Anda di halaman 1dari 13

MAKALAH PERIBADI PROBLEM BASED LEARNING ( PBL )

TUTORIAL 1

UNIVERSITAS KRISTEN KRIDA WACANA (UKRIDA)

NAMA : NORLIDA BINTI MOHD JAMIL NIM : 102010369 KELOMPOK : B7 JUDUL : BIOETIKA KEDOKTERAN KASUS : DOKTER TENAR

DAFTAR ISI

Pasal

Muka Surat

Bab 1 : Pendahuluan 1. Maksud Bioetika Kedokteran 2. Pengartian 4 prinsip prinsip Bioetika Kedokteran Beneficence Non Maleficence Autonomy Justice

2-3

Bab 2 : KASUS

4-6

Bab 3 : Pembahasan Latar Belakang Masalah Atas Masalah Batasan Masalah Perumusan Masalah 7 - 10

Bab 4 : Kesimpulan

11

Bab 4 : Daftar Pustaka

12

PENDAHULUAN
Menurut kamus kedokteran, bioetika kedokteran adalah ketentuan - ketentuan atau prinsip prinsip yang mengatur perilaku profesionalisme seorang dokter.

Etika dalam kedokteran tidak hanya diperlukan dalam membuat keputusan tapi diperlukan juga dalam mengemudi sikap dan perilaku dokter yang mengemban kewajiban berdasarkan akhlak atau moral yang menentukan praktek kedokteran pada pasien. Panduan dalam bersikap dan berperilaku tertuang dalam etika profesi. Menurut Frances Abel ( 1988 ) , bioetika adalah studi interdisipliner tentang problem problem yang disebabkan oleh kemajuan dalam ilmu biologi dan kedokteran , baik pada taraf mikrososial maupun makrososial dan tentang akibat yang dalam hal ini disebabkan suatu masyarakat dengan sistim nilainya ,pada masa kini dan dalam masa depan dekat maupun jauh.

Secara total, bioetika kedokteran atau kaidah dasar etika adalah aksioma yang mempermudah penalaran etik. Prinsip-prinsip itu harus spesifik. Pada prakteknya, satu prinsip dapat dibersamakan dengan prinsip yang lain. Tetapi pada beberapa kasus, karena kondisi berbeda, satu prinsip menjadi lebih penting dan sah untuk digunakan dengan mengorbankan prinsip yang lain. Kondisi terakhir disebut dengan prima facie.Konsil Kedokteran Indonesia, dengan mengadopsi prinsip etika kedokteran barat, menetapkan bahwa, praktik kedokteran Indonesia mengacu kepada 4 kaidah dasar moral (sering disebut kaidah dasar etika kedokteran atau bioetika) .

4 kaidah dasar moral tersebut adalah beneficence, non - maleficence, autonomy dan justice. Beneficence adalah tindakan dilakukan untuk kepentingan orang lain. Prinsip kebaikan mengacu pada kewajiban moral untuk bertindak demi keuntungan jika orang lain. Banyak tindakan kebaikan yang tidak wajib, tetapi prinsip kebaikan dalam petunjuk kami menegaskan kewajiban untuk membantu orang lain ( pasien ) lebih penting kepentingan mereka ( dokter ) yang sah.

Non - maleficence pula adalah menegaskan kewajiban untuk tidak menyakiti secara sengaja. Praktik kedokteran haruslah memilih pengobatan yang paling kecil risikonya dan paling besar manfaatnya. Misalnya segera melakukan pemeriksaan karena
2

kecurigaan. Kaidah ini pula paling terutama ketika waktu - waktu emergensi atau gawat darurat. Kaidah ini juga berarti tidak timbulkan bahaya atau cedera pada pasien secara fisik atau psikologis. Prinsip ini dapat di gambarkan dengan kata yaitu "primum non - nocere yaitu pertama jangan menyakiti. Prinsip ini menjadi satu kewajiban ketika pasien berada dalam kondisi yang sangat berbahaya atau berisiko kehilangan sesuatu yang penting seperti nyawa atau anggota badan. Prinsip ini juga menjadi kewajiban bila tindakan dokter tadi adalah yang paling efektif pada waktu itu dan manfaat pada pasien adalah lebih dibandingkan manfaat ke dokter.

Autonomy adalah kata yang berasal dari bahasa Yunani, Autos ("self") dan nomos ("rule") ("governance"), ("law"),. Autonomy dapat diartikan sebagai menghendaki, menyetujui, membenarkan, mendukung, membela dan membiarkan pasien demi dirinya sendiri sebagai makhluk bermartabat. Seorang dokter harus menghormati martabat manusia. Hal ini karena setiap individu harus dilakukan sebagai manusia yang berhak menentukan nasib diri sendiri. Dalam hal ini, pasien diberi hak untuk berpikir secara logis dan membuat keputusan sendiri. Jadi autonomy merupakan kebebasan bertindak diri seseorang dalam mengambil keputusan sesuai dengan rencana yang ditentukannya sendiri .

Istilah keadilan (justice) adalah memberi perlakuan yang sama kepada pasien untuk kebahagiaan pasien dan umat manusia. Tujuan prinsip ini adalah menjamin nilai tak berhingga dari setiap makhluk (pasien) yang berakal budi (aspek sosial). Keadilan juga adalah memberi sunbangan relatif sama atau kebutuhan mereka dan menuntut pengorbanan mereka secara relatif sama dengan kemampuan mereka. Keempat empat prinsip ini memainkan peranan yang penting kepada seorang dokter dalam memastikan mereka melakukan tindakan medis yang betul. Dan kaidah dasar bioetika (KDB) inilah yang menjadi landasan pertimbangan dalam mengambil keputusan oleh dokter dalam bekerja .

KASUS
Dr. Tenar

Dokter Tenar yang praktek di Jalan Ramai sejak 2 tahun yang lalu adalah seorang dokter umum yang memiliki pasien cukup banyak, terutama pada hari Sabtu dan Minggu. Dengan ruangan praktek yang cukup luas dr.Tenar menempatkan 2 bed dalam kamarprakteknya yang dibatasi dengan gorden sehingga dr.Tenar dapat leluasa memeriksa pasiennya darisatu tempat ke tempat lainnya. Namun disisi lain terdapat kesulitan bila ada pasien yang datangdengan kelainan kulit dimana ia harus memeriksa pasien dalam keadaan setengah terlanjang. Pada hari Sabtu minggu lalu, sudah ada 10 antrean pasien pada saat beliau datang. Dengantujuan memasyarakatkan budaya antre, dr.Tenar memeriksa pasien sesuai dengan nomor urutpendaftaran. Sesuai dengan dugaan, pasien pertama, kedua dan ketiga datang dengan keluhan batukpilek. Maka dr.Tenar pun memberikan puyer batuk pilek pada ketiganya serta nasehat untukistirahat cukup, banyak minum air putih serta mengkonsumsi buah-buahan. Pasien keempat sore itu adalah seorang ibu berusia 60 tahun diantar oleh anak lakilakinyadatang dengan keluhan nyeri uluhati yang menjalar ke punggung. Merasa tidak yakin dengankemungkinan sakit maag yang diderita ibu ini, maka dr.Tenar melakukan pemeriksaan EKG(elektrokardogram) karena kecurigaan terjadi penyempitan pembuluh darah jantung. Hasil yangdiperoleh tidak ada kelaianan. Melihat usia, kondisi fisik ibu yang cukup gemuk serta tekanan darah140/90 maka dr.Tenar memberikan surat rujukan beberapa pemeriksaan laboratorium. Dr. Tenarmerujuk ibu tersebut ke LAB KLINIK Titrasi Cepat , langganannya yang tak begitu jauh daritempat prakteknya. Dari Lab. Klinik ini dr. Tenar mendapat bingkisan kue yang ia amati ternyatasejajar jumlahnya dengan pasien yang dia kirim ke situ. Pernah dua bulan yang lalu, dengan 20pasien yang ia kirim, ia memperoleh vocher belanja Rp.300.000,- di supermarket terkenal dikotanya . Pasien pulang dengan membawa obat maag, penenang dan surat permintaan laboratorium serta diminta datang kembali setelah memperoleh hasil laboratorium. Setelah menyelesaikanadministrasi ibu tersebut masuk kembali ke kamar periksa karena merasa ada yang kurang yaitu belum disuntik seperti yang biasa ia dapatkan bila berobat ke dokter. Pada saat masuk, tanpasengaja ibu tadi melihat pasien laki-laki muda bertato di perut bawah sedang menutup kembalicelana dalamnya. Anak muda tadi tidak mengikuti nomor antrian
4

karena mengaku teman SMP dr.Tenar, sehingga zuster memasukkan lebih dahulu ke ruang sekat kiri, ruang tempat pasien yangmemerlukan perlakuan khusus. Ia sempat sepintas melihat celana dalam tadi bervlek-vlek putihkekuningan. Anak muda tadi memoloti si ibu, kemudian dr. Tenar meminta sang ibu keluar sebentarmenunggu giliran sehabis anak muda ini. Ibu yang agak cerewet tadi minta maaf, namun tanpa dosa ia nyrocos menanyakan apa penyakit anak muda tadi. Dr. Tenar agak terpana untuk menjawabpertanyaan awam si ibu ini. Ah, Cuma panas dalam di perut, jawab Tenar kalem. Saya suntiknya sambil berdiri saja dok, kalau tiduran takut ketularan penyakit kelamn anak tadi, cerocossang pasien. Pasien kelima dan keenam adalah seorang wanita muda dan setengah baya. Sebut saja MbaModis dan Ibu Menor. Mba Modis mengeluh beberapa hari ini badannya panas dingin, mual danbeberapa kali muntah. Sedangkan Ibu Menor mengeluh kepala pusing yang hilang timbul. Dia sudah beberapa kali datang ke dokter yang berbeda-beda dan dikatakan tidak apa-apa, hanya pusingbiasa. Dokter terakhir yang dia kunjungi menyarankan dilakukan CT scan kepala. Kemudian ia datang ke dr. Tenar dengan membawa hasil hasil CT scan. Surat keterangan yang terdapat di dalam amplop CT scan tersebut menyatakan kecurigaan adanya SOL (space occupying lesion). Tanpa memberikan penjelasan mengenai isi di dalam surat keterangan tersebut, dr. Tenar memberikan surat rujukan ke Rumah Sakit bagian Saraf. Sementara Ibu Menor, yang tak sempat dilakukan pengukuran tekan darahnya, langsung diberikan resep sakit kencing yang sudah langganan ia derita 5tahun ini. Dr. Tenar hanya memeriksa sekilas dan menyalin resep dari catatan medis yangdisodorkan zuster. Zuster telah mengingatkan dr. Tenar bahwa dua pasien berikutnya adalah Tn. Garputala, 46 tahun dengan muntah berak belasan kali dan satu lagi seorang pelajar putri, 15 tahun sebut saja Nn. Rana Omnivora yang ia kenal sebagai anak pertama OKB (Orang Kaya Baru) tetangganya, yanganggota DPRD salah satu parpol besar. Dr. Tenar baru saja menerima telepon ada pasienlangganannya yang gawat mau datang. Garputala adalah hansip setempat yang merasa tak afdol kalau belum dipegang dr. Tenar.Ia keluar kamar prakteknya dan melongok sebentar pasien tadi, memegang nadinya yang terasakecil dan lemah, mencubit kulit perutnya yang ternyata sudah mengendour. Zus carikan bajaj !instruksinya k Zuster setelah meyakinkan sang hansip agar cepat dirawat. Tak lupa ia menitipkanamplop berisi Rp. 25.000,- bagi sang hansip. Untuk transportnya, ya Pak Tala. Cepat sembuh dehsambil memberi sebungkus oralit dan lalu mengirmkannya ke RSU setempat. Saat mempersilahkan Nn. Rana masuk ke ruang sekat kanan, dr. Tenar terkaget karenaserombongan orang menyela masuk sambil menggendong pasien anak laki-laki 9 tahun, si Malthus bin Darwin yang tadi pagi ia khitan, ternyata datang kembali dalam
5

keadaan berdarah. Ia menolongMalthus dulu selama 45 menit, sementara Rana terpana sendirian karena Zuster juga sibukmembantu dr. Tenar mengatasi pendarahan si Malthus di ruang sekat kiri. Tenar tak sepat bicara keNn. Rana. Para pengantar Malthus justru yang meminta Rana bersabar. Tentu sambil mencuripandang, karena walaupun bukan bernama menor, Rana memang menor malam itu. Sambil bersimbah peluh, Tenar akhirnya mendengar keluhan Rana. Ia stress karena barusaja mengambil uang ayahnya tznpa izin demi menolong sahabatnya seumuran untuk aborsi diklinik Antah Berantah. Tenar menawarkan untuk menjadi mediator menyampaikan apa adanyakepada bapak Rana. Toh menurutnya dan menurut Rana, sang anggota DPRD ini cukup mampumenolong sahabat Rana. Biar uang saku saya dipotong deh dok asal papi tak nyap-nyap ama saya,kata si manis Rana. Begitulah keseharian dr. Tenar dalam membantu menyelesaikan masalah pasien-pasiennya sampai ia rela pulang larut malam

PEMBAHASAN
Berdasarkan kasus yang telah saya telusuri, ada beberapa permasalahan kesehatan yang dapat saya usulkan yang berhubungan dengan 4 kaidah dasar bioetika kedokteran, Masalah pertama adalah berkaitan dengan etika Dokter Tenar saat memperlakukan pasien pertama, kedua dan ketiga yang datang dengan keluhan batuk pilek. Dokter Tenar memberikan puyer batuk pilek ke ketiga - tiga pasiennya dan menasehatkan kepada mereka supaya istirahat dengan cukup, banyak minum air putih serta mengkonsumsi buah - buahan. Hal ini menunjukkan bahwa Dokter Tenar telah melakukan kaidah dasar bioetika (KDB) beneficence karena ia telah mengusahakan agar kebaikan lebih banyak dibandingkan dengan keburukan dengan menasehatkan pasiennya agar menjaga kesehatan dengan baik.

Selanjutnya, Dokter Tenar melakukan pemeriksaan EKG (elektrokrdiogram) ke pasien keempat sore yaitu seorang ibu berusia 60 tahun karena kecurigaan terjadi penyempitan pembuluh darah jantung. Tindakan Dr.Tenar ini dapat dikatakan melakukan KDB beneficence karena ia coba untuk meminimalisasikan akibat buruk dan mengusahakan agar kebaikan atau manfaatnya lebih banyak dibandingkan dengan keburukannya.

Permasalahan lainnya adalah Dr.Tenar memaukan keuntungan di saat dia menyelesaikan masalah pasien atau menjalankan prakteknya. Hal ini dapat dilihat pada kalimat "Dr. Tenar merujuk ibu tersebut ke Lab Klinik "Titrasi Cepat" langganannya yang tidak jauh dari tempat prateknya. Dari lab klinik ini Dr. Tenar mendapat bingkisan kue yang dia amati ternyata sesuai jumlahnya dengan pasien yang ia kirim ke situ. "Kalimat ini jelas menunjukkan bahwa Dr.Tenar itu telah melanggar KDB beneficence karena walaupun tindakan beliau ini demi kepentingan pasien namun ia juga memaukan keuntungan dari tindakannya itu.

Selanjutnya, permasalahan yang selanjutnya dapat dilihat sewaktu anak muda tadi tidak mengikuti nomor antrian karena mengaku teman SMP Dr.Tenar, sehingga zoster memasukkan lebih dahulu ke ruang sekat kiri, ruang tempat pasien yang membutuhkan perlakuan khusus. Hal ini menunjukkan bahwa Dr.Tenar telah bertentangan dengan KDB justice karena ia tidak memperlakukan pasien dengan adil dengan mendahulukan teman SMPnya sehingga temannya itu tidak perlu mengambil nomor dan antri.

Selanjutnya, permasalahan yang terjadi sewaktu melaksanakan prinsip bioetika kedokteran juga dapat dilihat pada saat ibu yang agak cerewet menanyakan apa penyakit yang berdampak oleh anak muda tadi. Kalimatnya seperti ini, "Ibu yang agak cerewet tadi minta maaf, namun tanpa dosa ia nyorocos menanyakan apa penyakitanak muda tadi. Dr. Tenar agak terpana untuk menjawab pertanyaan publik si ibu ini.Ah, Cuma panas dalam perut ". Di sini, Dr.Tenar dapat dikatakan melakukan KDB autonomy karena ia menjaga rahasia pasien dan menghargai privasi pasien walaupun pada hakikatnya ia telah berbohong.

Permasalahan kesehatan juga berlaku sewaktu ibu berusi 60 tahun menyatakan kemauannya untuk disuntik secara berdiri . Hal ini berdasarkan kalimat , Saya suntiknya sambil berdiri saja dok, kalau tiduran takut ketularan penyakit kelaminnya anak tadi , cerocos sang pasien . dalam permasalahn ini Dr. Tenar melakukan KDB autonomy karena beliau membiarkan pasien dewasa kompeten mengambil keputusan sendiri dan menghargai nasib sendiri, serta menghargai martabat pasien .

Permasalahan berikutnya adalah Dr. Tenar tidak menjalankan prosedur yang seharusnya ketika dia melihat hasil CT scan. Dia layak menjelaskan kepada ibu menor tersebut akan kondisi kesehatannya sekarang dan informasi apa yang dia temukan dari hasil CT scan tersebut. Namun Dr. Tenar tidak melakukan hal. Hal ini dapat dilihat pada kalimat ini, "Tanpa penjelasan tentang isi di dalam surat keterangan tersebut, Dr. Tenar memberikan surat referensi ke Rumah Sakit bagian Saraf. Dalam hal ini, Dr. Tenar dikatakan melakukan pelanggaran KDB otonomi karena ia tidak melaksanakan informed consent dan tidak meminta persetujuan pasien untuk merujuk hal ini ke Rumah Sakit Bagian Saraf.

Sementara Ibu menor, tidak sempat dilakukan pengukuran tekanan darahnya, langsung diberikan resep sakit kencing yang sudah langganan ia derita selama 5 tahun ini. Dr.Tenar hanya memeriksa sekilas dan menyalin resep dari catatan medis yang disodorkan zoster. "Kalimat ini membuktikan bahwa Dr. Tenar telah melakukan KDB non - maleficence karena Dr. Tenar mengobati secara tidak profesional dan ia tidak mencegah pasien dari bahaya. Dia tidak melakukan pemeriksaan secara rinci dan ini dapat menyebabkan penyakit yang ada pada waktu itu tidak dapat diketahui. Namun begitu, dalam hal ini, Dr. Tenar juga boleh dikatakan melanggar KDB beneficence juga karena beliau hanya memandang pasien sebagai obyek .

Selanjutnya, permasalahan kesehatan juga dapat dilihat pada kondisi Garpatula yang
8

darurat. Ini dibuktikan oleh kalimat, "Garpatula adalah hansip setempat yang merasa tidak afdol kalau belum dipegang Dr. Tenar. Ia melonggok sebentar pasien tadi, memegang nadinya yang terasa kecil dan lemah, mencubit kulit perutnya yang ternyata sudah mengendur. "Zus carikan bajaj! "Instruksinya ke zoster setelah meyakinkan sang hansip agar cepat diobati." Dari ini, kita dapat mengatakan bahwa Dr. Tenar telah menerapkan KDB beneficence karena ia coba untuk mengusahakan agar kebaikan lebih banyak dibandingkan dengan keburukannya dan beliau mempunyai paternalisme bertanggung jawab serta berkasih sayang . Dia berusaha agar Garputala mendapat perawatan dengan kadar yang cepat karena kondisinya perlu mendapatkan rawatan yang segera . Dibimbangin jika tidak dirawat dengan cepat, penyakitnya akan semakin parah.

Selain itu, permasalahan lain yang lahir dari penelusuran kasus ini adalah Dr. Tenar menerapkan KDB beneficence sewaktu beliau menghadapi pasien yang agak berumur yaitu 46 tahun dan pasiennya ini juga hanya bekerja sebagai hansip. . Pernyataan ini dapat dilihat pada kalimat "Tak lupa ia menitipkan amplop berisi Rp 25.000 - untuk hansip. Untuk transpornya, ya Pak Tala. "Dalam hal ini, beliau mengutamakan Altruisme. Dr.Tenar rela berkorban dari segi keuangan demi kepentingan orang lain (pasien).

Dr. Tenar menolong pasien yang berada dalam kondisi gawat darurat. Hal ini dibuktikan oleh kalimat, "Ia menolong Malthus dulu selama 45 menit, sementara Rana terpana sendirian karena zoster jug sibuk membantu Dr. Tenar mengatasi pendarahan si Malthus di ruang sekat kiri. Permasalahan seperti ini menunjukkan bahwa Dr. Tenar menerapkan kaidah dasar bioetika non - maleficence karena ia menolong pasien emergensi dan mengobati pasien yang luka. Beliau sanggup meninggalkan pasien yang telah ada karena merasakan pasien yang baru datang itu membutuhkan pengobatan dengan segera untuk menghindari terjadinya hal bahaya seperti kekurangan darah akibat dari pendarahan yang banyak.

Dr. Tenar tidak berlaku adil kepada Rana ketika beliau meninggalkan Rana sendirian karena ingin merawat pasien gawat darurat. Ini dapat dibuktikan dengan kalimat, "Tenar tak sempat bicara ke Nn. Rana. Para pengantar Malthus justru yang meminta Rana sabar. Dalam hal ini jelas menunjukkan bahwa Dr. Tenar melanggar KDB Justice karena ia tidak menghargai hak hukum pasien. Hak hukum pasien disini berarti hak konsumerisme untuk Rana sebagai pasien yang seharusnya dilayanin duluan karena dia datang duluan. Rana berhak mendapat

penjelasan dari Dr.Tenar diatas tindakan Dr. Tenar meninggalkannya dengan serta merta. Namun Dr.Tenar tidak melakukannya.

Permasalahan kesehatan yang dilakukan oleh Dr. Tenar adalah Dr. Tenar telah setuju menjadi sebagai mediator antar Rana dan bapaknya dalam menjelaskan kehilangan uang yang mana uang itu telah digunakan oleh Rana untuk membantu sahabatnya melakukan aborsi. Hal ini dapat dibuktikan dengan kalimat, "Toh menurutnya dan menurut Rana, sang anggota DPRD ini cukup mampu menolong sahabat Rana". Dalam kondisi ini, Dr. Tenar bisa dikatakan melakukan pelanggaran KDB justice karena ia tidak menghargai hak orang lain. Maksud hak orang lain disini adalah hak untuk bayi sahabat Rana untuk hidup.

Selain itu, Dr. Tenar telah mengutamakan Altruisme dalam perilakunya sebagai dokter karena ia sanggup pulang larut karena ingin menyelesaikan masalah pasiennya. Hal ini jelas menunjukkan bahwa Dr. Tenar telah menerapkan KDB beneficence karena beliau memandang pasien tak hanya sejauh menguntungkan dokter dan memaksimalisasikan pemuasan kebahagiaan pasien .

10

KESIMPULAN
Berdasarkan pembahasan yang telah saya lakukan di atas, ternyata Dr. Tenar telah menggunakan seluruh prinsip bioetik yaitu beneficence, non - maleficence, autonomy dan justice. Namun begitu, ada juga sebagian dari prinsip bioetika tersebut telah dilanggar oleh Dr. Tenar. Secara total, pembahasan ini dapat dirumuskan dengan mengatakan bahwa Dr. Tenar banyak menerapkan kaidah dasar moral beneficence dalam menyelesaikan masalah pasien - pasiennya. Pernyataan ini dapat dibuktikan dengan jumlah permasalahan yang diselesaikan oleh Dr. Tenar dengan menggunakan kaidah dasar moral beneficence adalah melebihi penerapan prinsip bioetika yang lain.

Sedangkan, prinsip bioetika yang paling banyak dilanggar oleh Dr. Tenar adalah prinsip justice. Ada 3 masalah yang menyebabkan Dr. Tenar terpaksa melanggar prinsip justice ini. Semuanya seperti yang dicatat dalam pembahasan masalah di awal lembaran.

Seperti yang kita sendiri ketahui bahwa untuk berlaku adil terhadap sesuatu hal adalah sangat sulit dilakukan. Jadinya, wajarlah dalam keempat prinsip ini, prinsip justice adalah yang terpilih untuk menjadi prinsip yang banyak terjadi pelanggaran. Untuk berlaku adil ini, kita harus menelusuri banyak hal sebelum menjadikannya sebagai suatu hasil yang tetap.

Kesimpulannya, dilema pada kasus ini adalah tindakan apa yang sebaiknya diambil oleh dokter. Hasil yang diambil harus berdasarkan keputusan yang terjadi dilandasi niat yang murni untuk melakukan kebaikan. Pasien sebagai orang yang memiliki penyakit atau masalah kesehatan harus mendapat pelayanan kesehatan yang terbaik, terutama pasien yang berada dalam keadaan gawat darurat. Segala akibat yang timbul akibat tindakan yang diambil harus dipertanggung jawabkan.

11

DAFTAR PUSTAKA
Bahan kuliah (blok 1 modul 1, "Who Am I") Perspektif Etika Baru . Penulis : K.Bertens Bagaimana Dokter Berpikir dan Bekerja . Penulis : Prof.Dr.dr Daldiyono http://g-sehat.blogspot.com/2009/12/bioetika.html http://keteksuper.blog.friendster.com/2008/10/humaniora-2-2/ http://www.scribd.com/doc/24874678/Etika-Kedokteran-Dr-ulfa

12