Anda di halaman 1dari 13

June, 2012 [10 TAHAP PENGORGANISASIAN KELOMPOK PEREMPUAN RENTAN PESISIR]

Panduan Bagi Community Organiser Page 1



10 Tahapan PENGORGANISASIAN
KELOMPOK PEREMPUAN PESISIR

agi yang ingin belajar pengorganisasian atau pendampingan masyarakat, ada beberapa
prinsip yang harus dipelajari.
Pertama, pada dasarnya tidak ada 1 teori pun yang bisa dijadikan panduan oleh orang-orang
yang bekerja bersama masyarakat, khususnya bagi orang-orang yang mendampingi kelompok-
kelompok perempuan di kawasan pesisir. Jika ada pelatih, fasilitator atau narasumber yang
menjelaskan tentang suatu teori dalam mendampingi masyarakat, sebenarnya teori itu hanya cocok
atau sesuai diterapkan di masyarakat dimana teori itu muncul. Artinnya, belum tentu teori tersebut
bisa diterapkan di masyarakat lain yang memiliki perbedaan karakter, budaya dan situasi lainnya.
B
June, 2012 [10 TAHAP PENGORGANISASIAN KELOMPOK PEREMPUAN RENTAN PESISIR]

Panduan Bagi Community Organiser Page 2

Kedua, tidak ada pelatihan atau sekolah dalam bentuk apapun yang bisa membuat seseorang
menjadi Community Organiser (CO). Community Organiser tidak lahir di kelas-kelas belajar atau
ruangan-ruangan hotel. Community Organiser lahir dan berkembang di lapangan pada saat bekerja
bersama masyarakat untuk mendorong sebuah perubahan. Jadi, belajar pengorganisasian bukan
diperoleh dari training atau pertemuan-pertemuan dengan orang yang menyatakan dirinnya ahli.
Karena tidaklah mungkin seseorang menjadi CO yang tangguh hanya karena duduk belajar selama
beberapa hari saja. Seorang CO yang tangguh terbentuk selama bertahun-tahun bekerja bersama
masyarakat, tidak melalui training atau pelatihan saja.
Ketiga, tidak ada sebutan CO yang ahli, pintar, hebat, master atau pelatih. Hanya ada satu sebutan
untuk seorang CO, yakni CO yang tangguh. Tangguh artinya, konsisten bekerja di masyarakat, kuat
menahan godaan dan tantangan, jujur dan mau berkorban untuk orang lain. Jika ada yang
menyatakan dirinnya ahli tentang pengorganisasian, sebenarnya ia sudah berbohong. Namun yang
paling penting adalah, semua ciri-ciri CO yang tangguh tersebut haruslah tercermin dalam
kehidupannya sehari-hari. Percuma saja jika menganggap diri sebagai CO yang tangguh jika dalam
kesehariannya ia dibenci oleh tetangga, tidak akur dengan keluarga, atau jarang bergaul dengan
orang lain.
Ke empat, Community Organiser bukanlah status pekerjaan. Menjadi seorang CO adalah panggilan
hati yang diterapkan dalam kehidupan sehari-hari. Ini artinnya, seorang CO bukanlah pengangguran.
Ia harus memiliki pekerjaan untuk menafkahi dirinnya dan keluargannya. Jika ada seorang CO yang
menjadikan pengorganisasian sebagai jalan mencari penghasilan, maka percayalah, suatu saat ia
akan menyimpang dan memanfaatkan masyarakat untuk kepentingan pribadinnya.
Ada banyak lagi sebenarnya prinsip-prinsip yang harus diketahui oleh seorang CO. Maka carilah
prinsip-prinsip itu ketika bekerja di masyarakat, karena suatu saat akan diketahui dengan
sendirinnya.
Walaupun tidak ada teori yang bisa dijadikan acuan atau pegangan saat melakukan pengorganisasian
di masyarakat, namun seorang CO harus memiliki panduan saat bekerja bersama masyarakat.
Panduan itu sebenarnya harus disusun atau dibangun sendiri oleh seorang CO, karena dia lah yang
paling mengetahui apa tujuan yang ingin dicapai, ia juga yang mengenal secara mendalam tentang
masyarakat atau kelompok masyarakat tersebut, dan bagaimana cara-cara melakukan
pendampingan di masyarakat tersebut. Namun terkadang ketika kepercayaan diri seorang CO masih
belum kuat, dan seorang CO tersebut masih dalam tahapan belajar, terkadang masih perlu dukungan
orang lain untuk membuat panduan tersebut.
Melalui buku atau internet sebenarnya seorang CO bisa belajar dan melihat beberapa panduan
dalam mengorganisir masyarakat. Namun rata-rata panduan tersebut masih sangat umum dan
penuh dengan teori, sehingga tidak banyak membantu. Panduan yang diperlukan adalah yang sesuai
dengan tujuan dan karakteristik masyarakat atau kelompok yang didampingi. Misalnya saja, sangat
tidak bermanfaat jika CO belajar panduan pengorganisasian petani, padahal CO tersebut bekerja
bersama masyarakat nelayan. Karena persoalan dan karakteristik masyarakat nelayan sangatlah
June, 2012 [10 TAHAP PENGORGANISASIAN KELOMPOK PEREMPUAN RENTAN PESISIR]

Panduan Bagi Community Organiser Page 3

berbeda dengan petani. Begitu juga ketika CO belajar panduan pengorganisasian anak sekolah,
padahal kepentingan CO adalah untuk perempuan pesisir. Untuk itu, panduan yang dipelajari atau
yang disusun sendiri oleh seorang CO haruslah yang benar-benar didasarkan pada persoalan dan
karakteristik masyarakat yang sedang ia dampingi.
Salah satu panduan pengorganisasian yang belum banyak ditemui adalah panduan pendampingan
atau pengorganisasian kelompok-kelompok perempuan rentan di kawasan pesisir. Mengapa
panduan ini penting? Selain belum banyak dijadikan perhatian oleh banyak orang, perempuan
rentan pesisir masih dianggap aktor atau bagian dari masyarakat pesisir yang rendah kontribusinnya
terhadap pembangunan dan perubahan. Dalam project Restoring Coastal Livelihood, tokoh utama
perubahan masyarakat pesisir adalah perempuan, khususnya perempuan rentan. Mereka memiliki
kekuatan besar yang jika dimampukan akan berdampak besar terhadap perbaikan masyarakat.
Adapun tahapan yang bisa dijadikan panduan oleh seorang CO ketika akan bekerja membuat
perubahan di masyarakat, khususnya perempuan rentan di pesisir adalah sebagai berikut.
June, 2012 [10 TAHAP PENGORGANISASIAN KELOMPOK PEREMPUAN RENTAN PESISIR]

Panduan Bagi Community Organiser Page 4


June, 2012 [10 TAHAP PENGORGANISASIAN KELOMPOK PEREMPUAN RENTAN PESISIR]

Panduan Bagi Community Organiser Page 5

Pertama-Yakinkan Diri Bahwa Perempuan Adalah yang Utama
Pelajari, dalami dan yakinkan diri bahwa perempuan rentan di pesisir adalah tokoh utama yang
harus dibangkitkan kemampuannya untuk bisa melakukan perubahan untuk dirinnya sendiri,
keluarga dan masyarakat di sekitarnya. Jika ada seorang CO yang ragu dan tidak terlalu yakin bahwa
perempuan rentan pesisir mampu membuat perubahan, maka sudah saatnya CO tersebut berfikir
kembali dan meyakinkan diri lagi bahwa ia benar-benar serius bekerja untuk masyarakat. Keraguan
dari seorang CO tentang pentingnya perempuan rentan pesisir sebagai pihak yang berkemampuan
untuk melakukan perubahan sering terjadi. Walaupun seorang CO tersebut tetap bekerja
mendampingi perempuan rentan di pesisir, namun tidak terlalu yakin tentang perubahan yang bisa
dilakukan oleh perempuan, maka akhirnya tidak akan menghasilkan apa-apa. Walaupun secara
umum perempuan rentan di pesisir memang dalam kondisi lemah dan tidak diperhitungkan di
masyarakat, namun mereka memiliki kekuatan besar. Jadi, hilangkan jauh-jauh keraguan tersebut
dan jangan terlalu mengandalkan fikiran sendiri, karena bisa saja seorang CO yang tidak sadar
tentang kekuatan besar yang dimiliki perempuan pesisir.
Kedua-Pelajari Tujuan
Jika sudah yakin bahwa perempuan adalah aktor utama perubahan di masyarakat pesisir, langkah
selanjutnya adalah mempelajari dan mendalami perubahan seperti apa yang ingin dilakukan. Dalam
project Restoring Coastal Livelihood, tujuan perubahan utama adalah membangun ketahanan
ekonomi masyarakat pesisir. Agar ketahanan ekonomi tersebut bisa terwujud, maka perempuan dan
laki-laki rentan pesisir harus memiliki akses, kontrol dan bisa memanfaatkan sumberdaya yang ada
melalui kegiatan-kegiatan ekonomi yang produktif. Selain itu, perempuan juga harus terlibat dalam
mengambil keputusan tentang sumberdaya alam pesisir. Jika kedua hal itu terjadi, maka masyarakat
rentan di pesisir memiliki ketahanan ekonomi saat terjadi perubahan-perubahan yang sering
merugikan masyarakat dan perempuan pesisir. Untuk memahami tujuan itu, perbanyaklah bertanya,
berdiskusi, dan mencaritahu tentang kondisi perempuan dan masyarakat pesisir secara langsung.
Agar pemahaman CO benar-benar kuat tentang tujuan pengorganisasian/pendampingan, maka
banyak mendiskusikan kondisi-kondisi di masyarakat pesisir, terutama kondisi perempuan pesisir
adalah keharusan. Kalau tidak, maka biasannya CO akan menghayal sendiri, sehingga tujuan yang
ingin dicapai akan menyimpang dari kebutuhan perubahan yang sebenarnya diharapkan dari
masyarakat.
June, 2012 [10 TAHAP PENGORGANISASIAN KELOMPOK PEREMPUAN RENTAN PESISIR]

Panduan Bagi Community Organiser Page 6

Ketiga- Membangun Kedekatan
Bangunlah kedekatan dengan masyarakat, terutama perempuan dan laki-laki rentan. Carannya
adalah, perbanyak berkunjung, ngobrol, dan mengalami apa yang dialami oleh masyarakat dimana
seorang CO akan membuat perubahan. Tidak ada jurus atau rumus khusus untuk bisa dekat dengan
masyarakat. Sering-sering berkunjung, bicara secara langsung dan alami keseharian masyarakat
adalah cara yang paling tepat. Terkadang ada juga CO yang baru 1 atau 2 kali berkunjung tapi merasa
paling tau tentang kondisi masyarakat. Sesungguhnya, sampai kapanpun kita tetap akan terus
belajar dan berupaya mengetahui seperti apa masyarakat tersebut, karena setiap saat akan ada
perubahan-perubahan yang membuat kita harus terus memahami kembali. Ketika kita berkunjung,
berinteraksi, dan mengalami kehidupan mereka, maka pemikiran dan hati kita akan semakin dekat
dengan mereka. Ketika kita sering bertemu, maka wajah kita akan semakin dikenal, semakin dekat,
dan satu saat kita akan dianggap sebagai bagian dari mereka. Tapi yang perlu di ingat adalah, cara
berinteraksi juga tidak boleh sembarangan. Jadilah sebagai orang yang rendah hati, jangan sok pintar
dan menggurui. Sopanlah dalam berinteraksi atau berkomunikasi, dan hormat terhadap orangtua
dan semua orang yang ada di keluarga, dusun atau desa tersebut. Agar bisa terus berkunjung dan
tinggal bersama mereka, maka carilah alasan-alasan yang membuat masyarakat tidak menaruh
curiga atau heran. Agar mudah diterima dan nyaman saat sering berkunjung, carilah 1 atau 2
keluarga yang bisa dijadikan keluarga dekat. Ketika ada 1 atau 2 keluarga yang sudah menganggap
kita sebagai keluargannya, maka kecurigaan dan keheranan orang lain akan berkurang. Tapi yang
perlu di ingat, carilah keluarga yang memang dianggap sebagai keluarga baik-baik, bukan keluarga
yang dibenci atau kurang baik di mata orang atau keluarga lain. Jadi, tidak perlu harus dengan
keluarga yang terhormat. Dekat dengan keluarga yang dipandang miskin pun tidak masalah bagi
seorang CO, sepanjang kedekatan tersebut tidak membawa dampak buruk bagi CO.
Pada tahapan ini dan juga di tahapan selanjutnya, seorang CO juga tidak boleh hanya berinteraksi
dan berkomunikasi karena kepentingan CO saja. Upayakan untuk ikut dalam kegiatan-kegiatan
masyarakat dan pemerintah desa. Jika ada anggota masyarakat yang sakit, pesta perkawinan,
selamatan atau meninggal dunia, usahakan untuk datang. Sering-sering juga bersilaturahmi dengan
warga, baik itu warga yang terpandang maupun yang secara sosial ekonomi kurang diperhitungkan
oleh masyarakat. Sentuhlah hati warga dan perangkat desa, jangan hanya fikiran nya saja. Ketika CO
hadir dalam kegiatan masyarakat, bersilaturahmi dan bentuk interaksi lainnya, maka walaupun CO
berbeda pendapat dengan seorang warga, namun kedekatan emosional bisa mengurangi perbedaan
tersebut.
Sebagai tambahan, hindarilah menggunakan peralatan-peralatan yang mahal dan unik di mata
masyarakat. Jika seorang CO bertingkah laku unik dan membawa alat-alat yang canggih dan mahal,
maka diskusi nantinnya akan menyimpang. Masyarakat akan bertannya tentang alat dan gaya CO
tersebut, bukan tentang hal-hal yang ingin di rubah di masyarakat.
June, 2012 [10 TAHAP PENGORGANISASIAN KELOMPOK PEREMPUAN RENTAN PESISIR]

Panduan Bagi Community Organiser Page 7

Keempat- Mulai Berkumpul
Setelah dekat, dikenal dan akrab dengan masyarakat atau beberapa keluarga disana, mulailah
mencaritahu apa-apa saja yang bisa membuat perempuan rentan mudah untuk berkumpul. Cari
tahu melalui obrolan-obrolan dengan beberapa keluarga dan perempuan rentan, apa yang membuat
mereka tertarik untuk ngumpul dengan perempuan lainnya. Biasannya, ibu-ibu di desa sangat
mudah untuk diajak berkumpul jika ditawarkan akan belajar membuat sesuatu, memasak sesuatu
yang belum mereka ketahui atau menarik bagi mereka. Cara itu adalah yang paling mudah. Namun
bisa juga mereka diajak berkumpul untuk belajar sesuatu yang penting bagi mereka, seperti belajar
baca tulis atau lainnya. Namun cara itu agak panjang prosesnya, karena ketika diajak berkumpul,
para perempuan akan menganggap akan diberi bantuan atau ada proyek bantuan yang akan
diberikan kepada masyarakat. Pemikiran seperti itu pasti akan muncul dari masyarakat, terutama
perempuan yang diajak berkumpul. Tapi hal itu tidak akan menjadi masalah jika seorang CO bisa
memberi pemahaman kepada mereka, bahwa berkumpul untuk belajar adalah yang utama, karena
tanpa pengetahuan, maka apapun yang kita dapat atau peroleh akan sia-sia.
Kemampuan memberikan penjelasan bahwasannya CO datang tanpa membawa bantuan harus di
asah terus-menerus. Terkadang karena kita ingin mudah diterima oleh masyarakat, kita
mengungkapkan bahwa kedatangan kita karena ada program atau project. Percayalah, ungkapan
atau kata-kata yang memudahkan kita diterima tersebut suatu saat akan menjebak seorang CO.
perlu diketahui, bahwa di masyarakat juga masih ada nilai-nilai kepercayaan, kesetiakawanan dan
pengorbanan maupun kejujuran. Daripada berjanji namun tidak ditepati, sebenarnya masyarakat
lebih menghargai kejujuran.
Untuk tahap pertama, tidak harus banyak yang berkumpul. Cukup 4 atau 5 orang saja. Empat atau
lima orang tersebut yang kemudian diajak berkumpul untuk kedua kalinnya, sambil ditawarkan
untuk belajar membuat atau memasak sesuatu. Nantinnya ketika berkumpul kedua kalinnya,
percayalah pasti akan lebih banyak orang yang akan ikut ngumpul, karena ajakan tersebut akan
menyebar setelah disampaikan oleh CO kepada perempuan di dusun atau di desa. Lagipula, karena
rumah mereka berdekatan, tidaklah sulit untuk membuat ibu-ibu berkumpul. Namun perlu
diupayakan untuk tidak berkumpul di rumah keluarga kaya atau terhormat, karena ibu-ibu yang
miskin dan rentan biasannya akan segan datang. Untuk tahap awal, berkumpullah di tempat atau di
rumah yang tidak membuat ibu-ibu enggan, takut atau segan datang.
Cara mengajak berkumpul juga jangan seperti seorang kepala desa mengundang wargannya. Cara
paling mudah adalah bicara-bicara informal di tempat dimana ibu-ibu sering ngobrol. Patokannya
adalah, mengundang orang lain jangan dengan cara mengundang, namun gunakan sesuatu yang
menarik sehingga orang lain datang. Karena permukiman masyarakat nelayan berkelompok dan
berdekatan maka cukup mudah untuk membuat ibu-ibu datang. Informasi di desa cepat sekali
menyebar, sehingga dengan mengajak 4 atau 5 orang, maka yang lain akan datang, sepanjang yang
akan dilakukan oleh CO dan ibu-ibu yang lain memang menarik.
June, 2012 [10 TAHAP PENGORGANISASIAN KELOMPOK PEREMPUAN RENTAN PESISIR]

Panduan Bagi Community Organiser Page 8

Kelima-Buat Pertemuan Sebagai Kebutuhan
Setelah 1 atau 2 kali berkumpul, mulailah tawarkan kepada mereka untuk membuat jadwal
berkumpul yang rutin. Namun jangan paksakan terlalu sering. Sekali seminggu atau 1 kali dalam 2
minggu sudah cukup. Cari hari dan waktu yang disepakati sama-sama dan tidak mengganggu
aktivitas mereka di keluarga. Tapi perlu di ingat, jangan sekali-sekali mengatakan akan membentuk
kelompok atau organisasi perempuan, karena istilah berkelompok atau berorganisasi masih asing,
ditakuti atau dihindari oleh perempuan. Katakan saja berkumpul atau belajar rutin yang dihadiri oleh
beberapa orang perempuan. Karena pertemuan sebelumnya sudah dilakukan percobaan-percobaan
membuat sesuatu, maka carilah topik pertemuan selanjutnya yang berhubungan dengan apa yang
telah dilakukan sebelumnya. Misalnya saja, di pertemuan sebelumnya telah membuat/memasak kue
berbahan baku lokal. Katakanlah di pertemuan selanjutnya, akan mencoba memasak kue tersebut
agar lebih enak, biaya lebih murah, memasaknya lebih cepat, dan sebagainya. Intinnya, dalam
sebuah pertemuan jangan semuannya diselesaikan. Buatlah tugas yang akan ditindaklanjuti di
pertemuan selanjutnya. Kalau ada sesuatu yang harus dilanjutkan di pertemuan selanjutnya, maka
hal itu membuat ibu-ibu penasaran, sehingga akan datang lagi di pertemuan selanjutnya. Dengan
demikian, Jangan terlalu cepat beralih ke pembuatan produk lain, karena nantinnya ibu-ibu akan
bosan karena apa yang sudah dikerjakan atau dicoba tidak ditindaklanjuti.
Ke enam-Menata Kelompok
Setelah melakukan beberapa kali pertemuan dalam rangka melanjutkan apa yang sudah dilakukan
sebelumnya, mulailah mendiskusikan secara lebih serius perkumpulan atau pertemuan tersebut.
Salah satunnya adalah melakukan penataan organisasi kelompok tersebut. Namun upayakan dengan
tidak mengatakan secara formal akan membentuk organisasi. Mulailah dengan mengatakan kepada
ibu-ibu, bahwa pertemuan ibu-ibu tersebut ini harus ada yang mempersiapkan, sehingga ketika
berkumpul segala peralatan dan kebutuhan untuk membuat sesuatu tersebut sudah dipersiapkan.
Atau bisa saja dikatakan, harus ada yang mengurus penyimpanan alat, pencarian atau pembelian
bahan dan sebagainya. Untuk itu ajaklah mereka mendiskusikan siapa yang akan bertanggungjawab,
sekaligus menjadi pengurus kelompok. Namun jika mereka belum siap menentukan pengurus
janganlah dipaksakan, karena akan ada orang-orang yang ingin jadi pemimpin tapi ketika tidak
dipilih, maka ia akan sakit hati dan tidak datang lagi di pertemuan selanjutnya. Carilah waktu yang
tepat, bila perlu diskusikan dengan beberapa orang pada saat di luar waktu pertemuan kelompok.
Ketika sudah terlihat ada reaksi yang bagus atau beberapa orang mulai menerima pemikiran
tersebut, barulah mendiskusikannya pada saat pertemuan kelompok. Jelaskanlah sedikit-sedikit atau
perlahan-lahan tentang pentingnya pengurus atau penanggungjawab di dalam kelompok. Yang
penting sebenarnya bukanlah orang yang menjadi pengurus atau pemimpin kelompok, namun
bagaimana semua ibu-ibu memahami pentingnya penangungjawab atau pemimpin dalam kumpulan
pertemuan ibu-ibu. Cara paling efektif adalah dengan menjelaskan resiko-resiko jika tidak ada
June, 2012 [10 TAHAP PENGORGANISASIAN KELOMPOK PEREMPUAN RENTAN PESISIR]

Panduan Bagi Community Organiser Page 9

pemimpin, penangungjawab atau pengurus kelompok. Misalnya saja, ketika tidak ada ketua, maka
tidak ada yang mengingatkan ibu-ibu lain untuk berkumpul, tidak ada yang menyiapkan alat, dan
sebagainya. Di tahapan ini sebenarnya ibu-ibu sudah mulai belajar pentingnya berkelompok dan
memiliki pengurus kelompok.
Selain menata kelompok dengan menentukan pengurus, selanjutnya adalah mulai menata keuangan
kelompok. Bagaimanapun juga penataan keuangan kelompok sangatlah penting. Penataan keuangan
tersebut tentu saja harus berjalan seiring dengan usaha kelompok atau simpanan kelompok. Jika
kelompok didorong memiliki pembukuan keuangan saja tanpa ada uang kelompok yang dikelola,
maka hal itu akan sia-sia, karena tidak segera dipraktekkan. Pada tahap awal, cobalah untuk
menggunakan pengetahuan dan keahlian keuangan yang dimiliki salah satu anggota. Beri
kesempatan anggota yang paham tersebut untuk menjelaskan bentuk pengelolaan/pembukuan
keuangan yang ia ketahui, walaupun masih sangat sederhana. Yakinkan seluruh anggota dan
pengurus bahwa dengan cara yang sederhana sekalipun mereka bisa mengelola keungan secara
baik.
Satu hal yang perlu dijalankan oleh seorang CO adalah, pengurus atau pemimpin kelompok ada
karena kebutuhan, bukan karena keharusan. Jika sebuah kelompok masyarakat memang sudah
berjalan tanpa ada pengurus atau pemimpin formal, maka biarkanlah begitu adannya, tanpa harus
dipaksakan pengurus atau pemimpinnya. Jadi, pengurus, pemimpin atau apapun namannya harus
lahir karena kebutuhan. Bukan karena keharusan atau apalagi karena sekedar
Ke Tujuh-Tata lagi dan Seriusi Produk
Ada dua hal yang akan dilakukan di tahapan ketujuh ini yakni; membuat pembagian antar pengurus
dan anggota, dan membuat percobaan-percobaan produk menjadi lebih serius.
Pada saat pertemuan, mulailah bertannya kepada anggota tentang apa yang kurang di dalam
kelompok mereka. Biasannya, pada pertemuan ke 5 atau ke 6 akan ada ibu-ibu yang tidak datang,
atau kadang datang, kadang tidak. Untuk itu bertanyalah ke meraka, agar semua bisa disiplin dan
keanggotaan jelas, apa yang harus dilakukan? Secara tidak langsung nantinnya akan muncul unsulan
untuk membuat data anggota, dan membuat pembagian tugas diantara pengurus maupun diantara
anggota. Catatlah semua hal tersebut, dan mulailah dengan menugaskan ketua atau sekretaris
kelompok agar membuat data anggota.
Kedua, mulailah bertanya ke mereka, apa yang akan kita lakukan agar produk yang sudah dicoba dan
dibuat tersebut bisa bermanfaat secara ekonomi atau bisa menambah penghasilan mereka.
Jawabannya tidak akan jauh-jauh, diantarannya adalah mencoba membuat lebih banyak, perlu
kemasan, dan memasarkan lebih banyak lagi. Namun pasti akan ada juga yang mengatakan perlu
penambahan modal. Jika ada yang bertanya tentang penambahan modal, CO harus lihay menjawab,
bahwasannya modal akan bertambah jika produk tersebut membawa penambahan penghasilan atau
June, 2012 [10 TAHAP PENGORGANISASIAN KELOMPOK PEREMPUAN RENTAN PESISIR]

Panduan Bagi Community Organiser Page 10

laku terjual. Jika modal ditambah namun penjualan tidak jalan, katakan ke kelompok nantinnya akan
sia-sia.
Selanjutnya, dalam pertemuan-pertemuan tersebut mulailah diskusikan dengan ibu-ibu untuk
membuat rencana agar produk tersebut bisa dibuat secara baik, ada pengemasannya, dan
menjualnya ke wilayah terdekat. Bila perlu bentuk team-team kecil yang bertugas membuat,
mengemas, memasarkan dan lainnya. Bisa saja yang ingin terlibat tidak terlalu banyak, mungkin 5-6
orang saja, namun hal itu tidak menjadi masalah. Karena ketika nanti sudah mulai berkembang, akan
banyak yang ingin terlibat atau ikut serta dalam team kerja tersebut.
Ke Delapan-Beradaptasi dengan Kendala dan Tantangan
Jika memang produk yang dihasilkan memang berbahan baku lokal, mudah dibuat, dan berpeluang
untuk dipasarkan, maka sebenarnya produk tersebut bisa dikembangkan menjadi lebih besar.
Namun terkadang produk tersebut bisa saja tidak berkembang dengan berbagai alasan dari ibu-ibu.
Seorang CO jangan terlalu cepat percaya dengan alasan ibu-ibu tersebut, karena bisa saja produk
tersebut tidak berkembang bukan karena tidak laku atau susah dipasarkan, namun karena
pembuatan dan pemasarannya yang tidak serius. Mengingat karakter budaya dan lainnya, terkadang
memasarkan produk adalah faktor tersulit, karena mereka tidak terbiasa menjual sesuatu ke tempat
lain. Untuk itu, seorang CO harus benar-benar mencari tahu apa sebenarnya yang membuat produk
tersebut kurang atau tidak laku. DI tahapan ini, CO harus benar-benar jeli melihat persoalan
sebenarnya. Ketika persoalan sebenarnya sudah diketahui, kemudian janganlah dipaksakan harus
segera diselesaikan secepatnya. Karena, jika kendala tersebut terkait dengan masalah budaya atau
keluarga, maka solusinnya tidak bisa cepat. Solusi paling mudah adalah mencari 2 sampai 3 orang
atau jika mungkin 5 orang yang tidak memiliki masalah budaya dan keluarga, dan berkomitmen kuat
untuk membuat produk tersebut berkembang. Tidak masalah jika anggota lainnya belum aktif,
karena nantinnya akan berubah jika hasil kerja yang dilakukan membuahkan hasil. Agar ketertarikan
dan keseriusan anggota lainnya meningkat, maka perlu juga membagi hasil penjualan produk.
Walaupun sedikit, namun hal itu akan membuat anggota senang dan bangga, karena jerih payahnya
tidak sia-sia.
Sebagai tambahan, tahapan ini bisa dikatakan sebagai tahap paling rentan, karena sering muncul
ketidakpuasan, kecemburuan, malas, kebosanan, dan sebagainnya. Bahkan tidak tertutup
kemungkinan akan ada anggota atau pengurus yang kemudian mundur atau sama sekali menjadi
tidak aktif. Untuk itu, seorang CO harus memiliki strategi agar kelompok tersebut bisa tetap
bertahan di masa sulit seperti di tahapan ini. Akan banyak anggota kelompok yang bersikap
menunggu perkembangan kelompok, walau mereka sendiri kurang aktif, namun tidak ingin keluar
dari keanggotaan. Seorang CO pada tahapan ini harus banyak berinteraksi dengan orang-orang (baik
anggota maupun pengurus) yang memiliki komitmen paling kuat. Biasannya, dari 20 atau 25
anggota, akan ditemui 4-5 orang yang memiliki komitmen kuat tersebut. Walau tidak dalam waktu
June, 2012 [10 TAHAP PENGORGANISASIAN KELOMPOK PEREMPUAN RENTAN PESISIR]

Panduan Bagi Community Organiser Page 11

pertemuan kelompok, seorang CO harus rajin membuat diskusi-diskusi kecil secara informal dengan
4 atau 5 orang yang memiliki komitmen kuat tersebut. Mereka ada orang-orang inti yang menjaga
roh atau kekuatan dari kelompok.


Kesembilan-Memperluas dan Memperkuat
Jika semangat sudah muncul, produk sudah mulai dipasarkan, mulailah memperluas pemasaran.
Diskusikan rencana usaha yang lebih besar dengan kelompok. Rencana usaha yang lebih besar,
terutama rencana pemasaran tersebut harus mempertimbangkan sumberdaya yang ada di desa atau
dusun, bukan hanya sumberdaya yang ada di kelompok. Karena bisa saja karena harus keluar dari
dusun atau desa, perempuan masih sulit keluar. Carilah jalan keluar yang ada di desa, bila perlu
merencanakan meminta dukungan para suami, pemerintah desa, atau pihak lain yang dapat
mendukung proses pemasaran. Team dan strategi pemasaran menjadi sangat penting dan krusial
pada tahapan ini, sehingga harus benar-benar serius dan dilakukan oleh orang-orang yang
bersemangat dan tidak memiliki kendala besar untuk memasarkan.
Pada tahapan ini kelompok akan benar-benar diuji, apakah bisa bertahan atau tidak. Jika sesuatu
yang besar sudah direncanakan dan tidak tercapai, maka dampaknya akan besar juga, karena
membuat anggota maupun pengurus patah semangat. Untuk itu, tanamkan kepada anggota bahwa
kegagalan adalah sesuatu yang biasa, tinggal bagaimana kegagalan tersebut diperbaiki. Tantangan
selanjutnya adalah, ketika produk mulai laku dan banyak terjual, akan muncul kecemburuan, bahkan
anggota mulai egois akan membuat produk sendiri dan memasarkannya. Jika ini terjadi, sebenarnya
June, 2012 [10 TAHAP PENGORGANISASIAN KELOMPOK PEREMPUAN RENTAN PESISIR]

Panduan Bagi Community Organiser Page 12

tidak perlu terlalu khawatir. Kelompok tidak harus membuat produk bersama-sama, karena bisa saja
1 orang atau beberapa orang membuat produk bahkan memasarkannya masing-masing. Yang
penting di tahapan ini adalah, mereka mendapatkan hasil yang lumayan bagi keluarga mereka.
Community Organiser harus kreatif mencari solusi atas permasalahan-permasalahan yang ada. Yang
paling penting adalah, kelompok tetap bertemu, berkumpul dan belajar tentang banyak hal,
termasuk tentang hal-hal yang tidak terkait dengan masalah usaha. Jika produk sudah laku dan
lumayan menghasilkan, maka tanamkan ke kelompok bahwa semuannya itu adalah karena mereka
berkumpul, sehingga apapun yang terjadi, kumpulan mereka harus tetap kuat. Bisa saja solusinya,
tiap-tiap orang atau beberapa orang membuat produk masing-masing, dan tugas kelompok adalah
membantu memasarkan. Bisa juga sebaliknya, secara berkelompok membuat produk, dan beberapa
orang fokus memasarkan. Ada banyak solusi yang harus kreatif disusun oleh kelompok bersama CO,
sehingga kelompok semakin kuat. Pada tahapan ini seorang CO harus sudah benar-benar
mengandalkan kemampuan kelompok, tidak lagi tergantung dengan orang lain atau pendamping
dari orang bukan dari kelompok. Untuk itu, bangunlah kreativitas, tidak perduli apakah apa yang
mau dilakukan tersebut sudah tepat menurut orang lain atau tidak. Keputusan dan tindakan yang
cepat harus dilakukan di tahapan ini. Jangan terlalu banyak pertimbangan, karena akan membuat
semangat mengendur.
Ke Sepuluh-Membangun Kesinambungan
Tahapan ini adalah tahapan dimana CO harus menjamin bertahannya sebuah kelompok. Kelompok
akan bertahan jika produk sudah menghasilkan, kecerdasan dan kekompakan kelompok sudah
terbangun, kecemburuan sudah terkikis, dan pengurus kelompok sudah menjalankan fungsinnya.
Selain itu, kelompok akan terjamin berkelanjutan jika ada dukungan dari pihak terdekat, antara lain;
kepala dusun, kepala desa, imam dusun, maupun pemerintah desa, kecamatan dan kabupaten.
Untuk itu, dokumen administrasi kelompok, seperti; profil kelompok, SK kelompok, dan identitas
kelompok sudah dikenal oleh pihak lain. Untuk itu, ikutsertakan kelompok dalam kegiatan-kegiatan
pameran, bawa produk kelompok ke pihak-pihak yang berwenang, seperti ke pemerintah desa,
kecamatan dan dinas-dinas terkait agar produk dan kelompok mereka dikenal. Ijin produk juga harus
diperoleh, baik oleh pengurus kelompok, CO bersama pengurus, maupun pengurus bersama
anggota. Jika kelompok sudah kompak dan kuat, mulailah mencoba sesuatu yang baru, antara lain;
mulai membicarakan untuk meminta dukungan anggaran dari pemerintah desa, mencoba pinjaman
modal berbunga rendah ke dinas terkait, koperasi atau program-program pinjaman keuangan
lainnya. Agar kepercayaan diri kelompok bisa semakin kuat, jadikan tempat belajar kelompok
tersebut sebagai tempat belajar warga, yang dikenal oleh pemerintah dan pihak-pihak lain yang
dianggap penting. Bila perlu, undang pemerintah dan orang berwenang lain untuk datang dan
berkunjung untuk melihat apa yang sudah dilakukan kelompok.
Penutup
June, 2012 [10 TAHAP PENGORGANISASIAN KELOMPOK PEREMPUAN RENTAN PESISIR]

Panduan Bagi Community Organiser Page 13

Walaupun bekerja bersama dengan masyarakat, namun seorang CO harus kuat bekerja sendiri.
Terkadang ia tidak menemukan orang yang berfikiran yang sama dengan dirinnya, sehingga ketika
muncul godaan ia bisa goyah. Untuk itu seorang CO harus terus belajar tentang banyak hal terutama
belajar untuk tetap konsisten bekerja bersama masyarakat.


Makassar, 18 Juni 2012