Anda di halaman 1dari 11

1

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Fobia, yang ditandai oleh ketakutan yang mencekam dan tidak masuk akal, sering didapati dalam kehidupan di masyarakat. Meskipun pada sebagian besar kasus orang dapat menghindari atau bertahan dalam situasi fobik, tetapi pada sebagian lagi anxietas yang timbul dapat membuat tidak berdaya. Fobia dicetuskan oleh adanya situasi atau objek yang jelas (yang berasal dari luar individu itu sendiri), yang sebenarnya pada saat kejadian ini tidak membahayakan. Kondisi lain (dari individu itu sendiri) seperti perasaan takut akan adanya penyakit (nosofobia) dan ketakutan akan perubahan bentuk badan (dismorfofobia) yang tidak realistic dimasukkan dalam klasifikasi gangguan hipokondrik Fobia sering kali terjadi bersamaan dengan depresi. Suatu episode depresif sering kali memperburuk keadaan anxietas fobik yang sudah ada sebelumnya. Beberapa episode depresif dapat disertai anxietas fobik yang temporer, sebaliknya afek depresif seringkali menyertai brbagai fobia, khususnya agoraphobia. Pembuatan diagnosis tergantung darimana yang jelas jelas timbul lebih dahulu dan mana yang lebih dominan pada saat pemeriksaan. Fobia yang sering didapati dalam masyarakat adalah takut terhadap binatang tertentu (biasanya laba- laba, ular atau tikus), terbang (pterygofobia), ketinggian (acrophobia), air, suntikan, transportasi umum, tempat tertutup (claustrophobia), dokter gigi (odonsiatofobi), badai, terowongan dan jembatan. Pada fobia terjadi salah-pindah kecemasan pada barang atau keadaan yang mula mula menimbulkan kecemasan itu. Jadi terdapat dua mekanisme pembelaan, yaitu salah pindah dan simbolisasi. Ada banyak macam fobi yang dinamakan menurut barang dan keadaan. Apabila berhadapan dengan objek atau situasi tersebut, orang dengan fobia akan mengalami perasaan panik, berkeringat, berusaha menghindar, sulit untuk bernafas dan jantung berdebar. Sebagian besar orang dewasa yang menderita fobia menyadari bahwa ketakutannya tidak rasional dan banyak yang memilih untuk mencoba menahan perasaan axietas yang hebat daripada mengungkapkan gangguannya.

BAB II PEMBAHASAN 2.1 Definisi Fobia adalah suatu ketakutan yang irasional yang jelas, menetap dan berlebihan terhadap suatu objek spesifik, keadaan atau situasi. Berasal dari bahasa yunani, yaitu Fobos yang berarti ketakutan. Istilah fobia mengacu pada rasa takut yang berlebihan terhadap suatu objek, situasi, atau keadaan tertentu. Fobia terbagi menjadi tiga kelompok besar, yaitu fobia spesifik, fobia social dan agoraphobia. Fobia spesifik adalah adanya rasa takut yang kuat dan menetap akan suatu objek atau situasi. Sedangkan fobia sosial adalah adanya rasa takut yang kuat dan menetap akan situasi yang dapat menimbulkan rasa malu. 2.2 Epidemiologi Studi epidemiologis menunjukkan bahwa fobia adalah salah satu gangguan jiwa paling lazim di Amerika Serikat. Sekitar 5-10 % populasi diperkirakan terkena gangguan yang menyulitkan. Prevalensi seumur hidup fobia spesifik sekitar 11 % dan prevalensi seumur hidup fobia spesifik dilaporkan sekitar 3-13 %. Fobia spesifik lebih lazim ditemukan dari pada fobia sosial. Fobia spesifik lebih lazim pada perempuan dan paling lazim kedua pada laki-laki setelah gangguan terkait zat. Rasio perempuan banding laki-laki sekitar 2:1. Objek dan situasi yang ditakuti pada fobia spesifik ( disusun dalam frekuensi kemunculan yang berkurang) adalah hewan, badai, ketinggian, penyakit, cidera dan kematian. Sedangkan fobia sosial lebih banyak pada perempuan di banding laki-laki. Usia puncak awitan fobia sosial adalah remaja walaupun awitannya lazim antara usia 5 tahun dan 35 tahun. 2.2 Jenis Fobia 2.2.1 Fobia Spesifik 2.2.1.1 Claustrofobia Claustrofobia atau fobia ruang tertutup (claustrophobia), adalah ketakutan

yang tidak wajar akan berada di ruang tertutup, dan merupakan salah satu fobia spesifik yang cukup umum. Seseorang dengan claustrophobia tidak bisa naik lift atau melewati lorong/terowongan tanpa kecemasan yang luar biasa. Karena adanya perasaan takut akan tercekik atau terperangkap, orang tersebut akan menghindari ruang-ruang yang sempit dan seringkali melakukan hal-hal yang bertujuan ntuk meningkatkan perasaan aman dalam dirinya, seperti membuka jendela-jendela atau duduk di dekat pintu keluar. Hal-hal ini dilakukan penderita agar situasi lebih dapat ditoleransi, namun pada kenyataannya hal-hal tersebut tidak dapat mengurangi rasa takut yang terjadi pada penderita. Claustrophobia ini termasuk dalam fobia psesifik. Sedangkan pengertian fobia spesifik adalah ketakutan yang beralasan yang disebabkan oleh kehadiran atau antisipasi suatu objek atau situasi spesifik. Lebih ringkasnya fobia ini disebabkan oleh obyek atau situasi spesifik. DSM-IV-TR membagi fobia berdasarkan sumber ketakutannya: darah, cedera, dan penyuntikan, situasi (seperti pesawat terbang, lift, ruang tertutup), binatang, dan lingkungan alami (seperti ketinggian, air) 2.2.1.2 Acrofobia Acrophobia berasal dari bahasa Yunani yaitu akron yang bermakna puncak atau tepi dan phobos yang artinya takut, sehingga bisa disimpulkan yaitu ketakutan yang sangat pada ketinggian. Pada kebanyakan orang merasakan pengalaman ketakutan yang natural jika berada ketinggian tertentu terutama jika tidak disertai atau minim pengaman. Acrophobia memang benar berbahaya, karena perasaan cemas yang dihasilkan dapat dengan mudah diubahmenjadi perasaan panik ketka berada di ketinggian. Jika sudah terjadi serangan panik, penderita fobia dapat terlalu gemetar untuk dapat turun sendiri secara aman. Penderita acrophobia dapat mengalami gangguan lainnya seperti : 1. Vertigo. Vertigo adalah kondisi medis yang menyebabkan pusing dan sensasi berputar. 2. Bathmophobia, adalah rasa takut yang irasional terhadap tangga dan segala sesuatu yang curam. Sebagian besar penderita bathmophobia menderita acrophobia. 3. Climacophobia, adalah rasa takut yang irasional ketika sedang memanjat atau mendaki sesuatu. 4. Aerophobia, adalah rasa takut yang irasional terhadap penerbangan. Pada aerophobia berat, penderita akan merasakan rasa takut dan cemas jika melihat pesawat ataupun berada di bandar udara. Gejala pasti dari acrophobia mirip dengan gangguan kecemasan yang lainnya. Gejala yang paling umum yaitu peningkatan detak jantung, palpitasi, napas pendek dan cepat, mulut menjadi kering dan mual. Gejala tersebut merupakan gejala yang paling banyak dilaporkan dari orang yang menderita acrophobia. Reaksi lainnya yang dapat terjadi ketika penderita mendapat serangan panik ketika berada

di ketinggian antara lain penderita akan melakukan posisi perlindungan diri seperti meringkuk ataupun berlutut secara tiba-tiba, penderita akan berusaha mencari tempat untuk bersandar atau pegangan serta merasa lemas atau lumpuh seketika. Seperti halnya fobia yang lain, acrophobia didasari dari pengalaman traumatis yang berkaitan dengan ketinggian. Penelitian terbaru telah meragukan penjelasan seperti takut jatuh, bersamaan dengan takut akan suara yang keras, merupakan salah satu ketakutan bawaan atau non-asosiatif yang paling sering disarankan. Beberapa peneliti beradu argumen tentang ketakutan akan ketinggian merupakan insting yang dapat ditemukan pada hewan dan manusia. Penelitian yang menggunakan visual cliff menunjukan bahwa bayi manusia dan balita serta hewan lainnya dari berbagai usia enggan untuk melalui sebuah lantai kaca dengan pemandangan beberapa meter kebawah. Sementara sikap kehati-hatian sangatlah membantu untuk bertahan, sedangkan rasa takut yang ekstrim dapat mengganggu aktivitas sehari-hari, seperti naik anak tangga atau bahkan untuk berdiri diatas kursi sekalipun. Faktor yang kemungkinan mempunyai kontribusi yaitu adanya gangguan untuk mengatur keseimbangan. Sistem keseimbangan manusia menggabungkan isyarat visual propioseptif, vestibular dan kalkulasi dari posisi dan gerak terdekat. Semakin meningkatnya ketinggian, isyarat visual dan keseimbangan menjadi melemah bahkan untuk ukuran orang normal. Namun kebanyakan orang merespon dengan bergeser untuk lebih bergantung pada propioseptif dan cabang vestibuler dari sistem keseimbangan. Disisi lain, seorang acrophobic terus menerus mengandalkan sinyal-sinyal visual karena fungsi vestibuler yang kurang memadai atau sisi strategi yang salah. Penggerak pada ketinggian yang tinggi memerlukan lebih dari pemrosesan visual yang normal. Korteks visual menjadi kelebihan beban yang menyebabkan kebingungan. Beberapa peneliti memperingatkan bahwa hal itu mungkin kurang disarankan untuk mendorong acrophobic dalam mengekspos diri mereka terhadap ketinggian tanpa terlebih dahulu menyelesaikan masalah vestibuler. 2.2.2 Fobia Sosial Sejumlah studi melaporkan bahwa beberapa anak mungkin memiliki ciri bawaan yang ditandai dengan pola inhibisi prilaku konsisten. Ciri bawaan ini lazim pada anak dari orang tua yang mengalami gangguan panic dan dapat berkembang menjadi rasa malu yang parah saat anak tumbuh dewasa. Data berdasarkan psikologis yang menunjukkan bahwa orang tua dari orang dengan fobia sosial adalah sebagai suatu kelompok orang tua yang kurang peduli, lebih menolak, dan lebih over protektif terhadap anak mereka dibandingkan orang tua lain. Faktor Neurokimia

Keberhasilan farmakoterapi dalam terapi fobia sosial menghasilkan dua hipotesis neurokimia spesifik mengenai dua jenis fobia sosial. Secara spesifik, penggunaan antagonis adrenergic contohnya propanolol dengan fobia penampilan (seperti berbicara dihadapan umum) membentuk perkembangan teori adrenergic pada fobia ini. Pasien dengan fobia penampilan dapat melepaskan lebih banyak norepinefrin atau epinefrin, baik secara sentral maupun perifer, dari pada orang nonfobik, atau orang tersebut sensitif terhadap kadar normal stimulasi adrenergic. Pengamatan bahwa inhibitor MAO dapat lebih efisien dari pada obat trisiklik dalam terapi fobia sosial menyeluruh, menyebabkan beberapa peneliti menyusun hipotesis bahwa aktivitas dopaminergik berkaitan dengan pathogenesis gangguan ini. Akhirnya, serotonin memainkan peranan didalam fobia karena SSRI terbukti efektif dalam mengobati gangguan ini. Faktor Genetic Kerabat derajat pertama orang dengan fobia sosial sekitar 3 kali lebih cenderung mengalami fobia sosial dari pada kerabat derajat pertama orang tanpa ganggua jiwa. Sejumlah data menunjukkan bahwa kembar monozigot lebih sering bersamaan mengalami gangguan dari pada kembar dizigot walaupun pada fobia sosial terutama penting untuk mempelajari kembar yang diasuh terpisah untuk mengendalikan factor lingkungan. 2.2.3 Agoraphobia 2.2.3.1 Definisi Agorafobia didefinisikan sebagai ketakutan berada sendirian di tempattempat publik (sebagai contoh, supermarket), khususnya tempat dari mana pintu keluar yang cepat akan sulit jika orang mengalami serangan panik. 3 2.2.3.2 Epidemiologi Agorafobia maupun gangguan panik dapat berkembang pada setiap usia dengan usia rata-rata timbulnya adalah kira-kira 25 tahun. Prevalensi seumur hidup agorafobia dilaporkan terentang antara 0,6 persen sampai setinggi 6 persen. Dan pada penelitian yang dilakukan di lingkungan psikiatrik dilaporkan sebanyak tiga perempat pasien yang terkena agorafobia juga menderita gangguan panik. Hasil yang berbeda ditemukan pada lingkungan masyarakat di mana separuh dari pasien yang menderita agorafobia tidak menderita gangguan panik. Perbedaan hasil

penelitian dan rentang prevalensi yang lebar diperkirakan karena kriteria diagnostik yang bervariasi dan metoda penilaian yang berbeda. 3,4 2.2.3.3 Etiologi Etiologi untuk agorafobia belum diketahui secara pasti, tapi patogenesis fobia berhubungan dengan faktor-faktor biologis, genetik dan psikososial. 1,3,4 Keberhasilan farmakoterapi dalam mengobati fobia sosial dan penelitian lain yang menunjukkan adanya disfungsi dopaminergik pada fobia sosial mendukung adanya faktor biologis. Agorafobia diperkirakan dipicu oleh gangguan panik. Data penelitian menyimpulkan bahwa gangguan panik memiliki komponen genetik yang jelas, juga menyatakan bahwa gangguan panik dengan agorafobia adalah bentuk parah dari gangguan panik, dan lebih mungkin diturunkan. 1,3,4,5 Dari faktor psikososial, penelitian menyimpulkan bahwa anak-anak tertentu yang ada predisposisi konstitusional terhadap fobia, memiliki temperamen inhibisi perilaku terhadap yang tidak dikenal dengan stres lingkungan yang kronis akan mencetuskan timbulnya fobia. Misalnya perpisahan dengan orang tua, kekerasan dalam rumah tangga dapat mengaktifkan diatesis laten pada anak-anak yang kemudian akan menjadi gejala yang nyata. Menurut Freud, fobia yang disebut sebagai histeria cemas disebabkan tidak terselesaikannya konflik oedipal masa anak-anak. Objek fobik merupakan simbolisasi dari sesuatu yang berhubungan dengan konflik. 1,3,4,5 2.2.3.4 Diagnosis Diagnosis agorafobia berdasarkan gejala ansietas dan fobia yang tampak jelas. Menurut Pedoman Penggolongan Diagnostik Gangguan Jiwa Edisi ke III(PPDGJ-III), diagnosis pasti agorafobia harus memenuhi semua kriteria dengan adanya gejala ansietas yang terbatas pada kondisi yang spesifik yang harus dihindari oleh penderita. Kriteria Diagnostik Untuk Agorafobia Semua kriteria dibawah ini harus dipenuhi untuk diagnosis pasti : (a) Gejala psikologis, perilaku atau otonomik yang timbul harus merupakan manifestasi primer dari anxietasnya dan bukan sekunder dari gejala-gejala lain seperti misalnya waham atau pikiran obsesif;

(b) Anxietas yang timbul harus terbatas pada (terutama terjadi dalam hubungan dengan) setidaknya dua dari situasi berikut: banyak orang/keramaian, tempat umum, bepergian keluar rumah, dan bepergian sendiri; dan (c) Menghindari situasi fobik harus atau sudah merupakan gejala yang menonjol (penderita menjadi house-bound). Sedangkan menurut DSM-IV, agorafobia dapat digolongkan atas gangguan panik dengan agorafobia dan agorafobia tanpa gangguan panik. Dengan kriteria diagnosis sebagai berikut:
Kriteria Diagnostik untuk Agorafobia Tanpa Riwayat Gangguan Panik

A. Adanya agorafobia berhubungan dengan rasa takut mengalami gejala mirip panik (misalnya, pusing atau diare). B. Tidak pernah memenuhi kriteria untuk panik. C. Gangguan bukan karena efek fisiologis langsung dari suatu zat (misalnya, obat yang disalahgunakan, medikasi) atau suatu kondisi medis umum. D. Jika ditemukan suatu kondisi medis umum yang berhubungan, rasa takut yang dijelaskan dalam kriteria A jelas melebihi dari apa yang biasanya berhubungan dengan kondisi. Selain itu, DSM-IV juga menetapkan kriteria diagnostik untuk agorafobia Kriteria untuk Agorafobia Catatan: Agorafobia bukan merupakan gangguan yang dapat dituliskan. Tuliskan diagnosis spesifik di mana agorafobia panik terjadi (misalnya, gangguan panik dengan agorafobia atau agorafobia tanpa riwayat gangguan panik). A. Kecemasan berada di dalam suatu tempat atau situasi dari mana kemungkinan sulit meloloskan diri (atau merasa malu) atau di mana mungkin tidak terdapat pertolongan jika mendapatkan serangan panik atau gejala mirip panik yang tidak diharapkan atau disebabkan oleh situasi. Rasa takut agorafobik biasanya mengenai kumpulan situasi karakteristik seperti di luar rumah sendirian; berada di tempat ramai atau berdiri di sebuah barisan; berada di atas jembatan; atau bepergian dengan bis, kereta, atau mobil.

Catatan: Pertimbangkan diagnosis fobia spesifik jika penghindaran adalah terbatas pada satu atau hanya beberapa situasi spesifik, atau fobia sosial jika penghindaran terbatas pada situasi sosial. B. Situasi dihindari (misalnya, jarang bepergian) atau jika dilakukan adalah dilakukan dengan penderitaan yang jelas atau dengan kecemasan akan mendapatkan serangan panik atau gejala mirip panik, atau perlu didampingi teman. C. Kecemasan atau penghindaran fobik tidak lebih baik diterangkan oleh gangguan mental lain, seperti fobia sosial (misalnya, penghindaran terbatas pada situasi sosial karena rasa takut terhadap situasi tertentu seperti di elevator), gangguan obsesif-kompulsif (misalnya, menghindari kotoran pada seseorang dengan obsesi tentang kontaminasi), gangguan stres pascatraumatik (misalnya, menghindari stimuli yang berhubungan dengan stressor yang berat), atau gangguan cemas perpisahan (misalnya, menghindari meninggalkan rumah atau sanak saudara). 2.2.3.5 Gambaran Klinis Pasien dengan agorafobia menghindari situasi di saat sulit mendapat bantuan. Lebih suka ditemani kawan atau anggota keluarga di tempat tertentu, seperti jalan yang ramai, toko yang padat, ruang tertutup (seperti terowongan, jembatan, lift), kendaraan tertutup (seperti kereta bawah tanah, bus, dan pesawat terbang). Mereka menghendaki ditemani setiap kali harus keluar rumah. Perilaku tersebut sering menyebabkan konflik perkawinan dan keliru didiagnosis sebagai masalah primer. Pada keadaan parah mereka menolak keluar rumah dan mungkin ketakutan akan menjadi gila Gejala depresif sering kali ditemukan pada serangan panik dan agorafobia, dan pada beberapa pasien suatu gangguan depresif ditemukan bersama-sama dengan gangguan panik. Penelitian telah menemukan bahwa risiko bunuh diri selama hidup pada orang dengan gangguan panik adalah lebih tinggi dibandingkan pada orang tanpa gangguan mental. Klinisi harus menyadari risiko bunuh diri ini. 2.2.3.6 Perjalanan Penyakit dan Prognosis Sebagian besar kasus agorafobia diperkirakan disebabkan oleh gangguan panik. Jika gangguan panik diobati, agorafobia sering kali membaik dengan berjalannya waktu. Untuk mendapatkan reduksi agorafobia yang cepat dan lengkap,

terapi perilaku kadang-kadang diperlukan. Agorafobia tanpa riwayat gangguan panik sering kali menyebabkan ketidakberdayaan dan kronis. Gangguan depresif dan ketergantungan alkohol sering kali mengkomplikasi perjalanan agorafobia. 2.2.3.7 Diagnosa Banding Diagnosis banding untuk agorafobia tanpa suatu riwayat gangguan panik adalah semua gangguan medis yang dapat menyebabkan kecemasan atau depresi. Diagnosis banding psikiatrik adalah gangguan depresif berat, skizofrenia, gangguan kepribadian paranoid, gangguan kepribadian menghindar, di mana pasien tidak ingin keluar rumah dan gangguan kepribadian dependan karena pasien harus selalu ditemani setiap keluar rumah. 2.3 Pengobatan Dalam penanganan penderita fobia, penderita tidak bisa menyembuhkan dirinya sendiri sehingga haruslah dibantu oleh terapis yang kompeten dibidangnya. Banyak sekali terapi yang dapat dilakukan. Berikut adalah beberapa pendekatan terapi yang bisa dilakukan : a. Terapi Pada Agoraphobia 1. Farmakoterapi Obat Trisklik dan Tetrasiklik, Inhibitor Monoamine Oksidasi, SSRI, benzodiazepine adalah efektif untuk pengobatan gangguan panic. Diantara obat Trisklik data yang paling kuat menyatakan bahwa Clomipramine dan Imipramine adalah efektif didalam gangguan panic. Tetapi pengalaman klinis menyatakan bahwa Climipramine dan Imipramine harus dimulai pada dosis rendah 10 mg sehari, dan ditritasi perlahan-lahan pada awalnya dengan 10 mg sehari tiap 2-3 hari. Selanjutnya lebih cepat dengan 25 mg sehari tiap 2-3 hari, jika dosis rendah ditoleransi dengan baik. 2. Terapi Kognitif dan Perilaku Yaitu terapi yang efektif untuk gangguan panic, menghasilkan remisi gejala yang berlangsung lama. Dua pusat utama terapi kognitif untuk gangguan panic adalah instruksi tentang kepercayaan salah dari pasien dan informasi tentang serangan

10

panic. Instruksi tentang kepercayaan yang salah berpusat pada kecenderungan pasien untuk keliru menginterpretasikan sensasi tubuh yang ringan sebagai tanda untuk ancaman serangan panic, kiamat atau kematian. Penerapan relaksasi dengan tujuan untuk memasukkan suatu rasa pengendalian pada pasien tentang tin gkat kecemasan dan relaksasinya. Melalui penggunaan tehnik yang dibakukan untuk relaksasi otot dan membayangkan situasi yang menimbulkan relaksasi. Pasien belajar tehnik yang dapat membantu mereka melewati serangan panic. Latihan Pernafasan. Tujuan dari latihan pernafasan ini untuk membantu mengendalikan hiperventilasi selama suatu serangan panic. Pemaparan In Vivo Digunakan sebagai terapi perilaku primer untuk gangguan panic. Tehnik meliputi pemaparan yang semakin besar terhadap stimulus yang ditakuti dengan berjalan waktu pasien mengalami desentisisasi terhadap pengalaman. 3. Terapi Psikososial Terapi keluarga yang digunakan untuk mendidik, mrndukung seringkali bermanfaat. Psikoterapi berorientasi tilikan. Terapi ini bermanfaat dalam pengobatan agoraphobia. Pengobatan memusatkan pada membantu pasien mengerti arti bawah sadar dari kecemasan, simbolisme situasiyang dihindari, kebutuhan untuk merepresi impuls dan tujuan sekunder dari gejala.

b. Terapi Pada Fobia Spesifik Terapi pada fobia spesifik yang paling sering adalah terapi pemaparan, suatu tipe terapi perilaku dengan menggunakan pemaparan stimulus fobic yangserial, bertahap dan dipacu diri sendiri. Ahli terapi mengajari pasien tentang berbagai tehnik menghadapi kecemasan, termasuk

11

relaksasi, control ernafasan dan pendekatan kognitif terhadap gangguan. Aspek kunci dari terapi perilaku yang berhasil adalah komitmen pasien terhadap pengobatan, masalah dan tujuan yang diidentifikasi dengan jelas dan strategi alternative yang tersedia untuk mengatasi perasaan pasien.

c. Terapi Pada Fobia Sosial Pengobatan pada fobia social menggunakan psikoterapi dan

farmakoterapi. Obat yang dilaporkan efektif dalam pengobatan adalah apralzolam, clonazepam dan SSRI. Psikoterapi untuk fobia social melibatkan suatu kombinasi metode perilaku dan kognitif termasuk terapi ulang kognitif, desentisisasi, session selama latihan dan berbagai tugas pekerjaan rumah.