Anda di halaman 1dari 2

Change Your Word, Change Your World

Sebuah tayangan visual dalam pelatihan Public Speaking Magically di Omah Budaya Slamet Batu sebulan lalu sarat pesan mendalam. Dalam tayangan berdurasi sekitar 5 menit itu, tampak seorang lelaki pengemis buta yang menaruh mangkok kosong tepat di hadapannya. Sambil duduk bersila di pinggir trotoar, ia menengadahkan kedua tangan dengan harapan beroleh koin dari orang-orang yang melintas. Agar lebih mengiba, di samping mangkok ia tempatkan sebuah tulisan besar di karton, "I'm blind. Please help me". Namun sayang, setelah sekian jam berlalu tak banyak koin yang ia dapat. Lalu lintas manusia di hadapaannya tampak tak acuh dan enggan menggelontorkan receh dari kantongnya. Hingga suatu ketika melintas seorang wanita. Ia berhenti tepat di hadapan pengemis tersebut. Sambil mengernyitkan dahi, ia lantas terdiam. Sorot matanya begitu tajam menatap lelaki malang itu. Entah apa yang ada di benaknya. Bukannya bergegas mengisi mangkok dengan koin, ia malah kemudian mengeluarkan sebuah spidol dari dalam tasnya. Sontak ia meraih tulisan karton di sebelah mangkok dan lantas mulai menuliskan sesuatu di baliknya. Begitu selesai, ia taruh kembali karton itu dan yang ditampakkan ke muka adalah hasil corat-coretnya. Setelah itu, wanita itu berlalu. Tak lama berselang, mendadak atensi orang yang lewat berubah. Mereka tiba-tiba antusias mengisi mangkok dengan koin yang mereka punya. Hingga si empunya kewalahan meraup banjir koin yang tak dinyana itu. Yang jelas, setiap pejalan kaki yang melintas seolah tak jeda melakukan hal serupa. Jika diamati, ini terjadi tepat setelah mereka membaca tulisan baru di karton. Lantas, kira-kira apa yang sudah ditulis wanita tadi dan menghipnotis para pejalan kaki untuk berderma? Hmmm... Rupanya si wanita tadi menuliskan, Its what a beautiful day, but i cant see it. Ya, benar. Kata-kata inilah yang menjadi biang membanjirnya koin di mangkok si pengemis. Luar biasa. Dan aku amat sepakat dengan hal ini. Banyak hal baik seolah tak berpihak kepada kita gara-gara kita gagal dalam satu hal. Yaitu soal berkata-kata! Ini seolah tak penting karena bukankah setiap orang mampu berbicara dan berkata-kata?! Ya, tentu saja demikian. Kecuali para tuna wicara. Masalahnya, tak banyak orang dapat berkata-kata dengan efektif sehingga mampu mendahsyatkan kualitas hidupnya. Dimarahi atasan, dicueki pasangan, dibenci teman... Secara dominan, itu semua terjadi karena faktor kata-kata. Kita tak mampu mengemas bermacam kecamuk perasaan dalam sebuah desain audio yang maut. Sehingga kita tak berdaya dan tak bisa menguasai situasi. Dalam stadium lanjut, kita layak dijuluki menjadi si pahit lidah. Karena hampir semua katakata yang kita alirkan membuat lawan bicara mendadak merasa sedih,

marah, tak bahagia, tersinggung dan semacamnya. Ini pertanda bahwa emotional quotient kita mengalami impotensi. Dalam ini aku jadi ingat kisah seorang karyawan industri penerbangan Indonesia yang sedang memasarkan produk terbarunya di Malaysia. Suatu ketika ia bertandang ke rumah salah seorang saudagar ternama yang katanya hendak membeli sebuah unit pesawat jet pribadi. Pada waktu yang telah ditentukan, karyawan tersebut lantas diundang ke rumah sang saudagar. Begitu tiba di sana, si karyawan baru tahu bahwa sang calon pembeli pesawat itu ternyata seorang kolektor keramik. Koleksi keramik dari seluruh penjuru dunia ada di sana. Maka tak heran, agenda pertama sang saudagar adalah mengajak keliling si karyawan melihat-lihat pajangan koleksinya. Dengan bangga sang saudagar menceritakan hampir satu-persatu asal keramik-keramik tersebut. Nah, kalau keramik yang ini hanya ada 3 buah di dunia, dibuat di Zimbabwe. Saya adalah pemilik salah satunya, katanya berseloroh dan tertawa. Si karyawan kemudian berujar, Yah, kalau yang seperti ini sih... di Pasar Senen jakarta banyak,. Ia tampak agak bersungut karena urusan pesawat tak juga dibicarakan. Dan bisa ditebak apa yang terjadi kemudian. Ya, benar. Perbincangan soal pesawat urung diadakan, karena sang saudagar terlanjur marah hebat gara-gara kata bernada mencibir si karyawan. Transaksi pun gagal total. Nah, inginkah Anda mengalami hal yang demikian? Jika tidak, ubah segera kata-kata Anda mulai sekarang. Ya, s-e-k-a-r-a-n-g... [*]