Anda di halaman 1dari 8

Nama : Winfrey Pangestu NIM : 07120080034 Universitas Pelita Harapan

1. A. Sebutkan definisi RJP Merupakan suatu upaya tindakan pertolongan pada korban agar tercapai sirkulasi dan ventilasi yang spontan dan efektif. B. Sebutkan indikasi RJP I. Pada pasien yang henti jantung dan henti nafas II. Pada pasien yang henti nafas tapi masih teraba detak nadi III. Pada pasien yang nafasnya inadekuat C. Sebutkan kapan RJP dihentikan I. II. III. IV. Sudah tercapai sirkulasi dan ventilasi yang spontan dan efektif Penolong sudah kelelahan Bila ada penolong yang lebih berkompeten sehingga harus menghentikan usaha RJP Penolong sudah merekam melalui monitor adanya asistol yang menetap selama 10 menit atau lebih V. Interval waktu usaha resusitasi pada henti jantung disaksikan yang tidak dapat mengembalikan sirkulasi spontan adalah 25 menit sampai 30 menit

D. Sebutkan kapan RJP tidak dilakukan I. Ada tanda kematian yang tidak berubah seperti rigor mortis, lebam mayat dan tanda-tanda pembusukan II. Penderita mengalami trauma yang tak bisa diselamatkan, seperti hangus terbakar atau hemikorporektomi. III. Usaha RJP dapat membahayakan orang yang menolong IV. Kemungkinan RJP dapat mengembalikan sirkulasi spontan dengan kpualitas hidup yang dapat diterima sangat kecil V. Ada bukti permintaan keluarga

2. Sebutkan perbedaan RJP tahun 2000, 2005 dan 2010

2000 Airway breathing chest compression Kompresi diberikan setelah airway dan breathing diakses Look, listen dan feel untuk akses breathing ketika airway sudah terbuka Dewasa rasio kompresi ventilasi 15:2 (1 atau 2 penolong) Anak dan bayi rasio kompresi ventilasi 5:1 (1 atau 2 penolong) Kedalaman kompresi - Dewasa : 1,5 2 inchi - Anak : 1/3 1/2 AP - Bayi : 1/3- AP

Landmark kompresi 3 jari di atas xiphoid Lama setiap pemberian nafas 2 detik Rasio kompresi ventilasi setelah intubasi adalah 5 : 1 Pada pediatrik diberikan nafas dahulu setelah membuka airway sebelum dilakukan kompresi Jika jumlah penolong banyak, salah satu dapat melakukan penekanan krikoid Tidak ada bukti cukup pemakaian AED pada bayi Exhaled carbondioxide detector dan esophageal detector yang direkomendasikan pada pasien yang diintubasi Atrophine dipakai secara rutin di dalam penanganan PEA/asistole

2005 Airway breathing chest compression Kompresi diberikan setelah airway dan breathing diakses Look, listen dan feel untuk akses breathing ketika airway sudah terbuka Dewasa rasio kompresi ventilasi 30:2 (1 atau 2 penolong) Anak dan bayi rasio kompresi ventilasi 30:2 (1 penolong) 15:2 ( 2 penolong) Kedalaman kompresi - Dewasa : sekurangkurangnya 5 cm - Anak : sekurang-kurangnya 1/3 AP, 5cm Bayi : sekurang-kurangnya 1/3 AP, 4cm Landmark kompresi 3 jari di atas xiphoid Lama setiap pemberian nafas 1 detik Rasio kompresi ventilasi setelah intubasi tidak perlu sinkronisasi Pada pediatrik diberikan nafas dahulu setelah membuka airway sebelum dilakukan kompresi Jika jumlah penolong banyak, salah satu dapat melakukan penekanan krikoid Tidak ada bukti cukup pemakaian AED pada bayi Exhaled carbondioxide detector dan esophageal detector yang direkomendasikan pada pasien yang diintubasi Atrophine dipakai secara rutin di dalam penanganan PEA/asistole

2010 Chest compression airway brething Kompresi dilakukan dalam waktu 10 detik saat terjadi arrest Look, listen dan feel sudah tidak dipakai Dewasa rasio kompresi ventilasi 30:2 (1 atau 2 penolong) Anak dan bayi rasio kompresi ventilasi 30:2 (1 penolong) 15:2 ( 2 penolong) Kedalaman kompresi - Dewasa : sekurangkurangnya 5 cm - Anak : sekurang-kurangnya 1/3 AP, 5cm - Bayi : sekurang-kurangnya 1/3 AP, 4cm Landmark kompresi corpus sternum Lama setiap pemberian nafas 1 detik Rasio kompresi ventilasi setelah intubasi tidak perlu sinkronisasi Pada pediatrik diberikan kompresi dahulu Tekanan pada krikoid sudah tidak rutin dianjurkan untuk ventilasi Untuk bayi AED bisa dipakai Kapnografi dianjurkan pemakainnya pada pasien yang diintubasi Atrophine tidak dipakai secara rutin lagi di dalam penanganan PEA/asistole

3. Sebutkan perbedaan RJP bayi, anak dan dewasa Komponen Landmark kompresi Dewasa Pertengahan bawah sternum Pergelangan tangan dan satu tangan diletakkan parallel diatasnya sekurang-kurangnya 5 cm 30:2 (1 atau 2 penolong) Karotis Anak Pertengahan bawah sternum Bayi Dibawah pertengahan garis antara kedua putting susu 2 atau 3 jari

Metode kompresi

Kedalaman kompresi

Bagian bawah (dasar) pergelangan tangan (dengan 1 atau 2 tangan) sekurang-kurangnya 1/3 sekurang-kurangnya 1/3 AP, 5cm AP, 4cm 30:2 (1 penolong) 15:2 ( 2 penolong) Karotis 30:2 (1 penolong) 15:2 ( 2 penolong) Brachialis atau femoralis

Rasio kompresi ventilasi Pulse check

4. Bagaimana cara membuka airway Pembukaan jalan nafas secara manual tanpa menggunakan alat I. Head tilt II. Chin lift III. Jaw thrust (untuk pasien yang diduga trauma servikal) IV. Finger cross Pembukaan jalan nafas dengan menggunakan alat I. Oropharyngeal airway (bisa merangsang muntah) II. Nasopharyngeal airway (tidak merangsang muntah) III. Sungkup laring IV. Intubasi endotrakea V. krikotiroidotomi

5. sebutkan cara mengetahui gangguan pada airway, breathing, sirkulasi a. Airway Dengarkan adanya bunyi nafas tambahan seperti : - Snoring : disebabkan oleh karena lidah jatuh ke belakang sehingga menutupi jalan nafas - Gargling : adanya cairan yang menyumbat jalan nafas - Stridor : disebabkan karena pita suara yang edema shingga menghalangi jalan nafas b. Breathing - Look : lihat tidak adanya pergerakan dari dinding dada, ada bagian dada yang tertinggal ketika inspirasi, ada gerakan yang menggunakan bantuan otot nafas, gerakan cuping hidung, tarikan antar iga. - Listen : dengar suara nafas stridor, wheezing, dan ronchi.

Feel : tidak teraba hawa ekhalasi dari lubang hidung/mulut, dapat teraba emphysema subkutis, ada krepitasi, nyeri tekan pada thorax dan ada deviasi trakea. c. Sirkulasi - Tidak teraba detak nadi pada arteri karotis, radialis, femoralis. - Frekuensi detak nadi bertambah atau berkurang dari jumlah normal - Detak nadi tidak beraturan - Kekuatan detak nadi lemah - Perfusi akral terasa dingin, basah, pucat dan kapilari refill memanjang. 6. sebutkan indikasi intubasi, persiapan intubasi, cara intubasi dan komplikasi intubasi a. indikasi intubasi : I. Menjaga patensi jalan nafas dari kemungkinan obstruksi jalan nafas, misalnya pada pasien koma II. Terjadi hypoxemia yang tidak respon dengan manajemen yang non invasive III. Mencegah terjadinya hypercapnia, misalnya pada tekanan tinggi intracranial IV. Mencegah terjadinya aspirasi, baik itu dari cairan lambung maupun darah. V. Operasi yang berlangsung lama VI. Operasi yang memerlukan obat pelumpuh otot VII. Operasi dimana posisi pasien berada dalam posisi prone atau lateral VIII. Bila dengan teknik lain tidak efektif b. Persiapan intubasi I. Persiapan pasien : derajat mallampati, jarak mental thyroid, apa leher pasien bisa ekstensi maksimal, apa ada keterbatasan range of motion II. Persiapan alat intubasi : pipa tracheal, stylet/mandrain, laringoskop dengan bladenya, perangkat suction, oral/nasal airway, sungkup muka, sumber oksigen dan perangkat ventilasi, NGT, dll III. Persiapan alat monitor : alat pengukur tekanan darah, alat pencatat detak nadi, alat pengukur saturasi oksigen, monitor elektrokardiografi, kapnografi IV. Persiapan obat-obatan : obat-obatan yang mempermudah tindakan laringoskopi dan atau intubasi seperti propofol, midazolam, pentothal, pelumpuh otot (contoh atrakurium), analgetik (contoh :opioid), dan obat-obatan emergensi seperti atrophine, epinephrine, epedhrine, vasopressor, dan lidocaine. V. Persiapan operator : operator yang berkompeten, memakai sarung tangan dan masker c. Cara intubasi : Pasien terlentang Buka blade, pegang tangkai laringoskop dengan tenang, lalu buka mulut pasien Masukkan blade pelan-pelan menyusur dasar lidah, kemudian geser lidah pelan-pelan kea rah kiri Angkat tangkai laringoskop ke depan sehingga mengangkat selah lidah ke depan sehingga runa glottis terlihat

Masukkan pipa ETT dari sudut kanan menyusur runa glottis masuk ke celah pita suara Cek keberadaan pipa ETT apa sudah masuk dengan benar atau tidak dengan menggunakan stetoskop atau kapnografi Tiup balon ETT untuk fiksasi, lalu lakukan fiksasi pipa ETT dengan plester.

d. Komplikasi intubasi : - Perubahan hemodinamik seperti takikardi, peningkatan tekanan darah dan dapat terjadi aritmia jantung - Trauma yang menyebabkan perdarahan, misalnya trauma pada laring dan trakea - Hipoksemia karena kebocoran cuff ETT - Laryngospasm - Malposisi atau obstruksi dari pipa ETT

7. Jelaskan terapi cairan pada dehidrasi pada GED Derajat dehidrasi Dewasa 4% 6% 8% 15% -20%

Dehidrasi Ringan Sedang Berat Shock

Anak 4% - 5% 5% - 10% 10% - 15% 15% - 20%

1. Nilai status rehidrasi (sesuai tabel 4 di atas), banyak cairan yang diberikan (D) = derajat dehidrasi (%) x BB x 1000 cc 2. Hitung cairan rumatan (M) yang diperlukan (untuk dewasa 40 cc/kgBB/24 jam ) 3. Pemberian cairan : 6 jam I = D + M atau 8 jam I = D + M 18 jam II = D + M atau 16 jam II = D + M 4. Cairan yang diberikan adalah cairan Ringer Laktat 8. Jelaskan : indikasi transfusi darah, cara menghitung kebutuhan transfusi, sebutkan jenis-jenis darah yang ditransfusi, sebutkan pengawet yang di gunakan a. Indikasi transfusi darah : - Perdarahan akut sampai Hb <8 gr% atau HT <30% - Pada orang tua, kelainan paru, kelainan jantung Hb <10 gr/dl - Bedah mayor kehilangan darah > 20% volume darah

b. 1. 2. -

Cara menghitung kebutuhan transfusi : Packed Red Blood Cell 1 unit 250 ml 350 ml 1 unit Packed Red Blood Cell dapat meningkatkan hematocrit 3% dan hemoglobin 1 gr/dl PRBC yang diperlukan (ml ) : 4 X jumlah Hb yang ingin ditingkatkan X Berat Badan pasien Whole blood 1 unit 450 ml 540 ml 1 unit Whole blood dapat meningkatkan hemoglobin 1 gr/dl Whole blood yang diperlukan ( ml ) : 6 X jumlah Hb yang ingin ditingkatkan X Berat Badan pasien

3. Platelet concentrate - 1 unit 50 ml 60 ml - 1 unit Platelet concentrate dapat meningkatkan 5.000 10.000 / mm3 4. Fresh Frozen Plasma - 1 unit 200 ml 250 ml - 1 unit FFP dapat meningkatkan 3% - 5% faktor koagulasi 5. Cryoprecipitate - 1 unit 20 ml 50 ml - 10 unit atau 1 unit per 5 kg meningkatkan fibrinogen 75 miligrams/dl c. Sebutkan jenis-jenis darah yang ditransfusi I. Whole blood II. Packed Red Blood Cell III. Platelet concentrate IV. Fresh Frozen Plasma V. Cryoprecipitate VI. White Blood Cell VII. Plasma derivative lainnya seperti immunoglobulin, albumin.

d. Sebutkan nama pengawet yang digunakan Pengawet Acid Citrate Dextrose Citrate Phospate Dextrose Citrate Phospate Dextrose Adenine Heparin Usia eritrosit 21 hari 28 hari 35 hari 24 jam

9. Sebutkan jenis-jenis aritmia a. b. Supraventricular aritmia Premature atrial complexes Premature atrial complexes, abberantly conducted Atrial fibrillation Atrial flutter Junctional escape complex Junctional escape rhytm Multifocal atrial tachycardia Junctional premature complex Ventricular aritmia Ventricular extra systole Ventricular extra systole uniform Ventricular extra systole trigeminy Ventricular extra systole R on T phenomenon Ventricular extra systole multiform Ventricular extra systole bigeminy Ventricular tachycardia Torsade de pointes Ventricular fibrillation

10. Jelaskan dan gambarkan algoritma bradikardi Bradikardi


Akses kondisi klinis Detak nadi < 60 x/menit

Pastikan jalan nafas aman, Bantu jalan nafas jika diperlukan, Beri oksigen, Ukur tekanan darah, oksimetri, monitor EKG, pasang infus Perfusi buruk Observasi kondisi klinis Perfusi baik Persiapkan pacu jantung transkutan jangan ditunda. Jika pada monitor ekg terlihat AV blok derajat 2 tipe2 atau total AV blok, pertimbangkan pemberian atropine 0,5 mg IV tiap 3-5 menit sambil menunggu pacu jantung transkutan. Maximal dose 3 mg. pertimbangkan pemberian epinephrine 2-10mcg/menit atau dopamine 2-10 mcg/kgBB/menit di infuskan. Persiapkan pacu jantung transvenous, obati penyakit dasar, konsultasi ke dokter ahli jantung

Jika terjadi PEA lihat algoritma PEA Cari dan obati factorfaktor penyebab Hipovolemia Hypoxia Hydrogen ion Toksin

Hipo/hiperkalemia Tamponade jantung Tension pneumothorax Thrombosis Trauma