Anda di halaman 1dari 13

PROPOSAL TUGAS AKHIR

PERAKITAN STRUKTUR PEMIPAAN DAN KELISTRIKAN SENSOR URINOIR

Disusun Oleh : Darlianto Tamaputra 5353090201

PROGRAM STUDI DIPLOMA III TEKNIK MESIN JURUSAN TEKNIK MESIN FAKULTAS TEKNIK UNIVERSITAS NEGERI JAKARTA 2012

HALAMAN PENGESAHAN

Dengan ini mengetahui,

Koordinator Tugas Akhir Program D3 Jurusan Teknik Mesin Universitas Negeri Jakarta

Drs. Syamsuir, M.T. NIP : 196705151993041001

BAB I PENDAHULUAN

A. LATAR BELAKANG

B. TUJUAN Maksud dan tujuan Instalasi pemipaan dan kelisrikan sensor urinoir harus

dirancangkan,dipasang dan di periksa sesuai dengan ketentuan yang berlaku, diantaranya: Instalasi listrik dapat digunakan dan dioperasikan dengan baik Terjamin untuk keselamatan makhluk hidup

C. IDENTIFIKASI MASALAH Berdasarkan latar belakang di atas, permasalahan yang akan dihadapi dalam otomasi urinoir ini adalah : 1. Estimasi biaya renovasi dan alat otomasi urinoir. 2. Instalasi komponen sensor. 3. Instalasi pemipaan dan Instalasi kelistrikan sensor urinoir. 4. Sistem pompa untuk kebutuhan air pada urinoir.

D. PEMBATASAN MASALAH Sebagai pembahasan kajian akan dibatasi hanya pada pemipaan instalasi listrik yaitu : Memproteksi dari arus listrik yang berlebih Memproteksi dari tegangan listrik yang berlebih Memproteksi dari efek termal yang berlebih Diameter pipa dan ulir yang berbeda pada instalasi listrik dalam pemipaan untuk kabel listrik Proses pengujian pipa dan listrik setelah dipasang dan digunakan

E. TUJUAN PENULISAN Tujuan dari penulisan laporan ini antara lain sebagai berikut : Sebagai salah satu syarat kelulusan Program Studi Diploma III Teknik Mesin Universitas Negeri Jakarta

Pengaplikasian ilmu yang didapat selama mengikuti perkuliahan

BAB II KAJIAN TEORI A. Definisi Toilet Umum Toilet Umum adalah sebuah ruangan yang dirancang khusus lengkap dengan kloset, persediaan air dan perlengkapan lain yang bersih, aman, dan higienis dimana masyarakat di tempat-tempat domestik, komersial, maupun publik dapat membuang hajat serta memenuhi kebutuhan fisik serta memenuhi kebutuhan fisik, sosial dan psikologis lainnya. Toilet umum tersebut berfungsi utama sebagai ruang untuk buang air besar dan ruang untuk buang air kecil. Dengan fungsi pendukung sebagai ruang penjaga toilet dan ruang penyimpanan alat-alat untuk membersihkan toilet. Sedangkan fungsi lainnya sebagai ruang untuk cuci tangan dan cuci muka, mengganti pembalut wanita, dan merapikan diri (rias, pakaian). Kelengkapan ruang toilet umum adalah sebagai berikut : 1. Kloset duduk/jongkok 2. Air dan perlengkapanya (tempat air/gayung, kran, dll) 3. Tempat sampah 4. Ruang untuk buang air kecil yang terdiri dari : Urinal Air dan perlengkapanya (tempat air, kran, dll) 5. Ruang cuci tangan dan cuci muka (wastafel) yang terdiri dari : Wastafel & Cermin dan perlengkapanya (tempat air, kran, dll) 6. Ruang penjaga dan pelayanan kebersihan (janitor) yang terdiri dari : Penggantung alat pembersih Lemari/rak simpan Bak pencuci Air dan perlengkapannya

B. Persyaratan Ruang Toilet Umum Persyaratan toilet umum meliputi : o besaran ruang. o sirkulasi udara. o Pencahayaan o kontruksi. Besaran ruang untuk toilet Normal (Reguler) terbagi atas: a) Ruang untuk buang air besar (WC) Ukuran luas ditentukan oleh posisi buang air besar jika menggunakan kloset duduk maupun kloset jongkok : Lebar minimum 80cm. Ukuran panjang minimum 90cm. Ketinggian plafond minimum 220cm. Secara teknis arsitektur diukur dari poros/as dinding, ukuran luas minimum menjadi (PxLxT) 80cm x 160 cm x 220 cm. Ukuran yang disarankan adalah (PxLxT) 90cm x 160 cm x 240 cm. b) Ruang untuk buang air kecil (Urinoir) Lebar satuan untuk aktivitas buang air kecil berdiri untuk orang dewasa minimum 70cm dengan penyekat. Ketinggian urinal minimum 40cm. Ukuran yang disarankan adalah Lebar ruang urinal 80cm. Ketinggian urinal minimum 45cm. Urinal yang diperuntukan untuk anak-anak dapat digunakan jenis floor standing atau dibuat langsung diatas lantai. c) Ruang cuci tangan dan cuci muka (Wastafel) Ukuran dan luas untuk ruang cuci tangan dan cuci muka, minimum adalah : Lebar 80cm.. Lebar bak cuci 50cm. Tinggi bak cuci 70cm. Jarak bak cuci dengan dinding 90cm.Ukuran yang disarankan adalah Lebar 80cm. Lebar bak cuci 60cm. Tinggi bak cuci 80cm. Jarak bak cuci denga dinding 120cm

Sirkulasi Udara

Kriteria sirkulasi udara yang memenuhi standar toilet umum antara lain: a) Ruang toilet basah mempunyai kelembaban yang sangat tinggi (40-50%). Pengendalian kelembapan dengan sirkulasi udara yang baik guna penyesuaian dengan suhu luar. Dan dengan taraf pergantian udara yang baik yaitu mencapai angka 15 air-change per-jam. (dengan suhu normal toilet 20-270C untuk toilet indoor). b) Apabila posisi ruangan tidak memungkinkan untuk dibuat bukaan ventilasi, exhaust fan dapat digunakan sebagai alternatif. c) Akan jauh lebih baik apabila dipasang sebuah alat pengering lantai di bawah wastafel untuk memaksimalkan usaha menjaga lantai tetap kering saat. d) Meja untuk wastafel harus memiliki back-splash untuk mencegah tumpahan air di dekat area wastafel. Pencahayaan Kriteria pencahayaan yang memenuhi standar toilet umum antara lain: a) Sistem pencahayaan toilet umum dapat menggunakan pencahayaan alami dan pencahayaan buatan. Pencahayaan alami yang baik akan menghemat energi dan meningkatkan penampilan positif sebuah toilet. pencahayaan yang buruk akan membuat toilet nampak kusam, gelap, penuh dengan bayangan dan bahkan bisa membuat tampak kotor. b) Iluminasi standar 100-200lux. minimal 100lux untuk penerangan generalnya. 2.2.2.4 Konstruksi Bangunan Kontruksi bangunan toilet umum meliputi lantai, dinding, langit-langit, kloset dan sanitary, pintu dan jendela ventilasi, dan lampu.

Lantai Kemiringan minimum lantai 1% dari panjang atau lebar lantai. Bahan finishing / pelapis lantai bisa terbuat dari ubin keramik, semen plester / acian, atau batu alam yang tidak licin akan tetapi mudah dibersihkan dan kuat, atau untuk alternatif bisa digunakan lantai vinyl. (Penggunaan ubin terazzo tidak disarankan, rentan terhadap bahan kimia).

Dinding Dinding berwarna terang sangat memudahkan kontrol kebersihan. Ubin keramik yang dipasang sebagai pelapis dinding gypsum tahan air atau bata dengan lapisan tahan air. Untuk alternatif bahan dinding yang lebih murah, bisa digunakan dinding batako yang dilapisi cat tahan air.

Langit-langit Langit-langit / plafond terbuat dari bahan lembaran-lembaran yang cukup kaku dan rangka yang kuat, sehingga memudahkan perawatan dan tidak mudah kotor. (bisa menggunakan kayu lapis / triplek min 3mm, calciboard, anyaman bambu yang cukup rapat, dsb. Rangka langit-langit dapat menggunakan kayu, bambu, ataupun besi pipa (metal hollow). Apabila terdapat pipa diatas langit-langit, dibuat lubang untuk orang masuk (man-hole) untuk memungkinkan akses yang lebih mudah untuk perawatan dan perbaikan.

Kloset dan sanitari Pastikan semua sanitari mempunyai bowl / leher angsa yang baik sebagai penahan bau. Sebaiknya semua saniter berwarna putih untuk memudahkan deteksi

kotoran, seperti kencing dan/ tinja. Untuk toilet umum sebagai fasilitas terbatas, akan jauh lebih baik bila setiap kloset dilengkapi dengan jet spray, washlet-eco (karena tidak semua orang menggunakan ketas toilet) dan sistem dual flush (untuk menghemat penggunaan air bersih). Pintu dan jendela ventilasi Daun pintu harus terbuat dari bahan yang tahan air, ringan dan mudah dibersihkan. Untuk tingkat penggunaan yang tinggi, seperti terminal bus atau pasar, akan lebih baik apabila mempunyai akses masuk dengan sirkulasi melingkar S (akses lubang pintu tidak langsung mengarah pada ruang toilet sirkulasi / keramaian secara langsung, ada ruang antara, agak memutar) tanpa harus menggunakan daun pintu. Ketinggian pintu dari lantai harus mempunyai ambang yang lebih tinggi dari biasanya. Kusen pintu dan jendela ventilasi juga harus terbuat dari bahan yang tahan air dan mudah dibersihkan. Sebaiknya setiap pintu WC memiliki penutup pintu (doorcloser) otomatis dan bisa dikunci dari dalam. Daun pintu terpasang disebelah kanan dan membuka kedalam (untuk menghindari benturan dengan aktivitas diluar). Untuk penyandang cacat, pintu menggunakan jenis pintu geser atau sesuai dengan Keputusan Menteri Pekerjaan Umum Kep Men 468 / KPTS / 1998 Tentang persyaratan Teknis aksesbilitas pada bangunan umum dan lingkungan. Gantungan untuk pakaian dan tas dibuat pada posisi daun pintu

BAB III

METODOLOGI PERANCANGAN A. Tujuan Perancangan Tujuan dibuatnya otomasi flusher pada urinoir ini berawal dari keprihatinan saya melihat kondisi toilet yang sudah sangat tidak terawat akibat kurangnya kesadaran para pengguna dalam menggunakan dan juga menjaga toilet agar tetap bersih dan kebanyakan dari mereka malas untuk menyiramnya ataupun membilasnya. Oleh karena itu dengan adanya sensor ini kita jadi terbantu untuk urusan pembersihan ataupun pembilasan karena kita tidak perlu repot menekan tombol apapun karena air akan otomatis keluar dengan sendirinya melalui sensor yang akan membuka keran secara otomatis dan kita akan lebih nyaman dan tidak merasa terganggu dengan bau toilet. B. Bentuk dan Strategi perancangan Bentuk dan Strategi perancangan yang digunakan penulis sebagai berikut: Melakukan survey untuk mengetahui cara kerja sistem sanitasi yang sesuai dengan tugas akhir yang akan dibuat. Kemudian membuat perancangan alat-alat yang akan digunakan untuk mendukung pembuatan alat sanitasi tersebut. Melakukan perencanan program untuk menjalankan rangkaian yang akan dibuat yaitu meliputi rangkaian sensor infrared, sensor temperatur, sensor air serta pembuka dan penutup selenoid.

Melakukan pengecekan atau pelatihan alat-alat yang sudah selesai dirangkai kemudian diuji dengan program yang telah selesai dibuat agar bisa mengetahui kesempurnaan dari hasil penyatuan antaraprogram dengan alat pendukung sanitasi.

Setelah pengujian selesai dilakukan, pengamatan hasil untuk melakukan keberhasilan dari hasil gabungan, baru kemudian menarik kesimpulan dari hasil yang telah dicapai untuk sanitasi pertama dan sanitasi kedua.

C. Uraian Singkat Rencana Perancangan Alat ini digunakan untuk menyalakan pembuka air setelah seseorang mengeluarkan urine dan beberapa saat akan menutup katup tersebut. Alat ini bekerja berdasarkan sensor infra merah artinya sensor akan mendeteksi adanya seseorang dan secara otomatis mikrokontroller akan mengeluarkan sinyal perintah untuk membuka katup penyiram air bila seseorang telah selesai membuang urine. D. METODE PENGUMPULAN DATA Cara dan sumber data yang dilakukan guna menyelesaikan Tugas Akhir ini antara lain: 1. Mempelajari data-data dari buku-buku yang tersedia dan dari sumber lain seperti internet untuk mencari materi yang berhubungan erat dengan Tugas Akhir ini. 2. Berdiskusi dan berkonsultasi dengan dosen pembimbing 3. Berdiskusi dan berkonsultasi dengan teman-teman dari perguruan tinggi lainnya untuk bertukar pikiran.

E. SISTEMATIKA PENULISAN Sistematika penulisan Tugas Akhir ini adalah sebagai berikut :

BAB I

PENDAHULUAN Bab pendahuluan ini menjelaskan hal-hal yang bersifat pembuka pada suatu karya tulis. Pembahasannya seperti latar belakang, pembatasan

masalah, tujuan penulisan, sumber-sumber pendataan dan sistematika penulisan karya tulis. BAB II LANDASAN TEORI Bab ini menjelaskan segala teori yang berhubungan dengan pembuatan alat.

BAB III

METODOLOGI PERANCANGAN Bab ini menguraikan proses perancangan, desain dan konstruksi , perhitungan-perhitungan untuk efisiensi serta tahapan-tahapan dalam pembuatan alat.

BAB IV

HASIL PERANCANGAN Bab ini membahas hasil perancangan, kondisi fisik, proses pengujian serta hasil pengujian dari alat yang telah dibuat.

BAB V

PENUTUP Memberikan kesimpulan dan saran mengenai pembuatan Tugas Akhir ini.

DAFTAR PUSTAKA

LAMPIRAN

GAMBAR SKEMA RENCANA PEMASANGAN URINOIR