Anda di halaman 1dari 8

PENELITIAN TINDAKAN KELAS (CLASS ACTION RESEARCH) 1.

Dua perbedaaan utama PTK dan penelitian eksperimen adalah: PTK merupakan bentuk penelitian yang fokus pada peningkatan mutu pembelajaran; sementara penelitian eksperimen fokus pada hasil pengujian hipotesis. Pelaksanaan PTK didasarkan pada penggalian masalah yang ditemukan dalam proses pembelajaran, dijadikan acuan untuk memperbaiki kesalahan yang ada, dan akhirnya perbaikan tersebut dapat meningkatkan mutu proses belajarmengajar. Sementara penelitian eksperimen terpusat pada hasil angka

perbandingan perlakuan tertentu yang ingin diuji-cobakan (mis. metode taskbased instruction) terhadap kelompok tertentu dibandingkan dengan kelompok lain yang diberikan perlakuan berbeda (mis. metode content-based instruction). PTK dilakukan dalam beberapa kali siklus, sementara penelitian eksperimen hanya satu kali. PTK dilakukan dalam beberapa siklus karena penelitian ini menekankan proses; jika hasil yang diperoleh kurang maksimal dianggap proses yang dilakukan kurang tepat. Sementara penelitian eksperimen dilakukan satu kali karena baik-tidaknya hasil hipotesis yang diajukan pasti diterima. 2. Tiga karakteristik PTK: Merupakan penelitian yang bersifat kolaboratif antar praktisi. Karena prinsip PTK yang membuat guru suka belajar, menambah ilmu, serta membantu siswanya belajar, interaksi untuk mendapatkan pandangan dan pemahaman tentang proses pembelajaran dalam kelas pun dibutuhkan. Kolaborasi diperlukan agar guru memiliki berbagai macam pandangan yang dapat membantu untuk berbagi ilmu dan memechakan masalah yang ingin diteliti. PTK memecahkan masalah yang praktis dan nyata terjadi di kelas. Karena PTK pada dasarnya bertujuan menggali masalah yang ditemukan dalam kelas saat proses pembelajaran kemudian mencarikan solusinya (dalam rangka

meningkatkan mutu pembelajaran), masalah yang ditemukan pun menjadi bersifat spesifik. Dalam artian, pengetahuan yang diperoleh dari PTK ditujukan langsung untuk perbaikan mutu kelas yang diteliti. Fokus PTK lebih diberikan kepada signifikansi secara praktis. Berbeda dengan penelitian lain yang fokus signifikansiny bersifat statistik, perhatian PTK ditujukan

pada perbaikan mutu proses dengan mempelajari aspek-aspek negatif dan positif yang terjadi selama penelitian. 3. Guru melaksanakan PTK untuk meningkatkan profesionalisme-nya. Karakteristik PTK (tiga diantaranya dijelaskan diatas) seperti itu akan memaksa guru untuk meningkatkan profesionalitasnya (yang akhirnya juga meningkatkan mutu

pembelajaran). Misalnya, untuk memecahkan masalah yang membuat motivasi siswa rendah, guru membaca berbagai literature tentang teknik mengajar yang menarik, dan sebagainya. 4. Komponen yang saya pilih adalah disiplin siswa. Saya menganggap ini penting untuk diteliti karena displin siswa yang rendah akan berpengaruh pada berbagai ketidakberhasilan pada: media mengajar yang digunakan, metode mengajar yang diterapkan, yang pada akhirnya membuat mutu pembelajaran menjadi rendah. 5. a. Data Kuantitatif adalah data pendukung penelitian yang berupa angka, misalnya nilai siswa. Data ini dapat diperoleh dari hasil tes siswa. Dalam PTK, data kuantitaif didapatkan juga dari nilai pemberian tugas tiap pertemuannya. b. Data Kualitatif adalah data pendukung penelitian yang bersifat non-numerikal, misalnya penyebab guru bahasa Inggris di Padang lebih suka melakukan asesmen melalui cara tradisional paper-and-pencil tests. Data ini didapatkan dari hasil wawancara dengan guru. 6. a. Instrumen Data Kualitatif: Alat-alat pengumpul data yang bersifat non-numerikal. Seperti wawancara, questionnaire, observasi, diari, portofolio, dan log. b. Instrumen Data Kuantitatif: Alat-alat pengumpul data yang bersifat angka. Seperti tes. 7. a. Analisa Data Kuantitatif: Menganalisa data berupa angka-angka, yang disajikan dalam bentuk angka-angka maupun gambar grafik untuk memperoleh suatu temuan berdasarkan fokus atau masalah yang ingin dijawab. Misalnya, saya

memperoleh nilai ujian tengah semester dan ujian semester Structure 3 mahasiswa Bahasa Inggris UNP sebagai data kuantitatif, maka dibuatklah table yang mendata nilai semua siswanya, seperti: No. 1. 2. Nama Siswa Dona Indrayana Pangeran Pangestu dst Nilai UTS 70 90 Nilai UAS 80 67

Kemudian untuk mengetahui lebih jauh bagaimana kualifikasi mahasiswamahasiswa itu, skor-skor ini kemudian, berdasarkan kualifikasi yang telah ditentukan, dikonversi menjadi: No. 1. 2. Nama Siswa Dona Indrayana Pangeran P. dst Lalu, dibuatkan table yang menggambarkan kualifikasi kemampuan mahasiswa semester 4 secara keseluruhan dalam mata kuliah Structure 3: Nilai A B C D E Nilai UTS F 1 7 6 0 0 7 50 % Nilai UAS F 5 9 % 35,71 64,29 0 0 0 Structure 3 F 1 10 3 0 0 % 7 71,43 21,43 0 0 Nilai UTS Skor 70 90 Kw B A Nilai UAS Skor Kw 80 67 A C Structure 3 Skor 75 78,5 Kw B B

42,86 0 0 0 0 0

Dengan standar kualifikasi bahwa A berarti Baik Sekali, B berarti Baik, dan C berarti Cukup, dapat disimpulkan bahwa nilai Structure 3 yang diperoleh mahasiswa semester 4 Bahasa Inggris UNP termasuk Baik. b. Analisa Data Kualitatif: Menganalisa data pendukung penelitian yang bersifat nonnumerikal untuk memperoleh suatu temuan berdasarkan fokus atau masalah yang ingin dijawab. Proses ini dilakukan sejalan dengan tahap pengumpulan data. Misalnya, saya memiliki data hasil wawancara mengenai penyebab guru bahasa Inggris di Padang lebih suka melakukan penilaian melalui cara tradisional paperand-pencil tests. Proses menganalisa data terjadi saat saya memilah-milah guru dari sekolah mana saja yang akan diwawancara, hasil wawancara mana yang akan saya gunakan atau tidak yang mengacu dapat menjawab fokus penelitian penyebab guru lebih memilih paper-and-pencil tests. 8. a. Perencanaan: Dalam tahap ini, guru harus merencanakan segala sesuatunya dengan matang. Hal-hal yang perlu diperhatikan itu adalah: - Topik yang harus mengacu pada apa yang ingin dicari peneliti - Perubahan seperti apa yang diharapkan dari hasil penelitian - Seberapa penting perubahan ini diperlukan

- Masalah yang diteliti harus memunculkan berbagai informasi yang bermanfaat dalam perbaikan proses pembelajaran - Pengetahuan mengenai objek-objek yang akan diteliti - Teori-teori yang mendukung penelitian - Perencanaan PTK yang tidak boleh mengganggu jadwal dalam kurikulum dan silabus siswa - Data seperti apa yang ingin dikumpulkan untuk mendukung PTK b. Tindakan: Setelah semua perencanaan matang, guru menerapkan strategi yang akan digunakan dalam pmecahan masalah sambil melaksanakan proses pembelajaran. Misalnya, untuk memecahkan masalah partisipasi belajar siswa yang rendah untuk berbicara dalam bahasa Inggris di kelas, guru menggunakan teknik oral dialogue journals. c. Pengamatan: Dalam tahap ini, guru mengamati perkembangan baik/buruk siswa sambil mencoba memahami apa yang membuat perkembangan itu terjadi. Hasil pengamatan (berupa data kualitatif maupun kuantitatif) itu dilakukan yang akan menjadi sumber refleksi. Misalnya, data kualitatif yang diperoleh adalah siswa menjadi lebih aktif berbicara di kelas., data kuantitaif yang diperoleh adalah, rata-rata nilai fluency, vocabulary, pronunciation, comprehension, dan grammar siswa pun naik. d. Refleksi: Hasil pengamatan kmudian dikaji secara rinci, kenapa perubahan itu bisa terjadi atau tidak terjadi. Masalah pada siklus sebelumnya dikaji mendalam sebalam sebagai bahan pertimbangan untuk melaksanakan tindakan pada siklus berikutnya. Misalnya, berdasarkan hail pengamatan, ditemukan bahwa oral dialogue journals memang mampu meningkatkan partisipasi aktif siswa di kelas. Namun, tindakan guru yang membebaskan guru untuk berbicara seluas-luasnya ternyata malah membuat kelas menjadi terlalu ribut. Sebagai refleksi, untuk siklus berikutnya, guru akan menerapkan sistem raise your hand first before you speak agar kelas menjadi tidak ribut namun partisipasi aktif siswa terjaga. 9. Permasalahan: rendahnya partisipasi aktif siswa untuk berbicara dalam Bahasa Inggris Pemecahan: Menggunakan teknik oral dialogue journals Pertanyaan penelitian: Apakah teknik ini berhasil membuat siswa lebih aktif

berbicara dalam Bahasa Inggris di kelas? (kualitatif) Bagaimana perkembangan nilai speaking siswa setelah menggunakan teknik ini? (kuantitatif)

10. Penetapan siklus tidak ditentukan karena tidak ada kepastian sampai siklus ke berapa tindakan pemecahan masalah baru berhasil terlaksana. Sehingga penentuan berapa siklus itu melihat pada hasil perkembangan pemecahan masalah yang dilakukan. Namun, tetap saja sebelum melakukan PTK, kita telah mengancangancang kira-kira berapa siklus yang akan terjadi dalam penelitian nantinya. 11. PTK merupakan penelitian yang berorientasi pada proses. Hasil perkembangan sangat ditentukan dari proses yang terjadi, karena itu jika jumlah pertemuan dalam satu siklusnya hanya dua (terlalu sedikit) proses perubahan itu takkan dapat terlihat. 12. Misalnya, pada awalnya, rata-rata siswa memiliki level C (berbicara sering tersendatsendat karena mencari grammar yang tepat, kesulitan menghubungkan beberapa ide bersama secara logis) dalam hal fluency kemampuan speaking. Setelah dilakukan tindakan (menerapkan teknik oral dialogue journals) rata-rata itu kemudian naik menjadi B (berbicara cukup lancer dan hanya ada sekali-kali tersendat untuk mencari grammar yang benar, penguhubungan ide-ide secara logis dapat dilakukan dengan cukup baik). Melihat pada teknik oral dialogue journals, maka perubahan itu bisa terjadi karena: a. siswa menjadi lebih percaya diri karena mereka telah mengemukakan masalah apa yang menghambat mereka kepada guru secara pribadi, b. siswa dapat berbicara dengan lebih yakin karena telah mendapatkan masukan mengenai hambatan mereka dalam berbicara menggunakan Bahasa Inggris, c. siswa dapat berbicara lebih yakin karena guru mengemukakan titik kekuatan mereka dalam berbicara menggunakan bahasa Inggris, d. komunikasi terus menerus dengan guru (melalui media tape recorder, atau media perekam lain misalnya) menggunakan bahasa Inggris membuat siswa terpaksa melatih berbicaranya sehingga mereka akhirnya menjadi lebih fluent dan mampu menghubungkan ide-ide yang ingin diungkapkan dalam urutan yang logis. 13. Grafik Pertemuan Berisikan grafik rata-rata nilai siswa yang diperoleh tiap pertemuan yang terjadi dalam satu siklus. Misalnya:

Siklus 1 10 8 6 4 2 0 Pertemuan Pertemuan Pertemuan Pertemuan 1 2 3 4 - Grafik Siklus Berisikan grafik rata-rata nilai siswa dari semua siklus. Seperti: 8.5 8 7.5 7 6.5 6 Siklus 1 - Tabel Nilai Siswa Berisikan tabel nilai siswa secara keseluruhan, misalnya: No. 1. 2. dst JUMLAH SISWA: N TOTAL KESELURUHAN 8 TOTAL KESELURUHAN 8,3 8,15 Nama Dewa Restu Nilai Tugas 1 5,6 9 2 7 8,5 3 8 9,1 4 7,7 9,5 7 9 Rata Nilai Test 1 7 9 2 6.6 9 3 9 9.5 4 8 8 7,65 8,9 7,3 9 Rata Total Siklus 2 Siklus 3 Siklus 4 Siklus 1 Siklus 2 Siklus 3 Siklus 4 Pertemuan 1 Pertemuan 2 Pertemuan 3 Pertemuan 4

14. Kolaborator atau teman sejawat memiliki tugas dan peran sebagi tempat berbagi ilmu, memberikan sudut pandangnya kedapa peneliti. Karena PTK menekankan pada peningkatan profesionalisme guru, sudut pandang lain diperlukan untuk membantu guru berbagi ide dan memahami teori-teori pendukung pemecahan masalahnya. Selain itu, teman sejawat juga membantu dalam merencanakan

pembelajaran, melaksanakan proses pembelajaran, mengevaluasi dan merefleksi data-data yang diperoleh selama meneliti. 15. Misalnya, saya mempertanyakan apakah direct and indirect speech terlalu sulit bagi siswa atau tidak. Jika mereka mengatakan bahwa ya, itu memang sulit, kemudian pertanyaan saya akan mulai menggali, apakah cara saya mengajar saya membantu mereka memahaminya, seberapa jauh media mengajar membantu mereka memahami pelajaran, apakah kegiatan pembelajaran menarik perhatian siswa dan mampu membuat mereka lebih giat belajar dan lebih memahami konsep dan aplikasi direct and indirect speech, apakah model classroom management yang diterapkan membuat mereka nyaman belajar dan membuat mereka lebih memahami direct and indirect speech, dan sebagainya. 16. - Pengaitan analisa data kuantitatif dan kualitatif dilakukan dengan mempertanyakan apa yang menyebabkan terjadi perubahan pada data kuantitatif. Misalnya, rata-rata nilai bahasa Inggris siswa adalah 6, setelah diberikan tindakan, nilai itu naik menjadi 7. Dengan mempertanyakan apa yang membuat nilai siswa menjadi naik? kita telah melakukan pengaitan antara analisa data kualitatif dan analisa data kuantitatif. - Pengaitan harus dilakukan karena dua analisa data ini memang saling melengkapi. Penjelasan mengenai angka-angka dari data kuantitatif itu didapatkan dari analisa secara kualitatif. Di lain pihak, analisa kualitatif juga tak dapat dilakukan maksimal jika data kuantitatif yang menjadi acuannya tidak ada.

PENELITIAN EKSPERIMEN (EXPERIMENTAL RESEARCH) 1. Langkah-langkah pelaksanaan penelitian eksperimen: Menentukan masalah yang akan diteliti Menentukan hipotesa Hipotesa merupakan dugaan sementara mengenai hasil penelitian, diajukan berdasarkan teori-teori dan berbagai literature yang mendukung. Misalnya, pengajaran bahasa Inggris dengan Task-Bask Instruction akan lebih

meningkatkan kemampuan bahasa Inggris siswa daripada Grammar-Translation Method. Tahap 1: Pre-Test Tahap ini dilakukan untuk membantu menentukan objek penelitian yang akan diteliti. Karena penelitian eksperiman membandingkan dua kelompok (control group dan experimental group), maka untuk membuat hasil penelitian ini valid, objek yang akan diteliti haruslah memiliki kemampuan sama. Pre-Test dilakukan untuk menentukan

apakah siswa-siswa ini memiliki kemampuan yang sama atau tidak. Kemampuan secara keseluruhan siswa-siswa di kelompok control group dan experimental group pun harus seimbang. Tahap 2: Perlakuan Pada tahap ini, perlakuan diberikan pada kedua kelompok. Control group akan mendapatkan perlakuan yang sama yang selama ini digunakan (GrammarTranslation Method), sementara pada experimental group digunakan metode baru (Task-Based Instruction). Namun, jika ternyata dua metode yang ingin diujicobakan sama-sama blum pernah digunakan sebelumnya, maka itu menjadi wewenang guru untuk menentukan metode mana yang akan diterapkan pada tiap kelompok. Tahap 3: Post-Test Setelah diberikan perlakuan, untuk menguji apakah hipotesa yang telah dibuat sebelumnya, kedua kelompok diberikan jenis post-test yang sama. Kesimpulan: Setelah diadakan post-test, didapatkan hasil bahwa nilai experimental group lebih tinggi daripada control group. Berarti, hipotesa yang diajukan itu benar.