P. 1
Munir Memory

Munir Memory

|Views: 86|Likes:
Dipublikasikan oleh kigunungmenyan

More info:

Published by: kigunungmenyan on Jun 28, 2012
Hak Cipta:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

12/03/2012

pdf

text

original

MUNIR MEMORIUM From: "LBH Medan" <prodeo@indo.net.id> To: <walhinews@yahoogroups.com>; "lbh" <bantuan-hukum@tifafoundation.

org>; <buruh-migran@yahoogroups.com>; <communitygallery@yahoogroups.com>; <cumakita@yahoogroups.com>; <SPoulsen@amnesty.org> Sent: Tuesday, September 07, 2004 4:20 PM Subject: [communitygallery] KABAR DUKACITA Keluarga Besar Lembaga Bantuan Hukum (LBH) Medan Mengucapkan : Turut Berdukacita yang Sedalam-dalamnya Atas Wafatnya Rekan Kita Pejuang HAM Sdr. MUNIR Dalam Perjalan Menuju Bandara Schipol, Amsterdam - Belanda Semoga Arwahnya Diterima di Sisi-Nya Sesuai Dengan Amalnya Selama di Dunia, dan Keluarga yang Ditinggalkan Tetap Tabah dan Tawakkal Menerima Cobaan Ini.

Medan, 07 September 2004 From: "KBRI Stockholm" <bidpol@indonesiskaambassaden.se> To: <communitygallery@yahoogroups.com> Sent: Wednesday, September 08, 2004 2:53 PM Subject: RE: [communitygallery] condolences for Munir

Kami di Swedia turut berduka cita atas meninggalnya rekan Munir SH. Semoga kita semua dapat meneruskan cita-cita luhurnya. Dan buat keluarga yang ditinggalkan agar diberi ketabahan. Amien.

Katrun Nada Political Section The Indonesian Embassy Sysslomansgatan 18/I 112 41 Stockholm Sweden

Phone : +46-8-545 55 884 -----Original Message----From: Happy Devyanto [mailto:happy@inrr.org] Sent: Wednesday, September 08, 2004 4:52 AM To: communitygallery@yahoogroups.com Subject: [communitygallery] condolences for Munir

Munir SH, a Human Right campaigners, dies on plane

Outspoken rights campaigner died onboard a flight to the Netherlands on Tuesday Morning. He is one of the founders of the independent commission for Missing Persons and Victims of Violence (KONTRAS), as he passed away on a Garuda Indonesia Flight to Amsterdam. Born in the East Java town of Malang on Dec. 8, 1965, Munir's small, aggressive demeanor rose to prominence in the late 1990s amid a rash of kidnappings and disappearances during the last years of former president Soeharto's rule. His co-founding of the commission for mission persons and victims of Violence (Kontras), not long before the May riots, on April 21, 1998, challenged the dismissing of acts such as kidnapping, torture and involuntary disappearances as ordinary crimes. People began to talk of "state violence" as Kontras provided legal counsel for victims, investigated individual cases and made public the results of its investigations, which often implicated the security forces. Not long after Kontras was established, Munir and his colleagues received a number of threats, including a bomb threat targetted at his family home in Malang. Munir almost immediately was recognized internationally for his work, and was honored with awards such as the Yap Thiam Hien Human Rights Award and the Right Livelihood Award 2000, or the "alternative Nobel" from the Swedish government. He was involved in various high profile investigations, including the violence in East Timor both before and after the 1999 referendum. He reflected later that the national rights body, which set up a team on East Timor, was much more effective than when it investigated the Tanjung Priok case of 1984, even though the national rights body was backed by legislation. The father of two and husband of Suciati, a former labor activist, also

became a hero to the Acehnese as his presense in the war-torn province emboldened a populace used to fear. But as communal violence spread in Indonesia, Kontras was overwhelmed, and he was critisized for neglecting thousands of victims such those in Maluku. In 2002, Munir cofounded Indonesia Human Rights Watch (Imparsial). Of the truth and reconciliation commission, the bill for which was finally endorsed on Tuesday, he once said that prolonged plan to set up the commission was nothing more than "an excuse for impunity." Source : Jakarta Post, Wednesday September 8, 2004

Condolence are expressed on following :

Munir SH, a Human Right campaigners, dies on plane. 1 Condolence are expressed on following : 1 Peduli Indonesia [mailto:concern@indosat.net.id] 2 BScC (Biological Science Club) [mailto:bscc@indo.net.id] 2 Adie Usman Musa [mailto:aum@indo.net.id] 3 KPAI Jakarta [mailto:aulia_kpai@yahoo.com] 3 YSBB [mailto:ysbb@telkom.net] 3 PPSW ppsw@cbn.net.id. 4 KPS [mailto:kepesera@medan.wasantara.net.id] 5 Kurniawan Adi Nugroho [mailto:wawan373@yahoo.com.sg] 5 NGO-Forestry-Sector-Partnership. 6

Peduli Indonesia <mailto:%5Bmailto:concern@indosat.net.id%5D> [mailto:concern@indosat.net.id]

Sent: Wednesday, September 08, 2004 8:40 AM To: walhinews@yahoogroups.com; communitygallery@yahoogroups.com; cumakita@yahoogroups.com; VECO-RI Subject: Dunia berduka : Munir telah pergi! Innaalillaahi wainnaailaihirooji'uun Segenap aktivis Peduli Indonesia dan keluarga petani di Mojokerto (Jawa Timur) menyampaikan belasungkawa dan dukacita

atas kepergian untuk selamanya sahabat tercinta kita MUNIR, SH menghadap Robbnya pada 22 Rajab 1425 H/7 September 2004 M Allaahummaghfirlahu warhamhu wa'afihi wa'fu'anhu Dia sudah sampai pada puncak prestasi yang hakiki : HIDUP MULIA, MATI SYAHID (sepanjang hidupnya untuk jihad melawan kemunkaran, menemui Tuhannya saat dalam perjalanan menuntut ilmu , dia pun dijemput malaikat maut saat pesawat masih berada di langit, insya Allah ini suatu pertanda para malaikat memuliakannya). Beliau meninggalkan amanah sekaligus ujian buat kita semua : Pertama, melanjutkan perjuangan beliau melawan kemunkaran pelanggaran HAM Kedua, memberikan jaminan masa depan kepada keluarganya (isteri dan dua putranya), sebab mereka adalah bagian dari diri dan jiwa sahabat kita, Munir. Akhirnya, semoga keluarga yang ditinggal sabar dan ikhlas menerima cobaan ini. Syafruddin Ngulma Simeulue Direktur Peduli Indonesia Mojokerto

BScC (Biological Science Club) <mailto:%5Bmailto:bscc@indo.net.id%5D> [mailto:bscc@indo.net.id]

Sent: Wednesday, September 08, 2004 8:02 AM To: communitygallery@yahoogroups.com Subject: Re: [communitygallery] KABAR DUKACITA Kami BScC juga turut berduka cita atas wafatnya Sdr MUNIR SH yang kami kenal sebagai orang yang penuh dedikasi dan konsisten dalam memperjuangkan HAM di Indonesia Semoga apa yang diperjuangkan dan diamalkan Almarhum diterima Allah SWT Bagi keluarga dan kerabat yang ditinggalkan semoga diberi kekuatan dan ketabahan dalam menerima kenyataan ini, amiin Wassalam' BPH Biological Science Club (BScC

---Original Message----Adie Usman Musa <mailto:%5Bmailto:aum@indo.net.id%5D> [mailto:aum@indo.net.id]

Sent: Wednesday, September 08, 2004 5:21 AM To: HMI MPO milis; Community Galery; Fkkm milis; Mitra Ford Milis; NGO Forestry Partnership; RI Milis Subject: Selamat jalan Munir, sang pejuang HAM

Innaalillaahi wa innaa ilaihi rojiun Terlalu muda kau pergi kawan... Kau tinggalkan semangat bagi kami... Selamat jalan di sisi Tuhanmu... Semoga kau diampuni... Teriring doa dari kami...yang kau tinggalkan Terucap dukacita yang mendalam untukmu.... :'( Adie Usman Musa Bogor

KPAI Jakarta <mailto:%5Bmailto:aulia_kpai@yahoo.com%5D> [mailto:aulia_kpai@yahoo.com]

Sent: Tuesday, September 07, 2004 9:43 PM To: ppiindia@yahoogroups.com Cc: lingkungan@yahoogroups.com; communitygallery@yahoogroups.com Subject: Re: [ppiindia] Re: Munir Meninggal Dunia - Innalillahi ..... Turut Berduka Cita Indonesia berduka, kehilangan satu lagi putra yang mencintainya..... Semoga Allah menerimanya disisi-Nya... Aulia

YSBB <mailto:%5Bmailto:ysbb@telkom.net%5D[mailto:ysbb@telkom.net]

Sent: Tuesday, September 07, 2004 7:28 PM To: Tim INCL; milis@tifafoundation.org; Milis WALHI; Milis Lingkungan; Luluk Uliyah; Informasi PSDA; ForumSosialIndonesia@yahoogroups.com; communitygallery@yahoogroups.com; Berita Bumi Cc: susan kante; VECO-RI; yus pedoman; YSBB Jakarta; YKL Indonesia; Tribun Timur; Tosora; Salam; PIKUL; Norman Jiwan; Longgena Ginting; Komunitas NonPartisan Indonesia; khusnul yaqin; KEHATI; JATAM; inda fatinaware; indra FSPI lubis; Ina Republika; Ikrar-Opu; gung; GisKita Jatam; Farida Indriani; DFW Indonesia; Dahlan Tribun; bambang rudito; andreas; alam kompas; Ali Husain Al-Atas ICCJ; Adi Prasetijo; maqbulsaja@yahoo.co.uk Subject: Pernyataan Belasungkawa

INNA LILLAHI WA INNA ILAYHI RAJI'UN Telah pergi mendahului kita, Kembali ke pangkuan kasihNya, Pejuang Hak Azasi Manusia, Pembela Orang Tertindas, Hati Nurani Kita: MUNIR, SH Semoga amal perjuangannya diterima di sisi Ilahi Rabbi dan dapat kita teladani Semoga keluarga yang ditinggalkannya mendapat kekuatan dan karunia dari Yang Maha Pengasih dan Maha Penyayang Semoga Allah melapangkan jalannya dan jalan kita yang bakal menyusul Bi Adzamatika Yaa AIlah Bi Nubuwwatika Yaa Muhammad Nabiyullah Bi Wilayatika Yaa Ali Waliyullah INNA ILA RABBIKA RUJ'AA Ambo Tang _____________________________________ YAYASAN SEJAHTERA BINA BANGSA (YSBB) Kompleks BTP M-517 Makassar, 90245 Kontak Person: Abi (081342370545) dan Opu (08124123655)

Phone: 0411-5054608 Fax : 0411-4773651 E-mail: ysbb@telkom.net

PPSW <mailto:ppsw@cbn.net.idppsw@cbn.net.id

Sent: Wednesday, September 08, 2004 9:27 PM To: buruh-migran@yahoogroups.com; communitygallery@yahoogroups.com; lbh Subject: BERDUKA CITA Innalillahi wa inna ilaihi roji'un Keluarga Besar Pusat Pengembangan Sumberdaya Wanita (PPSW) Jakarta Mengucapkan : Turut Berdukacita yang Sedalam-dalamnya Atas Wafatnya Rekan Kita Pejuang HAM Sdr. MUNIR Semoga Arwahnya Diterima Allah SWT di Sisi-Nya dan Keluarga yang Ditinggalkan Tetap Tabah dan Tawakkal Menerima Cobaan Ini.

Jakarta, 8 September 2004

KPS <mailto:%5Bmailto:kepesera@medan.wasantara.net.id%5D> [mailto:kepesera@medan.wasantara.net.id]

Sent: Wednesday, August 25, 2004 8:37 PM To: yfas@centrin.net.id; ybp@centrin.net.id; ybkssolo@indo.net.id; yasanti@yogya.wasantara.net.id; yappika@indosat.net.id; y_yawas@yahoo.com; walhinews@yahoogroups.com; leksip@samarinda.org; gsbi@indosat.net.id; hmnk-sbr@sby.centrin.net.id; hmnk-sbr@sbr.centrin.net.id; ayuni@centrin.net.id; ayuni; akatiga@indosat.net.id; lbh; communitygallery@yahoogroups.com; cumakita@yahoogroups.com

Subject: SELAMAT JALAN BUNG MUNIR!!! KELOMPOK PELITA SEJAHTERA (KPS)DI MEDAN MENYAMPAIKAN RASA DUKA YANG SANGAT DALAM ATAS MENINGGALNYA : MUNIR, SH ((Man ( (Mantan Direktur Kontras dan Direktur IMPARSIAL) Dia layak dinobatkan sebagai salah seorang Pahlawan HAM di Indonesia SELAMAT JALAN BUNG!! "Buat keluarga yang ditinggalkan" Semoga tetap tabah dan kuat dalam menghadapi kesedihan dan kepedihan ini. Percayalah, bahwa jejaknya dalam menegakkan keadilan dan HAM akan diikuti oleh Munir-Munir lainnya.

Salam dalam kepedihan,

Sahat Lumbanraja Kelompok Pelita Sejahtera Jl. Pembangunan Baru No. 22 Simp. Limun-Medan

Kurniawan Adi Nugroho <mailto:%5Bmailto:wawan373@yahoo.com.sg%5D> [mailto:wawan373@yahoo.com.sg]

Sent: Tuesday, September 07, 2004 5:09 PM To: Milis Tapal_Publik; Milis Rimbawan-Interaktif; Milis Perlindungi Saksi; Milis Lingkungan; Milis Kebun Petani; Milis FKKM; Milis Bulukumba Subject: [fkkm] Turut Berduka Atas Meninggalnya MUNIR,SH Innalillahi Wa Inna Illahi Roji'un.. Atas nama crew TAPAL turut berduka cita atas meninggalnya Kawan, MUNIR,SH Semoga Arwah dan segala kontribusi terhadap perjuangan HAM dan Demokrasi di Indonesia menjadi di terima ALLAH swt dan diampuni segala dosa-dosanya...

Wawan

NGO-Forestry-Sector-Partnership

Mengucapkan belasungkawa atas wafatnya pejuang HAM, Sdr Munir SH <mailto:happy@inrr.orghappy@inrr.org Non Governmental Organization - Forestry Sector - Partnership fax : +62 21 572 0219 cell : +62 812 91 855 94 Currently, it is about 680 milisters join in this initiative. The members' background are varied from NGOs, university representatives, government, research institutions, journalists and the rest are civil society mem bers. The non governmental organization forestry sector partnership (NFP) is a post NGO-DFF initiative to link different forestry-related initiatives across Indonesia. Many initiatives have been emerging among forestry-related activists which would be better linked and communicated in a more integrative way. Dialogue forum is an alternative to raise attention and togetherness. No specific estimation which and how effective dialogue format is used to be but at least something have been initiated in a more realistic way. NFP is very thankful to whom are giving inputs either suggestion, wishing or input of improvement to this mailing list existing. Wishing to get inputs and cooperation among forestry activists in keeping communication by not raising suspicious feeling on one's/organization's existing is our spirit to keep positive thinking among ourselves. Being positive thinking with our pressumption of innocence spirit to practice "toward Sustainable Forest Management" will be appreciated. The NGO-Forestry-sector partnership program will be in line with collaboration and cooperation spirit toward better partnership among either Indonesian NGOs or other responsible groups in forestry sector to achieve the same goal. From: "Ahmad Yulden Erwin" <koaklampung@telkom.net> To: <communitygallery@yahoogroups.com>; <koalisiair@yahoogroups.com>; <kebijakan_partisipatif@yahoogroups.com>; <masyarakatsipil@yahoogroups.com>; <tidakpilih_politikus_busuk@yahoogroups.com>; <milis@tifafoundation.org>; <gerakindonesia@yahoogroups.com> Sent: Wednesday, September 08, 2004 12:02 AM Subject: [communitygallery] Duka Cita untuk Bung Munir

Kami, Keluarga Besar GeRAK (Gerakan Rakyat Anti Korupsi) Indonesia mengucapkan: Innalillahi Wa Innaa Ilaihi Raaji'uun.... TURUT BERDUKA CITA Yang Sedalam-Dalamnya Atas Berpulangnya ke Rahmatullah Teman Seperjuangan

"BUNG" MUNIR, SH

Semoga Keluarga Yang Ditinggalkan Tetap Tabah. Semoga Cita-Cita & Perjuangan Yang Telah Dirintisnya Dapat Menjadi Spirit Yang Menyala Di Hati Kita. KAU, AIR MATA JIWA KAMI --Untuk Munir-Oleh Tangkisan Letug Sungguh tak mengerti mengapa mesti ini terjadi kau pergi dipanggil yang ilahi di tengah galau hati belum melihat cerah pagi di kabut perjalanan kami rakyat negeri yang ditinggal sepi oleh jiwa-jiwa pemberani sepertimu mengisi harapan kami. Engkaulah air mata jiwa bagi kami terus mengalami duka berlipat ganda mengiringi kepergian wajahmu yang tak kenal benci hanya luka kau bawa berlari menyatakan kepada dunia kini bahwa bangsa ini harus dibangun bukan atas dasar tirani tetapi atas dasar hormat insani tanpa darah ditumpahkan bagai kali tanpa korban rakyat sendiri

justru di tangan pengaku pembela negeri dengan desing peluru terus menerori. Pada siapa lagi harapan kami layangkan kini? Kau pergi membawa air mata jiwa kami. Kau pergi membawa duka rakyat negeri. Aku iri kau di usiamu sudah matangkan nurani mengencangkan komitmen manusia sejati tak tunduk sekalipun diancam mati tak mundur sekalipun teror membuntuti kau bangun benteng kesederhanaan hati kau bangun kesungguhan mencintai negeri atas dasar kemanusiaan dijunjung tinggi. Keteguhanmu adalah kegigihan nurani demi suara darah korban tak lagi ditumpahkan lagi. Kau, sulit dicarikan pengganti, telah sungguh menjadi air mata jiwa seluruh anak-anak negeri yang masih terus berjuang kini membebaskan dari jiwa tirani. 8 September 2004

Teriring Salam Dan Doa

Ahmad Yulden Erwin Konsulat Nasional GeRAK Indonesia Sekretariat GeRAK Indonesia Jl. Mampang Perapatan I, No. 12 Jakarta Selatan Email: gerak-indonesia@telkom.net

From: "Purnomo, Herry (CIFOR)" <h.purnomo@cgiar.org> To: <rimbawan-interaktif@yahoogroups.com>; "Community Galery" <communitygallery@yahoogroups.com>; "Fkkm milis" <fkkm@yahoogroups.com>; "NGO Forestry Partnership" <ngo-forestry-sector-partnership@yahoogroups.com>; <ipbstaf@yahoogroups.com>; "ipebelink" <ipb-link@yahoogroups.com>

Sent: Wednesday, September 08, 2004 2:00 PM Subject: [communitygallery] RE: [rimbawan-interaktif] Selamat jalan Munir, sang pejuang HAM Saya sangat kaget dan berduka atas berpulanganya pejuang ini. Semoga kejujuran, keberanian dan kesederhanaannya dapat menjadi teladan kita. Teriring doa padamu kawan, semoga bahagia disisi Allah SWT. Wassalam, herry purnomo dan keluarga -----Original Message----From: Adie Usman Musa [mailto:aum@indo.net.id] Sent: Wednesday, September 08, 2004 5:21 AM To: HMI MPO milis; Community Galery; Fkkm milis; Mitra Ford Milis; NGO Forestry Partnership; RI Milis Subject: [rimbawan-interaktif] Selamat jalan Munir, sang pejuang HAM Innaalillaahi wa innaa ilaihi rojiun Terlalu muda kau pergi kawan... Kau tinggalkan semangat bagi kami... Selamat jalan di sisi Tuhanmu... Semoga kau diampuni... Teriring doa dari kami...yang kau tinggalkan Terucap dukacita yang mendalam untukmu.... :'( Adie Usman Musa Bogor From: "Qbar" <Q-BAR@padang.wasantara.net.id> To: <communitygallery@yahoogroups.com> Sent: Wednesday, September 08, 2004 9:35 AM Subject: [communitygallery] Turut Berduka Cita Innalillahi Wa Inna Lillahi Rozi'un. Keluarga Besar Qbar menyampaikan duka cita sedalam-dalamnya atas meninggalnya Bapak Munir SH. Semoga Amal Ibadah Beliau di Terima oleh Allah SWT dan Keluarga yang ditinggalkan Semoga Tabah Menerima Cobaan ini. Amin. Salam, Keluarga Besar Qbar

Qbar--People Coalition for Justce, Democracy and Humanrights Jl.Mutiara 12, Air Tawar Timur Padang, Sumatera Barat 25132 Phone/Fax: (0751) 444-860 From: "Yayasan Ekowisata Sumatera" <yeseco@indosat.net.id> To: <walhinews@yahoogroups.com>; "lbh" <bantuan-hukum@tifafoundation.org>; <buruh-migran@yahoogroups.com>; <communitygallery@yahoogroups.com>; <cumakita@yahoogroups.com>; <SPoulsen@amnesty.org> Sent: Wednesday, September 08, 2004 4:05 PM Subject: [communitygallery] Re: [WalhiNews] KABAR DUKACITA dari Ys Ekowisata Sumatra Medan 7 Sept 2004. Selamat jalan sobat semoga Goresan perjuanganmu selalu dikenang Semoga keluarga yang ditinggalkan Tabah menghadapi Manusia Punya Rencana hanya TUHAN yang tahu akhirnya. Keluarga Ys Ekowisata Sumatra ( YES ) Turut berduka Cita atas berpulangnya " Pendekar HAM " Cak Munir Keluarga Besar Ys Ekowisata Sumatra. From: "Ninetyniners Magazine" <magazine@999.FM> To: <communitygallery@yahoogroups.com>; <koalisiair@yahoogroups.com>; <kebijakan_partisipatif@yahoogroups.com>; <masyarakatsipil@yahoogroups.com>; <tidakpilih_politikus_busuk@yahoogroups.com>; <milis@tifafoundation.org>; <gerakindonesia@yahoogroups.com> Sent: Thursday, September 09, 2004 10:05 AM Subject: Re: [communitygallery] Duka Cita untuk Bung Munir Kami tim redaksi Ninetyniners Magazine Bandung turut berduka cita atas berpulangnya 'pendekar demokrasi' dan HAM bung Munir, SH. Semoga amal ibadahnya diterima di sisi Tuhan YME dan semangatnya tetap berkobar di setiap gerakan kita semua. Dan ketabahan serta kelapangan menyelimuti keluarga yang ditinggalkannya. Your spirit will be here, dare and everywhere! == redaksi == From: "tisna sanjaya" <tisnasanjaya@yahoo.com> To: <communitygallery@yahoogroups.com> Sent: Thursday, September 09, 2004 9:53 AM Subject: RE: [communitygallery] condolences for Munir

innalillahiwainnailaihi rojiun.. ditinggal seorang yang hidup untuk menumbuhkan,keberanian menjunjung tinggi kemanusiaan tak ada kata kata selain tangisan terimakasih kawan atas inspirasimu semoga Allah SWT menempatkanmu di ruang yang indah.. semoga keluarga yang ditinggalkan ditabahkan wassalam tisnasanjaya,setiaji poernasatmoko,moelyono dari gwangju biennale korea

From: "Yayasan Ulayat" <bengkulen@bengkulu.wasantara.net.id> To: "Milis Walhi News" <walhinews@yahoogroups.com>; <shklist@yahoogroups.com>; "Milis Rimbawan" <rimbawaninteraktif@yahoogroups.com>; <rakyat_sumatra@yahoogroups.com>; <pembaharu@yahoogroups.com>; <perempuan@yahoogroups.com>; "Milis Lingkungan" <lingkungan@yahoogroups.com>; "Milis Jatamers" <jatamers@yahoogroups.com>; <infosawit@yahoogroups.com>; <informasipsda@yahoogroups.com>; "fkkm" <fkkm@yahoogroups.com>; <adat@yahoogroups.com>; "Aliansi Meratus" <aliansimeratus@yahoogroups.com>; <anakjalanan@yahoogroups.com>; "Community Galery" <communitygallery@yahoogroups.com>; "NGO Forestry Partnership" <ngo-forestrysector-partnership@yahoogroups.com> Sent: Thursday, September 09, 2004 12:11 PM Subject: [communitygallery] duka cita untuk Pejuang HAM Innaalillaahi wa innaa ilaihi rojiun, Keluarga besar Yayasan Ulayat Bengkulu menyatakan dukacita yang sedalamnya atas meninggalnya Bapak Munir, SH. Kami mengenal dan mengakui dedikasi beliau sebagai pejuang hak asasi manusia di dalam membela pengungkapan kebenaran. Semoga keberanian beliau akan terus terwariskan dalam setiap generasi Indonesia. Semoga keluarga, sanak saudara, kerabat, sahabat, bangsa Indonesia diberikan kekuatan serta penghiburan di dalam menghadapi kesedihan ini. Amin -------------------------------------Yayasan Ulayat Bengkulu Jl. Kenanga 23 No. 05 Rt. 10 Kel. Nusa Indah 38224 Kota Bengkulu Telp. 0736 25525 email : info@ulayat.or.id ; bengkulen@bengkulu.wasantara.net.id

From: "Seknas JKTI" <jkti@softhome.net> To: <communitygallery@yahoogroups.com> Sent: Wednesday, September 08, 2004 1:56 AM Subject: Re: [communitygallery] KABAR DUKACITA Kami turut menyatakan duka cita atas berpulang saudara Munir. Semoga amal ibadahnya dapat diterima Allah SWT dan keluarga yang ditinggalkan memperoleh bimbingan dan rahmat dari Allah SWT. Dan kita yang ditinggalkan masih tetap terus memperjuangkan penegakkan HAM. Rasdi Wangsa Koordinator Nasional Jaringan Kearifan Tradisional Indonesia (JKTI) Jalan Kalasan No 15 Perumahan Cimanggu Permai I Bogor - Jawa Barat From: "Gemilang Consulting" <gemcon@cbn.net.id> To: <communitygallery@yahoogroups.com> Sent: Wednesday, September 15, 2004 3:41 PM Subject: Re: [communitygallery] Berita Duka Kami sangat berduka cita atas wafatnya seorang pejuang HAM bangsa kita. Kami turut berdoa agar Tuhan memberi ketabahan dan kekuatan pada keluarga Almarhum, dan dengan penuh harap akan diteruskannya semangat perjuangan HAM bagi bangsa Indonesia seperti yang selama ini telah diteladankan oleh Almarhum. Salam duka cita, Gemilang Consulting Jakarta ----- Original Message ----From: P. Dwikora Negara To: lingkungan@yahoogroups.com ; communitygallery@yahoogroups.com ; Milis-03 Cuma Kita ; wartawanlingkungan@yahoogroups.com ; uwg-mlg@yahoogroups.com ; kihforum@yahoogroups.com ; fkkm@yahoogroups.com Cc: darmaji760@yahoo.com Sent: Thursday, September 09, 2004 7:34 AM Subject: [communitygallery] Berita Duka

Kawan, Dengan kepergian Munir Indonesia berduka, apalagi Malang Raya (Kota Malang, Kabupaten Malang, Kota Batu) di mana Munir telah menjadi icon gerakan di sana,

sebagai salah satu putra terbaik mereka. Selain kawan-kawan telah banyak menyampaikan simpati duka lewat milis, kawan Saya Redaktur Radio Berita di Malang (Radio Citra Pro 3 FM) juga bersedia menampung simpati/ucapan duka kawan-kawan yang akan dibacakan secara langsung setiap saat di Radio tersebut, agar ucapan/simpati kawan-kawan bisa tersampaikan dan terdengar ke seluruh kerabat, handai taulan, dan keluarga Munir di Malang. Ucapan/simpati duka dapat dikirimkan lewat e-mail ke: darmaji760@yahoo.com atau sms di: 08155566800, mohon dituliskan nama organisasi/individu dan asal daerah/kota. Insya Allah jenazah Munir akan tiba pada hari Jum'at, 10 September 2004. Salam, -P. Dwikora NegaraFrom: "wawan husin" <wawanhusin@yahoo.com> To: <communitygallery@yahoogroups.com> Sent: Wednesday, September 15, 2004 8:49 PM Subject: RE: [communitygallery] condolences for Munir munir bintang,meteor pembawa terang tak tahu menunggu berapa dekade lagi orang sperti dia dilahirkan. selamat jalan kami belajar banyak darimu salam wawan husin From: "Watch Indonesia!" <watchindonesia@snafu.de> To: "Apakabar" <apakabar@yahoogroups.com>; "aku baca" <akubaca@yahoogroups.com>; "achehnews" <achehnews@yahoogroups.com>; "Aceh Working Group" <awg_members@yahoogroups.com>; "bizzcomm" <bizzcomm@yahoogroups.com>; "Bumi Manusia" <bumimanusia@yahhogroups.com>; "Cari" <cari@yahoogroups.com>; "CommunicationsIndonesia" <communicationsIndonesia@yahoogroups.com>; "Communitygallery" <communitygallery@yahoogroups.com>; "Diskusi-Pembebasan" <DiskusiPembebasan@yahoogroups.com> Sent: Friday, November 12, 2004 1:13 AM Subject: [communitygallery] Breaking news: Munir poisoned

Breaking news: Munir poisoned

NRC Handelsblad (the Netherlands) 11.11.2004 Indonesische activist vergiftigd Door onze correspondent Dirk Vlasblom (Translation from Dutch by INFID European Liaison Office) JAKARTA, 11 NOV 2004 "The Indonesian human rights activist Munir appears to have been poisoned during his flight from Jakarta to Amsterdam”. When he arrived in Schiphol on a plane of Garuda Airline after a stopover in Singapore he was dead. He was 38 years of age. In the course of the autopsy conducted by the Dutch Forensic Institute (NFI) a fatal dose of arsenic was discovered. This was disclosed by well informed sources in the Indonesian Foreign office. Today the director general for Europe and America in the Foreign office received the NFI-report from the Dutch diplomats. The diplomats also conveyed the request of Den Haag to inform Munir's family as soon as possible. This afternoon Munir's widow, Suciwati, had not been approached yet. The Dutch Foreign Office is of the opinion that a further criminal investigation is justified and conveyed this opinion to the government in Jakarta. The government in Jakarta is taking the matter very serious. The Minister of Foreign Affairs Hassan Wirajuda has informed the President Susilo Bambang Yudhoyono personally. In the meantime between the death of Munir and the handing-over of the NFI-report, the president and the cabinet had changed. The new attorney-general, Abdul Rahman Saleh, is considered to be incorruptible and vigorous. This will improve the chances for a criminal investigation. During the Suharto era Munir led various organisations for the defence of human rights. He was known to be very brave. He never shied away from confrontations with the Armed Forces. On invitation of the Dutch aid organisation ICCO Munir planned to attend courses at the University of Utrecht."

Dr. Klaus H. Schreiner INFID European Liaison Office

Vlasfabriekstraat 11 * B-1060 Brussels Tel. + 32-2-5361951 * Fax. +32-2-5361906 www.infid.be * www.infid.org -*********************************************************************** Watch Indonesia! e.V. Tel./Fax +49-30-698 179 38 Planufer 92 d e-mail: watchindonesia@snafu.de 10967 Berlin http://home.snafu.de/watchin Bitte beachten Sie unsere neue Bankverbindung. Konto: 2127 101 Postbank Berlin (BLZ 100 100 10) IBAN: DE96 1001 0010 0002 1271 01, BIC/SWIFT: PBNKDEFF Bitte unterstützen Sie unsere Arbeit durch eine Spende. Watch Indonesia! e.V. ist als gemeinnützig und besonders förderungswürdig anerkannt. *********************************************************************** From: "LPMA Balai" <Balai@indo.net.id> To: "Shklist" <shklist@yahoogroups.com>; <rimbawan-interaktif@yahoogroups.com>; <petakampung@yahoogroups.com>; <masyarakatsipil@yahoogroups.com>; <LCF_Indonesia@yahoogroups.com>; <kosim-fwi@yahoogroups.com>; <jaring_pela@yahoogroups.com>; <intiphutan@yahoogroups.com>; <infosawit@yahoogroups.com>; <fkkm@yahoogroups.com>; <communitygallery@yahoogroups.com>; <apksa@yahoogroups.com>; <AliansiMeratus@yahoogroups.com>; <lingkungan@yahoogroups.com> Sent: Friday, November 12, 2004 2:17 PM Subject: [communitygallery] Fw: [perempuan] Fw: [indonesian-studies] Kematian Munir Ingin Dipolitisir?

----- Original Message ----From: "sulis" <sulis@pacific.net.id> To: <perempuan@yahoogroups.com>; <huma@cbn.net.id>; <al-anap@yahoogroups.com> Sent: Friday, November 12, 2004 10:58 AM Subject: [perempuan] Fw: [indonesian-studies] Kematian Munir Ingin Dipolitisir?

----- Original Message ----From: John MacDougall <johnmacdougall@comcast.net> To: indonesian-studies <indonesian-studies@yahoogroups.com> Sent: Friday, November 12, 2004 12:14 AM Subject: [indonesian-studies] Kematian Munir Ingin Dipolitisir? Warta Berita - Radio Nederland, 11 November 2004

KEMATIAN MUNIR INGIN DIPOLITISIR? Apakah aktivis hak asasi manusia Munir meninggal dunia karena sebab-sebab alami atau secara tidak wajar? Hasil otopsi yang sudah ditunggu-tunggu selama lebih dari enam minggu harus memberikan kejelasan mengenai hal ini. Kamis kemarin pemerintah Belanda menyatakan telah menyerahkan hasil otopsi Munir kepada pemerintah Indonesia dalam hal ini Departemen Luar Negeri di Jakarta, bukannya langsung kepada keluarga. Menurut Sri Rusminingtyas, wakil resmi keluarga Munir di Belanda, sejak hari pertama pihak keluarga telah meminta kepada pihak kepolisian dan departemen kehakiman Belanda agar hasil otopsi langsung diserahkan kepada keluarga. Tetapi tidak ada jaminan hitam di atas putih bahwa hal itu akan benar dilakukan. Sri Rusminingtyas [SR]: Saya kurang tahu kalau misalnya perubahannya seperti apa, saya kurang tahu. Tetapi memang pada waktu itu Ibu Suci meminta tolong kepada kami untuk memberitahu kepada pemerintah Belanda, permohonan supaya hasil otopsi disampaikan kepada keluarga. Jadi melalui kedutaan Belanda atau apa, tapi yang penting kepada keluarga. Nah kami pada waktu itu sudah memberitahu pihak polisi dan polisi juga sudah mencatat. Dan kemudian pada waktu kami dihubungi oleh Ministry of Justice (Departemen Kehakiman) suami saya juga mengatakan. Waktu itu juga ditanya apa betul seperti itu, suami saya mengatakan: "ya itu permintaan keluarga". Dan kemudian waktu itu yang dikatakan oleh Departemen Kehakiman adalah mereka akan berusaha melakukan itu. Radio Nederland [RN]: Jadi mereka tidak memberikan jaminan yang pasti bahwa akan diberikan kepada keluarga? SR: Ya, tapi mereka akan berusaha supaya bisa seperti itu. Bahkan sebelumnya pada waktu suami saya itu juga bicara dengan pihak kepolisian tentang permintaan keluarga itu, polisi juga akan berusaha supaya hal itu terjadi. Karena pada waktu kami ditanya apakah kami punya surat kuasa, kami bilang ya punya. Hitam di atas putih punya. Cuma kan waktu itu proses otopsinya belum selesai. Tetapi kemudian dugaan saya mungkin ini kan ada masalah international law (hukum

internasional), yang tidak memungkinkan pemerintah Belanda untuk langsung ke keluarga. RN: Setelah itu Ibu tidak ada hubungan lagi dengan departemen kehakimannya Belanda? SR: Terakhir berhubungan kalau tidak salah minggu kemarin, suami saya. RN: Itu mengenai apa bu? SR: Mengenai yang pertama adalah bahwa otopsinya masih dalam proses tetapi memperoleh prioritas. Termasuk high priority. RN: Alasannya kenapa belum selesai? SR: Karena kan waktu itu butuh waktu cukup lama, karena harus ada pembiakan koloni. Jadi waktu pemeriksaan awal, belum begitu diketahui hasilnya, kemudian mereka ingin membiakkan lagi lebih intensif. Demikian Sri Rusminingtyas, wakil keluarga Munir di Belanda. Juru bicara Deplu, Marty Natalegawa menyatakan berkas-berkas penelitian Munir telah diserahkan kepada Menko Polhukam. Kenapa harus demikian? Kenapa tidak langsung diberitahukan kepada keluarga Munir. Banyak kalangan curiga jangan-jangan pemerintah Indonesia ingin mempolitisir sebab-sebab kematian Munir. Bagi Rachland Nashidik, direktur Imparsial, LSM hak asasi manusia di Jakarta, wakil keluarga Munir, sopan-santun diplomatik menjadi alasan mengapa Den Haag menyerahkan hasil otopsi itu kepada Jakarta. Berikut penjelasan Rachland Nashidik kepada Radio Nederland: Rachlan Nashidik [RaN]: Sopan santun diplomatik memang menjadi alasan dibalik penyerahan hasil otopsi terhadap jenazah Munir itu pada pemerintah Indonesia dari pemerintah Belanda. Jadi memang alasan yang digunakan adalah sopan santun diplomatik. Saya kira isunya bukan itu yang pertama. Isunya adalah apakah dengan diserahkannya kepada pemerintah Indonesia, maka hak keluarga untuk mengetahui hasil otopsi, untuk mengetahui pertama kali, untuk menjadi orang yang pertama hasil otopsi itu dipenuhi atau tidak. Saya tidak keberatan apabila hasil otopsi diterima oleh pemerintah Indonesia, tetapi pemerintah Indonesia menghargai, menjamin dan memenuhi hak keluarga untuk menjadi pihak yang pertama tahu tentang hasil otopsi.

Dengan kata lain walaupun pemerintah Indonesia telah menerima hasil otopsi, dia tidak boleh membuka hasil otopsi itu tanpa diketahui atau disetujui oleh keluarga korban. Oleh kleuarganya kak Munir. RN: Sampai sekarang keluarga korban sudah mendapat kabar dari pemerintah Indonesia? RaN: Belum, belum. Pada saat ini belum. Karena baru hari ini memang Kedutaan Besar Belanda di Jakarta menyerahkan hasil otopsi kepada pemerintah Indonesia. Saya tidak tahu siapa yang menyerahkan dari Kedubes Belanda. Tapi dari informasi yang diterima Kedubes Belanda sudah menyerahkan kepada Departemen Luar Negeri. Demikian Rachland Nashidik dari Imparsial di Jakarta. From: "Watch Indonesia!" <watchindonesia@snafu.de> To: <watchindonesia@snafu.de> Sent: Wednesday, November 17, 2004 2:13 AM Subject: [communitygallery] Seruan Watch Indonesia! supaya kasus pembunuhan terhadap Munir diselidiki secara transparen dan menyeluruh

Watch Indonesia! - Keterangan Pers, 15 Nopember 2004

Seruan Watch Indonesia! supaya kasus pembunuhan terhadap Munir diselidiki secara transparen dan menyeluruh.

Sahabat dan rekan kerja kami aktivis HAM Indonesia paling terkenal Munir meninggal akibat diracun. Ia meninggal penuh penderitaan dalam penerbangannya dari Jakarta menuju Amsterdam. Kejelasan mengenai penyebab kematiannya, selang dua bulan setelah kepergiannya, untuk kedua kalinya membuat kami merasa sangat terpukul. Dari permulaan sudah tersiar dugaan bahwa yang terjadi pada diri Munir bukanlah kematian kumlah. Meskipun mengetahui bahwa Munir sudah berulang kali luput usaha pembunuhan, kami sempat enggan memikirkan kemungkinan tersebut. Adalah Munir sendiri yang terus menerus mengingatkan bahwa teori-teori konspirasi yang sangat diminati di Indonesia itu mengandung kekuatan destruktif yang dahsyat. Maka, ketika isi

laporan otopsi membenarkan dugaan sebab musabab kematian Munir, hal ini sangat memberatkan hati kami. Dan selama kasus ini belum diusut secara tuntas demi mengungkap segala ketidakjelasan dan pelaku pembunuhan belum dihukum, spekulasi baru akan semakin bertambah. Barangkali justru hal ini yang diinginkan pihak pembunuh. Perasaan takut tidak hanya akan membebani kalangan pejuang hak asasi manusia. Beberapa kasus kematian misterius di tahun-tahun terakhir kembali menghantui ingatan: bulan Juli 2001 ketua Jaksa Agung Baharuddin Lopa yang dikenal lurus dan tegas dalam tindakannya mendadak mati saat menunaikan ibadah di Arab Saudi. Latar belakang kematiannya sampai kini belum diselidiki secara tuntas. Perwakilan Indonesia secara eksplisit menolak otopsi dan dengan segera menghantarkan jenazah Lopas kepada sanak keluarganya. Kurang dari dua bulan setelah kematian Baharuddin Lopa, dikabarkan kematian mendadak Letnan Jendral Agus Wirahadikusumah yang menurut sumber resmi diakibatkan serangan jantung. Dalam umurnya yang singkat, 49 tahun, Wirahadikusumah lebih dikenal sebagai jendral reformasi yang menjadi tumpuan harapan berbagai pihak. Keberhasilannya membongkar jaringan korupsi juga telah berakibat bertambahnya musuh di kalangan militer. Sekurang-kurangnya satu tahun sebelum kematiannya yang misterius, jabatannya dirubah ke posisi tanpa pengaruh. Yang sama sekali tidak dapat diragukan lagi adalah pembunuhan terhadap hakim Syaifuddin Kartasasmita yang bulan Juli 2001 mati ditembak pembunuh bayaran di tengah jalan di Jakarta. Sebelumnya, Kartasasmita tidak gentar untuk menjatuhkan hukuman penjara terhadap Tommy Mandala Putra, anak lelaki mantan presiden dan diktator Suharto, atas dasar tuduhan korupsi. Meskipun keempat kasus pembunuhan berbeda jalan kejadiannya, namun kesemuanya mempunyai makna yang sama: siapa saja yang berusaha mengangkat kebenaran dibalik pelanggaran HAM ataupun praktek korupsi, menjalani hidup penuh ancaman. Pandangan ini dikuatirkan juga akan mempengaruhi

pengusutan kasus Munir. Lamanya waktu yang berselang antara pemeriksaan forensik di Belanda dan pengumuman hasil otopsi juga melontarkan pertanyaan. Pemeriksaan terhadap jenazah Munir yang meninggal hari Selasa tanggal 7 September 2004 sebenarnya hanya berlangsung beberapa hari. Masih di akhir minggu yang sama, jenazah Munir sudah dilepas untuk diterbangkan ke Indonesia untuk dikubur. Maka hasil otopsi pada saat tersebut mestinya sudah ada. Apakah rentangan waktu masih berkaitan dengan pemikiran-pemikiran taktis untuk investigasi ataukah waktu ini dipakai untuk mencapai kesepakatan diplomatis antara perwakilan Belanda dan Indonesia? Suciwati, janda almarhum Munir, sampai waktu ini tidak mendapatkan salinan laporan otopsi, meskipun berulang kali ia menegaskan haknya untuk mendapatkan salinan laporan tersebut sebagai pihak pertama. Sungguh tidak mudah memberikan kepercayaan tanpa batas pada pihak perwakilan negara, apalagi jika ada dugaan mengenai keterlibatan lembaga negara, umpamanya militer, dalam kasus pembunuhan ini. Memang perkiraan bahwa pembunuhan dilakukan atau disuruh oleh anggota militer sangatlah kuat. Siapa pula yang punya motivasi membunuh Munir di depan mata ratusan penumpang dalam pesawat terbang? Hal ini dan ditambah dengan kejelasan akan sebab musabab kematian yang ditemukan oleh lembaga resmi suatu negara yang patut dipercaya sepertinya menunjukkan, bahwa si pelaku sengaja membiarkan perbuatannya terlihat sebagai tindakan pembunuhan - sekalian sebagai peringatan untuk pihak lainnya. Di lain pihak justru karena skenario tersebut dalam pandangan pertama kelihatan begitu sesuai dengan persepsi negatif terhadap militer, maka tidaklah heran jika keraguan atas kebenaran skenario kembali timbul. Juga tidak mustahil, jika dugaan bertubi-tubi ke arah militer bisa menyebabkan pengusutan menjurus ke arah yang salah.

Pengungkapan kasus maupun penyidikan secara juridis tindakan kriminal tersebut merupakan ujian berat pertama terhadap kesungguh-sungguhan dan kemampuan pemerintahan baru dibawah pimpinan presiden Susilo Bambang Yudhoyono, yang menyatakan niatnya memperkuat supremasi hukum negara Indonesia. Kami menganggap para pemimpin politik Indonesia juga sudah menyadari tanggung jawab ini. Menurut pemberitaan, Presiden Yudhoyono telah memerintahkan dari Kairo, supaya laporan hasil otopsi ditindak lanjuti secara transparen. Kami dengan ini menyerukan pemerintah Indonesia untuk menyelidiki secara tuntas serta menjamin pengungkapan kasus pembunuhan terhadap Munir dilakukan secara akurat dan terpercaya. Munir beberapa kali datang ke Jerman sebagai tamu yang diundang oleh lembaga politik, lembaga bantuan, universitas dan NGO. Ia menghadiri pertemuan untuk berbicara dengan para wakil pemerintahan dan politik Jerman: menteri negara, anggota parlamen, pegawai kementrian, presiden kehakiman, diplomat, serta pihak media massa. Kesemua pihak kami minta dengan sungguh-sungguh supaya meyakinkan pemerintah Indonesia bahwa pengungkapan kasus pembunuhan terhadap Munir sangat penting nilainya, dan hal yang sama juga berlaku untuk dukungan perlindungan tanpa batas kepada aktivis hak asasi manusia. -*********************************************************************** Watch Indonesia! e.V. Tel./Fax +49-30-698 179 38 Planufer 92 d e-mail: watchindonesia@snafu.de 10967 Berlin http://home.snafu.de/watchin Bitte beachten Sie unsere neue Bankverbindung. Konto: 2127 101 Postbank Berlin (BLZ 100 100 10) IBAN: DE96 1001 0010 0002 1271 01, BIC/SWIFT: PBNKDEFF Bitte unterstützen Sie unsere Arbeit durch eine Spende. Watch Indonesia! e.V. ist als gemeinnützig und besonders förderungswürdig anerkannt. ***********************************************************************

From: "Watch Indonesia!" <watchindonesia@snafu.de> To: <watchindonesia@snafu.de> Sent: Friday, December 03, 2004 3:56 AM Subject: [communitygallery] Mencermati Perlindungan Pembela HAM

Kompas, Kamis, 02 Desember 2004

Mencermati Perlindungan Pembela HAM

Oleh Ivan A. Hadar MUNIR, pembela (human right defender) HAM bereputasi internasional itu, tampaknya telah diracun dalam penerbangan dari Jakarta ke Amsterdam. Dalam autopsi yang dilakukan Netherlands Forensic Institute (NFI), ditemukan dosis arsenik yang mematikan (NRC Handelsblad, 11/11/2004). Da'i Bachtiar, Kepala Kepolisian Negara Republik Indonesia, juga mengakui adanya dugaan, kematian Munir "tidak wajar" (Kompas, 13/11/2004). Di negeri ini tindak kekerasan terhadap aktivis hak asasi manusia (HAM) belum menjadi sesuatu yang langka. Ironisnya, kebanyakan dilakukan dengan dalih "demi kepentingan nasional" atau dengan alasan "nasionalisme-patriotisme". MASIH segar dalam ingatan, saat Kontras, lembaga yang (pernah) dipimpin Munir, diteror bom bahkan diserbu dan kantornya dirusak sekelompok sipil berseragam. Kontras dianggap tidak patriotis karena mengkritisi kebijakan pemerintah menggelar Operasi Keamanan di Aceh. Salah seorang pengurusnya dipaksa menyanyikan Indonesia Raya untuk menguji kedalaman sikap patriotisme. Mungkin karena ketakutan, ia tidak ingat seluruh teks sehingga dianggap tidak patriot dan patut dipukuli. Dalam pemahaman kelompok itu, patriotisme diartikan sebagai kesediaan untuk membela kebijakan pemerintah tanpa reserve. Pemerintah, yang bisa berganti, disejajarkan bahkan dianggap identik dengan negara atau Ibu Pertiwi.

Pertanyaannya, bagaimana negara (mau) melindungi aktivis HAM yang karena mendasarkan kegiatannya pada pertimbangan kemanusiaan yang universal sering dianggap tidak nasionalistispatriotis dan karena itu patut diperangi? Dalam kaitan ini, peringatan Leo Tolstoi patut disimak. Baginya, patriotisme lebih mudah dipakai sebagai legitimasi untuk membunuh ketimbang menjadi spirit untuk membangun kebutuhan dasar kehidupan, seperti memperbaiki pendidikan dan kesehatan masyarakat. Dari sudut pandang itu, energi dan dana lebih banyak digunakan untuk perang menumpas mereka yang memberontak bahkan sekadar berbeda interpretasi tentang patriotisme ketimbang menarik hati mayoritas penduduk lewat program berkeadilan, termasuk penegakan HAM, yang sekaligus berarti menghilangkan lahan subur bagi ketidakpuasan sebagai bibit pemberontakan. BAGI Indonesia sebenarnya ada titik temu waktu yang menarik, Deklarasi Perlindungan Pembela HAM yang disepakati dalam Sidang Pleno PBB 9 Desember 1998, nyaris berbarengan dengan tumbangnya rezim otoritarian. Deklarasi yang berjudul Declaration on the Right and the Responsibility of Individuals, Groups and Organs of Society to Promote and Protect Universally Recognized Rights and Fundamental Freedom membutuhkan waktu 13 tahun untuk sampai pada sebuah kesepakatan. Karena itu, bisa dianggap sebagai milestone bagi perlindungan pembela HAM, dan meski tidak mengikat secara hukum, deklarasi itu memiliki nilai moral tinggi. Selain menyuguhkan kerangka untuk memperingatkan pemerintahan sebuah negara pada tanggung jawabnya. Namun, agar menjadi kenyataan dalam kehidupan bernegara, diperlukan beberapa langkah berikut. Di satu sisi, mekanisme perlindungan pembela HAM ini perlu diimplementasikan secara lebih aktif. Di sisi lain, ada sebuah perubahan penting yang dicetuskan dalam sidang komisi HAM PBB di Geneva tahun 2000, yaitu dimungkinkannya intervensi special raportoire dalam kasus-kasus tertentu, yang menuliskan laporan tentang kondisi perlindungan pembela HAM.

Waktu yang panjang untuk mencapai kesepakatan, tampaknya karena bagi banyak negara, para pembela HAM dianggap berbahaya, terutama bagi pemerintahan nondemokratis. Dalam pencarian alasan lebih dalam berkaitan resistensi itu, ditemui keterkaitan antara kebijakan ekonomi, keamanan, dan kekuasaan dengan peran "mengganggu" para pembela HAM, termasuk misalnya saat mereka menentang penerapan kebijakan IMF atau proyek ekonomi raksasa yang menyengsarakan rakyat. Ada pula yang dianggap "mengotori" citra bangsa saat memublikasikan kebenaran berkaitan pelanggaran HAM di level internasional. Berbagai konferensi internasional sepanjang tahun 1998 berkaitan dengan perayaan 50 tahun Deklarasi HAM PBB menempatkan perlindungan pembela HAM sebagai fokus bahasan. Dua hal berikut menjadi topik yang paling panas diperdebatkan peserta dari semua benua, yaitu definisi aktivis HAM dan legitimitas berkaitan dengan perlindungan khusus terhadap para aktivis itu. Definisi yang diajukan Organisation Mondiale Contre la Torture, misalnya, mengesankan koherensi dan kesederhanaan. Seorang pembela HAM adalah dia yang bergiat untuk perlindungan satu atau beberapa hak asasi manusia yang termaktub dalam deklarasi HAM universal serta mematuhi standar moral dan hukum yang ditetapkan. Mereka bisa saja berasal dari aktivis LSM, pengacara, aktivis buruh, wartawan, atau dokter. Bisa juga, dan ini amat sering terjadi, mereka adalah saksi pelanggaran HAM yang ada dalam kondisi dilematis untuk mengambil keputusan antara keselamatan diri dan membuka kebenaran yang berperan sentral dalam penegakan hukum. Namun, "keputusan" siapa yang berhak memperoleh predikat pembela HAM bersifat moralis, politis, finansial, dan hukum, untuk menyebut beberapa saja. Tentu pula para pembela HAM adalah manusia biasa dengan segala kelemahannya. Namun, dalam hal tertentu mereka terancam bahaya karena tidak mudah digertak, memahami keterkaitan pelanggaran HAM dan membukanya serta tegar menyuarakan kebenaran. Dengan demikian, perlindungan pembela HAM memiliki implikasi lebih dari sekadar

perlindungan terhadap seorang individu. Ancaman atau bahkan kekerasan terhadap seseorang yang berperan aktif dan terbuka dalam menegakkan HAM sangat berpengaruh buruk terhadap masyarakat atau bangsa tempatnya melakukan aktivitas. Selain melemahkan moral gerakan HAM secara keseluruhan, beberapa bahaya berikut juga terkait dengan perlakuan buruk terhadap pembela HAM. Pembunuhan seorang pembela HAM, misalnya, otomatis menghilangkan pengetahuan berharga yang dimilikinya, termasuk sekian fungsinya sebagai 'pengacara' atau 'juru bicara' kaum tertindas. Karena itu, solidaritas internasional menjadi penting. Munir adalah contoh. Aktivitasnya menimbulkan kekaguman tidak hanya di dalam negeri. Munir, orang Indonesia pertama penerima hadiah "nobel" alternatif perdamaian. Mencermati reputasi dan ketenarannya, adalah sebuah tindakan "bodoh" saat melakukan pembunuhan Munir. Kematiannya yang tidak wajar menjadi berita dunia, dan autopsi atasnya niscaya dilakukan secara tuntas oleh Belanda, negara tempat tujuannya. Pertanyaannya, apakah pemerintah baru, dengan Presiden SBY yang menjanjikan penegakan hukum secara akuntabel dan transparan, mampu mengungkap kasus yang mendunia demi memperbaiki citra pemerintahannya. Bila itu yang dilakukan, kepergian Munir bisa terobati. Dan, penegakan HAM di negeri yang lama memiliki citra buruk ini kembali memiliki harapan perbaikan. Ivan A Hadar Direktur Indonesian IDe (Institute for Democracy Education); Ketua Dewan Pengurus INFID (International NGO Forum on Indonesian Development) -*********************************************************************** Watch Indonesia! e.V. Tel./Fax +49-30-698 179 38 Planufer 92 d e-mail: watchindonesia@snafu.de 10967 Berlin http://home.snafu.de/watchin Bitte beachten Sie unsere neue Bankverbindung. Konto: 2127 101 Postbank Berlin (BLZ 100 100 10) IBAN: DE96 1001 0010 0002 1271 01, BIC/SWIFT: PBNKDEFF

Bitte unterstützen Sie unsere Arbeit durch eine Spende. Watch Indonesia! e.V. ist als gemeinnützig und besonders förderungswürdig anerkannt. *********************************************************************** From: "Watch Indonesia!" <watchindonesia@snafu.de> To: <watchindonesia@snafu.de> Sent: Thursday, December 09, 2004 1:16 PM Subject: [communitygallery] Misteri masih membungkus Munir

http://www2.rnw.nl/rnw/id/topikhangat/arsipaktua/indonesia/misteri_kasus_munir041208

Misteri masih membungkus Munir

oleh: Aboeprijadi Santoso, 08 Desember 2004

Munir gugur di musim gugur di atas Eropa, awal September 2004, ketika daun perlahan mulai layu dan akhirnya gugur - persis seperti nasib Munir. Tapi Munir gugur penuh misteri. Misteri peracunan. `Misteri' birokratik dan diplomatik seputar berkas otopsinya, yang melecehkan hak keluarganya. Dan misteri apa dan siapa di balik pembunuhan politik atas dirinya. Hingga laporan ini diturunkan (08/12), ketiga misteri itu masih membungkus Munir. Inilah tragedi yang menimpa salah satu putra terbaik Indonesia. Datang sekaligus berpisah Masih segar dalam ingatan kawan-kawannya di Belanda ketika Munir bercerita mengenai tragedi HAM yang pahit di Aceh di Gereja Mozes en Aaron di Amsterdam tahun silam; juga di warung di Waterlooplein dan tahun-tahun sebelumnya di Anjeliersstraat, Amsterdam. Sesegar itu pula, kesehatannya ketika dia pada 6 September lalu berangkat dari Jakarta menuju Belanda dengan Garuda GA-974. Namun setiba di Singapura, dia merasa mual, dan tiga jam kemudian, di atas Madras, dia menderita, dan ditemukan meninggal dua jam sebelum mendarat di Amsterdam 7 September pk. 08.10 waktu setempat. Dua bulan kemudian, 11 November, diberitakan terdapat sebanyak 465 mgr. arsen

(arsenicum) di lambungnya. Bagi teman-temannya di Belanda dan Eropa, dia datang sekaligus berpisah. Dia pergi ketika jalan perjuangan yang terentang panjang di depannya diputus secara tragis dan absurd. Karena itu, berpisah secara tiba-tiba, dalam kasus Munir, adalah bagian dari isyarat kekuatan-kekuatan yang hendak menghentikan misi yang tengah disandangnya. Tahun kelahiran dan tahun kepergian Munir secara simbolik memberi semacam kerangka dan arah: di mana dan ke mana dia berkiprah dan berjuang. Lahir pada tahun yang sama - 1965 - dengan lahirnya Orde Baru - tatanan produk musibah politik dan kemanusiaan - Munir memilih menjadi pembela HAM. Pantas, dia menghadapi rezim dan warisan represifnya; memerangi ketidakadilan - dari nasib Marsinah, 1993, sampai para aktivis yang hilang, 1998; membela warga yang jadi korban bom demi bom dan pelanggaran HAM; kritis tentang kasus Priok maupun daerah konflik seperti Timor Timur, Aceh dan Papua; menyelidiki dan menggugat ulah oknum dan aparat; akhirnya, dihadang maut ketika menyelidiki isu-isu korupsi, dana perang Aceh dan menyiapkan kampanye menentang RUU TNI di kala tuntutan supremasi sipil dan pemerintahan yang bersih semakin marak. Munir, seperti digambarkan Sidney Jones, memiliki "segala hal yang harus dimiliki oleh pejuang HAM. Dia berprinsip teguh, tegar, cerdas, lucu dan tak kenal takut. Dia menantang mereka yang berkuasa, membuat mereka marah, mendapat ancaman demi ancaman, dan tak pernah menyerah." (The Jakarta Post 11 Sept. 2004) Misteri di kabin Munir berangkat dalam keadaan sehat. Menurut kalangan medis di Belanda, arsen tersisa sebanyak 465 mg di lambung itu merupakan kasus arsen akut, yang bekerja sejak setengah jam sampai 3-4 jam kemudian; pantas, tiga jam selepas Singapura, dia meninggal. Jadi, peracunan itu diduga hanya (sic!) mungkin terjadi selama perjalanan JakartaSingapura. "Arsen bekerja cepat, dalam setengah jam terserap ke badan," kata

Dr. Lily Djojoadmodjo (Radio Nederland, Jelajah Nusantara 7 Des). Gejala pertama keracunan terjadi ketika Munir mengirim SMS dari Changi bahwa perutnya mulas, dia hanya duduk di ruang tunggu. Sumber lain menambahkan, dia buang air sampai dia hampir terlambat boarding. Saksi lain lagi melihat wajahnya "pucat". Tapi Dr. Tarmizi yang berjumpa Munir ketika boarding mengatakan kondisi Munir "biasa biasa saja". Boleh jadi Munir agak lumayan setelah buang air. Laporan TEMPO (6 Des) menunjuk pada bami goreng pesanan Munir. Berbeda dengan lewat minuman, arsen lewat makanan lebih lambat terserap. Yang terang, arsen baru menyebar benar selepas Singapura. Beberapa indikasi mendukung bahwa Munir diracuni selepas Jakarta. Di bandara Soekarno-Hatta, Munir minum susu coklat bersama istrinya, Suci, yang tetap sehat. Masuk pesawat, dia didekati pilot (tidak bertugas di cockpit), Pollycarpus yang mengajaknya duduk di kelas bisnis. Polly mengaku kepada polisi Munir salah masuk, tapi Suci membantah: menunjuk, Munir sering terbang. Munir makan dua juice, buah-buahan dan bami. Permen? "Munir tak suka permen," kata Suci. Di kelas bisnis, juice dituangkan, bukan dalam doos seperti dikatakan polisi. Mengapa TEMPO (6 Des.) menunjuk pada bami padahal bami (doos tertutup?) dibagi secara random, tak jelas. Tapi TEMPO (29 Nov.) menyebut Polly "mondar mandir" antara bar dan ruang pilot. Tiba di Singapura-Changi, Munir merasa mulas - mungkin dia tidak lagi membeli makanan atau minuman karena uangnya utuh. Seminggu setelah pemeriksaan polisi, Usman Hamid dari KontraS mendesak polisi agar menetapkan Polly sebagai tersangka, tapi polisi belum melakukannya (6 Des.), Ulah Polly memang dianggap "aneh". Dia pernah menelpon Munir menanyakan kepada Suci tentang keberangkatan Munir, mengaku mau nitip sesuatu. Kepada Imparsial, dia cerita kepada Munir mau sama-sama ke Amsterdam, tapi belakangan turun di Singapura karena mau ke Shanghai, padahal esoknya dia pulang ke Jakarta sesuai surat tugas Garuda. Cerita Polly tidak konsisten. Tak berarti Polly pasti biangnya, atau bekerja sendiri. Aparat Belanda juga teledor. Hanya 20an awak dan penumpang diperiksa pada 7 Sept. pagi itu. Menurut keterangan Menkeh Belanda P.H. Donner di parlemen 31 Nov. dua dokter dari Gemeente Harlemmermeer baru datang tengah hari. Padahal, setiba di bandara Amsterdam-Schiphol, Dr. Tarmizi Hakim yang merawat Munir di pesawat, sudah mengatakan ada

keanehan. Ketika ketiga dokter tsb menolak menandatangani bahwa Munir meninggal secara wajar (natuurlijke dood), berarti ada dugaan pidana, para penumpang telah keluar tanpa diperiksa. `Misteri' birokratik & diplomatik Tragiknya, sementara kasus kematiannya merupakan misteri pembunuhan politik lewat peracunan, proses laporan otopsinya merupakan kisah tersendiri yang mencerminkan keutamaan proses negara, diplomatik dan birokrasi di atas hak-hak warga, dalam hal ini, si korban dan keluarga yang ditinggalkan. Sejak 7 Sept. tengah hari, kasus Munir beralih ke tangan kejaksaan lokal, Openbare Ministerie (OM) Arrondissement Haarlem, yang membawahi bandara Schiphol dan Lembaga Forensik Belanda NFI (Nederlands Forensisch Instituut) melakukan otopsi. Pada 9 Sept, keluarga Munir yang menjemput jenazah memperoleh kesepakatan (lisan) dari pihak OM agar hasil otopsi diserahkan kepada keluarga melalui Kedutaan Besar Belanda di Jakarta. "Kami akan mengupayakannya," ujar pejabat ybs seperti dikutip wakil keluarga, Sri Rusminingtyas (Radio Nederland, 11 Nov). Aparat OM, Marechaussee, menjanjikan akan memberitahu keluarga dengan surat resmi. Pihak ICCO, yang mengundang Munir, kabarnya juga dijanjikan hal yang sama oleh Kementerian Luar Negeri Belanda. Menurut OM, hasil otopsi akan dikirim dalam tiga minggu. Menjawab pertanyaan parlemen, Menkeh P.H. Donner mengatakan, marechaussee tidak berwenang memberi janji. Jika ada dugaan kasus pidana, laporan otopsi diserahkan kepada instansi kehakiman negara ybs. Bagi Dewi Justisia, kasus pidana bisa menyangkut siapa saja, termasuk keluarga. Jadi, soal diserahkan kepada keluarga ataukah tidak, "mereka (pihak pemerintah Indonesia)-lah yang harus menimbangnya," ujar Donner. Pemerintah Belanda mengaku tidak memiliki wewenang hukum karena korban "bukan warga Belanda, meninggal bukan di wilayah Belanda, bukan di pesawat Belanda, dan kasus delik ini bukan kasus universal" (Keterangan pers Het Openbaar Ministerie Arrondissement Haarlem 12 Nov). "Kalau gituu, kenapa dulu (9 Sept.) minta ijin kepada saya untuk otopsi suami saya? Kan aneh ituu!," ketus Suciwati, janda Munir, kepada Radio Nederland (2 Des). Menjelang minggu ketiga, akhir September, aparat marechaussee mengabarkan kepada keluarga bahwa proses otopsi belum

selesai, "perlu dikaji-ulang" dan hasilnya ditunda 6 (enam) minggu. Wakil keluarga di Belanda memperoleh keterangan, kasus Munir kini dikategorikan "high priority". Sementara NFI yang mengaku sibuk dan pindah kantor dan laboratorium, membantah "ada masalah politik" dalam penundaan tsb. (Radio Nederland 15 Nov.) Otopsi, menurut Menkeh P.H. Donner, dilakukan dua kali, 1 Okt. dan 13 Okt, yang kedua untuk memastikan saat peracunan. Ini berarti waktu itu, telah dipastikan bahwa ada racun arsen, meski laporannya belum definitif; 9 Nov. laporan diserahkan ke Kementerian Luar Negeri; 11 Nov. Menlu Bernard Bot mengirimnya ke Deplu R.I. Menurut keterangan tertulis Menlu Bernard Bot kepada parlemen (24 Nov), ketika Menlu tsb berkunjung ke Jakarta pada akhir Okt, "hasil temuan sementara NFI (dus, arsen) telah diketahui" dan "Menlu RI Hassan Wirayuda telah diberitahu dengan permintaan agar keluarga (Munir) segera diberitahu". Dalam debat parlemen (1 Des) Bot merincikan: 28 Okt. dia memberi tahu rekannya, Hassan Wirayuda dan "sempat menyebut soal itu ketika bertemu presiden baru (SBY)" (Radio Nederland 2 Des). 11 Nov. pk. 10.30 Deplu R.I. menerima kesimpulan otopsi NFI dari Kedutaan Besar Belanda di Jakarta. Pada hari yang sama, Deplu membocorkan berita peracunan Munir kepada harian NRC Handelsblad dengan menyebut Dirjen Eropa dan Amerika (Arizal Effendi) sebagai sumbernya. Tapi Deplu mengirim dokumen tsb ke Kantor Polhukam, yang menyerahkannya ke Mabes Polri. Akhirnya, pihak yang berhak mengetahui terawal, janda Munir, Suci, harus bersusah payah melalui ketiga instansi tsb dan baru esoknya, 12 Nov, Mabes Polri memberitahu kesimpulan otopsi tanpa memberi salinan dokumennya. 25 Nov. sejumlah dokumen otopsi (8 berkas tebal berbahasa Belanda, sebagian asli, sebagian salinan; dengan 13 halaman berisi 26 foto) diperoleh Tim Polisi dan Dirjen Amerika dan Eropa Arizal Effendi dari tangan Kemlu Belanda. Ketua tim Anton Carliyan menyatakan sepakat, dan tidak meragukan laporan NFI. Esoknya, seluruh dokumen dilegalisasikan oleh Kedutaan Besar RI di Den Haag sebagai barang bukti hukum sah, dengan disaksikan wakil keluarga Munir, Koordinator KontraS, Usman Hamid. Namun Usman kembali ke Jakarta tanpa memperoleh salinannya.

Mesra antar negara, bukan kepada warga Proses di atas menimbulkan sejumlah pertanyaan. Di sisi Belanda: mengapa proses otopsi harus dikaji-ulang dan baru mendapat prioritas pada akhir September?; mengapa akhir Oktober temuan NFI masih disebut "sementara", namun telah diberitahukan pada Menlu dan Presiden R.I.?; mengapa baru lebih dua minggu kemudian, 11 Nov, hasil otopsi diserahkan kepada Deplu RI? Dan di sisi Indonesia: mengapa keluarga Munir tidak diberitahu ketika "temuan sementara" NFI pada 28 Okt. telah diketahui Menlu R.I. dan Presiden SBY?; mengapa presiden tidak segera menyiapkan pengusutan polisi?; mengapa Deplu pada 11 Nov. membocorkan kesimpulan otopsi kepada media asing, tapi tidak bersedia memberitahu keluarga Munir? Singkatnya, mengapa harus terjadi penundaan selama enam minggu dan pelecehan terhadap hak keluarga korban? Baru 6 Des, sebulan setelah instansi R.I. mengetahui kesimpulan NFI, Mabes Polri memberi salinan dokumen otopsi NFI kepada Suci. Ada kesan, pemerintah Belanda yang telah mengetahui inti hasil otopsi Munir pada 1 Okt. dan 13 Okt. menunda sampai pemerintahan baru terbentuk di Jakarta dan baru menginformasikannya pada 28 Okt, seminggu setelah SBY dilantik. Di muka parlemen Belanda 2 Des, Menlu Bot menegaskan dukungan dan kepercayaannya pada pemerintah baru. Sebaliknya, pemerintahan SBY yang sudah tahu pada 28 Okt. tidak mempersoalkan kelambatan pemerintah Belanda dan memilih baru bertindak setelah mendapat laporan 11 Nov. Hubungan diplomatik yang mesra antara kedua negara diprioritaskan di atas urgensi pengusutan yuridis dan di atas penghormatan atas hak keluarga Munir. Menanggapi pembocoran kesimpulan otopsi Munir oleh Deplu RI kepada koran Belanda, Direktur Imparsial Rachland Nashidik berkomentar: "Ini menyedihkan dan memalukan!" (Radio Nederland, Gema Warta 12 Nov). Martha Meijer dari LSM HOM (Humanistische Mensenrechten Overleg) berkomentar serupa tentang kelambatan enam minggu hasil otopsi Munir tsb: "Saya malu tentang pemerintah Belanda." (Radio Nederland, Jelajah Nusantara 12 Nov). Di Inggris, Mendagri David Blunket terancam didaulat parlemen agar turun, hanya karena menyalahgunakan

jabatan untuk membantu memperoleh visa bagi perawat Filipina untuk pacarnya. Di Indonesia, Menlu dan Dirjen Eropa dan Amerika dan instansi-intansi negara lainnya, termasuk Presiden, tidak pernah minta maaf atas pengingkaran hak keluarga dalam kasus pembunuhan yang serius ini. Walhasil, Munir yang telah berjuang untuk negeri ini dan pergi di tengah misteri peracunan, masih dibuntuti `misteri' politikbirokrasi di luar negeri maupun di negeri sendiri. Proses hukum, birokrasi negara dan kebiasaan diplomatik telah memenangkan hak instansiinstansi negara di atas hak korban dan keluarganya, dalam kasus pembunuhan politik yang luar biasa ini - suatu arogansi instansi negara terhadap warga masyarakatnya sendiri. Misteri apa & siapa Pertanyaan terbesar, tentu saja, ada apa dan siapa para pelaku dan dalang kejahatan peracunan terhadap Munir ini? Jawabannya masih jauh dari terang, namun sejumlah isu, tema serta kegiatan alm. Munir selama lima bulan sebelum meninggal sering dikutip sebagai bagian pendekatan. Sejauh diketahui, kebanyakan isu yang digeluti dan dipelajari almarhum dalam rangka kampanye maupun persiapan studi di Belanda menyangkut isu korupsi, isu TNI dan Aceh. Terakhir kali saya berjumpa Munir, akhir Maret yl, almarhum bercerita panjang lebar tentang bagaimana para jenderal bertengkar soal wewenang dan anggaran Darurat Militer dan Operasi Terpadu Aceh yang ambur adul (Radio Nederland 30 Maret). Tetapi Munir juga mengkaji isu-isu lain, terutama masalah Rancangan Undang Undang TNI yang ditentangnya, juga soal dana TMMD ("TNI Manunggal Membangun Desa", dulu "ABRI Masuk Desa"). Dan Munir diketahui bermaksud menulis kajian tentang Aceh di Universitas Utrecht, Belanda. Meski banyak dugaan seputar kasus Menkeh Baharuddin Lopa, Jaksa Yamin dan Letjen. Agus Wirahadikusumah (mereka resminya meninggal sakit jantung; "Sakit jantung, kok muntah muntah?", tanya Rachland Nashidik), peracunan jarang terungkap sebagai cara pembunuhan politik.

Preseden yang ada adalah misteri kematian Jose Martins-III, warga Timor Timur yang membantu Opsus di bawah Jen. Ali Moertopo dan Benny Moerdani pada 1974. Martins diundang pemerintah Soeharto untuk menghadiri perayaan 17 Agustus 1997, meninggal setiba di Jakarta dengan pesawat KLM. Kabarnya, dia diracun dan seluruh dokumen yang dibawanya sirna. Obituari Munir, orangnya kecil, bersahaja, namun mewakili semangat besar yang tak kunjung lekang. Dia juga berjasa membantu pemberitaan Radio Nederland. Saya bertemu pertama kali di kantor LBH, Lembaga Bantuan Hukum Surabaya pada 1995. Berkat bantuannya, saya dapat melengkapi dokumenter-radio "20 Tahun Timor Timur: 1975-1995" dengan menemui aktivis-aktivis Timor Timur di Jawa Timur yang tengah dikejar-kejar tentara. Kisah mereka merupakan bagian dari khasanah tragedi HAM panjang yang diderita Timor Timur di bawah Orde Baru. Mereka yang di Jawa Timur, di Surabaya, Malang dan Jember, terpencil, bergerak klandestin dan tak banyak diperhatikan oleh sesama aktivis, tetapi Munir amat peduli. Di Aceh, prajurit TNI yang saya wawancarai bercerita panjang lebar tentang pengalaman berperang melawan GAM, Gerakan Aceh Merdeka, tanpa sekali pun mengumpat musuhnya. Tapi, begitu berbicara soal HAM, wajahnya berubah, kesal dan menghujat aktivis HAM. "Terutama Munir itu" tambahnya. GAM serupa orang desa, tentara tak mengenalinya, sedang Munir menghias media. Munir yang tak bersenjata ternyata lebih menakutkan bagi tentara. Dia menjadi simbol di kala tentara tak mampu menemukan musuh yang sebenarnya. Daya ingatnya fotografis, daya analisisnya tajam. Kalau dia wartawan, dia reporter yang hebat. Munir telah pergi. Saya kehilangan seorang sohib yang hangat dan narasumber yang menarik. Dan Indonesia kehilangan salah satu patriotnya.

Sumber: · Berbagai media. · Sumber-sumber pribadi.

· Catatan Poengky Indarti, Imparsial, Jakarta. · Keterangan pers Het Openbaar Ministerie Arrondisement Haarlem 12 November 2004.http://www.openbaarministerie.nl · Jumpa pers 19 Nov. 2004 di Nieuwspoort, Den Haag, oleh ICCO bersama Kerkinactie, Hivos, Humanistisch Overleg Mensenrechten (HOM), Cordaid, Novib, CMC Mensen met Missie, Justitia et Pax dan Indonesia House, Amsterdam · Jawaban tertulis Menteri Luar Negeri Dr. B.R. Bot dan Menteri Kehakiman Mr. J.P.H. Donner kepada Tweede Kamer (Parlemen), Kenmerk DAO-968/04, tertgl. 24 Nopember 2004. · Notulen Debat Parlemen Belanda Kasus Munir, onofficiële verslag Tweede Kamer, 2 Des. 2004. Sent: Saturday, December 18, 2004 10:39 AM Subject: [communitygallery] Indonesia-Belanda Mesra, Kasus Otopsi Munir Tersendat

Versi yang terbit di Sinar Harapan hari ini 17 Des. (http://www.sinarharapan.co.id/berita/0412/17/opi01.html) sudah saya cabut, tapi redaksinya keliru pasang, banyak yang salah, dgn judul yang salah pula. Karena itu saya kirim berikut ini, versi aslinya. Aboeprijadi Santoso, Amsterdam --Indonesia-Belanda Mesra, Kasus Otopsi Munir Tersendat

oleh Aboeprijadi Santoso, Amsterdam. Gugurnya Munir dan proses otopsinya di Belanda telah membuka peluang untuk merapatkan hubungan Belanda dan Indonesia, namun ini terjadi dengan mengabaikan hak keluarga korban untuk mengetahui kesimpulan otopsi sampai lama kemudian. Dalam waktu berdekatan, dua kejadian yang tidak berkaitan - pembunuhan Munir dan kematian Pangeran Bernhard - menjadi semacam 'blessing in disguise' bagi Den Haag dan Jakarta. Setelah alm. Munir tiba dengan Garuda GA-974 di bandara Schiphol pada

7 Sept, pk. 08.10, aparat Kejaksaan Belanda memeriksa awak dan Dr. Tarmizi Hakim yang merawat Munir di pesawat. Pemeriksaan jenazah harus menantikan dokter lokal, yang datang pk.11.40 - tiga setengah jam setelah pesawat mendarat. Ketika Munir dinyatakan meninggal secara tidak wajar dan kasusnya resmi diduga pidana, para penumpang telah meninggalkan bandara tanpa diperiksa. Kemungkinan banyak informasi relevan hilang di saat yang kritis. Dalam debat parlemen di Belanda 30 Nov. yl. Menteri Kehakiman Belanda Piet Hein Donner mengakui hal itu, tapi membantah bahwa otopsi tertunda dan berlarut. Sejak mula, menyusul sectie (pembedahan terbatas) pada 7 Sept, semua pihak menduga ada peracunan. Otopsi (pembedahan menyeluruh) dan analisis toxikologis lazimnya membutuhkan waktu maksimal seminggu, namun aparat Kejaksaan menjanjikan kepada janda Munir, Suciwati, laporannya dikirim dalam tiga minggu, tapi akhir Sept. ditunda enam minggu. Menurut Nederlands Forensisch Instituut NFI yang melakukan otopsi, tak ada isu politik di situ. Namun dalam debat parlemen terungkap, otopsi baru terjadi pada 1 Okt, tiga minggu setelah sectie dan pada 13 Okt. dilakukan otopsi kedua untuk memastikan kapan arsen tsb masuk. Baik salinan yang diterima Suci 1 Des (salinan dari dokumen otopsi yang diterima Deplu 11 Nov) mau pun keterangan Menteri P.H. Donner menunjukkan bahwa pada 1 Okt. pun sudah dipastikan ada arsen dalam dosis yang fatal, namun resminya disebut "temuan sementara" (voorlopige bevindingen). Dalam surat kepada parlemen tertgl. 24 Nov, Menlu Belanda Bernard R. Bot mengaku akhir Oktober "telah memberitahu koleganya (Hassan Wirajuda) tentang temuan itu". Dalam debat parlemen, Bot merincikan: dirinya "pada kunjungan tgl. 28 Oktober telah memberitahukan hal ini (adanya arsen AS) kepada Wirayuda dan itu saya sebutkan juga ketika berbicara dengan presiden baru. Waktu itu, baru temuan sementara, dengan dugaan kuat bahwa kematian aktivis HAM ini karena racun." Dengan kata lain, sesudah dua kali otopsi (1 & 13 Okt), hasilnya tidak segera diberitahukan ke Jakarta c.q. saat itu, pemerintah Megawati. Pemberitahuan dilakukan lebih dari tiga minggu kemudian (sic!): 28 Okt - seminggu setelah kabinet SBY terbentuk. Parlemen, media dan LSM-LSM Belanda yang menguji keseriusan pemerintah PM J.P. Balkenende, cenderung menganggap kelambatan tsb sebagai akibat proses otopsi, birokrasi, dan pindahnya laboratorium NFI. Namun, sumbersumber yang layak mengetahui menduga kuat, hal itu "sedikit banyak terkait politik (Belanda) terhadap pergantian pemerintah di Jakarta". NFI adalah badan pemerintah di bawah Kejaksaan, dan ihwal yang menyangkut luar negeri dikoordinir Kementerian Kehakiman dan Kementerian Luar Negeri. Kalangan pengamat seperti prof. Nico Schulte Nordholt menunjuk, selama berminggu-minggu itu "tidak pernah ada

tekanan politik Den Haag terhadap NFI agar mempercepat proses otopsi." Namun sumber Imparsial memperoleh keterangan dari sebuah sumber resmi Belanda pada akhir Sept. bahwa kasus Munir ditunda lagi enam minggu karena perlu "dikaji-ulang" dan mendapat "prioritas tinggi" - ini menyiratkan pengakuan penundaan sebelum dikirim pada 11 Nov. Yang menarik, "prioritas tinggi" di akhir Sept. itu bersamaan dengan meningkatnya kepastian bahwa SBY memenangi pilpres putaran kedua. Walhasil, 'kelambatan' itu ditafsirkan banyak kalangan sebagai penantian presiden baru yang menunjukkan isyarat good will dari Den Haag ke alamat SBY. Akhirnya, 28 Okt. temuan NFI disampaikan secara lisan kepada Menlu R.I. Hassan Wirajuda dan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono, oleh Menlu Belanda Bernard Bot saat berkunjung, selaku Ketua Uni Eropa, untuk memberi selamat presiden baru. Tak ada alasan khusus mengapa pemerintah Belanda seolah enggan memberitahu hasil otopsi Munir yang rampung pada 1 dan 13 Okt. kepada pemerintah Megawati. Namun jelas, timing , 'kelambatan' sembilan minggu (7 Sept-11 Nov.) di tengah pergantian di Jakarta itu, menjadi krusial dan menguntungkan Belanda mau pun pemerintah baru di Indonesia. Den Haag tak perlu terkait tanggung-jawab moral-politik jika pengusutan kasus Munir di bawah pemerintah Megawati terhambat oleh alasan apa pun. Selain itu, karena kasus Munir makin menjadi perhatian internasional itu, dan mau tak mau harus dialihkan ke Jakarta, maka Den Haag cenderung menyerahkannya kepada pemerintah SBY. Dengan begitu, kedua pihak dapat membuka halaman baru dengan kepercayaan yang lebih besar. Selebihnya adalah formalitas birokrasi, politik domestik dan diplomasi. Pada 9 Nov, laporan NFI baru dinyatakan "definitif", kemudian dikirim ke Jakarta. Setelah kasus beralih ke tangan Indonesia, Menlu B.R. Bot dapat menolak usul oposisi untuk menangguhkan bantuan dan mengirim Duta Besar HAM ke Indonesia karena dinilai "terlalu dini dan kontra-produktif". Sambil memamerkan kepercayaannya pada kabinet SBY, Bot mengimbau parlemen agar memberi waktu kepada "pemerintah baru dan timnya". Menlu Belanda ini bahkan menunjuk pada pertemuan SBY dan Suciwati, 24 Nov, untuk meyakinkan parlemen tentang keseriusan presiden baru untuk menuntaskan kasus Munir.

Sebaliknya, keluarga Munir, c.q. Suciwati, mengalami pelecehan ganda. Pertama, jika Den Haag menyerahkan kasusnya pada 1 Okt. (atau 13 Okt), dalam hal ini, kepada pemerintah Megawati, Suciwati dapat

memperoleh informasi lebih cepat dan pengusutan dapat digelar lebih awal. Secara formal-legalistik, Belanda beranggapan, tidak memiliki wewenang hukum atas kasus Munir sehingga kasusnya harus diserahkan kepada penguasa kehakiman Indonesia. Meski demikian, Menlu Bot dalam keterangan tertulis (24 Nov) mau pun dalam debat parlemen menjelaskan, ketika bertemu rekannya, Hassan Wirajuda, (28 Okt) mau pun dalam penyerahan dokumen otopsi (11 Nov) telah "meminta agar keluarga korban diberitahu secepatnya". Pelecehan kedua terjadi pada sisi Indonesia. Keluarga Munir akhirnya memperoleh salinan dokumen otopsi baru pada 1 Des. - 21 hari setelah Jakarta dikirimi kesimpulan otopsi (11 Nov.), atau 33 hari setelah Menlu Bot memberi-tahu Menlu Wirajuda dan Presiden SBY perihal adanya arsen yang fatal (28 Okt). Celakanya, pada 11 Nov, terjadi pula pelecehan ketiga: Dirjen Amerika dan Eropa Deplu sudi membocorkan kepada media asing, namun tidak memberitahu keluarga Munir. Di Inggris, Mendagri David Blunkett baru baru ini diancam mundur oleh parlemen karena memanfaatkan jabatan untuk memudahkan visa bagi seorang nanny (perawat) Filipina yang didatangkannya untuk pacarnya. Kasus tsb sederhana, namun prinsipiil. Kasus Munir adalah kasus prinsipiil, yang luar biasa. Sepatutnya, Kepala Negara dan Menlu R.I, atas nama pemerintah, meminta maaf kepada keluarga Munir atas kelambatan penyerahan dan pembocoran hasil otopsi. Jika negara membuktikan penghormatan terhadap warganya sendiri - terhadap seorang pejuang HAM dan patriot yang berjasa - dan menuntaskan pengusutan independen, maka ini akan menjadi preseden berharga yang menaikkan martabat, wibawa dan kredibilitas pemerintahan SBY. Selain kasus Munir, ada kasus kematian lain yang menarik perhatian. Ungkapan Belanda "Mati bagi yang satu, adalah untung bagi yang lain" (De ene z'n dood, de andere z'n brood), berlaku bagi prospek hubungan Indonesia-Belanda, tidak hanya karena kasus otopsi Munir, tapi juga karena kematian ayah Ratu Beatrix, Pangeran Bernhard, 93 th, pada 1 Des yl. Dengan wafatnya Bernhard, kelompok veteran Belanda yang berperang di Indonesia pada 1940an, pengaruhnya merosot dan kehilangan patron. Lobby veteran inilah, yang pada 1995 menggagalkan niat Belanda menyambut HUT ke-50 R.I. dengan mengakui kedaulatan penuh pada 17 Agustus 1945. Jika episode historis ini diakui Belanda sebagai eksistensi R.I sebagai negara yang merdeka dan berdaulat maka aksi militer 1940an ("aksi polisionil") tidak lain adalah aksi agresor. Dalam persepsi kesejarahan Belanda, konsep "agresi" melekat pada ulah tentara pendudukan Nazi-Jerman di Eropa dan tentara Jepang di

Indonesia dan Burma, di mana veteran tsb menjadi korban - suatu periode hitam yang pahit dan kelam. Bekas tentara kolonial KNIL takut, jika ulah tsb disejajarkan dengan ulah mereka sendiri di Indonesia, maka aib akan mengancam martabat veteran untuk selamanya. Karena itu, meski Belanda resmi mengakui 17 Agustus 1945 sebagai hari kemerdekaan R.I, namun mereka bersikukuh bahwa kedaulatan Indonesia baru resmi sejak Konperensi Meja Bundar, 27 Des. 1949, yang di Belanda dianggap "penyerahan kedaulatan" - bukan pengakuan kedaulatan. Pemerintah Orde Baru - secara keliru - menganggap soal ini cuma "isu interen" Belanda. Tapi jika soal "kemerdekaan resmi" dan "kedaulatan penuh" semakin basi, maka persepsi yang keliru akan semakin kental dan menyesatkan, yang pada gilirannya akan merugikan konsepsi sejarah bangsa. Karena itu, pihak Indonesia berkepentingan mengoreksi persepsi kesejarahan semacam itu. Sekarang, meninggalnya Pangeran Bernhard membuka kemungkinan bagi Belanda untuk, akhirnya, mengakui bahwa sejak 17 Agustus 1945 Indonesia telah berdaulat penuh. Semoga. Penulis adalah wartawan Radio Nederland di Amsterdam -*********************************************************************** Watch Indonesia! e.V. Tel./Fax +49-30-698 179 38 Planufer 92 d e-mail: watchindonesia@snafu.de 10967 Berlin http://home.snafu.de/watchin Bitte beachten Sie unsere neue Bankverbindung. Konto: 2127 101 Postbank Berlin (BLZ 100 100 10) IBAN: DE96 1001 0010 0002 1271 01, BIC/SWIFT: PBNKDEFF Bitte unterstützen Sie unsere Arbeit durch eine Spende. Watch Indonesia! e.V. ist als gemeinnützig und besonders förderungswürdig anerkannt. ***********************************************************************

You're Reading a Free Preview

Mengunduh
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->