Anda di halaman 1dari 20

MODUL 4 SISTEM KOLOID

Tujuan Pembelajaran Setelah mempelajari modul ini, peserta didik diharapkan mampu: 1. 2. Membuat berbagai sistem koloid dengan bahan-bahan yang ada di sekitarnya. Mengelompokkan sifat-sifat koloid dan penerapannya dalam kehidupan sehari-hari Refleksi tentang: Sistem Koloid

Sumber : http://inmodeltafincas.com

Pernahkah Anda melihat delta di muara sungai? Bagaimana delta terbentuk? Delta terbentuk jika air sungai yang keruh dan berwarna coklat bertemu dengan air laut yang umumnya jernih. Di tempat ini terdapat gundukan tanah yang dinamakan delta. Mengapa di muara sungai dapat terbentuk suatu delta? Delta ini terbentuk karena air sungai yang keruh coklat, membawa berbagai jenis kotoran dan tanah bertemu dengan ion-ion yang terdapat di air laut, mengalami koagulasi. Air sungai yang tampak keruh merupakan suatu koloid. Karena keruh, dapat diduga bahwa zat-zat yang menyatu dengan air sungai itu mayoritas berfase padat. Koloid yang fasa terdispersinya padat dan medium pendispersinya cair, yaitu air, dinamakan sol. Dikatakan bahwa air sungai adalah koloid padat dalam cair. Suatu koloid merupakan campuran antara homogen dan heterogen. Hal ini menjelaskan bahwa bagian terkecil koloid berupa sekelompok partikel yang tersebar dalam medium pendispersinya. Masing-masing kelompok ini dapat stabil dalam waktu yang cukup lama berada di antara medium pendispersi, karena dilindungi oleh ion-ion tertentu yang diadsorpsi oleh kelompok partikel tersebut. Oleh karena itu koloid memiliki muatan tertentu. Air laut rasanya asin, berarti mengandung garam. Garam yang diperoleh dari air laut dan sehari-hari dikenal sebagai garam dapur, rumus kimianya NaCl. Walaupun kandungan garam dalam air laut tidak hanya NaCl, namun kandungan terbanyak adalah NaCl. Jenis ikatan yang terdapat dalam senyawa ini adalah ikatan elektrovalen

91 koloid

atau lebih terkenal sebagai ikatan ion, karena ikatan ini menunjukkan adanya gaya elektrostatik antara ion-ion Na dengan ion-ion Cl . Pada saat air sungai bertemu dengan air laut, maka terjadilah perlucutan muatan koloid sungai oleh ionion dari air laut. Ion-ion yang berlawanan muatan ini tarik menarik, sehingga terjadi penetralan muatan. Karena pelindung atau selimut muatan koloid itu terlucuti, maka masing-masing kelompok partikel koloid itu menyatu dan menggumpal. Makin lama gumpalan itu membesar dan akhirnya akan mengendap menjadi gundukan tanah. Peristiwa ini merupakan koagulasi koloid oleh elektrolit.

Nilai Pendidikan Karakter yang terintegrasi Kreatif Mandiri Kerja Keras Religius Rasa Ingin Tahu Peduli Lingkungan

Kata Kunci Koloid Suspensi Efek Tyndall Gerak Brown Standar Capaian Standar capaian merupakan indikator hasil belajar yang harus dicapai peserta didik. Standar capaian dalam modul hidrolisis garam adalah : 1.1. Menjelaskan proses pembuatan koloid melalui percobaan. 1.2. Mengklasifikasikan suspensi kasar, larutan sejati dan koloid berdasarkan data hasil pengamatan (effek Tyndall, homogen/heterogen, dan penyaringan) 1.3. Mengelompokkan jenis koloid berdasarkan fase terdispersi dan fase pendispersi 1.4. Mendeskripsikan sifat-sifat koloid (effek Tyndall, gerak Brown, dialisis, elektroforesis, emulsi, koagulasi) 1.5. Menjelaskan koloid liofob dan liofil 2.1. Mendeskripsikan peranan koloid di industri kosmetik, makanan, dan farmasi Koloid Liofil Koloid liofob Sol Busa Gel Emulsi Koagulasi Dispersi Kondensasi Adsorbsi Elektroforesis Dialisis

Cek Kemampuan Awal 1. Apakah yang Anda ketahui tentang a. b. c. d. 2. Larutan Suspensi Campuran Larutan Elektrolit

Jelaskan dan berikan contoh yang dimaksud dengan a. b. Campuran Homogen Campuran Heterogen

3. 4.

Apakah yang Anda ketahui tentang reaksi pengendapan, berlah contohnya? Dari senyawa berikut hitunglah banyak ion yang dihasilkan : a. KCl

92 koloid

b. c. d. e.

CaCO3 Al2(SO4)3 Fe2O3 KCrO4

Prasyarat Jadi sebelum Anda mempelajari modul sistem koloid, Anda harus menguasai konsep unsur, senyawa, campuran, stoikiometri larutan dan larutan elektrolit. Dari konsep-konsep tersebut anda akan mampu mengidentifikasi koloid, larutan dan suspensi, setelah itu Anda akan mampu membedakan jenis dan sifat koloid, serta pemanfaatan dan pembuatannya dalam kehidupan sehari-hari.

93 koloid

KEGIATAN PEMBELAJARAN 1
Tahukah Anda mengapa jalannya cahaya akan terlihat jelas saat berada pada ruangan yang berdebu? Debu adalah partikel- partikel zat padat yang berada pada medium udara atau gas. Debu merupakan salah satu contoh sistem koloid. Berkas cahaya yang nampak jelas pada ruangan yang berdebu merupakan salah satu sifat partikel koloid yang disebut dengan efek tyndall. Dalam kehidupan sehari-hari sistem koloid juga banyak ditemukan sebagai produk-produk industri untuk keperluan rumah tangga, kosmetik, dan farmasi. Susu, keju, roti, obatobatan sirup, Parfum adalah contoh koloid yang kita temui sehari-hari. Apa yang dimaksud dengan koloid, bagaimana sifat-sifatnya, dan bagaimana cara membuatannya? Pada modul ini Kita akan mempelajari perbedaan koloid dengan larutan dan suspensi, macam-macam koloid berdasarkan fase terdispersi dan medium perdispersinya, sifat-sifat koloid, cara-cara pembuatan koloid, serta manfaat koloid.

Sumber : http://udn.epicgames.com

A. Pengertian Koloid Apa yang dimaksud dengan koloid? Untuk membedakan koloid dari suspensi dan larutan sejati coba masukkan masing-masing satu sendok teh gula, tepung kanji, dan gamping, masing-masing ke dalam 100 mL air. Aduk secara bersamaan. Amati beberapa saat.

Sumber : kolloid.physik.uni-mainz.de

Gambar 4.1 Larutan, Koloid dan Suspensi Berdasarkan pengamatan didapatkan: 1. Campuran air dan gula membentuk campuran homogen yang jernih. Campuran ini disebut larutan sejati atau larutan. 2. Campuran air dan kanji membentuk larutan keruh. Campuran ini tidak terbentuk endapan ini disebut suspensi.

94 koloid

3.

Campuran air dan gamping membentuk campuran heterogen dan ada endapan. Campuran ini disebut suspensi. Pada campuran air dan tepung kanji, air merupakan medium pendispersi (pelarut), sedangkan tepung kanji merupakan fase terdispersi (zat terlarut). Pada koloid partikel-partikel tersebar di dalam medium pendispersinya. Ukuran diameter partikel-partikel koloid lebih besar daripada diameter partikel larutan sejati tetapi lebih kecil dari -7 -5 partikel suspensi kasar yaitu sebesar 10 cm sampai dengan 10 cm. untuk lebih jelasnya lakukan percobaan berikut :

1. 2. 3.

4.

Nama Percobaan : Membedakan larutan, koloid dan Suspensi Tujuan: mempelajari berbagai jenis campuran Alat dan Bahan: Gelas kimia (100ml) Pengaduk corong kertas saring Gula pasir Terigu Susub instant Ureasabun Serbuk belereng Air suling Cara kerja: 1. Isilah 6 gelas kimia dengan 50 ml air suling 2. Tambahkan: a. 1 sendok gula pasir dalam gelas-1 b. 1 sendok terigu dalam gelas-2 c. 1 sendok susu instan dalam gelas-3 d. 1 sendok urea dalam gelas-4 e. 1 sendok sabun dalam gelas-5 f. 1 sendok serbuk belerang dalam gelas-6 3. Aduklah setiap campuran. Perhatikanlah apakah zat yang dicampurkan larut atau tidak. 4. Diamkan campuran tersebut. Catat apakah campuran itu stabil atau tidak stabil;bening atau keruh 5. Saringlah setipa campuran. Catat manakah yang meninggalkan redisu dan apakah hasil penyaringan bening atau keruh.

5.

Data Pengamatan Campuran air dengan Gula Pasir Tepung Terigu Susu Urea Sabun Belerang

Sifat Campuran Larut atau tidak larut Stabil atau tidak stabil Bening atau keruh Mengendap atau tidak Fitrat bening atau keruh

6. Pertanyaan 1. Kelompokkan campuran di atas manakah yang termasuk larutan, koloid, atau suspensi 2. Dari percobaan di atas apakah yang membedakan larutan, koloid, dan suspensi

95 koloid

Perbedaan sifat larutan sejati, koloid dan suspensi secara umum ditunjukan pada Tabel 4.1. Tabel 4.1 Perbedaan Larutan, Koloid dan Suspensi Larutan Koloid Homogen, tidak dapat dibedakan walaupun menggunakan mikroskop ultra Ukuran partikel kurang dari 10 cm (1 nm)
-7

No 1

Suspensi Heterogen

Bersifat homogen bila diamati secara makroskopis tapi bersifat heterogen bila diamati dengan mikroskop ultra -5 Ukuran partikel antara 10 cm -7 10 cm (100 nm 1 nm) Dua fase Pada umumnya stabil Tidak dapat disaring dengan penyaring biasa, tapi dapat disaring dengan penyaring ultra

3 4 5

Satu fase Bersifat stabil Tidak dapat disaring, meskipun dengan penyaring ultra

Ukuran Partikel lebih -5 besar dari 10 cm (100 nm) Dua fase Tidak stabil Dapat disaring

B.

Macam - Macam Sistem Koloid Telah kita pelajari sebelumnya bahwa koloid terdiri dari 2 fase yaitu fase terdispersi dan medium pendispersi. Fase terdispersi adalah yang terlarut di dalam larutan koloid, dan medium pendispersi adalah pelarut di dalam larutan koloid. Fase terdispersi maupun medium pendispersi dapat berwujud padat, cair maupun gas. Campuran gas dengan gas tidak membentuk sistem koloid tetapi suatu larutan sebab semua gas bercampur baik secara homogen dalam segala perbandingan. Sistem koloid dapat dikelompokkan, seperti tabel berikut : Tabel 4.2 Macam Macam Koloid No 1 2 3 4 5 6 7 8 Fase Terdispersi Gas Gas Cair Cair Cair Padat Padat Padat Medium Pendispersi Cair Padat Gas Cair Padat Gas Cair Padat Nama Koloid Busa/Buih Busa padat Aerosol Emulsi Emulsi padat Aerosol padat Sol Sol padat Contoh Buih sabun, krim kocok Gabus, Batu apung, karet busa Awan, kabut Susu, santan Keju, mentega, mutiara Asap, debu Cat, kanji, tinta Kaca berwarna, paduan logam

Produk-produk dalam kehidupan sehari-hari banyak yang berupa koloid contohnya aerosol, busa, emulsi, sol dan gel. 1. Aerosol Aerosol adalah sistem koloid dari partikel padat atau cair yang terdispersi dalam gas. Jika zat yang terdispersi berupa zat padat dalam zat cair disebut aerosol padat. Contoh aerosol padat adalah : debu, asap rokok, asap dari pembakaran. Zat cair yang terdispersi dala medium pendispersi gas disebut aerosol cair. Contoh aerosol cair adalah: parfum spray, hairspray dan obat serangga semprot. Untuk menghasilkan aerosol diperlukan suatu bahan pendorong (propelan aerosol). Contoh propelan aerosol yang banyak digunakan yaitu CFC dan CO2. Penggunaan CFC sebagai pendorong aerosol mulai dilarang, sebab senyawa ini menyebabkan menipisnya lapisan ozon yang mengakibatkan pemanasan global.

Sumber : http://safecosmetics.org

Gambar 4.2. Parfum Spray adalah salah satu contoh aerosol

96 koloid

2.

3.

4.

Sol Sol adalah sistem koloid dari partikel padat yang terdispersi dalam zat cair. Sol ada yang sol cair yang dikenal dengan nama sol saja dan sol padat. Sol padat adalah koloid yang fase terdispersinya padat dan medium pendispersinya zat padat. Contoh sol adalah putih telur, tinta, tanah lumpur, amilum, dan cat dalam air. Sol padat contohnya kaca berwarna dan paduan logam (alloy). Alloy adalah campuran logam dengan logam seperti perunggu dan kuningan. Contoh-contoh sol yang ada di laboratorium untuk beberapa percobaan, misalnya sol Fe(OH)3, sol As2S3, dan sol belerang. Emulsi Sistem koloid dari zat cair yang terdispersi dalam zat cair lain disebut emulsi. Sedangkan sistem koloid dari zat cair yang terdispersi dalam zat padat disebut emulsi padat dan. Syarat terjadinya emulsi yaitu kedua zat cair tidak saling melarutkan. Emulsi digolongkan ke dalam 2 bagian yaitu emulsi minyak dalam air dan emulsi air dalam minyak. Contoh emulsi minyak dalam air adalah : santan, susu, lateks. Contoh emulsi air dalam minyak : mayonnaise, minyak ikan, minyak bumi. Contoh emulsi padat: jelly, mutiara, opal. Emulsi terbentuk karena pengaruh suatu pengemulsi (emulgator). Misalnya sabun dicampurkan kedalam campuran minyak dan air, maka akan diproleh campuran stabil yang disebut emulsi. Busa/Buih Sistem koloid dari gas yang terdispersi dalam zat cair disebut busa, sedangkan sistem koloid dari gas yang terdispersi dalam zat padat disebut busa padat. Busa digunakan dalam proses pengolahan biji logam dan alat pemadam kebakaran. Contoh buih cair : krim kocok (whipped cream), busa sabun. Contoh busa padat : gabus, batu apung. Busa dapat kita buat dengan mengalirkan suatu gas ke dalam zat yang mengandung pembuih seperti sabun dan protein. Ketika buih tidak dikehendaki, maka buih dapat dipecah oleh zat-zat seperti eter, isoamil dan alkohol. Produk penghilang buih biasanya dapat kita jumpai dalam pewangi pakaian. Produk ini biasanya dipakai agar pakaian dapat dicuci dengan jumlah air yang lebih sedikit.
Sumber : http://fanpop.com

Gambar 4.3. Buih Pantai adalah contoh busa 5. Gel Sistem koloid dari zat cair yang terdispersi dalam zat padat dan bersifat setengah kaku disebut gel. Contoh gel adalah: agar-agar, semir sepatu, mutiara, mentega.

C.

Sifat Sifat Koloid Koloid mempunyai sifat-sifat yang khas, misalnya menunjukkan efek Tyndall,gerak Brorwn, mempunyai muatan listrik, dan daya tarik menarik antara fase terdispersi dengan medium pendispersinya. Sifat-sifat khas yang dimiliki oleh koloid diantaranya adalah : 1. Efek Tyndall Sifat pengahamburan cahaya oleh koloid di temukan oleh John Tyndall, oleh karena itu sifat ini dinamakan Efek Tyndall. Efek Tyndall digunakan untuk membedakan sistem koloid dari larutan sejati, contoh dalam kehidupan sehari hari dapat diamati pada saat asap rokok di gedung bioskop akan membuat jalannya cahaya dari proyektor akan tampak jelas. Selain itu contoh lainnya adalah pada koloid kanji dan larutan gula, pada larutan kanji sinar dihamburkan oleh sistem koloid tetapi tidak dihamburkan oleh larutan sejati dari air gula, hal ini dapat dilihat berkas jalannya sinar yang jelas pada larutan kanji. Larutan koloid kanji memiliki partikelpartikel koloid relatif besar untuk dapat mengamburkan sinar dan sebaliknya larutan gula memiliki partikel-partikel yang relatif kecil sehingga hamburan yang terjadi sedikit kecil dan sulit diamati.
Sumber : http://epicphysics.com

Gambar 4.4. Jalannya Berkas Cahaya Pada Koloid

97 koloid

2.

Gerak Brown Dalam mikroskop ultra, partikel koloid akan tampak sebagai titik cahaya. Jika pergerakan titik cahaya atau partikel tersebut diikuti, partikel itu bergerak terus-menerus dengan gerakan zig-zag. Hal ini pertama kali diamati oleh Robert Brown (1773 -1858), seorang ahli botani inggris pada tahun 1827. Ia sedang mengamati butiran sari tumbuhan pada permukaan air dan mikroskop. Gerak partikel koloid dalam medium pendispersinya disebut gerak brown. Bagaimana gerak brown dijelaskan? Partikel partikel suatu zat senantiasa bergerak. Gerakan tersebut bersifat acak seperti pada zat cair dan gas. Sistem koloid dengan medium pendipersi zat cair atau gas, partikel-partikel zat terlarut saling bergerak dan menghasilkan tumbukan. Tumbukan tersebut berlangsung dari segala arah. Partikel koloid cukup kecil, tumbukan cenderung tidak seimbang. Dan menyebabkan perubahan arah partikel sehingga terjadi gerak zig-zag atau gerak brown. Semakin kecil ukuran partikel koloid, semakin cepat gerak brown. Semakin besar ukuran partikel, semakin lambat gerak brown. Gerak Brown dipengerahui oleh suhu. Semakin tinggi suhu sistem, koloid, semakin besar energi kinektik yang dimiliki partikel medium. Akibatnya, gerak Brown dari partikel fase terdispersinya semakin cepat. Semakin rendah Sumber : http://kimia.upi.edu suhu sistem koloid, maka gerak Brown semakin lambat. Gambar 4.5. Gerak Partikel Koloid 3. Muatan Listrik Pada Koloid Pada umumnya partikel koloid bermuatan listrik, ada yang positif dan negatif. Koloid akan bermuatan akibat menyerap ion-ion yang ada di permukaan partikel. Akibat muatan pada koloid dapat terjadi peristiwa adsorpsi, elektroforesis, dan koagulasi. Untuk mempelajarinya perhatikan uraian berikut. a. Adsorbsi Adsorpsi pada koloid adalah peristiwa penyerapan ion-ion oleh partikel koloid. Jadi adsorpsi terkait dengan penyerapan partikel pada permukaan zat. Partikel koloid sol memiliki kemampuan untuk mengadsorpsi partikel pendispersi pada permukaanya. Daya adsorpsi partikel koloid tergolong besar Karena partikelnya memberikan suatu permukaan yang luas. Sifat ini telah digunakan dalam berbagai proses seperti penjernihan air. Contohnya + koloid Fe(OH)3 dalam air menyerap ion hidrogen (ion H ) sehingga partikelnya bermuatan positif, sedangkan koloid As2S3 menyerap ion hidroksida (ion OH ) sehingga partikel bermuatan negatif. Perhatikan Gambar 4.6.

Sumber : http://obstetriginekologi.com

Gambar 4.6. Muatan Pada Koloid Selain untuk penjernihan air sifat koloid ini dipakai dalam pemutihan/pemurnian garam dan gula pasir. b. Elektroforesis Adalah pergerakan partikel koloid yang bermuatan ke elektroda yang berlawanan muatan. Elektroforesis merupakan pergerakan zat bermuatan listrik akibat adanya pengaruh medan listrik. Ketika partikel koloid mencapai elektroda, maka partikel akan kehilangan muatannya.

Sumber : http://ncbe.reading.ac.uk

Gambar 4.7. Alat Elektroforesis

98 koloid

1.) 2.) 3.)

Elektroforesis biasa dimanfaatkan untuk; Menentukan muatan suatu partikel koloid. Produksi barang industri yang terbuat dari karet. Misalnya pada pembuatan sarung tangan karet, karet diendapkan pada cetakan sarung tangan secara elektroforesis. mengurangi zat pencemar udara yang dikeluarkan dari cerobong asap pabrik. Metoda ini dikembangkan oleh Frederick Cottrell (1877-1948) dari Amerika Serikat. Cerobong asap pabrik bagian dalam dilengkapi dengan "pengendap elektrostatika" yang berupa lempengan logam yang diberi muatan listrik, yang akan menarik dan menggumpalkan debu halus yang bermuatan listrik dalam asap buangan.

c.

Koagulasi Koagulasi adalah penggumpalan koloid yang disebabkan oleh penambahan larutan elektrolit yang mengandung ion positif (+) dan ion negatif (). Ion yang efektif untuk menggumpalkan koloid ialah ion yang muatannya berlawanan dengan muatan koloid. Contoh: Pengengendapan koloid Fe(OH)3 yang bermuatan positif dicampur dengan koloid As2S3 yang bermuatan negatif.

Sumber : http://thewatertreatments.com

Gambar 4.8. Gambar Proses Koagulasi Koagulasi koloid yang terjadi di alam adalah terbentuknya delta di muara sungai. Air sungai yang mengandung tanah liat atau lempung yang merupakan koloid negatif. Pada saat sampai di muara, air sungai bertemu air laut yang merupakan larutan elektrolit, maka tanah liat akan menggumpal atau terjadi koagulasi. Akibat koagulasi ini lama-lama akan terbentuk delta. Koagulasi koloid sering dimanfaatkan, dalam kehidupan sehari-hari maupun di industri misalnya sebagai berikut. 1) Penggumpalan karet dalam latek 2) Penjernihan air dengan cara penggumpalan menggunakan tawas d. Dialisis Dialisis adalah proses pemurnian partikel koloid dari ion-ion/muatan-muatan yang menempel pada permukaannya yang dapat mengganggu kestabilan. Ion-ion tersebut merupakan sisa dari pereaksi pada pembuatannya. Pada proses dialisis ini digunakan selaput semipermeabel. Proses dialisis dilakukan dengan mengalirkan cairan yang tercampur dengan koloid melalui membran semi permeable yang berfungsi sebagai penyaring. Membran semi permiabl ini dapat dilewati cairan tetapi tidak dapat dilewati koloid, sehingga koloid dan cairan akan berpisah. Prinsip dialisis digunakan untuk membantu pasien gagal ginjal. Ginjal berfungsi untuk mengeluarkan zat yang tidak berguna yang dihasilkan oleh tubuh yang terdapat dalam darah. Salah satu zat yang dikeluarkan tubuh adalah urea. zat ini biasanya dikeluarkan melalui urin. jika ginjal tidak berfungsi dengan baik, urea akan menumpuk dalam darah sehingga mengakibatkan kematian. Orang yang gagal ginjal dapat menjalani cuci darah. dalam hal ini fungsi ginjal diganti oleh mesin dialisator. e. Koloid Pelindung Suatu koloid dapat distabilkan dengan cara menambahkan koloid lain yang disebut koloid pelindung sehingga tidak terkoagulasi. Koloid pelindung ini akan melindungi sekeliling partikel koloid. koloid pelindung sering digunakan diantaranya pada sistem koloid tinta, cat dan es krim. koloid pelindung yang berfungsi untuk menstabilkan emulsi disebut emulgator, misalnya susu yang merupakan emulsi lemak air, emulgatornya adalah kasein. demikian juga pada santan dan lateks, sedangkan emulgator antara minyak dan air adalah sabun dan detergen. 4. Koloid Liofil dan Liofob Koloid liofil adalah koloid sol dengan partikel koloid sebagai fase terdispersi suka menarik medium pendispersinya. Liofil berasal dari bahasa Yunani yaitu luein yang artinya larut dan philos yang artinya suka. Koloid liofob adalah koloid sol dengan partikel koloid tidak suka menarik medium pendispersinya. Liofob berasal dari

99 koloid

bahasa Yunani, yaitu luiein dan phobia yang berarti benci/takut. Bila medium pendispersinya air koloid liofil disebut sebagai koloid hirofil, sedangkan koloid liofob disebut hidrofob. Perbandingan sifat sol liofil dan sol liofob disajikan dalam Tabel 4.3 Tabel 4.3. Perbandingan Sol Liofil dan Liofob Sel liofil/Hidrofil Mengadsorbsi mediumnya Dapat dibuat dengan konsentrasi yang relatif besar Tidak mudah menggumpal pada penambahan elektrolit Viskositas lebih besar daripada mediumnya Bersifat reversible Efek tyndall lemah Koloid organic Gerak Brown tidak jelas Dapat dibuat langsung dengan mencampurkan zat terlarut dengan medium pelarutnya Sel liofob/Hidrofob Tidak mengadsorbsi mediumnya Hanya stabil pada konsentrasi kecil Mudah menggumpal pada penambahan elektrolit Viskositas hampir sama dengan mediumnya Tidak reversible Efek tyndall lebih jelas Umumnya koloid anorganik Gerak Brown jelas Tidak dapat dibuat langsung dengan menambahkan zat terlarut dalam medium pelarut

Chemical Test : 1. Berikan contoh koagulasi dan efek Tyndall dalam kehidupan sehari-hari? 2. Mengapa koloid dapat mengendap/koagulasi? 3. Apakah yang dimaksud dengan istilah berikut : a. Elektoforesis b. Koagulasi c. Adsobsi d. Dialysis 4. Bagaimana prinsip kerja penjernihan air dengan tawas

SUMMARY 1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. 8. 9. 10. 11. 12. 13. Sistem koloid merupakan campuran yang berada di antara larutan dan campuran kasar (suspensi) Dalam koloid zat terlarut disebut fase terdispersi sedangkan pelarut disebut medium pendispersi. Koloid yang fase terdispersinya padat disebut sol Koloid yang fase terdispersinya cair disebut emulsi Koloid yang fase terdispersinya gas disebut busa Koloid dapat dikenali berdasarkan sifat-sifatnya, antara lain efek Tyndall dan gerak Brown. Efek Tyndall merupakan peristiwa penghamburan cahaya oleh partikel koloid. Gerak Brown adalah gerakan zig-zag dan terus menerus dari partikel koloid yang disebabkan oleh tumbukan antar partikel koloid. Kemampuan menyerap ion yang terjadi pada permukaaan partikel koloid disebut adsorbs, hal ini menyebabkan koloid bermuatan listrik Partikel koloid bermuatan listrik sehingga terpengaruh oleh medan listrik. Gerak partikel koloid dalam medan listrik disebut elektroforesis. Koagulasi adalah pengendapan partikel koloid yang disebabkan penghilangan muatan koloid. Koloid liofil adalah koloid yang fase terdispersi suka menarik medium pendispersinya Koloid liofob adalah koloid yang fase terdispersi tidak suka menarik medium pendispersinya

100 koloid

UJI KOMPETENSI
Berilah tanda silang (x) pada salah satu jawaban yang Anda anggap benar 1. Perbedaan antara sistem koloid dengan suspensi adalah . a. Koloid dapat disaring menggunakan kertas saring, suspensi tidak. b. koloid meneruskan berkas cahaya, suspensi membiaskannya c. Ukuran partikel koloid berkisar antara 10 cm 10 cm, sedangkan suspensi berkisar antara 10 cm 10 cm. d. Jumlah fase koloid ada dua, sedangkan suspensi hanya satu. e. Koloid umumnya bersifat stabil, sedangkan suspensi tidak. 2. Berikut ini yang merupakan contoh sistem koloid adalah .... a. campuran garam dengan air b. campuran susu dengan air c. campuran pasir dengan air 3. Pernyataan berikut manakah yang benar . a. b. c. d. e. 4. Partikel koloid dapat memantulkan cahaya Ukuran partikel koloid antara 10 cm sampai 10 cm Suspensi dapat disaring Larutan dapat disaring Suspensi bersifat stabil
-9 -7 -9 -7 -7 -5

d. e.

campuran gula dengan air campuran tanah dengan air

Berdasarkan fase terdispersi dan medium pendispersinya, maka koloid dapat dikelompokkan menjadi.. a. suspensi, koloid, dan larutan b. sol, emulsi, dan dispersi c. sol, emulsi, dan dispersi molekular d. e. sol, emulsi, dan busa sol, emulsi, dan bubuk

5.

Berikut ini merupakan contoh efek Tyndall dalam kehidupan sehari-hari, kecuali . . . . a. Sorot lampu mobil pada malam yang berkabut b. Sorot lampu proyektor dalam gedung bioskop yang berdebu atau berasap c. Berkas cahaya matahari melalui celah daun pohon-pohon, pada pagi hari yang cerah d. Sorot lampu kendaraan bermotor di jalan raya saat malam hari e. Berbedanya warna langit (terkadang berwarna biru dan berwarna merah/oranye pada waktu matahari terbenam

6.

Pada gerak Brown terdapat suatu resultan tumbukan yang menyebabkan perubahan arah gerak partikel sehingga terjadi gerak zig-zag. Hal ini karena. a. Ukuran partikel koloid cukup kecil, maka tumbukan yang terjadi setimbang b. Ukuran partikel koloid cukup besar, maka tumbukan yang terjadi setimbang c. Ukuran partikel koloid cukup kecil, maka tumbukan yang terjadi tidak setimbang d. Ukuran partikel koloid cukup besar, maka tumbukan yang terjadi tidak setimbang e. Ukuran partikel koloid cukup besar dan mempunyai energi kinetik yang cukup besar, maka tumbukan yang terjadi setimbang

7.

Pemurnian air dengan menggunakan tawas merupakan implementasi dari sifat koloid . a. b. c. Dialisis Koagulasi Adsorbsi

101 koloid

d. e. 8.

Elektroforesis Koloid pelindung

Salah satu macam koloid adalah suspense, yang merupakan contoh suspensi adalah . a. b. c. d. e. Batu apung Cat Agar agar Santan Kabut

9.

Koloid yang ikatan antara zat terdispersi dengan medium pendispersinya kuat disebut . a. b. c. d. e. Koloid liofil Koloif liofob Koloid hidrofil Koloid hidrofob Koloid pelindung

10. Contoh dari koloif hidrofil adalah . a. b. c. d. e. Gelatin Sol Fe(OH)3 Sol belerang Sol emas Sol As2S3

102 koloid

KEGIATAN PEMBELAJARAN 2 A. Pembuatan Koloid Ukuran partikel koloid berada di antara partikel larutan dan suspensi, karena itu cara pembuatannya dapat dilakukan dengan memperbesar partikel larutan atau memperkecil partikel suspensi. Maka dari itu, ada dua metode dasar dalam pembuatan sistem koloid sol, yaitu : 1. Metode dispersi merupakan metode dipecahnya partikel-partikel besar sehingga menjadi partikel-partikel berukuran koloid 2. Metode kondensasi merupakan metode bergabungnya partikel-partikel kecil ukuran larutan sejati yang membentuk partikel-partikel berukuran koloid 1. Metode Dispersi Metode dispersi adalah metode pembuatan koloid dengan cara memecah partikel kasar ( suspensi / padatan) menjadi partikel berukuran koloid. Pemecahan partikel dapat dilakukan dengan cara mekanik, peptisasi, busur Bredig (loncatan bunga api), dan homogenasi. a) Cara Mekanik Dengan cara ini butir-butir kasar digerus dengan lumpang atau penggiling koloid sampai diperoleh partikel yang berukuran koloid kemudian diaduk dengan medium dispersi tertentu. Contoh: Sol belerang dibuat dengan menggerus serbuk belerang bersama-sama dengan suatu zat inert (seperti Gula Pasir), kemudian mencampur serbuk halus itu dengan air

Sumber: http://indiamart.com

Gambar 4.9. Alat Penggiling Koloid / Colloid Mill b) Cara Peptisasi Pembuatan koloid dengan cara peptisasi adalah pembuatan koloid dari butir-butir kasar atau dari suatu endapan dengan bantuan suatu zat pemeptisasi (pemecah). Contoh: Agar-agar dipeptisasi oleh air, nitroselusosa oleh aseton, karet oleh bensin, dan lain-lain. Cara Busur Bredig Digunakan untuk membuat sol-sol logam, logam yang akan dijadikan koloid digunakan sebagai elektroda yang dicelupkan dalam medium dispersi, kemudian diberi loncatan listrik diantara kedua ujungnya. Mula-mula atom logam akan terlempar ke dalam air, lalu mengalami kondensasi sehingga membentuk partikel koloid. Metode ini merupakan penggabungan antara cara dispersi dengan cara kondensasi.

c)

Sumber : http://goiit.com

Gambar 4. 10. Skema Alat Busur Bredig

103 koloid

d)

Homogenasi Adalah metode pembuatan koloid dengan menggunakan mesin khusus. Contohnya adalah pembuatan susu kental manis yang bebas kasein dan pembuatan obat. Susu kental manis dibuat dengan mencampurkan serbuk susu krim ke dalam air di dalam mesin homogenasi. 2. Metode Kondensasi Metode di mana partikel-partikel kecil larutan sejati bergabung membentuk partikel-partikel berukuran koloid. Pembuatan koloid sol dengan metode ini pada umumnya dilakukan dengan cara kimia a. Reaksi Reduksi - Oksidasi (redoks) Adalah pembuatan koloid dari larutan sejati ataupun gas yang melibatkan perpindahan elektron/ reaksi redoks Misalnya : 1) Sol emas atau sol Au dapat dibuat dengan mereduksi larutan garamnya dalam pereduksi organik, misalnya formaldehid (HCHO); 2AuCl3 (aq) + HCHO(aq) + 3H2O(l) 2Au(s) + HCOOH(aq) + 6HCl(aq) 2) Sol belerang dapat dibuat dengan mereduksi SO2 yang terlarut dalam air dengan mengalirinya gas H 2S ; 2H2S(g) + SO2 (aq) 3S(s) + 2H2O(l) b. Dekomposisi Rangkap Dekomposisi rangkap adalah sistem pembuatan koloid dengan mereaksikan larutan sejati dengan larutan sejati ataupun larutan sejati dengan gas. Misalnya: 1) Sol As2S3 dibuat dengan cara mengalirkan gas H2S dengan perlahan-lahan ke dalam larutan As2O3 dingin sampai terbentuk sol As2S3. As2O3 (aq) + 3H2S(g) As2O3 (koloid) + 3H2O(l) 2) Sol AgCl dibuat dengan mencampurkan larutan AgNO3 encer dengan larutan HCl encer; AgNO3 (aq) + HCl (aq) AgCl (koloid) + HNO3 (aq) c. Reaksi Hidrolisis Hidrolisis adalah reaksi suatu larutan sejati dengan air. Misalanya : 1) Sol Fe(OH)3 dapat dibuat dengan hidrolisis larutan FeCl3 dengan memanaskan larutan FeCl3 dalam air mendidih FeCl3 (aq) + 3H2O(l) Fe(OH)3 (koloid) + 3HCl(aq) 2) Sol Al(OH)3 dapat diperoleh dari reaksi hidrolisis garam Aluminum dalam air mendidih; AlCl3 (aq) + 3H2O(l) Al(OH)3 (koloid) + 3HCl(aq) d. Penggatian Pelarut MetodePembuatan koloid dengan cara mengganti medium pendispersi sehingga fasa terdispersi yang semulal larut setelah diganti pelarutnya menjadi berukuran koloid. Misalnya; 1) Untuk membuat sol belerang yang sukar larut dalam air tetapi mudah larut dalam alkohol seperti etanol dengan medium pendispersi air, belarang harus terlebih dahulu dilarutkan dalam etanol hingga larutan jenuh. Baru kemudian larutan belerang dalam etanol tersebut ditambahkan sedikit demi sedikit ke dalam air sambil diaduk. Sehingga belerang akan menggumpal menjadi pertikel koloid, hal ini karena penurunan kelarutan belerang dalam air. 2) Koloid kalsium asetat dibuat dengan dilarutkan terlebih dahulu dalam air, kemudian baru dalam larutan tersebut ditambahkan etanol hingga terjadi kondensasi dan terbentuklah koloid kalsium asetat yang berbentuk gel. Produk ini disebut dengan alkohol gel. B. Kegunaan Koloid Sistem koloid banyak digunakan pada kehidupan sehari-hari, terutama dalam kehidupan sehari-hari. Hal ini disebabkan sifat karakteristik koloid yang penting, yaitu dapat digunakan untuk mencampur zat-zat yang tidak dapat saling melarutkan secara homogen dan bersifat stabil untuk produksi dalam skala besar. Berikut ini adalah tabel aplikasi koloid: Tabel 4.4. Aplikasi koloid Dalam Industri Jenis industry Contoh aplikasi Industri makanan Keju, mentega, susu, saus Industri kosmetika dan perawatan tubuh Krim, pasta gigi, sabun Industri cat Cat Industri kebutuhan rumah tangga Sabun, deterjen Industri pertanian Peptisida dan insektisida

104 koloid

Industri farmasi

Minyak ikan, sirup, larutan injeksi

Beberapa aplikasi koloid dalam kehidupan sehari-hari: 1. Pemutihan Gula Gula tebu yang masih berwarna dapat diputihkan. Dengan melarutkan gula ke dalam air, kemudian larutan dialirkan melalui sistem koloid tanah diatomae atau karbon. Partikel koloid akan mengadsorpsi zat warna tersebut. Partikel-partikel koloid tersebut mengadsorpsi zat warna dari gula tebu sehingga gula dapat berwarna putih. 2. Penggumpalan Darah Darah mengandung sejumlah koloid protein yang bermuatan negatif. Jika terjadi luka, maka luka 3+ 3+. tersebut dapat diobati dengan pensil stiptik atau tawas yang mengandung ion-ion Al dan Fe Ion-ion tersebut membantu agar partikel koloid di protein bersifat netral sehingga proses penggumpalan darah dapat lebih mudah dilakukan. 3. Penjernihan Air Air keran (PDAM) yang ada saat ini mengandung partikel-partikel koloid tanah liat,lumpur, dan berbagai partikel lainnya yang bermuatan negatif. Oleh karena itu, untuk menjadikannya layak untuk diminum, harus dilakukan beberapa langkah agar partikel koloid tersebut dapat dipisahkan. Hal itu dilakukan 3+ dengan cara menambahkan tawas (Al2SO4)3.Ion Al yang terdapat pada tawas tersebut akan terhidroslisis 3 membentuk partikel koloid Al(OH) yang bermuatan positif melalui reaksi: 3+ + Al + 3H2O Al(OH)3 + 3H Setelah itu, Al(OH)3 menghilangkan muatan-muatan negatif dari partikel koloid tanah liat/lumpur dan terjadi koagulasi pada lumpur. Lumpur tersebut kemudian mengendap bersama tawas yang juga mengendap karena pengaruh gravitasi. Chemical Test 1. Sebut dan jelaskan metode pembuatan koloid dengan dispersi? 2. Sebutkan contoh pemanfaatan koloid dalam bidang : a. Farmasi b. Industri c. Pengolahan limbah d. Kedokteran

1. 2. 3. 4. 5. 6.

SUMMARY Koloid dapat dibuat dengan 2 metode yaitu dispersi dan kondensasi Dispersi adalah metode pembuatan koloid dengan mengubah partikel berukuran besar menjadi partikel berukuran koloid Kondensasi adalah metode pembuatan koloid dengan mengubah partikel berukuran kecil/ larutan sejati menjadi partikel berukuran koloid Banyak produk industri dibuat dalam bentuk koloid, terutama karena dengan bentuk koloid, maka zat-zat yang tidak saling melarutkan dapat disajikan homogen secara makroskopis Pengolahan air bersih memanfaatkan sifat koloid, yaitu adsorpsi dan koagulasi. Pada pengolahan air bersih digunakan tawas (alumunium sulfat), kaporit dan kapur. Sabun dan detergen bekerja sebagai bahan aktif permukaan yang fungsinya mengelmusikan lemak ke dalam air.

UJI KOMPETENSI Berilah tanda silang (x) pada salah satu jawaban yang Anda anggap benar 1. Pembuatan koloid dimana partikel-partikel larutan sejati bergabung membentuk partikel berukuran koloid disebut.. a. metode dispersi d. metode kondensasi b. metode peptisasi e. metode Busur Bredig c. metode mekanik Berikut ini yang bukan termasuk cara pembuatan koloid melalui metoda kondensasi adalah . . . . a. reaksi dekomposisi rangkap d. reaksi hidrolisis b. reaksi redoks e. cara mekanik

2.

105 koloid

3.

4.

5.

c. penggantian pelarut Koloid AgCl dapat dihasilkan dengan mencampurkan larutan AgNO3 encer dengan larutan HCl encer. Reaksi kimia yang terjadi pada proses pembuatan sistem koloid ini adalah. . . . a. cara mekanik d. reaksi hidrolisis b. reaksi redoks e. penggantian pelarut c. reaksi dekomposisi rangkap Jika gas Hidrogen sulfida dialirkan ke dalam larutan belerang dioksida, maka akan terbentuk.. a. S d. H2SO3 b. As2S3 e. SO3 c. H2SO4 Sol emas dapat dibuat dengan mereduksi garamnya menggunakan formaldehid. Reaksi yang terjadi adalah.. a. 2AuCl3(aq) + 3HCHO(aq) b. 2AuCl3(aq) + 3HCHO(aq) c. 2AuCl3(aq) + 3HCHO(aq) d. 2AuCl3(aq) + 3HCHO(aq)

e. 2AuCl3(aq) + 3HCHO(aq) + 6HCl(aq) + 3CO(g) Jika ke dalam air suling mendidih ditambahkan larutan FeCl3 jenuh, maka akan terbentuk suatu koloid yang berwarna cokelat merah yang merupakan.. a. Fe(OH)2 d. Fe2O3 b. FeOH e. FeO c. Fe(OH)3 7. Di antara beberapa percobaan berikut : 1. Larutan As2O3 + air mendidih 2. Larutan As2O3 + gas Hidrogen sulfida 3. Larutan H3AsO3 + sol belerang 4. Larutan H3AsO3 + larutan Hidrogen sulfida yang merupakan cara pembuatan sol As2S3 adalah.. a. 3 dan 4 d. 1 dan 3 b. 2 dan 4 e. 1 dan 2 c. 2 dan 3 8. Berikut ini yang termasuk cara pembuatan koloid dengan metode dispersi adalah.. a. cara mekanik, penggantian pelarut, dan peptisasi b. cara peptisasi, redoks, dan penggantian pelarut c. cara mekanik, peptisasi, dan busur Bredig d. cara hidrolisis, busur Bredig, dan redoks e. cara peptisasi, penggantian pelarut, dan mekanik 9. Sol AgCl dapat dibuat dengan menambahkan HCl ke dalam endapan AgCl. Fungsi HCl adalah sebagai.. a. pemeptisasi d. peptisasi b. zat terdispersi e. koloid c. peptisan 10. Pembuatan koloid berikut ini yang tidak tergolong cara dispersi adalah.. a. pembuatan sol belerang dengan cara menggerus belerang dan gula lalu ditambahkan medium pendispersi b. pembuatan sol AgCl dengan menambahkan HCl ke endapan AgCl c. pembuatan sol AgCl dengan menambahkan HCl ke larutan AgNO3 encer d. pembuatan sol Fe(OH)3 dengan menambahkan FeCl3 ke endapan Fe(OH)3 e. pembuatan sol Au dengan cara busur Bredig 11. Salah satu fenomena koloid dalam kehidupan sehari-hari adalah penggunaan pensil stiptik untuk mengatasi luka kecil. Penggunaan pensil stiptik ini dimaksudkan untuk.. a. mendialisis darah d. menutup luka b. menggumpalkan darah e. antiseptik c. membunuh kuman 12. Kapsul yang digunakan sebagai pembungkus obat terbuat dari.. a. gelatin d. keju b. mayonaise e. jelly c. kanji 6.

2Au(koloid) + 3H2O(l) + 3H2O(l) 2Au(koloid) 2Au(koloid)

+ 5HCl(aq) + HClO3(aq) 2Au(koloid) + 6HCl(aq) + 3HCOOH(aq) 2Au(koloid) + 6HClO(aq) + 3H2(g) + 3HClO(aq) + 3HCl(aq)

106 koloid

CEK 1. Jelaskan yang dimaksud dengan; a. Gerak Brown b. Elektroforesis c. Efek Tyndall 2. Apakah perbedaan antara koloid liofob dengan koloid liofil 3. Berilah contoh produk industri yang bibuat berdasarkan sistem koloid?

PERLUASAN Air yang kotor dapat dihilangkan pengotornya dengan koagulasi, pengotor yang ada akan mengendap dan air bersih dapat kita peroleh. Menurut Anda apakah proses ini dapat digunakan untuk mengatasi limbah cair industri?

EKSPLORASI Peritoneal Dialysis Kita pasti ingat cuci darah jika mendengar kata dialisis. Ya, memang benar, proses cuci darah disebut juga dengan hemodialisis, yang merupakan salah satu cara Terapi Pengganti Ginjal (TPG) akibat dari kerusakan atau gagal ginjal (renal failure). Ginjal merupakan organ yang bertugas membuang sisa-sisa hasil metabolisme dalam tubuh dan zat-zat yang sudah tidak diperlukan lagi. Bisa dikatakan bahwa ginjal ini bertugas membuang sampah dari tubuh. Gagal ginjal berarti ginjal tidak dapat melaksanakan fungsi ini, atau fungsinya sudah sangat tereduksi. Seperti yang telah kita ketahui, manusia memiliki 2 buah ginjal. Sebenarnya, 1 ginjal saja sudah cukup untuk menjalankan fungsinya, namun jika sudah rusak keduanya, maka perlu dilakukan Terapi Pengganti Ginjal (TPG). TPG terbagi menjadi 3, yaitu Hemodialisis, Peritoneal Dialysis (PD), dan Transplantasi Ginjal. Sama halnya seperti hemodialisis, prinsip PD ini juga dialisis, hanya saja bukan dengan alat ginjal buatan dengan mengalirkan darah ke alat tersebut, namun ini dengan cara memasukkan cairan ke dalam rongga perut (peritoneal).

Dengan cara seperti gambar di atas, dialisis terjadi di dalam rongga perut. Transportasi zat-zat dan hasil metabolisme terjadi melalui membran peritoneum yang merupakan membran semipermeabel. Cairan dialisis terdiri dari elektrolit-elektrolit dan glukosa dengan kadar 1,5%-2,5% atau tergantung kebutuhan, supaya cairan tersebut bersifat hipertonis. Cairan dari dalam darah yang bersifat hipotonis akan berpindah ke cairan dialisis. Dan ada satu proses lagi yaitu difusi. Zat-zat dalam darah dengan jumlah lebih banyak itu akan berdifusi ke dalam cairan dialisis, sampai mencapai keadaan setimbang. Cairan dialisis dimasukkan ke rongga peritoneal menggunakan suatu kateter yang dipasang melalui operasi. Biasanya cairan dialisis ini berada di dalam perut sekitar 6-8 jam, kemudian dibuang melalui kateter yang sama. Dengan cara inilah air yang berlebihan dalam darah dan zat-zat sampah dari darah dapat terbuang.
Sumber: http://blogs.itb.ac.id/pahlev/2012/03/29/peritoneal-dialysis

TEST EKSPLORASI Apakah yang menyebabkan Hemodialisis dianggap lebih efektif digunakan dibanding dengan Peritoneal Dialysis?

107 koloid

PELATIHAN Berilah tanda silang (x) pada salah satu jawaban yang Anda anggap benar 1. Pada pembuatan koloid dengan cara kondensasi larutan dapat digumpalkan menjadi koloid. Hal tersebut karena.. a. Kelarutan menjadi besar b. Kelarutan larutan menjadi kecil c. Kekentalan larutan berkurang d. Kelarutan larutan setimbang e. Kekentalan larutan tetap. Pembuatan koloid dibawah ini yang termasuk pembuatan cara kondensasi adalah. a. Sol As2S3 di buat dengan mengalirkan gas H2S ke dalam larutan encr H3AsO3. b. Sol emas di buat dengan melompatkan bunga api istrik dari electrode Au dalam air. c. Sol belerang dapat di buat dengan mencampurkan serbuk belerang dengan gula kemudian di masukkan kedalam air. d. Sol Al(OH)3 di buat dengan menambahkan larutan AlCl3 ke dalam endapan Al(OH)3. e. Sol agar-agar di buat dengan memasukkan serbuk agar-agar ke dalam air panas. Pembuatan sol arsen ( III ) Sulfida dari larutan arsen ( III ) oksida yang di aliri gas asam sulfida, termasuk pembuatan koloid secara a. reduksi oksidasi b. kondensasi c. peptisasi d. mekanik e. Hidrolisis Mengalirkan gas H2S pada endapan NiS akan di dapatkan sol belerang metode ini disebut a. mekanik b. Dekomposisi rangkap c. elektrodispersi d. peptisasi e. busur bredig Pembuatan koloid di bawah ini yang termasuk pembuatan cara disperse adalah. a. sol As2S3 di buat dengan mengalirkan gas H2S ke dalam larutan As2=O3 b. sol belerang di buat dengan mengalirkan gas H2S ke dalam larutan SO2 c. Sol AgCl dapat di buat dengan mereaksikan perak nitrat encer dengan larutan HCl d. Sol emas dapat di buat dengan melompatkan bunga api listrik dari elekrtrode Au dalam air. e. Sol Fe(OH)3 di buat dengan cara menambahkan larutan FeCl3 jenuh ke dalam air yang mendidih. Untuk membedakan koloidf, larutan sejati dan suspensi kasar di lakukan beberapa percobaan. Dari hasil percobaan di dapat data sebagai berikut : Campuran pada tabung I. Dapat di saring dengan kertas saring biasa, tidak jernih II. Jernih satu fase III. Dua fase, tidak jernih Dari hasil percobaan tersebut maka . a. I = koloid, II= larutan sejati, III = suspensi b. I = larutan sejati, II = suspensi , III = koloid c. I = larutan sejati, II =koloid, III = suspensi d. I = Koloid, II = suspensi , III = larutan sejati e. I =suspensi , II = koloid, III = larutan sejati Larutan berikut yang merupakan koloid, suspensi , dan larutan sejati secara berturut-turut adalah. a. Cuka, air pasir, kabut b. Kabut, cuka, air pasir c. Air kopi, susu, air pasir d. Susu, sirup, air kopi e. Susu, air kopi, sirup

2.

3.

4.

5.

6.

7.

108 koloid

8.

9.

10.

11.

12.

13.

14.

15.

16.

Campuran yang terbentuk pada pengadukan secara merata antara air dengan cuka di sebut : a. Dispersi b. koloid c. larutan sejati d. Suspensi kasar e. Semi koloid. Koloid berbeda dengan larutan sejati dalam hal. a. Warna b. Endapannya c. Ada tidaknya buih d. Diameter partikel e. Kestabilannya. Contoh sistem koloid yang medium pendispersinya cair dan fase terdispersinya cair adalah a. Susu b. Kabut c. Awan d. Keju e. Mentega Di beri beberapa contoh zat kmia berikut : 1. mentega 2. asap 3. Air jeruk 4. air garam Pasangan zat yang merupakan sistem koloid adalah. a. 1 dan 2 b. 1 dan 3 c. 2 dan 3 d. 2 dan 4 e. 3 dan 4 Paduan logam dan kaca berwarna adalah contoh sistem koloid yang mempunyai fase terdispersi . a. Cair dalam gas b. Cair dalam padat c. Padat dalam gas d. Padat dalam padat e. Padat dalam cair Sorot lampu proyektor di gedung bioskop tampak jelas ketika ada asap rokok, sehingga gambar film yang ada di layar menjadi tidak jelas. Hal ini terjadi karena adanya. a. gerak brown b. elektroforesis c. efek tyndall d. osmosis e. Koagulasi Gerak brown pada sistem koloid terjadi karena. a. Tolak-menolak antara partikel koloid. b. Gaya gravitasi pada koloid. c. Tarik-menarik antara molekul pendispersi dan partikel koloid. d. Tumbukan antara partikel pendispersi. e. Tumbukan antara molekul pendispersi dengan partikel koloid. Suatu cara untuk memisahkan koloid bermuatan ialah dengan cara a. sintesis b. elektrolisis c. elektroforesis d. dialisis e. Koagulasi Air yang keruh dapat di jernihkan dengan menambahkan serbuk tawas. Proses tersebut menggunakan dasar..

109 koloid

17.

18.

19.

20.

a. koagulasi b. elektroforsis c. peptisasi d. efek tyndall e. Dialisis Sistem koloid yang partikel-partikelnya tidak menarik molekul pelarutnya di sebut. a. liofob b. liofil c. hidrofob d. hidrofil e. Sol Campuran air dan lemak dalam susu tidak memisah karena.. a. Lemak lebih kental dari pada air b. Lemak dapat larut dalam air c. Lemak dan air berwujut cair d. Lemak dan air tidak bereaksi. e. Lemak dan air di stabilkan oleh kasein. Proses pemurnian pasir, gula yang masih kotor di larutkan dalam air dalam air panas kemudian di lewatkan dalam system koloid berupa tanah diatome atau arang tulang sehingga diperoleh gula yang putih bersih. Prosesini menggunakan sifat.. a. koagulasi b. Elektroforesis c. Adsorbsi d. Dialysis e. Elektrodialisis Proses berikut yang menggunakan prinsip dialisis adalah a. Cuci darah bagi penderita gagal ginjal. b. Penyembuhan sakit perut. c. Terjadinya delta di muara sungai d. Penyerapan gas buangan pabrik. e. Penjernihan air.

110 koloid