Anda di halaman 1dari 3

Agama dan Kehidupan Kehidupan beragama pada dasarnya merupakan kepercayaan terhadap keyakinan adannya kekuatan gaib, luar

biasa atau supernatural yang berpengaruh terhadap kehidupan individu dan masyarakat, bahkan terhadap segala gejala alam. Kepercayaan itu menimbulkan prilaku tertentu, seperti berdoa, memuja dan lainnya, serta menimbulkan sikap tertentu, seperti rasa takut, rasa optimis, pasrah dan lainnya dari individu dan masyarakat yang mempercayainya. Karenanya, keinginan, petunjuk dan ketentuaan-ketentuan gaib harus

dipatuhi kalau manusia dan masyarakat ingin kehidupan ini berjalan dengna baik dan selamat. Kepercayaan beragama yang bertolak dari kekuatan gaib ini tampak aneh, tidak alamiah dan tidak rasional dalam pandangan individu dan masyarakat modern yang terlalu dipengaruhi oleh pandangan bahwa sesuatu diyakini ada kalau konkret, rasional, alamiah atau terbukti secara empirik dan ilmiah. Namun demikian, kehidupan beragama adalah kenyataan hidup manusia yang ditemukan sepanjang sejarah masyarakat dan kehidupan pribadinya. Ketergantungan masyarakat dan individu kepada kekuatan gaib ditemukan dari zaman purba sampai ke zaman modern ini. Kepercayaan itu diyakini kebenarannya sehingga ia menjadi kepercayaan keagamaan atau kepercayaan religius. Kajian Antropologi terhadap Agama Kehidupan beragama ditelusuri dari zaman prasejarah sampai zaman modern. Banyak ahli antropologi melakukan penelitian dikalangan masyarakat primitif dengan tujuan untuk dapat memahami gejala kehidupan beragama yang masih murni karena kehidupan beragama masyarakat modern sudah campur aduk dengan kehidupan yang lain. Antropologi klasik memahami gejala kehidupan beragama sebagai kebudayaan suatu masyarakat. Agama dipahami sebagai human creation, human made. Agama dilihat sebagai: 1. Ekspresi simbolis dari kehidupan manusia yang dengannya manusia menafsirkan dirinya dan universe disekelilingnya, 2. Yang memberikan motif bagi perbuatan manusia, 3. Sekumpulan tindakan yang berhubungan satu sama lain yang punya nilai-nilai yang melangsungkan kehidupan manusia.

Perhatian ahli antropologi dalam meneliti agama ditujukan untuk melihat keterkaitan faktor lingkungan alam, struktur sosial, struktur kekerabatan dan lain sebagainya terhadap timbulnya berbagai jenis agama, kepercayaan, upacara, organisasi keagamaan tertentu. Disamping itu juga ingin diketahui secara lebih detail tentang keterkaitan kepercayaan dan kehidupan beragama dengan institusi budaya yang lain seperti seni, ilmu pengetahuan, sistem ekonomi, hukum, politik dan lainnya. Objek Kajian Antropologi Agama Agama yang dipelajari oleh antropologi adalah agama sebagai fenomena budaya, tidak ajaran agama yang datang dari Tuhan. Maka yang menjadi perhatian adalah beragamanya manusia dan masyarakat. Sebagai ilmu sosial, antropologi tidak membahas salah benarnya suatu agama dan segenap perangkatnya, seperti kepercayaan, ritual dan kepercayaan kepada yang sakral. Setiap unsur budaya terdiri dari tiga hal: 1. Norma, nilai, keyakinan yang ada dalam pikiran, hati dan perasaan manusia pemilik kebudayaan tersebut, 2. Pola tingkah laku yang dapat diamati dalam kehidupan nyata, 3. Dan hasil material dan kreasi, pikiran dan perasaan manusia. Demikian juga agama sebagai fenomena budaya, ia ditemukan dalam bentuk keyakianan, prilaku dan benda-benda konkret yang dihasilkan oleh manusia dan masyarakat beragama. Harsojo mengungkapkan bahwa kajian anttropologi terhadap agama dari dahulu sampai sekarang meliputi empat masalah pokok, yaitu: dasar-dasar fundamental dari agama dan tempatnya dalam kehidupan manusia, bagaimana manusia yang hidup bermasyarakat memenuhi kebutuhan religius mereka?, dari mana asal uasul agama?, bagaimana manifestasi perasaan dan kebutuhan religius manusia?. Penelusuran terhadap asal-usul agama secara universal tidak akan mungkindicapai karena karakteristik ajaran dan umat beragama sangat banyak dan sangat berbeda satu sama lain. Mendasarkan pendapat tentang asal-usul agama pada data keagamaan masyarakat primitif sungguh tidak representatif, bahkan salah kaprah karena agama-agama besar dunia sangat berbeda dengan agama masyarakat primitif. Kemudian penelusuran secara ilmiah terhadap kepercayaan beragama, menuntut bukti yang rasional empirik, dan berikutnya menuntut kesimpulan yang rasional empirik. Mengatakan agama dari tuhan tentu tidak empirik. Karena itu Durkheim mengatakan bahwa asal-usul agama adalah masyarakat itu

sendiri. Beragama human made dan human creation. Selain itu, mengatakan demikian asalusul agama tidaklah sesuai dengan apa yang ada dalam keyakinan dan pikiran umat beragama karena menurut mereka agama adalah ajaran Tuhan. Walaupun kemudian disamaikan dan diolah atau diijtihadkan oleh pemuka agama, asal bahan yang diolah dan diijtihadkan itu tetap dari wahyu Tuhan. Kesimpulan agama dari Tuhan sesuai dengan metode verstehen, dengan pendekatan fenomenologis yang merupakan ciri pendekatan antropologi. Pendekatn Antropologi Agama Pendekatan antropologi tidak menjawab bagaimana seharusnya beragama menurut kitab suci, tetapi bagaimana menurut penganutnya. Yang dalam kitab suci adalah das Sollen, bagaimana seharusnya, sedangkan bagaimana menurut umatnya adalah empirik, yang dialami oeh manusia, baik yang diyakininya, dikerjakannya, maupun yang dirasakannya. Dengan demikian, yang diyakini suatu masyarakat beragama dapat saja gaib, tidak dapat diteliti. Akan tetapi, keyakinan masyarakat dalam bentuk kepercayaan kepada yang gaib bersifat empirik, dialami oleh manusia, sehingga dapat dijadikan objek kajian ilmiah. Tetapi manusia percaya kepada Tuhan, bagaimana sifat Tuhan yang dipercayainya, hubungan dengan Tuhan tersebut dan lainnya yang mereka alami adalah empirik, kenyataan hidup yang dapat diteliti secara ilmiah. Antropologi memakai pendekatan dari dalam atau pendekata verstehen. Fenomena budaya yang dihasilkan oleh agama dipahami menurut interpertasi pemeluknya sendiri, tidak menurut kacamata peneliti. Untuk memahami makna suatu simbol keagamaan, ditanyakan kepada masyarakat penganutnya sendiri. Sebagai kajian antropologis, beragamanya manusia ingin dipelajari secara mendalam, sampai dasar-dasar fundamental dari kehidupan beragama dan asal-usul manusia beragama. Pendekatan ini bukan tidak objektif adalah kalau memahami masalah harus disesuaikan dengan kryakinan dan nilai-nilai yang dianut peneliti dan dipaksakan tanpa didukung oleh bukti yang dapat dipertanggung jawabkan secara ilmiah.