Anda di halaman 1dari 31

I.

LATAR BELAKANG A. Latar Belakang

Manusia dalam usaha mempertahankan kelangsungan hidupnya, berusaha kebutuhan primer yaitu makanan dapat terpenuhi. Perubahan dalam sejarah hidup manusia dari tahun ketahun, diikuti pula oleh perubahan kebutuhan bahan makanan pokok. Hal ini dibuktikan dibeberapa daerah yang semula makanan pokoknya ketela, sagu, jagung akhimya beralih makan nasi. Nasi merupakan salah satu bahan makanan pokok yang mudah diolah, mudah disajikan, enak dan nilai energi yang terkandung didalamnya cukup tinggi sehingga berpengaruh besar terhadap kesehatan. Padi merupakan bahan makanan yang menghasilkan beras. Bahan makanan ini merupakan makanan pokok bagi sebagian besar penduduk Indonesia. Meskipun padi dapat digantikan oleh makanan lainnya, namun padi memiliki nilai tersendiri bagi orang yang biasa makan nasi dan tidak dapat dengan mudah digantikan oleh bahan makanan yang lain. Padi adalah salah satu bahan makanan yang mengandung gizi dan penguat yang cukup bagi tubuh manusia, sebab didalamnya terkandung bahan yang mudah diubah menjadi energi. Oleh karena itu padi disebut juga makanan energi. Menurut Collin Clark Papanek, nilai gizi yang diperlukan oleh setiap orang dewasa adalah 1821 calori yang apabila disetarakan dengan beras maka setiap hari diperlukan beras sebanyak 0,88 kg. Beras mengandung berbagai zat makanan antara lain: karbohidrat, protein, lemak, serat kasar, abu dan vitamin. Disamping itu beras mengandung beberapa unsur mineral antara lain: kalsium, magnesium, sodium, fosphor dan lain sebagainya.

SRI (System of Rice Intensification) adalah cara budidaya padi yang pada awalnya diteliti dan dikembangkan sejak 20 tahun yang lalu di Pulau Madagaskar dimana kondisi dan keadaannya tidak jauh berbeda dengan Indonesia. Karena kondisi lahan pertanian yang terus menurun kesuburannya, kelangkaan dan harga pupuk kimia yang terus melambung serta suplai air yang terus berkurang dari waktu ke waktu, maka dikembangkanlah metoda SRI untuk meningkatkan hasil produksi padi petani Madagaskar pada saat itu, dengan hasil yang sangat mengagumkan. Saat ini SRI telah berkembang di banyak negara penghasil beras seperti di Thailand, Philipina, India, China, Kamboja, Laos, Srilanka, Peru, Cuba, Brazil, Vietnam dan banyak negara maju lainnya. Melalui presentasinya Prof. Norman Uphoff dari universitas Cornell, USA, pada tahun 1997 di Bogor, SRI diperkenalkan di Indonesia. Dan sejak tahun 2003 penerapan dilapangan oleh para petani kita di Sukabumi, Garut, Sumedang, Tasikmalaya dan daerah lainnya memberikan lonjakan hasil panen yang luar biasa. Metoda SRI seluruhnya menggunakan bahan organik disekitar kita (petani) yang ramah lingkungan, dan bersahabat dengan alam serta mahluk hidup di lingkungan persawahan. Dari hasil penelitian dan percobaan oleh para ahli selama bertahun-tahun di berbagai negara menunjukan bahwa hasil yang diperoleh dengan metoda SRI sangat tinggi jika sepenuhnya tidak memakai bahan-bahan sintetis (kimia atau anorganik) baik untuk pupuk maupun untuk pembasmi hama dan penyakit padi. eranan bahan organik dalam memperbaiki produktifitas tanah sangat tergantung pada tingkat dekomposisi dan jenis bahan organik.

B. Tujuan Tujuan penulisan makalah ini adalah sebagai berikut: 1. Mengetahui tentang sistem pertanaman yang menggunakan metode SRI. 2. Mengetahui prinsip-prinsip yang digunakan dalam metode SRI. 3. Mengetahui manfaat dari SRI dan perbedaannya dengan sistem pertanaman secara konvensional.
4. Untuk memenuhi salah satu tugas mata kuliah Pertanian Terpadu.

C. Rumusan Masalah
a. Apakah yang dimaksud dengan program SRI?

b. Mengapa SRI dikembangkan?


c. Bagaimana teknik pertanaman model SRI?

d. Apa prinsip bududaya padi model SRI? e. Apa saja manfaat SRI?
f. Apa dampak penerapan SRI terhadap usaha tani padi? g. Apa perbedaan SRI dengan sistem pertanian konvensional?

II.

TINJAUAN PUSTAKA

SRI (System of Rice Intensification) adalah cara budidaya padi yang pada awalnya diteliti dan dikembangkan sejak 20 tahun yang lalu di Pulau Madagaskar dimana kondisi dan keadaannya tidak jauh berbeda dengan Indonesia. Karena kondisi lahan pertanian yang terus menurun kesuburannya, kelangkaan dan harga pupuk kimia yang terus melambung serta suplai air yang terus berkurang dari waktu ke waktu, maka dikembangkanlah metoda SRI untuk meningkatkan hasil produksi padi petani Madagaskar pada saat itu, dengan hasil yang sangat mengagumkan. Saat ini SRI telah berkembang di banyak negara penghasil beras seperti di Thailand, Philipina, India, China, Kamboja, Laos, Srilanka, Peru, Cuba, Brazil, Vietnam dan banyak negara maju lainnya. Melalui presentasinya Prof. Norman Uphoff dari universitas Cornell, USA, pada tahun 1997 di Bogor, SRI diperkenalkan di Indonesia. Dan sejak tahun 2003 penerapan dilapangan oleh para petani kita di Sukabumi, Garut, Sumedang, Tasikmalaya dan daerah lainnya memberikan lonjakan hasil panen yang luar biasa. Metoda SRI ini dinamakan bersawah organik dan menghasilkan padi atau beras organik karena mulai dari pengolahan lahan, pemupukan hingga penanggulangan serangan hama sama sekali tidak menggunakan bahan-bahan kimia. Metoda SRI seluruhnya menggunakan bahan organik disekitar kita (petani) yang ramah lingkungan dan bersahabat dengan alam serta mahluk hidup di lingkungan persawahan. Hasil penelitian dan percobaan oleh para ahli selama

bertahun-tahun di berbagai negara menunjukan bahwa hasil yang diperoleh dengan metoda SRI sangat tinggi jika sepenuhnya tidak memakai bahan-bahan sintetis( kimia/anorganik) baik untuk pupuk maupun untuk pembasmi hama dan penyakit padi. SRI menentang asumsi dan praktek yang selama ratusan bahkan ribuan tahun telah dilakukan. Kebanyakan petani padi menanam bibit yang telah matang (umur 20-30 hari), dalam bentuk rumpun, secara serentak, dengan penggenangan air di sawah seoptimal mungkin di sepanjang musim. Praktek ini seolah-olah mengurangi resiko kegagalan bibit mati. Masuk akal bahwa tanaman yang lebih matang seharusnya mampu bertahan lebih baik; penanaman dalam bentuk rumpun akan menjamin beberapa tanaman tetap hidup saat pindah tanam (transplanting); dan penanaman dalam air yang menggenang menjamin kecukupan air dan gulma sulit tumbuh. Kesesuaian antara tingkat dekomposisi dengan kebutuhan tanaman perlu diperhatikan sehingga efektifitas bahan organik lebih baik (Widati, et al., 1999). Banyak dilaporkan oleh para peneliti bahwa dewasa ini sudah terjadi ketidak seimbangan hara bagi tanaman. Pergeseran tatanan hara dalam tanah dapat

diakibatkan penggunaan rekomendasi pupuk yang bersifat umum, peningkatan takaran dan macam pupuk kimia yang digunakan maupun penggunaan varietas unggul umur genjah. Nurjaya et al., (1999). mengemukakan bahwa penambahan salah satu unsur hara dalam tanah dapat menyebabkan unsur hara lain menjadi kekurangan, sedangkan penanaman bibit unggul disertai pemupukan takaran tinggi menyebabkan unsur hara mikro makin terkuras. Karama et al., (1990) menyatakan

bawa akibat pemberian pupuk SP36 terus menerus akan menyebabkan

gejala

kekurangan Zn. Penggunaan P lebih dari 20 tahun membentuk lapisan padat diatas lapisan tapak baja. (Jo, 1990 dan Uwasawa et al., 1990 dalam Karama et al., 1990). Pemberian unsur hara K yang tinggi dapat menekan ketersediaan Mg (Adiningsih et al., 1989).

III.

ISI

A. Sejarah System of Rice Intensification (SRI)

System of Rice Intensification (SRI) awalnya diperkenalkan Pendeta Henri de Laulanie di Madagaskar tahun 1983 dalam upaya meningkatkan kesejahteraan masyarakat setempat. Dengan segala keterbatasan yang ada, cara hemat dan seksama dalam menanam padi dapat meningkatkan produksinya dengan sangat berarti. Cara ini telah diujicoba dan dikembangkan di berbagai negara termasuk di Indonesia (sejak tahun 1999). Berbagai bahasan ilmiah telah dikemukakan dengan melibatkan berbagai pengalaman dan kajian individu maupun institusi dari berbagai negara, dan dilaporkan terutama dalam website Cornell International Institute for Food, Agriculture and Development (CIIFAD) Universitas Cornell di Amerika Serikat atas inisiatif Prof Norman Uphoff. Bahasan yang terjadi sering muncul dalam bentuk pro dan kontra, baik yang menyangkut teknik penanaman, pengaturan air di sawah, dan terutama dalam menyikapi kenyataan terjadinya pelipatgandaan produksi justru tanpa pemupukan yang intensif seperti biasa dilakukan pada cara konvensional. SRI telah dilakukan lebih dari 11 musim berturut-turut di beberapa daerah di Jawa Barat, terutama atas inisiatif penyuluhan Ir.Alik Sutaryat dan Dewan Pemerhati Kehutanan dan Lingkungan Tatar Sunda (DPKLTS). Dalam upaya meningkatkan kesejahteraan para petani ini lebih dari 7000 orang petani telah mengikuti pelatihan yang difasilitasi oleh berbagai instansi seperti Dinas PSDA Jabar, Dirjen Pengelolaan Air dan Lahan, Departemen Pertanian dan Swadaya masyarakat, yang menggarap lebih dari 1400 ha sawah di Jawa Barat.

SRI dapat meningkatkan produksi nyata dari 4-6 ton/ha gabah kering panen menjadi 9-12 ton/ha. Suatu lahan petani di Garut secara berturut-turut mampu meraih produksi nyata 9,4 ton/ha, 11 ton/ha, 14 ton/ha, hingga 17,5 ton/ha dalam perioda 2 tahun ujicoba. Kualitas bulir padi yang dihasilkan juga meningkat dengan bertambahnya produk beras kepala, rasa lebih pulen, dan lebih tahan disimpan. SRI memberikan hasil lebih baik, dalam arti lebih produktif (tanaman lebih tinggi, anakan lebih banyak, malai lebih panjang, dan bulir lebih berat), lebih sehat (tanaman lebih tahan hama dan penyakit), lebih kuat (tanaman lebih tegar, lebih tahan kekeringan, dan tekanan abiotik), lebih menguntungkan (biaya produksi lebih rendah), dan memberikan risiko ekonomi yang lebih rendah

B. Pengertian System of Rice Intensification (SRI)

SRI (System of Rice Intensification) adalah usahatani padi sawah irigasi secara intensif dan efisien dalam pengelolaan tanah, tanaman serta air, melalui pemberdayaan kelompok dan kearifan lokal serta berbasis pada kaidah ramah lingkungan (Departemen Pertanian, 2005). Teknologi SRI di Indonesia lebih menitikberatkan pada penggunaan pupuk organik, begitu juga dalam pengendalian Organisme Pengganggu Tanaman (OPT) khususnya hama dan penyakit hanya mengandalkan pestisida nabati, sehingga dapat menghasilkan padi organic

Pengembangan pola pertanian dengan metoda SRI Organik ini bertujuan:


a. Mengembalikan harkat dan martabat petani melalui peningkatan kualitas

dan kuantitas hasil pertanian untuk kesejahteraanhidupnya b. Memberikan keuntungan secara ekonomis dari lahan atau usaha pertanian ini kepada petani penggarap dan pemilik lahan
c. Mengurangi ketergantungan petani terhadap pihak luar sehingga menjadi

petani yang mandiri dan tidak menjadi objek eksploitasi pihak luar d. Menjaga kelestarian lingkungan e. Mempertahankan taraf kesehatan petani dan yang mengkonsumsi hasil pertaniannya f. Mencapai kemandirian pangan nasional.

C. Teknik Budidaya Padi Metode SRI

1. Penyiapan Benih Benih diseleksi dengan bantuan penggunaan air garam dan telur ayam/itik/bebek. Telur yang bagus umumnya dalam air akan tenggelam, namun bila pada air ini diberi garam yang cukup dan diaduk maka telur yang bagus itu akan mengapung. Bila telur belum juga mengapung maka tambahkan lagi garamnya sampai telur ini mengapung karena berat jenisnya (BJ) menjadi lebih rendah daripada air garam. Air garam yang sudah mampu mengapungkan telur ini dapat digunakan untuk seleksi benih, langkah selanjutnya adalah sebagai berikut : a. Masukkan benih ke dalam air garam dan pilih hanya benih yang tenggelam, gabah yang mengapung dapat dimanfaatkan untuk pakan ayam atau burung b. Benih yang baik kemudian dicuci dengan bersih sampai rasa asinnya hilang dari benih tersebut, juga akan lebih baik dicuci menggunakan wadah yang

berlubang dan pada air yang mengalir untuk meyakinkan benih benar-benar akan terbebas dari garam c. Benih yang sudah bebas dari garam direndam dalam air biasa selama sekitar 24 jam; d. Setelah benih direndam, kemudian lakukan pemeraman selama sekitar 36 jam yaitu benih di bungkus dengan karung goni atau kain yang basah. Penyimpanan benih yang dibungkus kain basah ini akan lebih baik ditempat yang hangat misalnya di dapur asalkan kainnya tetap dijaga basah dan lembab e. Setelah berkecambah atau muncul akar pendek, benih siap disemai atau ditebar.

Gambar 1. Perendaman benih dalam air garam, dipilih benih yang tenggelam. 2. Penyemaian Penyemaian dapat dilakukan di sawah, di ladang atau dalam wadah seperti kotak plastik atau besek (pipiti) yang diberi alas plastik atau daun pisang dan berada di area terbuka yang mendapatkan sinar matahari. Tanah untuk penyemaian tidak menggunakan tanah sawah tetapi menggunakan tanah darat yang gembur dicampur dengan kompos dengan perbandingan tanah:kompos sebaiknya minimal 2:1 dan akan lebih baik bila 1:1, dapat juga ditambahkan pada campuran ini abu bakar agar medianya semakin gembur sehingga nantinya

benih semakin mudah diambil dari penyemaian untuk menghindari putusnya akar. Luas area yang diperlukan untuk penyemaian minimal adalah sekitar 20 m2 untuk setiap 5 kg benih, sehingga bila penyemaian dilakukan pada wadah dapat dihitung jumlah wadah yang diperlukan menyesuaikan dengan ukuran masing-masing wadah dan tentunya akan lebih baik lagi bila tempat penyemaiannya lebih luas untuk pertumbuhan benih yang lebih sehat. Untuk penyemaian yang dilakukan di sawah atau ladang, tempat penyemaian dibuat menjadi berupa tegalan atau guludan seperti untuk penanaman sayuran dengan ketinggian tanahnya sekitar 15 cm, lebar sebaiknya sekitar 125 cm dan seluruh pinggirannya ditahan dengan papan, triplek atau batang pisang untuk mencegah erosi. Benih yang sudah ditebar sebaiknya kemudian ditutup lagi dengan lapisan tipis tanah atau kompos atau abu bakar untuk mempertahankan kelembabannya kemudian ditutup lagi dengan jerami atau daun kelapa untuk menghindari dimakan burung dan gangguan dari air hujan sampai tumbuh tunas dengan tinggi sekitar 1 cm. Setelah dilakukan penyemaian benih-benih ini harus dirawat dengan melakukan penyiraman setiap pagi dan sore bila tidak turun hujan. Benih siap di tanam ke sawah saat usianya belum mencapai 15 hari dan sebaiknya antara umur 8-10 hari setelah tebar yaitu saat baru memiliki dua helai daun. 3. Penyiapan Lahan Penyiapan lahan sawah untuk pertanian organik dengan pola tanam SRI hampir sama dengan pada metoda konvensional. Proses awal pengolahan lahan

adalah dengan dibajak untuk membalikkan tanah dan memecah tanah menjadi bongkahan-bongkahan juga menghancurkan gulma setelah sebelumnya lahan digenangi air selama beberapa hari agar tanahnya menjadi lunak. Proses ini dapat dilakukan secara tradisional dengan menggunakan kerbau atau sapi maupun secara modern dengan menggunakan traktor. Bila diperlukan setelah pembajakan pertama lahan sawah dibiarkan tergenang beberapa hari dan kemudian dilakukan pembajakan kedua. Kedalaman dari pelumpuran lahan turut menentukan pertumbuhan tanaman dan sebaiknya kedalaman pelumpuran tersebut setidaknya mencapai 30 cm.

Gambar 2. Pengolahan lahan Pekerjaan selanjutnya adalah memperbaiki pematang sawah agar lahan sawah tidak bocor dan tidak ditumbuhi tanaman liar untuk menghindari tikus bersarang di pematang sawah ini. Perbaikan pematang sawah dilakukan bersamaan dengan pekerjaan pencangkulan untuk bagian sawah yang tidak dapat dijangkau oleh pembajakan yang biasanya berada di bagian pojok sawah. Kompos dapat ditebarkan sebelum pekerjaan penggaruan sehingga pada saat digaru kompos dapat bercampur dengan tanah sawah atau juga dapat ditebar setelah proses pembajakan, intinya adalah kompos dapat tercampur dengan tanah sawah secara merata dan tidak terbuang terbawa aliran air.

Penggaruan selain untuk makin memperhalus butiran tanah sehingga menjadi lumpur juga sekaligus bertujuan untuk meratakan lahan. Jumlah kompos yang cukup ideal adalah sebanyak 1 kg untuk setiap 1 m2 luas lahan. Perataan lahan merupakan proses yang sangat penting karena lahan harus benar-benar rata dan datar sehingga akan memudahkan dalam pengaturan air nantinya sesuai dengan keperluan. Selanjutnya area penanaman padi dibuat dalam baris-baris atau petakan yang dipisahkan dengan jalur pengairan dengan lebar petakan sekitar 2 m agar memudahkan dan meratakan rembesan air ke seluruh area tanaman padi selain untuk lebih memudahkan saat penanaman dimana petani yang melakukan penanaman posisinya berada di saluran air di kedua sisi petakan. Terakhir, pembuatan tanda lokasi penanaman bibit yang berjarak minimal 25 cm atau lebih (pencaplakan). Dengan teraturnya penanaman padi akan memudahkan dalam penyiangan secara mekanis pada waktu pemeliharaan. Penandaan titik penanaman ini selain dengan membuat garis-garis di tanah menggunakan alat yang bisa dibuat secara sederhana dari kayu atau bambu dapat juga menggunakan tali yang diberi tanda. 4. Penanaman Bibit yang ditanam di persemaian sawah atau ladang tidak boleh diambil dengan cara dicabut atau ditarik tetapi dengan cara di keduk bagian bawah tanahnya sehingga tanahnya ikut terbawa. Kemudian tempatkan kumpulan bibit ini dalam suatu wadah misalkan pelepah pisang, bambu atau lainnya untuk di bawa ke tempat penanaman. Pemindahan harus dilakukan secepat mungkin

dalam waktu sekitar 30 menit atau lebih baik lagi dalam waktu 15 menit untuk menghindari trauma dan shok. Bibit yang ditanam menggunakan wadah akan lebih mudah membawanya ke tempat penanaman. Bibit dipilih yang sehat diantara cirinya adalah lebih tinggi, besar dan daunnya lebih tegak ke atas atau daunnya tidak terlalu terkulai. Penanaman padi dilakukan secara dangkal dan hanya cukup satu bibit untuk satu titik. Satu bibit ditanamkan dengan menggesernya di atas permukaan tanah, yang lebih mudah menggunakan jari jempol dan telunjuk. Sisa dari bibit dapat ditanam tunggal dibagian terluar diantara tanaman padi lainnya dari tiap petakan sebagai cadangan bila di kemudian hari ada tanaman yang tidak sukses tumbuhnya.

Gambar 3. Bibit di keduk bagian bawah tanahnya agar tanahnya ikut terbawa. 5. Perawatan Tanaman padi yang terawat akan memberikan hasil panen yang jauh lebih baik daripada padi di sawah yang biarkan begitu saja. Air diatur agar hanya macak-macak atau mengalir di saluran air saja, perendaman lahan selama beberapa saat dilakukan bila lahan sawah terlihat kering dan adanya retakan halus pada tanah. Penanganan gulma dilakukan dengan penyiangan mekanis

sampai gulma tersebut tercabut dari tanah untuk kemudian dibenamkan menggunakan tangan atau kaki sedalam mungkin agar tidak mampu tumbuh lagi. Proses penyiangan mekanis ini dapat diharapkan nantinya ada penambahan hasil panen satu atau bahkan dua ton per hektarnya sehingga nilai tambah dari penyiangan ini sebenarnya cukup tinggi. Sebelum penyiangan tanah sebaiknya direndam untuk melunakkan tanah dan setelah dilakukan penyiangan air kembali dibuang dan sawah dalam keadaan macak-macak. Proses dekomposisi bahan organik dari gulma agar cepat, maka perlu dilakukan penyemprotan MOL (mikro-organisma lokal) setelah proses penyiangan. Penyemprotan MOL di arahkan ke tanah bukan ke tanaman karena maksudnya adalah penambahan jumlah bakteri pengurai ke dalam tanah untuk melakukan proses dekomposisi bahan organik. MOL ini dapat juga di campur dengan pupuk organik cair (POC) untuk memberikan tambahan unsur hara ke dalam tanah. Konsentrasi larutan untuk penyemprotan baik MOL, POC maupun campuran MOL dan POC jangan terlalu pekat untuk menghindari terjadinya proses dekomposisi yang berlebihan pada tanah yang mengakibatkan akan menguningnya tanaman untuk sementara karena unsur N yang ada dipergunakan oleh bakteri pengurai untuk aktivitasnya. Proses dekomposisi yang berlebihan pun akan terjadi bila menggunakan pupuk kandang atau daun-daunan segar secara langsung ke sawah tanpa proses pengkomposan diluar sawah sehingga tidak baik bila diaplikasikan pada sawah yang sudah ada tanaman padinya. Oleh karenanya resiko penggunaan MOL atau POC yang berlebihan atau terlalu pekat tetap ada tetapi jauh lebih ringan

daripada penggunaan bahan kimia. Untuk lahan sawah yang penggunaan komposnya di bawah jumlah ideal sebaiknya pemakaian POC di tingkatkan jumlahnya. Interval penyiangan mekanis normalnya dilakukan setiap 10 hari sekali tetapi harus segera dilaksanakan bila ada indikasi pertumbuhan gulma sebelum gulma ini semakin tinggi sehingga semakin sulit dihilangkan. Penyemprotan POC kaya N dapat dilakukan pada usia padi 10 hari setelah tanam (hst), 20 hst, 30 hst dan 40 hst. Namun penyemprotan POC kaya N ini dapat dilakukan kapanpun juga bila diperlukan pada kondisi padi terlihat mengalami kahat atau kekurangan N dengan gejala daun menguning. Gabungan POC kaya P dan K disemprotkan 2 atau 3 kali saat padi sudah memasuki usia sekitar 60 hst untuk memperbaiki kualitas pengisian gabah dengan interval penyemprotan setiap 10 hari. Frekuensi penyemprotan POC dapat disesuaikan dengan kondisi di lapangan berdasarkan pengamatan dari pertumbuhan tanaman. Penyemprotan POC atau MOL harus dilakukan dalam kondisi lahan tidak tergenang dan diusahakan pada saat padi mulai berbunga penyemprotan POC sudah dihentikan agar tidak mengganggu proses penyerbukan. Penanganan organisma pengganggu tanaman (OPT) berupa hama atau penyakit dilakukan dengan penggunaan atau penyemprotan pestisida nabati atau pestisida organik lokal (POL) yang diarahkan ke tanaman. Penyemprotan dapat dilakukan sebagai usaha preventif atau pencegahan secara berkala ataupun untuk penanggulangan. Saat mulai muncul malai lahan

digenangi air setinggi sekitar 1-2 cm dari permukaan tanah secara terus menerus sampai saat padi sudah mulai terisi. Aliran air kemudian dihentikan sama sekali atau lahan dikeringkan seterusnya ketika bulir padi sudah terisi.

Gambar 4. Perawatan tanaman padi dengan pestisida nabati. 6. Pemanenan Panen dilakukan saat padi mencapai umur panen sesuai deskripsi untuk masing-masing varietas dihitung dari saat tebar di penyemaian atau sekitar 30-35 hari setelah berbunga atau ketika sekitar 90% padi sudah menguning. Hindari pemanenan pada saat udara mendung atau gerimis. Agar tanaman padi menjadi lebih produktif, diperlukan : 1. Lebih banyak anakan per tanaman; 2. Lebih banyak anakan subur (malai); 3. Lebih banyak bulir per malai, dan; 4. Bulir padi yang lebih besar dan padat Hal di atas bisa didapatkan dengan aplikasi pola tanam SRI (System of Rice Intensification) dengan prinsip dan sebab berikut yang sangat logis, mudah diterima dengan akal sehat walaupun bagi yang tidak memiliki latar belakang ilmu tumbuhan atau pertanian:

a. Penanaman Bibit Muda Pola tanam konvensional biasanya penyemaian dilakukan dengan memakan waktu antara 25-30 hari. Bibit yang saling berdesakan di penyemaian selama sekian lama tersebut akhirnya kehilangan potensi perkembangan anakannya karena saat di penyemaian saling berdesakan dan berebut makanan dengan sesamanya. Walaupun padi sudah berumur sekitar 25 hari sejak ditebar namun selama itu berada di area penyemaian biasanya belum berkembang anakannya. Pola tanam SRI menggunakan bibit muda berumur antara 8-12 hari di penyemaian. Pada sekitar umur 9 hari di penyemaian bibit ini dipindahkan atau ditanam disawah dan biasanya setelah sekitar 12 hari sejak tanam atau 21 hari bila dihitung sejak ditebar dipenyemaian, padi sudah mulai memiliki sekitar 2 atau 3 anakan dan akan berkembang cepat setelah usia sekitar 25 hari setelah tanam atau 34 hari sejak semai.
b. Penanaman Bibit Tunggal dan Jarak Antar Tanaman yang Lebar

Pola tanam konvensional biasanya menggunakan 3, 4 sampai 5 bibit per titik bahkan lebih, ada yang mencapai sampai 10 bibit per titik. Pemikiran para petani adalah dengan makin banyak bibit per titik/per rumpun maka akan makin banyak anakan pe rumpunnya namun kenyataannya tetap saja per rumpunnya hanya bisa di capai 20-30 anakan saja. Jarak tanamnya biasanya masih banyak yang menggunakan 20 cm walaupun sudah ada beberapa petani yang sudah menggunakan jarak tanam 25 cm sedangkan beberapa petani bahkan melakukan penanaman tanpa pola/jarak yang tentu atau tanpa

menggunakan caplakan. Rapatnya jarak antar tanaman baik dalam 1 titik/rumpun maupun dengan titik/rumpun sebelahnya menyebabkan nutrisi yang ada di area tersebut menjadi terbagi-bagi untuk banyak tanaman. Tentunya makin banyak tanaman di area tersebut sedangkan jumlah nutrisi terbatas menyebabkan tanaman menjadi kurus. Berbeda dengan pola tanam SRI yang hanya menggunakan 1 bibit per titik dan jarak antar titik minimal 25 cm menyebabkan satu tanaman ini leluasa mendapatkan nutrisi di area tumbuhnya. Dengan demikian potensi perkembangan anakannya menjadi lebih baik lagi dan saat mengeluarkan malai potensi anakan suburnya atau malai pun menjadi lebih tinggi. Dengan cara ini satu rumpun dari 1 bibit bisa mencapai lebih dari 40 anakan bahkan untuk tanah yang sudah kembali sehat karena sudah beberapa musim tanam menggunakan pola tanam SRI Organik bisa diperoleh sampai 120 anakan per rumpunnya.
c. Penanaman Segera untuk Menghindari Trauma pada Bibit

Bibit yang sudah berumur 25-30 hari biasanya dicabut dengan memegang daunnya dan diangkat paksa di area penyemaian bertanah lumpur sawah yang lengket pada pola tanam konvensional. Perlakuan ini menyebabkan banyaknya akar bibit yang putus saat pencabutan. Setelah dicabut biasanya akar bibit dipukul-pukulkan/dibanting-banting ke air untuk membersihkannya dari tanah sawah yang masih menempel. Kemudian bibitbibit tersebut di kumpulkan dalam beberapa ikatan berdiameter sekitar 10cm dan daunnya dipotong hampir setengahnya agar rata. Bila tidak sempat ditanam hari itu, bibit-bibit tersebut disimpan selama semalam untuk ditanam

keesokan harinya. Bibit tanaman adalah makhluk hidup yang dapat mengalami stress dan trauma juga sehingga wajar bila pada pola tanam konvensional saat bibit ini ditanam pada beberapa hari berikutnya akan mengalami tanda-tanda akan mati seperti daun mengering karena sebelum penanaman mengalami penyiksaan fisik yang mengakibatkan stress dan trauma walaupun kemudian akan mulai hidup kembali atau petani di Jawa Barat mengistilahkannya lilir (siuman). Pola tanam SRI memperlakukan bibit dengan sangat hati-hati, tanah untuk penyemaian dipilih berupa tanah atau campuran tanah yang gembur sehingga memudahkan saat pengambilan bibit dan mengurangi resiko putusnya akar bibit muda ini. Bibit diambil dengan dikeduk dasar tanahnya untuk kemudian bibit segera ditanam di sawah dalam jangka waktu tidak lebih dari 30 menit sejak saat bibit itu diambil dari penyemaian tanpa perlu bibit ini dibersihkan terlebih dahulu dari tanah yang menempel di akarnya. d. Penanaman Dangkal Beberapa bibit sekaligus ditancapkan pada tanah sawah dalam pola konvensional sehingga akar tertancap cukup dalam serta seperti membentuk huruf J. Sifat alami akar adalah terus tumbuh menancap ke bawah, sehingga dengan bentuk akar seperti huruf J ini yang ujung akarnya mengarah ke atas menyebabkan akar memerlukan waktu dan energi lebih untuk mengembalikan posisi arah ujungnya menuju ke bawah sehingga memperlambat proses perkembangan akar yang akhirnya menunda perkembangan tanaman. Pada pola tanam SRI penanaman dilakukan secara

dangkal dengan menggeser tanaman di atas permukaan tanah sehingga antara batang tanaman dengan akar seperti membentuk huruf L. Dengan posisi yang demikian maka pertumbuhan akar dapat terus berlanjut dengan baik tanpa perlu upaya dari tanaman untuk kembali mengarahkan akarnya ke bawah. Posisi akar yang ada di permukaan tanah juga memberikan kesempatan pada akar untuk mendapatkan oksigen dan unsur lainnya secara langsung dari udara dalam beberapa waktu dengan lebih baik yang dapat membantu pertumbuhan akar. e. Lahan Sawah Tidak Terus Menerus Direndam Air Padi bukanlah tanaman air akan tetapi tanaman yang membutuhkan banyak air dalam pertumbuhannya. Akibatnya dengan sistem pertanian padi yang saat ini umum diterapkan yaitu dengan penggenangan lahan sawah, akar tanaman padi sekitar 75% nya busuk sehingga tidak efektif lagi dalam melakukan fungsinya mendapatkan nutrisi dari air dan tanah yang diperlukan oleh tanaman. Pola tanam SRI mengharuskan lahan dalam kondisi macakmacak (atau lembab) saja sehingga pertumbuhan akar menjadi lebih baik. Air cukup digenang di jalur air atau parit yang dibuat mengelilingi dan/atau membelah lahan sehingga dapat merembes ke lahan dibagian tengah untuk mencukupi kebutuhan air bagi tanaman. f. Penyiangan Mekanis Pada intinya gulma harus dikendalikan dalam pertanian baik pola konvensional maupun pola SRI. Penanganan gulma dapat dilakukan dengan melakukan pencabutan gulma dengan tangan atau dengan alat penyiangan

mekanis kemudian dibuang atau ditenggelamkan. Keterlambatan atau meniadakan proses penanganan gulma menyebabkan turunnya secara drastis proyeksi hasil panen sehingga menjadikan proses penangan gulma ini menjadi tahapan yang sangat penting. Pada pola tanam SRI penanganan gulma yang dianjurkan adalah dengan menggunakan alat penyiangan mekanis sedini mungkin saat gulma baru mulai muncul agar tanah dapat digemburkan kembali untuk memperbaiki proses aerasi sehingga tanah dan akar mendapatkan kembali pasokan oksigen juga unsur lainnya seperti nitrogen dari udara dengan cukup. Gulma ditenggelamkan untuk menambah pasokan bahan organik dalam tanah. Diperlukan pemikiran positif/positive thinking untuk menangani gulma ini : Weeds Not a problem but an opportunity, gulma jangan dipandang sebagai masalah tetapi harus dipandang sebagai kesempatan dalam mendapatkan bahan organik tambahan untuk

menyuburkan tanah. g. Menjaga Keseimbangan Biologi Tanah Penggunaan pupuk/pestisida kimia sintetis pada sistem pertanian konvensional memberikan kerusakan terhadap kehidupan biota tanah sehingga keseimbangan biologi tanah menjadi terganggu. Pola tanam SRI mengharuskan perbaikan keseimbangan biologi tanah diantaranya dengan cara menambahkan kembali bahan organik ke dalam tanah seperti kompos, pupuk organik cair atau mikroorganisma. Penambahan bahan organik ini diharapkan dapat meningkatkan kualitas dan kuantitas kehidupan biota tanah berupa bakteri, jamur dan lainnya yang berperan penting terhadap kesuburan

tanah seperti penyediaan unsur hara/nutrisi yang dibutuhkan tanaman dengan melakukan penambatan unsur Nitrogen (N) dari udara, melepaskan ikatan unsur Phosfat (P) dan Kalium (K) dari tanah serta fungsi-fungsi penting lainnya.

D. Prinsip-prinsip budidaya padi organik metode SRI


a. Tanaman bibit muda berusia kurang dari 12 hari setelah semai (hss) ketika bibit

masih berdaun 2 helai.


b. Bibit ditanam satu pohon perlubang dengan jarak 30 x 30, 35 x 35 atau lebih

jarang.
c. Pindah tanam harus sesegera mungkin (kurang dari 30 menit) dan harus hati-hati

agar akar tidak putus dan ditanam dangkal.


d. Pemberian air maksimal 2 cm (macak-macak) dan periode tertentu dikeringkan

sampai pecah (Irigasi berselang/terputus).


e. Penyiangan sejak awal sekitar 10 hari dan diulang 2-3 kali dengan interval 10

hari.
f. Sedapat mungkin menggunakan pupuk organik (kompos atau pupuk hijau).

E. Manfaat System of Rice Intensification (SRI)

Secara umum manfaat dari budidaya metode SRI adalah sebagai berikut: a. Hemat air (tidak digenang), Kebutuhan air hanya 20-30% dari kebutuhan air untuk cara konvensional

b. Memulihkan kesehatan dan kesuburan tanah, serta mewujudkan keseimbangan ekologi tanah c. Membentuk petani mandiri yang mampu meneliti dan menjadi ahli di lahannya sendiri. Tidak tergantung pada pupuk dan pertisida kimia buatan pabrik yang semakin mahal dan terkadang langka membuka lapangan kerja dipedesaan, mengurangi pengangguran dan meningkatkan pendapatan keluarga petani menghasilkan produksi beras yang sehat rendemen tinggi, serta tidak mengandung residu kimia d. Mewariskan tanah yang sehat untuk generasi mendatang. SRI berhasil karena menerapkan konsep sinergi. Dalam konteks ini, sinergi menunjukkan bahwa semua praktek dalam SRI berinteraksi secara positif, saling menunjang, sehingga hasil keseluruhan lebih banyak daripada jumlah masingmasing bagian. Setiap bagian dari SRI bila dilakukan akan memberikan hasil yang positif, tapi SRI hanya akan berhasil kalau semua praktek dilaksanakan secara bersamaan. Ketika dipakai bersamaan, praktek SRI memberi dampak pada struktur tanaman padi yang berbeda dibandingkan praktek tradisional. Dalam metode SRI, tanaman padi memiliki lebih banyak batang, perkembangan akar lebih besar, dan lebih banyak bulir pada malai. Untuk menghasilkan batang yang kokoh, diperlukan akar yang dapat berkembang bebas untuk mendukung pertumbuhan batang di atas tanah. Untuk ini akar membutuhkan kondisi tanah, air, nutrisi, temperatur dan ruang tumbuh yang optimal.

Akar juga memerlukan energi hasil fotosintesis yang terjadi di batang dan daun yang ada di atas tanah. Sehingga akar dan batang saling tergantung. Saat kondisi pertumbuhan optimum, ada hubungan positif antara jumlah batang per tanaman, jumlah batang yang menghasilkan (malai), dan jumlah bulir gabah per batang. Tanaman padi dalam model SRI akan tampak kecil, kurus dan jarang di sawah selama sebulan atau lebih setelah transplantasi. Dalam bulan pertama,

tanaman mulai menumbuhkan batang. Selama bulan ke-2 pertumbuhan batang mulai terlihat nyata. Dalam bulan ke-3, petak sawah tampak meledak dengan pertumbuhan batang yang sangat cepat. Untuk memahami hal ini, perlu dimengerti konsep phyllochrons, sebuah konsep yang diaplikasikan pada keluarga rumputrumputan, termasuk tanaman biji-bijian seperti padi, gandum, dan barley.

F. Perbedaan hasil cara SRI dengan Konvensional Kebutuhan pupuk organik dan pestisida untuk padi organik metode SRI dapat diperoleh dengan cara mencari dan membuatnya sendiri. Pembuatan kompos sebagai pupuk dilakukan dengan memanfaatkan kotoran hewan, sisa tumbuhan dan sampah rumah tangga dengan menggunakan aktifator MOL (Mikro-organisme Lokal) buatan sendiri, begitu pula dengan pestisida dicari dari tumbuhan behasiat sebagai pengendali hama. Dengan demikian biaya yang keluarkan menjadi lebih efisien dan murah.

Penggunaan pupuk organik dari musim pertama ke musim berikutnya mengalami penurunan rata-rata 25% dari musim sebelumnya. Sedangkan pada metode konvensional pemberian pupuk anorganik dari musim ke musim cenderung meningkat, kondisi ini akan lebih sulit bagi petani konvensional untuk dapat meningkatkan produsi apalagi bila dihadapkan pada kelangkaan pupuk dikala musim tanam tiba. Pemupukan dengan bahan organik dapat memperbaiki kondisi tanah baik fisik, kimia maupun biologi tanah, sehingga pengolahan tanah untuk metode SRI menjadi lebih mudah dan murah, sedangkan pengolahan tanah yang menggunakan pupuk anorganik terus menerus kondisi tanah semakin kehilangan bahan organik dan kondisi tanah semakin berat, mengakibatkan pengolahan semakin sulit dan biaya akan semakin mahal. Hasil panen pada metode SRI pada musim pertama tidak jauh berbeda dengan hasil sebelumnya (metode konvensional) dan terus meningkat pada musim berikutnya sejalan dengan meningkatnya bahan organik dan kesehatan tanah. Musim ke-3 akan diperoleh beras organik dan akan memiki harga yang lebih tinggi dari beras padi dari sistem konvensional. Beras organik yang dihasilkan dari sistem tanam di musim pertama memiliki harga yang sama dengan beras dari sistem tanam konvesional, harga ini didasarkan atas dugaan bahwa beras tersebut belum tergolong organik, karena pada lahan tersebut masih ada pupuk kimia yang tersisa dari musim tanam sebelumnya.

Tabel 1. Perbedaan Sisten Tanam Padi Organik SRI dengan Sistem Konvensional NO 1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. 8. 9. 10. KOMPONEN Kebutuhan benih Pengujian benih Umur di persemaian Pengolahan tanah Jumlah tanaman perlubang Posisi akar waktu tanam Pengairan Pemupukan Penyiangan Rendemen SISTEM KONVENSIONAL 30-40 kg/ ha Tidak dilakukan 20-30 SHS SISTEM SRI 5-7 kg/ ha Dilakukan pengujian 7-10 SHS

2-3 Kali (struktur 3 kali lumpur) Rata-rata 5 rumpun/ 1 rumpun/pohon pohon Tidak teratur Posisi akar horizontal (L) Terus digenangi Disesuakan dengan kebutuhan Mengutamakan Menggunakan pupuk penggunaan pupuk organik kimia Mengutamkan Diarahkan pengelolaan pemberantasan gulma perakaran 50-60 % 60-70%

Keterangan: HSS = Hari Setelah Semai

IV.

PENUTUP

A. Kesimpulan
1. Pengertian SRI (System of Rice Intensification) adalah usahatani padi sawah

irigasi secara intensif dan efisien dalam pengelolaan tanah, tanaman serta air. Melalui pemberdayaan kelompok dan kearifan lokal serta berbasis pada kaidah ramah lingkungan (Departemen Pertanian, 2005).
2. Prinsip-prinsip budidaya padi organik metode SRI a. Tanaman bibit muda berusia kurang dari 12 hari setelah semai (hss) ketika

bibit masih berdaun 2 helai.


b. Bibit ditanam satu pohon perlubang dengan jarak 30 x 30, 35 x 35 atau lebih

jarang.
c. Pindah tanam harus sesegera mungkin (kurang dari 30 menit) dan harus hati-

hati agar akar tidak putus dan ditanam dangkal.


d. Pemberian air maksimal 2 cm (macak-macak) dan periode tertentu

dikeringkan sampai pecah (Irigasi berselang/terputus).


e. Penyiangan sejak awal sekitar 10 hari dan diulang 2-3 kali dengan interval 10

hari.
f. Sedapat mungkin menggunakan pupuk organik (kompos atau pupuk hijau). 3. Manfaat dari budidaya metode SRI adalah sebagai berikut:

a. Hemat air (tidak digenang), Kebutuhan air hanya 20-30% dari kebutuhan air untuk cara konvensional

b. Memulihkan

kesehatan

dan

kesuburan

tanah,

serta

mewujudkan

keseimbangan ekologi tanah c. Membentuk petani mandiri yang mampu meneliti dan menjadi ahli di lahannya sendiri. d. Mewariskan tanah yang sehat untuk generasi mendatang. 4. Umumnya, sistem pertanaman SRI tidak jauh beda dengan sistem konvensional. Namun, terdapat beberapa perbedaan dalam pelaksanaannya, yaitu: NO 1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. 8. 9. 10. KOMPONEN Kebutuhan benih Pengujian benih Umur di persemaian Pengolahan tanah Jumlah tanaman perlubang Posisi akar waktu tanam Pengairan Pemupukan Penyiangan Rendemen SISTEM KONVENSIONAL 30-40 kg/ ha Tidak dilakukan 20-30 SHS SISTEM SRI 5-7 kg/ ha Dilakukan pengujian 7-10 SHS

2-3 Kali (struktur 3 kali lumpur) Rata-rata 5 rumpun/ 1 rumpun/pohon pohon Tidak teratur Posisi akar horizontal (L) Terus digenangi Disesuakan dengan kebutuhan Mengutamakan Menggunakan pupuk penggunaan pupuk organik kimia Mengutamkan Diarahkan pengelolaan pemberantasan gulma perakaran 50-60 % 60-70%

B. Saran

1. Melihat kondisi lahan pertanian di wilayah Indonesia yang terus menurun

kesuburannya, kelangkaan dan harga pupuk kimia yang terus melambung serta suplai air yang terus berkurang dari waktu ke waktu, maka dikembangkanlah metode SRI untuk meningkatkan hasil produksi padi.
2. Pengembangan sistem pertanaman dengan metode SRI perlu lebih ditingkatkan

lagi karena metode SRI menguntungkan untuk petani, selain itu tidak mempergunakan pupuk dan pestisida kimia, tanah menjadi gembur,

mikroorganisme tanah meningkat jadi ramah lingkungan. Untuk mempercepat penyebaran metode SRI perlu dukungan dengan kebijakan pemerintah pusat maupun daerah.

DAFTAR PUSTAKA Kuswara dan Alik Sutaryat, 2003. Dasar Gagasan dan Praktek Tanam Padi Metode SRI (System ofRice Intencification). Kelompok Studi Petani (KSP). Ciamis Mutakin, J. 2005. Kehilangan Hasil Padi Sawah Akibat Kompetisi Gulma pada Kondisi SRI (Systen of Rice Intencification). Tesis. Pascasarjana. Unpad Bandung Sampurna Untuk Indonesia, 2008. SRI Sytem Rice intensification, Pasuruan Husodo, Siswono Yudo, dkk. 2004. Pertanian Mandiri. Penebar Swadaya. Jakarta Adiningsih, S. 2004. Dinamika hara dalam tanah dan mekanisme serapan hara dalam kaitannya dengan sifat-sifat tanah dan aplikasi pupuk. LPI danAPPI, Jakarta. Widati, et al., 1999. Dalam Ochi Rosyidah. 2010. SRI (System Rice Intensification) dan Tarik Ulur Ketahanan Pangan Nasional. Diakses pada tanggal 10 November 2010. Nurjaya et al., 1999. Dalam Ochi Rosyidah. 2010. SRI (System Rice Intensification) dan Tarik Ulur Ketahanan Pangan Nasional. Diakses pada tanggal 10 November 2010. Karama et al., 1990. Dalam Ochi Rosyidah. 2010. SRI (System Rice Intensification) dan Tarik Ulur Ketahanan Pangan Nasional. Diakses pada tanggal 10 November 2010. Jo dan Uwasawa et al., 1990. Dalam Ochi Rosyidah. 2010. SRI (System Rice Intensification) dan Tarik Ulur Ketahanan Pangan Nasional. Diakses pada tanggal 10 November 2010.