Anda di halaman 1dari 21

7

BAB II HASIL KEGIATAN DAN PELAKSANAAN PKM

2.1

Gambaran Umum UPTD Puskesmas DTP Jatiwangi 2.1.1 Gambaran Geografis UPTD Puskesmas DTP Jatiwangi Berdasarkan undang-undang dan pemerintahan Kabupaten

Majalengka secara administratif wilayah Kabupaten Majalengka terdiri dari 23 Kecamatan diantaranya adalah Kecamatan Jatiwangi. UPTD Puskesmas DTP Jatiwangi merupakan salah satu UPTD Puskesmas yang termasuk dalam wilayah Kecamatan Jatiwangi. Posisi geografis wilayah UPTD Puskesmas Jatiwangi terletak di Desa Mekarsari wilayah Kecamatan Jatiwangi. Secara administratif batas-batas wilayah UPTD Puskesmas DTP Jatiwangi terdiri dari : * Sebelah Barat : Wilayah UPTD Puskesmas Kasokandel.

* Sebelah Timur : Wilayah UPTD Puskesmas Loji * Sebelah Utara : Wilayah UPTD Puskesmas Ligung

* Sebelah Selatan : Wilayah UPTD Puskesmas Sukahaji Luas wilayah UPTD Puskesmas DTP Jatiwangi adalah 21,25 Km2, yang terdiri dari 8 ( Delapan) Desa yaitu Desa Jatisura, Surawangi, Sutawangi, Mekarsari, Cicadas, Jatiwangi, Burujulwetan, Burujulkulon.

Adapun Visi, Misi dan Motto dari UPTD Puskesmas DTP Jatiwangi adalah 1. Visi UPTD Puskesmas DTP Jatiwangi Kecamatan Jatiwangi Sehat dan Mandiri Tahun 2010 2. Misi UPTD Puskesmas DTP Jatiwangi Menyelenggarakan Pelayanan Kesehatan yang bermutu dan terjangkau oleh seluruh lapisan masyarakat 3. Motto UPTD Puskesmas DTP Jatiwangi Kesembuhan dan kepuasaan anda adalah tujuan kami 2.1.2 Kepadatan Penduduk / Demografi Jumlah penduduk wilayah UPTD Puskesmas DTP Jatiwangi pada tahun 2010 sebesar 45.430 jiwa, terdiri dari 23.446 jiwa perempuan atau sebesar 51.6% dan 21.984 jiwa laki-laki atau sebesar 48.4% dengan jumlah kepala keluarga 13.096 KK. Jumlah penduduk terendah Desa Mekarsari sebesar 3801 jiwa dan tertinggi Desa Burujulwetan sebesar 8676 jiwa . 2.1.3 Data Sarana Sarana yang dimaksud adalah sarana yang dapat membantu pelaksanaan kegiatan program terdiri dari seperti : 1 buah mobil Pusling, 6 buah motor, 4 buah komputer.

2.1.4 Tenaga Kesehatan Keadaan tenaga kesehatan di UPTD Puskesmas DTP Jatiwangi pada tahun 2010 sebanyak 51 orang dapat dilihat pada tabel di bawah ini:
Tabel. 2.1 Jumlah Tenaga UPTD Puskesmas DTP Jatiwangi Tahun 2010 No.
1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. 8. 9. 10. 11. 12. 13. 14. 15. 16.

Jenis Tenaga
Dokter Umum Dokter Gigi SKM S1 Farmasi D3 Kesehatan Lingkungan/AKL D3 Kebidanan Akbid D3 Keperawatan/Akper D1 Kebidanan Perawat Kesehatan (SPK) Tenaga Gizi /SPAG Tenaga SPPH Analis Kesehatan Farmasi/SMF Perawat Gigi SMA SMP Jumlah

Jumlah
3 1 1 1 1 10 7 4 9 1 1 1 1 2 7 1 51

Sumber Data : Data TU tahun 2010

2.2. Gambaran Khusus Program UPTD Puskemas DTP Jatiwangi dalam melaksanakan program P2M khususnya program Tuberculosis yang disentralkan dan unit pelayanannya berada di Kecamatan Jatiwangi. Sejak tahun 1995 program P2 TB Paru telah dilaksanakan dengan menggunakan system DOTS yang telah direkomendasikan oleh WHO

10

berkembang dengan seiring perkembangan program di bentuk GEDURNAS (Gerakan Terpadu Nasional) TB Paru, maka pemberantasan penyakit tuberculosis berubah menjadi program penangulangan tuberculosis (TB) Penanggulangan tuberculosis dengan sistem strategi DOTS dapat memberi angka kesembuhan yang sangat tinggi. Bank dunia menyatakan strategi DOTS merupakan strategi kesehatan yang paling cost-efective. Strategi DOTS sesuai dengan rekomendasi WHO yang terdiri dari 5 (lima) komponen : a. Komitmen politis dari para pengambil keputusan termasuk dukungan dana. b. Diagnosis TB Paru diawali dengan pemeriksaan dahak secara mikroskopis. c. Pengobatan dengan panduan obat anti tuberculosis ( OAT ) jangka pendek dengan pengawasan menelan obat ( PMO ). d. e. Kesinambungan persediaan OAT jangka pendek untuk penderita Pencatatan dan pelaporan secara baku untuk memudahkan pemantauan dan evaluasi program penanggulangan TB Paru. 2.2.1 Pengertian Tuberculosis Tuberculosis adalah penyakit menular langsung yang di sebabkan oleh Kuman TB (Mycobacterium Tuberculosis), sebagian besar kuman TB menyerang paru, tetapi dapat juga mengenai organ tubuh lanilla. Kuman ini berbentuk batang mempunyai sifat khusus yaitu tahan asam (BTA)

11

2.2.2 Penemuan Penderita Tuberculosis Jumlah Penemuan Suspek rate sebesar (753) 15,4% dari target 10%, Positivity rate (65) 8,2% dari target 10%, CDR (65) 127,5% dari target 70%, angka konversi (59) 80,6% dari target 80%, cure rate (22) 100% dari target 85%. Selain itu, kontak penderita TB paru BTA positif dengan gejala sama, harus di periksa dahaknya, seorang petugas kesehatan diharapkan menemukan tersangka penderita sedini mungkin, mengingat tuberculosis adalah penyakit menular yang dapat mengakibatkan kematian, semua tersangka penderita harus di periksa 3 spesimen dahak dalam waktu 2 (dua) hari berturut-turut yaitu sewaktu, pagi dan sewaktu (SPS). Penemuan penderita tuberculosis pada anak merupakan hal yang sulit, sehubungan dengan diagnosis tuberculosis anak didasarkan atas gambaran klinis atau gambaran radiology dan uji tuberculin. 2.2.3 Diagnosis Tubercullin ( TB ) Diagnosa TB paru pada orang dewasa dapat di tegakan dengan di temukannya BTA pada pemeriksaan dahak secara mikroskopis, hasil pemeriksaan dinyatakan positif apabila sedikitnya dua atau tiga specimen yang SPS BTA hasilnya positif, bila hanya satu spesimen yang positif perlu diadakan pemeriksaan lebih lanjut yaitu photo rontgen dada atau pemeriksaan SPS diulang. Kalo hasil rontgen mendukung TB, maka penderita di diagnosa sebagai penderita TB BTA positif, sedangkan kalau hasil rontgen tidak mendukung TB, maka pemeriksaan dahak SPS di

12

ulang. Apabila fasilitas memungkinkan, maka dapat di lakukan pemeriksaan lain misalnya biakan. Bila ketiga spesimen dahak hasilnya negatif ,diberikan anti biotik spektrum luas ( misalnya contrimoksasol atau amoksicilin ) selama 1-2 minggu. Bila tidak ada perubahan, namun gejala klinis tetap mencurigakan TB, ulangi pemeriksaan dahak SPS - Kalau hasil SPS positif didiagnosa sebagai penderita TB BTA positif - Kalau hasil SPS tetap negatif, lakukan periksaan foto rontgen dada, untuk mendukung diagnosa TB - Bila hasil rontgen mendukung TB, di diagnosa sebagai penderita TB BTA negatif rontgen positif . - Bila hasil rontgen tidak mendukung TB, penderita tersebut bukan TB UPK yang tidak memiliki fasilitas rontgen, penderita dapat di rujuk foto rontgen dada. Di Indonesia pada saat ini, uji tuberculin tidak mempunyai arti dalam menentukan diagnosa TB pada orang dewasa, sebab sebagian besar besar masyarakat udah terinfeksi dengan mycobacterium tuberculosis karena tingginya prevalesi TB, status uji tuberculin positif hanya menujukan bahwa yang bersangkutan pernah terpapar dengan Mycobacterium tuberculosis di lain pihak, hasil uji tuberculin dapat negatif meskipun orang tersebut menderita tuberculosis di lain pihak, hasil uji tuberculin dapat negatif meskipun orang tersebut menderita Tuberculosis, misalnya pada penderita HIV / AIDS, Malnutrisi berat, TB milier dan morbili.

13

Diagnosa pada anak yang paling tepat adalah dengan ditemuknnya kuman TB dari bahan yang di ambil dari penderita misalnya dahak, bilasan lambung, biopsi, dll. Tetapi pada anak hal ini sulit dan jarang di dapat, sehingga sebagian besar diagnosa TB anak didasarkan atas gambaran klinis, gambaran foto rontgen dada dan uji tuberculin, untuk itu penentuan TB anak dilakukan dengan system skoring sebagai berikut :
Tabel. 2.2 Diagnosa dan Tatalaksana Tb Anak

Sistem Skoring TBC anak


Parameter Kontak TB 0 Tidak jelas 1 Kontak TB 2 Laporan Keluarga BTA(-) Uji tuberculin Negatif Uji teberkulin Positif (10 mm atau ( 5mm pada Keadaan Imunosufresi Berat Badan gizi (berdasarkan KMS) Demam tanpa Sebab jelas Batuk Pembesaran kelenjar lipe 3 minggu 1 cm Jumlah > 1 tidak nyeri /keadaan Bawah garis Merah (KMS) Atau BB /u < 80% 2minggu Klinis gizi buruk (BB/u<60%) 3 BTA (+)

14

Koliaksila ,inguinal Pembekakan tulang sendi panggul ,lutut ,falang Foto thoraks rontgen Normal/tidak jelas Kesan TB Ada pembengkakan

Catatan : Diagnosa dengan sistem skoring ditegakan oleh dokter Jika di jumpai skrofuloderma ** pasien dapat langsung di diagnosa tuberculosis Berat badan di nilai saat pasien datang (Moment opname) Foto Rontgen Thoraks bukan alat diagnotik utama pada TBC anak Semua anak dengan reaksi cepat BCG harus di evaluasi dengan sistem skoring TB anak Anak di diagnosa TB jika jumlah skor 6 skor (skor maksimal 13) Pasien usia balita yang mendapat skor 5, dirujuk ke rumah sakit untuk di evaluasi lebih lanjut

15

ALUR TATALAKSANA TB ANAK DAPAT DILIHAT PADA BAGAN BERIKUT Skor 6

Beri OAT 2 bulan terapi, evaluasi

Respon (+) Terapi TB diteruskan

Respon (-) teruskan terapi TB rujuk ke RS untuk Di evaluasi lebih lanjut.

Jika ditemukan salah satu keadaan di bawah ini rujuk ke rumah sakit : 1. Foto rontgen menujukan gambaran milier, Kavitas, efusi, fleura. 2. Gibbus, koksitis 3. Tanda bahaya : kejang penurunan kesadaran, sesak napas. Penting di perhatikan di bawah bila pada anak dijumpai gejala-gejala berupa kejang, kesadaran menurun, kaku kuduk, benjolan di punggung maka ini merupakan tanda-tanda bahaya anak tersebut anak tersebut harus segera dirujuk kerumah sakit untuk penatalaksana selanjutnya. Penjaringan tersangka penderita TB anak bisa berasal dari keluarga penderita BTA positif (kontak serumah) masyarakat (kunjungan posyandu) atau dari penderita penderita yang berkunjung ke Puskesmas.

16

Gejala tuberculosis extra baru tergantung organ yang terkena misalnya nyeri dada terdapat pada tuberculosis pleura (pleuritis), pembesaran kelejar limfe supervisialis pada lymphadenitis TB dan pembengkakan tulang belakang pada spondilitis kerja dapat di tegakan dengan menyingkirkan kemungkinan penyakit lain. Ketepatan diagnosis tergantung ketersediaan alat-alat diagnostik. misalnya peralatan rontgen, biopsy, sarana pemeriksaan patologi anatomi. Seorang penderita TB ekstra paru kemungkinan besar juga penderita TB paru oleh karena itu perlu di lakukan pemeriksaan dahak dan foto rontgen dada, pemeriksaan ini penting untuk penentuan obat yang tepat . 2.2.4 Indikasi Pemeriksaan Photo Rontgen Dada Umumnya diagnosis TB baru dapat ditegakkan dengan

pemeriksaan dahak secara mikroscopis, namun pada kondisi tertentu dapat di lakukan pemeriksaan rontgen . Suspek dengan BTA negatif : setelah diberikan antibiotik

spektrum luas tanpa ada perubahan, periksa ulang dahak SPS. Bila hasilnya tetap negatif, dilakukan pemeriksaan foto rontgen dada. Penderita dengan BTA positif : hanya sebagian kecil dari penderita dengan hasil pemeriksaan BTA positif, perlu dilakukan pemeriksaan foto rontgen dada bila : a. penderita tersebut di duga mengalami komplikasi misalnya sesak nafas berat yang perlu penanganan khusus (contoh : pneumothotak, pleuritis eksudativat)

17

b.

Penderita

yang

sering

hemoptisis

berat

untuk

menyingkirkan

kemungkinan bronkiektasis c. Hanya 1 dan 3 spesimen dahak SPS hasilnya BTA positif. Pada kasus ini pemeriksaan foto rontgen dada di perlukan untuk mendukung diagnosis TB paru BTA positif . Catatan : Tidak ada gambaran foto rontgen dada yang khas untuk TB paru. Beberapa gambaran yang patut di curigai sebagai proses spesifik adalah infiltrate, kavitas, kalsivikasi dan fibrosis dengan lokasi dilapangan atas paru (apeks) Gambaran non-spesifik yang ditemukan pada rontgen dada pada seorang penderita yang di duga infeksi paru lain dan tidak menunjukan perbaikan pada pengobatan dengan antibiotik, ada kemungkinan penyebabnya adalah TB 2.2.5 Tipe Penderita Tipe penderita di temukan berdasarkan riwayat pengobatan sebelumnya ada beberapa tipe penderita yaitu : 1. Kasus baru Adalah penderita yang belum pernah diobati dengan OAT atau sudah pernah menelan OAT kurang dari satu bulan (30 dosis harian )

18

2. Kambuh (relaps) Adanya penderita tuberculosis yang dulunya pernah di obati tuberculosis dan telah di nyatakan sembuh kemudian kembali lagi berobat dengan hasil pemeriksaan dahak BTA positif 3. Pindahan (Transpers In ) Adalah penderita yang sedang mendapat pengobatan di suatu kabupaten lain kemudian pindah berobat ke kabupaten lain ini. Penderita pindah tersebut membawa surat rujukan/pindah (from TB 09 ) 4. Kasus berobat setelah lalai (pengobatan setelah default /drop out ) Adalah penderita yang sudah berobat paling kurang 1 bulan dan berhenti 2 bulan atau lebih, kemudian datang kembali berobat.

Umumnya penderita tersebut kembali dengan hasil pemeriksaan dahak BTA positif 5 . lain lain a. Gagal - Adalah penderita BTA positif yang masih positif yang masih tetap positif atau kembali menjadi positif pada akhir bulan ke 5 (satu bulan sebelum akhir pengobatan ) atau lebih. - Adalah penderita dengan hasil BTA negatif rongten positif menjadi BTA positif pada akhir ke 2 pengobatan. b. Kronis Adalah penderita dengan hasil pemeriksaan masih BTA positif setelah selesai pengobatan ulang kategori 2

19

2.2.6. Pengobatan 1. Jenis dan dosis OAT a. Insonisid (H) Dikenal dengan INH, bersifat bakterisid, dapat membunuh 90% populasi kuman dalam beberapa hari pertama pengobatan. Obat ini sangat efektif terhadap kuman dalam keadaan metabolic aktif yaitu kuman yang sedang berkembang dosis harian yang dianjurkan 5 mg/kg BB sedangkan untuk pengobatan intermiten 3 kali seminggu di berikan dengan dosis 10 mg/kg BB. b. Rifampisin (R) Bersifat bakterisid dapat membunuh kuman semidormant (persister) yang tidak dapat di bunuh oleh isoniasid dosis 10 mg/kg BB di berikan sama untuk pengobatan harian maupun intermiten 3 kali seminggu. c. Pirasinamid (z) bersifat bakterisid dapat membunuh kuman yang berada dalam sel dengan suasana asam .dosis harian yang di ajurkan 25 mg/kg BB, sedangkan untuk pengobatan intermiten 3 kali seminggu diberikan dengan dosis 35 mg/kg BB . d. Streptomisin (s) Bersifat bakterisid. Dosis harian yang dianjurkan 15 mg/kg BB sedangkan untuk pengobatan intermiten 3 kali seminggu di gunakan dosis yang sama. Penderita berumur 60 tahun dosisnya 0,75 gr/hari

20

e.

Etambutol (e) Bersifat sebagai bakteristatik .dosis harian yang dianjurkan 15 mg /kg BB sedangkan untuk pengobatan intermiten 3 kali seminggu di gunakan dosis 30 mg/kg BB .

2. Prinsip pengobatan Obat TB diberikandalam bentuk kombinasi dari beberapa jenis, dalam jumlah cukup dan dosis tepat selama 6- 8 bulan, supaya semua kuman (termasuk kuman persinter) dapat di bunuh. Dosis tahap intensif dan dosis tahap lanjutkan ditelan sebagai dosis tunggal, sebaiknya pada perut kosong, apabila panduan obat yang di gunakan tidak ade kuat (jenis, dosis dan jangka waktu pengobatan ), kuman TB akan berkembang menjadi kuman kebal obat (resisten). Untuk menjamin kepatuhan penderita menelan obat, pengobatan perlu di lakukan dengan pengawasan langsung (DOT = directly observed treatment) oleh seorang pengawas menelan obat (PMO). Pengobatan TB diberikan dalam 2 tahap yaitu dalam tahap intensif dan lanjutan. Tahap intensif Pada tahap intensif (awal) penderita mendapat obat setiap hari dan di awasi langsung untuk mencegah terjadinya kekebalan terhadap semua OAT, terutama rifampisin, bila pengobatan tahap intensif

tersebut di berikan secara tepat, penderita menular menjadi tidak menular dalam kurunwaktu 2 minggu sebagian penderita TB BTA

21

positif menjadi BTA negatif (konversi ) pada masa akhir pengobatan intensif. Pengawasan ketat dalam tahap intensif sangat penting untuk mencegah terjadinya kekebalan obat. Tahap Lanjutan. Pada tahap lanjutan penderita mendapat jenis obat lebih sedikit, namun jangka waktu yang lebih lama. tahap lanjutan penting untuk membunuh kuman persister (dormant) sehingga mencegah terjadinya kekambuhan . 3. Panduan OAT di Indonesia WHO dan IUALTD (international union against tuberculosis and lung disease) merekomendasikan panduan OAT standar, yaitu : Kategori 1 : Kategori 2 : Kategori 3: 2HRZ / 4H3R3 2HRZ / 6HE 2HRZ / 6HE 2HRZES / HRZE / 5H3R3E3 2HRZES / HRZE / 5HRE 2HRZE / 4H3R3 2HRZE / 4 HR 2HRZE / 6 HE

22

Program Nasional penanggulangan TB di Indonesia menggunakan panduan OAT : Kategori 1 : 2HRZE / 4H3R3 Kategori 2 : 2HRZES / HRZE / 5H3R3E3 Kategori 3 : 2HRZ / 4H3R3 Disamping ketiga kategori ini, disediakan panduan obat sisipan (HRZE) Panduan OAT ini disediakan dalam bentuk paket kombipak, dengan tujuan untuk memudahkan pemberian obat dan menjamin kelangsungan pengobatan sampai selesai .satu paket untuk penderita dalam satu masa pengobatan . Kategori 1 (2HRZE / 4H3R3 ) Tahap intensif terdiri dari isoniasid (H) Rifampisin Pyirasinamid (Z) dan Etambutol (E) obat-obat tersebut setiap hari selama 2 bulan (2HRZE). Kemudian di teruskan dengan tahap lanjutan yang terdiri dari Isonisid (H) dan Rifampisin (R) di berikan 3 (tiga ) kali dalam seminggu selama 4 bulan (4H3R3) obat ini di berikn untuk : Penderita TB paru BTA positif Penderita TB paru negatif rontgen positif yang sakit berat Penderita TB ekstra paru berat

Satu paket kombipak kategori 1 berisi 114 blister harian yang terdiri dari 60 blister HRZE untuk setiap intend dan 54 blister HR untuk tahap lanjutan, masingmasing di kemas dalam dus kecil dan di satukan dalam 1 dus besar.

23

Kategori 2 (2HRZES /HRZE/4H3R3H3) Tahap intensif di berikan selama 3 bulan yag terdiri dari 2 bulan dengan Isoniasid (H) Rifampisin (R), Irasinamid (Z) Etambutol (E) dan suntikan

steptomisin (S) setiap hari di UPK. Dilanjutkan 1 bulan dengan Isonisid, Rifampisin, Pirasinamid dan Etambutol setiap hari. Setelah itu diteruskan dengan tahap lanjutan selama 5 bulan dengan HRE yang di berikan 3 kali dalam seminggu .perlu di perhatikan bahwa suntikan streptomisin di berikan setelah penderita selesai menelan obat . Obat ini diberikan untuk : Penderita BTA positif yang kambuh (Relaps) Penderita gagal ( failure) Penderita dengan pengobatan setelah lalai (after default)

satu paket kombipak kategori 2 berisi 156 blister harian yang terdiri dari 90 blister HRZE untuk setiap intensif dan 66 blister HRE untuk tahap lanjutan, masing-masing dikemas dalam dus kecil dan di satukan dalam 1 dus besar. Disamping itu di sediakan 30 vial streptominic @ 1,5 gr dan perlengkapan pengobatan (60 spluit dan aquabidest) untuk tahap intensif . Kategori - 3 (4H3R3) Tahap intensif terdiri dari isoniasid (H) Rifampisin ( R) dan pyirasinamid (Z), obat-obat tersebut di berikan setiap hari selama 2 bulan (2HRZ ). Kemudian di teruskan dengan tahap lanjutan yang terdiri dari Isoniasid dan Ripampisin, diberikan 3 kali dalam seminggu selama 4 bulan.

24

Obat ini diberikan untuk : penderita baru BTA negatif dan rontgen positif sakit ringan . penderita extra paru ringan yaitu TB kelenjar limfe, pluritis eksudativa unilateral, TB kulit, TB tulang (kecuali tulang belakang) sendi kelenjar adrenal satu paket kombipak kategori 3 berisi 114 blister harian yang terdiri dari 60 blister HRZ untuk tahap intensif dan 54 blister HR untuk tahap lanjutan, masing-masing dikemas dalam dus kecil dan di satukan dalam 1 dus besar. OAT Sisipan Bila pada akhir tahap intensif pengobatan penderita baru BTA positif dengan kategori 1 atau penderita BTA positif pengobatan ulang dengan kategori 2, hasil pemeriksaan dahak masih BTA positif ,diberikan obat disipan (HRZE) setiap hari selama 1 bulan. 4. Pemantauan kemajuan hasil pengobatan TB pada orang dewasa Pemantauan kemajuan hasil pengobatan TB pada orang dewasa di laksanakan dengan pemeriksaan ulang dahak secara mikroskopis lebih baik di bandingkan dengan pemeriksaan radiologist dalam memantau kemajuan pengobatan. Untuk memantau kemajuan pengobatan dilakukan pemeriksaan specimen sebanyak 2 kali (sewaktu dan pagi ) hasil pemeriksaan dinyatakan negatif bila ke 2 spesimen tersebut negatif bila salah satu specimen positif, maka hasil pemeriksaan ulang dahak tersebut positif

25

.pemeriksaan ulang dahak untuk memantau kemajuan pengobatan dilakukan pada : a. Akhir tahap intensif Dilakukan seminggu sebelum akhir bulan ke 2 pengobatan penderita baru BTA positif dengan kategori 1 atau seminggu sebelum akhir bulan ke 3 pengobatan ulang penderita BTA positif dengan kategori 2 Pemeriksaan dahak pada akhir tahap intensif dilakukan untuk mengetahui apakah telah terjadi konversi dahak yaitu perubahan dari BTA positip menjadi negatif . pengobatan penderita baru BTA positif dengan kategor -1 : akhir bulan ke 2 pengobatan sebagai besar (seharusnya > 80 % ) dari penderita dahaknya sudah negatif (konversi) penderita ini dapat meneruskan pengobatan dengan tahap lanjutan .jika pemeriksaan ulang dahak pada akhir bulan ke 2 hasilnya masih BTA positif, pengobatan di teruskan dengan OAT disisipan selama 1 bulan. Setelah paket di sisipan satu bulan selesai, dahak di periksa kembali, pengobatan tahap lanjutan tetap di berikan meskipun hasil pemeriksaan ulang dahak BTA masih tetap positif . Pengobatan ulang penderita BTA positif dengan kategori 2 : jika pemeriksaan ulang dahak pada akhir bulan ke 3 masih positif, tahap intensif harus di teruskan kembali selama 1 bulan dengan OAT disisipan, setelah satu bulan diberi sisipan dahak di periksa kembali,

26

Pengobatan tahap lanjutan tetap di berikan meskipun hasil pemeriksaan dahak ulang BTA masih positif. Bila mungkin spesimen dahak penderita dikirim untuk di lakukan biakan dan uji kepekaan obat (sensitive tast) sementara pemeriksaan dilakukan penderita penerusan pengobatan tahap lajutan .bila hasil uji kepekaan obat menunjukan bahwa kuman sudah resisten terhadap 2 atau lebih jenis OAT, maka penderita tersebut dirujuk ke unit pelayanan spesialistik yang dapat menangani kasus resisten bila tidak mungkin ,maka pengobatan dengan tahap lanjutan di teruskan sampai selesai. Pengobatan penderita BTA negatif rontgen positif dengan kategori 3 (ringan) atau kategori 1 (berat) penderita BTA negatif, rontgen positif, baik dengan pengobatan kategori 3 atau kategori 1, tetap di lakukan pemeriksaan ulang dahak pada akhir bulan ke 2 bila hasil pemeriksaan ulang dahak BTA positif maka ada 2 kemungkinan : 1. suatu kekeliruan pada pemeriksaan pertama (pada saat diagnosa ) sebenarnya adalah BA positif tapi di laporkan sebagai BT negatif 2. penderita berobat akhir pengobatan seorang penderita yang didiagnosa sebagai penderita BTA negative dan di obati dengan kategori 3,yang hasil pemeriksaan ulang dahak akhir bulan ke 2 adalah BTA positif ,harus didaptar kembali sebagai penderita gagal BTA positif dan mendapat pengobatan dengan kategori 2 mulai dari awal bila pada pemeriksaan ulang dahak pada tahap akhir intensif penderita BTA negatif rontgen positif dahak menjadi BTA positif

27

penderita dianggap gagal dan di mulai pengobatan dari permulaan dengan kategori 2. b. Sebulan sebelum hasil pengobatan Dilakukan seminggu sebelum akhir bulan ke 5 pengobatan penderita BTA positif dengan kategori 1 atau semiggu sebelum akhir bulan ke 7 pengobatan ulang BTA positif dengan kategori 2 c. Akhir pengobatan Dilakukan seminggu sebelum akhir bulan ke 6 pengobatan penderita baru BTA positif dengan kategori 1 atau seminggu sebelum akhir bulan ke 8 pengobatan ulang BTA positif dengan kategori 2 Pemeriksaan ulang dahak pada sebulan sebelum akhir pengobatan dan akhir pengobatan (AP) bertujuan untuk menilai hasil pengobatan (sembuh atau gagal) 2.3. Pelaksanaan Program Sistem Pengobatan dengan memakai strategi DOTS yang telah dipandu oleh WHO yang sampai sekarang ini program pemberantasan penyakit menular tersebut merupakan strategi yang paling efektif. Pengobatan dapat dilakukan dengan panduan obat anti tuberculosis (OAT) jangka pendek dengan pengawasan langsung oleh pengawas menelan obat (PMO) yang ditunjuk sebagai pengawas minum obat untuk menjamin kepatuhan penderita dalam meminum obat.