Anda di halaman 1dari 8

1

PERTUMBUHAN DAN HASIL TANAMAN CABAI KERITING (Capsicum annuum) PADA BERBAGAI KOMBINASI PUPUK NPK*) Oleh Moch. Dawam Maghfoer dan Koesriharti **) ABSTRAK Penelitian bertujuan untuk mendapatkan dosis optimum kombinasi pupuk NPK pada pertumbuhan dan hasil tanaman cabai keriting dilaksanakan di lahan sawah desa Wonomulyo, kecamatan Poncokusumo, kabupaten Malang, + 600 mdpl, jenis tanah Andisol, pH 5,6, pada bulan September 2007 sampai April 2008. Penelitian dilaksana-kan dengan Rancangan Acak Kelompok terdiri dari 8 perlakuan dan diulang 5 kali. Perlakuan tersebut ialah: A. Kontrol (tanpa pupuk); B. ZA 800 kg/ha+SP-36 300 kg/ha+KCl 200 kg/ha; C. NPK Kebomas 25:7:7 672 kg/ha+SP-36 170 kg/ha+KCl 122 kg/ha; D. NPK Kebomas 25:7:7 650 kg/ha+SP-36 150 kg/ha+KCl 100 kg/ha; E. NPK Kebomas 25:7:7 800 kg/ha; F. NPK Kebomas 24:8:8 700 kg/ha+SP-36 145 kg/ha+KCl 107 kg/ha; G. NPK Kebomas 24:8:8 650 kg/ha+SP-36 150 kg/ha+KCl 100 kg/ha; dan H. NPK Kebomas 24:8:8 800 kg/ha. Hasil penelitian menunjukkan bahwa perlakuan kontrol (tanpa pupuk) memberikan hasil lebih rendah dibandingkan dengan yang diberi pupuk, baik berupa pupuk tunggal, pupuk majemuk, maupun campuran kombinasi pupuk tunggal dan pupuk majemuk. Hasil pengamatan peubah pertumbuhan dan hasil, bahwa perlakuan F (NPK Kebomas 24:8:8 700 kg/ha+SP-36 145 kg/ha+KCl 107 kg/ha) menunjukkan pertumbuhan dan hasil (11.19 t/ha) lebih tinggi daripada perlakuan lainnya dengan nilai R/C rasio 1.64. Sedangkan hasil pada kontrol sebesar 7.22 t/ha (R/C rasio 1.24), dan pada perlakuan pupuk tunggal (perlakuan B) sebesar 8.63 t/ha (R/C rasio 1.36). Kata kunci: cabai keriting, pupuk NPK tunggal, pupuk NPK majemuk

*)

Makalah disajikan pada Seminar Nasional Hortikultura 2010, Denpasar- Bali 26 November 2010. **) Fakultas Pertanian Universitas Brawijaya Jl. Veteran Malang 65145

25-

PENDAHULUAN Cabai merupakan sayuran penting di Indonesia. Luas lahan cabai di Indonesia pada tahun 2005 mencapai 10.96% dibandingkan dengan total luas lahan sayuran lainnya (Direktorat Jenderal Hortikultura, 2006). Peningkatan areal cabai tersebut belum diimbangi dengan produktivitas cabai. Menurut Direktorat Jenderal Hortikultura (2006), produktivitas cabai di Indonesia pada tahun 2005 ialah sebesar 6.39 ton/ha. Produktivitas cabai tersebut masih jauh dari potensi produksi yang mencapai 18 ton/ha (Kusandriani, 1996). Rendahnya produktivitas cabai tersebut dapat disebabkan oleh mutu benih, teknik budidaya, serangan hama dan patogen, dan pasca panen. Upaya peningkatan produksi tanaman dapat dilakukan dengan perbaikan teknik budidaya. Salah satu di antaranya dengan mengatur ketersediaan unsur hara yang dapat diserap oleh tanaman dengan cara pemupukan, karena pemupukan merupakan salah satu cara yang tepat untuk peningkatan produksi tanaman (Harijadi, 1989). Berdasarkan kandungan unsur hara, pupuk buatan dapat dibagi menjadi dua yaitu pupuk tunggal dan pupuk majemuk. Pupuk tunggal hanya mengandung satu macam unsur hara, misalnya urea yang mengandung unsur nitrogen, sedangkan pupuk majemuk mengandung lebih dari satu jenis unsur hara ( Hakim et al., 1986). Penggunaan pupuk makro tunggal secara terus menerus dapat menimbulkan pengaruh yang negatif. Hasil penelitian Suwandi dan Hilman (1992) menunjukkan bahwa peningkatan jumlah atau proporsi ZA dalam sistem pemupukan N akan menurunkan pH tanah. Penggunaan TSP yang berlebih juga dapat menyebabkan kekurangan unsur mikro terutama Zn. Praktek penggunaan pupuk tunggal makro dengan kadar tinggi secara terus menerus juga akan dibatasi oleh kelangkaan sumber daya energi untuk masa mendatang. Oleh karena hal tersebut di atas perlu dicari alternatif pupuk lain sebagai sumber pupuk. Penggunaan pupuk majemuk dapat menjadi solusi pemupukan yang efisien. Hasil penelitian Rosliani et al. (2001) menunjukkan bahwa pemberian pupuk majemuk NPK relatif lebih baik dalam meningkatkan pertumbuhan dan hasil tanaman cabai merah dibandingkan dengan pupuk tunggal. Hal tersebut terjadi karena pupuk NPK me-lepaskan unsur-unsur haranya sedikit demi sedikit (slow release). Pemupukan tidak efektif jika tidak memenuhi sinkronisasi unsur hara. Menurut Handayanto (1998), sinkronisasi ialah maching menurut waktu, ketersediaan unsur hara dan kebutuhan tanaman akan unsur hara. Apabila penyediaan unsur hara tidak match maka akan terjadi defisiensi unsur hara atau kelebihan unsur hara, meskipun jumlah total penyediaan sama dengan jumlah total kebutuhan. Pupuk tunggal memiliki kelebihan dapat sesuai dengan kebutuhan tanaman, cepat terurai dan dapat segera dimanfaatkan oleh tanaman, sedangkan kekurangannya ialah lebih mudah hilang sehingga hanya sedikit unsur hara yang dapat dimanfaatkan oleh tanaman. Kelebihan pupuk majemuk ialah lambat terurai sehingga pemupukan lebih efektif, sedangkan kekurangan pupuk majemuk ialah tidak sesuai antara kebutuhan dari masing-masing unsur yang dikehendaki oleh kebutuhan tanaman dengan kandungan yang terkandung dalam pupuk (Hakim et al., 1986). Tujuan penelitian ialah untuk mendapatkan dosis optimum kombinasi pupuk NPK pada pertumbuhan dan hasil tanaman cabai keriting

BAHAN DAN METODE Penelitian dilakukan pada lahan sawah di desa Wonomulyo, kecamatan . Poncokusumo, Kabupaten Malang, mulai bulan September 2007 April 2008. Lokasi tersebut terletak pada ketinggian 600 m dpl, jenis tanah andosol dan pH tanah sebesar 5,6. Benih cabai keriting menggunakan varietas HTM-888. Penelitian dilaksanakan dengan rancangan acak kelompok terdiri dari 8 perlakuan dan diulang 5 kali. A. Kontrol (tanpa pupuk); B. ZA 800 kg/ha+SP-36 300 kg/ha+KCl 200 kg/ha; C. NPK Kebomas 25:7:7 672 kg/ha+SP-36 170 kg/ha+KCl 122 kg/ha; D. NPK Kebomas 25:7:7 650 kg/ha+SP-36 150 kg/ha+KCl 100 kg/ha; E. NPK Kebomas 25:7:7 800 kg/ha; F. NPK Kebomas 24:8:8 700 kg/ha+SP-36 145 kg/ha+KCl 107 kg/ha; G. NPK Kebomas 24:8:8 650 kg/ha+SP-36 150 kg/ha+KCl 100 kg/ha; dan H. NPK Kebomas 24:8:8 800 kg/ha. Tanaman cabai keriting ditanam pada petak percobaan dengan ukuran 4 m x 2.4 m dengan jarak antar bedengan 40 cm. Jarak tanam yang dipergunakan 60 cm x 50 cm. Pemupukan NPK, Urea dan ZA dilakukan dua kali selama pertumbuhan tanaman cabai keriting. Pemupukan pertama dilakukan pada 7 HST dan pemupukan kedua dilaksanakan pada 30 HST, masing-masing setengah dosis perlakuan. Pemupukan SP-36 dan KCl diaplikasikan satu kali pada 7 HST. Lubang tempat pupuk dibuat melingkar pada tanaman sedalam 5 cm dengan jarak 5 cm dari batang tanaman. Pengamatan dilakukan pada peubah pertumbuhan dan hasil tanaman cabai keriting. Pengamatan pertumbuhan meliputi tinggi tanaman dan jumlah daun. Pengamatan hasil meliputi bobot per tanaman, bobot per petak (ukuran 9,60 m2), dan bobot buah per hektar (dengan faktor koreksi 0,70). Untuk mengetahui efektivitas secara ekonomi dilakukan dengan analisis usahatani, dilakukan dengan menghitung nilai R/C rasio dengan rumus: R/C rasio = Hasil : Biaya Data yang dikumpulkan dianalisis dengan menggunakan analisis keragaman. Apabila dari hasil analisis ragam terdapat pengaruh perbedaan yang nyata di antara perlakuan yang diteliti maka dilakukan uji lanjut dengan uji BNT 5%. HASIL DAN PEMBAHASAN Pertumbuhan Tanaman Cabai Merah Aplikasi pupuk NPK berpengaruh nyata pada pertumbuhan tanaman cabai merah merah. Perlakuan tanpa pupuk menghasilkan pertumbuhan cabai merah merah terendah. Pupuk NPK tunggal, pupuk NPK majemuk 25-7-7 dan NPK majemuk 24-8-8 menghasilkan pertumbuhan cabai merah lebih rendah dibandingkan perlakuan kombinasi pupuk NPK tunggal dan NPK majemuk. Kombinasi pupuk NPK tunggal dengan pupuk NPK majemuk menghasilkan jumlah daun yang lebih tinggi (Tabel 1). Hal tersebut diduga karena kandungan unsur hara P dan K pada kombinasi pupuk NPK majemuk + pupuk PK tunggal lebih tinggi dibandingkan pupuk NPK tunggal atau pupuk NPK majemuk. Selain kandungan unsur yang lebih tinggi, kombinasi pupuk NPK tunggal dan pupuk NPK majemuk dapat menghasilkan jumlah daun lebih tinggi karena efisiensi unsur hara yang lebih tinggi dan terpenuhinya sinkronisasi unsur hara. Ketersediaan unsur P dan K dalam jumlah cukup pada kombinasi pupuk PK tunggal dan pupuk NPK majemuk dapat meningkatkan jumlah daun. Foth dan Turk (1972) menyatakan, apabila unsur K dalam tanaman cukup, maka proses metabolisme tanaman berjalan lancar dan unsur hara dalam tanaman akan seimbang.

Disamping hal tersebut, unsur K juga memberikan efek keseimbangan, baik pada N maupun P. Pemberian pupuk NPK majemuk atau pupuk tunggal menghasilkan jumlah daun lebih rendah. Hal tersebut disebabkan tidak tercapainya sinkronisasi unsur hara antara kebutuhan tanaman dengan ketersediaan unsur hara. Pada tanaman yang dipupuk dengan pupuk NPK majemuk, unsur hara tersedia secara perlahan. Hal tersebut mengakibatkan pada awal pertumbuhan tanaman membutuhkan unsur hara maka unsur hara tersebut belum sepenuhnya tersedia bagi tanaman. Ketidak-tersediaan unsur hara dalam jumlah cukup pada awal pertumbuhan mengakibatkan pertumbuhan tanaman terhambat sehingga jumlah daun yang dihasilkan menjadi lebih sedikit. Pada penggunaan pupuk NPK tunggal, unsur hara cepat terurai sehingga dapat dimanfaatkan oleh tanaman, akan tetapi efisiensinya rendah. Ini disebabkan pada unsur hara yang cepat tersedia maka unsur hara tersebut lebih mudah hilang karena terhidrolisis atau menguap, apalagi pada saat penelitian terjadi curah hujan yang tinggi. Hal tersebut membuat tanaman tidak dapat memanfaatkan unsur hara sepenuhnya karena banyaknya unsur hara yang hilang sehingga pertumbuhan tanaman menjadi lebih lambat. Tabel 1. Jumlah daun tanaman cabai merah akibat pengaruh pemberian pupuk NPK
Perlakuan A (Kontrol) B (ZA 800 kg, SP-36 300 kg, KCl 200 kg) C (NPK 25-7-7 672 kg, SP-36 170 kg, KCl 122 kg) D (NPK 25-7-7 650 kg, SP-36 150 kg, KCl 100 kg) E (NPK 25-7-7 800 kg) F (NPK 24-8-8 700 kg, SP-36 145 kg, KCl 107 kg) G (NPK 24-8-8 650 kg, SP-36 150 kg, KCl 100 kg) H (NPK 24-8-8 800 kg) BNT 5% 14 14.32 a 19.75 b 28 40.00 a 45.45 b Umur Pengamatan (HST) 42 56 107.98 a 108.17 a 130.11 b 140.00 b 70 148.88 a 193.78 b 84 158.25 a 218.85 b

21.2 bc

51.00 cd

147.41 cd

157.45 bcd

210.93 bc

226.94 b

20.45 bc

50.68 bcd

143.05 bcd

155.03 bcd

203.50 bc

218.30 b

19.82 b 21.77 c

46.95 bc 54.65 d

135.66 bc 151.69 d

141.23 bc 171.50 d

197.58 b 232.58 c

213.10 b 259.43 c

21.30 bc

51.63 cd

149.97 d

160.15 cd

220.53 bc

227.60 bc 216.20 b 32.14

20.40 bc 1.70

48.70 bc 5.23

140.68 bcd 13.22

149.95 bc 20.04

198.83 b 33.56

Keterangan : Bilangan pada kolom yang sama dan didampingi dengan huruf sama pula menunjukkan tidak berbeda nyata pada uji BNT 5% Jumlah daun berpengaruh pada peningkatan tinggi tanaman cabai merah. Hal tersebut mengingat fungsi daun sebagai alat fotosintesis, sehingga jumlah daun yang lebih

banyak dapat meningkatkan organ pertumbuhan tanaman yang lain. Tabel 1 menunjukkan bahwa jumlah daun pada kombinasi pupuk PK tunggal + pupuk NPK majemuk menghasilkan jumlah daun lebih tinggi pada 14-70 HST. Hasil tersebut sesuai dengan hasil tinggi tanaman. Selanjutnya Tabel 2 menunjukkan bahwa kombinasi pupuk NPK majemuk + pupuk PK tunggal juga menghasilkan tinggi tanaman yang lebih tinggi pada 14, 56 dan 70 HST. Pada 28 dan 42 HST pemberian pupuk NPK pada semua dosis menghasilkan tinggi tanaman yang tidak berbeda. Hal tersebut diduga karena curah hujan yang sangat tinggi pada saat tersebut sehingga memacu timbulnya penyakit. Selain timbulnya penyakit, curah hujan dan mendung juga mengakibatkan daun tidak mampu melakukan fotosintesis secara optimal karena tidak adanya sinar matahari. Kondisi tersebut mengakibatkan tidak terjadi perbedaan tinggi tanaman pada 28 dan 42 HST pada semua perlakuan pupuk NPK. Pada 84 HST kombinasi NPK 24-8-8 dengan 2 dosis pupuk tunggal dan NPK 25-7-7 + SP-36 170 kg + KCl 122 kg menghasilkan tinggi tanaman lebih tinggi dibandingkan perlakuan lainnya. Tabel 2. Tinggi tanaman cabai merah (cm) akibat pengaruh pemberian pupuk NPK Perlakuaan
A (Kontrol) B (ZA 800 kg, SP-36 300 kg, KCl 200 kg) C (NPK 25-7-7 672 kg, SP-36 170 kg, KCl 122 kg) D (NPK 25-7-7 650 kg, SP-36 150 kg, KCl 100 kg) E (NPK 25-7-7 800 kg) F (NPK 24-8-8 700 kg, SP-36 145 kg, KCl 107 kg) G (NPK 24-8-8 650 kg, SP-36 150 kg, KCl 100 kg) H (NPK 24-8-8 800 kg)

14
16.47 a 20.10 b 20.94 bc 20.80 bc 20.14 bc 22.17 c 21.63 bc 20.18 bc 2.06

Umur Pengamatan (HST) 28 42 56 70


29.45 a 34.54 b 36.24 b 35.55 b 34.79 b 37.79 b 36.36 b 34.83 b 4.09 48.07 a 55.78 b 56.88 b 56.34 b 56.19 b 59.44 b 57.63 b 56.33 b 5.70 50.03 a 56.34 b 59.66 bc 59.03 bc 56.47 b 61.76 c 60.37 bc 57.98 bc 4.35 50.86 a 56.70 b 59.70 bc 59.14 bc 56.84 b 62.41 c 61.80 c 57.02 b 4.73

84
57.04 a 62.79 b 66.65 bcd 64.76 bc 64.55 bc 69.83 d 69.38 cd 64.72 bc 5.11

BNT 5%

Keterangan: Bilangan pada kolom yang sama dan didampingi dengan huruf yang sama pula menunjukkan tidak berbeda nyata pada uji BNT 5%

Kombinasi pupuk PK tunggal dan pupuk NPK majemuk menghasilkan tinggi tanaman yang lebih tinggi (Tabel 2). Meskipun kandungan N pada kombinasi pupuk PK tunggal dan pupuk NPK majemuk tidak jauh berbeda dengan pupuk tunggal, akan tetapi karena sifat pupuk majemuk yang ketersediaannya lambat membuat efisensi pemupukan lebih tinggi. Pada kombinasi NPK majemuk dan pupuk PK tunggal, sumber N diperoleh dari pupuk NPK majemuk. Pupuk N pelepas lambat mensuplai N dalam waktu yang lama dan lebih konstan, dan dapat dilakukan sekaligus sehingga dapat menghemat tenaga dan biaya pemupukan (Pew et al., 1983). Pada pupuk tunggal N Urea dan ZA, pupuk tersebut mudah larut sehingga mudah hilang karena pencucian, apalagi pada kondisi curah hujan tinggi. Menurut Brown dan Volle dalam Kuyfer dan Lambeth (1980), dari pupuk Urea yang diberikan sebanyak 50 % N akan mudah hilang karena pencucian, dan 15-20%

N dalam bentuk yang tidak tersedia bagi tanaman. Pada kombinasi pupuk NPK majemuk dan pupuk PK tunggal, selain unsur N yang cukup tersedia, juga memiliki kandungan unsur P dan K lebih tinggi dibandingkan pupuk NPK tunggal atau pupuk NPK majemuk saja. Pada kondisi N cukup tersedia, P dan K dalam jumlah yang lebih tinggi membuat pertumbuhan tinggi tanaman menjadi lebih tinggi. Hasil Tanaman Cabai Merah Tabel 3 menunjukkan perlakuan kombinasi pupuk NPK 24-8-8 yang dikombinasikan dengan dua dosis pupuk PK tunggal menghasilkan bobot buah per hektar cabai merah tertinggi. Hal tersebut diduga karena kandungan Fosfor dan Kalium pada perlakuan tersebut tersedia pada jumlah yang cukup. Tanaman yang kebutuhan unsur haranya terpenuhi akan mempunyai berat segar yang tinggi dibandingkan dengan tanaman yang kurang mendapatkan unsur hara. Hal tersebut terlihat pada perlakuan kontrol yang tidak mendapat tambahan unsur hara, pertumbuhannya lambat sehingga menghasilkan bobot cabai merah per tanaman, per petak dan per hektar yang rendah pula. Tabel 3. Bobot buah per tanaman (kg), per petak (kg), per hektar (ton) cabai merah dan R/C rasio akibat pengaruh pemberian pupuk NPK
Perlakuaan Bobot buah per tanaman (g) 301.94 a Bobot buah per petak (kg) 9.24 a Bobot buah per hektar (ton) R/C rasio

A (Kontrol) 6.73 a 1.28 B (ZA 800 kg. SP-36 300 kg. 363.74 b 11.04 b 8.05 b 1.40 KCl 200 kg) C (NPK 25-7-7 672 kg. SP-36 445.56 ef 12.79 cd 9.33 cd 1.54 170 kg. KCl 122 kg) D (NPK 25-7-7 650 kg. SP-36 419.11 de 12.74 cd 9.29 cd 1.54 150 kg. KCl 100 kg) E (NPK 25-7-7 800 kg) 372.54 bc 11.55 bc 8.42 bc 1.41 F (NPK 24-8-8 700 kg. SP-36 470.94 f 14.32 e 10.44 e 1.69 145 kg. KCl 107 kg) G (NPK 24-8-8 650 kg. SP-36 445.99 ef 13.21 de 9.64 de 1.59 150 kg. KCl 100 kg) H (NPK 24-8-8 800 kg) 407.43 cd 12.5 bcd 9.12 bcd 1.51 BNT 5% 38.11 1.50 1.09 Keterangan: Bilangan pada kolom yang sama dan didampingi dengan huruf yang sama pula menunjukkan tidak berbeda nyata pada uji BNT 5%. Analisis usahatani menggunakan patokan harga jual cabai merah Rp 6000/kg

Hasil yang tinggi diperoleh pada perlakuan kombinasi pupuk NPK 24-8-8 650 kg + 150 kg SP-36 + KCl 100 kg (156 kg N, 75.55 kg P, dan 101.8 kg K) dan pupuk NPK 24-8-8 700 kg + SP-36 145 kg + KCl 107 kg (168 kg N, 78.77 kg P, dan 109.29 kg K). Kandungan P dan K yang tinggi pada perlakuan tersebut dapat menghasilkan hasil buah cabai merah per hektar yang tinggi. Menurut Mitra et al. (1990), penggunaan P yang meningkat pada awal tanam dapat memperbaiki kualitas buah. Kalium berperan dalam proses metabolisme air dalam tanah. mempertahankan turgor, membentuk batang yang lebih kuat. berpengaruh dalam proses fotosintesis. respirasi dan metabolisme tanaman, yaitu dalam pembentukan karbohidrat dan enzim (Ismunadji et al.. 1976). Hasil analisis ekonomi menunjukkan pemberian pupuk NPK dapat meningkatkan pendapatan petani (Tabel 3). Penggunaan pupuk NPK tunggal menghasilkan nilai R/C

rasio yang tidak berbeda dengan pupuk NPK 25-7-7 yaitu berturut-turut sebesar 1.40 dan 1.41. Hal tersebut menunjukkan pupuk NPK dapat dipergunakan untuk menggantikan pupuk NPK tunggal. Peningkatan pendapatan akan terjadi apabila pupuk NPK majemuk dikombinasikan dengan pupuk PK tunggal. Hal tersebut dapat diketahui dari nilai R/C rasio yang semakin meningkat pada aplikasi pupuk NPK majemuk dan pupuk PK tunggal (Tabel 6). Pupuk NPK 24-8-8 yang dikombinasikan dengan 2 dosis pupuk tunggal menghasilkan nilai R/C rasio yang tinggi, yakni sebesar 1.59 dan 1.69. Nilai R/C rasio tanaman cabai merah berkisar 1.28 sampai 1.69, termasuk rendah. Rendahnya nilai R/C rasio disebabkan produksi tanaman pada musim hujan lebih rendah dibandingkan musim kemarau. sedangkan biaya yang dikeluarkan lebih tinggi. Pada musim penghujan tanaman lebih mudah terkena hama dan memerlukan tingkat pengendalian yang lebih intesif sehingga meningkatkan biaya produksi. Peningkatan biaya produksi yang tinggi tanpa diimbangi oleh pendapatan yang cukup tinggi mengakibatkan nilai R/C rasio yang diperoleh menjadi rendah. KESIMPULAN DAN SARAN Kesimpulan
1. Pemberian pupuk NPK berpengaruh nyata pada jumlah daun, tinggi tanaman,

jumlah buah, bobot per buah, bobot buah per tanaman dan per satuan luas.
2. Perlakuan pupuk NPK tunggal menghasilkan pertumbuhan dan hasil yang tidak

berbeda dengan pupuk NPK majemuk. Kombinasi pupuk NPK 24-8-8 dan NPK 25-7-7 dengan pupuk PK tunggal menghasilkan pertumbuhan dan hasil cabai lebih tinggi. Pupuk NPK 24-8-8 700 kg + SP-36 145 kg + KCl 107 kg dan NPK 25-7-7 672 kg + SP-36 170 kg + KCl 122 kg (perlakuan F dan C) menghasilkan bobot buah per hektar yang tinggi, masing-masing sebesar 10.44 t.ha-1 dan 9.33 t.ha-1 . 3. Perlakuan pupuk NPK 24-8-8 700 kg + SP-36 145 kg + KCl 107 kg dan NPK 25-77 672 kg + SP-36 170 kg + KCl 122 kg (perlakuan F dan C) menghasilkan pendapatan yang tinggi dengan nilai R/C rasio sebesar 1.69 dan 1.54. Saran Pupuk NPK majemuk 25-7-7 dan 24-8-8 dapat dipergunakan untuk meng-gantikan pupuk NPK tunggal. Untuk meningkatkan pendapatan petani. pupuk NPK 25-7-7 dan NPK 24-8-8 dapat dikombinasikan dengan pupuk PK tunggal. DAFTAR PUSTAKA Direktorat Jenderal Hortikultura. 2006. Statistik Hortikultura 2005. Departemen Pertanian. Jakarta. Foth, H.D and L.M. Turk. 1972. Fundamentals of Soil Science. Fifth ed. John Wiley and Sons Inc. New York. Toronto. London. Hakim, N., M.Y. Nyakpa, A.M. Lubis, S.G. Nugroho, M.R. Saul, M.A. Diha, G.B. Hong dan H.H. Bailey. 1986. Dasar-dasar Ilmu Tanah. Universitas Lampung. p. 128241. Handayanto, E. 1998. Pengelolaan Kesuburan Tanah. FP Universitas Brawijaya. Malang. p. 52-56. Harijadi, S.S. 1989. Pengantar Agronomi. Gramedia. Jakarta. pp. 197.

Ismunadji, M. Sucipto dan Sayati. 1976. Peranan Kalium dalam Meningkatkan Produksi Tanaman Pangan. Problem dan prospek. Edisi khusus no. 2. LPPP. Bogor. Kuyfer, B.W and V.N. Lambeth. 1980. Slow-Release Nitrogen Studies with Spinach Grown in a Clay-Perlite-Vermiculite Medium. Hort. Science. 15(6): 799-800. Kusandriani. Y. 1996. Monograf No. 2. Pembentukan Hibrida Cabai. Balai Penelitian Tanaman Sayuran. Bandung. Mitra, S.K., M.K. Sadhu and T.K. Bose. 1990. Nutrition of Vegetable Crops. Naya Prokash. Calcutta. India. Patel, A.J and G.C. Sharma. 1978. Nitrogen Release Characteristics of ControlledRelease Fertilizers during a Four Month Soil Incubation. J. Amer. Soc. Hort. Sci. 103 (2): 364-366. Pew, W.D., B.R. Gardner and P.M. Bessey. 1983. Comparison of Controled Release Nitrogen uptake by Fall-Grown Head Lettuce. J. Amer. Soc. Hort. Sci. 108 (3): 448. Rosliani, R., N. Sumarni dan N. Nurtika. 2001. Penentuan Pupuk Mikro dan Macam Naungan untuk Tanaman Cabai di Musim Hujan. J. Hort. 11 (2) : 102-109. Suwandi dan Y. Hilman. 1992. Kombinasi Penggunaan Pupuk Urea, ZA dan TSP pada Tanaman Cabai. Bull. Penel. Hort. 24 (2): 118-128.

Anda mungkin juga menyukai