Anda di halaman 1dari 39

TO EXPLORE THE UNKNOWN

Disusun oleh Moh. Aris Asari, S.Pd.

PROGRAM KEAHLIAN TEKNIK PENDINGIN DAN TATA UDARA SMK NEGERI 1 CIREBON
2011
Visit us on : ptu.smkn1-cirebon.sch.id
Refrigeration System-2_To Explore the Unknown

CHAPTER I SISTEM REFRIGERASI ICE PLANT

Gambar 1.1 Instalasi sistem refrigerasi water chiller untuk pabrik es Gambar 1.1 merupakan gambar instalasi pemipaan sistem refrigerasi dengan water chiller untuk pabrik es. Dari gambar terdapat 3 sistem yang perlu kita anailisi, yaitu: 1. Sistem Refrigerasi 2. Sitem Cooling Tower 3. Sistem Ice Plant 1. Komponen Sistem Refrigerasi A. Compressor

Gambar 1.2 Gambar Kompresor unit (courtesy : PT. Grasso Int.) Karena refrigeran yang sering digunakan pada sistem refrigerasi untuk pabrik es adalah R-717 (ammonia) dan halocarbon maka kompresor yang digunakan bisa reciprocating, rotary dan centrifugal. Untuk menentukkan kompresor pada sistem refrigerasi untuk pabrik es, diperlukan beberapa parameter seperti berikut : a. Speed dalam rpm (rotasi per menit)

Refrigeration System-2_To Explore the Unknown

b. Evaporating temperatur Te dalam C (evaporasi temperatur refrigerant/amoniak) c. Condensing temperatur Tc dalam C (kondensasi temperatur refrigerant/amoniak) d. Superheat dalam K (panas lanjut kompresiyangmelewati batas saturasi uap Te) e. Subcooling dalam K (pendinginan lanjut yangmelewati batas saturasi cair Tc) Evaporating temperatur untuk Pabrik Es pada umumnya ditetapkan pada suhu 8C hingga 15C, karena air garam biasanya bekerja pada suhu 5C hingga 12.5C. Temperatur air garam lebih rendah dari 15C akan membuat Es Balok cepat retak pada waktu pencabutan es, karena perbedaan temperatur udara dan es yang sangat besar. Condensing temperatur biasanya berkisar antara 35C hingga 45C, tergantung dari jenis refrigerant yang digunakan (Freon/Amoniak) juga jenis condenser (air cooled, water cooled atau evaporative condenser). Superheat adalah perbedaan suhu antara saturasi uap temperatur dari kompresi (Te) yang suhunya naik akibat panas lanjut dari lingkungan sekitarnya (panas udara di ruangan mesin atau panas mesin sendiri dari pergerakan piston) hingga mencapai saturasi uap temperatur sesungguhnya. Ideal superheat 0 K pada dasarnya sulit dicapai. Umumnya superheat berkisar antara 3 hingga 5 K. Subcooling adalah penurunan temperatur saturasi cair dari kondensasi lebih lanjut dengan menggunakan heat exchanger (penukar kalor) antara amoniak dengan air, udara, atau refrigerant lain. Subcooling bisa mencapai penurunan temperatur 5 hingga 10 K. Apabila tidak digunakan heat exchanger tambahan setelah condenser untuk menurunkan temperatur saturasi cair dari kondensasimaka sub cooling adalah0 K. B. Condensing unit Dalam aplikasinya, terdapat tiga jenis condenser berdasarkanmedia pendinginnya, yaitu: 1) Air Cooled Condeser (ACC) Air Cooled Condeser (ACC) adalah condenser dengan media pendingin udara. Keuntungan menggunakan Air Cooled Condeser adalah mengurangi instalasi untuk cooling tower sehingga mengurangi biaya perawatan. Instalasi cooling tower akan berhubungan dengan maintenance pada water treatment, make up water, perawatan pada tower, freeze protection dan pembesihan tabung condenser. Keuntungan lain dari Air Cooled Condeser adalah sistem yang sudah utuh, packaged system, sehingga akan mengurangi waktu untuk mendesain sistem, instalasi yang sederhana, dan faktor packaging system yang membuat semua komponen refrigerasi yang sudah terpasang dari pabrik sehingga memudahkan untuk monitoring sistemnya. Kerugian dari sistem ini adalah jika temperatur ambient diatas dari temperature kondesor serta mahalnya biaya energy listrik. Air Cooled Condeser diinstalasi dibagian luar gedung.

Gambar 1.3 Air Cooled Condenser 2) Water Cooled Condenser (WCC) Water Cooled Condenser adalah condenser dengan media pendingin air. Energi yang digunakan pada Water Cooled Condenser lebih efesien dibandingkan Air Cooled Condenser. Keuntungan menggunakan Water Cooled Condenser salah satunya tidak dipengaruhi oleh temperatur ambient . Life time dari Water-cooled chiller bisa mencapai 20-25 tahun

Refrigeration System-2_To Explore the Unknown

sedangkan untuk air-cooled chillers hanya 15-20 tahun. Water Cooled Condenser diinstalasi di bagian dalam gedung biasanya di basement. Kerugian dari Water Cooled Condenser adalah instalasi yang tidak sederhana. Secara umum sistem Water Cooled Condenser bisa dibagi menjadi 2 kategori, yaitu : a. Waste-water system, dimana air yang sudah terpakai di condenser langsung dibuang. Biasanya sistem ini dipakai untuk lokasi sistem yang kaya dengan sumber air.

Gambar 1.4. Waste-water system b. Recirculated water system, dimana air yang sudah terpakai untuk mendinginkan kondenser didinginkan melalui coolingtower lalu disirkulasikan kembali ke condenser.

Gambar 1.5. Recirculated water system Terdapat tiga tipe dasar dari Water Cooled Condenser yaitu: a) Tipe double-tube / tube and tube Tipe inimenggabungkan dua pipa, yang satu berisi refrigeran dansatunya lagi berisi air denganaraharus saling berlawanan.

Refrigeration System-2_To Explore the Unknown

Gambar 1.6 Double tube Condenser b) Tipe Shell and tube Tipe ini menggunakan shell (tabung) yang berfungsi menampung refrigeran dari kompresor untuk dikondesasikan sedangkan air sebagaimedia penghantar panas berada di dalam pipa horizontal. Refrigerant vapor in Shell Hot water out

Cold water in

Tube Gambar 1.7 Shell and tube Condenser

Refrigerant liquid out

c) Tipe Shell and coil Tipe ini menggunakan shell (tabung) yang berfungsi menampung refrigeran dari kompresor untuk dikondesasikan sedangkan air sebagaimedia penghantar panas berada di dalam pipa coil.

Gambar 1.8 Shell and coil Condenser

Refrigeration System-2_To Explore the Unknown

3) Evaporative Cooled Condenser (ECC) Evaporative Cooled Condenser adalah condenser dengan media pendinginkombinasi antara udara dan air.

Gambar 1.9 Evaporative Cooled Condenser C. Evaporator unit Evaporator berfungsi untuk menguapkan refrigerant, dalam hal ini refrigeran akan mengambil panas dari sistem. Dalam sistem refrigerasi yang besar (umumnya tipe shell and tube), evaporator bisa dibagi menjadi dua tipe yaitu: a. Tipe Flooded Evaporator Refrigeran dari XV akan masuk menggenangi shell yang di dalamnya berisi pipa yang berisi air. Air hangat yang masuk di dalam pipa akan diserap panasnya oleh refrigeran yang menggenangi shell. Akibat perpindahan panas ini, refrigeran yang menggenangi shell akan menguap dan uap refrigeran akan naik menuju kompresor, sedangkan air yang keluar dari shell akan menjadi dingin. Flooded evaporator biasanya dilengkapi oleh sensor level liquid refrigeran di dalam shell yang terhubung dengan mekanisme kerja electronic expansion valve sehingga akan mengatur banyaknya refrigeran yang akan masuk ke dalam shell untuk menjaga tingkat terendah refrigeran yang menggenangi shell.

Gambar 1.10 Flooded Evaporator

Refrigeration System-2_To Explore the Unknown

b.

Tipe Direct Expansion(DX) Evaporator

Gambar 1.11 Dry-Expansion Evaporator Beda dengan tipe Flooded evaporator, refrigeran yang keluar dari XV akan masuk melalui pipa dan air akan masuk memenuhi shell. Air di dalam shell akan didinginkan oleh refrigeran yang ada di dalam pipa, konsekuensinya refrigeran akan menguap dan keluar menuju kompresor.

Refrigeration System-2_To Explore the Unknown

CHAPTER II COOLING TOWER


Dalam sub ini, kita hanya akan membahas condensing unit tipe recirculated water jenis shell and tube dimana akan berhubungan erat dengan cooling tower. Cooling tower merupakan alat yang dapat menghemat air (water conservation) atau alat yangmemproses ulang air atau mampu menurunkantemperatur air (recovery devices). Berdasarkan cara udara bersirkulasi, coolingtower bisa dibedakanmenjadi dua jenis yaitu A. Natural draft Cooling tower B. Mechanical draft. Coolingtower 1. Natural draft cooling tower Natural draft atau hyperbolic cooling tower memanfaatkan perbedaan temperatur antara udara sekitar dengan udara panas di dalam tower. Ketinggian cooling tower tipe ini harus di atas 200 m, dan biasanya digunakan untuk pembuangan panas yang besar karena biaya pembangunannya tower inimahal. Terdapat dua tipe natural draft cooling tower, yaitu: a. Cross flow tower yaitu udara dialirkanmelewati tetesan air dan air yang telah dingin ditampung diluar tower.

Gambar 2.2 Gambar Natural draft Cooling Tower Cross flow tower b. Counter flow tower yaitu udara dialirkan ke atas berlawanan arah dengan tetesan air dan air yang telah dingin ditampung didalam tower.

Gambar 2.3 Gambar Natural draft Cooling Tower Counter flow tower

Refrigeration System-2_To Explore the Unknown

2. Mechanical draft cooling tower

Mechanical draft cooling tower menggunakan fan/blower untuk menekan dan mengalirkan udara untuk mendinginkan air. Terdapat dua tipe darimechanical draft cooling tower, yaitu : a. Forced draft cooling tower Udara di dorongke dalam cooling tower denganmenggunakan fan yang diletakan pada inlet air tower.

Gambar 2.4 Forced draft coolingtower

Refrigeration System-2_To Explore the Unknown

b. Induced draft cooling tower Induced draft cooling tower bisa dibagi dua berdasarkan arah aliran udaranya yaitu counter flow dan cross flow induced draft coolingtower.

Gambar 2.5 Counter flow induced draft cooling tower

Gambar 2.6 Cross flow induced draft coolingtower Pada Mechanical Draft Cooling tower, beberapa cooling tower diberi susunan tambahan supaya air dapat mengalir pada material tipis tersebut. Material tipis tersebut biasanya disebut fill. Fill terbuat dari beberapa jenis material, seperti plat metal, kayu tipis, asbestos-Plastic dan asbestos-cement. Bentuk dari fill bermacam-macam ada yang berbentuk Z-shaped, honey comb (sarang lebah), embossed (bentuk timbul), flat sheet ataupun corrugated sheet (bergelombang). Berdasarkan pola udara mengalir di dalam tower, cooling tower bisa dibedakanmenjadi 3 jenis yaitu Parallel Flow Jika pergerakan udara di dalam tower searah dengan arah tetesan air. Cross Flow Jika pergerakan udara di dalam tower bersilangan dengan arah tetesan air. Counter Flow Jika pergerakan udara di dalam tower berlawanan dengan arah tetesan air.

A. B. C.

Refrigeration System-2_To Explore the Unknown

A. B. C.

Berdasarkan pola penguapan uap air di dalam tower, cooling tower bisa dibedakanmenjadi 3 jenis yaitu Spray-Filled Jika air yang berfungsi untuk mendinginkancondenser berbentuk spray Deck-Filled Jika air yang berfungsi untuk mendinginkancondenser berbentuk kucuran air Combination Spray and Deck-Filled Jika air yang berfungsi untuk mendinginkancondenser berbentuk spray dan kucuran air

Berdasarkan bentuknya, cooling tower juga bisa dibagi menjadi dua bentuk, yaitu Rectilinear dan Round Mechanical Drift.

Gambar 2.7 Rectilinear Mechanical Drift Cooling Tower

Gambar 2.8 Round Mechanical Drift Cooling Tower

Refrigeration System-2_To Explore the Unknown

Menurut GEA Grasso Indonesia pada Journal Block ice plant, keefektifan sebuah cooling tower dipengaruhi oleh beberapa faktor di bawah ini : a. Perbedaan tekanan uap antara udara dan air b. Luas permukaan air dan lamanya proses c. Kecepatan udara yang dialirkan melewati tower d. Arah aliran udara yang dihubungkan dengan luas permukaan air yang dipercikan Sedangkan menurut Althouse pada bukunya, Modern Refrigeration and Air Conditioning 18th Edition, beberapa faktor yang mempengaruhi performance dari cooling tower adalah : 1. Kondisi daerah dan desain cooling tower 2. Kelembapan daerah tersebut 3. Beban panas tower 4. Kondisi wet bulb temperature daerah tersebut 5. Kualitas air

Refrigeration System-2_To Explore the Unknown

CHAPTER III REFRIGERAN


a. Refrigeran Berdasarkan bahan penyusunnya, refrigeran bisa dibagi menjadi beberapa kelompok (Dossat) : 1) Kelompok Halocarbon contohnya R-11 (CCl3F) , R-12(CCl2F2), R-22(CHClF2), dll. 2) Kelompok Cyclic Organic contohnya R-C316 (C4Cl2F6), R-C317 (C4ClF7), dan R-C318 (C4F8). 3) Kelompok Azeotropes contohnya R-500 (R-12+R-152a), R-501 (R-22+R-12), R-502 (R-11+R-115). 4) Kelompok Hydrocarbon contohnya R-50(methane), R-170 (ethane), R-290 (propane), dll. 5) Kelompok Oxygen contohnya R-610 (Ethyl Ether), R-611(Methyl Formate) 6) Kelompok Sulfur contohnya R-620 7) Kelompok Nitrogen contohnya R-630 (Methyl amine), R-631 (Ethyl amine). 8) Kelompok Inorganic contohnya R-717 (NH4), R-718 (H2O), R-729 (Udara), R-744 (CO2) dll 9) Kelompok Unsaturated Organic contohnya R-1112a (CCl2==CF2), R-1113(CClF==CF2) dll Untuk pabrik es komersil biasanya menggunakan refrigeran 717 (Ammoniac), walaupun tidaklah tidak mungkin menggunakan kelompok halocarbon. Mengidentifikasi refrigeran dari nomor dan kode warna cylinder yang dikeluarkan ASHRAE dapat dilihat pada tabel berikut:

Refrigeration System-2_To Explore the Unknown

b. Kriteria dalam pemilihan refrigeran Dalam memilih suatu jenis refrigeran pada sistem, ada beberapa hal yang harus dipertimbangkan : 1. Memiliki titik didih yang rendah (normal boiling point temperature), lebih rendah dari evaporator yang direncanakan. normal boiling point adalah titik didih (temperatur saturasi) refrigeran pada tekanan 1 atm (14.7 psi). Beberapa contoh NBP refrigerant dengan perkiraan jumlah panas evaporasi

Beberapa contoh NBP refrigerant dengan aplikasi pada sistem

Althouse 2. Mempunyai tekanan kondensasi yang rendah. 3. Mempunyai tekanan penguapan yang lebih tinggi sedikit dari tekanan atmosfer. 4. Mempunyai kalor laten penguapan yang besar.
Refrigeration System-2_To Explore the Unknown

5. Mudah di deteksi dalam kebocoran. 6. Harganya ekonomis dan mudah didapatkan. Merk dagang berbagai jenis refrigeran dengan produsennya

c. Kriteria Refrigeran Ideal A. Faktor Thermodinamika dan Thermo-fisika 1. Tekanan suction Refrigeran yang ideal harus memiliki tekanan suction yang tinggi sehingga akan menurunkan compressor displacement. 2. Tekanan discharge Refrigeran yang ideal harus memiliki tekanan discharge yang rendah sehingga akan memungkinkan pemilihan kompresor dan kondensor yang lebih ringan dan murah. 3. Pressure ratio Refrigeran yang ideal harus memiliki pressure ratio yang rendah sehingga akan menaikkan efesiensi volumetric dan penggunaan energy yang lebih sedikit. 4. Panas latent penguapan Refrigeran yang ideal harus memiliki panas latent penguapan yang tinggi sehingga jumlah refrigeran yang masuk ke evaporator lebih sedikit. 5. Proses isentropic kompresi Refrigeran yang ideal harus memiliki proses isentropis yang rendah sehingga panas yang terjadi ketika proses kompresi akan rendah. 6. Panas specific Refrigeran yang ideal harus memiliki panas specific yang tinggi sehingga akan menurunkan temperatur superheat. 7. Konduktivitas thermal Refrigeran yang ideal harus memiliki konduktivitas thermal yang tinggi pada fasa cair maupun gas sehingga akan menaikkan proses transfer panas. 8. Viscositas Refrigeran yang ideal harus memiliki viskositas yang rendah baik pada fasa cair dan gas untuk mengurangi penurunan tekanan (pressure drop). B. Faktor keamanan dan efek terhadap lingkungan 1. Ozone Depletion Potential (ODP) Berdasarkan Montreal Protocol, nilai ODP refrigeran seharusnya adalan nol, jadi tiap refrigeran harus tidak bersifat merusak lapisan ozon. Semakin rendah nilai ODP maka
Refrigeration System-2_To Explore the Unknown

2.

3.

4.

5.

6.

7.

semakin baik sifat refrigeran tersebut dan sebaliknya, semakin tinggi nilai ODP suatu refrigeran maka semakin buruk efek refrigeran tersebut terhadap lingkungan. Berdasarkan hasil penelitian, Chlorine dan Bromine merupakan substan dari refrigeran yang menyebabkan penipisan lapisan ozone. Global Warming Potential (GWP) Semakin rendah nilai GWP maka semakin baik sifat refrigeran tersebut karena dengan rendahnya nilai GWP maka efek penggunaan refrigeran tersebut terhadap pemanasan global akan rendah. Total Equivalent Warming Index Nilai TEWI merupakan gabungan dari efek refrigeran terhadap lingkungan baik itu efek langsung (kerusakan di atmosfer) dan tidak langsung (penggunaan energi) yang berkontribusi terhadap pemanasan global. Suatu refrugeran dengan nilai TEWI rendah nilai akan lebih baik daripada refrigeran yang mempunyai nilai GWP yang rendah. Jadi semakin rendah nilai TEWI maka semakin baik sifat refrigeran tersebut, dan Toxicity Toxicity merupakan sifat beracun suatu refrigeran. Sebenarnya semua refrigeran beracun (kecuali udara) dan sifat toxicity refrigeran sangat relative karena sifat racun refrigeran akan timbul ketika konsentrasinya dalam udara sangat tinggi. Refrigeran seperti CFC dan HCFC tidak akan beracun ketika bercampur dengan udara sekitar, namun jika CFC dan HCFC terbakar maka akan menghasilkan gas yang sangat beracun (phosgene-COCl2). Beberapa organisasi seperti ASHRAE (American Society of Heating & Reftigerating and Air Conditioning Engineers), HMIS (Hazardous Material Identification System), NFPA (National Fire Protection Association), NRSC (The National Refrigeration Safety Code), and NBFU (National Board of Fire Underwriters) mengelompokan refrigeran yang dapat bersifat racun dengan cara kontak langsung, mellui pernafasan ataupu lewat pencernaan. ASHRAE mengelompokkan tingkat beracun refrigeran dengan huruf A dan B. Kelompok A merupakan refrigeran yang tidak beracun dan kelompok B merupakan refrigeran yang beracun. Tingkat beracun ini diukur pda konsentrasi refrigeran di bawah 400 ppm. Contoh kelompok A : R-11, R-12, R-22, R-134a, R-500, R-502, R-507A, R-741 dan contoh kelompok B : R-40, R-123, R-717, R-764. Flammability Flammability merupakan sifat mudah terbakarnya suatu refrigeran. Refrigeran yang ideal haruslah tidak mudah terbakar. ASHRAE mengelompokkan tingkat flammability refrigeran dalam nomor 1, 2 dan 3. Refrigeran kelompok nomor 1 adalah refrigeran dengan yang tidak mudah terbakar, seperti R-11, R-12, R-12, R-22, R-123, R-125, R-500, R-502, etc. Refrigeran kelompok nomor 2 adalah refrigeran yang tingkat flammability-nya rendah, seperti R 717. Refrigeran kelompok nomor 3 adalah refrigeran yang tingkat flammabilitynya tinggi, seperti R 1140. Chemical stability Refrigeran harus memiliki kestabilan unsur kimia yang baik sehingga ketika digunakan pada sistem refrigerasi tidak mengalami perubahan unsur kimianya dalam waktunya yang lama. Compatibility Maksud compatibility disini adalah kemampuan refrigeran untuk digunakan dengan material konstruksi yang lain jadi tidak mempengaruhi unsur dari material lainnya. Contohnya penggunaan R12 dengan instalasi pemipaan menggunakan tembaga. Namun
Refrigeration System-2_To Explore the Unknown

jika menggunakan Ammoniac maka tidak menggunakan instalasi pemipaan tembaga karena dapatb menyebabkan korosi jadi menggunakan instalasi pemipaan baja. 8. Mudah bercampur dengan oli Refrigeran yang ideal harus mudah bercampur dengan oli sehingga ketika didalam sistem refrigerasi, refrigeran dan oli bisa kembali ke compressor. Sedangkan untuk refrigeran yang tidak bisa bercampur dengan oli, bisa menggunakan oil separator. 9. Kekuatan dielektrik Refrigeran yang ideal harus memiliki kekuatan dielektrik yang tinggi untuk menghindari kerusakan di motor kompresor. 10.Mudah dalam medeteksi kebocoran d. Secondary Refrigerant Secondary refrigerant adalah fluida yang bisa membawa panas dari suatu substan yang sedang didinginkan menuju evaporator dari sistem refrigerasi. Dalam industry terdapat dua jenis sistem refrigerasi jika dilihat dari pemakaian refrigerannya, yaitu : a. Direct Refrigeration substan being cooled primary refrigerant

Gambar 3.1 Direct Refrigeration Cycle b. Indirect Refrigeration substan being cooled secondary refrigerant

heat exchanger

primary refrigerant

Gambar 3.2 Indirect Refrigeration Cycle

Refrigeration System-2_To Explore the Unknown

Secondary refrigerant akan didinginkan oleh primary refrigerant dan akan terjadi perpindahan panas di heat exchanger tanpa ada perubahasan fasa. Secondary refrigerant disebut juga secondary fluid, heat transfer fluid atau juga brines. Keuntungan sistem indirect dibandingkan sistem direct refrigeration salah satunya adalah penggunaan primary refrigerant bisa diminimalisir. Secondary refrigerant bisa digunakan pada sistem refrigersi komersil dan low temperature refrigeration dan sangat cocok untuk sistem yang menggunakan primary refrigerant yang ramah lingkungan namun bersifat racun dan mudah terbakar seperti ammonia dan hydrocarbon. Pada pronsipnya, air adalah secondary refrigerant yang baik untuk sistem Air Conditioning serta aplikasi lainnya jika hanya untuk menurunkan temperatur sampai +3 C (37.4 F). Secondary Refigerant yang baik, harus memiliki beberapa syarat sebagai berikut : a. memiliki viscosity yang rendah. b. memiliki specific heat yang tinggi, sehingga proses pertukaran panas lebih cepat. c. memiliki konduntivitas thermal yang tinggi, sehingga pertukaran panas antara pipa dengan liquid lebih cepat. d. memiliki chemical corrosion inhibitor yang baik. e. memiliki kestabilan kimia yang baik. f. tidak beracun. g. tidak mudah terbakar. h. tidak memperanguhi kualitas subtan yang didinginkan. Jenis-jenis Secondary refrigerant Terdapat dua kategori secondary refrigerant yang tersedia di pasaran, yaitu : a. aqueous solutions bahan dasar air, biasanya dicampur dengan garam dengan kandungan tertentu, bahan tambahan bisa berupa magnesium dan calcium chloride. penggunaan pada low temperature refrigeration, biasanya digunakan campuran potassium acetate dan potassium formate yang memiliki tingkat resistansi korosi yang lebih tinggi. Jenis aqueous secondary refrigerant beserta freezing temperaturnya

b. non-aqueous solutions brand name perusahaan, heat transfer kurang baik, lebih mahal dan mudah bermasalah pada korosi, kontaminasi dan tekanan kerja.

Refrigeration System-2_To Explore the Unknown

Jenis non-aqueous secondary refrigerant beserta freezing temperaturnya

Refrigeration System-2_To Explore the Unknown

CHAPTER IV SYSTEM ICE PLANT MAPING


A. Map pabrik es

B.

Lay out pabrik es All system

Refrigeration System-2_To Explore the Unknown

a)

Part of Brine Agitator

Agitator dilengkapi propeller, tangkai dan propeller berfungsi untuk mensirkulasikan refrigeran sekunder. b) Ice Can Filler dan Over head crane

c)

Ice can filler berfungsi untuk pengisian air pada cetakan es balok secara otomatis. Blower roots

d)

Blower roots berfungsi untuk meniupkan udara ketika es dibekukan supaya es menjadi jernih. Cetakan es

Refrigeration System-2_To Explore the Unknown

Storage Room

Evaporator

Storage Ice Block

Refrigeration System-2_To Explore the Unknown

CHAPTER V ICE PRODUCT


Di dalam chapter 5, kita akan membahas beberapa jenis ice product. Diantaranya yaitu, : A. Flake Ice B. Tube Ice C. Chip Ice D. Cube Ice E. Slurry Ice F. Block Ice A. Flake Ice Definisi Flake Ice

Mesin Pembuat Ice Flake 20 Ton/day Ice flake terbuat dari campuran garam dan air (maksimum 500 gram garam per ton air), namun dalam beberapa kasus bisa terbuat dari air garam saja. Ketebalan es 1 mm 15 mm, dengan bentuk yang tidak beraturan.

Ice Flake, flat and thin shape

Refrigeration System-2_To Explore the Unknown

Komponen ice flake machine Compressor Motor for ice breaker Evaporator Water Cooled Condenser Acumulator Water Pump

Liquid Receiver Tank

Filter drier

Profile di dalam evaporator Water reservoir Water Filler Air yang dikucurkan ke lempengan evaportor Thermal insulation Air dikucurkan ke lempengan evaporator melalui water filler yang berputar. Formasi es telah terbentuk di evaporator akibat pengambilan panas air oleh refrigeran. Sebagian formasi es telah terbentuk di evaporator

Air akan tetap mengucur dari water filler meski sebagian formasi es telah terbentuk pada evaporator. Terbentuknya formasi es kurang dari 1 menit.

Refrigeration System-2_To Explore the Unknown

Formasi es telah terbentuk di evaporator

Ice breaker berputar menghancurkan es

Setelah formasi es telah terbentuk di evaporator, ice breaker akan berputar dan menghancurkan formasi es tersebut. Ice Breaker akan terus berputar seiring perputaran water filler. Ice breaker berputar menghancurkan es

Es yang telah hancur akan turun ke bawah

B. Tube Ice Definisi Tube Ice

Tube ice dengan beragam ukuran (courtesy alibaba.com) Ukuran dari tube ice berkisar 50 x 50 mm dengan ketebalan 10 to 12 mm. Prinsip kerja nya mirip dengan shell and tube condenser. Air akan mengisi tube sedangkan ammonia (refrigeran yang dipakai) mengisi ruanga diantara tube tersebut. Es terbentuk saat air mengalir ke dalam tabung vertikal dan membeku di dinding shell. Lapisan es ini kemudian dikeluarkan dalam bentuk tabung/pipa. Tabung pipa es yang membeku di ice generator sebenarnya dalam ukuran yang panjang. Untuk melepas es dari tube, maka digunakan hot gas defrost supaya ice tube dapat terlepas. Setelah terlepas, ice tube akan dipotong sesuai ukurannya, biasanya berkisar 50 mm.

Refrigeration System-2_To Explore the Unknown

Tube Ice Machine (Courtesy of Focusun)

Refrigerant fill

Water distributor

Refrigerant fill

Water fill

Refrigerant tube Refrigerant shell

Water tube

Componen of Ice Tube Machine (courtesy by Icelings)

Refrigeration System-2_To Explore the Unknown

C. Chip Ice Definisi Chip Ice

Chip Ice hampir sama dengan flake ice (courtesy Polar) Ketebalan chip ice hampir sama dengan flake ice yaitu berkisar 3 mm 15 mm, dengan bentuk yang tidak beraturan. Yang membedakan adalah metode produksi dari chip ice. Chip ice diproduksi dengan jalan mengaliri suatu evaporator yang berbentuk tabung dengan air. Lama kelamaan es tersebut akan membeku dan retak akibat perbedaan temperatur dengan udara luar. Untuk melepaskan es dari evaporator, digunakan hot gas defrost, sehingga es yang retak akan jatuh ke penampungan es. Di penampungan es, terdapat ice cutter untuk memotong es yang masih jika berdimensi cukup besar.

Mesin Chip Ice, evaporator berbentuk silinder (Courtesy of Polar)

Air mengaliri evaporator

Air telah membeku di evaporator

Refrigeration System-2_To Explore the Unknown

Es pada evaporator retak

Es pada evaporator yang retak akan jatuh

Ice cutter

Retakan es yang berdimensi besar akan dipotong kembali oleh ice cutter D. Cube Ice Definisi Cube Ice

Kold-Draft

Cube ice berukuran berbeda-beda bergantung dari perusahaan yang membuat cube ice machine nya. Contoh standard ukuran cube ice dari Kold-Draft Manufacture : The Full Cube : ukuran 3.175 cm x 3.175 cm x 3.175 cm The Half-Cube : ukuran 3.175 cm x 3.175 cm x 1.6 cm The Cubelet : ukuran 3.175 cm x 1.6 cm x 1.6 cm

Refrigeration System-2_To Explore the Unknown

Cube ice terbuat dari air yang membeku pada cell berbentuk kotak yang terbuat dari plat tembaga tipis yang berfungsi sebagai evaporator. Cell di aliri oleh air dan lama-kelamaan es akan membeku di dalam cell. Setelah air di dalam cell membeku, es akan jatuh ke penampungan.

Cube Ice Plant (Courtesy of Koller)


Refrigerant pipe Copper plate

ice formed

Cell Copper in the ice maker evaporator

Refrigeration System-2_To Explore the Unknown

E. Slurry Ice Definisi Slurry Ice

(a)

(b)

(a) Slurry ice dengan propylene glycol dilihat dari microskop, (b) dan aplikasi untuk pembekuan ikan Slurry ice merupakan proses refrigerasi yang menghasilkan dan membentuk jutaan micro-crystal es (diameternya berkisar 0.1 s.d 1 mm) dan bercampur dengan air yang telah diberi depressant freezing point (anti-frezee solution). Beberapa contoh depressant freezing point diantaranya adalah garam (sodium chloride), ethylene glycol, propylene glycol, berbagai jenis alcohol (Isobutyl, ethanol) dan gula (sucrose, glucose). Slurry ice memiliki tingkat penyerapan panas produk yang lebih baik dibanding sistem refrigerasi brine. Sejumlah brine akan masuk dengan dipompa menuju ice generator. Ice generator merupakan evaporator jenis shell and tube dimana refrigerant berada di pipa bagian paling luar.

Di dalam ice generator brine dan air akan bercampur dan akan terbentuk bongkahan es. Bongkahan es akan mengapung di atas ice generator dan bersirkulasi bersama pemotong es di dalamnya, sehingga bongkahan es tersebut akan pecah dan bercampur dengan air dibawah menjadi slurry ice.

Refrigeration System-2_To Explore the Unknown

Operasional Slurry Ice Machine (Courtesy of Sunwell) F. Block Ice Definisi Block Ice

Ice Block (Courtesy of Koller) Ice block dapat berbentuk block ataupun silinder, bergantung cetakannya. Ukuran ice block bervariasi bergantung dari vendor yang membuat mesin ice block. Contoh ukuran cetakan es dari PT. Grasso : 1. 50 kg persegi panjang 380x190 x 1115 mm 2. 50 kg bujur sangkar 260x260 x 1115 mm 3. 25 kg persegi panjang 240x150 x 1115 mm 4. 25 kg bujur sangkar 190x190 x 1115 mm Mesin ice block dapat dibagi menjadi 3 tipe : 1. Brine-refrigeration system Sistem ini menggunakan refrigerant sekunder sebagai media pendingin untuk ice block dan refrigerant primer sebagai media pendingin refrigerant sekunder. Refrigeran sekunder ditempatkan ke dalam bak air garam (sebagai refrigerant sekunder) sedangkan refrigerant primer ditempatkan di dalam sistem refrigerasi.

Refrigeration System-2_To Explore the Unknown

Sistem refrigerasi primer

Cetakan es

Brine /refrigeran sekunder

Brine-Refrigeration System (Courtesy of KINGMAN) 2. Direct contact ice plant refrigeration system Direct contact ice plant refrigeration merupakan sistem refrigerasi yang cetakan esnya bersentuhan langsung dengan evaporator. Sistem ini hanya menggunakan refrigeran primer.

Direct contact ice plant refrigeration 3. Container Ice Plant refrigeration system Container Ice Plant refrigeration system menggunakan mesin pendingin yang sama dengan mesin pendingin pada Direct contact refrigeration dan merupakan sistem refrigerasi yang cetakan esnya bersentuhan langsung dengan evaporator. Sistem ini hanya menggunakan refrigeran primer. Evaporator dan cetakan es nya berada di dalam container.

Refrigeration System-2_To Explore the Unknown

Container Ice Plant refrigeration system

Refrigeration System-2_To Explore the Unknown

CHAPTER V CAPACITY LOAD CALCULATION


A. Kapasitas refrigerasi Kapasitas suatu sistem refrigerasi untuk pabrik es berkisar 15 TR (49 kW) sampai 306 TR (1077.68 kW) per 24 jam nya (sumber PT. Grasso Indonesia). Karena itu membutuhkan suatu sitem refrigerasi yang besar untuk mencapai kapasitas pendinginan di atas. Contoh menghitung kapasitas refrigerasi adalah sebagai berikut : Untuk membekukan 1 Ton air/24 Jam dari suhu air +30C hingga menjadi es 5C, dengan mengabaikan perbedaan volume spesifik air dan es, dapat dicari kapasitas panas (pendingin) dengan menggunakan persamaan sebagai berikut : a. Panas sebelum dan sesudah pendinginan Q = m Cp T dimana : Q = kapasitas pendinginan persatuan per satuan waktu (kW) m = massa air persatuan waktu (kg/s) Cp air = panas spesifik air (1 kcal/kg.C) Cp es = panas spesifik es (0.5 kcal/kg.C) T = Perbedaan temperature (C) b. Panas pada saat pembekuan/panas laten Q = m q dimana : Q = kapasitas pendinginan persatuan per satuan waktu (kW) m = massa air persatuan waktu (kg/s) q = panas laten es (1 kcal/kg) Dari persamaan diatas, maka kita bias mendapatkan kapasitas pendinginan sebagai berikut : b) Sebelum pembekuan Q = 1000 kg/24.60.60 s x (300)K x 4.19 kJ/kg.K =1.455 kW c) Panas laten pada waktu pembekuan Q = 1000 kg/24.60.60 s x 335 kJ/kg=3.877 kW d) Setelah pembekuan Q = 1000 kg/24.60.60 s x [0-(-5)]K x 2.1 kJ/kg.K =0.122 kW Maka jumlah kapasitas panas secara teori adalah 5.454 kW. Namun dalam praktek seharihari banyak faktor yang mempengaruhi dalam pabrik es, seperti: Beban panas dari Agitator Transmisi panas (dingin) dari bak air garam yang tidak memadai isolasinya serta kayu penutup Peniupan udara untuk membuat es jernih menambah beban panas Pembukaan kayu penutup pada waktu mencabut es dan pengisian air juga menambah beban panas Pada umumnya pabrik es di Indonesia menambahkan 30% dari perhitungan kapasitas berdasarkan teori untuk mengatasi beban tambahan tersebut diatas, sehingga menjadi 5.454 kW x 1.3 = 7.09 kW (6100 kcal/jam) Perlu diingat bahwa waktu pembuatan es tidak semuanya 24 jam, tergantung dari dimensi cetakan es . Tepatnya untuk menghitung kapasitas panas yang diperlukan disesuaikan dengan waktu pembekuan menurut cetakan es (tidak selamanya dibagi dalam 24 Jam) dan massa air yang dimasukkan dalam cetakan es (biasanya air dalam cetakan es 50 kg beratnya lebih dari 60 kg, bahkan sampai 70 kg), namun tetap harus menambahkan faktor beban panas tambahan, yang tidak harus 30%, tergantung kondisi pabrik es.
Refrigeration System-2_To Explore the Unknown

CHAPTER VI JENIS JENIS WATER CHILLER


A. Air Cooled and Reciprocating Compressor Water Chiller Electrical Panel Air Cooled Condenser

Evaporator/Water Chilled

Electrical Panel

Air Cooled Condenser

Reciprocating Compressor

B.

Air Cooled and Scroll Compressor Water Chiller Air Cooled Condenser

Scroll Compressor

Electrical Panel

Refrigeration System-2_To Explore the Unknown

C.

Air Cooled and Screw Compressor Water Chiller Air Cooled Condenser

Scroll Compressor

Electrical Panel

Air Cooled Condenser

Scroll Compressor

D.

Water Cooled and Screw Compressor Water Chiller Electrical Panel Water Cooled Condenser

Screw Compressor

Screw Compressor

Water Cooled Condenser

Evaporator/Water Chilled

Electrical Panel

Refrigeration System-2_To Explore the Unknown

E.

Water Cooled and Centrifugal Compressor Water Chiller

Centrifugal Compressor
MicroTech Water Cooled Condenser

Evaporator/Water Chilled

Centrifugal Compressor

MicroTech

Water Cooled Condenser

Refrigeration System-2_To Explore the Unknown

DAFTAR PUSTAKA
Althouse and Turnquist. (2004). Modern Refrigeration and Air Conditioning 18th Ed. Illinois : Goodheart-Willcox Company Inc. ASHRAE. (2003). Secondary Refrigeration European Experience. Journal of ASHRAE Winter Meeting Chicago, USA. Carrier Air Conditioning Company. Carrier Handbook of Air Conditioning System Design. New York : Mc. Graw Hill PT. GEA Grasso Indonesia. Block Ice Plant . Indonesia : Jakarta

Refrigeration System-2_To Explore the Unknown

BIODATA PENULIS

Nama NIP Tempat, tanggal lahir Pendidikan terakhir Alamat

: : : : :

email Mengajar mata pelajaran

MOH. ARIS ASARI, S.Pd 19840113 201001 1 007 Cirebon, 13 Januari 1984 Sarjana Pendidikan Teknik Mesin UPI Jl. Sultan Agung RT/RW 001/001 Ds. Kebonturi - Kec. Arjawinangun Kab. Cirebon : lex_van_halen@yahoo.co.id : Kerja Las Ventilasi Udara Kompresor & Kelistrikan Refrigerasi Pabrik Es Komersial

Refrigeration System-2_To Explore the Unknown