Anda di halaman 1dari 57

LUPUS NEFRITIS

Dara Dasawulansari Syamsuri Ike Wahyu Triastuti M. Miftahul Firdaus Rusannah bt. Abu Samah

dr. C. Singgih Wahono, Sp.PD

PENDAHULUAN

SLE: penyakit autoimun yang kompleks, penyebab belum jelas


(Buyon, 2003)

Insiden: meningkat 3x sejak tahun 19601970 an di AS (Michelle P,


2005)

RSUP Cipto : 1.4% kasus SLE, RS Hasan Sadikin 10.5% tahun 2010 (Wahyudi, 2004)

Diagnosis banding yang luas, pengembangan perawatan dan pengobatan (Buyon, 2008)

LAPORAN KASUS

Identitas Pasien Nama Jenis Kelamin Umur Alamat Pekerjaan Status Etnis/Suku Agama MRS No Reg

: Ny. S : Wanita : 28 tahun : Rembang Pasuruan : Tidak bekerja (Mantan penjahit) : Menikah : Jawa : Islam : 21 Maret 2012 : 1208663

Anamnesis
Keluhan utama: bengkak pada kedua tungkai Pasien mengeluh bengkak pada kedua tungkai sejak 3 bulan yang lalu, memberat saat berdiri dan beraktivitas, berkurang saat istirahat dan posisi kaki lebih tinggi. Bengkak pada kedua tungkai memberat sejak satu minggu yang lalu, bila berdiri harus dibantu sehingga mengganggu aktivitas sehari-hari. Terdapat bengkak di seluruh tubuh hingga wajah.

Anamnesis
Perut membesar sejak tiga bulan yang lalu dan semakin membesar dengan cepat sejak satu minggu ini. Pembesaran perut tidak diperberat aktivitas dan tidak semakin ringan. Tidak didapatkan gejala mual muntah maupun nyeri perut. Saat makan perut terasa penuh. BAB tidak ada gangguan.

Anamnesis
Pasien mengeluh sesak sejak 7 hari yang lalu, terutama saat duduk karena perut yang membesar menekan ke dada. Sesak tidak dipengaruhi aktivitas berat, ringan, maupun saat istirahat. Saat pasien berbaring terasa lebih enak. Tidur cukup dengan 1 bantal. Pasien merasakan lemas sejak 3 bulan yang lalu, disertai pucat dan tidak disertai pusing. Aktivitas terganggu sehingga pasien sering hanya terbaring lemas. Pasien mudah lelah saat aktivitas.

Anamnesis
Pasien juga mengeluh batuk sejak 3 minggu yang lalu, yang memburuk dalam tiga hari ini. Batuk terjadi kapan pun dan tidak diperberat dengan aktivitas, suhu yang dingin, maupun debu, tidak minum obat dan membaik saat beristirahat. Terdapat dahak kental berwarna putih. Tidak ada keluarga maupun kerabat yang mengalami gejala yang serupa. Pasien mengeluh sejak tahun 2009 bila terkena cahaya kulit wajah menjadi kemerahan dan terasa terbakar, setelah 2 minggu warnanya berubah menjadi kehitaman.

Anamnesis
Terdapat sariawan yang terjadi sewaktuwaktu, tanpa diketahui sebabnya. Tidak nyeri dan sembuh tanpa pengobatan. Pasien didiagnosa SLE sejak Maret 2009 di RSSA. Saat itu pasien mengeluh timbul bercak putih di tangan dan atas bibirnya yang tidak sembuh-sembuh setelah melahirkan anak kedua. Penyakit kulit berupa benjolan berisi cairan dan nanah kemudian meletus sendiri sehingga terdapat timbul skar berwarna putih. Pasien juga mengeluhkan kemerahan pada wajahnya saat terkena sinar matahari yang kemudian berubah warnanya menjadi kehitaman. Selain itu, pasien juga mengeluh nyeri sendi, lemas, pusing, pucat berharihari, rambut rontok.

Anamnesis
Pasien rutin kontrol rawat jalan satu kali setiap bulan di Poli Reumatologi RSSA sejak Maret 2009. Pengobatan yang diberikan adalah Methyl prednisolone 8-0-0 mg dan Lisinopril 1 x 5 mg. Pasien sudah dilakukan ANA test dan hasil positif. Pada bulan Januari 2012, pasien kembali rawat inap di RSSA dikarenakan keluhan kaki dan perut bengkak, serta pro biopsi ginjal. Pasien rawat inap selama 7 hari. Pasien juga mengeluhkan frekuensi dan kuantitas kencing berkurang. Sejak saat itu pasien didiagnosa Nefritis Lupus kelas IV. Pasien mendapat terapi drip Cyclophospamid 750 mg, Methyl prednisolone 8-0-0 mg dan Lisinopril 1 x 5 mg.

Anamnesis
Pada awal Maret 2012, pasien kembali rawat inap di RSSA dikarenakan sariawan yang tak kunjung sembuh. Sariawan disertai nyeri menelan dan nafsu makan berkurang. Selain itu juga terdapat batuk sejak 2 minggu SMRS, terutama saat malam hari, dahak berwarna putih kental dan tanpa demam. Kaki dan perut masih bengkak. Pasien mendapat terapi pulse Methyl prednisolone 500 mg selama 3 hari dan dilanjutkan Methyl prednisolone 3 x 16 mg. Dari hasil pemeriksaan sputum didapatkan hasil bakteri batang gram negatif dan sensitif kuat terhadap Levofloxacin. Setelah pulang, kaki semakin bengkak dan perut membesar dengan cepat, kemudian rawat inap hingga sekarang.

Timeline
Waktu Diagnosis Pengobatan Maret 2009 SLE Oktober 2009 November 2009 SLE dan Lupus Nefritis Methyl prednisolone 3 x 16 mg

SLE dan Lupus Nefritis

Methyl prednisolone 3 x 16 mg Cyclophospamid 2 x 50 mg Lisinopril 1 x 5 mg Methyl prednisolone 16-16-8mg tap off Cyclophospamid 1 x 50 mg Lisinopril 1 x 5 mg Drip Cyclophospamid 750 mg Methyl prednisolone 8-0-0 mg Lisinopril 1 x 5 mg

Januari 2012

SLE dan Lupus Nefritis

Januari 2012

Pro biopsi ginjal Nefritis Lupus kelas IV

Anamnesis
Riwayat Penyakit Dahulu: Tidak ada. Riwayat Keluarga: Pasien merupakan anak ketiga dari 5 bersaudara, semua saudaranya menyangkal mengalami penyakit yang serupa, begitu pula kedua orang tuanya. Masingmasing orang tua pasien berusia 60 dan 50 tahun. Pasien memiliki dua orang anak, laki-laki usia 8 tahun dan perempuan usia 3 tahun, sehat dan tidak memiliki penyakit yang sama.

Anamnesis
Riwayat Pribadi: Riwayat alergi: pasien tidak punya alergi Riwayat imunisasi: pasien tidak ingat mengenai imunisasi. BCG test (+) Hobi: menjahit Olahraga: sejak sakit tidak pernah olahraga Kebiasaan makan: nafsu makan turun sejak sariawan yang berulang (3 kali 2 sendok, dengan nasi, sayur kangkung / sawi / bayam, tahu dan tempe), pasien minum air 1 botol air mineral besar (1,5 liter) Merokok: pasien tidak merokok, sedangkan suami merokok. Minum alkohol: pasien tidak mengonsumsi alkohol Hubungan seks: tidak berhubungan dengan suami sejak sakit di bulan Januari 2012.

Pemeriksaan Fisik (tanggal 21 Maret 2012)


Keadaan Umum GCS Kesan sakit Gizi Berat badan Tinggi badan BMI Tekanan darah Nadi RR Tax

: 456 : Tampak sakit sedang : Kesan gizi cukup : 53 kg : 150cm : 23,5 kg/m2 : 120/80 mmHg : 94 x / menit : 28 x / menit : 37,2 oC

Kepala Leher Thorax Cor/

: anemis +/+, edema periorbita +/+ : JVP R+0 cm : : Ictus invisible palpable at ICS V MCL S LHM ~ ictus, RHM: PSL D S1, S2 single, murmur (-) Pulmo/ : Simetris, SF: D=S Suara nafas V V Rhonki + + Wheezing - V V + + - V V + + - Abdomen: distended, BU + N, liver span 8 cm, traubes space tymphani, shifting dullness + Ekstremitas: pitting edema + + + +

Pemeriksaan Penunjang
Hasil Pemeriksaan Laboratorium Leukosit Hb MCV MCH PCV Thrombosit Ureum 10.720 6.9 76,8 24,6 21.5 167.000 35.1 /l gr/dl mm3 pg % /L mg/dL Satuan

(tanggal 21 Maret 2012)

Angka Normal 3.500 10,000 11.0 16.5 85-95 28-32 35 - 50

Hasil Tinggi Rendah Rendah Rendah Rendah

150,000 390,000 Normal

10-50

Normal

Pemeriksaan Penunjang
Hasil Pemeriksaan Laboratorium Na+ 141 Satuan Angka Normal 136 145 Mmol / L

(tanggal 21 Maret 2012)

Hasil Normal

K+
ClAlbumin Cholesterol total TG HDL LDL

3.95
114 1.47

Mmol / L
Mmol / L g/dL

3.5 5.0
98 106 3.5-5.5

Normal
Tinggi Rendah

393 482 27 274

mg/dL mg/dL mg/dL mg/dL

130-220 34-143 >50 <100

Tinggi Tinggi Rendah Tinggi

Blood Gas Analisa

Temp

36.6 C

O2 2lpm

PH
PCO2 PO2

7.431
22,2 95,4

7.35-7.45
35 45 mmHg 80 100 mmHg 21 28 m mol/L > 95 % (-3) - (+3) m mol/L

HCO3 O2 sat Art BE

14,9 97,8 -9,6

Kesimpulan : Asidosis metabolik

Urinalisis
Hasil SG PH Leucocyte Nitrite Protein Glucose Erythrocyte 1.020 6 10 x Epithelia Cylinder Hyaline Granular Leukocyte Erythrocyte 40 x + Hasil

+
4+ 4+

Keton urine
Urobilinogen

Eritrosit
Leukocyte

5-8/hpf 2-3/hpf

POMR
CUE AND CLUE
Wanita/28 tahun Anamnesa: Tungkai dan kaki bengkak Pembesaran perut Sesak Badan lemas Fotosensitivitas Sariawan Riwayat discoid rash Sejak tahun 2009 didiagnosa SLE dari hasil ANA test positif Pemeriksaan fisik: Konjungtiva anemic Edema periorbita Ronchi + + + + + + Ascites Pitting edema + + + +

PL
1. SLE dan Lupus Nephritis kelas IV

Idx

PDx
-

PTx
O2 2-4 lpm NC Balance cairan negative 500 cc/hari IVFD NS 0,9% 10 tpm Diet 2000 kkal / hari, protein 0,8 g/kg/hari + esbach Inj. Furosemide 40-0-0 mg Po - Metil prednisolone 3 x 16 mg - Simvastatin 0-0-20 mg - ASA 1 x 80 mg - Omeprazole 2 x 20 mg - KALK 3 x 1 - Paracetamol 3 x 500mg k/p - Folic Acid 1 x 3 tab - Vit B6 B12 3 x 1 tab Transfusi Albumine 20% 100 cc

CUE AND CLUE

PL

Idx

PDx

PTx

Laboratorium Hemoglobin: 6.9 Albumin: 1.47 Kolestrol total: 393 Trigliserida: 482 HDL: 27 LDL: 274 UL: prot 4+ Eritrosit: 5-8/hpf BGA: asidosis metabolik Ren biopsy: Lupus Nefritis Kelas IV

Wanita/28 tahun Anamnesa: Badan lemas Pemeriksaan fisik: Konjungtiva anemic Laboratorium Hemoglobin: 6.9

2. Anemia Hipochrom Mycrocytair

2.1 Chronic disease 2.2 Anemia hemolytic 2.3 Anemia Defisiensi Fe

Coomb test SI TIBC Hapusan darah

Terapi setelah penegakkan diagnosa

CUE AND CLUE

PL

Idx

PDx

PTx

Wanita/28 tahun Anamnesa: Batuk sejak 3 minggu yang lalu, sebelum masuk RS Dahak (+) warna putih, kental Sesak Pemeriksaan Fisik: RR: 28 x / menit Ronchi di seluruh lapang paru Laboratorium: Leukosit 10.720 BGA: Asidosis metabolik Foto Thorak Xray: Tampak infiltrat pada paricardial dextra sinistra, corakan vaskuler normal. Kesimpulan: pneumonia Pemeriksaan sputum (8-3-12): Bakteri Serratia irquefacieus, sensitive kuat Levofloxacin, cefotaxim, gentamycin

3. Pneumoni CAP

3.1 Bakteri

Serratia irquefacieus

PO: - Levofloxacin 1 x 750 mg - GG 3 x 1 tab

FOLLOW UP
Tanggal Subjektif 22 Maret 2012 Sesak Objektif Assessment 1. SLE dan Lupus Nephritis kelas IV 2. Anemia Hipochrom Mycrocytair 1. Chronic Disease 2. Anemia Defisiensi Fe 3. Pneumoni CAP 4. Acidosis metabolic 4.1 Pneumoni CAP Planning PDx: - Analisa cairan asites, kultur dan sensitivity cairan asites - Analisa cairan pleura, kultur dan sensitivity cairan pleura PTx: - O2 2-4 lpm NC - Balance cairan negative 500 - IVFD NS 0,9% 10 tpm - Diet 2000 kkal / hari, protein 0,8 g/kg/hari + esbach - Inj Furosemide 40-0-0 mg IV - Inj Ceftriaxone 2 x 1 gr (skin test) T: 100/70 Batuk N: 84 x/menit berdahak RR: 24 x/menit K/L: an +/+, edema periorbita + Pulmo/ v v Rh - bv bv ++ bv bv ++ Abd: distended, undulasi +, shifting dullness +, hernia umbilikalis + Ext: edema + + + + pitting edema

FOLLOW UP
Tanggal
Subjektif

Objektif Coomb test (-) BGA pH : 7.307 pCO2 : 19,6 pO2 : 181,2 HCO3 : 9,9 O2 sat : 96,7 Base exc : -16,6

Assessment -

Planning PO - Levofloxacin 1 x 750 mg - Methylprednisolon 3 x 16 mg - Folic Acid 1 x 3 tab - Vit B6 B12 3 x 1 tab - Simvastatin 0 20 mg - ASA 1 x 80 mg - Omeprazole 2 x 20 mg - KALK 3 x 1 - GG 3 x 1 tab - Paracetamol 3 x 500mg k/p - Transfusi albumin 20 % 100 cc PMo: observasi vital sign, keluhan

22 Maret 2012

FOLLOW UP
Tanggal
Subjektif

Objektif

Assessment

Planning

23 Maret 2012

RR: 24 x / menit Pulmo/ v v rh - bv v +bv bv ++

1. SLE dan Lupus PDx: Nephritis kelas IV - DL,Ur/Cr, SE, 2. Anemia Hipochrom Albumin, UL, BGA Mycrocytair 1. Chronic Disease 2. Anemia Defisiensi Fe 3. Pneumoni CAP perbaikan 4. Acidosis metabolic

Tanggal

Subjektif

Objektif

Assessment 1. SLE dan Lupus Nephritis kelas IV perbaikan 2. Anemia Hipochrom Mycrocytair 1. Chronic Disease 2. Anemia Defisiensi Fe 3. Pneumoni CAP perbaikan 4. Acidosis metabolic perbaikan

Planning

24 Maret 2012

Sesak - Pulmo/ v v rh - v v -bv bv ++ DL: 4300/5,7/17,1/175000 Ur/Cr: 68,6/1,12 SE: 130/3,56/116/4,3/4,44 Albumin: 1,41 BGA pH : 7.368 pCO2 : 20,9 pO2 : 94,6 HCO3 : 15,9 O2 sat : 97,6 Base exc : -13,6 Urinalisis SG/BJ : 1,025 pH :6 Prot/alb : 2+ Eritrosit : 4+ 40 Eri : 4-8 40 Leko : 2-3

FOLLOW UP
Tanggal
Subjektif

Objektif

Assessment

Planning

26 Maret 2012

Pulmo/ v v rh - v v -v bv -+ Fe : 93 SI : 106 TIBC : 88% Kolestrol total: 504 Trigliserida: 1090 HDL : 28 LDL : 275 Ur / Cr : 62,8 / 1,02 Protein Esbach: 3 g /hari

1. SLE dan Lupus PTx: Nephritis kelas Venflon IV perbaikan Captopril 3 x 6,25 mg 2. Anemia Hipochrom Mycrocytair 1. Chronic Disease 2. Anemia Defisiensi Fe 3. Pneumoni CAP perbaikan

Tanggal

Subjektif

Objektif

Assessment

Planning

27 Maret 2012

1. SLE dan Lupus PDx: albumin Nephritis kelas IV perbaikan 2. Anemia Hipochrom Mycrocytair 1. Chronic Disease 2. Anemia Defisiensi Fe 3. Pneumoni CAP perbaikan

Tanggal

Subjektif

Objektif Albumin: 1,61

Assessment 1. SLE dan Lupus Nephritis kelas IV perbaikan 2. Anemia Hipochrom Mycrocytair 1. Chronic Disease 2. Anemia Defisiensi Fe 3. Pneumoni CAP perbaikan

Planning PDx: kultur sputum dan sensitivitas ulang, Rheumatoid factor, comb test PTx: Tranfusi Albumin 20%

29 Maret 2012

FOLLOW UP
Tanggal
Subjektif

Objektif

Assessment

Planning

31 Mual + Maret 2012

1. SLE dan Lupus Nephritis kelas IV perbaikan 2. Anemia Hipochrom Mycrocytair 1. Chronic Disease 2. Anemia Defisiensi Fe 3. Pneumoni CAP perbaikan

PDx: DL, blood smear, reticulocyte count, LED, Bilirubin T/D/I, Ur/Cr PTx: Omeprazole 2 x 20 mg

Tanggal

Subjektif

Objektif

Assessment

Planning PTx: Inj Ceftriaxon STOP Levofloxacin 1 x 750 mg ganti Erytromycin 3 x 500 mg

2 April 2012

Batuk DL: 6730/6,6/20,80/73000 1. SLE dan Lupus berkura MCV: 80,60 Nephritis kelas IV ng MCH: 25,60 perbaikan MCHC: 31,70 2. Anemia Hipochrom LED: 13 Mycrocytair Evaluasi hapusan darah: 1. Chronic Eritrosit: normokrom, Disease anisositosis 2. Anemia Lekosit: jumlah dan Defisiensi Fe morfologi normal 3. Pneumoni CAP Trombosit: kesan perbaikan jumlah menurun RetikulositL 6,83% Bil T/D/I: 0,11/0,06/0,05 Alb: 1,59 Ur/Cr: 48/0,8 Hasil Sputum mikrobiologi: Kokus gram positif ( Staphylococcus coagulase negative), BTA -, Sensitif kuat Erythromicin, Cotrimoxazole, Gentamicin

Tanggal

Subjektif

Objektif

Assessment 1. SLE dan Lupus Nephritis kelas IV perbaikan 2. Anemia Hipochrom Mycrocytair 1. Chronic Disease 2. Anemia Defisiensi Fe 3. Pneumoni CAP perbaikan

Planning PDx: DL, LED, SE, Ur/Cr, Alb, UL, Bilirubin T/D/I, SGOT/SGPT, Blood smear

3 April 2012

Batuk -

4 April 2012

Ed - DL: 10680/6,3/20,30/104000 MCV: 80,90 MCH: 25,10 MCHC: 31

1. SLE dan Lupus Nephritis kelas IV perbaikan 2. Anemia Hipochrom Mycrocytair 1. Chronic Disease 2. Anemia Defisiensi Fe

PDx: Albumin post transfusi, FH, UL PTx: Transfusi

FOLLOW UP
Tanggal
Subjektif

Objektif

Assessment

Planning 5 April 2012

5 April 2012

Alb: 1,72 1. SLE dan Lupus PPT: 11,2 (K 11,5) Nephritis kelas IV APTT:30,7 (K 26) perbaikan Direct coombs test: (-) 2. Anemia Hipochrom Urinalisis Mycrocytair SG/BJ : 1,020 1. Chronic pH : 6,5 Disease Prot/alb : 3+ 2. Anemia Lekosit : 2+ Defisiensi Fe Eritrosit : 3+ 3. Pneumoni CAP Epitel : + perbaikan 40 Eri : 18-20 40 Leko : 2030

Tanggal

Subjektif

Objektif

Assessment

Planning

6 April 2012

1. SLE dan Lupus PTx: Nephritis kelas IV Transfusi Albumin 20% perbaikan 2. Anemia Hipochrom Mycrocytair 1. Chronic Disease 2. Anemia Defisiensi Fe 3. Pneumoni CAP perbaikan

PEMBAHASAN

Patogenesis
Drug (INH, Chlorpromazine, dll) Self molecules antigens (nukleus, permukaan sel, dan sitoplasma)

-Antinuclear antibody -Anti ds DNA -Anti histone -Anti Ro -Anti La -Anti Sm -Anti reseptor NMDA -Anti fosfolipid -Anti C1q

Burmester, Color Atlas of Immunology 2003 Thieme

DIAGNOSIS SLE
Kriteria (ACR 1997) 1. Malar rash 2. Discoid rash 3. Photosensitivity 4. Oral ulcer 5. Arthritis 6. Serositis (pleuritis, pericarditis) 7. Renal disorder (proteinuria >3+ atau > 0,5g/hari menetap, cast) 8. Neurologic disorder (kejang, psikosis) 9. Hematologic disorder 10. Immunologic disorder 11. Anti-Nuclear antibodies
Diagnosis tegak jika memenuhi 4 dari 11 kriteria

Temuan pada Pasien Malar rash (riwayat pada tahun 2009) Diskoid rash (di tangan dan atas bibirnya riwayat
pada tahun 2009)

Photosensitivity Oral ulcer (di mukosa pipi) Arthritis (riwayat pada tahun 2009) Renal disorder (protein urin 4+, ekskresi protein
urin 3 gram/ hari)

ANA test (+)

SLE

Burmester, Color Atlas of Immunology 2003 Thieme

Tabel 3.3 Klasifikasi Lupus Nefritis menurut WHO


(Tassiulas et al., 2009)
Kls Pola Deposisi imun komp. I II Normal Mesangial (-) Mesangial Bland RBC Bland III Proliferatif fokal Mesangial, subepitelial RBC, WBC Sedimen Proteinu Cr ria (24j) <200 mg atau 200-500 mg 200-3500 N N- mg ringan (+) serum N N Tekanan darah N N Anti DNA (-) (-) N N ds- C3/C4

dan subendotelial

segmental

IV

Proliferatif difus

Mesangial, subendotelial subepitelial

RBC, WBC, 1000RBC cast >3500 mg

N dialisis

- Tinggi

(+) tinggi

titer

Membranou s

Mesangial, subepitelial

Bland

>3000 mg

N N ringan

(-)

titer N

menengah

Klasifikasi Lupus Nefritis

(menurut International Society of Nephrolog dan Renal Pathology Society (ISN / RPS)
tahun 2003)
Kelas I Kelas II Kelas III Minimal mesangial lupus nefritis Mesangial proliferatif lupus nefritis Fokal lupus nefritis III(A): III(A/C): III(C): Difuse lupus nefritis IV-S(A): IV-G(A): IV-S(A/C): IV-G(A/C): IV-S(C): IV-G(C): Membranous lupus nefritis Advanced sklerotik lupus nefritis Lesi aktif: fokal proliferatif lupus nefritis Lesi aktif dan kronis: fokal proliferatif dan sklerosing lupus nefritis Lesi kronis tidak aktif dengan skar

Kelas IV

Lesi aktif: difus segmental proliferatif lupus nefritis Lesi aktif: difus global proliferatif lupus nefritis Lesi aktif dan kronis Lesi aktif dan kronis Lesi kronis tidak aktif dengan skar Lesi kronis tidak aktif dengan skar

Kelas V Kelas VI

Hasil Glomerulonefritis membranoproliferatif diffuse dan sesuai dengan Lupus Nefritis Kelas IV A/C. Indeks aktivitas 4/24, indeks kronisitas 2/12

DIAGNOSIS LUPUS NEFRITIS


Kriteria Lupus Nefritis (Wallace, 2008) biopsi ginjal menunjukkan WHO kelas IIB glomerulonefritis mesangial, proliferatif fokal, proliferatif difus, atau membranous penurunan 30% klirens kreatinin dalam periode 1 tahun pada pasien dengan lupus aktif proteinuria > 1 gram dalam 24 jam Temuan pada Pasien Biopsi ginjal Lupus Nefritis Kelas IV Proteinuria 3 gram dalam 24 jam

LUPUS NEFRITIS
Kriteria Lupus Nefritis Serum albumin level < 3 gram/dL Proteinuria menetap (2+ s/d 4+) Silinder (eritrosit, hyalin, granuler, atau oval fat bodies) Hematuria persistent (>5/lpb)

3 dari kelainan diatas dalam waktu 12 bulan

Penatalaksanaan
Edukasi dan Konseling
Pengobatan Medikamentosa

Program Rehabilitasi

perjalanan penyakit, kompleksitasnya

aktivitas fisik
infeksi pengaturan diet

Immobilitas >2minggu: turunnya masa otot hingga 30% dan kekuatan otot 1-5% per hari

NSAID Antimalaria

Steroid
Imunosupre san atau Sitotoksik

osteoporosis dislipidemia
informasi akan pengawasan berbagai fungsi organ gangguan neuropsikiatrik

Latihan: mempertahank an kestabilan sendi. Modalitas fisik


TENS

Algoritme Penatalaksanaan SLE


Ringan
- manifestasi kulit - Artritis

Derajat beratnya SLE

Berat Sedang - nefritis ringan sampai sedang - Trombositopenia (2000050000/mm3) - serositis mayor

- nefritis berat
- trombositopenia refrakter berat (< 20.000/mm3) - anemia hemolitik refrakter berat - keterlibatan paru-paru (hemoragik) - NPSLE (serebritis, mielitis) - vaskulitis abdomen

Terapi Induksi Klorokuin / Hidroklorokuin atau Methothrexate Kortikosteroid (dosis rendah, < 10 mg/hari atau yang setara) NSAID Tabir surya minimal 15v SPF Metilprednisolon iv (0,5-1 gr/hari selama 3 hari) diikuti oleh Azatriopin (2 mg/kgBB/hr) atau MMF (23gr/hr) + Kortikosteroid (0,5-0,6 mg/kgBB/hr selama 4-6minggu lalu diturunkan bertahap)

Terapi induksi Pulse Metil prednisolon iv (0,5-1gr/hari selama 3 hari +

TR

siklofosfamis iv (0,5-0,75 gr/m2/bulan x 7 dosis

Terapi pemeliharaan Siklofosfamid iv (0,5-0,75 gr/m2/

RS
Terapi Pemeliharaan Azatriopin (1-2 mg/kgBB/hr) atau MMF (1-2gr/hr) + Kortikosteroid (diturunkan sampai dosis 0,125 mg/kgBB/hr selang sehari)

3 bulan selama satu tahun

RP
Tambahkan Rituximab inhibitor calcineurin (cyclosporine)

TR

IVIg (Imunoglobulin intravena)

NSAID

kondisi arthritis, artralgia, maupun mialgia kortikosteroid dosis rendah, dengan dosis max 15 mg demam, arthritis, pleuritis, dan pericarditis

AntiMalaria

hidroksikluorokuin 400mg/hari lupus kutaneus, baik subakut maupun lupus discoid efek sunblocking, antiinflamasi, dan imunosupresan

Steroid

imunosupresan nonspesifik, menggunakan kombinasi glukokortikoid dan obat-obatan sitotoksik Prednisone, prednisolone, dan methylprednisolone.

Imunosupresan atau Sitotoksik

Cyclophosphamide mycophenolate mofetil azathioprine

Intravena Immunoglob ulin IgG (400mg/kgB B)


Pemantauan aktivitas penyakit dan fungsi ginjal Plasmafaresi s

Terapi Lain Statin : Menurunkan LDL (<100mg/dL) Hemodialisis

Loop Diuretik

ACE-I dan ARB :CKD (proteinuria dan Hypertensi stage II)

Penangganan Gejala dan Perkembangan Penyakit


Hindari sinar matahari & sunscreen Glukortikosteroid lokal / sistemik : dermatitis lupus Katheter : Produksi urin dan fungsi ginjal Pemberian Oksigen : sesak Furosemide : edema

ASA

Diet ginjal

Omeprazole : lindugi lambung Gejala serositis : Salsilat, NSAID, Glukortikosteroid rendah/sistemik

Restriksi Cairan

Kalk : cegah osteoporosis Asam Folat, Vit B12 dan Vit B6 : menurunkan homosisteine mia

Semifowler Posisi

GG : batuk

Peradangan paru yang disebabkan oleh mikroorganisme

Pneumonia komuniti adalah pneumonia yang didapat di masyarakat

Pneumonia

Akhir-akhir ini di Indonesia bakteri gram negatif

Bakteri gram positif, bakteri atipik

Diagnosis pasti pneumonia komuniti


Foto toraks terdapat infiltrat baru atau infiltrat progresif ditambah dengan 2 atau lebih gejala di bawah ini : Batuk-batuk bertambah Perubahan karakteristik dahak / purulen Suhu tubuh > 380C (aksila) / riwayat demam Pemeriksaan fisis : ditemukan tanda-tanda konsolidasi, suara napas bronkial dan ronki Leukosit > 10.000 atau < 4500

Pengobatan suportif / simptomatik Istirahat Minum secukupnya Demam turunkan Mukolitik dan ekspektoran Antibiotik

Suportif / simtomatik Oksigen Infus Obat simptomatik Antibiotik

Penderita rawat jalan

Ruang rawat biasa Ruang Rawat Intensif


Suportif / simtomatik Oksigen + Infus Obat simptomatik Antibiotik Ventilator mekanik

Penatalaksanaan pneumionia komuniti

Prognosis
Pengobatan
Survival rate

Lupus nefritis
< 83 %

Variabel klinis
ras hitam, azotemia, anemia, sindroma antiphospholipid, gagal terhadap terapi imunosupresi awal, dan kambuh dengan fungsi ginjal yang buruk

90%

%. Difus profileratif glomerulonefritis (klas IV)

Kesimpulan
Baik untuk SLE ringan, sedang, maupun berat, diperlukan gabungan strategi pengobatan atau disebut pilar pengobatan. Pasien SLE memerlukan informasi yang benar dan dukungan dari sekitarnya agar bisa hidup mandiri.

Prinsip terapi lupus dengan penyakit yang mengancam organ ditatalaksana secara agresif. Sedangkan penyakit yang tidak mengancam organ dapat diterapi dengan (NSAIDs), antimalaria, dan steroid dosis rendah bila diperlukan. Terdapat berbagai macam rencana terapi yang dapat diberikan pada pasien dengan SLE tergantung dari maksud dan tujuan dari terapi tersebut.

Pemberian terapi glukokortikoid pada pasien lupus nefritis yang dikombinasikan dengan agen immunosupresan efektif dalam melawan perjalanan penyakit menuju end state renal disease (ESRD). Keterlibatan ginjal pada SLE merupakan prediktor terkuat terhadap morbiditas dan mortalitas pasien secara keseluruhan. Oleh karena itu, pentingnya kewaspadaan terhadap keterlibatan gangguan ginjal pada pasien SLE tidak boleh dilupakan.

TERIMAKASIH

Anda mungkin juga menyukai