Ta'ala, "tanpa sengaja berbuat dosa", yakni tanpa meng-gampangkan kemaksiatan kepada Allah, karena Dia telah membolehkan kepada-nya untuk memakan bangkai serta Dia tidak mempedulikan aspek lain (dosa). Penggalan ini seperti ayat, "Barangsiapa yang terpaksa memakannya tanpa kelaliman dan melampaui batas maka tiada dosa atasnya. Sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang".