Anda di halaman 1dari 11

PERMODELAN UDARA EMISI SUMBER TITIK TETAP (CEROBONG ASAP)

Fathul Imadudin, R.M Fakhriel , Andi Priyakin 1) Teknik Sipil dan Lingkungan, Institut Pertanian Bogor, Jl. Raya Darmaga, Kampus IPB Darmaga Bogor 16680 Email: fathopor@yahoo.co.id 2) Teknik Sipil dan Lingkungan, Institut Pertanian Bogor, Jl. Raya Darmaga, Kampus IPB Darmaga Bogor 16680 Email: faw_farieru@yahoo.com 3) Teknik Sipil dan Lingkungan, Institut Pertanian Bogor, Jl. Raya Darmaga, Kampus IPB Darmaga Bogor 16680 Email:andipriyakin@gmail.com Abstrak: Sumber-sumber emisi yang menyebabkan terjadinya kontaminasi di udara terbagi menjadi tiga (3) kelompok, yaitu: sumber emisi bergerak, sumber titik tetap, dan sumber campuran. Salah satu contoh sumber titik tetap yaitu cerobong asap yang terdapat pada industri-industri di Indonesia. Emisi yang dikeluarkan melalui cerobong asap tersebut pasti akan mengakibatkan terjadinya penurunan kualitas udara ambien jika tidak dilakukan penanganan yang baik. Oleh karena itu, praktikum ini bertujuan untuk mengetahui komponen-komponen parameter permodelan udara emisi sumber titik tetap, sehingga didapatkan perkiraaan besarnya paparan kontaminan yang dihasilkan sumber emisi untuk perencanaan penanganan kontaminasi tersebut di udara ambien. Praktikum permodelan ini menggunakan contoh studi kasus yang kemudian akan dianalisis dengan suatu perhitungan agar didapatkan perkiraan besarnya paparan kontaminan yang dihasilkan dari sumber emisi tersebut. Berdasarkan hasil perhitungan, didapatkan nilai konsentrasi PM10 paling tinggi yaitu sebesar 11.305 pada ketinggian cerobong 70 m dan yang terendah pada ketinggian cerobong 150 m sebesar 3.820,39 . Sehingga, dapat dikatakan bahwa semakin tinggi ketinggian cerobong akan semakin rendah konsentrasi emisi yang dihasilkan melalui cerobong tersebut. Selain itu, tinggi semburan juga dipengaruhi oleh ketinggian cerobong. Pada cerobong dengan ketinggian 100 m didapatkan tinggi semburan sebesar 57,32 m dan pada ketinggian cerobong 150 m tinggi semburan yang didapat yaitu 51,93 m. Sedangkan pada ketinggian 70 m, tinggi semburan yang didapat yaitu 62.83 m. Sehingga, semakin tinggi cerobong maka semakin kecil pula semburannya. Untuk penanganan emisi pada sumber emisi titik dapat dilakukan dengan pemasangan alat pengendalian pencemaran (scrubber, saringan atau skimmer), netralisasi pencemaran secara biologis atau kimiawi (misalnya aerasi menghilangkan larutan biologis dengan percepatan proses pembusukan), daur ulang limbah (memanfaatkan limbah secara ekonomis dalam proses sendiri), dan pencegahan limbah. Kata kunci: sumber emisi titik, cerobong, permodelan

PENDAHULUAN
Berdasarkan Keputusan Menteri Negara Kependudukan dan Lingkungan Hidup (KEPMEN KLH) No.Kep.02/Men-KLH/1998, yang dimaksud dengan pencemaran udara adalah masuk atau dimasukkannya makhluk hidup, zat, energi dan atau komponen lain ke udara dan atau berubahnya tatanan udara oleh kegiatan manusia atau proses alam sehingga kualitas udara turun hingga ke tingkat tertentu yang menyebabkan udara menjadi kurang atau tidak berfungsi lagi sesuai dengan peruntukkannya. Menurut Wardhana (1995), udara bersih yang dihirup hewan dan manusia merupakan gas yang tidak tampak, tidak berbau, tidak berwarna maupun berasa. Meskipun demikian, udara yang benar-benar bersih sulit didapatkan terutama di kota besar yang banyak terdapat industri dan lalu lintas yang padat. Udara yang

mengandung zat pencemar dalam hal ini disebut udara tercemar. Udara yang tercemar tersebut dapat merusak lingkungan dan kehidupan manusia. Pergerakan pencemaran udara di dalam atmosfer terjadi dalam tiga dimensi secara horizontal maupun transversal, sesuai dengan arah angin (adveksi) maupun vertikal, ke lapisan atas atmosfer bumi (Fatimah 2008). Dinamika serta atmosferik merupakan faktor-faktor yang sangat menentukan nasib pencemar udara setelah diemisikan dari sumbernya, sehingga timbul kaitan yang erat antara sumber dengan daerah penerima. Menurut Budirahardjo (2000), sumber-sumber emisi yang menyebabkan terjadinya kontaminasi di udara terbagi menjadi tiga (3) kelompok, yaitu: sumber emisi bergerak, sumber titik tetap, dan sumber campuran. Salah satu contoh sumber titik tetap yaitu cerobong asap yang terdapat pada industri-industri di Indonesia. Cerobong asap pada industri tersebut biasanya mengeluarkan emisi berupa senyawa gas SO2, NOx , CO dan partikulat (fly ash). Gas SO2 dihasilkan akibat kandungan senyawa Sulfur (S) dalam batubara, gas NOx dan CO dihasilkan akibat proses pembakaran yang memerlukan oksigen yang disuplai dari udara bebas yang didominasi oleh gas Nitrogen. Sedangkan partikulat berupa fly ash (abu terbang) dihasilkan akibat kandungan abu dalam batubara yang terdiri dari dua macam partikulat yaitu yang mampu mengendap (setleable) dan partikulat yang ikut terbawa keluar melalui stack sebagai abu terbang (fly ash). Emisi yang dikeluarkan melalui cerobong asap tersebut pasti akan mengakibatkan terjadinya penurunan kualitas udara ambien jika tidak dilakukan penanganan yang baik. Oleh karena itu, praktikum ini bertujuan untuk mengetahui komponen-komponen parameter permodelan udara emisi sumber titik tetap, sehingga didapatkan perkiraaan besarnya paparan kontaminan yang dihasilkan sumber emisi untuk perencanaan penanganan kontaminasi tersebut di udara ambien.

METODE PRAKTIKUM
Praktikum permodelan udara emisi sumber titik tetap dilakukan di Laboratorium Limbah Padat dan Bahan Beracun Berbahaya yang berlokasi di Departemen Teknik Sipil dan Lingkungan FATETA IPB. Praktikum permodelan udara emisi ini menggunakan contoh studi kasus yang kemudian akan dianalisis dengan suatu perhitungan agar didapatkan perkiraan besarnya paparan kontaminan yang dihasilkan dari sumber emisi tersebut. Perhitungan dilakukan dengan menggunakan kalkulator sebagai alat hitung dan untuk perhitungan berulang menggunakan software Microsoft Excell 2007, tujuan penggunaan piranti lunak ini adalah efisiensi waktu perhitungan. Studi kasus yang digunakan adalah Sumber Emisi Titik Tetap (Cerobong) di Kawasan Industri Dramaga Bahagia. Kawasan Industri Dramaga Bahagia menggunakan boiler dengan bahan bakar batubara dan mengeluarkan kontaminan dominan partikulat (TSP = Total Suspended Particulate) pada cerobong dengan konsentrasi awal 40 g/m3. Kecepatan angin pada ketinggian 10 meter adalah 4 m/detik. Pengukuran dilakukan siang hari dengan intensitas matahari kuat. Tinggi cerobong adalah 150 meter, dengan diameter sebesar 1,5 meter. Gas yang keluar dari cerobong mempunyai temperatur 473K, sedangkan temperatur udara ambien sekitar

cerobong adalah 298 K. Kecepatan linear gas di dalam cerobong adalah 25 m/detik, dengan jarak pemaparan menurut arah angin adalah 2 km. Kecepatan emisi TSP sebesar 15 kg/detik. Perbandingan CPM10 / CTSP adalah 1 : 1,53. Setelah menganalisis studi kasus tersebut, maka dapat ditentukan point-point parameter yang dapat digunakan dalam merancang permodelan udara emisi. Permodelan udara emisi cerobong, dimulai dengan menghitung kecepatan angin pada ketinggian cerobong (n = 0,25) dengan persamaan di bawah ini : ( ) Dimana : (1.1)

Hs = tinggi cerobong (stack height) (m). Us = kecepatan angin pada ketinggian cerobong (m/detik) U10 = kecepatan angin pada ketinggian 10 m (m/detik) n = konstanta, n = 0,25 untuk angin tidak stabil n = 1,50 untuk angin yang stabil Kelas kestabilan udara ditentukan dari besarnya kecepatan angin pada ketinggian cerobong. Tabel 1. Kelas Kestabilan Udara Kecepatan Pagi / Siang Malam Dimana Angin Intensitas Sinar Matahari Keadaan Awan A (sangat tidak (m/detik) stabil) Kuat Sedang Lemah Berawan Cerah B (sedang) <2 A AB B E F C (sedikit tidakk 23 AB B C E F stabil) 35 B BC C D E D (netral) 56 C CD D D D F (stabil) >6 C D D D D langkah selanjutnya adalah menghitung ketinggian semburan (plume height). Dalam penentuan ketinggian semburan, persamaan yang digunakan adalah Persamaan Briggs. Langkah pertama yang dilakukan yaitu jarak pemaparan dihitung menurut arah angin dari sumber semburan terhadap ketinggian maksimum semburan (Xf). Penentuan nilai Xf didapatkan melalui persamaan : FB = g ( Dimana: Vs = kecepatan linear gas buang dalam cerobong (m/detik) ds = diameter cerobong (m) g = percepatan gravitasi (9,8 m/detik2) Ts = temperatur gas yang keluar dari cerobong (K) Ta = temperatur udara lingkungan (K) Xf = 119 (Fb)2/5 , untuk FB 55 m4/detik2 ) Vs (
( )

(1.2)

Xf = 49 (Fb)5/8 , untuk FB

55 m4/detik2

Setelah nilai Xf didapat, maka nilai Xf tersebut dapat dibandingkan dengan nilai jarak pemaparan menurut arah angin (X) untuk mendapatkan nilai ketinggian semburan (plume height) (h). Untuk X Xf Xf = 1,6 = 1,6 ( ) ( ) (1.3)

Untuk X

Selanjutnya hitung ketinggian efektif cerobong (effective height) yang dinyatakan dalam persamaan seperti berikut : Hc = Hs + (1.4) Dimana : Hc = ketinggian efektif cerobong (m) Hs = ketinggian cerobong (m) = ketinggian semburan (m) Sebaran TSP dengan asumsi sumber emisi atau cerobong berada pada tempat yang lebih tinggi dari muka tanah dapat dihitung dengan menggunakan Persamaan Gauss berikut : Cj(x,y,z) = ( ( ) [ *
( )

+]

Cj(total) = Cj (emisi) + Cj (awal)

(1.5)

Dimana : Cj = kosentrasi awal parameter ( ) Qj = kecepatan emisi parameter ) y = koefisien dispersi Gauss horizontal (m) z = koefisien dispersi Gauss vertikal (m) Us = kecepatan angin arah sumbu x (m/detik) Hc = ketinggian efektif cerobong (m) Z = ketinggian elevasi (m) Cj(total) = konsentrasi kontaminan j setelah dijumlah dengan konsentrasi awal j ( ) Cj(emisi) = konsentrasi kontaminan j sebagai hasil pemaparan dari sumber emisi ( ) Cj(awal) = konsentrasi kontaminan j yang ada pada udara ambien pada lokasi yang diamati ( ) Untuk menghitung Persamaan Gauss di atas perlu diketahui kelas kestabilan udara (Tabel 1.), sehingga dapat diketahui konstanta-konstanta pembentuk koefisiendispersi Gauss.

Stabilitas (kelas)

Tabel 2. Tabel Koefisien Dispersi Gauss x < 1 km x > 1 km c 459,7 108,2 61 44,5 55,4 62,6 d 2,094 1,098 0,911 0,516 0,305 0,180 f -9,6 2 0 -13 -34 -48,6

a c d f 213 440,8 1,941 9,27 A 156 106,6 1,149 3,3 B 104 61 0,911 0 C 68 33,2 0,725 -1,7 D 50,5 22,8 0,678 -1,3 E 34 14,4 0,740 -0,35 F Catatan : harga b = 0,894 untuk semua kelas = aXb dan = cXd + f X = jarak konsentrasi sebaran (km)

Untuk menentukan estimasi konsentrasi maksimum dapat dilakukan dengan pendekatan Rumus Ranchaux, yaitu : ( ) ( )maks = exp [ ( ) ( ) )] (1.6) Dimana : C maks = kosentrasi maksimum parameter ( Q = kecepatan emisi parameter ( Hc = ketinggian efektif cerobong (m) )

Tabel 3 . Harga-harga konstanta a, b, c, dan d pada persamaan Ranchaux Kelas kestabilan Konstanta udara a B c d - 1,0563 - 2,7253 A 0,1261 0 B C D E F 1,8060 1,9748 2,5302 1,4496 1,0488 2,1912 1,9980 1,5610 2,5910 3,2252 0,0389 0 - 0,0934 - 0,2181 0,4977 0 0 0 0,0343 0,0765

Sedangkan jarak maksimum pemaparan ditentukan melalui persamaan Xmaks = ( )


* +

(1.7)

Dimana : X maks = estimasi jarak maksimum pemaparan (km) = koefisien dispersi Gauss vertikal (m)

= ktinggian efektif cerobong (m) = koefisien turbulensi, harga n = 0,5 (stabil); 0,3 (rata-rata); dan n = 0,2 (kurang stabil) Nilai konsentrasi PM10 pun dapat ditentukan dengan menggunakan persamaan di bawah ini : (1.8) Setelah selesai melakukan perhitungan, praktikan membuat kembali ketinggian cerobong dengan variasi 100 meter dan 70 meter dan melakukan kembali perhitungan sesuai dengan langkah-langkah analisis. Untuk mempermudah perhitungan dua variasi ketinggian cerobong digunakan piranti lunak Microsoft Excell 2007. Kemudian memberikan analisis tentang besarnya paparan kontaminan yang dihasilkan oleh sumber emisi dan memberikan kesimpulan berdasarkan perhitungan yang telah dilakukan. Selain itu, praktikan juga membuat gambaran secara umum penanganan apa saja yang dapat dilakukan dalam menangani kontaminan yang dihasilkan oleh sumber emisi titik tetap.

Hc n

HASIL DAN PEMBAHASAN


Tabel 4. Data Hasil Perhitungan Permodelan Udara Emisi
Tinggi cerobong (m) Kecepatan angin (m/s) 100 150 70 7,11 7,87 6,51 C C C 57,32 51,93 62,83 Kelas kestabilan udara Ketinggian (m) Semburan efektif cerobong 157,32 201,93 132.83 Konsentrasi ( Sebaran TSP 11.860,91 5845,2 16.938 TSP maks. ) PM10 Xmaks (km)

11.956,30 6.556,63 18.312,69

7.752,23 3.820,39 11.305,92

1,42 1,86 1,18

Contoh perhitungan pada tinggi cerobong 150 m : Mencari nilai kecepatan angin (persamaan 1.1) Us = 4 m/dtk . ( = 7,87 m/dtk Kelas Kestabilan udara berada pada kondisi C dengan koefisensi dispersi Gauss a = 104 b = 0,894 = a Xb = 104 . (2 km) 0,894 = 193,26 m d 0,911 + 0 = 114,70 m z = c X + f = 61 . (2 km)
y

c = 61 d = 0,911 f=0 Mencari nilai ketinggian semburan Dengan menggunakan persamaan 1.2, didapat : FB = 9,8 m/detik2 ( ) 25 ( ) 4 2 = 50,99 m /s karena FB 55 m4/detik2, maka nilai Xf = 49 (50,99 m4/s2)5/8 = 571,97 m Karena X Xf , maka dengan persamaan 1.3 didapat : = 1,6
( ) ( ) ( )

= 1,6 . 0,47 . 68,90 = 51,93 m Mencari nilai ketinggian efektif cerobong (persamaan 1.4) Hc = 150 m + 51,93 m = 201,93 m Mencari nilai konsentrasi sebaran TSP (persamaan 1.5) Sumber berada pada tempat yang lebih tinggi dari muka tanah :
Cj(x,y,z) = *
( ( ) )

( +]

) [

( (

) )

= 13691,51 . 1 (0,212 +0,212) = 5805,2 CTSP(total) = 5805,2 + 40 = 5845,2

Mencari nilai konsentrasi maksimum TSP (persamaan 1.6) Dengan harga konstanta , a = -1,9748 c=0 b = -1,9980 d=0 C maks =
( ( ( ( )) ( ( )) ( ( ))

= 6556,63 Mencari jarak maksimum dengan turbulensi 0,2 (persamaan 1.7) Xmaks = ( )
* +

= 1,86 km Mencari nilai konsentrasi PM10 (persamaan 1.8)

= 3820,39

Perhitungan matematika berupa pemodelan sebaran emisi titik tetap terhadap penurunan kualitas udara ambien adalah untuk memprediksi wilayah yang akan terkena dampak sehingga dapat dilakukan evaluasi untuk mengelola dan memantau dampak tersebut. Hasil evaluasi dampak tersebut dapat dijadikan dasar untuk membuat suatu program pengelolaan dan pemantauan lingkungan, sehingga dampak terhadap gangguan estetika, kesehatan, pertumbuhan tanaman, dan keresahan dapat ditekan seminimal mungkin. Berdasarkan tabel 4, dapat dilihat bahwa semakin tinggi cerobong semakin kecil tinggi semburan, konsentrasi sebaran TSP, konsentrasi TSP maksimum, dan konsentrasi PM10. Sebaliknya, jarak maksimum pemaparan emisi berbanding lurus dengan ketinggian cerobong. Pada ketinggian cerobong 100 m, tinggi semburan sebesar 57,32 m dan pada ketinggian cerobong 150 m tinggi semburan yang didapat yaitu 51,93 m. Sedangkan pada ketinggian 70 m, tinggi semburan yang didapat yaitu 62.83 m. Untuk perbandingan konsentrasi PM10 pada ketiga cerobong tersebut, didapatkan nilai konsentrasi PM10 paling tinggi yaitu sebesar 11.305 pada ketinggian 70 m dan yang terendah pada cerobong 150 m sebesar 3.820,39 .
Perbandingan jarak maksimum pemamparan emisi berdasarkan data dapat dilihat cerobong terendah yaitu 70 m memilki jarak pemaparan terkecil yaitu sebesar 1,18 km dan yang tertinggi dimiliki oleh cerobong 150 m yaiu sebesar 1,86 km.

Salah satu faktor yang mempengaruhi konsentrasi emisi yang keluar dari cerobong asap yaitu ketinggian semburan (h). Ketinggian semburan yang selalu berubah-ubah disebabkan oleh beberapa faktor, antara lain kecepatan angin, kecepatan emisi gas buang, kecepatan linear gas buang dalam cerobong, percepatan gravitasi, kelas kestabilan udara, serta selisih antara temperatur gas buang dan temperatur udara lingkungan. Semakin tinggi h akan semakin menguntungkan, karena akan menyebabkan ketinggian efektif cerobong menjadi lebih tinggi. Dengan demikian proses pengenceran konsentrasi kontaminan di udara semakin baik dan sebaran akan menempuh jarak yang lebih jauh, sehingga mengurangi dampak terhadap penurunan kualitas udara ambient (Budirahardjo, 2000). Untuk menangani kontaminan yang dihasilkan oleh sumber emisi titik tetap, Badan Penerbangan dan Antariksa Amerika Serikat (NASA) menemukan cara baru untuk mengurangi emisi gas buang beracun tersebut. Teknologi yang digunakan berupa katalis oksidasi suhu rendah (LTOC) yang diklaim dapat mengurangi kadar

gas beracun seperti formaldehida dan karbon monoksida sekitar 85-95 persen. Cara lain yang dapat dilakukan yaitu dengan pemasangan alat pengendalian pencemaran (scrubber, saringan atau skimmer), netralisasi pencemaran secara biologis atau kimiawi (misalnya aerasi menghilangkan larutan biologis dengan percepatan proses pembusukan), daur ulang limbah (memanfaatkan limbah secara ekonomis dalam proses sendiri), dan pencegahan limbah.

KESIMPULAN
Berdasarkan hasil praktikum, dapat dilihat bahwa semakin tinggi cerobong semakin kecil tinggi semburan, konsentrasi sebaran TSP, konsentrasi TSP maksimum, dan konsentrasi PM10, sebaliknya, jarak maksimum pemaparan emisi berbanding lurus dengan ketinggian cerobong. Pada ketinggian cerobong 100 m tinggi semburan mencapai 57,32 m, pada cerobongn 150 m memiliki tinggi semburan 51,93 m, dan pada ketinggian 70 m didapatkan 62.83 m. Sedangkan untuk nilai konsentrasi emisi, didapatkan nilai konsentrasi PM10 sebesar 11.305 pada ketinggian 70 m dan pada cerobong dengan ketinggian 150 m didapatkan nilai konsentrai sebesar 3.820,39 . Untuk penanganan emisi pada sumber emisi titik dapat dilakukan dengan pemasangan alat pengendalian pencemaran (scrubber, saringan atau skimmer), netralisasi pencemaran secara biologis atau kimiawi (misalnya aerasi menghilangkan larutan biologis dengan percepatan proses pembusukan), daur ulang limbah (memanfaatkan limbah secara ekonomis dalam proses sendiri), dan pencegahan limbah.

Daftar Pustaka
[Anonim].2003. Cara NASA Mengurangi Emisi Cerobong Asap. [terhubung berkala]http://majalah.tempointeraktif.com/id/arsip/2003/10/06/INO/mbm.20031006. INO90725.id.html (diakses tanggal 20 Desember 2011). Budirahardjo, E (2000): Prediksi Dampak Penurunan Kualitas Udara Dengan Modeling Matematika, Universitas Trisakti, Jakarta. Fatimah,R (2008). Pemantaun Partikulat di Udara Ambien secara Simultan untuk Daerah Urban dan Non-urban. Institut Teknologi Bandung (tidak dipublikasikan) Wardhana, W.A. 1995. Dampak Pencemaran Lingkungan. Andi Offset. Yogyakarta.

LAMPIRAN