P. 1
KH. Mas Abdurrahman: 'Ulama Kharismatik dari Pandeglang

KH. Mas Abdurrahman: 'Ulama Kharismatik dari Pandeglang

|Views: 101|Likes:
Dipublikasikan oleh alif fikri
Beliau adalah pendiri Mathla’ul Anwar bersama 9 orang tokoh Muslim lainnya.
Beliau adalah pendiri Mathla’ul Anwar bersama 9 orang tokoh Muslim lainnya.

More info:

Published by: alif fikri on Jun 29, 2012
Hak Cipta:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as PDF or read online from Scribd
See more
See less

06/29/2012

pdf

hujjatul islam

DOK MATHLAUL-ANWAR

REPUBLIKA ● AHAD, 25 JULI 2010

B5

KH MAS ABDURRAHMAN

Ulama Kharismatik dari Menes, Pandeglang
yang berarti Tempat Terbitnya Cahaya. KH Mas Abdurrahman dilahirkan di daerah Janaka, Pandeglang. Mengenai tahun kelahirannya, terdapat beberapa versi. Muhammad Idjen, dalam bukunya berjudul KH Mas Abdurrahman: Ulama Besar Kharismatik Dari Tutugan Gunung Aseupan, mengungkapkan bahwa Kiai Mas Abdurrahman dilahirkan pada 1882 di Kampung Janaka, tepatnya di lereng Gunung Aseupan, Kecamatan Jiput, Kabupaten Pandeglang, dan wafat 1943. Muhammad Nahid Abdurrahman dalam bukunya KH Abdurrahman Pendiri Mathla’ul Anwar menyebutkan bahwa KH Mas Abdurrahman lahir sekitar 1875 dan wafat pada 16 Agustus 1944 dan dimakamkan di Cikaliung Sodong, Kecamatan Saketi, Pandeglang, atau sekitar lokasi Perguruan Tinggi Mathla’ul Anwar. Sementara itu, dalam buku berjudul Dirasah Islamiyah I: Sejarah dan Khittah MA yang diterbitkan Pengurus Besar Mathla’ul Anwar disebutkan bahwa KH Mas Abdurrahman lahir pada 1868 dan wafat 1943. Ayah KH Mas Abdurrahman bernama KH Mas Jamal, adalah sosok orang tua yang memiliki keinginan tinggi agar anaknya menjadi seorang ulama dan pendidik dalam memajukan umat. Karena pada saat itu kondisi bangsa Indonesia sedang kacau akibat penjajahan Belanda. Keluarga KH Mas Jamal berasal dari kalangan taat ibadah, bertekad untuk menyebarkan ajaran Islam dan memajukan pendidikan umat. Untuk menularkan keilmuan yang dimilikinya, KH Mas Jamal menekankan pentingnya ajaran agama bahkan mengajar mengaji kepada putranya, KH Mas Aburrahman. Karenanya, KH Mas Abdurrahman kerap ikut mengaji bersama ayahnya, meski harus mendaki gunung. Terkadang, sang ayah terpaksa menggendongnya, karena tidak kuat naik gunung. KH Mas Abdurrahman pernah belajar pada KH Shahib. Setelah cukup dewasa, ia dimasukkan ke sebuah Pondok Pesantren Alquran yang berada di daerah Serang. Di sini, ia berada di bawah bimbingan KH Ma’mun yang merupakan seorang guru spesialis dalam bidang Alquran. Saat usia 10 tahun, ayahnya pergi ke Makkah untuk menunaikan ibadah haji. Namun, di saat sedang melaksanakan haji, sang ayah meninggal. Jasadnya kemudian dikuburkan di Tanah Suci. Peristiwa tersebut tidak membuatnya larut dalam kedukaan. Sebaliknya, ia selalu berdoa agar bisa pergi ke tanah suci yang tujuannya untuk ibadah haji, menuntut ilmu, dan melihat makam ayahnya. Bermukim di Makkah Kesempatan untuk menunaikan ibadah haji baru terlaksana pada 1905. Dengan bekal hanya cukup untuk ongkos pergi, KH Mas Abdurrahman pun berangkat ke tanah suci. Di samping menunaikan ibadah haji, kesempatan tersebut juga ia gunakan untuk bermukim guna menuntut ilmu agama sekaligus berziarah ke makam ayahandanya walaupun tidak jelas di mana kuburannya. Semua hambatan dan rintangan, baik uang saku yang terbatas maupun kondisi alam di Makkah yang berbeda dengan Indonesia, berhasil ia atasi. Karena uang saku yang minim, selama tinggal di Makkah ia memilih untuk tidur maupun belajar di dalam Masjidil Haram. Untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari, terkadang ia pergi ke luar kota mencari kayu bakar untuk dijual dan hasilnya ditukar dengan beras. Karena sulitnya mendapatkan bahan makanan, saat menanak nasi ia mencampurkan satu sendok beras berbanding satu liter air. Hal ini dilakukan hampir setiap hari selama 10 tahun bermukim di Makkah. Kecuali jika musim haji tiba, beliau banyak mendapat penghasilan lebih dari hasil mengantar jamaah haji yang berziarah. Kendati hidup pas-pasan, namun hal tersebut tidak menyurutkan semangat KH Mas Abdurrahman untuk menimba ilmu. Seluruh pelajaran diikutinya dengan penuh perhatian dan ketekunan walau sarana serta peralatan menulis tidak lengkap. Karenanya, ia lebih banyak mengandalkan pendengarannya. Dengan sistem hafalan, ia berhasil menyerap ilmuilmu yang diajarkan para gurunya, khususnya dalam bidang agama seperti ilmu bahasa Arab, fikih, ushul fikih, nahwu, sharaf, balaghah, tafsir, dan tasawuf. Di antara guru-guru beliau banyak yang berasal dari Indonesia. Mereka adalah Syekh Nawawi alBantani yang terkenal dengan kitab tafsirnya, Syekh Achmad Khatib yang berasal dari Minangkabau dan terkenal dengan ilmu tasawufnya. KH Mas Abdurrahman juga semasa dengan KH Hasyim Asy’ari (pendiri Nahdlatul Ulama) dan KH Ahmad Dahlan (pendiri Muhammadiyah). ■ ed: syahruddin e

Beliau adalah pendiri Mathla’ul Anwar bersama sembilan orang tokoh Muslim lainnya.

Nidia Zuraya

N

amanya memang tak setenar KH Ahmad Dahlan (pendiri Muhammadiyah) dan KH Hasyim Asy’ari (pendiri Nahdlatul Ulama). Namun demikian, kontribusinya bisa disejajarkan dengan kedua nama tokoh besar Islam di nusantara tersebut. KH Mas Abdurrahman berperan penting dalam memajukan duia pendidikan di Indonesia, terutama di wilayah Banten. Salah satu kontribusinya dalam bidang pendidikan adalah perguruan pendidikan Islam Mathla’ul Anwar (MA) yang terletak di Menes, Pandeglang, Banten. Hingga kini perguruan MA itu masih berdiri kokoh dan sudah menyebar ke penjuru nusantara. Kini MA mendirikan lembaga pendidikan mulai TK hingga perguruan tinggi. Siapakah sebenarnya sosok KH Mas Abdurrahman ini? Dia adalah salah seorang pendiri organisasi Mathla’ul Anwar (MA). Bersama sembilan tokoh Islam lainnya, KH Mas Abdurrahman mendirikkan Mathla’ul Anwar,

Berdakwah di Jalur Pendidikan

K

eberhasilan KH Mas Abdurrahman dalam menguasai ilmu agama selama bermukim di Makkah, mengantarkannya sebagai asisten pengajar di tempat ia menuntut ilmu. Namun, karena adanya permohonan dari para ulama Banten agar beliau segera kembali ke Tanah Air, maka rencana tersebut urung terlaksana. Ketika ditinggal KH Mas Abdurrahman, kondisi kampung halamannya, Menes, dan daerah di sekitarnya sangat memprihatinkan. Berbagai kemaksiatan merajalela, seperti judi, pencurian, pertengkaran, pacaran, dan lain-lain. Bahkan, setiap ada acara sunatan atau hajatan selalu diselenggarakan hiburan yang dibarengi dengan pesta minumminuman keras. Dengan kondisi ini membuat prihatin seorang ulama bernama KH Soleh yang memiliki pesantren. Tetapi, kondisi tersebut tidak bisa ia tangani sendiri. Bahkan, KH Soleh pernah dicaci maki oleh masyarakat setempat. KH Soleh kemudian menemui salah seorang kenalannya, KH Jasin, untuk berkonsultasi. Kedua ulama ini berembuk untuk memulangkan KH Mas Abdurrahman dari Makkah. Sosok KH Mas Abdurrah-

man dianggap keduanya sangat cocok dan mampu mengatasi kondisi yang terjadi di Menes. KH Mas Abdurrahman kembali dari Makkah sekitar tahun 1910. Sepulangnya ke Tanah Air, beliau aktif melakukan dakwah dan menggalakkan pendidikan Islam.Tetapi, beliau berpikir bahwa pendidikan itu harus diajarkan secara terarah dan memiliki kurikulum yang jelas. Maka, ia pun kemudian mulai merintis sebuah lembaga pendidikan Islam di Menes yang nantinya akan dikelola dan diasuh secara jamaah dengan mengoordinasikan berbagai disiplin ilmu, terutama ilmu Islam, yang dianggap merupakan kebutuhan yang mendesak saat itu. Pada 10 Juli 1916 didirikanlah sebuah lembaga pendidikan Islam bernama Mathla’ul Anwar (MA) yang memiliki arti ‘terbitnya cahaya’. Saat awal berdiri, kegiatan belajar mengajar diselenggarakan di rumah KH Mustaghfiri, seorang dermawan Menes yang bersedia meminjamkan ruangan di rumahnya untuk dipergunakan sebagai tempat belajar mengajar. Selanjutnya, dengan modal wakaf tanah dari Ki Demang Djasudin yang terletak di pinggir jalan raya, dibangunlah

sebuah gedung madrasah dengan cara gotong royong oleh seluruh masyarakat Menes pada 1920. Bangunan pertama ini berukuran seluas 1.000 meter persegi, yang sampai saat ini masih berfungsi sebagai tempat penyelenggaraan pendidikan mulai dari tingkat Taman Kanak-kanak (TK) sampai Madrasah Aliyah (setingkat SMA). Dari bangunan madrasah inilah mulai dihasilkan kader-kader mubaligh serta kiai dan ulama Mathla’ul Anwar yang kemudian bergerak menyebarluaskan lembaga pendidikan ini hingga ke luar daerah Pandeglang, seperti ke Kabupaten Lebak, Serang, Tangerang, Bogor, Karawang sampai ke wilayah Lampung. Pada 1936, jumlah madrasah Mathla’ul Anwar telah mencapai 40 yang tersebar di tujuh daerah tersebut. Perhatian masyarakat terhadap keberadaan Mathla’ul Anwar tidak lagi terbatas dari kalangan pelajar, tetapi kaum intelektual pun mulai berpartisipasi aktif. Dengan proses perkembangannya yang sangat pesat, maka timbulah gagasan-gagasan untuk meningkatkan kualitas dan kuantitas serta mengembangkan lembaga pendidikan ini menjadi sebuah wadah organisasi masyarakat Islam. Maka, pada

1936 diadakan kongres pertama Mathla’ul Anwar. Kendati keberadaan Mathla’ul Anwar sebagai sebuah lembaga pendidikan Islam pada awalnya tidak terlepas dari peranan KH Mas Abdurrahman, namun dalam muktamar pertama tersebut beliau tidak ikut serta duduk dalam kepengurusan organisasi Islam ini. Oleh para pengurus Mathla’ul Anwar, beliau dipercaya sebagai inspektur (pengawas) yang berkedudukan di pusat. Jabatan ini diamanatkan kepada KH Mas Abdurrahman sampai wafatnya. Selama berkiprah di Mathla’ul Anwar, KH Mas Abdurrahman pernah mengeluarkan fatwa dan pandangannya. Beliau pernah mengeluarkan pandangannya bahwa pemerintah kolonial Belanda adalah kafir. Karenanya, menurut dia, menerima gaji dari pemerintah kolonial Belanda adalah haram, sampai-sampai anaknya pun tidak boleh masuk ke sekolah yang didirikan oleh penjajah Belanda saat itu. Satu lagi fatwanya, jika seseorang dinikahkan oleh Naib atau petugas laki-laki di KUA maka dianggap tidak syah dan harus dinikahkan kembali oleh kiai yang bukan pegawai pemerintah kolonial Belanda.
■ nidia zuraya, ed: syahruddin e

You're Reading a Free Preview

Mengunduh
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->