Anda di halaman 1dari 26

BAB I PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah Masalah keputihan adalah masalah yang sudah lama menjadi persoalan bagi kaum wanita. Penyakit keputihan merupakan masalah kesehatan yang spesifik pada wanita. dan Remaja merupakan salah satu bagian dari populasi yang beresiko terkena keputihan yang perlu mendapat perhatian khusus. Dan, menurut hasil penelitian para pakar, sebanyak 50% pelajar putri sekolah menengah dan perguruan tinggi pernah mengalami keputihan ketika berusia kurang dari 25 tahun. Remaja mengalami masa pubertas yang ditandai dengan datangnya menstruasi. Pada sebagian orang saat menjelang menstruasi akan mengalami keputihan. Keputihan ini normal (fisiologis) selama jernih (bening) tidak berbau, tidak terasa gatal dan dalam jumlah yang tidak berlebihan, bila cairan berubah menjadi warna kuning, bau dan disertai rasa gatal maka telah terjadi keputihan patologis. Akibat dari keputihan sangat fatal bila lambat ditangani. Tidak hanya bisa mengakibatkan kemandulan dan hamil diluar kandungan dikarenakan terjadi penyumbatan pada saluran tuba, keputihan juga bias merupakan gejala awal dari

kanker leher rahim yang merupakan pembunuh nomor satu bagi wanita dengan angka insiden kanker servik diperkirakan mencapai 100 per 100.000 penduduk per tahun yang bisa berujung pada kematian (Iskandar SS,2002). Sedangkan jumlah penderita kanker leher rahim di Negara maju seperti Amerika Serikat, mencapai sekitar 12.000 per tahun dan untuk penderita kanker leher rahim di Indonesia di perkirakan 90-100 per 100.000 penduduk (Nasdaldy,2006). Kasus kanker leher rahim 90% di tandai dengan keputihan (Octaviyanti, 2006). Data penelitian tentang kesehatan reproduksi menunjukkan bahwa 75% wanita di dunia pasti mengalami keputihan paling tidak sekali seumur hidup dan 45% diantaranya dapat mengalami keputihan sebanyak 2 kali atau lebih (Medica holistic, 2008). Di Indonesia kejadian keputihan semakin meningkat. Berdasarkan hasil penelitian menyebutkan bahwa tahun 2002, 50 % wanita Indonesia mengalami keputihan, kemudian pada tahun 2003, 60% wanita pernah mengalami keputihan, sedangkan tahun 2004 hampir 70% wanita Indonesia pernah mengalami keputihan setidaknya sekali dalam hidupnya. Penelitian Afriani F(2005) diperoleh 76% responden mengalami keputihan normal, sedangkan 23% responden mengalami keputihan tidak normal. Dan untuk wanita Indonesia yang mengalami keputihan berjumlah 75% (Octaviyanti,2006). Keputihan sering dikaitkan dengan kadar keasaman daerah sekitar vagina, karena keputihan bisa terjadi akibat pH vagina yang tidak seimbang. Sementara

kadar keasaman vagina disebabkan oleh dua hal, faktor intern dan ekstern. Faktor intern antara lain dipicu oleh pil kontrasepsi yang mengandung estrogen,trauma akibat pembedahan, terlalu lama menggunakan antibiotic, kortikostiroid dan imunosupresan pada penderita asma, kanker, atau HIV positif. Sedangkan faktor ekstern antara lain kurangnya personal hygiene kehamilan dan diabetes mellitus, pakaian dalam yang ketat,hubungan seks dengan pria yang membawa bakteri Neisseria gonorrhea, menggunakan WC umum yang tercemar bakteri Clamydia. Dan menurut WHO (2002) yang menyatakan bahwa Faktor-faktor yang memicu berkembangnya keputihan antara lain kurangnya menjaga personal hygiene (terutama di daerah kemaluan), penggunaan sabun pembersih vagina yang berlebihan, atau mungkin kurangnya pengetahuan tentang keputihan, selain itu karena anatomi organ reproduksi perempuan lebih mudah terjadi keputihan. kejadian keputihan pada wanita cukup tinggi, akan tetapi karena wanita sering beranggapan keputihan sebagai salah satu gejala premenstrual syndrom, sedikit sekali wanita yang berusaha untuk mengobati keputihan adalah gangguan kesehatan yang perlu segera di obati dan di cari penyebabnya (Indarti, 2004) Berdasarkan uraian diatas, maka peneliti merasa perlu untuk melakukan penelitian tentang hubungan personal hygiene dengan kejadian keputihan pada remaja putri di Madrasah aliyah Nurul iman tarowang.

B. Rumusan Masalah Berdasarkan latar belakang masalah yang telah dikemukakan di atas, maka dapat dirumuskan masalah yaitu : hubungan antara personal hygiene dengan kejadian keputihan pada siswi Madrasah aliyah Nurul iman tarowang.

C. Tujuan Penelitian a. Tujuan umum Apakah terdapat hubungan antara personal hygiene dengan kejadian keputihan pada siswi Madrasah aliyah Nurul iman tarowang. b. Tujuan Khusus 1. Mengetahui adanya hubungan personal hygiene dengan kejadian keputihan. 2. Mengetahui adanya hubungan pemilihan pakaian dalam dengan kejadian keputihan. 3. Mengetahui adanya hubungan pemakaian antiseptic dengan kejadian keputihan. 4. Mengetahui adanya hubungan menjaga kebersihan saat menstruasi dengan kejadian keputihan.

D. Manfaat Penelitian 1. Bagi peneliti Dapat meningkatkan pengetahuan dan pengalaman dalam mengkaji mengenai kesehatan reproduksi terutama hubungan personal hygiene dengan kejadian keputihan pada remaja putri. 2. Bagi institusi pendidikan Dapat memberikan sumbangan bagi institusi pendidikan untuk pertimbangan kesehatan fisik dan psikis remaja khususnya tentang masalah keputihan 3. Bagi perawat Dapat sebagai acuan untuk memberikan pendidikan kesehatan terutama kepada remaja tentang hubungan personal hygiene dengan kejadian keputihan. 3. Bagi remaja putri Sebagai bahan pertimbangan untuk meningkatkan kebersihan diri atau personal hygiene terutama pada bagian system reproduksinya.

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

A. Pengertian personal hygiene Personal hygiene adalah berasal dari bahasa yunani yaitu personal yang artinya perorangan dan hygiene yang berarti sehat.kebersihan seseorang adalah suatu tindakan untuk memelihara kebersihan dan kesehatan seseorang untuk kesejahtraan fisik dan psikis. 1. Tujuan personal hygiene: a. Meningkatkan derajat kesehatan seseorang b. Memelihara kebersihan diri seseorang c. Memperbaiki personal hygiene yang kurang d. Mencegah penyakit e. Menciptakan keindahan 2. Faktor-faktor yang mempengaruhi personal hygiene a. Body image Gambaran individu terhadap dirinya sangat mempengaruhi

kebersihan diri misalnya karena adanya perubahan fisik sehingga individu tidak peduli terhadap kebersihannya.

b. Praktik sosial Pada anak-anak selalu dimanja dalam kebersihan diri, maka kemungkinan akan terjadi perubahan pola personal hygiene. c. Status sosial-ekonomi Personal hygiene memerlukan alat dan bahan seperti sabun,pasta gigi, sikat gigi, sampo, alat mandi yang semuanya memerlukan uang untuk menyediakannya. d. Pengetahuan Penegtahuan personal hygiene sangat penting karena pengetahuan yang baik dapat meningkatkan kesehatan. e. Budaya Di sebagian masyarakat jika individu sakit tertentu maka tidak boleh dimandikan. f. Kebiasaan seseorang Ada kebiasaan seseorang yang menggunakan produk tertentu dalam perawatan dirinya seperti penggunaan sabun, sampo, dan lain-lain. g. Kondisi fisik Pada keaadaan sakit tertentu kemampuan untuk merawat diri berkurang dan perlu bantuan untuk melakukannya. 3. Dampak yang sering timbul pada masalah personal hygiene : a. Dampak fisik

Banyak gangguan kesehatan yang diderita seseorang karena tidak terpeliharanya kebersihan perorangan dengan baik. b. Dampak psikososial Masalah social yang berhubungan dengan personal hygiene adalah gangguan kebutuhan rasa nyaman, kebutuhan dicintai dan mencintai, kebutuhan harga diri, aktualisasi diri, dan gangguan interaksi sosial.

B. Pengertian keputihan Menurut dr. Sugi Suhandi, spesialis Kebidanan dan Penyakit Kandungan RS Mitra Kemayoran Jakarta, keputihan (flour albus) adalah cairan yang berlebihan yang keluar dari vagina. Keputihan bisa bersifat fisiologis (dalam keadaan normal) namun bisa juga bersifat patologis (karena penyakit). Dan keputihan tidak mengenal batasan usia. Berapa pun usia seorang wanita, bisa terkena keputihan (Sugi Suhandi, 2009). Secara definisi keputihan adalah cairan tubuh (bukan darah) yang keluar dari organ reproduksi wanita. Keadaan ini dapat bersifat fisiologis atau patologis. Keputihan yang fisiologis dapat timbul saat terjadi perubahan siklus hormonal, seperti sebelum pubertas, stress psikologis, sebelum dan setelah datang bulan, kehamilan, saat menggunakan kontrasepsi hormonal, atau saat menopause (Moctar R, 1986).

Keputihan atau fluor Albus merupakan sekresi vaginal abnormal pada wanita(Wijayanti,2009). Keputihan adalah semacam slim yang keluar terlalu banyak, warnanya putih seperti sagu kental dan agak kekuning-kuningan. Jika slim atau lender ini tidak terlalu banyak, tidak menjadi persoalan. Keputihan adalah nama gejala yang diberikan kepada cairan yang di keluarkan dari alatalat genital yang tidak berupa darah(Sarwono,2005).

1. Klasifikasi keputihan Ada dua jenis keputihan yaitu keputihan normal (fisiologis) dan keputihan tidak normal ( patologis) a. Keputihan normal (fisiologis) Keputihan fisiologis terdiri atas cairan yang kadang-kadang berupa mucus yang mengandung banyak epitel dengan leokosit yang jarang, keputihan fisiologis ditemukan yaitu pada: 1) Bayi baru lahir sampai umur kira-kira 10 hari, disini sebabnya ialah pengaruh estrogen dari plasenta terhadap uterus dan vagina janin. 2) Waktu mengalami menarche karena mulai terdapat pengaruh estrogen, keputihan disini hilang sendiri.

3) Wanita dewasa apabila ia dirangsang sebelum dan pad awaktu koitus, disebabkan oleh pengeluaran transudasi dari dinding vagina. 4) Waktu di sekitar ovulasi, dengan sekret dari kelenjarkelenjar serviks uteri menjadi lebih encer. 5) Pengeluaran sekret dari kelenjar-kelenjar serviks uteri jika bertambah pada wanita dengan penyakit menahun, dengan neurosis, dan pada wanita dengan ektropian porsionis uteri. Menurut wijayanti (2009) keputihan normal cirri-cirinya ialah: warnanya kuning, kadang-kadang putih kental, tidak berbau tanpa disertai keluhan ( misalnya gatal, nyeri,

rasa terbakar, dsb), keluar pada ssat menjelang dan sesudah menstruasi atau pada saat stress dan kelelahan. Keputihan tidak selalu mendatangkan kerugian , jika keputihan ini wajar dan tidak menunjukkan bahaya lain. Sebenarnya, cairan yang disebut keputihan ini berfungsi sebagai system pelindung alami saat terjadi gesekan di dinding vagina ssat anda berjalan dan saat anda melakukan hubungan seksual.

10

Keputihan ini merupakan salah satu mekanisme pertahana tubuh dari bakteri yang menjaga kadar keasaman pH wanita. Cairan ini selalu berada di dalam alat genital tersebut. Keasaman pada vagina wanita harus berkisar antara 3,8-4,2, maka sebagian besar bakteri yang ada adalah bakteri menguntungkan. Bakteri menguntungkan ini hamper

mencapai 95% sedangkan yang lain adalah bakteri yang merugikan dan menimbulkan penyakit (pathogen). Jika ada ekosistem seimbang, artinya wanita tidak mengalami keaadaan yang membuat keasaman tersebut bertambah dan berkurang, maka bakteri yang menimbulkan penyakit tersebut tidak akan mengganggu. b. Keputihan tidak normal (patologi) Penyebab paling penting dari keputihan patologi ialah

infeksi. Disini cairan mengandung banyak leukosit dan warnanya agak kekuning-kuningan sampai hijau, seringkali lebih kental dan berbau. Keputihan yang tidak normal ialah keputihan dengan cirriciri : jumlahnya yang banyak, timbul terus menerus, warnanya berubah (misalnya kuning, hijau, abu-abu, menyerupai

11

susu/yoghurt) disertai adanya keluhan (seperti gatal, panas, nyeri) serta berbau(apek, amis). Keputihan yang disebabkan oleh infeksi biasanya disertai dengan rasa gatal di dalam vagina dan di sekitar bibir vagina bagian luar. Yang sering menimbulkan keputihan ini antara lain bakteri, virus, jamur, dan juga parasit. Infeksi ini dapat menjalar dan menimbulkan peradangan ke saluran kencing, sehingga menimbulkan rasa pedih saat si penderita buang air kencing. Menurut Boyke (2009) Hampir semua wanita di Indonesia pernah mengalami keputihan patologis seumur hidupnya minimal satu sampe dua kali. Wanita perlu mengenal lebih jauh tentang keputihan tersebut, yaitu: a. Keputihan yang cair dan berbusa, berwarna kuning kehijauan atau keputih-putihan, berbau busuk dengan rasa gatal. Keputihan semacam ini akan member dampak bagi tubuh wanita. Diantaranya wanita akan merasa seperti terbakar di daerah kemaluan saat buang air kecil. Jika tidak cepat ditangani, lambat laun kemaluan akan terasa sakit dan dan membengkak.

12

b. Cairan keputihan yang berwarna putih seperti keju lembut dan berbau seperti jamur atau ragi roti. Keadaan ini menunjukkan adanya infeksi yang disebabkan jamur atau ragi yang di kemaluan wanita. Penderita merasakan efek gatal yang hebat. Bibir kemaluan sering terlihat merah terang dan terasa sangat sakit. Selain itu, saat buang air kecil terasa seperti terbakar. Hal yang harus dicegah adalah menggunakan antibiotic untuk mengobati infeksi ini. Antibiotik sebenarnya akan membuat infeksi jamur semakin parah. Penderita pun jangan memakai pil KB. Jika sedang menggunakan pil KB, hentikan secepatnya. c. Cairan keputihan yang kental seperti susu dengan bau yang amis/anyir. Keadaan ini dimungkinkan karena infeksi yang disebabkkan oleh bakteri Hemophilus. Diperlukan pemeriksaan khusus untuk membedakannya dengan infeksi trichomonas. d. Cairan keputihan yang encer seperti air, berwarna cokelat atau keabu-abuan dengan bercak-bercak darah, dan berbau busuk. Hal ini merupakan tanda-tanda infeksi

13

yang lebih parah, dapat kanker atau penyakit menular seksual lainnya. Keputihan jenis penyakit yang dibiarkan tanpa

pengobatan akan berkembang semakin hebat, keputihan membuat vagina lebih asam. Jika dibiarkan menjalar terus ke organ reproduksi.

2. Penyebab keputihan Keputihan bisa karena banyak hal. Benda asing, luka pada vagina, kotoran dari lingkungan, air tak bersih, pemakaian tampon atau panty liner berkesinambungan. Semua ini potensial membawa jamur, bakteri, virus, dan parasit: a. Jamur Candidas atau Monilia Warnanya putih susu, kental, berbau agak keras, disertai rasa gatal pada vagina. Akibatnya, mulut vagina menjadi kemerahan dan meradang. Biasanya, kehamilan, penyakit kencing manis, pemakaian pil KB, dan rendahnya daya tahan tubuh menjadi pemicu. Bayi yang baru lahir juga bisa tertular keputihan akibat Candida karena saat persalinan tanpa sengaja menelan cairan ibunya yang menderita penyakit tersebut.

14

b. Parasit Trichomonas Vaginalis Ditularkan lewat hubungan seks, perlengkapan mandi, atau bibir kloset. Cairan keputihan sangat kental, berbuih, berwarna kuning atau kehijauan dengan bau anyir. Keputihan karena parasit tidak menyebabkan gatal, tapi liang vagina nyeri bila ditekan. c. Bakteri Gardnella Infeksi ini menyebabkan rasa gatal dan mengganggu. Warna cairan keabuan, berair, berbuih, dan berbau amis. Beberapa jenis bakteri lain juga memicu munculnya penyakit kelamin seperti sifilis dan gonorrhoea. d. Virus Keputihan akibat infeksi virus juga sering ditimbulkan penyakit kelamin, seperti condyloma, herpes, HIV/AIDS. Condyloma ditandai tumbuhnya kutil-kutil yang sangat banyak disertai cairan berbau. Ini sering pula menjangkiti wanita hamil. Sedang virus herpes ditularkan lewat hubungan badan. Bentuknya seperti luka melepuh, terdapat di sekeliling liang vagina, mengeluarkan cairan gatal, dan terasa panas. Gejala keputihan akibat virus juga bisa menjadi faktor pemicu kanker. e. Kelelahan yang sangat. Didalam bukunya, Hendrik (2006, p.114) menjelaskan bahwa keluhan keputihan dari seorang wanita menjelang terjadinya haid

15

secara statistik cenderung dapat menyebabkan keadaan daerah kemaluan (terutama vagina, uterus, dan vulva) menjadi mudah terjangkit suatu penyakit dan menularkannya ke tubuhnya sendiri atau ketubuh orang lain yang melakukan persetubuhan dengannya. Hal ini disebabkan oleh hal-hal berikut: 1) Banyaknya bakteri-bakteri yang senantiasa berada di dalamnya(flora normal), yang telah berubah sifatnya menjadi bakteribakteri patogen disamping adanya

mikroorganisme lainnya yang bersifat patogen potensial. 2) Adanya perubahan pengaruh hormon-hormon seks steroid, terutama hormon estrogen dan progesteron, secara fluktuatif menjelang terjadinya perdarahan haid akan menimbulkan kerentanan pada dinding vagina terhadap terjadinya infeksi, terutama infeksi Candida sp. 3) Adanya hubungan langsung yang dekat dengan

lingkungan luar tubuh yang dapat memungkinkan masuknya bakteri dan mikroorganisme lainnya yang bersifat patogen potensial ke vagina. 4) Kurangnya perhatian higiene (kebersihan) di daerah kemaluan. Terjadinya benturan atau gesekan di daerah vaginanya ketika melakukan persetubuhan sebelumnya.

16

5) Adanya infeksi lain atau proses lainnya berupa keganasan didalam tubuh. Hal lain yang juga dapat menyebabkan keputihan antara lain: pemakaian tampon vagina, celana dalam terlalu ketat, alat kontrasepsi, rambut yang tak sengaja masuk ke vagina, pemakaian antibiotika yang terlalu lama dan lain-lain. Kanker leher rahim juga dapat menyebabkan keputihan. Kasus keputihan yang tak kunjung menyembuh kendati sudah berkali-kali diobati, bisa jadi sebab keputihan yang komplet (disebabkan oleh lebih dari satu penyebab), namun tidak diberi obat yang komplet untuk membasmi lebih dari satu jenis penyebabnya. Atau mungkin juga karena masa pemberian obatnya belum tuntas menumpas bibit penyakitnya, selain karena pilihan obatnya tidak sesuai dengan jenis penyebab keputihannya

3.

Pencegahan keputihan Menurut Wijayanti (2009,p.55) bila ingin terhindar dari keputihan, anda mesti menjaga kebersihan daerah sensitif itu. Kebersihan organ kewanitaan hendaknya sejak bangun tidur dan mandi pagi. Berikut tip yang dapat dilakukan :

17

a) Bersihkan organ intim dengan pembersih yang tidak menggangu kestabilan pH di sekitar vagina. Salah satunya produk pembersih yang terbuat dari bahan dasar susu. Produk seperti ini mampu menjaga keseimbangan pH sekaligus meningkatkan pertumbuhan flora normal dn menekan pertumbuhan bakteri yang tak bersahabat. Sabun antiseptic biasa umumnya bersifat keras dan terdapat flora normal divagina. Ini tidak menguntungkan bagi kesehatan vagina dalam jangka panjang. b) Hindari pemakaian bedak pada organ kewanitaan dengan tujuan agar vagina harum dan kering sepanjang hari. Bedak memiliki partikel-partikel halus yang mudah terselip di sana sini dan akhirnya mengundang jamur dan bakteri bersarang di tempat itu. c) Selalu keringkan bagian vagina sebelum berpakaian. d) Gunakan celana dalam yang kering. Seandainya basah atau lembab, usahakan cepat mengganti dengan yang bersih dan belum dipakai. Tak ada salahnya anda membawa cadangan celana dalam untuk berjaga-jaga manakala perlu menggantinya. e) Gunakan celana dalam yang bahannya menyerap keringat, seperti katun. Celana dari bahan satin atau bahan sintetik lain membuat suasana di sekitar organ intim panas dan lembab.

18

f) Pakaian luar juga diperhatikan. Celana jeans tidak dianjurkan karena pori-porinya sangat rapat. Pilihlah seperti rok atau celana bahan non jeans agar sirkulasi udara di sekitar organ intim bergerak leluasa. g) Ketika haid sering-seringlah berganti pembalut. h) Gunakan panty liner di saat perlu saja. Jangan terlalu lama. Misalkan saat bepergian ke luar rumah dan lepaskan sekembalinya anda di rumah. Selain itu untuk mencegah keputihan, wanita pun harus selalu menjaga kebersihan dan kesehatan daerah

kewanitaannya. Antara lain adalah : 1. Selalu cuci daerah kewanitaan dengan air bersih setelah buang air, jangan hanya di seka dengan tisu. Membersihkannya pun musti dilakukan dengan cara yang benar yaitu dari depan kebelakang, agar kotoran dari anus tidak masuk ke vagina. Hindari pemakaian sabun vagina berlebihan karena justru dapat mengganggu keseimbangan flora normal vagina. 2. Jaga daerah kewanitaan tetap kering. Hal ini karena kelembapan dapat memicu tumbuhnya bakteri dan jamur. Selalu keringkan daerah tersebut dengan tisu atau handuk bersih setelah dibersihkan. Karena tidak semua toilet menyediakan tisu, bawalah tisu kemana pun anda pergi. Selain itu buatlah celana

19

dalam yang terbuat dari katun agar dapat menyerap keringat dan gantilah secara teratur untuk menjaga kebersihan. 3. Bila sedang mengalami keputihan atau menstruasi tinggal sedikit, boleh saja menggunakan pelapis celana panty liner. Tetapi sebaiknya tidak digunakan setiap hari. Panty liner justru dapat memicu kelembapan karena bagian dasarnya terbuat dari plastik. Pilih panty liner yang tidk mengandung parfum, terutama buat yang berkulit sensitif. 4. Hindari bertukar celana dalam dan handuk dengan teman atau bahkan saudara kita sendiri karena berganti-ganti celana bias menularkan penyakit. 5. Bulu yang tumbuh di daerah kemaluan bisa menjadi sarang kuman bila dibiarkan terlalu panjang. Untuk menjaga kebersihan, potonglah secara berkala bulu di sekitar kemaluan dengan gunting atau mencukurnya dengan hati-hati

(Salika,2010).

4. Mekanisme keputihan patologis Di dalam vagina terdapat berbagai bakteri, 95 persen adalah bakteri lactobacillus dan selebihnya bakteri patogen (bakteri yang menyebabkan penyakit). Dalam keadaan ekosistem vagina yang seimbang, bakteri

20

patogen tidak akan mengganggu. Peran penting dari bakteri dalam flora vaginal adalah untuk menjaga derajat keasaman (pH) agar tetap pada level normal. Dengan tingkat keasaman tersebut, lactobacillus akan tumbuh subur dan bakteri patogen akan mati. Pada kondisi tertentu, kadar pH bisa berubah menjadi lebih tinggi atau lebih rendah dari normal. Jika pH vagina naik menjadi lebih tinggi dari 4,2 (kurang asam), maka jamur akan tumbuh dan berkembang. Akibatnya, lactobacillus akan kalah dari bakteri patogen.( Greer, Cameron, Mangowan, 2003.)

5. Gejala klinis Ciri-ciri dari cairan lendir yang normal adalah berwarna putih encer, bila menempel pada celana dalam maka warnanya kuning terang, konsistensinya seperti lendir (encer kental) tergantung dari siklus hormon, tidak berbau dan tidak menimbulkan keluhan. Sebaliknya, bila terjadi gejala antara lain: gatal pada organ intim perempuan, rasa terbakar, kemerahan, nyeri selama berhubungan intim, nyeri saat berkemih, keluar cairan berlebihan dari organ intim perempuan (baik berlendir ataupun bercampur darah), dan berbau.

21

6. Diagnosis a. Anamnesis Sejak kapan mengalami keputihan. Bagaimana konsistensi, warna, bau, jumlah dari keputihannya. Riwayat penyakit sebelumnya. Riwayat penggunaan obat antibiotik atau kortikosteroid. Riwayat penggunaan bahan-bahan kimia dalam membersihkan alat genialia Higienis alat genitalia

b. Pemeriksaan Fisis Inspeksi : kekentalan, bau dan warna leukore Warna kuning kehijauan berbusa:parasit Warna kuning, kental : GO Warna putih : jamur Warna merah muda : bakteri non spesifik Palpasi : pada kelenjar bartolini

c. Pemeriksaan ginekologi Inspekulo Pemeriksaan bimanual Laboratorium Pemeriksaan pH normal vagina : 3,8 4,5
22

Pulasan dengan pewarnaan gram Pemeriksaan dengan larutan garam fisiologis dan KOH 10% Kultur

7.

Komplikasi Komplikasi yang sering adalah bila kuman telah naik ke panggul

sehingga terjadi penyakit yang dikenal dengan penyakit radang panggul. Komplikasi jangka panjang lebih mengerikan lagi yaitu kemungkinan wanita tersebut akan mandul akibat rusak dan lengketnya organ organ dalam kemaluan terutama tuba fallopii. 8. Pengobatan a. Cari dan obati penyebabnya b. Menghilangkan gejala c. Mengobati pasangan d. Mencegah kekambuhan e. Antimikroba seperti : Antifungsi Antivirus Antitrichomonas Antibiotik

f. Vagina douche

23

g. Rendam duduk.

9. Cara cara pencegahan. a) Membersihkan bagian luar kemaluan setelah buang air kecil atau air besar, menggunakan air. b) Ketika haid, wanita dianjurkan kerap menukar pembalut wanita terutama pada hari-hari yang banyak darah keluar. Ini kerana darah adalah media yang sesuai untuk kuman membiak. Bagi wanita yang menggunakan tampon mereka perlu ingat untuk menukarnya. c) Hindari melakukan douching yaitu memasukkan jari atau pancutan ke dalam vagina dengan tujuan membersihkan bagian dalam vagina. Perbuatan ini akan menyingkirkan sejenis bakteria lactobacilli dari vagina dan menhindarkan bagian luar kemaluan dari bahan kimia yang mengakibatkan iritasi kulit. d) Hindari menyabunan pada alat kelamin kerana mungkin menyebabkan kekeringan dan iritasi kulit atau gatal. Setengah wanita sensitif dan alergi pada pewangi yang terdapat pada sabun. e) Pasangan suami istri diharuskan membersih alat kelamin dengan air sebelum dan selepas hubungan seks untuk kebersihan yang optimal. f) Biasakan membuang air kecil kurang lebih setengah jam setelah hubungan seks untuk mengurangi resiko terjankitnya kuman. Tindakan

24

ini untuk wanita yang sering mengalami infeksi saluran kemih (urinary tract infection). g) Hindari memakai pakaian dalam sintetik yang terlalu ketat kerana ia menyebabkan kulit berpeluh, tidak ada peredaran udara pada kulit dan akhirnya mengakibatkan kuman berkembang biak. Pakaian dalam perlu diganti setiap hari dan pada hari-hari mengalami keputihan, boleh memakai panty liner supaya ia tidak melekat pada pakaian dalam yang menyebabkan ketidaknyamanan. h) Diet. Perbanyak antioksidan vitamin seperti vitamin A, C, dan E. Begitu juga vitamin B kompleks dan D direkomendasikan untuk daya tahan tubuh. Penggunaan yogurt sebagai terapi oral lactobacillus dapat menurunkan angka rekuren. Pengendalian faktor risiko dengan tidak melakukan hubungan seksual sebelum dinyatakan sembuh atau menggunakan kondom.

25

26